VENGEANCE
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Park Hana, Kim Suho, Kim Minseok, Others.
Rated M
Mohon maaf untuk typo dan pemilihan bahasa yang berantakan, Padahal udah aku coba perbaiki.
Selamat membaca!
.
.
.
Dua lembar roti tawar dengan selai strawberry, Minseok hidangkan bersama segelas susu khusus untuk ibu hamil. Dengan menggunakan sebuah nampan persegi, Minseok antarkan sarapan tersebut menuju sebuah kamar berdaunkan pintu kayu berwarna putih gading. Sebelah tangannya Minseok gunakan untuk mengetuk tiga kali daun pintu tersebut. Tidak mendapat jawaban, Minseok hela nafasnya yang terasa berat sebelum kemudian membuka pintu tersebut dengan pelan.
Baekhyun masih bergelung di balik selimut hangatnya begitu Minseok berhasil memasuki ruangan itu. Wajahnya terlelap damai dengan nafas teratur. Minseok tersenyum teduh melihatnya.
Tepat ketika Minseok meletakan nampan berisi sarapan di atas meja nakas, Baekhyun terlihat mengerjapkan kelopaknya pelan sebelum kemudian iris bening yang memerah karena bangun tidur itu terlihat.
"Tidurlah lagi jika masih mengantuk."
Lembut suara Minseok tidak di jawab oleh lelaki yang baru saja terjaga. Minseok terkekeh ketika Baekhyun kembali terpejam meskipun Minseok tahu lelaki yang lebih muda darinya itu tidak benar tertidur.
"Aku membawakanmu sarapan. Makanlah setelah rasa kantukmu hilang."
Lagi, tidak ada jawaban dari perkataan Minseok. Minseok pun tersenyum memaklumi. Di benarkannya letak selimut yang membungkus tubuh mungil Baekhyun. Kemudian, Minseok hendak beranjak dari posisinya sebelum tangan kecil Baekhyun meraih jari kelingkingnya. Minseok menoleh dan mendapati Baekhyun yang menatap sayu padanya.
"Hyung, bisa bantu aku membersihkan diri. Aku ingin mandi tapi tubuhku terasa lemas sekali."
Minseok tersenyum mendengar suara parau Baekhyun. Kemudian Minseok beranjak ke kamar mandi setelah mengucapkan, "Tentu, akan aku siapkan air hangatnya terlebih dahulu."
Seperginya Minseok, Baekhyun masih betah dengan posisi miringnya. Sebelah tangannya terulur untuk menjawil selai strawbery pada roti di atas meja. Selai di ujung telunjuk Baekhyun kulum dengan mata terpejam. Rasa manis asam yang terasa dilidahnya membuat Baekhyun membuka kelopak mata sepenuhnya dan bergerak untuk mendudukan tubuhnya. Baekhyun lalu meraih selembar roti tersebut dan memakannya dengan lahap. Pada gigitan ketiga, Baekhyun tidak kuasa untuk tidak mengeluarkan air matanya. Dadanya menyesak ketika mengingat kapan terakhir kali ia menikmati makanannya. Baekhyun mulai terisak sembari terus melahap sarapannya.
Habis dengan lembar pertama, Baekhyun kemudian meraih lembar kedua rotinya. Melahap dengan terburu buru seolah takut seseorang akan merebut sarapannya tersebut. Baekhyun bahkan tersedak hingga memukul mukul dadanya. Baekhyun segera memasukan potongan terakhir rotinya kedalam mulutnya yang masih terisi penuh oleh gigitan sebelumnya. Gelas berisi susu putih di atas meja Baekhyun raih dan langsung menegaknya sampai seluruh roti yang belum sepenuhnya terkunyah masuk kedalam tenggorokannya. Namun, baru menghabiskan setengah dari susu tersebut, rasa mual langsung menyergap perutnya. Baekhyun sontak beranjak dengan langkah terhuyung-huyung menyusul Minseok yang masih berada di kamar mandi.
"Baekhyun!"
Minseok tentu saja terkejut dengan kedatangan Baekhyun yang tiba-tiba. Tanpa mempedulikan Minseok, Baekhyun langsung berlutut di depan closet dan memuntahkan seluruh sarapan yang telah di makannya. Minseok kemudian membantu Baekhyun dengan mengurut tengkuk lelaki itu.
"Mu-mual sekali, hyung~ hiks.."
Minseok mengusap punggung Baekhyun yang kembali memuntahkan isi perutnya.
Hampir setengah jam Baekhyun berlutut di depan closet. Minseok membantu Baekhyun yang mencoba berdiri ketika mual yang di rasakannya sedikit mereda. Kemudian Minseok berniat membantu Baekhyun untuk kembali kekamarnya dan beristirahat, sebelum lelaki itu meminta untuk di mandikan saja karna tubuhnya benar-benar terasa tidak nyaman.
...
"Kau menghabiskan sarapanmu?" Tanya Minseok ketika tidak mendapati roti yang di siapkannya, juga susu yang tersisa setengah.
Baekhyun mengangguk lemah dan menjawab, "Tapi susu itu membuatku mual, hyung. Tolong jangan buatkan aku susu itu lagi. Aku tidak menyukainya."
"Baiklah, aku tidak akan memintamu untuk meminum susu itu lagi. Tapi berjanjilah padaku. Sesulit apapun itu, kau harus tetap memasukan makanan kedalam perutmu."
Baekhyun terdiam sejenak sebelum kemudian mengangguk. Sebelah tangannya bergerak untuk mengusap perut ratanya. Ah, ia hampir lupa jika saat ini ia tengah mengandung. Jabang bayi yang akan ia gunakan untuk membalaskan dendamnya tengah tumbuh di dalam perutnya. Baekhyun tersenyum dalam arti lain dan berjanji akan menjaga senjata tersebut dengan baik.
"Kau ingin sesuatu?"
Sejenak Baekhyun terdiam sebelum kemudian menjawab, "Tolong buatkan aku teh hangat, hyung."
Minseok mengangguk, "Akan aku buatkan. Tunggu sebentar, hmm?"
"Dengan bunga krisan dan tanpa gula."
Lirih suara Baekhyun taunya membuat Minseok mengernyitkan dahinya. Ia membalikan tubuhnya untuk menghadap Baekhyun dan mendapati lelaki itu tengah menunduk dengan bibir bawah terkulum. Minseok mendengus geli ketika menyadari lelaki itu mungkin tengah mengidam saat ini.
"Baik. baik, Tuan muda. Saya akan buatkan pesanan anda."
"Hyung~" Baekhyun memerah mendapat godaan tersebut dari Minseok. Sementara Minseok tertawa dan kembali beranjak untuk meninggalkan kamar Baekhyun, sebelum...
"Aku mau ikut."
Well, Baekhyun sendiri tidak paham dengan yang diinginkannya. Ia hanya ingin melakukan apa yang di diinginkannya tersebut.
...
Kaki jenjangnya melangkah dengan gagah memasuki Mansion yang beberapa bulan terakhir ia tinggali. Sudah hampir dua pekan ia tidak kembali ke kediamannya tersebut. Dan sungguh, ia ingin sekali melihat keadaan lelaki yang kini tengah mengandung benihnya itu.
Ia tidak pernah berpikir hal ini akan terjadi. Baekhyun yang mengandung anaknya, Hana yang terguncang jiwanya, juga Suho yang ia jebloskan ke penjara. Semua itu tidak pernah di rencanakannya. Apa yang ia lakukan terhadap Baekhyun semata karna ia merasa sakit hati terhadap penolakan lelaki tersebut. Terlebih melihat lelaki itu justru mencintai adik kandungnya sendiri. Terlepas dari dendamnya terhadap Sehun, bahkan ia sudah tidak peduli semenjak Suho mengakui perbuatannya bahwa dokter muda itulah yg telah memperkosa kekasihnya dulu. Alasan itu pula yang di gunakannya untuk menjebloskan dokter muda itu ke penjara, mengesampingkan bahwa nyatanya ia tersulut amarah ketika dokter muda itu memojokannya.
Kemudian, ia juga tidak menyangka bahwa Hana akan sebegitu terguncangnya melihat perbuatannya terhadap Baekhyun. Apa yang ia lakukan saat itu, semata hanya ingin membuat Baekhyun menderita dan berhenti merasa bahwa dirinya layak untuk di cintai. Tapi kenyataannya, kini Baekhyun tengah mengandung anaknya. Meskipun ingin menyangkal, namun jauh dilubuk hatinya terdapat perasaan puas dan menginginkan bayi tersebut tumbuh di dalam tubuh Baekhyun.
Sebenarnya, perkataannya kepada Suho mengenai ia yang ingin menjauhkan bayi itu dari Baekhyun setelah lahir, ia juga tidak pernah merencanakannya. Namun terkadang terbesit pemikiran kenapa tidak ia lakukan saja? Bukankah itu hal yang bagus? Namun, tidak ada yang tahu apakah pemikiran tersebut merupakan tekad atau sebatas candaan konyol dirinya saja.
Kembali pada langkah kakinya yang kini telah memasuki ruang tengah mansion tersebut, yang merupakan tempat ia memperkosa Baekhyun di hadapan seluruh bodyguardnya, suara tawa di selingi obrolan samar terdengar di telinganya. Dengan penasaran, ia bawa langkahnya menuju dapur, yang merupakan tempat dari sumber suara tersebut.
Sesampainya di pintu dapur, ia berhenti. Tercekat dengan gejolak menyenangkan ketika mendapati sosok yang ingin di lihatnya tengah bercengkrama ringan bersama Minseok. Kaki kecilnya yang terbalut celana katun berwarna putih terlihat berayun dari atas kursi counter yang didudukinya. Belum pernah ia melihat lelaki mungil itu secerah ini sebelumnya. Tidak sekalipun ketika tengah bersama Hana.
Minseok adalah yang pertama menyadari kehadirannya. Lelaki itu terlihat terkejut sebelum kemudian membungkuk sebagai tanda hormat sembari bergumam, "Tuan Park."
Namun ia mengabaikan karna atensinya masih terfokus kepada Baekhyun yang masih terdiam di posisinya. Kemudian jantungnya berdentum keras ketika lelaki itu menolehkan kepalanya untuk bersitatap dengan mata gelapnya selama beberapa detik sebelum kembali berpaling seolah tidak peduli. Sungguh tidak mampu di mengertinya. Raut yang dilihatnya bukanlah raut seperti yang di perkirakannya. Dengan berjuta pertanyaan di kepalanya, ia memilih untuk meninggalkan tempat tersebut menuju ruang pribadinya.
...
Pun Chanyeol, begitu pula minseok. Lelaki itu juga tidak menyangka dengan reaksi yang di tunjukan Baekhyun ketika melihat Chanyeol. Bukannya merasa lega, Minseok justru merasa khawatir kepada lelaki hamil tersebut.
"Baekhyun, kau baik-baik saja?" Tanyanya ragu.
"Hmm? Aku baik, hyung. Memangnya kenapa? Ah, Chanyeol? Hyung tenang saja, aku tidak mengkhawatirkan apapun lagi tentangnya."
Kalimat yang terucap ringan dari bibir Baekhyun justru semakin membuat Minseok khawatir. Lelaki hamil itu terlihat benar-benar tidak peduli dan justru menyesap tenang teh hangatnya.
"Baekhyun, jika ada hal yang mengganggumu, kuharap kau mau berbagi denganku." Ujarnya yang dibalas dengan senyum tipis dari lelaki di depannya.
Benar, hanya ini yang ia harapkan dan dapat ia lakukan untuk Baekhyun. Setidaknya, dengan berbagi dengannya lelaki hamil tersebut tidak begitu tertekan karena memendamnya sendirian.
...
Minseok baru saja berhasil menutup pintu kamar Baekhyun ketika suara berat Chanyeol membuatnya terlonjak kaget. Ia kemudian mengikuti langkah Chanyeol ketika lelaki itu mengintrupsinya untuk mengikutinya menuju ruang pribadi lelaki gagah tersebut.
"Apa sebenarnya yang terjadi dengannya?"
Dingin suara tersebut membuat Minseok tidak berani untuk sekedar mengangkat kepalanya yang tertunduk. Ia jelas mengerti kemana arah pertanyaan Chanyeol. Hal yang pula tidak Minseok mengerti dengan keadaan lelaki yang kini tengah berbadan dua.
"Saya juga tidak mengerti dengan apa yang tengah Tuan Baekhyun pikirkan, Tuan. Beliau terlihat berbeda semenjak terbangun dari tidurnya. Tidak ada kalimat berarti yang di ucapkannya ketika saya bertanya."
Chanyeol mengeraskan rahangnya geram. Lagi-lagi ia harus menebak apa yang lelaki hamil itu pikirkan. Ia tentu tahu dengan adanya maksud tersembunyi yang mungkin tengah lelaki hamil itu rencanakan. Merupakan kesalahan besar jika lelaki itu sampai berani bermain api dengannya.
"Apa dia mengatakan sesuatu tentang kehamilannya?" Tanyanya mencoba tenang.
"Tidak, Tuan. Tuan Baekhyun terlihat tidak terganggu sama sekali dengan kehamilannya selain morning sickness yang di alaminya tadi pagi."
"Segera beritahukan padaku jika ada hal janggal yang terlihat darinya."
"Baik. Saya mengerti, Tuan." Dengan itu Minseok membungkuk hormat untuk kemudian beranjak meninggalkan ruang pribadi Chanyeol.
"Apa yang sedang kau rencanakan, Byun Baekhyun? Aku akan membunuhmu jika kau sampai membahayakan kandunganmu." Gumamnya.
...
Sementara itu di ruangan lain, Baekhyun tengah termenung di atas tempat tidurnya. Pandangannya tidak terlepas dari perut ratanya yang tertutupi Sweater. Lelaki manis itu berdecak sebelum tawa tertahan keluar dari belah bibirnya. Kemudian ia beranjak dari tempat tidur untuk menelusuri ruangan yang sudah ia tempati beberapa bulan terakhir.
Laci demi laci ia buka, hingga kemudian berhenti ketika sebuah buku dan pena ia dapatkan. Ia mendudukan tubuhnya di sebuah kursi dengan meja persegi di hadapannya. Tangannya terlihat bergerak menuliskan sesuatu pada lembar kertas pertama buku tersebut.
Baekhyun menyeringai ketika membaca ulang tulisan tangannya. Merasa puas dengan apa yang di tulisnya. Kemudian, buku tersebut ia bawa ke tempat tidur dan ia letakan di bawah bantal.
"Haruskah kita mulai sekarang...Bean?" Ujarnya sembari menunduk menatap perut ratanya.
Setelahnya, Baekhyun beranjak untuk keluar dari kamarnya untuk memulai langkah pertama. Ia berpendar menelusuri tata letak Mansion yang sebelumnya tidak pernah ia pedulikan. Putih adalah warna yang mendominasi. Tidak terlalu banyak barang di koridor memanjang yang di laluinya. Hanya beberapa guci mahal dan pepohonan kecil di atas pot yang Baekhyun tidak peduli apakah itu pohon asli atau bukan.
Baekhyun hendak menuruni tangga sebelum maniknya berpapasan dengan Chanyeol yang tengah menaiki tangga dengan dua bodyguard di belakangnya.
Baekhyun merasakan punggungnya dingin. Namun bukan berarti Baekhyun akan goyah dan mengalah pada kegelisahannya. Setelah menghela nafasnya dalam, dengan tekad ia pun berucap, "Aku ingin berbicara denganmu."
Chanyeol merasakan ujung bibir atasnya berkedut sekali. Ia tatap wajah Baekhyun yang terlampau datar. Menyelami sepasang iris bening yang terlihat tenang. Tidak seperti sebelumnya yang menyimpan kebencian ataupun ketakutan. Chanyeol semakin di buat penasaran dengan lelaki di hadapannya. Entahlah, Baekhyun yang dihadapannya sedikit membuatnya... tersinggung?
...
Dan di sinilah keduanya berada. Di ruang pribadi Chanyeol dengan Baekhyun yang duduk di atas sofa, sementara Chanyeol duduk di atas meja kerjanya. Iris gelap lelaki jangkung itu tidak berhenti menelisik lelaki yang lebih kecil. Baekhyun sendiri mencoba menenangkan dirinya yang diserang gugup tiba-tiba. Seberapa kuat ia berusaha, bohong jika ia bisa terlepas begitu saja dari rasa takut terhadap lelaki yang telah menghamilinya tersebut. Jantungnya bahkan berdentum keras sedari tadi. Keringat dingin terasa mengalir di sepanjang garis punggungnya. Beruntung ia dapat mengendalikannya hingga Chanyeol sendiri tidak mengetahui kegusarannya.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"
Berat suara itu membuat bulu-bulu halus di tubuh Baekhyun meremang seketika. Namun tekadnya masih lebih kuat. Baekhyun menatap yakin wajah Chanyeol.
"Aku tidak ingin di layani oleh Kim Minseok lagi."
Chanyeol mengangkat sebelah alisnya mendengar perkataan Baekhyun. Ia hendak membantah sebelum ucapan Baekhyun selanjutnya menyangkal perkiraannya.
"Aku ingin kau yang memenuhi seluruh kebutuhanku."
Chanyeol menatap tajam lelaki yang kini tengah berpaling muka. Kemudian atensinya yang tertuju ke tangan Baekhyun yang meremat sweater bagian perutnya, membuat Chanyeol mendengus sebelum berujar membalas permintaan lelaki itu.
"Apa hakmu meminta hal tersebut?"
Baekhyun kembali menatap wajah Chanyeol, "Aku hanya menginginkannya." Sebelum kembali berpaling muka.
"Hanya menginginkannya?" Chanyeol menyeringai mendengarnya. "Aku bisa menuruti keinginanmu. Tapi ada harga yang harus kau bayar, Baekhyun."
"Aku mengerti. Aku akan melakukan apapun keinginanmu." Ujar Baekhyun dengan kembali menatap wajah Chanyeol.
"Apapun?"
Baekhyun mengangguk pasti. Membuat Chanyeol semakin menyeringai senang melihatnya.
"Panggil Kim Minseok ke ruanganku." Ujarnya dengan jemari menekan salah satu tombol telepon di meja yang terhubung langsung pada bodyguard kepercayaannya.
Baekhyun mengernyit tidak mengerti. Apakah lelaki di hadapannya benar akan mengikuti permintaannya? Bukankah itu terlalu mudah? Atau ada hal lain yang akan lelaki itu lakukan kepada Minseok?
Baekhyun sedikit tersentak ketika pintu terbuka pelan dan menampakkan Minseok yang memasuki ruangan tersebut. Lelaki itu membungkuk hormat dan melirik sekilas Baekhyun yang masih menatapnya.
"Kau kubebaskan mulai detik ini. Aku akan menjamin kesembuhan suamimu sebagai balasan atas pekerjaanmu selama ini. Segeralah keluar dari Mansion ini setelah kau keluar dari ruanganku."
Baik Minseok maupun Baekhyun, keduanya sama-sama terkejut dalam arti yang berbeda. Baekhyun tidak mengira Chanyeol akan menurutinya begitu saja. Sementara Minseok, lelaki itu jelas bahagia mendengarnya. Namun di sisi lain ia merasa khawatir jika harus meninggalkan Baekhyun.
"Tu-tuan,"
"Kau harus berterimakasih kepadanya karena itu adalah keinginannya."
Minseok sontak menatap Baekhyun yang menatap dengan raut datar kearahnya. Baekhyun tentu saja tidak ingin jika Chanyeol tahu bahwa itu merupakan bagian dari rencananya. Sementara Minseok masih menatap tidak mengerti kearah Baekhyun. Ia mencoba mencari sedikit maksud di balik iris bening Baekhyun. Sorot keyakinan adalah yang di temukannya. Maka Minseok tidak punya pilihan lain selain membungkuk hormat ke arah Baekhyun. Dalam hati berdoa semoga Tuhan melindungi lelaki di hadapannya itu.
Baekhyun menatap teduh punggung Minseok yang perlahan menjauh sebelum menghilang di balik pintu. "Kumohon, berbahagialah mulai saat ini, Hyung. Aku tidak bisa melihatmu menderita lagi karenaku. Jika Tuhan mengijinkan, kita akan bertemu lagi."
"Aku sudah mengabulkan permintaanmu. Sekarang giliranmu untuk membayarnya."
Dan Baekhyun hanya pasrah ketika Chanyeol mendekatinya. Merengkuh pinggangnya untuk membuatnya berdiri, kemudian hanya mampu mengepalkan kedua tangannya kuat ketika bibir tebal lelaki yang merengkuhnya erat, mencumbu panas belah bibirnya.
Baekhyun hanya pasrah dengan perlakuan Chanyeol. Kedua tangannya menumpu pada dada Chanyeol, menyembunyikan detak jantungnya yang menggila, juga menahan sekuat mungkin air mata yang hendak mengalir karena sesak yang menggerogoti dadanya.
Sementara Chanyeol, lelaki itu menyeringai dalam ciumannya. Selagi lelaki itu dapat ia manfaatkan untuk kebutuhannya, maka Chanyeol akan dengan senang hati mengikuti permainan lelaki tersebut.
...
Baekhyun membuka kedua kelopak matanya dengan pelan. Tubuhnya terasa begitu lelah juga nyeri di beberapa bagian. Baekhyun menatap keadaan di luar yang sudah berganti dengan malam. Dan sebuah tangan yang melingkar di perutnya dari balik selimut, menyadarkan Baekhyun sepenuhnya dengan apa yang telah ia lakukan dengan lelaki yang kini tengah merengkuhnya dari belakang. Nafas hangat lelaki di belakangnya terasa hangat menerpa tengkuk lehernya. Baekhyun memandang tangan kekar yang di jadikannya bantal sebelum dengan segera menghapus air mata yang hendak keluar.
Perlahan, Baekhyun menyingkirkan lengan yang memeluknya dari perutnya. Bibirnya ia gigit begitu nyeri merambati tubuh bagian bawahnya ketika ia berusaha untuk terduduk. Beranjak dengan perlahan untuk memungut sweater yang tergeletak di lantai, dan melangkah perlahan keluar dari ruangan Chanyeol yang masih terlelap.
Kakinya tidak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia jatuh merosot di balik pintu kamar mandi di kamarnya. Memeluk kedua lutut, Baekhyun mulai terisak guna mengeluarkan perasaan sesak yang melingkupi dadanya. Baekhyun paham, harga dirinya sudah hilang sejak Chanyeol melecehkannya beberapa bulan yang lalu. Namun kejadian beberapa jam yang lalu benar menghantam kepala Baekhyun hingga tidak mampu membuatnya berpikir apapun.
Bagaimana sentuhan lelaki itu membuatnya mendesah tidak tahu malu dan membuat lelaki itu tidak berhenti menyetubuhinya hingga pelepasan ke tiga. Sejujurnya, Baekhyun pun merasa berbeda dengan persetubuhannya dengan Chanyeol kali ini. Lelaki itu terlihat menahan diri untuk tidak menyetubuhinya dengan kasar. Mungkinkah karena janin di kandungannya? atau ada alasan lain? Apapun itu, tidak seharusnya Baekhyun menikmati persetubuhannya dengan Chanyeol kali ini.
Setelah cukup lama menyesali perbuatannya, dengan kasar Baekhyun menghapus air mata di wajahnya. Tidak ada yang perlu di tangisinya mulai sekarang. Seharusnya Baekhyun paham akan hal itu. Karenanya, dengan menahan sakit di tubuhnya, Ia beranjak untuk segera membersihkan diri.
Baekhyun sudah melangkah, karenanya tidak ada kata untuk kembali. Sehancur apapun dirinya, ia tidak akan berhenti hingga ia dapat melihat lelaki yang sudah menghancurkannya bersujud di kakinya.
Note,
Sebelumnya aku minta maaf, karna aku mengubah judul dan summary dari cerita ini. Seperti yang aku katakan sebelumnya, ide awal aku membuat cerita ini tidak sesuai dengan alur yang aku buat. Mudah-mudahan kalian memahami. Terimakasih
