Daiya no A belongs to Terajima Yuuji
PERHATIAN!
MEDICAL AU! Typo, OOC, dll.
Selamat membaca!
ONLY THE YOUNG
Only the young
Can run, so run, and run!
.
Kawakami Norifumi merangkul Miyuki bersahabat. "Selamat Miyuki!" serunya, "atau sekarang sudah official jadi Professor Miyuki Kazuya!"
Miyuki Kazuya hanya tertawa menanggapi temannya. Koridor Departemen Gerontologi masih penuh dengan suara tepuk tangan dan sorakan selamat. Beberapa asisten dokter memberikan Miyuki bunga sebagai tanda selamat. Bahkan, para perawat juga banyak yang memberikan bunga. Miyuki menerima semuanya.
"Aku belum menyelamatimu dengan benar," kata Narumiya. Dia berdiri di depan Ruang Kepala Departemen, "selamat Miyuki Kazuya. Bersaing denganmu benar-benar mengasyikkan." Narumiya mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Miyuki. Kawakami harus membantu Miyuki membawa setengah dari bunga-bunga yang diberikan oleh staff agar Miyuki bisa bersalaman dengan Kepala Departemen Gerontologi yang baru.
"Selamat untuk jabatan barumu juga," kata Miyuki. Senyum masih menghiasi wajahnya, "Kepala Departemen benar-benar cocok untukmu."
Narumiya mendengus mendengar pujian Miyuki. "Aku lebih memilih kau yang serius daripada yang cengengesan seperti ini," katanya, "menyeramkan. Dan menggelikan," tambahnya. Miyuki tidak bisa tersinggung karena kata-kata Narumiya.
Lalu, Kawakami dan Miyuki sampai pada sebuah pintu dengan desain yang sederhana. Papan nama pintu itu masih kosong dan menurut staff administrasi, mencetak nama Miyuki Kazuya untuk diletakkan di papan nama membutuhkan waktu dua sampai tiga hari. Tidak masalah, Miyuki bisa menunggu.
"Siap?" tanya Kawakami.
Miyuki melihat temannya. Kedua tangannya penuh karena memeluk berbagai macam bunga (kebanyakan mawar) yang diberikan para staff. Internis itu mengangguk. Kawakami yang pertama kali membuka pintu sederhana itu.
"SELAMAT MIYUKI KAZUYA!"
Dari dalam ruangan, ada Fujiwara Takako, Okumura Koushuu, dan Seto Takuma. Mereka bertiga membawa bunga dan sudah menunggu kedatangan Miyuki. Miyuki dan Kawakami berjalan masuk ke dalam ruangan itu.
"Selamat Miyuki-sensei!" kata Seto sambil menyerahkan setangkai mawar merah kepada Miyuki. Dengan kewalahan, Miyuki mengambil bunga dari Seto. "Sekarang sudah jadi Professor Miyuki!"
"Terima kasih Seto," kata Miyuki.
Okumura maju untuk memberikan bunganya (dia dipaksa Seto untuk memberi bunga pada Miyuki Kazuya, tentu saja). "Perjuanganmu belum berakhir," katanya serius, "kalau lengah, kau akan kusalip." Dia mengatakannya dengan berapi-api.
Miyuki tertawa kaku mendengar ancaman kosong dari Okumura. Okumura mendapat jitakan dari Seto.
"Professor Miyuki, selamat!" kata Takako. Dia bukan hanya memberikan setangkai bunga, tetapi rangkaian bunga mawar yang cantik. Miyuki sekali lagi kesusahan mengambil bunga tersebut, sampai akhirnya Kawakami membantu membawa sebagian bunga pemberian staff dan diletakkan di salah satu meja sederhana di ruangan itu.
"Kalian semua, terima kasih," ujar Miyuki tulus. Senyum masih belum menghilang dari bibirnya. "Ini hanya awal," katanya, "perjuanganku dimulai dari sekarang."
Takako menepuk pundak Miyuki lembut. "Hari ini Anda boleh bergembira," katanya sambil tersenyum, "untuk merayakan kerja keras Anda selama ini."
Miyuki tersenyum samar. Dia tersenyum ketika mengingat perjuangannya yang dimulai dari nol. Sebuah perjalanan panjang, penuh dengan keringat dan bertahun-tahun. Dia teringat masa-masa lelahnya dan frustasinya hingga dia merasa ingin berhenti saja. Namun, dia juga tidak bisa berhenti begitu saja. Setiap dia ingin berhenti, dia selalu melihat ke belakang untuk melihat anak tangga yang dibangunnya perlahan-lahan. Jadi, dia terus melangkah maju.
Pintu besar itu kini telah terbuka, tetapi sebuah jalan lebar dan panjang sudah menunggunya di depan. Kini, dia harus kembali memulai pendakiannya. Perjalanannya yang baru.
"Iya," kata Kawakami, "selama ini kau sudah memasang ekspresi wajah serius. Rileks sedikit."
"Jangan malu-malu Professor Miyuki! Tersenyum lebih lebar lagi," tambah Seto. Satu-satunya orang yang tidak menambahkan kalimat norak penyemangat itu hanya Okumura.
Miyuki mau tidak mau mengikuti kalimat ketiga orang di ruangannya. Dia tersenyum lagi, lebih tulus, lebih bahagia, dan lebih lebar. Matanya sampai menyipit karena tersenyum.
"Nah! Begitu kan enak dilihat!" puji Kawakami. Seorang perawat dan dokter bedah mengangguk setuju.
Momen itu sempurna, sangat sempurna, sebelum Seto menyahut, "Sawamura-sensei dimana?" dia bertanya pada Okumura.
Semua kebahagiaan dari diri Miyuki langsung lenyap tak bersisa. Seolah langit runtuh, beban itu langsung menimpa Miyuki dan berusaha meremukkannya. Jantungnya bagai langsung ditikam oleh belati yang paling tajam.
"Jangan bilang jaga di IGD," kata Kawakami. "Padahal lagi selebrasi seperti ini, masih bisa dia jaga IGD," gerutunya gemas.
Okumura menghela napas. "Aku tadi ingin mengajaknya ketika di IGD," katanya, "tapi ternyata dia sedang pergi ke luar RS."
"Ke luar RS?" tanya Seto, "memangnya ada urusan apa?"
Okumura mengangkat bahu. "Aku juga tidak tahu. Kata perawat di IGD, dia pergi bersama Takigawa-sensei."
Miyuki berubah tegang. Bagaimana mungkin dia bisa lupa masalah penting itu? Pengangkatannya sebagai professor dan selebrasi membuatnya terbuai untuk sejenak, tetapi seolah alam tidak ingin dia lepas dari tanggung jawab, dia diingatkan lagi.
Sawamura Eijun.
Nama itu sudah bergaung di dalam otak Miyuki untuk beberapa waktu belakangan. Dan belakangan ini, nama itu menghantuinya diikuti oleh sebuah perasaan bersalah. Ada banyak yang ingin dikatakannya kepada Sawamura, meskipun dia tidak yakin apakah mereka berdua mempunyai cukup waktu untuk membahas masalah ini. Namun, yang paling penting adalah permintaan maaf.
Dia harus menemui dokter bedah itu, menatapnya langsung ke dalam iris emasnya, dan mengatakan dari perasaan terdalamnya bahwa dia menyesal dan meminta maaf. Setelah itu, dia akan menerima semua jawaban dari Sawamura. Iya, dia harus melakukan itu.
"Takigawa-sensei? Kenapa mereka berdua pergi bersama ke luar RS?" tanya Kawakami tidak mengerti.
Lagi-lagi Okumura hanya mengangkat bahu tidak mengerti. Namun, Miyuki bisa langsung segera paham. Chris mungkin sedang menagih jawaban dari Sawamura. Sebuah penawaran menggiurkan yang bagi orang waras tidak mungkin ditolak.
Sawamura pernah lepas dari genggaman tangan Miyuki sekali, dan rasanya benar-benar menyiksa. Menyaksikan Sawamura berdampingan dengan orang lain yang bukan dirinya, sementara Miyuki tidak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya, itu benar-benar membuatnya terpuruk. Tanpa sadar dia mengepalkan tangannya.
Dia sudah telat selangkah dari Chris. Lagi-lagi dia kecolongan. Euforia untuk merayakan keberhasilannya jadi terasa hambar. Saat ini, pikirannya kembali penuh dengan Sawamura. Miyuki berpikir semua kemungkinan yang terjadi. Sejujurnya, kemungkinan yang terpikirkan hanya dua, Sawamura menerima tawaran Chris atau menolaknya. Miyuki berharap keajaiban bahwa Sawamura akan menolaknya, tetapi seberapa besar kemungkinan itu, tidak ada yang tahu.
.
Takigawa Chris Yuu membawa Sawamura Eijun makan siang di sebuah restoran menengah yang menyajikan menu steak. Sawamura memesan steak daging sapi dan Chris memesan steak tuna.
Chris makan dengan elegan, persis seperti seorang bangsawan. Sesekali Sawamura melirik pria itu yang memotong daging steak dengan gerakan lembut. Ini mengingatkannya di awal-awal mereka pacaran. Dulu, Chris sering mengajaknya memakan steak agar Sawamura bisa berlatih menggunakan scapel dengan tangan kanan. Meskipun berbeda sensasinya antara daging panggang dan daging segar di tubuh manusia. Lalu, Chris juga membantunya berlatih menjahit kulit mengunakan pisang lalu kulit sapi dan babi. Lebih dari setengah bakat yang dimiliki oleh Sawamura, adalah didikan dari Chris.
"Tidak suka dagingnya?" tanya Chris.
Sawamura tersentak dan sadarlah dia bahwa sedari tadi dia hanya memotong-motong daging tanpa memakannya. "Kupotong supaya lebih gampang dimakan," jawabnya. Lalu, dia menusuk potongan daging sapi itu dan memasukkannya ke dalam mulut untuk dikunyah. Rasa bumbu dan arang bercampur jadi satu. Tidak begitu buruk rasanya.
"Jadi, apa kau menerima tawaranku?" tanya Chris.
Sawamura mengunyah dengan pelan sampai semua daging itu terkoyak sempurna di dalam mulutnya, berbentuk bolus dan ditelan. Garpu dan pisau diletakkan di atas meja. Sawamura menatap Chris.
"Maaf, aku harus menolak tawaranmu," katanya lugas.
Pergerakan Chris untuk sesaat terhenti. Dia menatap lamat-lamat dan berusaha mencari kebohongan dari iris Sawamura, tetapi nihil. Sawamura tidak berbohong.
"Kenapa?" tanya Chris "Aku mengenalmu, Eijun. Kau bukan orang yang akan menolak kesempatan seperti ini," katanya.
Benar, pikir Sawamura. Sawamura juga ingin tahu mengapa. Padahal, tidak ada salahnya jika dia pergi ke Amerika. Kalau Sawamura yang dulu pasti tanpa pikir panjang dia akan berangkat ke Amerika. Namun, Sawamura yang sekarang adalah pribadi yang lebih kompleks. Apalagi setelah dia bertemu dengan Miyuki Kazuya. Kadang Sawamura sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya.
"Aku akan mengasah kemampuanku di tempat lain," katanya.
"Kalau begitu, asahlah kemampuanmu di Departemen Bedah," kata Chris, "di bawah naunganku." Dia tidak menyerah.
Sawamura kembali menatap Chris. "Itu juga harus aku tolak," jawabnya.
Chris kembali menatap Sawamura dengan tidak mengerti. Lalu, ketika dia menatap lebih dalam ke mata Sawamura, dia seperti mendapatkan jawabannya. "Miyuki Kazuya ya?" tebaknya.
Untuk sesaat, bahu Sawamura menegang. Nama itu rupanya memberikan efek lebih dari yang diinginkan oleh Sawamura. Rupanya, Chris melihat gelagat itu.
"Sudah kubilang, lupakan saja Miyuki," katanya, "kau hanya menghambat dirimu sendiri." Sawamura diam mendegarkan. Lupakan, kata Chris, bisakah Sawamura melakukan hal itu? Pertemuan takdir mereka berdua, kini harus dilupakan begitu saja?
"Tahu apa kau?" tanya Sawamura.
"Aku tahu apa yang terbaik untukmu," katanya, "dan memilih Miyuki bukanlah pilihan yang baik."
Sawamura tidak setuju. "Justru ini adalah pilihan paling baik," kata Sawamura. "Aku tidak bisa menerima tawaranmu ke Amerika dan aku juga tidak bisa berada di Departemen Bedah." Semua unsur itu pasti akan selalu mengingatkan Sawamura pada Miyuki, dan dia tidak bisa melakukan itu.
"Apa maksudmu?" tanya Chris, "apa kau masih segan dengan berakhirnya hubungan kita?"
Sawamura menarik napas dan menghembuskannya pelan. "Ini bukan karena Miyuki Kazuya dan jelas ini tidak ada sangkut pautnya dengan kita," jelas Sawamura, "ini murni perasaanku."
"Perasaan…" gumam Chris tidak mengerti. Kenapa semakin lama dia semakin tidak paham jalan pikiran Sawamura?
"Benar," kata Sawamura. "Aku ingin memulihkan perasaanku terlebih dahulu. Makanya, aku tidak bisa menerima tawaran darimu."
Sawamura menatap Chris. Tatapannya jernih dan iris emas itu semakin berkilat. Iris emas itu menatap Chris seolah menembus jiwanya, membangkitkan perasaannya yang lama terkubur.
"Apa yang akan kau lakukan mulai sekarang?" tanya Chris. "Kontrakmu sudah habis dan kalau kau tidak bergabung dengan departemen, RS tidak akan memperpanjang kontrakmu."
"Aku belum memikirkan sampai ke sana," kata Sawamura, "aku hanya berusaha menyelesaikan masalah satu per satu."
Sebuah palu dingin menghantam perasaan Chris. "Apa kau akan kembali ke Afghanistan?" tanyanya.
Sawamura tidak langsung menjawab. Dia mengambil sepotong daging lagi dan dimasukkan ke dalam mulut. Dikunyahnya pelan dan berirama. Chris menantinya. "Apa yang kau cari di sana, sebenarnya? Apa yang memikatmu?" tanyanya tidak mengerti.
Di tanah penuh debu dan perang, apa yang dilihat oleh Sawamura?
Sawamura menatap Chris. Tatapan tajam dan penuh dengan determinasi.
"Kehidupan."
.
Asada Hirofumi tidak bermaksud menguping pembicaraan. Sama sekali tidak. Dia hanya sedang membawa berkas rekam medik untuk diberikan pada Divisi Rekam Medik. Namun, suara seorang staff administrasi itu begitu besar ketika dia sedang berbicara.
Sawamura sedang berbicara dengan salah satu staff administrasi rumah sakit. Dari percakapan mereka, intinya Sawamura diminta untuk mengambil keputusan pasti terhadap Departemen Bedah dan memperpanjang kontraknya di RS ini.
"Yang pasti," kata si staff, "aku menunggu sampai akhir minggu ini. Takigawa-sensei memang belum berkata apapun padaku, tapi aku tetap harus mengonfirmasi padamu."
"Aku mengerti," kata Sawamura.
"Kalau memang tidak ingin melakukan perpanjangan, buat surat pengunduran diri yang formal," katanya, "kau masuk ke RS ini baik-baik, jadi keluar pun harus baik-baik."
"Baik," jawab Sawamura, "aku mengerti."
Lalu, karena tidak mau dituduh menguping pembicaraan, Asada langsung lanjut berjalan menuju Ruang Rekam Medik. Namun, pikirannya melayang pada percakapan yang didengarnya.
Sawamura-sensei akan berhenti dari RS ini?
.
Miyuki Kazuya sudah berpikir ribuan kali untuk menemui Sawamura. dia memikirkan semuanya dengan serius, sampai kepalanya berdenyut-denyut. Semakin dipikirkan, dia semakin merasa berat dan semakin sulit. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah dia boleh menemui Sawamura langsung di Departemen Bedah? Apakah dokter itu mau menemuinya?
Semakin dia membuat berbagai macam kemungkinan di dalam kepalanya, semakin terasa rumit. Akhirnya Miyuki memutuskan untuk bangun dari kursinya. Hanya berpikir saja tidak akan ada yang berubah. Perubahan itu terjadi ketika seseorang bertindak, melakukan sesuatu. Satu-satunya yang akan membuat perubahan saat ini adalah menemui Sawamura dan menyampaikan apa yang harus disampaikan.
Beberapa asisten dokter yang berada di koridor membungkuk hormat pada Miyuki ketika dia lewat. Tujuannya satu saat ini, yaitu Departemen Bedah, untuk menemui Sawamura. Kalau dokter itu sedang jaga di IGD, Miyuki rela menunggu sampai jam jaganya selesai. Kalau Sawamura tidak ada di Departemen Bedah, Miyuki akan mencarinya ke sepenjuru RS, atau memanggilnya lewat intercom. Ya ya, ada seribu satu jalan menuju Roma.
Dia sudah membiarkan masalah ini hampir dua minggu dan Miyuki mempunyai firasat kalau masalah seperti ini terus dibiarkan, dia tidak akan bisa lagi bertemu Sawamura. Firasat itu membuatnya takut dan akhirnya dia memutuskan untuk menemui Sawamura dan menyelesaikan semuanya.
Miyuki menarik napas lalu menghembuskannya lagi. Dia melakukan itu kira-kira sepuluh kali, karena setiap langkahnya yang semakin dekat dengan ruang istirahat IGD, dia semakin tidak berdaya dan merasa lemas. Namun, dia tetap memaksakan langkahnya sampai ke depan pintu yang tertutup.
Gagang pintu itu kaku. Tidak ada tanda-tanda seseorang akan membukanya. Dengan pelan, Miyuki meraih gagang itu sebelum seseorang dari dalam ruang istirahat membuka pintu. Miyuki tersentak kaget, lebih dari seharusnya.
Itu adalah Sawamura Eijun.
"Oh."
Sawamura tampak kaget juga, seperti Miyuki.
Iris emasnya terbelalak dan untuk sesaat dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Haruskah dia memberi selamat kepada Miyuki atas pencapaiannya? Atau dia harus memalingkan wajah, berpura-pura tidak melihat Miyuki Kazuya? Sawamura baru sadar bahwa dia sudah lama sekali tidak melihat Miyuki. Padahal, baru sekitar dua minggu.
"Uh… Hai…" kata Miyuki canggung. Dia merutuki diri sendiri kenapa suasana jadi secanggung ini. Dan lagi, HAI? Memangnya itu yang diucapkan orang setelah tingkah laku buruknya? "Apa kau sedang jam jaga?" tanya Miyuki.
Sawamura menggeleng. "Mencari siapa?" tanyanya.
Miyuki menelan ludah. Sawamura berbicara dengan nadanya yang biasa, tapi Miyuki tidak pernah melupakan nada dingin milik Sawamura, yang sampai sekarang masih membuatnya menggigil.
"Kau," jawab Miyuki, "Aku mencarimu." Miyuki menjilat bibir bawahnya. Dia menatap Sawamura. "Boleh bicara sebentar? Aku rasa aku berhutang maaf padamu."
Sawamura tidak langsung menjawab. Sawamura memang bermaksud menyelesaikan masalah satu per satu, tetapi ketika dia bertemu dengan Miyuki Kazuya, semua daftar tugas yang sudah di susun di dalam otaknya mendadak buyar. Dia tidak bisa berpikir. Yang bisa dipikirkan hanyalah betapa lama mereka tidak bertemu, dan meskipun Sawamura benci mengakuinya, dia senang bisa bertemu lagi dengan Miyuki. Perasaannya kembali menjadi bocah remaja.
Miyuki menunggu dengan harap-harap cemas. Sawamura diam kaku seperti patung lilin di depannya dan menurut Miyuki itu bukan hal bagus. Miyuki bertanya-tanya apakah tadi dia melakukan kesalahan lagi? Apakah dia menyakiti perasaan Sawamura lagi?
"Boleh," kata Sawamura akhirnya. "Mau bicara dimana?" tanyanya.
Miyuki begitu fokus pada pikirannya akan ditolak oleh Sawamura, sehingga dia sama sekali tidak kepikiran soal tempat untuk bicara. Dia begitu lega karena Sawamura mau bicara dengannya. Sekarang, dia harus memikirkan solusi baru.
Diliriknya jam dinding yang berada di ruang istirahat. Lalu, dia juga teringat bahwa Sawamura sempat ke luar RS bersama Chris di jam istirahat. Miyuki punya keinginan untuk tidak kalah dari Kepala Departemen itu.
"Keberatan jika makan siang bersamaku?"
.
Sawamura bilang dia tidak mau makan daging, akhirnya mereka berdua makan di sebuah kedai ramen dan sushi. Mereka berdua memesan ramen.
"Sawamura," panggil Miyuki. Dia menatap Sawamura dengan sungguh-sungguh, "aku minta maaf."
Sawamura menatapnya. Tatapan Miyuki tegas, tetapi irisnya bergetar. Sawamura belum mengatakan apapun. "Aku sudah mengatakan hal-hal yang menyakitkan kepadamu. Aku begitu frustasi karena gagal ditunjuk sebagai konsultan pasien dan aku malah melampiaskannya padamu. Aku minta maaf."
"Sekarang kepalamu sudah dingin?" tanya Sawamura.
Miyuki mengangguk. "Iya. Aku banyak berpikir sejak kau memukulku. Aku hanya begitu kecewa karena tidak bisa merawat pasien denganmu, tapi aku juga malah melampiaskannya padamu. Memalukan."
Sawamura menatap ramen yang masih banyak di dalam mangkuknya. Pembicaraan ini begitu tenang dan Miyuki mengutarakan semuanya dengan jujur. Mungkin memang sudah seharusnya mereka berdua bicara seperti ini. Sudah waktunya mereka membicarakan tentang apa yang mereka rasakan.
"Aku juga kecewa karena tidak bisa merawat pasien bersama-sama," kata Sawamura. Miyuki menatapnya, "Aku selalu berpikir itu tidak begitu penting, jadi kau tidak harus tahu."
"Penting," kata Miyuki cepat, "apa yang kau rasakan dan yang aku rasakan itu penting. Setidaknya kita bisa tahu perasaan masing-masing."
Sawamura mencerna kalimat Miyuki. Membagi perasaannya, mengungkapkan perasaannya, itu semua sudah Sawamura buang jauh-jauh. Dia begitu takut dan akhirnya dia melarikan diri. Padahal dia mengajarkan pada Asada bahwa rasa sakit dan ketakutan itulah yang akan menjadi guru di dalam kehidupan, tetapi nasihat itu tidak diterapkan oleh Sawamura.
"Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu," kata Sawamura. Dia menyunggingkan sebuah senyuman tulus. Bukan senyuman meremehkan atau pun sombong. Hanya sebuah senyuman sederhana, tetapi jantung Miyuki berdetak sangat kencang. "Selamat untuk gelar barumu, Miyuki Kazuya."
Miyuki terpana untuk beberapa detik.
"Kuharap aku belum begitu terlambat mengucapkannya."
Miyuki mendengus geli. "Kau orang terakhir yang mengucapkannya."
Jawaban Miyuki membuat Sawamura memutar bola matanya. "Jangan merusak suasana," katanya. "Kemarin aku ada urusan, jadi tidak sempat memberikan selamat. Apa kau mau kuberikan bunga juga?" tanyanya.
Miyuki menggeleng. "Tidak terima kasih. Aku yang kerepotan di apartemen nantinya," jawab Miyuki. Lalu, dia teringat sesuatu, "kata Okumura, kau pergi dengan Chris kemarin. Apa ini tentang tawarannya?"
Sawamura mengangguk. "Aku memberikan jawaban padanya," jawab Sawamura.
Miyuki berharap suaranya tidak seperti orang yang habis dipukul atau seperti anak ayam yang terinjak. Dia bertanya, "Apa jawabanmu? Apa kau menerima tawarannya?" tanya Miyuki hati-hati.
"Sayang sekali tebakanmu salah," kata Sawamura, "aku menolaknya."
"Kenapa?" Miyuki memberinya tatapan tidak percaya.
Mendapati Miyuki Kazuya dan Takigawa Chris berekspresi seperti itu di depan Sawamura, membuat dokter bedah itu membatin geli. Kenapa orang-orang yang heboh, padahal Sawamura sendiri santai.
"Aku ingin pergi ke tempat lain dulu," katanya sambil bersandar pada punggung kursi. "Aku belum siap terikat lagi."
"Afghanistan lagi ya?" tebak Miyuki. Lagi-lagi, Miyuki memberinya pertanyaan retorik seperti Chris. Satu pertanyaan yang ditanyakan oleh dua orang yang berbeda, tetapi Sawamura tidak bisa menjawabnya dengan lugas seperti jawaban yang diberikannya pada Chris.
"Apa kau masih ingat percakapan kita dulu?" tanya Sawamura. Miyuki menatapnya. Tatapannya bingung. "Di balkon rumah sakit, tentang apa yang akan kita lakukan berdua?"
Ingatan Miyuki membawanya kepada subuh dingin di Tokyo dan seorang Sawamura Eijun. Memori itu masih sejelas siang hari, ketika Miyuki mengingatnya, dan sejauh masa lalu.
"Mau ikut denganku?" tawar Sawamura.
Pertanyaan itu tidak disangka oleh Miyuki. Mereka berdua memiliki catatan perjalanan masing-masing, tetapi ketika keduanya menyodorkan catatan perjalanan, timbul kebimbangan. Mereka sama-sama penjelajah, pengelana, tetapi hidup mereka berbeda. Sangat berbeda.
"Apa kau mau bergabung secara resmi di RS?" Miyuki bertanya balik sebagai jawaban pertanyaan Sawamura. "Di Departemen Gerontologi."
Mereka berdua tidak butuh jawaban. Pertanyaan satu orang adalah jawaban untuk pertanyaan orang yang lain. Mereka tidak butuh kata-kata puitis. Perasaan mereka berkembang bersama dengan pasien yang mereka rawat. Namun, jauh di lubuk hati mereka berdua, mereka belum siap untuk terikat dan berkomitmen.
Perasaan adalah satu hal, tetapi komitmen adalah hal lain yang sangat rumit dan butuh pertimbangan matang. Butuh kesiapan. Butuh kedewasaan mental. Membutuhkan seumur hidup untuk membuat komitmen dan Sawamura serta Miyuki, belum siap untuk melakukan hal itu. Mereka berdua adalah penjelajah yang haus akan ilmu pengetahuan. Mereka belum siap untuk meninggalkan kehidupan mereka. Mereka masih ingin meneruskan perjalanan mereka.
Garis yang bersinggungan karena takdir itu, kini sudah mulai bergerak lagi.
.
"Jadi kau benar-benar akan keluar dari RS ya?" tanya Kawakami memastikan. Tim Miyuki sedang bersantai di salah satu meja kantin rumah sakit. Sawamura mengaduk jus jeruk di depannya. Dia mengangguk.
"Anda menerima tawaran Takigawa-sensei ke Amerika?" tanya Seto.
Sawamura bahkan tidak bertanya darimana Seto Takuma mendapatkan informasi itu. Namun, begitu dia mengingat Miyuki juga mengetahuinya, dia maklum. "Tidak, aku menolaknya."
"Kenapa?" tanya Okumura.
Sawamura Eijun memang penuh dengan misteri. Seorang dokter bedah yang muncul tiba-tiba, lalu pergi juga tiba-tiba.
"Aku hanya ingin berpergian untuk saat ini," jawabnya, "travelling. Backpacker."
"Anda lebih memilih liburan daripada belajar ke Amerika?" tanya Takako tidak percaya.
Sawamura hanya tersenyum santai. "Aku tahu prioritas hidupku. Kehidupan di RS benar-benar berat dan sepertinya aku memang butuh liburan."
"Yeah, aku bisa melihat itu," gumam Seto.
"Kau akan liburan ke mana?" tanya Kawakami.
"Saat ini aku baru terpikir ke Afghanistan," jawab Sawamura.
Seto tersedak kopi yang diminumnya. "Apa?" tanyanya sambil terbatuk.
"Kenapa Anda mau pergi ke sana? Memangnya ada tempat liburan di sana?" tanya Okumura bingung.
Kawakami dan Takako memandangnya bingung. Sawamura menikmati setiap ekspresi yang dikeluarkan oleh anggota timnya. Ekspresi mereka sama persis dengan orangtua Sawamura dan teman-temannya di Nagano ketika dia memutuskan untuk berkelana pertama kalinya.
"Itu kan negara yang penuh dengan konflik dan perang," komentar Takako. "Dan Anda bilang Anda butuh liburan?"
"Benar."
Okumura hanya menatap Sawamura dan semakin dia tidak mengerti. Sedari awal, dia sudah penasaran dengan keberadaan Sawamura. Kulit yang terlalu gosong untuk ukuran orang jepang, rambut coklat yang pecah-pecah dan berubah warna hingga kemerahan akibat sinar matahari, serta kepercayaan diri sebagai dokter bedah dan dedikasi untuk terus merawat pasiennya tanpa mengenal lelah. Ditambah lagi menjadikan Afghanistan sebagai tempat liburan, padahal jelas-jelas orang akan menghindari negara konflik tersebut.
"Anda dokter di Afghanistan ya?" tebak Okumura.
Semua tim menatap Okumura, termasuk Sawamura. Lalu tatapan mereka menuju Sawamura. "APA?"
Sawamura hanya tersenyum simpul. "Lebih tepatnya di NGO," kata Sawamura.
"Aku tidak percaya!" seru Seto. Kacamatanya melorot.
Kawakami memberinya tatapan menyelidiki. "Pantas saja kau begitu hebat di kamar operasi," katanya.
"Deduksimu hebat juga," kata Sawamura.
"Jadi maksudnya liburan itu, kembali merawat pasien di Afghanistan?" tanya Takako. "Apa itu bisa termasuk liburan?" tanyanya tidak mengerti.
Seto meringis tanpa sadar. "Kenapa Anda suka sekali bekerja sih?" tanyanya bingung.
Sawamura hanya tertawa singkat sambil menikmati reaksi mereka. Seto Takuma tidak perlu tahu, kalau pun dijelaskan, Sawamura yakin bahwa dia tidak akan mengerti. Ini adalah perasaan milik Sawamura yang telah tumbuh dan dijaga olehnya selama bertahun-tahun. Pengabdiannya kepada pasien tidak bisa lagi dijelaskan. Baginya, dokter bukan hanya sekedar bekerja atau pun profesi. Dokter adalah panggilan hidup. Dia mencari kehidupan, mempertahankan kehidupan, serta mengangkat kehidupan dari kematian.
Setelah mereka berbincang-bincang lagi, akhirnya Sawamura bangkit dari kursinya.
"Sudah mau pergi?" tanya Kawakami.
"Apa Anda akan langsung berangkat ke Afghanistan?" tanya Takako.
"Aku akan kembali ke Nagano dulu," jawab Sawamura, "mempersiapkan visa dan pasporku."
"Kau sudah bilang Miyuki?" tanya Kawakami.
"Dia malah menyarankan aku untuk pamit pada kalian semua," jawab Sawamura.
Tiba-tiba, suasana berubah menjadi sendu. Barulah mereka paham kalau ini adalah perpisahan yang sesungguhnya.
"Apa Anda akan kembali ke Jepang lagi?" tanya Seto. "Anda tidak akan selamanya di Afghanistan kan?"
"Pada akhirnya semua harus kembali ke rumah kan?" retorik Sawamura.
Kawakami ikut bangkit dari kursinya. Seto, Okumura, dan Takako mengikutinya. Kawakami menepuk pundak Sawamura. "Jangan sampai kau mati karena bom ya," ujarnya.
Sawamura hanya tertawa. "Semua juga selalu berpesan seperti itu padaku."
"Ini serius!"
Sawamura mengangguk. "Baik, Kawakami-sensei~"
Okumura mengulurkan tangannya dan Sawamura menyambut uluran tangan itu. Mereka berjabat tangan. "Senang bisa bekerja bersama Anda, Sawamura-sensei. Anda benar-benar dokter bedah yang sangat hebat."
"Aku juga senang bisa bekerja bersama kalian di tim ini. Kau benar-benar meringankan pekerjaanku di kamar operasi," kata Sawamura.
"Kenapa kalian berdua berjabat tangan kaku seperti orang Jerman?" tanya Seto tidak mengerti.
Namun, Seto juga ikut mengulurkan tangannya untuk menjabat Sawamura. "Anda benar-benar dokter idaman," katanya. "Sampai berjumpa lagi Sawamura-sensei."
"Sampai berjumpa lagi."
Takako bertatapan dengan Sawamura. "Semua yang ingin kukatakan sudah dikatakan para dokter ini," kata Takako. Sawamura tertawa mendengarnya. Takako tersenyum. "Jaga diri Anda, sensei."
"Terima kasih Fujiwara-san."
Setelah itu, Sawamura berjalan dari kantin rumah sakit menuju koridor utama RS. Beberapa bulan belakangan ini terasa aneh bagi Sawamura. Dia tidak pernah menyangka bahwa dia akan kembali menginjakkan kaki di RS. Dia juga sama sekali tidak menyangka bahwa dia bisa terlibat takdir aneh dengan seseorang yang memiliki jalan hidup yang sangat berbeda.
Koridor RS ini sudah semakin familiar diingatan Sawamura. Dia sudah tidak tersesat lagi di koridor RS yang banyak dan berlika-liku. Dia sudah merawat banyak pasien dengan berbagai kondisi di RS ini. Dia juga sebisa mungkin mengajarkan Asada tentang pengalaman, supaya Asada semakin berkembang. Dokter magang itu punya potensi, menurut Sawamura.
Dia sudah berpamitan secara formal di Departemen Bedah. Furuya Satoru mengatakan kalau dia akan mengasah lagi kemampuannya agar bisa melampaui Sawamura. Takigawa Chris juga tidak mengatakan apapun lagi soal keputusan Sawamura. Dia hanya berpesan agar Sawamura menjaga diri.
"Sawamura-sensei."
Sawamura berhenti berjalan. Asada Hirofumi memanggilnya.
"Ada apa, Asada?" tanya Sawamura.
Asada bertubuh tinggi dan kurus. Kulitnya pucat. Wajahnya selalu tampak gugup dan tidak yakin. Kacamatanya tipis dan selalu dipakainya. Jas dokter yang dipakainya kebesaran dan masih putih bersih. Name tag masih terpasang di sebelah kiri jas dokter, sebagai tanda pengenal.
Dia menatap Sawamura. tatapannya masih penuh dengan keraguan dan kebimbangan, tetapi Asada bertumbuh dan berkembang setiap harinya. Dibandingkan pertama kali Asada menjadi asistennya, kini kecepatan menjahitnya meningkat dan dia tidak pernah lupa pemeriksaan penunjang secara lengkap lagi. Pengalaman sudah mengajarinya dengan baik, lewat setiap inchi di tubuhnya.
"Apa Anda benar-benar akan pergi dari RS ini?" tanyanya.
"Aku tidak mungkin membuat prank salam perpisahan seperti itu," kata Sawamura. "Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Sawamura. Dia tahu bahwa Asada tidak mungkin hanya berbasa-basi seperti itu.
Asada sudah mulai tidak bimbang lagi. "Kemana Anda akan pergi setelah dari RS ini?" tanyanya.
"Aku akan pergi liburan," kata Sawamura.
Asada masih belum terlihat puas. Sawamura menanti dengan sabar. "Lalu, apa Anda tidak niat untuk kembali ke RS ini setelah liburan?" tanyanya lagi.
Sawamura mendengus geli mendengar pertanyaan Asada.
Kembali.
Kata itu terasa sangat asing sekaligus penuh dengan kerinduan setiap kali Sawamura melafalkannya. Apakah Sawamura punya tempat kembali? Pekerjaan dan pasienlah tempat kembali bagi para dokter.
"Kau keberatan karena aku mengundurkan diri?" tanya Sawamura.
Ekspresi Asada rumit, seperti ingin menyangkal pertanyaan Sawamura, tapi juga itu yang dirasakannya. "Saya tidak bisa menjadi sehebat Anda," katanya pada akhirnya. Aura di sekelilingnya berubah menjadi negatif dan suram. Bahu kurus itu terlihat bungkuk.
Sawamura maju beberapa langkah hingga dia cukup dekat dengan Asada, lalu mengulurkan tangannya untuk menjitak kepala Asada. Dokter magang itu mengaduh kesakitan. Dia mengusap-usap kepala yang baru saja dijitak oleh Sawamura.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Sawamura galak, "memangnya kau sudah menguji seluruh kemampuanmu?"
"Tapi Anda kan dokter bedah jenius!" protes Asada.
Sawamura menjitaknya untuk kedua kalinya. Sawamura Eijun menarik napas dan menghembuskannya.
"Asada," panggilnya. Dia menunggu sampai dokter magang itu menatapnya. "Dokter bedah jenius itu juga lahir dari orang biasa. Bedanya, dia terus menguji seluruh kemampuan dan kekuatannnya. Tanpa jeda. Tanpa henti."
Asada memandangnya. Kalimat Sawamura bagai panah yang langsung menusuk ke dalam jantungnya. Tatapan Sawamura sekokoh beton baja.
"Kau yang sekarang memang belum mencapai tahap itu, tetapi itu bukan masalah. Berkembanglah Asada. Uji seluruh kemampuanmu. Memang butuh proses dan waktu yang panjang, tetapi usaha tidak pernah mengkhianati hasil."
Asada merasakan rambut-rambut halus di tubuhnya berdiri setelah Sawamura mengatakan kalimat itu.
Itu memang kalimat penyemangat yang biasa didengarnya oleh para motivator, tetapi ketika Sawamura mengatakannya, bobotnya terasa berbeda. Kalimat Sawamura hidup, ada denyut di dalam kata-kata itu. Ada kenangan dan pengalaman di setiap kata yang keluar. Sawamura merangkum seluruh perjalanannya di dalam kalimat sederhana itu, dan Sawamura bersungguh-sungguh ketika mengatakannya. Sawamura Eijun telah menguji kemampuannya sampai batas maksimal dan telah melampauinya. Tidak ada teknik khusus. Tidak ada tips dan trik. Berjuang. Itu saja.
"Kau beruntung Asada," kata Sawamura, "karena kau belum jenius, maka kau punya seluruh ruang dan waktu di dunia ini untuk berkembang."
Asada terpaku. Kalau dia punya keinginan yang bisa dikabulkan, dia ingin mengorek kenangan Sawamura dan melihat langsung apa saja yang sudah dilewati oleh dokter bedah itu.
"Saya ingin belajar lebih banyak lagi dari Anda," kata Asada, "menguji kemampuan saya bersama Anda."
Sawamura mendengarnya sampai akhir, tetapi jawabannya tetap tidak berubah. "Asada, aku sudah menetapkan pilihanku dan itu tidak akan berubah."
Asada menatapnya bingung. "Apa maksud Anda?"
"Perjalanan ini tidak bisa terhenti sekarang. Aku belum ingin berhenti."
"Tapi Anda tidak akan bisa terus berjalan kan? Anda pasti akan berhenti kan?" tanya Asada.
Sawamura menggeleng. "Entahlah Asada. Kalau bisa, aku ingin berjalan terus."
Asada memandangnya lagi, ekspresinya melembut. "Saya tidak mengerti," katanya, "kenapa Anda ingin berjalan terus?"
Kenapa?
Sawamura juga sudah bertanya-tanya. Mungkin salah satu alasannya karena dia tidak ingin merasa sepi dan sendiri. Sawamura selalu memikirkan hal itu, di tengah-tengah terik matahari, di gelapnya malam, di tengah hujan bom dan ladang ranjau, dia tidak pernah berhenti berpikir.
Aku tidak mau hidup sendirian.
Sawamura ingin hidup bersama dengan orang lain. Dia sudah mengalami kehidupan panjang. Dimulai dari tinggal bersama dengan kedua orangtuanya di Nagano, lalu tinggal sendiri untuk menuntut ilmu kedokteran, sampai akhirnya dia berakhir hidup bersama Chris. Sawamura sudah melewati banyak fase, makanya dia tahu bahwa hidup sendiri itu menyakitkan dan menakutkan.
Sawamura ingin ada seseorang yang berada di sisinya, memberinya dukungan ketika dia sedang berusaha. Lalu memberinya pujian ketika dia berhasil, bahkan memarahinya ketika dia salah. Dia juga ingin bertengkar dengan seseorang untuk menguatkan argumennya. Sawamura ingin seseorang ada di sampingnya, berbagi di ranjang yang sama dan saling menghangatkan satu sama lain ketika angin malam menusuk kulit hingga tulang.
"Aku juga masih bertanya-tanya mengenai hal itu."
Asada semakin tidak mengerti jawaban Sawamura. Dia bersiap untuk membuka mulutnya lagi, tetapi Sawamura memotong kalimat yang belum keluar itu. "Berusahalah Asada. Lampuilah para seniormu dan jadilah dokter andalan di RS ini."
.
"Sawamura Eijun."
Untuk kesekian kalinya, Sawamura berhenti berjalan. Kali ini Miyuki Kazuya yang menahan kepergiannya. Dia berjalan ke arah Sawamura yang sudah berada di lapangan parkir, siap keluar dari RS dan menuju halte bus.
"Rapat dengan tim akreditasi sudah selesai?" tanyanya.
Miyuki mengangguk. Dia memakai kemeja formal dan jas dokter yang putih seperti susu. Cahaya matahari mengiringi langkah Miyuki. "Sudah selesai berpamitan dengan yang lain?" tanya Miyuki.
"Iya. Setidaknya mereka menasihatiku agar tidak mati karena bom."
Miyuki mendengus geli.
"Terima kasih Sawamura," kata Miyuki. Miyuki mengulurkan tangannya.
Sawamura tersenyum mendengarnya. Sekali lagi, hatinya terasa hangat dan hampir meleleh karena Miyuki. Kedua tangan mereka berjabat. Sawamura bisa merasakan kehangatan telapak tangan Miyuki dan dia sadar bahwa ini adalah kontak fisik mereka yang pertama. Rasanya aneh sekaligus menyenangkan. Namun, ini juga menjadi kontak fisik mereka yang terakhir.
"Sama-sama Professor Miyuki," kata Sawamura.
Miyuki belum ingin mengakhiri jabat tangan mereka, tetapi dia juga tidak tahu bagaimana caranya untuk terus bisa menyentuh Sawamura. Lalu, entah mengapa sebuah ide gila terlintas di benaknya. Mungkin jika dia melakukannya, Sawamura akan menghajarnya tanpa ampun. Namun, jika dia tidak melakukannya, dia tidak akan bisa melakukannya selamanya.
Jabat tangan yang belum berakhir itu, membuat Miyuki sedikit menarik tangan Sawamura, sehingga dokter bedah itu maju beberapa langkah. Lalu, dengan memberanikan diri, dia melingkarkan kedua tangannya di sekitar tubuh Sawamura. Dipeluk erat tubuh yang lebih kurus dan lebih pendek darinya.
Sawamura terlalu kaget untuk bereaksi. Otaknya mendadak melupakan semuanya seperti penderita Alzheimer. Dia diam kaku seperti patung yang terbuat dari batu. Begitu Sawamura sadar, dia sudah sepenuhnya berada di pelukan Miyuki. Dia bersandar sepenuhnya pada professor muda itu.
"Sampai bertemu lagi Sawamura Eijun," kata Miyuki, tepat di sebelah telinga kirinya. Suara Miyuki tidak keras, bahkan nyaris berbisik dan Sawamura merasa seluruh tubuhnya merinding ketika mendengar Miyuki dalam nada suara yang rendah.
Sebuah sensasi menyenangkan menggelitik perutnya dan naik menembus diafragma-nya. Lalu, berkumpul di paru-paru. Sawamura bisa merasa ventrikel kirinya memompa darah dengan lebih cepat dan akses menuju wajahnya diperbanyak. Semua pembuluh darah di wajahnya dilatasi maksimal, sehingga tampak merah dan hangat. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Sensasi yang sudah lama tidak dirasakan lagi oleh Sawamura.
"Jangan mencari aku lagi," bisik Sawamura. Dia menahan kesadaran dan akal sehatnya agar tidak melayang meninggalkan dirinya sendirian.
Miyuki tertawa dan dia bisa merasakan helaan napas Miyuki di telinganya. Perutnya semakin tergelitik. Sawamura sadar bahwa dia harus melepaskan kontak fisik ini sebelum jadi gila. Namun, tubuhnya malah menyamankan diri di dalam pelukan Miyuki.
"Kalau memang berjodoh, kita akan bertemu lagi."
.
Sawamura Eijun duduk di salah satu bangku di ruang tunggu bandara. Penerbangannya delay selama 40 menit, sehingga Sawamura memutuskan untuk mendengarkan musik dari ponselnya sambil membuka surat elektrolit yang masuk. Beberapa dari teman-temannya di Nagano yang masih protes karena Sawamura melewatkan waktunya di Jepang secara singkat, apalagi dia tidak menetap di Nagano, malah bekerja di Tokyo.
Lalu, ada pula beberapa e-mail dari teman-teman dari RS Swasta. Kawakami bertanya kapan tiba di Afghanistan, Seto bilang untuk membawanya 'oleh-oleh' khas Afghanistan berupa selongsong peluru bekas dan kepingan-kepingan bom. Bahkan, Furuya ikut menulis e-mail agar dia tidak mati lebih dulu sebelum kembali bersaing dengannya.
Lalu, dia membuka e-mail dari Kominato Haruichi.
FROM: kominatoharu6
SUBJECT: APA KABAR?
Eijun-kun,
Pertama, aku minta maaf karena tidak bisa berpamitan langsung denganmu. Salah satu pasienku mengalami kondisi sepsis dan aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Sebagai sesama dokter, kau pasti tahu perasaan yang kurasakan, ketika disuruh memilih dua prioritas. Sebagai seorang dokter juga, aku tahu bahwa kau akan memilih pasienmu dari apapun. Aku sedikit menyesal tidak bisa berpamitan langsung denganmu dan aku juga tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi atau apakah kita bisa bertemu lagi.
Bertemu denganmu membuatku menjadi berpikir tentang kebetulan dan takdir. Apakah kita bertemu hanya karena kebetulan ataukah memang sudah digariskan untuk bertemu? Secara kebetulankah kau bergabung di RS ini ataukah secara takdir kau tersesat di koridor RS sehingga kita bisa bertemu dan kau bisa mengoperasi pasienku? Pertemuan manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain ini, mungkin sampai kapanpun tidak bisa aku pahami sendiri.
Eijun-kun, dimana pun kau berada sekarang, jagalah dirimu. Mungkin kita memang jarang bertemu di RS karena kesibukan yang berlainan, tetapi aku peduli padamu sebagai sesama rekan sejawat, terlebih lagi sebagai teman. Meskipun aku tidak paham tentang kebetulan dan takdir, tetapi aku yakin jika kita berdua memiliki tujuan yang sama, maka kita akan bertemu lagi di suatu hari nanti. Dan ketika kita bertemu lagi, kuharap kita bisa saling berbagi cerita selayaknya seorang teman dan sahabat.
Salam dari seorang sahabat,
Harucchi
Sawamura membacanya sampai dia merasa matanya menghangat. Dia bahkan bisa membayangkan Kominato yang mengatakannya secara langsung di depannya saat ini. E-mail yang tidak begitu panjang itu menghangatkan setiap relung hati Sawamura. Perasaan ini berbeda dengan apa yang dirasakannya pada Miyuki. Ini perasaan untuk seorang teman dan sahabat.
Sawamura memang memiliki sahabat-sahabat dekat di Nagano, tetapi persahabatan yang dirasakannya dengan Kominato berbeda. Kominato menempuh jalan yang sama dengan Sawamura, disumpah oleh Sumpah Hipokrates yang sama, dan memakai jas putih yang sama. Mereka berdua bisa saling mengerti satu sama lain karena paham tentang satu sama lain. Kominato Haruichi adalah sahabat seprofesinya. Dan rasanya menyenangkan mempunyai seorang teman dan sahabat.
Ketika kode penerbangannya diumumkan, Sawamura kembali memasukkan ponselnya ke dalam ransel besarnya dan berjalan menuju pesawatnya. Setiap langkahnya mantap dan tidak ragu lagi. Dia akan kembali melakukan perjalanan. Bedanya, kini hatinya tidak lagi kosong. Kini hatinya sudah penuh dan dia tidak akan menyesalinya.
Jika memang tujuan kita sama, maka kita pasti bertemu lagi.
.
SELESAI
The younger generation forms a country of its own.
It has no geographical boundaries.
These young people are going to do things.
They are going to change things.
[Edna St. Vincent Millay]
A/N: Pertama-tama, saya mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang sudah setia mengikuti cerita ini hingga akhirnya tamat. Semua komentar, favorite dan follow yang kalian lakukan adalah penyemangat saya untuk terus mengetik cerita ini hingga selesai. Saya tidak menyangka bahwa akhirnya cerita ini selesai setelah 20 chapter, padahal rencananya hanya 2 chapter saja.
Lalu, saya mencantumkan credit lirik lagu yang saya masukkan ke dalam cerita ini:
Only The Young: Taylor Swift
New Romantic: Taylor Swift
Miss Americana and The Heartbreak Prince: Taylor Swift
Unstoppable: Sia
The Greatest: Sia ft. Kendrick Lamar
Iya, saya tahu. Genre cerita ini adalah romance dan drama, tapi kenyataannya sama sekali gak ada unsur romance dan drama nya T.T malah cuma nyeritain kehidupan rumah sakit doang. Huhuhu… maafkan saya…
Untuk ending MiyuxSawa, maaf ya kalau kalian kecewa karena mereka tidak bersama /janganbunuhsaya/ menurut saya, ending seperti itu sudah paling realistis, karena mereka berdua, meskipun akhirnya mengakui perasaan masing-masing, tapi belum siap untuk berkomitmen. Sawamura masih belum bisa meninggalkan kebebasannya untuk hidup bersama Miyuki, dan Miyuki juga belum bisa meninggalkan semua pencapaiannya untuk bersama dengan Sawamura. Singkat kata, mereka berdua pada akhirnya terlalu ambisius untuk mengalah dan berkomitmen. Job above all!
Sampai bertemu di karya selanjutnya!
EPILOG
Narumiya Mei duduk dengan nyaman di kursinya. Akhirnya, setelah satu bulan dia uring-uringan dan sibuk mengurus akreditasi RS, dia bisa menarik napas lega. Proses akreditasi memang hanya satu minggu, tetapi persiapannya itu memakan waktu bulanan. Departemen Gerontologi kini sedang mulai melakukan perubahan secara bertahap. Miyuki Kazuya sibuk dengan para dokter-dokter dan penelitiannya, sementara Narumiya juga sibuk mengurusi pasien-pasien di RS bersama dengan dokter-dokter muda.
Pintunya diketuk dan ketika dia memperbolehkan, Akamatsu masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa?" tanya Narumiya.
"Saya ingin menyerahkan dokumen yang dikirimkan oleh NGO lewat fax beberapa hari yang lalu," katanya.
Narumiya mengambilnya. "Zaman seperti ini masih ada yang pakai fax ya," gumamnya tidak percaya. Dia membuka amplop coklat itu dan membaca isinya. Setelah beberapa saat dia selesai membaca, dia menatap Akamatsu.
"Tolong panggilkan Professor Miyuki ke ruanganku."
.
"Kenapa?" tanya Miyuki. Miyuki dan Narumiya duduk berhadapan di sofa tamu yang ada di ruangan tersebut.
Tanpa basa-basi Narumiya langsung menyerahkan amplop yang diterimanya oleh NGO. Miyuki mengambilnya dan membacanya. Selesai membaca, dia menatap Narumiya. "Apa yang kau ingin aku lakukan dengan surat ini?" tanyanya.
"Miyuki, aku ingin kau menjadi perwakilan RS," katanya. Miyuki menatapnya sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa aku?" tanya Miyuki. "Lagipula, ini sebenarnya untuk apa?" tanyanya lagi sambil melambaikan kertas-kertas itu.
"Duh!" kata Narumiya, "tentu saja karena RS kita ini adalah RS Internasional. Palang Merah Internasional juga pasti mempertimbangkan hal itu. Apalagi akreditasi sudah berlalu dan Departemen Gerontologi punya seorang professor! Jelas RS kita akan mendapatkan undangan."
"Aku paham," kata Miyuki, "tapi biaya perjalanan ini ditanggung RS, Departemen, NGO, atau pribadi?" tanya Miyuki.
"Serius? Kau memusingkan masalah uang?" tanya Narumiya tidak percaya. Dari sekian banyak hal yang bisa dikritisi, Miyuki Kazuya malah bertanya soal uang?
Miyuki melambai. "Bercanda. Bercanda," katanya santai, "tapi kenapa harus Departemen Gerontologi? Kalau memang ini RS Disabilitas, harusnya yang dikirim itu fisioterapi atau ortopedi kan?"
"Aku paham maksudmu," kata Narumiya. "Mereka ingin melakukan penyuluhan juga, dan ternyata para pasien yang menempati RS itu lebih dari 50% adalah manula. Yah, setidaknya sebagai konsultan geriatri, ada baiknya juga membantu di sana. Memang kesannya agak aneh, tapi NGO yang meminta. Mereka merekomendasikan Departemen Gerontologi dari RS ini juga karena posisimu."
Miyuki mendengarkan dengan saksama.
"Kau tidak harus menjawab hari ini, tapi yang pasti NGO minta kepastian akhir minggu ini. Selain itu, kau juga masih harus mengurus visa dan tetek bengeknya. Semakin cepat kau jawab, semakin bagus sebenarnya," jelas Narumiya.
"Wah, kau jadi semakin jago menyuruhku ya," kata Miyuki.
Narumiya mengangkat bahunya santai. "Aku hanya menikmati posisiku sekarang. Setidaknya aku harus bisa mengendalikan professor departemen sesuai keinginanku kan?" tanyanya sarkas.
Miyuki hanya tertawa hambar. Selera humor Narumiya payah. Sangat payah.
"Tapi jawaban darimu memang tidak boleh mendadak atau mepet," kata Narumiya. Dia kembali ke mode serius. "Nanti mengurusnya jadi repot."
"Aku paham," kata Miyuki.
Dia menatap lagi dokumen yang diberikan oleh Narumiya.
Afghanistan ya?
.
Rumah Sakit yang didatangi Miyuki Kazuya adalah Rumah Sakit milik Palang Merah Internasional yang berada di kota Kabul, Afghanistan. Di Afghanistan memang menyediakan rumah sakit khusus untuk para disabilitas. Hal ini dikarenakan tingginya angka kecacatan akibat perang di Afghanistan. Bahkan, negara itu pun memiliki kementrian khusus yang mengurusi para disabilitas akibat perang.
"Welcome! Welcome!" salah seorang dokter senior berjalan terpincang-pincang menyambut para dokter luar negeri yang baru sampai.
Perjalanan ke Kota Kabul yang sangat tidak nyaman. Meskipun mobil yang mereka tumpangi adalah mobil dengan teknologi tinggi dan dilengkapi dengan kaca anti peluru, tetap saja semuanya berjalan lambat di jalanan yang rusak.
Salah seorang petinggi PBB dan Palang Merah Internasional menyambut mereka. Di rumah sakit itu ada ribuan orang disabilitas dan menggunakan tungkai pengganti yang prostetik. Dari muda sampai tua, semuanya ada di rumah sakit ini. Para dokter itu dibimbing ke sebuah ruang presentasi di RS tersebut.
"Ada beberapa dokter yang bisa berbahasa inggris," kata petinggi PBB itu, "tapi kalau masih butuh penerjemah, aku bisa menyediakan untuk kalian."
"Daripada itu, apa tepatnya peran kami?" tanya Miyuki. "Apa kami ikut membantu sebagai dokter atau hanya sebagai konsultan ketika diminta pendapat?"
Petinggi itu tertawa. "Anda sepertinya sudah tidak sabar ya," katanya, "nanti teknisnya dibahas di ruang presentasi. Tapi yang ingin aku tekankan adalah, jangan keluar sendirian."
Afghanistan bukanlah wilayah yang ramah terhadap orang asing. Pelaku bom bunuh diri biasanya mengincar para orang asing yang dianggap kafir atau para petinggi PBB.
Di ruang rapat, petinggi PBB tersebut menjelaskan tugas mereka selama tiga minggu di Afghanistan. Tentu saja, mereka tidak hanya berdiam diri di rumah sakit di Kabul, mereka juga akan ikut ke RS-RS yang lain. Inti tugas yang ditangkap oleh Miyuki adalah dia ikut membantu merawat pasien, tetapi akan lebih banyak memberikan kuliah singkat kepada tim medis tentang fisiologi para orang tua dan cara memperlakukannya.
Untuk pertama kalinya, Miyuki Kazuya menginjak tanah debu milik Afghanistan. Satu-satunya yang terpikir di benak Miyuki ketika mendarat adalah Sawamura Eijun. Pada akhirnya, Miyuki akan melihat dunia milik Sawamura. Bukan hanya dari cerita Sawamura, tetapi dengan mata kepala Miyuki sendiri.
Miyuki sendiri tidak yakin apakah dia bisa bertemu dengan Sawamura. Afghanistan adalah wilayah yang luas dan Sawamura bisa berada di mana saja. Dia tidak seperti Miyuki yang dijaga super ketat hanya untuk pergi ke supermarket. Sawamura adalah burung elang yang terbang dengan kedua sayap kokoh dan tidak pernah patah. Jadi, kemungkinan mereka bertemu juga nyaris mustahil.
"Oh ya," kata petinggi PBB itu, "nanti akan ada seorang dokter yang akan menemani kalian. Sekarang dia sedang ada operasi, tapi aku sudah memberitahunya bahwa delegasi dokter jepang sudah datang."
"Apa dia orang Afghanistan?" tanya seorang dokter dari RS Universitas.
"Kalian beruntung. Dia berkebangsaan Jepang, sama seperti kalian. Tapi bahasa Pashtun-nya lancar sekali."
Jantung Miyuki berdegup sedikit kencang mendengar penjelasan dari petinggi PBB itu. Apakah dia boleh berharap? Berapa banyak dokter jepang yang berada di Afghanistan? Tapi dia tidak boleh terlalu berharap, karena dokter jepang itu ada ratusan ribu. Bisa saja orang lain. Miyuki seperti ini karena efek rindu saja.
Miyuki menempati sebuah ruang kosong untuk istirahat. Mereka belum benar-benar bekerja hari ini, karena perjalanan yang panjang. Miyuki duduk di salah satu kursi sambil membuka botol minuman yang diberikan oleh RS.
Afghanistan memang sangat panas. Padahal dia berada di ruang berAC, tetapi sengatan mataharinya seolah menembus dinding-dinding semen RS ini. Pantas saja kulit Sawamura terlihat seperti kue yang gosong di oven dan rambutnya sampai kemerahan. Matahari terasa sangat dekat di Afghanistan.
Pintu ruang istirahan terbuka, tetapi Miyuki terlalu malas untuk menoleh. Menoleh saja dia bisa mengeluarkan keringat satu liter. Bahkan ketika ada suara kaki mendekat pun, dia sama sekali tidak peduli. Suara kaki itu berhenti.
"Sudah menyerah dengan panasnya Kota Kabul?"
Pertanyaan itu diutarakan dengan bahasa jepang dan suara yang sangat Miyuki kenal dengan baik. Meskipun mereka sudah berpisah selama dua tahun, suara itu masih bisa diingat Miyuki dengan jelas. Miyuki mengira dia berhalusinasi, tetapi ketika dia menoleh, iris emas 24 karat itu masih seperti ketika dia melihat foto dokumen Sawamura Eijun di ruangan milik Kataoka.
"Sawamura," kata Miyuki tanpa sadar.
Dia bangkit sampai tatapan mereka berada dalam satu garis.
Sawamura Eijun tampak semakin dewasa di setiap kali mereka bertemu. Kulitnya kembali menjadi gosong, dan rambutnya jauh lebih merah dari dua tahun yang lalu. Dia tidak memakai baju seragam bedah yang berwarna hijau, tetapi kaos polo dan celana jeans. Jas putih dokter dipakainya, mungkin untuk menunjukkan identitas Sawamura sebagai dokter.
"Kau tampak semakin gosong," komentar Miyuki.
Sawamura tertawa. "Setelah dua tahun tidak bertemu, hanya itu yang ada di pikiranmu? Mengataiku gosong?" tanyanya tidak percaya. Miyuki baru sadar kalau dia sangat-sangat merindukan tawa milik Sawamura.
"Oke," kata Sawamura, "aku juga bisa." Dia menarik napas. "Kau terlihat semakin tua, Miyuki Kazuya."
Miyuki ikut tertawa. "Oke. Kita impas sekarang."
"Aku tidak menyangka kau akan datang," kata Sawamura. "Tapi aku senang kau datang."
Miyuki tersenyum. Dan Sawamura bersumpah bahwa senyuman di wajah Miyuki membuatnya berkali-kali lipat menjadi lebih tampan. Perasaan itu masih ada di dalam diri Sawamura. Sejak hari itu, tidak ada yang berubah tentang perasaannya.
"Kalau memang berjodoh, kita akan bertemu."
