Cbuniverse Present.

A Chanbaek Shortfic

.

.

Cubicle Love Story

Park Chanyeol and Byun Baekhyun

.

.

Kyungsoo mengernyitkan kening begitu mendengar suara gesekan kertas yang cukup nyaring dari kubikel Baekhyun yang berbatasan dengan kubikel miliknya."Baek?" panggilnya.

Alih-alih mendapatkan sahutan, pertanyaannya malah sepertinya tidak terdengar karena tujuan gelombang suara sudah lebih dulu membuat suaranya sendiri yang lebih bising.

Kyungsoo memutuskan untuk melongokkan kepala, hanya untuk mendapati Baekhyun yang terlihat sibuk memasukkan beberapa barang pribadi ke dalam tas kerja hitam miliknya.

"Buru-buru sekali? Jam pulang kantor bahkan baru lewat lima menit," komentarnya.

Baekhyun yang sebelumnya sibuk dengan barang-barangnya, mendongakkan kepala untuk menatap sang sahabat dari posisinya yang masih duduk di balik meja kerja yang sudah hampir bersih.

"Yah, aku ada janji setelah ini," sahutnya singkat.

"Dengan Chanyeol?"

Baekhyun bergumam seraya memasukkan beberapa barang terakhir ke dalam tasnya.

"Bye the way, besok weekend."

"And then?"

Kyungsoo memutar bola mata malas. "Kau bisa menghabiskan waktu sepuasnya saat weekend. Untuk apa buru-buru?"

Baekhyun bangkit dari duduknya dengan bahu terangkat tak acuh. "Kami akan ke Bucheon hari ini."

"Rumah orang tuamu?"

"He'em." Baekhyun mengangguk kecil. "Aku duluan ya, Kyung!"

Kyungsoo sebenarnya masih penasaran ingin melontarkan beberapa pertanyaan, namun sayang ia tidak sempat menghentikan langkah kecil Baekhyun yang dengan cepat membawa tubuh mungil itu menghilang di balik pintu ruangan Chanyeol.

"Semua keperluan sudah lengkap, kan? Ada yang perlu dibeli sebelum sampai ke rumahmu?" Chanyeol menurunkan laju begitu mobilnya mulai keluar dari kawasan bebas hambatan.

"Ya, aku sudah mengecek dua kali. Termasuk keperluan milikmu dan buah tangan untuk orang rumah," sahut Baekhyun setelah meletakkan sebuah paperbag ke kursi belakang.

Alunan musik mulai terdengar mengisi keheningan setelah Baekhyun menyalakan radio mobil yang memang dirawat dengan baik oleh sang pemilik. Chanyeol masih bertahan dengan perangkat audio ini di saat orang-orang mulai beralih ke perangkat yang lebih canggih. Radio memberikan banyak kenangan untukku, ujarnya dulu.

"Bukankah kita sudah lama tidak berpergian jauh sejak liburan yang terakhir kali?"

Baekhyun menggumamkan 'ya' di tengah lantunannya mengikuti lirik lagu stuck with you milik Ariana Grande Justin Bieber.

"Kau terlihat sangat bersemangat." Chanyeol berkomentar dengan kekehan kecil yang berat di akhir kalimat.

"Tentu, aku rindu papa dan mama."

"Sangat rindu?"

Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol dengan kening berkerut dan bibir sedikit mengerucut. "Sangat sangat rindu! Sangat besar, lebih besar dari mobilmu!"

Chanyeol tertawa kecil, terkadang Baekhyun akan bertingkah manja dan sangat menggemaskan. Berbeda dengan Chanyeol yang walapun juga merupakan anak bungsu, usia Baekhyun terpaut cukup jauh dengan sang kakak laki-laki sehingga ia yakin bahwa Baekhyun diperlakukan sedemikian baik dan sangat dimanja oleh keluarganya layaknya seorang pangeran kecil.

"Kau rindu bermanja-manja dengan papa dan mama, bukan?"

Baekhyun memukul pundak Chanyeol main-main saat mendengar sang kekasih yang terang-terangan menggodanya. "Aku tidak manja tahu!"

"Ya, ya, Baekhyunie tidak manja."

Chanyeol sebenarnya cukup kagum dengan kekasih mungilnya ini. Hingga kini ia masih saja takjub saat mendengar cerita mengenai awal bagaimana Baekhyun bisa hidup sendirian di sebuah kota besar.

"Bagaimana ya kalau seandainya aku tidak dibolehkan keluar dari rumah dulu?" Kedua mata Baekhyun menerawang jauh walau terlihat tengah menatap lurus kearah jalanan yang cukup ramai. "Mungkin kita tidak akan bertemu."

Chanyeol menggeleng kecil. "Kalau jodoh pasti akan bertemu," sahutnya.

Kepala Baekhyun mengangguk kecil, sedikit menyetujui ucapan sang kekasih. "Tapi mungkin akan sulit, kan?"

"Yah, memang tapi jika kita melihat kembali ke masa lalu. Aku kira kau tidak akan mendapatkan izin untuk pergi merantau, putra kecil yang paling disayang keluarga. Bukankah mendapatkan izin kedua orang tuamu juga sulit?"

Baekhyun tertawa kecil. "Benar juga, sangat sulit. Aku sampai menangis dan merajuk tidak mau makan untuk dapat izin kuliah di Seoul. Memang tidak ada yang tidak mungkin ya di dunia ini?"

"Kalau diusahakan dengan maksimal, aku yakin akan berhasil. Walaupun tidak berhasil, setidaknya kita tidak akan menyesal, kan? Sebenarnya tidak ada usaha yang sia-sia."

Senyum Baekhyun tertarik kecil, ia tidak tahu jika Chanyeol sangat pintar berbicara. "Benar, terlebih jika kita berhasil. Lelah dan sulitnya usaha jadi tidak terasa lagi."

"Lalu ... " Chanyeol menoleh sedikit ke arah sang kekasih saat mobil yang ia kendarai mulai memasuki kawasan yang cukup ia kenali. Artinya mereka sudah hampir sampai di tempat tujuan.

Baekhyun mengernyitkan kening, bingung karena Chanyeol tidak juga melanjutkan ucapannya hingga mobil yang ditumpangi keduanya berhenti di depan gerbang cukup besar dengan plakat nama 'Byun' yang tidak terlalu besar.

"Lalu apa?"

Chanyeol melepas sabuk pengaman miliknya dan mengubah posisi duduknya untuk menatap lurus ke arah sang kekasih yang terlihat menggemaskan dengan raut bingung bercampur kesal. "Apakah akan sulit untuk mendapatkan restu dari keluarga Byun?"

—End of Chap.