disclaimer © Kanata Konami
warning Chi-centric, mungkin OOC, PWP (plot? what plot?), confused plot, typo(s), kebutaan EBI, ide klise, diksi ambyar, totally random.
"Otou-san, keluarkan Chi dari sini!" Chi menggaruk-garuk tutup keranjang dari dalam. "Chi tidak suka di sini! Di sini gelap! Otou-san mau membawa Chi ke tempat itu, 'kan? Chi tidak mau! Tidak mauuuuu ...!"
Seolah memahami isi hati Chi, Kento membuka tutup keranjang dan mengintip ke dalam. Suaranya tidak terlalu begitu jelas karena terhalang masker kain. "Maaf, Chi. Ini semua demi kesehatanmu. Jangan berisik lagi, ya?"
Chi menyembulkan kepalanya dengan kedua kaki menumpu pada tepi keranjang. Pemandangan putih yang tidak asing menyambutnya. Di sisi kanan, ada bunglon dalam kotak kaca dan anjing cokelat bertubuh jangkung. Chi menoleh ke kiri, kondisi tak jauh berbeda. Ada beberapa jenis hewan yang tak pernah Chi lihat sebelumnya.
"Itu Chi!" seru Telly.
"Halo, Chi!" sapa Ann.
"Telly, Ann!" Chi memekik bahagia. "Syukurlah! Apa Ann dan Telly tahu jalan untuk pulang?"
Kedua anak kucing bersaudara itu saling melempar pandang. Situasi mereka tak jauh berbeda dengan Chi—tubuh di dalam keranjang dengan kepala menongol keluar. Akan tetapi, baik Ann maupun Telly sama sekali tidak takut ataupun panik. Malahan, mereka berdua merasa senang dan baik-baik saja.
"Pulang? Ke mana?" tanya Ann. "Aku dan Telly hari ini akan bertemu dokter dulu."
"Dokternya sangat baik, Chi! Dia memberi kami mainan setelah memeriksa kami!" timpal Telly.
"Jadi itu namanya dokter?" Chi mengeratkan pegangannya pada pinggiran keranjang. "Chi tidak suka! Sakit! Tidak ada mainan di sana! Chi bosan!"
Bukannya tidak pernah, namun ingatan jangka pendek Chi yang membuatnya tidak ingat dengan mainan-mainannya. Meskipun Chi sering memainkannya di rumah, sendirian ataupun bersama Youhei, Chi tidak akan mengingat asal-muasal munculnya mainan itu dalam hidupnya.
Ann mengangguk sebagai balasan, setuju dengan curahan hati Chi. "Memang sakit, tapi hanya sebentar! Aku tidak begitu merasakannya karena aku dan Telly selalu bersama!"
"Bersama?" Chi mengulang kata terakhir yang disebutkan Ann. "Jadinya tidak sakit?"
"Tentu, tentu! Aku sungguh-sungguh!" seru Ann dengan nada meyakinkan.
Binar wajah Chi dilingkupi harapan. "Bisakah Chi bersama Ann dan Telly? Chi tidak mau sendirian. Chi tidak mau sakit. Chi takut …."
Telly melempar senyum. Ann di sebelahnya sibuk menjilati pipi Telly penuh sayang. "Tentu! Ayo kita bertemu dokter dan main bersama!"
Percakapan anak-anak kucing itu tentu menarik perhatian Kento, meski yang bisa didengarnya hanya sebatas ngeongan kucing biasa. Kento terlalu asyik memperhatikan Chi yang tampak sedang berkomunikasi dengan Ann dan Telly, hingga pada saat Kento menengadah, Kento baru menyadari bahwa pemilik dari dua ekor anak kucing di sebelahnya sedang memperhatikannya.
"Oh, saya benar-benar minta maaf." Kento spontan menundukkan wajahnya.
"Ah, tidak apa-apa." Perempuan paruh baya itu mengulas senyum. "Sepertinya anak-anak kucing peliharaan kita sedang bermain bersama."
"Kucing saya sebelumnya takut bahkan terus memberontak di dalam keranjangnya, ahahahaa." Tawa canggung lolos begitu saja dari Kento. "Melihatnya tidak lagi merengek membuat saya menjadi senang."
"Kalau begitu, kita bisa masuk serempak," saran wanita tersebut. "Kita bisa memeriksakan peliharaan kita bersama."
"Astaga, Anda benar-benar baik," tanggap Kento disertai anggukan. "Tentu saja, jika Anda tidak keberatan."
Sepulang dari rumah sakit hewan, Chi tampak bahagia untuk yang pertama kalinya.
tamat
~himmedelweiss 19/08/2020
