Disc. Tokoh beserta semua yang ada di dalam cerita ini adalah kepunyaan JK Rowling. Semua kecuali cerita ini, karena cerita ini murni kepunyaan saya. Sekian, terima cinta Regulus Black :)
.
.
Empty Space
KekepUC © present
.
.
Cast : all of main Harry Potter. If u guys found some characters that u don't know, it's out characters—singkatnya, buatan saya.
Genre : drama/family
Warning (s) : typo(s), FemHarry! MaleGinny! for gender-switch, alur sesat, OOC, AU, drama-sinetron, humor-garing, modified-canon (entahlah, aku asal modif aja hehe), and if u don't like, just click the exit button and don't read anything—ofc, setelah kalian membaca peringatan ini, hwhw.
.
.
"Cerita ini terinspirasi dari lagu Empty Space-nya James Arthur, dan beberapa fanfiksi Harry Potter yang lainnya. Ia juga merupakan salah satu sequel dari karya saya yang sebelumnya, Rewrite the Stars.
Sangat dianjurkan bagi para pembaca untuk membacanya terlebih dahulu."
.
.
Chapter 18 — EPIILOG
Enjoy!
…Dan begitulah semua itu terjadi.
Hidupnya semakin hari semakin membaik setelah saat itu. Hubungannya dengan putranya, keluarganya, sahabat-sahabatnya, bahkan musuh lamanya pun kini berangsur membaik dan makin membaik setelah semua yang telah terjadi.
Tidak ada lagi Draco yang selalu tampak seperti mayat hidup yang menutup dirinya, yang workaholic untuk menyembunyikan sakitnya dan rasa sepinya.
Draco Malfoy akhirnya menemukan jati dirinya lagi. Dan ia bisa kembali melanjutkan hidupnya tanpa rasa-rasa kekosongan dalam dirinya.
Bohong sih.
Karena buktinya setelah semua kejadian yang menimpanya, sampai detik ini pun ia masih merasakan yang namanya kekosongan di dalam dirinya.
Bukan karena anaknya, keluarganya, ataupun sahabatnya.
Melainkan karena seorang wanita yang berasal dari kehidupan lamanya, yang mana hampir membawa seluruh hidupnya. Semangat raganya dan seisi jiwanya. She brings out the worst from him.
Draco menggelengkan kepalanya, mengembalikan fokusnya pada langit biru dan hijaunya pepohonan. Namun fokusnya hanya sementara karena selanjutnya pandangannya pun kembali menerawang. Menyusun berbagai kalimat penyesalan dengan 'andai' sebagai kata awalnya.
Andai saat itu aku bisa pulih lebih cepat…
Andai saat itu aku tahu apa yang Mother katakana padanya…
Andai saat itu aku tidak terpana pada tatapannya…
Andai saat itu kau tidak melafalkan mantra itu…
Andai saat ini kau tidak bersuami…
Draco mengerjap. "What the hell was I thinking about," rutuknya segera memukuli kepalanya sendiri. Dia 'kan sedang menyusun kalimat penyesalannya, kenapa sekarang malah berandai seandainya Harry Potter sedang tidak bersuami?!
"Fuck fuck fuck fuck fuck―"
"Tumben sekali kau mengumpat seperti itu."
Draco segera berhenti merutuk dan memukuli dirinya sendiri saat mendengar sebuah suara berat. Ia langsung berbalik, celingukan mencari sumber suara. Kali ini dengusan samar yang bersuara.
Hei, Draco sangat kenal dengusan ini. Kepala pirangnya segera ia tolehkan pada lukisan guru ramuan favoritnya―Severus Snape yang masih menatapnya tajam dengan onyx-nya.
"Ya, ini aku," kata Professor Snape dengan suara rendahnya. "Aku tahu sebagiannya kau lupa kalau kau memiliki lukisanku disini."
Draco meringis menggaruki tengkuknya. "Kau sendiri 'kan jarang muncul, Professor…" belanya masih berusaha sopan dengan guru yang sudah ia anggap sebagai ayah keduanya itu.
Professor Snape memutari bola matanya. "Aku sudah mati dan aku bukan gurumu lagi, Mr Malfoy," dengusnya pelan.
Draco terkekeh. "Jadi aku harus memanggilmu apa? Severus? Atau old man…?" tanyanya setengah menggodai guru―mantan gurunya―itu.
Professor Snape hanya mendelik.
Draco terbahak. "Aku hanya bercanda Severus…" katanya segera menyudahi gelak tawanya saat melihat tatapan tak terkesan dari guru ramuan lamanya itu. "Jadi, ada apa?" tanya Draco segera berjalan menghampiri lukisan Severus yang berada di dekat rak bukunya.
Severus menaikkan sebelah alisnya. "Bukankah itu seharusnya menjadi pertanyaanku?"
"Hah?" Draco mengernyit tidak mengerti.
Severus menghela nafas. "Kau tahu, kau bertingkah tidak seperti biasanya hari ini…"
"Memangnya selama ini aku bertingkah seperti apa?" tanya Draco heran.
"Well, actually, selama beberapa bulan ini kuperhatikan kau…"
"Aww aku memperhatikanku, Severus? How sweet…" potong Draco terkikik dengan out-of-character nya.
Severus mendengus pelan. "Aku memang bukan gurumu lagi, Draco, but youknow that you better watch your mouth ketika berbicara pada yang lebih tua."
Draco meringis, meminta maaf. Severus sendiri hanya membalas permintaan maaf mantan muridnya itu dengan dengusan jengah. Dan setelah itu, tidak ada lagi yang berbicara. Hening perlahan menguasai atmosfer diantara mereka.
"Aku sempat hilang ingatan beberapa tahun yang lalu…"
Severus memandangi mantan muridnya dengan tatapan yang sulit diartikan dari lukisannya.
"…Dan baru-baru ini―well honestly, sudah lewat beberapa bulan sih―ingatanku kembali. Seutuhnya." lanjut Draco tanpa mengalihkan pandangannya dari manik jelaga-nya Severus.
"Dan apa itu yang membuatmu tampak berbeda dari dirimu yang biasanya belakangan ini?" tanya Severus.
Draco terkekeh pelan. "Iya. Dan tidak." jawab Draco dengan nada menggantung yang membuat Severus mengerutkan dahinya tipis. Pria yang nyaris memasuki kepala empat itu perlahan menunduk.
Dan Severus sepertinya bisa menebak apa maksudnya. "Perasaan lamamu juga kembali." Ucapnya, yang lebih mengarah pada pernyataan dibanding pertanyaan.
Draco meringis samar. "Yeah, kau benar. Dan ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan melihatnya menangis kesakitan dan nyaris mati… ini benar-benar menyiksaku Severus…" kata Draco mengernyit dalam. "Aku bahkan sudah menyakiti mendiang istriku karena perasaan ini. Dan aku hampir dibuat gila saat ingatanku benar-benar kembali seutuhnya."
"Siapa saja yang sudah tahu ingatanmu telah kembali?" tanya Severus.
"I don't know… Semua sahabatku mungkin? Dan Hermione Granger dan―"
"―Ron Weasley?"
Draco menggeleng. "Aku meminta Pansy dan Daphne untuk mengancam Hermione karena aku takut kalau Ron tahu, dia akan berbicara pada adiknya, Gin Weasley―dan tentunya, Ginny akan membawa Harry jauh dari jangkauanku. Dan itu jelas akan semakin menyakitkan untukku…" cerita Draco menghela nafas tidak semangat.
"Jadi, alasan dari kenapa kau bertingkah seperti James Potter yang kehilangan sahabat anjingnya selama beberapa menit seperti itu, adalah karena perasaanmu?" tanya Severus mencoba memastikan.
Draco mengangguk keras. "Apalagi 'kan? Aku setengahnya bersyukur Astoria sudah tak ada―maksudku, bukan berarti aku menyukuri kematian istriku tentu saja tidak! Begini-begini juga dia juga bagian yang sangat penting di hidupku! Yang kumaksudkan adalah―"
"Don't, Draco."
Draco menghentikan kalimatnya saat mendengar ucapan tiba-tibanya Severus padanya. Ia mendongak dan kembali mendapati Severus tengah menatapnya serius.
"Don't give up," ucap Severus menyambungi kalimatnya. "Jangan pernah menyerah untuk meraihnya. Mungkin sekarang kau memang tidak bisa bersamanya. Tapi, aku yakin suatu saat kalian akan bersama pada waktunya." Untuk pertama kalinya Draco melihat Severus menampakkan senyum sedih walaupun tipis.
"Don't lose your Lily too."
Draco yang semulanya mengernyit bingung, kini mendengus tersenyum. Ia mengulas senyum tulus pada mantan gurunya itu. "Of course I won't, Professor," katanya mengibaskan rambut panjangnya. "Aku bukan Gryffindor, tapi aku jelas tidak akan menyerah untuk meraihnya."
"Good, kita harus jadi panutan yang baik untuk generasi penerus asrama Slytherin, kau mengerti maksudku 'kan?"
Draco terkekeh, mengangguk mengerti.
Severus mengangguk lagi dan berbalik, melambai singkat. Draco juga membalas lambaiannya dan saat hendak kembali pada meja kerjanya, ia mendapati pintu ruangannya diketuk.
Sebuah kepala bersurai hitam menyembul dari balik pintunya, membuat jantung Draco seolah berhenti berdetak untuk sesaat.
"Hei, boleh aku masuk?" tanya Harria Potter tersenyum kecil padanya.
Draco mengerjap lagi dan langsung berdehem, berusaha menetralkan detak jantungnya yang lagi-lagi berdegup gila-gilaan. "Sure, ada apa?" tanya Draco langsung to the point.
"Oooh, harus to the point langsung ya kalau berbicara dengan Mr Malfoy ini." Harry terkekeh geli. Draco membelalak hendak menggeleng dan mengoreksi maksudnya, namun Harry mengibaskan tangannya―gestur 'tidak apa-apa' khas nya.
"Tidak apa-apa, aku suka yang tidak suka berbasa-basi," kata Harry nyengir.
Duh, jangan memberiku harapan palsu begitu dong, Potty! Dengus Draco berusaha keras untuk tidak tersipu.
Harry berdehem, netra hijaunya memandang sekitar kantor Draco. "Jadi begini, em…" Harry terkekeh gugup. Maksudku, kenapa harus gugup?! "Kami―aku, Hemione, Ron, Ginny, dan anak-anak merencanakan untuk liburan musim panas di Grimmauld Place―kau tahu, rumah keluarga Sirius Black dulu―dan maksudku kesini adalah untuk mengundangmu dan Scopius karena tiba-tiba aku teringat, ibumu dulu berasal dari Black juga―yah, walaupun tidak satu keluarga inti dengan Sirius, tapi….."
Draco mengangguk, memotong penjelasan Harry dengan cepat.
Mata Harry membulat kaget. "Sungguh? Maksudku, kalau kau tidak mau―"
Draco mengangguk cepat, kali ini terlihat lebih yakin dari yang sebelumnya. "Tentu saja, maksudku, aku dan Scorpius jelas bosan 'kan kalau hanya berlibur di Manor saja…" ujar Draco.
Harry mengernyit. "Kalian hanya berdiam di Manor? Kenapa tidak jalan-jalan?" Draco memberinya kernyitan aneh dan tatapan yang benar saja pada Harry―yang langsung mengangguk paham. "Oh yeah, right, Astoria." Dia meringis meminta maaf.
Draco menggeleng, lalu membawa iris kelabu kebiruannya menatap tepat ke dalam iris hijau berkilauannya Harry. "Jadi, kapan?" tanyanya mencoba untuk berkedip sejenak―namun tidak bisa!
"Harry?"
Harry mengerjapkan matanya, tersadar. "Oh, sori, em… rencananya sih, hari minggu pertama tepat saat liburan musim panas dimulai."
Draco mengangguk. "Baiklah, aku akan datang nanti."
"Okay,"
"Yeah,"
"Right,"
Dan setelah itu mereka kembali bertatapan dan saling bertukar senyum canggung dan malu-malu―khusus Draco― saat mereka tersadar.
"Okay, em… kurasa sebaiknya aku akan kembali ke kantorku." Kata Harry menunjuk pintu dengan jempolnya. "Kau tahu, kerjaanku masih banyak. Hehe."
Draco memasang wajah terkejut yang sangat dibuat-buatnya. "Oh, jadi kau meninggalkan pekerjaanmu hanya untuk mengundangku ke acara liburan musim panasmu? How sweet, Potter…" godanya tidak bisa menahan diri.
Harry hanya mendelik dan berbalik, melambai singkat.
"Hati-hati dan terimakasih lho yaaa!" seru Draco terkekeh singkat.
Harry hanya mengancungkan jari tengahnya yang membuat Draco terbahak keras. Saat tangan Harry sudah menyentuh kenop pintu, wanita berkacamata itu berbalik lagi, kembali menatap Draco tepat di matanya.
"Em, Draco…"
"Ya?"
Harry mengulas senyum kecil yang lagi-lagi membuat jantung Draco berdegup gila-gilaan. "Happy Birthday, anyway," katanya menjilati bibir bawahnya. "Maaf telat."
Mereka bertatapan lagi, kali ini saling bertukar senyum seperti orang bodoh.
Draco sendiri tidak bisa menahan semburat merah yang menjalari pipinya. "Oh, em, thanks."
"Your welcome…"
Mereka diam lagi.
"Kurasa kali ini aku akan turun," kata Harry menggeliat tidak nyaman.
Draco sendiri menunduk, mengangguki ucapan Harry. Ia pun memasang gestur mempersilakan. Harry mengangguk lagi, melambai untuk yang terakhir kalinya, dan berbalik keluar dari ruangan Draco.
Meninggalkan Draco yang langsung melompat-lompat heboh bak orang gila saat merasa Harry sudah jauh dari ruangannya.
Draco masih memasang cengiran yang luar biasa lebar saat ia membawa dirinya kembali ke kursi kerjanya. Ia melirik pigura-pigura kecil yang berada di meja kantornya. Lagi-lagi pikirannya kembali ke konteks kebahagiaan versi pemikirannya.
Dari sepuluh. Tiga untuk putra tunggalnya, Scorpius. Dua untuk kedua orangtuanya, Lucius dan Narcissa. Satu untuk seluruh teman-temannya. Dan yang terakhir, empat untuk…
"I love you, Drake!"
Draco mengulas senyumnya saat mendengar suara gadis ceria itu dalam pikirannya.
"Harria Potter…"
'Cause only you could fill this empty space
.
.
.
definitely end
Yeay!
aaaaaaaaaaa makasih banget buat kalian yang udah baca, dukung, nge-fave, nge-follow, dan nge-review cerita ini.
maaf yaaaa, sekiranya cerita ini gabisa jadi penghibur kalian selama masa pandemi corona ini karena terlalu banyak kekurangannya, huhuhu. daan maaf juga kalau ekspetasi kalian ga sesuai :"D
intinya makasihhhh banget yang udah mau setia nungguin khe buat update.
stay safe terus ya! see you in another story! byebye lofyusomatchaaaa 💜💜💜
