I LOVE YOUR DAD
WU YIFAN X KIM JONGIN
.
.
Ini bukan tentang sugar daddy apalagi pedofil
.
.
CHAPTER 24: Pandora
Jongin menatap sebuket bunga lili putih beserta sebuah kunci. Seorang pria tampan baru saja memberikannya. Tepat saat ia keluar dari ruang sidang. Jongin mengerutkan dahinya saat melihat Sovi dan Yuan bercakak pinggang. Sedangkan Sehun dan Chen justru menatap Jongin dengan curiga.
Joy of youth
Secarik kertas itu membuat Jongin tersenyum.
"Seharusnya kau tahu ini dari siapa." Jongin menatap Sehun dengan kecewa.
"Siapa? Ayah?!" Sehun bertanya dengan terkejut. "Ayah kan masih di Singapura."
"Bukan." Keluh Jongin. Memang Sehun tidak bisa diharapkan.
"Ini kunci mobil nenekmu," Jongin meainkan kunci mobil yang tengah terparkir dibengkel Kyungsoo. "Ini bunga yang dirawat oleh nenekmu juga."
Jongin tersenyum puas saat semua temannya menatapnya dengan terkejut.
"Pria tadi siapa?" Chen yang bertanya.
"Asisten neneknya Sehun."
"Nenek membelikanmu mobil?" Sehun belum menangkap.
"Tidak, Nenekmu memintaku untuk datang ke rumahnya." Jongin menjawab dengan simpel. Terlalu malas menjelaskan kebiasaan unik dari nenek Sehun.
.ILYD.
"Makgeolli?"
Jongin mengangguk pelan. "Buatan kakekku," Jongin tersenyun saat mengingat kakeknya bertanya hadiah apa yang ingin ia terima. "Untuk hadiah kelulusanku."
"Kau tidak keberatan membaginya denganku?" Wanita paruh baya itu menatap Jongin dengan ragu.
Jongin menganggukkan kepalanya, bersemangat. "Rasanya akan jauh lebih enak kalau dinikmati bersama-sama."
Suara pintu terbuka membuat Jongin terperanjat. Ini yang Jongin takutkan. Bertemu dengan Tuan Wu yang sesungguhnya. Iya, ia akhirnya datang ke rumah orang tua Yifan untuk kedua kalinya. Ia biasanya bertemu dengan ibunya Yifan cafe atau restoran.
"Kau sudah pulang? Tumben." tanya Nyonya Wu yang dibalas dengan kecupan ringan di pucuk kepalanya. Oh, sepertinya Jongin tahu kebiasaan kecup mengecup ini datangnya dari mana.
"Apa ini Jongin?" suara tegas namun berkesan ramah itu membuat Jongin langsung memperkenalkan diri sendiri. "Aku mendapat laporan kalau istriku beberapa kali kepergok minum dengan lelaki muda, kau kan orangnya?"
Jongin melebarkan matanya meski pada akhirnya mengangguk, berbarengan dengan Nyonya Wu yang mencubit pinggang suaminya.
"Aku berubah pikiran untuk mengajakmu minum bersama Jongin," Nyonya Wu menatap suaminya dengan kesal yang justru membuat Jongin terperangah. "Padahal Jongin membawa makgeolli bikinan kakeknya."
Jongin kikuk sendiri, meski Tuan Wu terlihat begitu ramah. Tidak seperti foto dan video yang beredar di dunia maya. Mungkin karena ia tengah menghadapi istrinya yang cantik. Dibandingkan iri, Jongin malah terhibur dengan obrolan ringan keduanya. Hingga membuat Jongin seperti pajangan. Lebih baik menjadi pajangan, kaki gelas wine misalnya, dibanding ia diinterograsi.
"Aku dengar kau akan kuliah di Tokyo." Tuan Wu tiba-tiba membuka topik pembicaraan dan menatap mahasiswa yang baru beberapa hari menyelesaikan sidangnya. Jongin menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
"Aku sedang mempersiapkannya," Jongin mengerutkan dahinya saat kedua orang Yifan sepertinya belum puas dengan jawabannya. "Oh, aku sudah menemukan universitas yang memberikan beasiswa penuh, selain menyiapkan dokumen aku juga belajar untuk menghadapi tes."
"Aku yakin kau pasti lolos." Nyonya Wu langsung menanggapi perkataan Jongin.
"Pilihan yang bijak," ucap Tuan Wu yang menyesap minumannya hingga habis. Jongin dengan otomatis menuangkan cairan putih itu ke gelas bakal calon ayah mertuanya. "Kenapa Yifan?" tiba-tiba Tuan Wu bertanya. "Aku tahu, menikah dengan sesama jenis itu sudah lumrah, tapi kenapa Yifan?"
Jongin menggaruk ujung alisnya yang tiba-tiba terasa gatal. Jongin cukup terkejut mendengar kata lumrah dari Tuan Wu.
"Yifan itu egois loh!" peringatan itu hanya membuat Jongin mengangguk. "Maksudku begini, kita sudah tidak saling menghubungi selama beberapa tahun, kemudian dia datang meminta restu untuk menikah dengan seorang pria, tapi dia tidak memperkenalkan kami siapa pria yang akan ia nikahi," Sang Ayah lagi-lagi menegak minumannya dengan sekali teguk. Dan pria di hadapannya ini belum terlihat mabuk sama sekali. "Anak siapa sih itu?" keluh Tuan Wu secara retoris. "Dia harusnya menanyakan kabar orang tuanya terlebih dahulu, atau setidaknya meminta maaf karena sudah membuat Sehun di posisi serba salah, tapi dia malah tiba-tiba datang dan menuntut sebuah restu."
"Sabar." Nyonya Wu mengelus punggung suaminya dengan lembut.
"Lihat, Jongin itu seumuran dengan Sehun, tapi dia justru lebih tahu bagaimana caranya bersikap dengan orang yang lebih tua," Tuan Wu mengatakannya saat melihat Jongin menuangkan kembali minuman beralkohol itu pada gelasnya. "Kau itu terlalu muda dan terlalu baik untuk Yifan."
Jongin mengerjapkan matanya. Oh, ia tidak pernah mendengar pendapat macam ini. Kebanyakan orang menilai ia terlalu muda dan kurang berpengalaman untuk manusia sesempurna Yifan. Jongin tidak bisa untuk menahan diri untuk tidak tersenyum.
"Itu padahal hadiah dari kakekmu tapi kau malah minum paling sedikit." Nyonya Wu menatap botol ramping yang baru dibawa Jongin.
"Aku harus mengemudi." Jawab Jongin sambil tersenyum tipis. "Ah ya, aku lupa untuk berterimakasih," Jongin menatap bunga yang terpajang dengan sebuah vas bunga bening yang begitu cantik. Sama persis seperti bunga yang ia taruh di atas meja makan di rumah Yifan. "Baru pertamakali aku mendapatkan hadiah bunga langsung dari kebunnya."
"Kau pemerhati yang baik," Nyonya Wu tanpa sadar mengusap rambut Jongin. "Pantas Yifan tidak mau melepaskanmu."
Jongin menggelengkan kepalanya. "Yifan-Ge selalu bilang kalau aku memiliki mulut yang manis," Jongin kadang sedikit tersinggung mendengar julukan itu. "Perkataanku itu tulus."
"Aku tahu," Nyonya Wu entah kenapa malah gemas sendiri melihat sorot mata Jongin. "Karena itu aku menyukaimu."
..ILYD..
"CUT!" teriak Jongin berbarengan dengan Yifan yang mendorong tubuh Luis. "Utung saja aku sudah melewati sidang," gumam Jongin sambil mendatangi Yifan dan Luis. "Kalian berdua melakukan apa saja di Singapura sampai bisa seluar biasa ini?" sebenarnya Jongin tidak marah karena Yifan pergi bertepatan dengan tanggal sidangnya. "Selain berdansa bersama tentunya." Jongin kali ini dengan berani bercakak pinggang.
Memang mereka berdansa bersama untuk kesekian kalinya, ia melihat foto keduanya berdansa dari forum komunitas. Yang Jongin tahu Yifan datang untuk menemui rekan bisnisnya. Tapi ia malah menemukan foto Yifan berdansa dengan Luis di sebuah bar. Luar biasa kekasihnya ini.
"Jongin.." Yifan terkejut.
"Memang sejak awal seharusnya aku tidak memacari seorang CEO, apa lagi seorang duda beranak satu," keluh Jongin yang membuat Luis malah tampak menatap Yifan dengan berkaca-kaca. Lah, kenapa manusia ini malah bertingkah sebagai korban. "Padahal Gege hanya butuh lebih sedikit bersabar, setelah aku lulus aku akan pergi ke Tokyo, kau bebas memeluk Yifan dan menciumnya sampai puas," Jongin memang mengatakan hal ini untuk Luis. "Atau Gege sengaja melakukannya di sini, di hadapanku?"
"Jongin!" bentak Yifan.
"Apa?! Mau membela Luis-Ge lagi?!" jawab Jongin yang tidak kalah lantang. "Aku sudah cukup bersabar seperti orang tolol!" Jongin mengatakannya dengan nada meninggi. "Gege marah kalau ada yang mendekatiku tapi aku tidak boleh marah kalau Luis-Ge bersikap macam ini di depanku," Jongin akhirnya mengatakan hal ini. "Kemarin aku melihatmu diam saja digandeng olehnya, hari ini aku melihatnya menciummu, besok apa?"
Yifan dengan perlahan mencoba melepaskan cengkraman Luis. Yifan pikir Jongin baik-baik saja, Yifan pikir Jongin bisa menerima semua kelakuan Luis. Yifan juga tahu semua anggota komunitasnya sedikit heran dengan Jongin yang tidak pernah bereaksi apa pun. Tapi kali ini reaksi Jongin bahkan jauh dari perkiraan.
"Kau ingin menyerah?" tanya Yifan pada akhirnya.
"Menyerah karena Luis?" tanya Jongin dengan kelam. "Yang benar saja," keluhan Jongin membuat semua orang tersentak. "Tidak hanya Gege yang berusaha mendapatkan restu orang tuaku," Jongin bercakak pinggang. "Aku juga!" Kesabaran pria berkulit tan ini habis. "Gege pikir selama ini aku pulang lebih malam bahkan hari ini aku terlambat ke komunitas karena siapa?" Jongin sudah tidak tahan lagi. "Aku melakukan ini semua juga untukmu Ge!" Jongin menunjuk wajah Yifan dengan kesal bukan main. "Memangnya gampang apa membuat kedua orang tuamu bisa menyukaiku?" Jongin mengusap surainya dengan perlahan. "Dan kau masih terus saja bertanya apa aku sudah menyerah, Gege beneran berharap aku menyerah?" tanya Jongin yang hanya dijawab dengan wajah terkejut dari Yifan. "Ya sudah kalau memang itu maumu," Jongin menarik nafasnya dalam-dalam sebelum berkata, "Bye!"
Jongin membalikkan badannya, membelah kerumunan. Sia-sia ia datang ke sini untuk menemui Yifan. Dulu Yifan lebih memilih diam di sisi Luis. Tapi kali ini tidak, Yifan menjegal tangan Jongin.
"Kau mabuk?" Yifan menatap wajah dan telinga Jongin yang sedikit memerah. Jongin menepis tangan Yifan dengan keras. "Kau tadi menemui Ibuku?"
"Ayahmu juga," jawab Jongin di tengah kerumunan. "Aku membawakan makgeolli bikinan kakekku untuk kedua orang tuamu," Jongin menunjuk dada Yifan dengan kasar hingga membuat tubuh Yifan terdorong ke belakang. Tadi bahkan Jongin menuangkannya untuk Ayah yang membesarkan Yifan. "Jadi buat apa Gege mengejarku? Kau seharusnya menenangkan Luis." Jongin memiringkan kepalanya dan menemukan Luis dipapah oleh kedua temannya. Seolah-olah menjadi korban tabrak lari. Padahal tadi siapa yang sebegitu beraninya mencium kekasih orang lain.
Yifan malah menangkup wajah Jongin dan mencium kekasihnya di depan semua orang. Tidak hanya itu, Yifan bahkan melumat bibir Jongin dan membuat semua orang terkesiap. Beberapa bahkan berseru dengan riuh. Bukannya membalas, Jongin malah mendorong tubuh Yifan sambil mengelap kasar bibirnya.
"Berani-beraninya kau menciumku setelah mencium orang lain!" Jongin masih mengusap bibirnya seolah habis menyentuh benda kotor. Jongin tidak bisa mengendalikan perasaan jijiknya saat matanya berpapasan dengan mata Luis.
Jongin kembali menepis sentuhan Yifan di pundaknya. Ia tidak memperdulikan panggilan Yifan.
"Jongin! Maafkan aku!" Yifan berlari saat Jongin tiba-tiba saja berlari ke arah pintu keluar.
"Akhirnya lepas juga." Gumam Kyungsoo sambil menggelengkan kepalanya. Kyungsoo sengaja mengatakannya di dekat gerombolan teman Luis. Mulutnya lama-lama gatal juga.
"Orang sabar sekalinya marah luar biasa ya.." Baekhyun menaruh tangannya di pundak Kyungsoo dan terkekeh saat Kyungsoo mengangguk setuju.
"Ini belum seberapa," Luhan yang berdiri kekasihnya ikut berkomentar. "Dulu Jongin kan pernah menonjok wajah Yifan," Luhan sengaja membenarkan berita yang sempat menjadi rumor. "Parah sih itu."
"Jongin menonjok Yifan?!" salah satu teman Luis bertanya dengan terkejut.
"Lebih tepatnya adu jotos." Ralat Xiumin yang juga menjadi saksi sekaligus alasan perkelahian Jongin dan Yifan. "Kalau dipikir-pikir Jongin keren juga."
"Kenapa?" entah siapa yang bertanya.
"Dulu Jongin melakukan itu demi Sehun," Jawab Xiumin sambil menyesap beernya. Ah, sekarang sebagian besar anggota komunitas sudah tahu kalau Yifan memiliki anak yang seumuran dengan Jongin bahkan berteman baik dengan Jongi. "Jadi wajar jika Sehun mendukung hubungan Ayahnya dengan Jongin." Kejadian itu membuat Xiumin mulai mundur dengan teratur. Belum lagi Yifan juga tiba-tiba menghilang.
"Sehun?"
"Mereka sudah seperti partner sehidup semati," Kyungsoo sengaja menjelaskan ini sambil menatap Luis. "Jika ada yang macam-macam dengan Jongin, Sehun akan turun tangan, begitu juga sebaliknya," Kyungsoo sebenernya cukup iri dengan hubungan Sehun dan Jongin. "Kalian akan mengerti jika melihat sendiri hubungan Jongin dengan anaknya Kris-Ge."
Bagi Kyungsoo, Luis sejak awal sudah kalah telak. Bukan hanya perkara kedekatan Jongin dengan Sehun bahkan kedua orang tua Yifan. Tapi juga bagaimana hubungan Jongin dan Yifan yang berkembang dari rasa benci dan ketidakpedulian. Rasa benci itu yang membuat Jongin dan Yifan justru saling mengerti satu sama lain.
"Bodoh kalau Jongin sampai lepas," Xiumin bahkan mengakui hubungan keduanya. "Aku yang bertemu dengan mantan istri Yifan saja panas dingin, dia bahkan sudah bertemu dengan orang tua Yifan." Xiumin sebenarnya terkejut mengatakan hal ini hanya untuk menyadarkan Luis.
..ILYD..
"Hei! Calm down!" Sehun terkejut melihat Jongin yanh terus berjalan dengan Ayahnya yang mengejar dari belakang. "Kalian kenapa?" Sehun heran sendiri melihat dua orang ini bertengkar namun dengan suasana yang berbeda. Mereka berdua biasa bertengkar tapi ini rasanya berbeda.
"Ayahmu!" Jongin menunjuk Yifan tapi kemudian mengusak kepalanya dengan kedua tangan. Terlihat sekali frustaisnya. "Sudahlah! Aku yang salah!"
Sehun tahu bukan saatnya bertanya. Jadi Sehun lebih memilih menatap Ayahnya yang berusaha memegang lengan Jongin. Tapi terus-terusan di tangkis. Sepertinya ayahnya yang berbuat kesalahan bukan Jongin.
"Dia yang tiba-tibanya menciumku!"
"Aku tahu!" teriak Jongin yang malah tampak kembali meremas surainya. "Kau tidak perlu menjelaskanya berulang-ulang." Jongin tiba-tiba saja berlari, naik ke arah tangga. Dan berhanti mendadak karena teriakan Yifan.
"Apa kau menyerah?!" Teriakan Yifan membuat Sehun melebarkan matanya. Oke, betulan tidak beres.
"Kenapa kau terus saja menanyakan hal itu?" Jongin menatap Yifan dengan mata bergetar. "Kau yang berdansa, dipeluk bahkan dicium Luis tapi malah aku yang disudutkan!" Jongin mengepal tangannya kuat-kuat. "Hari ini aku datang ke rumah orang tuamu dan bertemu dengan orang tuamu, bukan hanya kau saja yang berjuang!" Jongin menatap Yifan bukan lagi dengan frustasi apa lagi sedih tapi marah. "Dan kau masih bertanya apa aku menyerah?!"
"Tapi kau lihat sendiri, aku mendorong Luis!"
"Ya terus aku harus bagaimana?!" Jongin menghentakan kakinya, sepertinya tantrum Jongi kumat.
Yifan terkejut melihat reaksi Jongin yang tampak berlebihan di matanya. Jongin tidak pernah menunjukkan sisi ini. Semarah apa pun, Jongin selalu terlihat tenang dan penuh kendali. Saat Yifan hendak mendekati Jongin. Sehun malah menghadang. Tindakan Sehun membuat Jongin membalikkan badanya. Berjalan ke arah kamar kosong yang tidak pernah mereka gunakan. Dan menguncinya denga cepat. Kini Yifan menatap Sehun dengan kesal.
"Aku tahu ini bukan urusanku." Sehun membalas tatapan Ayahnya dengan senyuman kecil. "Ini kedua kalinya aku melihat Jongin meledak macam ini, dan sekarang karena Ayah, selamat!" perkataan sarkas Sehun membuat Yifan menghela nafas.
"Tapi Luis yang tiba-tiba..."
"Kita tahu itu," Sehun menatap Ayahnya dengan lembut. "Coba posisinya ditukar, apa ayah hanya akan bereaksi, oh Jongin mendorong tubuh Luis, itu tidak masalah," Sehun menunggu reaksi Yifan yang malah mengerutkan dahi. "Saat kejadian Xiumin 'berciuman' dengan lelaki lain saja Ayah langsung menghajar lelaki itu, apalagi kalo Jongin posisinya diserang dan dicium oleh pria lain secara tiba-tiba," Sehun menaikan alisnya saat Ayahnya menatapnya dengan dalam. "Jongin bukan tipe orang seperti itu apalagi yang menyerang Ayah itu Luis."
"Tapi..."
"Ayah memangnya tidak penasaran sedikit pun apa, kenapa Jongin malah bilang, 'aku yang salah' padahal Ayah dan Luis yang harusnya disalahkan."
"Ayah mendorong Luis."
"Tapi Ayah memberikan peluang untuk Luis."
"Kau seperti berkata korban pemerkosaan memiliki andil karena memberikan peluang untuk diperkosa."
Untuk sesaat Sehun terdiam.
"Oh, Ayah merasa di lecehkan oleh Luis ternyata," Sehun tertawa saat Ayahnya menunjukkan wajah tidak suka. "Ayolah, Ayah bisa menolak sebenarnya," Sehun masih menghadang jalan. "Ayah di gandeng mesra oleh Luis biasa saja, dipeluk oleh Luis diam saja, dikecup pipinya oleh Luis tidak bereaksi apa pun, ya apa salahnya Luis mencoba mencium Ayah? Siapa tahu Ayah tidak akan menolak."
"..."
"Serius deh, ayah tidak penasaran kenapa Jongin mengatakan kalau dia yang salah?" Sehun lagi-lagi hanya menemukan Ayahnya mengerutkan dahi. "Karena Jongin juga mewarisi sifat ibunya, sialnya Ayahku ini egois bukan main."
"Egois?"
"Buktinya Ayah bukannya meminta maaf malah menodong Jongin dengan pertanyaan, apa kau menyerah?" Sehun menggelengkan kepalanya. Ayahnya benar-benar parah. "Jongin kan juga punya hak untuk marah." Sehun mengangguk saat Ayahnya melebarkan kedua matanya.
Yifan berjalan ke arah sofa dan menjatuhkan tubuhnya. Menyerah untuk mengejar Jongin. Sehun duduk di samping Ayahnya yang tampak merenung.
"Ibunya Jongin kenapa?" Yifan akhir bertanya.
"Ayah tahu kan, kalau Ayah kandung Jongin selingkuh?" Sang Ayah mengerutkan dahinya meski mengangguk pelan. "Saat dipengadilan, Ibunya Jongin malah berkata kalau beliau merupakan istri yang tidak baik, jadi wajar jika suaminya selingkuh" Sehun menatap Ayahnya. Itu alasan utama Jongin untuk memilih tinggal bersama ibunya, "Jongin juga menunjukkan sifat yang sama, dia merasa bersalah karena marah pada Ayah yang jelas-jelas menolak ciuman dari Luis."
Ayahnya memang bebal.
"Kalau Chanyeol tiba-tiba mencium Jongin dan Jongin menolak Chanyeol, Ayah marah tidak?" Sehun menemukan Ayahnya melebarkan matanya. Sehun sengaja memakai nama Chanyeol. "Nah itu jawabannya!"
Sehun heran kenapa Ayahnya bisa sebebal ini. Tiba-tiba saja handphone Yifan berdering dengan nyaring dan tertera nama ibunya.
"KAU APAKAN ANAK ORANG, HAH?!" teriakan ibunya membuat Sehun ikut tersentak kaget. Suara Nyonya Wu bukan main kerasnya. "Benar kata Ayahmu, Jongin terlalu baik untukmu," Ibunya menghela nafas dengan keras. "Makannya jadi pria harus menentukan sikap!" sumpah Ibunya ini betulan naik pitam saat mendapatkan informasi kalau Jongin hampir mengamuk di komunitas. "Memangnya kau pikir Jongin betulan baik-baik saja dengan sikap Luis yang seenaknya dan bodohnya kau hanya diam saja?!"
"Ibu.." Panggil Yifan yang betulan shock. Ibunya bahkan tahu Luis.
"Sudah seenaknya, egois, emosian, tidak punya empati, tidak tahu diri," omel Nyonya Wu yang gemas dengan anaknya sendiri. "Entah dosa apa yang dilakukan Jongin di masa lalu, hingga dia bisa jatuh cinta pada orang sepertimu." Ucapan ibunya kali ini betulan menusuk harga diri Yifan.
.ILYD.
Sudah seminggu ia tinggal sendirian di rumahnya sendiri. Betulan sendiri karena kakaknya, memperpanjang perjalanan dinas. Ayah dan ibu masih sibuk dengan cabang Korea Selatan. Dan ia berusaha menyibukkan diri untuk mempersiapkan tes beasiswa ke Jepang. Ia memilih tingga di rumahnya karena menghindari Yifan. Ia punya alasan tepat untuk menjauhi Yifan sementara waktu.
"Bagaimana kabarmu?" seorang wanita duduk di hadapan Jongin tepat di samping Sehun. Mereka berada di cafe yang mengusung konsep perpustakaan. Jadi tempat ini sunyi bukan main.
Bukannya menjawab, Jongin malah menatap tajam Sehun yang langsung pura-pura ke toilet.
"Anakku mengkhawatirkan hubungan Ayah dan sahabatnya," ucap wanita yang kini bernama Yang Nara. "Kau betulan menyerah karena Luis?" Nara mengatakan kata yang membuat Jongin menghela nafas. "Yifan selalu serius dalam berhubungan."
"Dulu kami hanya mencoba." Ralat Jongin.
"Dan berubah menjadi serius," lanjut Nara yang tahu betul proses bagaimana hubungan sahabat anaknya dengan mantan suaminya dulu. "Kau bahkan sudah bertemu dengan kedua orang tua Yifan." Nara melirik cincin yang masih dikenakan Jongin. "He love you."
"Aku tahu."
"Sangat..."
"Iyaaaa.." Jongin sengaja memotong perkataan Nara.
"Hubungan Yifan selalu kandas berkat Luis, kecuali hubungannya dengan Xiumin," perjelas Nara yang membuat Jongin mengangguk. Jongin sempat ikut campur untuk hubungan Yifan yang satu ini. "Yifan tidak punya perasaan apa pun pada Luis," Nara masih mencoba meyakinkan Jongin yang hanya menganggukkan kepalanya. "Meski aku hanya menjadi istri pura-pura Yifan, aku juga pernah merasakan posisimu."
"Maksudnya?" Jongin mengerutkan dahi dengan heran.
Nara tersenyum kikuk saat berkata. "Dia yang membongkar hubunganku dengan kekasihku dulu ke orang tua Yifan," Nara berani mengatakannya karena menemukan Sehun memilih tempat duduk terpisah. "Sebenarnya saat itu, baik aku maupun Yifan sama-sama memiliki kekasih," Nara tersenyum saat Jongin melebarkan matanya. "Kesepakatan kita seperti itu."
"Sehun?" Jongin bertanya dengan nada menggantung. "Bagaimana kalian melakukannya?"
"Bayi tabung."
"Astaga~" Jongin refleks mengerut pelipisnya dengan keras. "Kalian luar biasa." Rasanya Jongin kesal bukan main. Untung Nara perempuan coba laki-laki, Jongin pasti sudah melayangkan tinjunya.
"Oleh karena itu, tolong jangan tinggalkan Sehun."
"Bahkan jika aku tidak jadi bersama Yifan, aku tidak akan menjauhi Sehun."
"Tapi kalau hubungan kalian seserius ini dan tiba-tiba kandas, hubungan kau dengan Sehun pasti terpengaruh," Nara bahkan menarik kedua tangan Jongin dan menggenggamnya dengan erat. "Aku mohon, jangan menyerah pada Yifan."
"Aku tidak menyerah."
"Jadi kenapa kau menghindari Yifan?" pertanyaan Nara justru membuat Jongin menghela nafas. "Kami semua sadar, justru Yifan yang jauh lebih membutuhkanmu."
"Kau berlebihan," keluh Jongin. "Aku hanya malu."
"Hah?"
"Ya, malu..." Jongin menggaruk leher belakanganya. Ia selalu bisa mengendalikan sifatnya dan kemarin ia lepas kontrol. "Itu pertama kalinya aku menunjukkan sifat asliku." Jongin menundukkan wajahnya. Ayolah, ia juga ingin terlihat sempurna di hadapan Yifan yang luar biasa.
"Jadi kau menghindari Yifan karena malu?"
Nara kini mengubah posisi duduknya dan duduk di samping Jongin. Wanita itu menangkup wajah Jongin dengan kedua tangannya. Menatap Jongin dengan intens, hingga membuat Jongin panik.
"Maaf sudah menuntutmu untuk menjadi orang yang lebih dewasa," Nara mengatakannya dengan serius. "Aku khawatir kau benar-benar menyerah karena kelakuan Luis."
Jongin hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Tangan Jongin juga berusaha untuk melepas tangkupan kedua tangan Nara. Ada hal lain yang mengusik pikirannya.
"Kenapa kau menceritakannya?" Jongin bertanya dengan nada frustasi. "Bayi tabung, yang benar saja!" Jongin ingat Sehun bilang ibunya selingkuh dan Ayahnya memilih untuk tidak memiliki hubungan apa-apa karena sudah menikahi ibunya. Itu alasan Sehun untuk memilih tinggal bersama Yifan. "Kalian berdua ini parah bukan main." Jongin benar-benar tidak habis pikir.
"Jangan ceritakan ini pada Sehun."
"Seharusnya kau tidak mengatakannya padaku," jujur Jongin lebih suka dibohongi sekalian kalau macam ini faktanya. "Kalian tidak memikirkan perasaan Sehun?"
"Karena itu aku meminta Yifan untuk diam, dan membenarkan kabar kalau Yifan tidak memiliki hubungan apa pun saat kami sudah menikah," Nara mengatakannya dengan wajah sendu yang membuat Jongin tersentak. "Kami saat itu masih terlalu muda."
"Tsk, kalian itu..." Jongin betulan kehilangan kata-kata. Jongin bahkan memalingkan wajahnya menghindar dari tatapan Nara yang menyedihkan.
Kalau Sehun tahu, hancur sudah hubungan keluarga satu ini. Sudah berulang kali Jongin berkata, fakta bahwa orang tuanya tidak saling mencintai saja sudah menghancurkan hati Sehun. Ia sangat tahu rasanya. Untuk kali ini Jongin akan tutup mulut. Kadang, memang ada beberapa hal yang perlu disembunyikan tanpa harus dibuka kembali. Layaknya sebuah kotak pandora. Biarkan kenyataan itu menjadi salah satu kotak pandora untuk Sehun.
"Tapi aku penasaran, pernah tidak sekali saja kau punya perasaan pada Sehun?" tanya Nara yang berusaha untuk mengubah topik pembicaraan. Lagi pula kedekatan Sehun dan Jongin sedikit berbeda dari persahabatan lainnya.
"Tidak," Jongin menjawab dengan tegas. "Aku terlalu takut untuk memikirkannya," Jongin sudah menganggap Sehun sebagai seseorang yang selalu ada di sampingnya. Selalu mendukungnya apa pun yang terjadi. Dan ia tidak mau itu berubah. "Sebenarnya aku jauh lebih takut kehilangan Sehun dibanding Yifan."
.ILYD.
"Tesla?!" teriak Jongin saat Kyungsoo menunjukkan mobil yang akan Jongin jemput.
"Untuk pertama kalinya dalam sejarah, dua mobil Tesla Roadster 2 terparkir di garasi bengkelku," Kyungsoo menatap terharu dengan kedua mobil listrik berwarna putih dan hitam. "Kau tahu seri tesla ini mengalahkan Bugattu Chiron dan menjadi mobil tercepat di dunia."
"Beijing kan macet dimana-mana, mereka mau ngebut dimana coba?" Jongin mengatakan mereka meski tidak tahu identitas pemilik tesla warna putih.
"Ayah mertuamu dan Chanyeol sepertinya punya selera yang sama."
Untuk sebuah informasi, Ayah Yifan bahkan menggunakan taktik yang sama agar Jongin mau datang ke rumah. Jongin sebenarnya tidak akan menolak kalau keduanya meminta Jongin datang dengan cara normal. Serius. Ia sedikit lelah, terus-terusan memarkirkan motornya di bengkel Kyungsoo.
"Itu punya istriku."
"Shit!" umpat Jongin yang menemukan Chanyeol keluar dari ruang tunggu bersama seorang gadis berkulit eksotis. Jongin tanpa sadar menganga melihat gadis yang direngkuh pinggangnya oleh Chanyeol. Cantik!
"Sepertinya aku duluan yang menikah," Chanyeol menyerahkan kartu undangan pada Jongin. Rasanya sedikit de'javu namun tidak dengan nuansa dramatis seperti dulu. Chanyeol sebenarnya sudah menikah di Meksiko. Namun, ia juga harus merayakannya dengan anggota Triad yang lain di Beijing. "Oh, sepertinya aku juga tahu selera gadis yang kau sukai."
"Aku pecinta keindahan," jawab Jongin dengan senyuman miring yang jarang ia tunjukkan. "Aku tidak janji bisa datang."
"Aku maklumi karena sifat kekasihmu yang cemburuan."
Jongin mengangguk sambil mencoba melafalkan nama calon istri Chanyeol. Ia harus membacanya dengan aksen mana? British atau ... melihat dari kulit eksotis gadis di hadapannya, sepertinya bukan.
"Ariela." Ucap gadis yang akhirnya mengeluarkan suara sambil mengulurkan tangannya. Jongin terkesiap, aksen spanyol membuat gadis di hadapannya ini terlihat seksi luar dalam. "Aku dengar kau itu mantan kekasihnya Chanyeol." Gadis ini juga ternyata bisa berbahasa mandarin dengan fasih.
"Aku harap fakta itu tidak membuatmu merasa tidak nyaman padaku." Jongin tersenyum kikuk saat mengatakannya. Gadis itu mengangguk dengan senyum memukau. Chanyeol beruntung, sobat.
"Oh! Wow!" seru seseorang yang Jongin tidak harapkan. Bukan Luis tapi temannya Luis. Entah siapa namanya. Sudah sejak lama, Jongin tidak tertarik untuk mengetahui namanya.
Kenapa sih hidupnya penuh drama.
Jongin menghela nafas saat Kyungsoo menitah salah satu karyawannya untuk melayani konsumen yang tidak mereka harapkan datang di waktu macam ini. Sebagai sebuah informasi, Kyungsoo mendapatkan bengkel meski belum mendapatkan ijazah. Hadiah dari Ayah Kyungsoo entah untuk merayakan apa. Pada akhirnya Kyungsoo harus meninggalkan Jongin bersama Chanyeol dan Ariela. Pengantin Chanyeol yang mengajak Jongin untuk masuk ke dalam ruangan tunggu.
"Sepertinya kau akan dapat masalah," Ariela tersenyum kecil melihat raut wajah muram Jongin. "Belum lagi hubunganmu dengan kekasihmu sedang tidak baik."
"Sial, aku mulai tidak kaget dengan informasi ini," Jongin melirik Chanyeol yang malah tertawa kering. Sejak berpacaran dengan Chanyeol, informasi dan masalah pribadinya seolah bisa diakses oleh semua orang. "Aku harap kau tidak terlalu penasaran lagi."
"Sebenarnya aku sedikit penasaran akan satu hal," Ariela mengatakannya dengan serius. "Tapi aku tidak bisa menemukan video saat kau bercinta dengan Chanyeol."
Jongin melebarkan matanya. Bulu kuduknya tiba-tiba menegang. Merinding bukan main.
"Astaga, mulut istrimu." Jongin menutup mulutnya sendiri dengan cara yang cukup dramatis.
"Dibanding Jongin, kau jauh lebih hebat." Chanyeol berkata dengan suara lembut.
Dibandingkan merasa tersinggung. Jongin justru merasa jijik dengan obrolan kedua manusia di hadapannya. Masalah rumah tangga apalagi ranjang sepertinya tak perlu mereka umbar.
"Kau yakin tidak ke komunitas?" Kyungsoo tiba-tiba datang dan membuat Jongin merasa terselamatkan. "Aku rasa dia sudah menyebarkan informasi kalau kau bertemu dengan Chanyeol di sini."
"Boleh aku pinjam handphonemu?" Gadis bernama Ariela itu justru meminta handphone pada Kyungsoo.
Meski tidak paham, Kyungsoo memberikannya tanpa curiga sama sekali. Tiba-tiba saja Ariela mengangkat handphone Kyungsoo tinggi-tinggi setelah menghidupkan vitur kamera. Ketiga pria ini malah menatap Ariela dengan heran. Sempat-sempatnya betina satu ini bertingkah random.
"Tanganmu lebih panjang, pegang handphonenya." Ariela menarik tangan Chanyeol untuk memegang handphone.
Seperti sebuah drama komedi. Ariela justru mengecup pipi Jongin dan membuat Kyungsoo dan Chanyeol terkejut bukan main.
"Heh!" teriak Chanyeol dengan suara menggelegar.
Kok jadi teringat masa lalu. Calonnya dulu juga malah jadi tertarik pada Jongin. Masa yang ini juga. Jangan sampai. Keterkejutan ketiga jantan ini tidak diindahkan sama sekali. Karena Ariela jauh lebih tertarik dengan handphone Kyungsoo.
"Eh, video ternyata." Ariela tertawa saat melihat hasilnya. Epick luar biasa. "Tolong posting di forum komunitas kalian." Ucap Ariela pada Kyungsoo.
Lagi, meski tidak paham. Kyungsoo melakukan hal yang dipinta Ariela karena wanita ini terus menatap handphone Kyungsoo dengan lekat. Dan melepas pandangannya setelah Kyungsoo memosting video berdurasi pendek barusan. Tolong maklumi Kyungsoo jadi begitu menurut karena selain wanita Ariela juga anak dari seorang mavia. Jadi cara Ariela meminta tolong sedikit membuat Kyungsoo merasa tertekan.
"Apa-apaan barusan?" Chanyeol bertanya dengan marah.
"Untuk menolong mantan kekasihmu."
"Itu terlalu berlebihan, kau mencium pria di hadapan suamimu sendiri."
"Kau yang berlebihan."
"Aku tidak keberatan kalau gadis cantik yang menciumku." Jongin mengusap pipinya sambil tertawa.
"Tapi dia mavia." Celetuk Chanyeol.
"Shit, kau benar." Jongin langsung melunturkan senyum lebarnya. "Kalian punya musuh di Jepang tidak?" mumpung tersangkanya ada di depan mata. Kenapa tidak ia tanya langsung saja.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau jadi sasaran Yakuza."
"Aku rasa kau harus mengikuti perintah Ayahmu, biarkan Noburu menemanimu, bahkan mengikuti kelas yang sama denganmu." Ariel menjawab dengan cara yang lebih efektif.
"Baiklah." Jongin tiba-tiba menurut karena ucapan Ariela barusan.
.ILYD.
"Aku dengar kau menemui Chanyeol."
Jongin menatap Luis yang memamerkan senyuman malaikatnya. Memang setan manusia satu ini. Tapi kekasihnya jauh lebih tolol dari yang ia pikirkan.
"Kita bertemu di bengkel Kyungsoo." Jongin memamerkan kunci yang seharusnya Yifan kenali.
"Kau tidak bilang padaku." Yifan menolak untuk memperhatikan kunci yang Jongin tunjukkan.
Jongin menghela nafas. Bagaimana ia harus memberitahu Yifan? Hubungan mereka sedang berantakan.
"Aku mau bilang, tapi keduluan oleh orang lain." Dusta Jongin. Sepertinya Yifan tidak melihat postingan terbaru Kyungsoo di forum komunitas. "Kenapa? Kau pikir itu caraku untuk membalas kalian?" Jongin tertawa saat Luis melebaran matanya dengan begitu senang. "Kau harusnya tahu, kalau aku ingin membalasmu, akan aku bawa Chanyeol ke sini, aku akan melakukannya di hadapanmu." Jongin sengaja memperburuk suasana.
Jongin tersenyum miring saat tatapan Yifan menggelap.
"Aku dengar dia memberikanmu sesuatu?" Yifan tengah mengendalikan amarahnya. Tapi tidak dengan suaranya yang terdengar parau.
"Mobil," jawab teman Luis yang Jongin temui di bengkel Kyungsoo. "Model mobilnya bahkan sama dengan mobil istri Chanyeol."
"Hah?" Jongin mengerutkan dahi. Namun ia malah tertawa keras saat melihat ekspresi penuh marah Yifan. Tapi ia ingin mencoba cara yang sama dengan Yifan. "Apa Gege menyerah?" tanya Jongin yang membuat Yifan tersentak. "Mau sampai kapan?" tanya Jongin pada Yifan. "Membiarkan emosimu dimainkan seenaknya oleh orang lain."
Jongin membalikkan badan, berniat meninggalkan komunitas. Tapi Yifan mencekram tangan Jongin.
"Mau kemana?"
"Menemui orang tuamu," jawab Jongin dengan terus terang. "Ayahmu membelikanku Aguardiente, beliau ingin aku mencoba resep cocktail baru buatannya."
Jongin merogoh saku hoodie hijau armynya. Jongin kembali menunjukkan kunci mobil yang sama. Kali ini Yifan memperhatikan kunci mobil di tangan Jongin. Tentu saja Yifan langsung membelalakan matanya.
"Kenapa mobil Ayahku ada ditanganmu?"
"Ibumu selalu menggunakan cara yang sama agar aku datang ke rumah orang tuamu, kali ini gantian Ayahmu yang melakukannya" Jongin menaruh kunci mobil milik Ayahnya Yifan di atas meja. "Memintaku menjemput mobil yang baik-baik saja keadaannya di bengkel Kyungsoo."
Yifan mengerutkan dahinya. Jongin sengaja melirik Luis sebelum kembali menatap Yifan.
"Dari pada menghadapi kemarahanmu di depan semua orang, aku lebih baik mendengarkan Ayahmu menceritakan semua koleksi lukisannya," Jongin mengambil kembali kunci yang ia taruh. Kemudian mengecek jam tangannya. "Aku harus pergi sekarang, aku tidak mau membuat kedua calon mertuaku menunggu terlalu lama." Jongin berusaha menujukkan senyuman termenyebalkan yang bisa ia lakukan.
Jongin pergi begitu saja, ia bahkan tidak menunggu respon dari Yifan.
"Apa-apaan sikapnya itu?" tanya salah satu teman Luis yang membuat Yifan tersentak.
"Kuakui perkataan Shun benar," Mingdao yang jarang berkomentar tiba-tiba angkat bicara. "Jongin itu keren."
"Silahkan bersenang-senang, biarkan aku yang merawat orang tuamu," Suho tertawa mengatakannya. "Seperti seorang istri yang parsah dengan suami yang tidak bisa diandalkan." Sejujurnya Suho masih kesal dengan kejadian minggu kemarin. Adik iparnya sampai mengamuk di sini.
Luhan yang biasanya diam, jadi ingin ikut berkomentar karena sebuah fakta baru. Ayah Yifan berarti menyukai Jongin hingga ingin membuat minuman macam cocktail dari minuman favoritnya. Luhan merupakan salah satu perusahaan yang membuat sistem keamanan di semua mobil perusahaan Ayah Yifan. Jadi ia tahu informasi kecil seperti itu.
"Sepertinya Ayahmu juga menyukai Jongin," Luhan berkomentar pelan. Ia masih trauma mendapat bogeman mentah dari Yifan. "Aku dengar, Ibumu datang ke rumah Jongin karena khawatir dengan Jongin, mungkin ini juga cara Ayahmu menghibur Jongin," Luhan tersenyum kala Yifan menatapnya dengan penasaran. "Jangan sampai setelah kedua orang tuamu setuju, malah Jongin yang memilih untuk pergi darimu."
Perkataan Luhan kali ini sukses membuat Yifan beranjak pergi begitu saja.
"Tumben." Gumam Suho yang hanya dibalas dengan lirikan mata oleh Luhan.
.ILYD.
Yifan masuk ke dalam rumah orang tuanya dengan perlahan. Salah satu asisten rumah tangga sampai terkejut menemukan Yifan datang dengan terburu-buru. Ayahnya sangat menyukai minuman beralkohol, mulai dari wine, wisky sampai gin. Jadi Ayahnya ini membuat sebuah miniatur bar di dekat meja makan.
"Luis lagi?" tanya sang Nyonya rumah sambil tertawa. "Aku sempat terkesan mendapat berita kau sampai mengamuk di sana." Ibunya tertawa saat mengatakannya.
"Ku betulan mengamuk?" tanya Tuan rumah dengan nada heran. "Tapi kau memang harus bersikap this is my person," ucap Ayahnya menggunakan suara bajak laut andalannya. Namun sebagai respon, yang terdengar hanya suara tawa dari mulut Jongin. "Ayah serius."
"Dan membuat Ibu datang ke rumahku lagi dengan membawa begitu banyak masakan?" Jongin tertawa saat mengatakannya. Sang Ayah hanya tersenyum saat istrinya digoda oleh Jongin.
"Aku betulan khawatir padamu," keluh Nyonya rumah dengan gemas. "Kau kan mengamuk setelah minum beberapa gelas dengan kami," kemudian Nyonya Wu ini menepuk pelan paha Jongin. "Tapi benar kata Ayah, kau itu harus tegas."
"Aku tidak mau di-bully oleh teman-teman Luis." Jongin akhirnya menjawab dengan nada merajuk.
"Ini semua karena kebijakan pemerintah untuk membatasi anak, mereka malah menciptakan raja-raja muda yang manja dan egois," keluh Nyonya Wu. "Makannya aku memilih punya dua anak, tapi kelakuannya kaya raja semua."
Jongin kembali tertawa sebagai tanggapan.
"Tuh yang dibicarakan datang," sang Ayah menunjuk Yifan yang sejak tadi diam-diam mendengarkan obrolan ringan Jongin dengan kedua orang tuanya.
Yifan sedikit iri dengan keahlian Jongin satu ini. Bukan menunjukkan wajah marah, Jongin malah tersenyum tipis saat menatap Yifan.
"Kau tidak diundang, tapi aku memiliki feeling untuk membuat minuman lebih," sang Ayah menuangkan minuman buatannya dari shaker cocktail. "Kemari." Titah Ayahnya sambil menunjuk kursi di samping Jongin.
"Kehadiranku membuat suasana tidak nyaman ya?" tanya Yifan pelan karena kini suasanya jadi sehening kuburan.
"Sebenarnya aku ingin memarahimu," Ibunya menatap dengan tajam. "Tapi masa aku memarahimu di depan Jongin?" pertanyaan retoris itu membuat suasana makin suram. "Kau tahu kan, memarahi anak itu ada adabnya apalagi memarahi orang lain," Kalimat satu itu jelas menusuk jantung Yifan. "Bisakah kau merubah kebiasaanmu itu? Jangan marah di hadapan semua orang dan menjadikan kemarahanmu sebagai tontonan."
Diam-diam Jongin tersenyum mendengarnya sambil meminum cocktailnya. Jongin hanya bisa bertukar lirik dengan Tuan Wu yang sama-sama berusaha menyembunyikan senyumannya.
"Kalian berdua mengejekku?" Nyonya Wu memergoki tingkah suaminya dan Jongin. "Aku sedang membelamu, kenapa kau malah tersenyum seperti itu?" ia bahkan mencubit kecil pinggang Jongin.
"Aku tidak mengejek," ucap Jongin dengan nada lembut. "Aku senang mendengarnya."
"Jangan menggunakan nada suara seperti itu!" Ibu kandung Yifan menunjuk wajah Jongin denangan telunjuknya. Bahkan sempat menyentil hidung Jongin. "Pantas mantan calon istri Chanyeol bisa jatuh cinta padamu."
"Aku tidak pernah menggunakan nada macam itu selain untuk Ibuku."
Nyonya Wu sempat tertegun, tangannya ingin sekali mencubit bibir Jongin. Tapi akhirnya hanya menatap suaminya dengan kedua tangan terkepal.
"Lihat, susah kan?" Nyonya Wu menatap suaminya yang mengangguk pelan. "Mulutnya itu memang manis."
"Lain kali kau harus bertemu dengan Ibunya Jongin," sang suami mengatakan hal yang mengejutkan. Hingga membuat semua orang tersentak. "Tanyakan padanya bagaimana caranya membesarkan anak, hingga bisa mendidik Jongin menjadi seperti ini."
"Jantungku hampir copot." gumam sang Ibu sambil menepuk dadanya. "Ku pikir kau memintaku untuk segera melamar anaknya."
Tapi sang suami malah menatap istrinya dengan heran. "Kita masih harus menunggu Jongin lulus kuliah di Jepang."
Kali ini Yifan terbatuk dengan keras. Yifan tidak salah dengar?
"Oh, kau belum cerita pada Yifan?" Tuan Wu menepuk pelan punggung Yifan. "Pantas anak ini tidak juga datang dan bersimpuh padaku sambil mengatakan terima kasih."
Jongin hanya tersenyum tipis, tidak tersenyum miring lebih tepatnya.
.ILYD.
Keduanya tidak mengatakan sepatah kata pun di dalam mobil. Bahkan hingga mobil Yifan terparkir kembali di parkiran gedung dimana komunitasnya berada. Jongin berjalan terlebih dahulu melewati seorang penjaga yang selalu memberikan sebuah senyuman hangat padanya. Mereka memilih untuk kembali ke komunitas dibanding pulang ke rumah.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" Yifan menjegal tangan Jongin sebelum tangan Jongin menggapai gagang pintu. Tempat dimana semua orang berkumpul.
"Kapan waktu yang tepat memberitahumu?" Jongin kembali dengan kebiasaannya. Menjawab dengan sebuah pertanyaan. "Saat melihatmu dicium oleh Luis?" Jongin tersenyum saat Yifan mengerutkan dahi. "Bagaimana aku bisa memberitahumu, saat aku menunjukkan kemarahanku, responmu sesimpel pertanyaan andalanmu, apa aku menyerah?" Jongin malas berdebat dengan Yifan jadi ia membuka pintu komunitas.
"Kau mau kemana?" tanya Yifan.
"Teman-temanku," jawab Jongin. "Aku tidak cocok dengan teman-temanmu."
"Aku memilihmu bukan Luis." Perjelas Yifan.
"Semua orang tahu, Luis tahu itu," Jongin dengan lembut menarik tangannya dari genggaman Yifan. "Luis juga tahu kau tidak akan menolak dan marah dengan semua tingkah lakunya padamu," Jongin tersenyum saat Luis mendekat. "Pangeran berkuda putihmu datang." Ejek Jongin sambil pergi begitu saja.
"Kita pulang saja." Yifan kembali meraih tangan Jongin. Belum sempat Luis mendekat, Yifan dengan cepat menyeret tangan Jongin untuk keluar dari gedung.
Baru setengah lorong yang mereka lewati. Tapi Yifan dengan seenaknya menekan tubuh Jongin ke dinding yang dilapisi karpet tebal. Jongin memalingkan wajahnya saat mendengar suara langkah kaki. Belum lagi, Jongin juga mendengar suara Luis yang memanggil nama Yifan.
"Luis me.."
Jongin membelalakkan matanya saat Yifan dengan seenaknya mencium bibirnya. Lagi, di hadapan Luis. Yifan juga bisa merasakannya lagi, Jongin tidak membalas ciumannya sama sekali.
"Kau tidak menyukainya?" Yifan berbisik dengan tangan yang menarik dagu Jongin. Memaksa Jongin untuk menatap matanya.
"Untuk siapa?" Jongin bertanya dengan suara lirih. "Untukku atau kau sengaja agar Luis melihatnya?"
Jongin menghela nafas saat Yifan malah menundukkan kepalanya. Hal itu juga yang membuat kedua tangan Jongin meraup kedua pipi Yifan. Jongin tersenyum kecil saat Yifan menghindari tatapannya.
"Kalian berdua sama saja," keluh Jongin pelan. "Jahat." Gumam Jongin pelan.
Jongin tahu Luis masih diam di tempatnya. Tapi ia juga ingin melakukan hal yang sama seperti kedua manusia ini barusan. Meski itu hanya sebuah kecupan singkat. Sebenarnya Jongin sedikit mengerti kenapa Yifan memilih cara seperti ini, karena kekasihnya yang brengsek satu ini tidak bisa memberitahu Luis hanya melalui ucapan. Oh, kecupan singkat itu kini berubah menjadi permainan lidah dan hisapan yang pasti akan membuat bibirnya membengkak.
"Luis!"
Panggilan itu yang membuat Jongin mendorong tubuh Yifan. Suara langkah seseorang yang mendekat membuat Jongin melebarkan matanya. Yifan ikut terkejut karena reaksi Jongin.
"Run!" bisik Jongin yang meninggalkan Yifan begitu saja.
Yifan yang bingung, refleks ikut berlari mengejar Jongin.
"Kenapa kau berlari seperti seorang penjahat?" Yifan menghentikan langkahnya saat mendapatkan Jongin sedang terengah-engah di dekat mobil Yifan.
"Aku baru saja melakukan hal yang jahat pada Luis." Jongin sempat-sempatnya memukul lengan Yifan.
"Kenapa kau memukulku?"
.
.
.
Pandora/ END
TBC
.
.
Sebenernya saya sedikit kaget,
Ternyata yang baca kelanjutan ini ff lebih dari yang diperkirakan
Maaf ya kalian harus sabar buat kelanjutan ff yang entah kapan selesainya
.
Seperti biasa, jaga kesehatan ya guys!
Jangan lupa pake masker dan rajin cuci tangan
Terimakasih sudah mampir..
