👑The King Of Uzumaki.
Genre : Action, Adventure, Romance, Supranatural & Over power.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto.
Highschool DxD © Ichie Ishibumi.
Summary :
Dikhianati, direndahkan, dipenjara, diasingkan dan dicap sebagai penjahat. Uzumaki Naruto, setelah apa yang dia lakukan diperang dunia shinobi keempat. Ia dipenjara selama hampir tujuh tahun dan akhirnya bebas dengan cara kabur dari penjara.
Apa yang akan Naruto lakukan selanjutnya?.
Latar cerita : Tujuh tahun setelah perang dunia shinobi keempat.
"Akashi..." bicara.
'Akashi...' dalam hati.
.
Pair : Naruto x ...
Rate : M
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
.
.
.
.
.
.
Yosh! langsung kita mulai aja ceritanya.
.
.
.
.
.
.
Chapter 18.
Setelah selesai dengan urusan di Kyoto, sang tokoh utama kita, Uzumaki Naruto bersama Ophis langsung kembali ke Kuoh dengan cepat, dengan Hiraishin tepatnya.
Urusan di Kyoto sudah selesai, Naruto sukses menjalankan tujuannya untuk membunuh Samael. Apakah sudah selesai?, apakah sekarang Naruto bisa bersantai? Tidak. Masalah baru segera muncul.
Beberapa hari setelah kembali ke Kuoh, Naruto mendapati hal yang sangat mengejutkan, sesuatu yang hampir tak akan pernah terpikirkan oleh satu makhlukpun di dunia ini. Berlebihan? Memang agak berlebihan, tapi memang sesuatu ini sangatlah fenomenal sekali, terutama bagi Naruto.
Naruto saat ini sedang membuatkan segelas susu coklat buat Ophis. Tunggu! Itu biasa, itu merupakan sesuatu yang lumrah bagi Naruto selama berada di dunia ini. Menjadi bapak rumah tangga bagi Ouroboros Dragon.
Setelah selesai membuat muniman hangat itu, Naruto membawanya ke kamar, ketempat Ophis saat ini terbaring. Terbaring? Yap, saat ini Ouroboros Dragon sedang tidak sehat badan, demam lebih tepatnya.
Ophis sakit. Itulah hal paling mengejutkannya, sesuatu yang hampir tidak pernah terpikir oleh seluruh makhluk soperior manapun bahkan untuk God of Bible sekalipun, kalau sang ketidakbatasan akan mengalami yang namanya sakit demam.
Naruto juga tak menyangka kalau dragon bisa terkena sakit demam, terdengar lucu tapi itu adalah kenyataan. Yang menyulitkan adalah Naruto tidak tahu cara menangani masalah ini, cara menyembuhkan Ophis dari demamnya. Naruto juga kebingungan untuk memilih obat, kira-kira obat apa yang cocok untuk dragon yang demam, paracetamol kah?. Naruto menggelangkan kepalanya beberapa kali, membuang berbagai pikiran yang tadi sempat membanjiri kepalanya.
Naruto sampai ke ranjang tempat Ophis berbaring. "Nah ophis, aku sudah membuatkan minuman favoritmu." Katanya ramah.
Ophis menoleh ke arah Naruto, dia menatap sayu pemuda bersurai merah itu, kemudian dengan suara yang lemas khas orang sakit Ophis berkata, "Aku sedang tidak selera dengan itu, aku mau yang lain."
Ini juga termasuk hal yang aneh, pasalnya Ophis tidak pernah menolak susu coklat, bahkan dia biasanya merengek minta dibuatkan. Meski kenyataannya Ophis tak perlu makan untuk bisa bertahan hidup.
Naruto hanya menghembuskan napas lelah, dia meletakkan gelas itu pada meja di samping kepala ranjang. Naruto kemudian duduk di kursi yang ada disana.
"Ophis, kau tahu kan? Seluruh lemari di dapur isinya cuma susu coklat. Kau bahkan selalu menyuruhku membelinya setiap minggu untuk persediaan. Apa kau sudah mulai bosan dengan itu?" Tanya Naruto.
Ophis menggeleng dengan imut, "Aku tidak tahu. Setelah aku memutuskan untuk menjadi manusia, sensasi tidak mengenakkan ini langsung menimpaku, aku juga ingin berbagai macam makanan dan minuman selain susu coklat. Ternyata menjadi manusia itu merepotkan."
Yap, itu adalah hal mengejutkan selanjutnya. Ophis memutuskan untuk membuang status ketidakbatasannya dan berhenti menjadi makhluk imortal yang tak bisa mati bila tak makan. Ophis merubah dirinya untuk menjadi manusia setelah kehilangan setengah kekuatannya di Kyoto semalam, tapi bukan itu alasan utamanya. Ophis ingin sama seperti Naruto dan hidup bersamanya, selalu di sampingnya, menemani pemuda itu sampai mati.
Karena alasan itulah Ophis merubah status Ouroboros Dragon yang disandangnya menjadi manusia, mungkin bukan manusia seutuhnya, dia bisa disebut sebagai Manusia Naga atau Human Dragon.
Bagaimana cara Ophis malakukan itu?, bagaimana dia bisa menjadi seorang manusia?. Ingat status Naruto sekarang? Naruto sudah kehilangan tubuh manusianya yang dulu, yang berambut pirang itu lo. Untungnya Naruto mengonsumsi buah chakra sehingga energi kehidupannya sangat besar dan bertahan cukup lama di ruang demensi. Setelahnya secara kebetulan Ophis menemukan energi kehidupan itu, dia membuatkannya tubuh sebagai wadah dari sisa-sisa energi tersebut. Itulah Naruto yang sekarang, manusia yang berada di tubuh buatan Dragon.
Nah, kasus Ophis adalah kebalikan dari Naruto. Ophis meminta Naruto menciptakan sebuah tubuh dengan kemampuan Gate of Creation. Dengan kemampuan penciptaan yang diperoleh setelah mengunsumsi buah chakra, Naruto bisa menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Seperti halnya teknik Banbutsu Sozo no Jutsu milik Rikudō Sennin, Ōtsutsuki Hagoromo. Dengan teknik ini dia mampu menciptakan makhluk bernyawa yaitu sembilan Bijuu. Bedanya Naruto tidak bisa menciptakan sesuatu yang bernyawa seperti yang dilakukan Rikudō Sennin, mungkin level keduanya masih belum setara atau mungkin Naruto tak akan bisa mencapai tingkatan seperti itu sampai umurnya berkahir.
Pada tubuh ciptaan Naruto, Ophis memasukkan energi kehidupannya sehingga jadilah Ophis yang sekarang, Dragon yang berada di tubuh manusia.
Sungguh lucu bila diperhatikan secara seksama tentang perihal yang dilakukan dua sejoli ini. Ophis menciptakan tubuh untuk Naruto, sementara Naruto menciptakan tubuh untuk Ophis. Jadi kaya tukar-tukaran gitu.
Dengan begini Ophis sudah menayamai Naruto, yaitu sama-sama memiliki status setengah manusia dan setengah dragon. Status manusia itu ditujukan pada kehidupan mereka yang sama seperti manusia pada umumnya, bisa makan, bisa sakit, bisa tua, dan tentu saja bisa mati. Sementara status setengah dragon itu ditujukan pada kekuatan luar biasa mereka yang menyamai bangsa dragon, bangsa terkuat diantara bangsa lainnya.
Kembali kemasalah Ophis yang terkena sakit demam. Naruto masih setia menemani gadis dragon itu.
"Apa kau menyesal menjadi manusia, Ophis?"
Ophis kembali menatap Naruto, menatap wajah tampan pemuda itu. Menurut Ophis wajah Naruto adalah yang terbaik karena itu adalah buatannya sendiri.
"Menjadi manusia memang merepotkan,, tapi kau tau Naruto? Aku tidak menyesal telah menjadi manusia, aku sekarang merasakan sensasi aneh di dadaku, sesuatau yang luar biasa yang belum pernah aku rasakan sewaktu masih menjadi seorang Dragon sejati."
"Maksudmu sensasi panas demam ini?" Tanya Naruto.
Ophis menggeleng, "Bukan panas demam, tapi sesuatu yang hangat disini." Ophis mennyentuh bagian dadanya dengan tangan, sementara sebuah senyum tercipta di wajahnya yang memerah entah karena demam atau hal lain.
"Aku merasakan cinta kapadamu."
Sapphire itu bergetar, sorotnya membulat dan warna biru yang sedingin es itu menghangat. Perkataan Ophis barusan sangat bermakna bagi Naruto. Dulu Naruto pernah mendengar yang seperti ini, saat melawan Pain, saat Hinata datang menolongnya dan menyatakan perasaannya. Bedanya saat itu Naruto masih terlalu polos dan tidak peka terhadap beberapa kata yang sangat bermakna itu. Saat ini sudah berbeda, Naruto memahami betul apa itu mencintai dan dicintai.
Naruto menggenggam tangan halus gadis itu erat, terasa sangat hangat kerena demam yang saat ini dialaminya. Keduanya saling menatap, sapphire dan mutiara malam bertemu, menyalurkan apa yang ada di hati keduanya.
"Ophis, cepatlah sembuh."
.
.
.
.
Empat orang sedang berkumpul di sebuah ruangan yang minim cahaya sehingga tidak terlalu menampakkan bagaimana wajah dan ekspresi mereka. Keempatnya duduk mengelilingi sebuah meja berbentuk bundar, meja yang umum digunakan dalam setiap rapat.
"Bagaimana persiapannya?" Tanya seorang pria tampan mengenakan baju besi hitam dengan jubah. Dia memiliki rambut coklat panjang yang sampai ke punggung dengan poni menutupi mata kanannya.
"Sudah mencapai 80%. Mungkin tinggal beberapa hari lagi akan sempurna, tapi aku tidak bisa menggabungkan kekuatan Ophis karena kita kehilangan Samael. Jadilah kekuatan ophis yang cuma setengah itu sebagai penghubung kita untuk mengendalikannya." Jawab seorang pria paruh baya berusia 40 tahunan dengan rambut perak gelap dan mata cokelat. Dia memiliki rambut perak panjang dan janggut serupa serta aura tak berdasar dan menyeramkan di sekujur tubuhnya. Dia juga mengenakan pakaian Maou Lucifer.
"Hahh,, begitu ya? Sayang sekali Samael harus tewas. Kalau saja dia masih ada kita bisa menggabungkan kekuatan Ophis dalam proses kebangkitannya." Sahut pria tampan dengan rambut hitam diikat di ekor kuda kecil dan bermata ungu. Dia juga memiliki telinga runcing dan kulit pucat. Dia mengenakan pakaian bangsawan, yaitu pakaiannya hitam dengan ikat pinggang merah dan beberpa motif. Dia juga mengenakan jubah.
"Benar sekali, dan aku tidak menyangka ada orang yang menginginkan kematian Samael. Orang itu,, aku merasakan pancaran kekuatannya..." Sosok lainnya juga ikut bicara, dia berpenampilan kerangka yang mengenakan pakaian imam tinggi, mengeluarkan aura menyeramkan di sekelilingnya.
"...dia sangat kuat."
.
.
.
.
Naruto sedang bersandar pada sebuah pohon yang rindang, di sampingnya juga bersandar seorang gadis yang sudah sangat dekat dengannya selama berada di dunia ini. Ophis, sang Ouroboros Dragon yang kini telah menjadi Human Dragon.
Setelah beberapa waktu Ophis mengalami demam perdana dalam sejarah hidupnya, sekarang dia sudah sehat kembali dan memutuskan untuk mencoba melakukan beberapa kegiatan seperti latihan menggunakan kekuatan pada tubuh barunya.
Sekarang dua sejoli itu sedang istirahat setelah selesai melakukan beberpa latihan ringan, mereka juga sempat melakukan pertarungan kecil yang berakhir dengan hasil imbang.
"Bagaimana rasanya tubuhmu, Ophis?" Tanya Naruto.
Ophis menoleh kearah Naruto, dia meletakkan satu jari di dagu sambil membuat pose berpikir yang imut. "Entahlah, aku tidak bisa terlalu menjelaskannya. Saat ini aku merasakan berbagai macam sensasi yang dulu tidak pernah aku rasakan. Lelah, lapar, haus, dan berbagai keinginan yang dulu tak pernah terpikirkan sekarang mulai bermunculan dikepalaku."
"Apakah itu mengganggumu?"
Ophis menggeleng merespon pertanyaan Naruto. Dia bangkit berdiri dan menghadap ke arah Naruto. Penampilan Ophis sekarang sedikit berbeda dari sebelum menjadi manusia, tubuhnya terlihat lebih tinggi dan lebih dewasa, tidak seperti dulu yang mirip anak-anak. Wajah Ophis tetap saja terlihat imut-imut datar, sementara dua buah gumpalan di dadanya terlihat lebih menonjol dan menggairahkan. Ophis masih mempertahankan gaun maid selutut dominasi warna putih hitam yang dulu dipakainya, namun sekarang dengan ukuran yang lebih besar karena tubuh Ophis yang menjadi lebih dewasa.
Sebuah senyum tercipta di wajah datar Ophis, sambil menatap Naruto dia berkata, "kau tau Naru-kun? Aku sekarang merasa ingin sesuatu selain makanan dan leher Great Red. Coba tebak!"
Naruto menaikkan sebelah alisnya, soalnya ini pertama kalinya Ophis mengajaknya main tabak-tebakan. Memang bukan hal yang aneh sejak menjadi manusia, Ophis sering memunculkan hal-hal baru akhir-akhir ini.
"Apa?" Tanya Naruto. Sepertinya dia langsung menyerah untuk menjawab pertanyaan Ophis.
Ophis melompat ke arah Naruto, membuat keduanya bertubrukkan dengan posisi Ophis menindih Naruto. Senyum Ophis masih tak luntur, wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Naruto.
"Aku ingin Naru-kun, aku ingin melakukan berbagai hal bersamamu, bermesraan bersamamu hingga bercinta untuk membuat bayi dragon. Ohh,, aku ingin bayi laki-laki yang mirip seperti Naru-kun." Ucap Ophis dengan lancar.
Naruto terdiam sebentar dengan wajah melongo yang lucu, hingga kemudia ia sadar dengan apa yang dikatakan Ophis barusan.
"Kau bercanda kan?"
"Tidak, aku sangat serius. Nah,, ayo kita lakukan sekarang."
Keadaan mulai tak terkendali, Naruto sadar kalau kepolosan Ophis membawa mereka kedalam kondisi yang tidak layak untuk dilakukan di tempat terbuka.
"LAKUKAN SEKARANG?,, oh ayolah, kau pasti sudah gila! HENTIKAN!" Naruto berteriak panik saat Ophis melepaskan satu persatu kancing jubah yang dipakai Naruto. kegiatan Ophis tidak berlanjut karena Naruto langsung menghentikannya.
"Ophis, aku tidak tahu apa saja yang ada di pikiranmu, tapi tolonglah bersikap seperti manusia normal pada umumnya." Ucap Naruto.
"Kuroka sering mengatakan kalau dia ingin bayi dragon. Katanya juga kalau membuatnya itu harus dengan orang yang dicintai. Hal itu sangat menyenangkan." Sahut Ophis dengan polosnya.
Naruto menepuk jidatnya, merasa kesal, emosi dan berbagai macam gejolak batin dialami pemuda Uzumaki itu sekarang.
"Kau harus banyak belajar cara hidup sebagai manusia, Ophis."
Setelah itu kegiatan tidak penting mereka berlanjut. Naruto dan Ophis kembali ke apartement untuk pembelajaran yang akan Ophis lakukan. Tentang bagaimana menjadi manusia normal.
Satu jam berlalu Ophis habiskan untuk mendengarkan ceramah Naruto seputar cara kehidupan manusia, tentang peraturan umum yang tidak boleh dilakukan kecuali telah menikah, dan berbagai hal yang bersangkutan tentang sosial.
"Sudah jelas kan, Ophis?" Tanya Naruto setelah selesai dengan ceramahnya.
Ophis hanya mengangguk menjawab pertanyaan Naruto, itu membuat Naruto cukup senang. Memang Ophis adalah pribadi yang cerdas dan mudah memahami sesuatu dengan cepat dan mudah.
"Kalau begitu,, ayo kita menikah dan segera membaut bayi Dragon."
Sayangnya Ophis masih terlalu polos, wajar saja sih. Dia baru beberapa hari menjadi manusia. Itu artinya Ophis baru lahir beberapa hari saja, dengan memiliki tubuh seorang gadis muda.
Naruto menghembuskan napas lelah, sepertinya Ophis masih belum paham seutuhnya. Tapi tak ada waktu untuk mengulang penjelasan itu, karena sekarang ada hal yang lebih penting untuk dibahas.
Sapphire itu menatap Ophis serius, Naruto akan mulai membahas masalah yang sangat penting. Ophis juga menyadarai tatapan Naruto dan bersiap mendengarkan apa yang akan disampaikan pemuda itu.
"Ophis, aku mau membahas tentang kekuatan kita berdua saat ini. Kita harus mengetahui tingkat maksimal kekuatan kita untuk menghadapi musuh besar yang sebentar lagi akan muncul."
.
.
.
.
Suasana kota Kuoh terlihat biasa seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada sesuatu yang spesial pada cerahnya sinar mentari dipagi hari. Keadaan jalan kota juga biasa saja, yaitu ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang, ada yang pergi ke kantor untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup, ada yang berangkat sekolah bagi para siswa dengan tujuan belajar namun akhirnya malah asyik bermain, dan ada juga yang tak punya tujuan sama sekali seperti seorang yang hanya ingin bersantai ria.
Salah satu dari tiga katagori kelompok manusia yang disebutkan tadi, ada seorang pemuda bersurai merah terang sedang berjalan santai menuju Academi Kuoh. Apakah dia merupakan salah satu murid disana? Oh, tentu saja tidak, dia punya tujuan lain datang ke tempat siswa yang didominasi kaum hawa itu.
Saat ini Naruto hendak menemui Rias dan kelompoknya. Ya,, setelah latihan tanding mereka yang sama sekali tidak seimbang beberapa waktu lalu, Naruto langsung pergi begitu saja meninggalkan Rias dan budak-budaknya dalam keadaan tak sadarkan diri. Beruntungnya ada tiga anggota OSIS disana yang mengurisi mereka.
'Kekalahan dalam latihan tanding semalam pasti membuat semangat mereka jadi down, mungkin ada baiknya aku menemui mereka dan memberikan sedikit sapaan penyemangat.' Sambil bergumam dalam pikirannya, Naruto akhirnya sampai ketempat tujuan.
Academi Kuoh, sebuah sekolah dengan bangunan yang terkesan mewah karena dinaungi oleh keluarga bangsawan Sitri dan Grimory. Tempat dimana Issei bersama teman-temannya bermain dan belajar (lebih banyak mainnya sih dari pada belajar.)
Naruto berhenti di depan gerbang utama Academi, dia menyaksikan para murid yang didominasi kaum perempuan berjalan bergiringan memasuki gerbang Academi, mereka semua memakai seragam sekolah yang sama.
Naruto terdiam, dia belum memikirkan bagaimana cara biar bisa masuk ke wilayah Academi, dia bukan murid disana sih. Berbagai ide-ide mulai terpikirkan dikepalanya seperti menyamar menjadi murid Academi dengan Hange no Jutsu. Naruto menggeleng setelahnya, soalnya di tempat ini ada beberapa Iblis yang bisa mengetahui kalau Naruto menggunakan Hange no Jutsu. Naruto akan dianggap sebagai penyusup nantinya.
"Ka-kau, Uzumaki Naruto.."
Senyum mengambang dari bibir seorang Uzumaki Naruto, solusi dari masalahnya langsung datang. Hyoudou Issei bersama Asia Argento dan Xenovia berangkat sekolah bersama, dan secara kebetulan bertemu dengan Naruto didepan gerbang Academi.
"Kebetulan sekali, aku memang sedang mencari kalian." Ujar Naruto.
"Mencari kami? Apa yang kau perlukan?" Tanpa basa-basi, Issei langsung saja menanyakan tentang tujuan Naruto.
"Oh, kau langsung serius saja. Sebenarnya aku ingin bertemu dengan pemimpin kelompok kalian." Jawab Naruto santai.
"Apa yang kau inginkan?" Kali ini Xenovia yang bertanya, dengan nada tegas dan penuh curiga.
Naruto menoleh kepada gadis berambut dominasi warna biru itu, "Ada beberpa hal yang ingin aku bicarakan dengannya."
Isssei menghembuskan napas pelan mendengar jawaban Naruto yang terdengar masih samar. "Baiklah." Ucapnya.
"Terima kasih mau mengerti." Naruto mengatakannya dengan diiringi senyum tipis.
Issei dan yang lainnya memang tidak terlu menyukai Naruto, tapi kenyataan kalau dia sama sekali tidak berbuat sesuatu yang mengancam sampai saat ini adalah alasan mereka tidak menolak permintaan pemuda berambut merah itu.
Naruto mengikuti ketiga budak Gremory itu menuju markas mereka, atau biasa dikenal dengan ruang Klub Penelitian Ilmu Gaib. Sungguh nama yang aneh bagi sebuah Klub sekolahan.
Beberapa menit berjalan akhirnya mereka sampai ketujuan. Sebuah bangunan yang terkesan biasa, berada di belakang gedung utama Academi, tempat yang cukup terasingkan bila deperhatikan, sangat sesuai dengan nama klub yang disandang penghuninya, Klub Penelitian Ilmu Gaib.
Naruto pernah mengunjungi tempat ini beberapa waktu lalu, tapi langsung masuk kedalam menggunakan sihir teleportasi buatan Akeno.
Tok.. Tok..
Mengetuk pintu beberapa kali, Issei berucap, "Buchou, kami masuk ya.." tanpa menunggu jawaban dia membuka pintu yang memang tidak dikunci, memperlihatkan penampilan dalam ruangan yang cukup mewah bernuansa khas eropa.
Nauto masuk ke ruangan itu setelah Issei dan dua gadis lainnya lebih dulu di depannya. Memperhatikan suasana ruangan yang pernah Naruto lihat beberap waktu yang lalu, saat pembicaraannya dengan Rias dan berujung pada kesepakatan latihan tanding.
Rias, Akeno dan kiba yang sudah ada disana cukup dibuat terkejut begitu melihat kedatangan Naruto.
"Uzumaki Naruto?" Kata Rias dan Akeno bersamaan.
"Senang melihat kalian sehat-sehat saja." Balas Naruto, dia menatap dua gadis bertubuh bohai itu. "Tapi tolong panggil aku Naruto saja, kita sudah cukup saling kenal, kan?"
Seperti kunjungan Naruto sebelumnya, dia dipersilahkan duduk dikursi tamu, berhadapan dengan Rias dan budak-budaknya yang berdiri di belakang tempat duduk Raja mereka.
Diantara Naruto dan Rias dipisah sebuah meja yang terdapat dua cangkir teh hangat beserta beberapa kue kering sebagai cemilan.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Seperti Issei, Rias juga langsung to the point, langsung merujuk ke pokok masalah.
Naruto jadi sweatdrop, dia menghembuskan napas pelan kemudian berkata, "Oh ayolah, apakah keluarga Grimory selalu serius?, apa kalian tidak bisa santai sedikit? Aku hanya ingin memeriksa keadaan kalian setelah latihan tanding dengan ku."
Rias memicingkan matanya tajam, "Apa kau kesini cuma ingin mengejek kami?"
"Hahahaha, tentu saja tidak. Aku sebenarnya mau menanyakan persiapan kalian tentang turnamen para Iblis yang akan kalian ikuti beberapa hari lagi."
"Maksudmu Rating Game?"
"Yaa apalah namanya, tapi karena ada sedikit masalah membuat turnamen itu harus ditunda hingga sekarang. Dan juga, bukan hanya masalah itu saja yang ingin kubahas, kau tentu mengertikan?"
"Aku tidak tahu dari mana kau mendapatkan informasi yang begitu akurat. Hanya saja,," Rias menajamkan pandangannya, "Rating Game kali ini mungkin tidak akan berjalan lancar. Besar kemungkinan kalau para pemimpin satan lama akan memulai perang saat itu."
"Begitu rupanya, jadi kalian menjadikan turnamen ini sebagai umpan supaya para pemimpin satan lama muncul untuk memulai perang, dan kalian telah mempersiapkan kekuatan untuk mengalahkan mereka. Heh,, sungguh licik."
"Apa yang akan kau lakukan Naruto-san?, apa kau akan ikut campur dalam perang?, dan yang lebih penting adalah,," tatapan Rias makin tajam.
"Pihak mana yang kau dukung?"
Naruto tetap saja terlihat tenang, dia tidak terpengaruh dengan tajamnya sorot mata Rias, dengan santai berkata, "Entahlah, hanya saja mungkin aku akan ikut hadir dan melakukan sedikit tindakan".
Braakkk..
Rias menggebrak meja, membuat gelombang pada teh di dua cangkir itu. Budak-budak Rias juga cukup dibuat terkejut dengan tindakan Raja mereka yang mendadak emosi, tapi sama sekali tidak berpengaruh pada Naruto.
"Jangan main-main! Kami sudah setuju untuk tidak ikut campur dalam urusan Ophis dan Great Red. Kalau kau ingin mengacau dalam perang ini, maka ketiga pihak Aliansi tidak akan tinggal diam." Ucap Rias tegas.
Naruto diam sebentar, tidak langsung menyahut perkataan tegas Rias, sepertinya ada beberapa hal yang sedang dia perhitungkannya. Sebenarnya tujuan utama Naruto menemui Rias adalah untuk menambah informasi tentang perang yang akan terjadi. Sekarang ada beberapa informasi yang sudah disampaikan Rias, itu cukup untuk Naruto memutuskan tindakan apa yang akan dia lakukan.
"Begitu ya?, tenang saja, kalian tidak perlu khawatir tentang apa yang akan aku lakukan. Kalian bukan musuhku, dan pemimpin satan lama juga bukan musuhku, hanya saja,,," Sapphire itu menajam, menampakkan kekuatan yang diselimuti kemarahan. "Ada sesuatu yang menggangguku dari pihak satan lama, sesuatu yang sangat besar hingga kalian mungkin akan kesulitan menanganinya."
Rias dan budak-budaknya cukup dibuat gemetar saat melihat tajamnya sorot mata pemuda itu ketika amarahnya keluar, terdiam untuk beberapa waktu sampai Rias kembali membuka mulut untuk bicara,
"Sesuatu yang sampai membuatmu terganggu?, itu pasti sangat besar. Apa itu?" Tanya Rias.
Sorot dua bola sapphire itu kembali melembut sementara bibirnya membuat senyum misterus. "Heh,, kalian akan mengetahuinya nanti."
Bangkit dari posisi duduknya, Naruto menatap seluruh orang di hadapannya,, "Nah, aku punya pesan untuk kalian semua. Berhati-hatilah saat menghadapi Diodora Astaroth."
Setelah mengatakan itu, tanpa permisi Naruto langsung menghilang dalam kilatan cahaya emas, itu adalah teknik Hiraishin.
Keadaan ruangan menjadi sunyi setelah kepergian Naruto, suasana yang sebelumnya cukup menegangkan kini sudah kembali seperti sebelumnya, sebelum kedatangan Naruto.
"Orang itu,, apa maksudnya sih?" Issei bergumam kesal melihat tingkah Naruto yang main pergi seenaknya saja.
"Tadi dia bilang Diodora Astaroth, kan?" Sambil meletakkan telunjuk di dagunya, Akeno mengucapkan pesan yang Naruto sampaikan.
Kedua mata Rias melebar mendengar nama itu, nama dari salah satu keturunan iblis yang akan berpartusipasi dalam Rating Game.
.
.
.
.
Azazel saat ini sedang duduk santai sambil memegang sebuah gelas besar berisi anggur merah. Ditelinganya nampak sebuah lingkaran sihir kecil, itu adalah sihir komonikasi jarak jauh, mirip seperti telepon. Azazel sedang berbiacara dengan seseorang.
"Maaf tidak mengatakan ini secara empat mata, Sirzechs. Mengenai kematian tak disengaja pewaris keluarga Glasyia-Labolas dan meningkatnya Diodora Astaroth yang tiba-tiba. Juga informasi lain mengenai pemimpin Chaose Brigade, Ophis yang telah kehilangan sebagian kekuatannya karena diambil Samael, serta Pulau Langit Agreas yang tidak bisa diakses dalam beberapa waktu terkhir." Ucap Azazel.
Sirzechs yang menjadi lawan bicara di suatu tempat menyahut, "Jadi mereka sudah menangkap sesuatu yang besar, terlihat jelas kalau semua itu saling berkaitan, ya?"
"Benar sekali, Sirzechs. Dan kau tahu berita paling mengejutkannya? Samael telah dibunuh oleh Uzumaki Naruto." Azazel mengatakan itu sambil mengangkat gelas di tangannya, menatap cairan merah nikmat itu.
"Itu artinya, laporan Rias mengenai peringatan dari Uzumaki Naruto tidak boleh dianggap sepele."
"Benar, dia pasti tahu sesuatu tentang mereka, dan dia juga pasti akan ikut terlibat. Itu bisa menajadi keuntungan bagi kita atau mungkin sebaliknya."
"Hahh,," Sirzechs menghembuskan napas lelah. "Memang tidak ada pilihan selain menjalankan rencana buatanmu, ya."
"Hahahaha." Azazel tertawa lepas mendengar perkataan pasrah dari Sirzechs. "Begitulah, Michael dan Odin telah memberi izin. Sementara Rias dan kelompoknya juga setuju untuk menjadi umpan dalam rencana ini."
.
.
.
.
Dengan lingkaran sihir teleportasi, Rias dan budak-budaknya sampai di dunia bawah atau sering disebut Underworld. Semuanya bersiap untuk menghadapi Diodora Astaroth dalam ajang Rating Game.
Sebuah tempat yang terdapat banyak menara batu berdiri runcing. Sekitar satu kilometer di hadapan mereka ada sebuah kuil yang dibangun di atas bukit batu besar. Jauh di ujung pandangan terdapat sebuah pulau melayang, itu adalah Pulau Langit Agreas. Pulau yang masih misterius bagi penduduk Underworld karena kondisinya yang melayang seperti tak terikat dengan hukum gravitasi.
Pulau Langit Agreas terlihat dikelilingi oleh kekkai yang samgat tebal dan kuat hingga terasa mustahil untuk ditembus meskipun dengan serangan super kuat. Pihak aliansi menduga kalau tempat itu adalah markas Pimpinan Satan lama.
"Tempat inikah yang kita tuju?" Tanya Kiba.
"Sesuai dugaan. Suasana disini sangat aneh, bahkan wasit dan penyiarnya pun tidak ada." Ujar Rossweisse.
"Semuanya berhati-hati! Ingat misi yang diberikan Azazel Sensei kepada kita." Rias mengingatkan para budaknya tentang tujuan utama mereka ada ditempat ini
"Ha'i, Buchou." Jawab mereka serentak selain Rossweisse.
Asia celingak celinguk menatap sekitar, dia menajamkan indra penglihatannya saat melihat sebuah lingkaran sihir muncul tak terlalu jauh dari mereka.
"Lingkaran sihir itu.." Asia menunjuk kearah munculnya lingkaran sihir, yang lain juga ikut memperhatikan dengan seksama.
Tak berselang lama lingkaran lainnya ikut bermunculan, jumlahnya sangat banyak hingga seperti bintang di langit.
"Wasapadalah! Itu bukanlah lambang Astaroth." Kata Rossweisse memperingati.
"Boosted Gear!"
Issei langsung mengaktifkan Boosted Gear-nya, berupa armor naga warna merah mengkilat yang melapisi tangan kirinya.
"Boost!"
Suara mekanik mengikuti bersinarnya cahaya yang muncul dari kaca hijau di punggung tangan Issei.
Kiba dan Xenovia langsung mengeluarkan pedang andalan masing-masing, sementara Koneko langsung masuk ke mode Nekosho dengan munculnya dua telinga kucing diatas kepala dan satu ekor dipantatnya.
"Kalau tidak salah, lambang ini.." Rais menatap tajam sekeliling, kepada ratusan lingkaran sihir yang mengeluarkan makhluk berpakaian armor hitam dan topeng bertanduk dua, di belakang mereka nampak dua sayap kelelawar yang menandakan mereka adalah ras Iblis.
"...punya iblis yang bersumpah setia kepada Fraksi Raja Iblis terdahulu."
"Itu artinya Rating Game jelas batal, mereka berencana memulai perang disini sekarang juga." Ujar Xenovia.
"Wahai Keluarga Raja Iblis palsu yang hina, Gremory. Aku akan musnahkan kalian disini."
Bersamaan dengan suara dari seorang yang juga muncul diantara gerumunan pasukan berarmor yang melayang di udara, Asia terbang melayang dengan posisi tebalik dalam keadaan tak sadarkan diri menuju orang tersebut.
"Asia!" Teriak Issei.
"Yo, aku telah mengambil Asia Argento." Ucap orang tersebut sambil tersenyum dengan mata tertutup khasnya, satu tangannya memegang kaki Asia.
"Diodora Astaroth!" Kata Rias terkejut.
"Kurang ajar! Apa yang kau lakukan pada Asia?" Issei terus berteriak sambil melepaskan amarah kearah Diodora Astaroth yang mengambil Asia dari mereka.
"Diodora Astaroth, apa maksudnya ini?" Tanya Rias juga sambil berteriak.
"Pasukan dari pengikut Raja Iblis lama akan membunuh kalian semua di sini." Diodora mengatakan itu sambil membuat seringaian keji, bahkan matanya yang hampir tak pernah terbuka kini menampakkan sorot yang teramat kejam.
"Ternyata kau tidak berniat untuk Rating Game, kau hanya ingin merebut Asia dari kami. Benar-benar kurang ajar! Kau mencemarkan nama baik Rating Game! Bersiaplah, maut telah menantimu." Kata Rias dengan amarah yang meluap-luap, bahkan cahaya kemerahan dari Power of Destruction terpancar kuat dari tubuhnya.
"Hahahahha. Jangan asal menuduh begitu, bukankah kalian juga punya tujuan lain datang kesini, hah? Kita sama-sama mencemarkan nama baik Rating Game."
Rias terdiam mendengar perkataan Diodora. Memang benar kalau mereka punya misi ke tempat ini, tapi misi itu akan berlaku jika terjadi serangan dari pasukan Iblis terdahulu, dan yang dilakukan Diodora sekarang adalah salah satunya.
"Yah, nikmati saja dulu kekuatan dari pasukan yang tak terhitung ini. Selama kalian bertarung, aku akan bersatu dengan Asia di kuil itu. Apa kau mengerti maksudku, Kaisar Naga Merah?" Tatapan keji dan seringaian sadis diarahkan Diodora khusus kepada Issei. Itu sukses membuat gejolak amarah Pemuda penyuka oppai itu makin menjadi.
"Berengsek kau-"
wuussss...
Umpatan Issei terhenti begitu Xenovia melesat dengan pedang Ex-Durandal di tangannya.
"Asia adalah temanku. Tak akan kubiarkan kau membawanya kabur!" Xenovia mengarahkan pedangnya lurus ke arah Diodora sambil terus melesat dengan kecepatan tinggi, dua sayap kelelawar dipunggungnya membantu untuk menambah pawer serangan.
Bukannya takut, Diodora malah tersenyum licik, dia menarik kaki Asia membuat tubuh gadis mantan biarawati itu menjadi temeng untuk melindunginya dari serangan Xenovia. Itu membuat Xenovia harus membelokkan arah serangan supaya tidak melukai Asia.
Tap..
Xenovia mendarat di atas salah satu menara batu, dia menatap benci ke arah Diodora Astaroth.
"Dasar pengecut!" Umpat Xenovia kesal, dia tidak bisa melakukan serangan kalau Asia masih berada dalam genggaman Diodora.
"Selamat tinggal." Setelah mengatakan itu, Diodora menghilang bersama Asia dalam lingkaran sihir.
"Asiaaa..!" Issei berteriak histeris, ia jatuh berlutut di tanah, bebarapa butir air mata jatuh ke tanah.
"Sialan..!"
Bug!
Issei memukul tanah sambil menangis, dia merasa tidak berguna karena tidak bisa menjaga Asia dan membiarkannya diambil orang lain bahkah di hadapannya sendiri.
"Apanya yang melindungi Asia? Lagi-lagi.. aku hiks.. hiks.."
"Issei-kun, untuk sekarang fokoslah pada musuh-musuh ini. Setelah itu, ayo kita selamatkan Asia!" Kiba mengigatkan Issei tantang tujuan mereka, tentang musuh yang saat ini ada di hadapan mereka.
Issei tersadar. Benar apa kata pemuda berpedang itu, percuma saja meratapi kepergian Asia, yang diperlukan saat ini adalah berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan Asia.
"Yah... Benar. Benar katamu. Terima kasih, Kiba." Issei bangkit berdiri dan menatap pasukan musuh yang berhamburan di langit.
"Mereka ada banyak sekali. Aku tidak yakin penghalang kita bisa menghentikan serangan mereka dan bertahan sampai bantuan datang." Rias mencoba memperkirakan kekuatan mereka dan pasukan musuh.
Tim Rias diunggulkan kerana memiliki dua pengguna pedang pecahan Excalibur dan sekiryuutei, tapi terdapat perbedaan jumlah yang sangat banyak dengan pasukan musuh.
"Ehh..?!"
Teriakan dari Akeno membuat perhatian semuanya teralihkan dari pasukan musuh kepada sesosok lelaki tua dengan tongkat ditangannya. Dia memiliki rambut panjang beruban dan jenggot yang serasi. Dia memakai kacamata berlensa emas dan putih di atas mata kirinya, tanpa tambahan rantai. Lelaki tua itu mengenakan jubah putih dengan lapisan emas pada beberapa bagian, serta sepatu yang serasi dengan jubahnya.
"Ohohohoboho.. emmm, kau punya pantat yang sangat indah. Lekukan gemulai dara muda ini memang tak tertahankan." Ucap si Lelaki tua sambil mengangkat rok Akeno untuk memperlihatkan celana dalam warna ungu yang dipakainya.
"Odin-sama, sejak kapan anda disini?" Tanya Rias.
Lelaki tua yang bernama Odin itu melepaskan rok Akeno kemudia menghadap ke arah kelompok Rias. "Ohohohoboho... Jadi, akulah yang telah dipinta oleh si bocah Azazel datang kesini untuk membasmi mereka." Ucapnya.
"Jadi cuma anda yang menjadi bala bantuannya? Anda tidak mungkin bisa melawan semuanya sendiri- ugh!"
Tuk!
Kepala Issei langsung dijatuhi tongkat yang dipegang Odin. "Butuh seribu tahun lagi bagimu untuk mengkhawatirkanku, bocah." Ucapnya dengan nada cukup kesal karena diremehkan.
Odin mengadah, menatap pasukan musuh yang masih belum mulai melakukan serangan pertama, mereka sepertinya menunggu perintah dari seseorang.
"Seperti yang sudah diduga sebelumnya, Diodora Astaroth telah berkhianat di belakang kami." Odin kemudian mengangkat dua tangannya sembil berseru nyaring, "Nah kemarilah! Aku adalah sang Bapa Agung, Dewa dari Eropa Utara. Aku yang akan menjadi lawan terkhir dalam hidup kalian."
Mendengar teriakan dari Odin membuat ribuan pasukan Iblis itu langsung melesat menyerang. Sementara Odin hanya tersenyum miring menyaksikan itu.
"Gungnir!"
Pusaran air tercipta di samping kanan Odin, dari situ keluar sebuah tombak bermata tiga yang terbuat dari emas. Odin mengambil tombak itu, memutarnya beberapa kali dengan lihai kemudian mengarahkannya kepada pasukan musuh.
Gelombang energi berwarna ungun memadat pada ujung ketiga mata tombak. Itu melesat ke arah pasukan musuh dan mumusnahkan sebagian besar mereka yang berada dalam jangkauan serang Odin.
"Gi-gila!" Issei dan yang lainnya terpana melihat betapa kuatnya serangan yang dilancarkan Odin hingga mampu menyapu bersih pasukan musuh hanya dengan satu serangan.
Odin menoleh sedikit kebelakang, ke arah Rias dan budak-budaknya. "Sudah waktunya kalian pergi. Pak tua ini akan mengatasi garis depan ini untuk kalian. Andalkanlah keberuntungan kalian."
Rias tersadar dengan tujuan mereka untuk menyelamatkan Asia. ""Odin-sama, kalau begitu aku ucapkan terima kasih atas tawarannya."
"Sudahlah. Terkadang Pak Tua ini butuh latihan agar tubuhnya tetap bugar." Jawab Odin, dia kemudian melesat ke arah pasukan musuh.
"Ayo kita langung menuju ke kuil itu!" Seru Rias kepada anak buahnya.
"Siap laksanakan!" Jawab mereka bersamaan.
x.X.x
Sementara itu dari sudut arah area peperangan, seorang pemuda bersurai merah muncul dari sebuah portal demensi. Bersamanya mengikut seorang gadis bersuarai hitam panjang.
Pemuda itu, Uzumaki Naruto menyaksikan pertarungan gila-gilan Dewa dari metologi Eropa Utara, Odin melawan pasukan Iblis yang membela pimpinan Iblis lama.
"Menarik sekali. Orang tua itu memiliki kekuatan besar dan kepercayaan diri tinggi untuk melawan seluruh pasukan musuh sendirian."
Naruto kemudian memindahkan perhatiannya kepada kelompok Rias yang sedang menuju kuil, tempat Diodora Astaroth menahan Asia.
'Mereka dalam bahaya. Kuil itu memang cukup jauh dari pulau terbang, tapi kalau makhluk itu sampai lepas dan mengamuk maka seluruh tempat ini bisa hancur.'
Naruto terus memperhatikan ke area perang lainnya, cukup jauh tapi masih bisa dilihat jelas oleh Naruto dengan Rinnegan yang sudah aktif di kedua matanya.
'Mereka sudah mulai menunjukkan diri.'
.
.
.
.
.
To be Continued. . . .
Note : Nah jumpa lagi bersama saya,, sekarang saya sudah kembali dari pondok, soalnya liburan diperpanjang lg. Alasannya pasti pd tahu semua lah. Saya jg agak lupa apakah ini sdh satu minggu? Ah, yg penting dah up nah.
Oke,, chap ini membahas awal arc baru yaitu perang. Nah, untuk maslah Ophis yang menjadi Human, itu aku buat supaya dia bisa lebih berekspresi dan berhasrat kepada sesuatu selain Great Red. Kita tahu bersama kan kalau obsesi Ophis cuma satu aja selama ini. Masalah teori penciptaan tubuh itu buatan semua, jdi mungkin akan ada sedikit kekeliruan. Tapi, yaaa ada sih ambilan juga dari animenya.
Pemabahasan Review :
Katanya mirip sama karya si Hitam?, yap memang. Sdh aku jelasin di chap kemaren. Selanjutnya utk yg bilang lnjt, super, cur cur melincur dll. Oke dah lanjut nih, dan mksh dah review.
Buat yg nanya apakah Naru dan msk 10 jajaran mkhluk terkuat? Entahlah,, saya gak tahu siapa urutan pertama sampai sembilannya, hehehe. Tpi Naru emang kuat banget kok.
Untuk AhegaoDoublePeace, mksh dah mau benerin kesalahan aku, km baik sekali mau nunjukin letaknya secara tepat. Penulisan nama kuroka itu benar² kecerobohanku. Selanjutnya untuk - KUN, mksh tuk review nya yg istiqomah. Mudahan aku jg bisa gitu, aku akan berusaha tuk up dan tamatin, semua alur cerita dah aku pikirkan, tinggal masalah waktu ngetik aja lg. Mohon do'a nya ya.
Untuk yang pengin bgt Naru kmbl ke dunia ninja. Okeee,,, tinggal abisin arc ini dan boommm! Kembali aja nanti pas waktunya. Sabar yaa. Terus untuk The ereaser, pertama mksh bnyk dah mau review terus sampai sekarang. Masalahnya km gak jelasin apa maksud km sebelumnya, dan malah ngelontarin kata² yg singkat, padat, dan gak jelas. Seandainya km pakai akun kita bisa pm dan diskusikan supaya bisa sling tukaran informasi. Tpi gpp, aku senang km mau baca, review terus ya.
Untuk guest yg beri keritikan tentang alur cerita yg ngebosenin. Pertama aku mksh km mau baca fict sederhana ini, hebat lo bisa baca sesuatu yg ngebosenin sampai chap 17. Tpi ada kekeliruan sedikit deh menurutku. Soalnya Cao Cao nahan kekuatan dan merasa imbang sama Naru? Dilihat dari sudut manapun, Naru jelas pemenanngnya, bahkan seingatku Naru gak dapat satu luka gores pun di chap semalam. Dia lawan Fraksi pahlawan solo dan menang. Oke, masalah Truth Idea. Jika Cao Cao gunakan apakah Naru kalah? Gak bakalan! Dia baru gunakan 50% lebih kekuatannya dan tim Cao Cao dah babak belur. Terus kekuatan Naru labil? Gak bisa disimpulakan kalau gak 100% keluar kekuatannya. Gpp, aku senang km mau membenarkan kesalahan fict ini, mksh bnyk, dan review lg ya.
Terakhir untuk D'Arc 0, mksh bnyk tuk masehatnya. Uhhh,, mengena bgt. Mksh jg tuk selalu menunggu nih fict up. Aku minta maaf karena gak bisa up cepat kek dulu, soalnya waktu nulis jd sgt sedikit sekali. Aku akan berusaha.
Itu saja dulu yaa, kalau ada yg ketinggalan bisa dibahas lain waktu.
So,, Saya cukup beruntung karena ada sesuatu yang baik disisi saya. Saya adalah orang baru, jadi saya sangat mengharapkan saran, keritik, atau apapun akan saya terima. Jangan sungkan untuk meninggalkan jejak anda.
Kalau ada perlu ditanyakan juga silahkan, di review atau PM juga gpp. Akan saya jawab sebisanya, kalau gak ya,, mungkin senpai yang berpengalaman akan bisa membantu.
Akhirnya saya ucapkan terima kasih kepada yang sudah sudi meluangkan waktunya untuk membaca, apalagi yang sdh Review. So,, mohon terus do'a dan dukungannya ya, supaya saya semangat lanjutin nih fic.
