Kirito POV
"Apa kita akan benar-benar mati disini?" Pikir ku.
"Berdirilah Kirito. Ayo kita kalahkan dia" Naofumi bangkit dan menyiapkan perisai amarahnya.
"Kita hanya punya satu kesempatan. Harus berhasil" Kataku kemudian menggunakan skill dual blades. Yang sama seperti ketika wave sebelumnya.
"Fast Shield" Setelah Naofumi menggunakan shield nya aku langsung berlari ke arah Gleam Eyes Monster. "Change Shield" Naofumi mengubah shield nya menjadi Soul Eater Shield.
"Sharp Nail" Aku menggunakan skill dengan tambahan listrik dari pedang ku. Membuatnya paralyze.
"Combo attack: Blazing Leonidas" Kami menggunakan skill combo yang sama seperti wave sebelumnya.
"Kita berhasil, Naofumi" Dengan puasnya aku berkata pada Naofumi. Window pun muncul di hadapan kami. Setelah menerima nya, kami langsung keluar dari ruangan. Kami pun disambut oleh kumpulan tak diharapkan.
"Siapa kalian?! Mau apa?!" Tanya Naofumi curiga.
"Uh... Seram. Ternyata Pahlawan sepertimu bisa seram juga" Ledek seorang dengan topeng tengkorak dan mata merah menyala. Ketika menggerakan lengan kanannya, ia menunjukkan sebuah lambang. Lambang dimana orang-orang tertentu yang memilikinya. Lambang oraganisasi yang telah dicari oleh kerajaan Melromarc. Lambang dari organisasi/serikat,
"Laughing Coffin" Kataku dengan nada sedikit histeris.
"Wah, wah. Vassal Sword mengetahui kita. Semuanya, mereka tau kita. Kurasa kita harus membalas kebaikannya" Kata lelaki sebelumnya.
"Dengan cara membunuh mereka" Kata lelaki dengan kantung kertas di kepalanya.
"Air Strike Shield. Second Shield" Naofumi memunculkan 2 pelindung yang dia gunakan untuk memukul mundur beberapa dari mereka.
"Air Strike Slash" Aku menggunakan skill yang serupa dengan Naofumi. "Moonlit Slash" Menggunakan skill dan memunculkan gelombang serangan berwarna kuning.
"Kalian sudah terpojok" Kata si lelaki bertopeng tengkorak.
"Bagaimana ini, Naofumi?" Tanyaku.
"Kita tidak punya pilihan lain. Kita akan menggunakan Blood Sacrifice dan langsung membunuh mereka semua" Kami pun bersiap menggunakan Dragon Sword dan Wrath Shield. "Blood Sacri-"
"Bos, kita harus pergi. Ksatria pasukan Ratu datang" Persiapan skill kami terbatalkan oleh seorang anggota Laughing Coffin yang tiba-tiba berbicara.
"Cih. Baiklah, kita pergi" Mereka pun kabur.
"Kalian baik saja?" Tanya seorang ksatria.
"Ya. Kami baik"
"Hei, kalian. Ada apa dengan penampilan itu? Kalian mau menggunakan Blood Sacrifice lagi?" Sebuah suara mengagetkan kami. Suara yang berasal dari lelaki berambut pirang pucat.
"Tidak. Eh, maksudku..." Kataku terbata-bata.
"Kalian ini. Harusnya tidak menggunakannya. Luka kalian belum benar-benar sembuh" Alice mengomeli kami.
"Ya. Itu benar!" Seru yang lainnya.
"Maaf, aku harus memberitahu mereka. Itu bukan karena aku tidak menepati janji. Tapi karena aku khawatir dengan Ki-kalian. Aku khawatir dengan keadaan kalian. Itu saja" Kata Melty dengan wajahnya yang memerah.
"Um... Maaf, kami tadi terpojok" Kata Naofumi.
"Hei, Misako. Aku ingin tanya sesuatu padamu" Kataku padanya.
"Boleh. Tanya apa?"
"Kau tau kedua pedang ini?" Kataku mengangkat kedua pedang ku.
"Tidak mungkin, kau benar-benar memilikinya. Kupikir aku hanya salah liat. Ternyata ini benar-benar Pleiades dan Dark Storm Blade" Katanya tidak percaya dengan yang kupunya. "Memang kenapa kau tanya? Bukankah ada tertulis di situ?"
"Tidak. Malah aku disuruh mengisinya" Jawabku. "Namanya adalah Pleiades dan Dark Storm Blade. Baiklah, selesai"
"Aku berencana untuk mengajak kalian dalam pengejaran Laughing Coffin, namun kondisi kalian kurang meyakinkan" Kata sang Ratu.
"Jangan khawatir. Kami baik saja" Kataku langsung berdiri.
"Baiklah kalau kalian memaksa. Kalian boleh ikut"
"Tapi kalian harus menjelaskan semuanya pada kami"
(Skip time)
"Alasan kalian sungguh tak masuk akal. Bertarung dengan monster seperti itu berdua saja justru membuat diri kalian terbunuh" Kata Alice.
"Mulai sekarang tidak boleh ada rahasia" Kata Sinon mendeklarasikan.
"Ya!" Jawab yang lain.
"B-Baiklah"
Sesampainya di lokasi, kami langsung mendobrak masuk. Bersama dengan rombongan ketiga pahlawan lainnya.
"Wah, wah, wah. Bahkan pasukan Ratu juga ikut menyerang bersama dengan kelima Pahlawan. Aku merasa takut" Ledek lelaki dengan topeng tengkorak.
"Serang mereka. Jangan sisakan satupun" Kata seorang yang sepertinya adalah pemimpin LC.
Aku beradu pedang dengan salah satu nya. Kami terus beradu tanpa henti. Hingga,
"Deadly Sins" Aku membunuh orang tsb. dengan skill tebasan beruntun 7 kali.
"Jadi, bahkan seorang pahlawan juga bisa membunuh. Hm... Menarik. Ala kau yakin kau pahlawan? Ataukah kau palsu?" Kata pemimpin LC yang membuatku terpaku.
"Air Strike Shield" "Fast Tornado"
Kedua serangan itu berasal dari arah belakang ku.
"Jangan kau membuka sedikitpun mulut itu. Membuatku muak" Kata Naofumi.
"Seorang yang membunuh untuk bersenang-senang tidak layak menilai orang sama sekali" Kata Yujio.
Aku pun berdiri dengan bantuan pedang ku.
"Jangan sok!" Teriaknya berlari ke arah kami. Yujio mengadu pedangnya dengan milik pemimpin LC.
"Air Strike Shield" Naofumi membuat pelindung antara Yujio dengan lawan. Yujio kemudian menendang pelindungnya membuat lawan terpukul mundur.
"Railgun!" Aku menembakkan serangan khas Railgun. Ingatan kembali mengalir. Bahkan ingatan tentang pemilik asli Pleiades.
Serangan ku berhasil membuatnya tidak bisa bergerak. Para ksatria menangkapnya dan langsung membawanya. Mereka pun dipenjara. Begitu pula dengan beberapa serikat oranye seperti Titan's Hand.
"Terimakasih kepada keem-kelima pahlawan karena sudah membantu kerajaan menangkap serikat pembunuh ini. Kami akan menghadiahkan kalian" Kata sang Ratu kemudian pelayannya memberi setiap kami sekantung berisi koin. Bahkan aku mendapatkan satu.
"Wah. Jadi, kau ini adalah si Railgun itu ya. Terkuat ke tiga. Aku benar-benar penggemar berat mu" Kata Lizbeth kegirangan.
"Hai, kak Misaka. Atau kalau sekarang, kak Misako" Sapa Leafa. "Kurasa ini pertama kalinya kita berbicara lagi setelah aku pindah kemari"
"Suguha? Itu kau? Agak sedikit berbeda. Kau bermain Alfheim ya. Pantas avatar mu peri"
"Kau masuk kemari dengan game apa, Misako?" Tanya Asuna.
"Game Sword Art Online. Temanku mempunyai 2 salinannya. Dan sedang mengusahakan untuk mendapatkannya lagi agar semua bisa berkumpul lagi" Jelas Misako.
"Baiklah, sudah sore. Sebaiknya kita kembali ke kota. Setelah itu bersiap untuk besok, jadi bisa langsung jalan" Kataku.
"Baiklah!" Jawab semua antusias.
(Skip time)
"Kirito? Sedang apa kau terbangun?" Tanya Naofumi yang menyadari aku sedang melihat keluar jendela.
"Aku hanya... Berpikir, aku sangat merindukan dunia ku. Apalagi setelah banyak ingatan ku yang pulih. Entah kenapa sejak awal aku kemari aku melupakan beberapa hal"
"Tenang saja. Kita akan pikirkan caranya. Untuk sekarang kita tidur. Besok kita berangkat pagi. Kita akan ke Siltvelt" Kami pun kembali tidur.
End of POV
Perpustakaan raksasa.
"Jadi, kau yang namanya Fitoria" Kata penjaga perpustakaannya.
"Ya. Kau pasti Cardinal. Bagus sekali, aku akan meminta bantuan mu suatu saat nanti"
"Bantuan? Bantuan untuk?"
"Menyelamatkan setidaknya setengah dari kedua dunia"
"Caranya?"
III
Yo reader, ketemu lagi. Fitoria dan Cardinal berencana menyelamatkan masyarakat kedua dunia? Tunggu, ada dunia lain? Saksikanlah chapter berikutnya.Jangan lupa follow (bagi yang belom), dan comment (kalo perlu). Cukup disini saja Author pamit dulu. Bye!