Naruto miliki Masashi khisimoto

Goblin Slayer milik Kumo Kagyu

Highschool DxD milik Ichei Ishibumi

Crossover dengan beberapa anime atau mungkin game, yang kalian ketahui nantinya seiring cerita berjalan.

All Character OOC

Chapter 17

Benang yang hampir putus

Opening: Inferno by 9mm Parabellum Bullet

Naruto memicingkan mata bersiap melakukan serangan yang sudah direncanakan bersama warrior priestess. Satu langkah berani dan pasti, pria bersurai pirang itu menyerang ke arah kumpulan monster.

Melihat reaksi manusia yang datang menyerang setelah terlihat berdiskusi, Rat Warrior segera maju untuk menghentikannya.

Cambuk miliknya bergerak layaknya ular yang hendak mematuk mangsa di hadapannya. Setiap cambuknya melesat, senyumnya kian mengembang.

Ketiga Rat yang ada dibelakangnya juga kegirangan, melihat apa yang dilakukan Rat Warrior. Mereka seakan memuji apa yang telah dilakukan Rat Warrior.

Di tempat lain, Warrior Priestess mengamati apa yang terjadi. Kini hatinya bergelut, karena harus melakukan sebuah serangan penghabisan. Dimana rencana ini akan membuat Naruto dalam bahaya bahkan tewas.

'Bagaimana ini? Apa yang sebaiknya aku lakukan. Aku tidak mau menjalankan rencana ini, tapi kalau tidak begitu maka aku tidak menepati janji yang telah kubuat.'

Naruto berusaha menghindari serangan Rat Warrior, beberapa kali serangan monster itu dapat dihindari. Sang monster pun tidak menunjukkan kelengahan, dia terus menghujani serangan pada Naruto.

Namun, asa yang dilakukan Naruto tidak membuat dewi keberuntungan berpihak padanya. Sebuah goresan kecil tercipta di pipi kirinya, dan itu mengundang kegembiraan bagi sang lawan.

Bau darah adalah kegemaran mereka, tidak menunggu waktu lama. Sang Rat Ogre melaju membuat tanah berguncang dan perhatian Naruto teralihkan.

Saat itu terjadi tangan milik pemuda bersurai pirang itu terlilit cambuk milik Rat Warrior, tubuhnya tertarik dan terjatuh akibat hilang keseimbangan.

"Kuso."

Mata miliknya melebar, sebab Rat Ogre melancarkan serangan tepat mengarahnya. Tak ingin mati konyol segera dia mengulingkan tubuhnya, membuat serangan itu memukul tanah.

Rat Ogre mendecih sebab serangannya gagal, tapi dia tidak menyerah. Gada itu kembali mengarah pada mangsa yang sudah terlilit cambuk milik rekannya.

Naruto menjentikan lidah, sebab monster itu kembali melancarkan serangan padanya. Beberapa ayunan dia bisa hindari dan kini dia mulai menunjukkan sebuah lekukan kecil.

'Waktu bermain selesai, saatnya pembalasan.'

Tepat saat dirinya bergumam dalam hati, dia menggengam erat cambuk yang melilit itu dengan tangan kirinya, wajah Rat Warrior mengeras seraya mencoba menarik cambuk miliknya yang digenggam Naruto.

Tarik ulur terjadi dan membuat cambuk itu mengencang. Kedua pihak tidak mau ada yang mengalah. Namun, Rat Slayer segera menarik kuat dan membuat Rat Warrior terseret ke arahnya.

Tidak menyadari dengan siapa mereka berhadapan, seluruh Rat yang ada disana terkejut saat sebuah pedang kecil berhasil memecah batok kepala rekan mereka.

Darah dan otak mencuat, tubuh Rat Warrior roboh dengan kepala yang sudah terbelah. Bersamaan dengan jatuhnya mayat itu, sebuah seringai terlukis dan sebuah gumaman dingin terlontar dari mulut Rat Slayer.

Satu tumbang.

Manik biru saphire itu menajam menatap tiga monster yang ada di depannya terdiri dari Rat Ogre, Rat shaman dan Rat Priest. Pedang yang sudah berlumur darah Rat Warrior teracung mengarah mereka.

"Siapa selanjutnya."

Rat Ogre menggertakan giginya kasar dan segera maju untuk melumat Rat slayer sekaligus membalas kematian rekannya. Gada ditangannya terayun kuat ke arah Rat Slayer, diiringi sebuah teriakan.

"Kyiiet!"

Bentrokan kedua terjadi dan lawan dirinya kali ini adalah Rat ogre, semua sesuai dengan prediksinya. Jika rencana ini berjalan sesuai yang diharapkan, maka melibas ketiga monster itu akan cepat walau kematian sudah menunggunya.

Saat Rat slayer memulai bentrokan keduanya dengan Rat Ogre, Warrior Priestess sedikit demi sedikit terselimuti cahaya suci. Rambut emasnya bergoyang dan bersinar.

Sensasi jiwanya terisi aura kuat yang besar, membuat Warrior Priestess mengeluh pelan dan pipinya sedikit merona. Walau seperti dia menikmati sensasi tersebut, tetapi pikirannya kembali pada rencana yang dibuat Rat Slayer sebelumnya.

"Dengar, ini yang harus kau lakukan."

Warrior Priestess menelan liurnya dan mengeraskan wajah sambil menyiapkan telinganya dengan baik, untuk mendengar rencana yang dibuat Rat Slayer agar bisa menghadapi keempat musuh yang ada dihadapan mereka.

"Gunakan keajaiban destruktif Divine Ray milikmu."

"Ma-maksudmu Divine Ray tapi kalau kugunakan, maka akan membuat area sekitar hancur ditambah jika ingin menghabisi mereka dengan keajaiban itu. Kita harus membuat para monster tersebut, tidak bergerak serta berkumpul pada satu titik."

"Serahkan padaku, aku punya sesuatu untuk membuat mereka tidak bergerak dan berkumpul pada satu titik. Tapi, aku tidak ingin kau ragu-ragu melepaskan keajaiban itu."

Tak biasa bagi Rat Slayer untuk bicara panjang seperti itu, kejadian itu membuat tanda tanya besar dikepala Warrior Priestess. Lalu dengan suara pelan dia hendak memastikan.

"Kenapa kau bilang untuk jangan ragu-ragu?"

Rat Slayer memejamkan matanya dan bibirnya bergerak menjawab pertanyaan Warrior Priestess. Saat mengetahui itu, wajah Warrior Priestess menegang dan langsung berteriak.

"Jangan bercanda! Kenapa kau sampai segitunya untuk membunuh mereka. Apa tidak ada cara lain. Apapun itu, aku menolak rencana ini!"

Wanita berambut emas dan bermata biru itu, memprotes keputusan atau lebih tepatnya rencana Naruto. sebab dalam rencana itu, terdapat situasi dimana Rat Slayer akan berada dalam bahaya.

Rat Slayer tidak menghiraukan Warrior Priestess yang napasnya tersengal-sengal, sebab menolak rencananya. Dia juga tidak terpengaruh sedikitpun akan dua buah gundukan ranum yang naik turun, seiring orang dihadapannya menenangkan diri.

"Ingatlah, akan janjimu."

Suara datar itu tidak terdengar mengancam sama sekali, bahkan suara itu seperti angin semilir yang hanya melintas menerpa wajah bagi mereka yang terbiasa berbohong.

Namun, kalimat itu merupakan senjata ampuh yang membuat kegigihan Warrior Priestess roboh untuk menggagalkan rencana Rat Slayer. Dia menggigit bibir, karena ini skakmat baginya tapi dia tidak menyerah.

"Kenapa kau sampai segitunya, lebih baik kita lari saja dari sini. Aku tidak mau keja-"

Kata pembelaan Warrior Priestess terhenti oleh suara dingin pemuda bersurai pirang di depannya.

"Aku tidak akan lari, aku sudah bertekad membunuh mereka. aku juga bilang padamu, jika aku bersedia menjadi umpan asal itu bisa membuat mereka terbunuh."

Kali ini merupakan skakmat kedua bagi Warrior Priestess, dengan berat hati dia menganggukan kepala tanda setuju akan rencana yang dilontarkan Rat Slayer. Lalu

"Tapi, aku juga punya permintaan?"

Kini giliran Rat Slayer yang memasang telinga, untuk mendengar permintaan Warrior Priestess. Mulut lentik milik lawan bicaranya, bergoyang menyebutkan permintaan yang diinginkan.

Setelah mendengar apa permintaan Warrior Priestess, sudut bibir Rat Slayer melekuk tipis walau manik biru shapire miliknya menatap kosong.

"Baiklah akan kuingat, itu terdengar sangat indah. … Mirip seperti Valkriye yang mengumpulkan para roh pejuang untuk dijadikan Einhajr serta bergabung di Valhalla melayani Odin."

Mata Warrior Priestess melebar dan hatinya menghangat, mendengar ucapan pria tanpa emosi yang ada dihadapannya. Dia tidak menyangka jika Rat slayer mengetahui itu.

"Ibu dan Ayahku mengambilnya, supaya aku bisa menjadi seseorang yang mengumpulkan tekad dan mengabulkan harapan orang-orang yang membutuhkan."

"Souka, siapkan keajaibanmu, akan kupenuhi permintaanmu sebagai tanda agar melepaskan keajaiban milikmu."

Setelah itu, kesadaran Warrior Priestess kembali pada keadaan semula. Kini dirinya sudah terpenuhi kuasa dari Dewi Freya.

Dilain tempat, Rat Slayer berkali-kali hampir terkena serangan. Gada itu terayun mengarah kepalanya, namun dengan sigap Rat Slayer alias Naruto menunduk menghindari. Sementara itu, instingnya menjerit pertanda bahaya lain mengancam.

Benar saja, sebuah sihir petir atau Thundershot melesat menuju arahnya. Jika itu dibiarkan mengenainya, maka dia akan mati. Tapi jika dia menghindarinya, maka Warrior Priestess yang akan terkena serangan dan rencananya akan gagal berantakan.

Seketika dia ingat pelatihan dengan gurunya dan segera menarik perisai dilengan kirinya, lalu dilontarkan ke arah sambaran petir itu. Petir tertahan dan memutar serta meledak, menimbulkan gumpalan asap yang menghalangi pandangan. Disaat itu, Rat Slayer mengambil kesempatan.

"Inilah saatnya."

Sebuah gulungan berada ditangannya. Magic scroll merupakan barang langka diantara barang, bahkan itu merupakan sesuatu yang melampaui kata langka tersebut.

Bagi para petualang, Scroll tidak lebih efisien daripada seorang penyihir dan penyembuh. Karena itu, kebanyakan para petualang menjualnya untuk mendapat uang banyak dan bisa membeli perlengkapan serta perbekalan.

Namun tidak berlaku bagi Rat Slayer, saat sebelum ke gua ini untuk menyelidiki para Omni-Rat. Dia membeli sebuah Magic Scroll yang terpampang di sebuah tokoh.

Kebetulan sang penjual menjelaskan kegunaan dari scroll tersebut dan Rat Slayer menimbang, bahwa itu sangat membantu melawan musuh dengan keajaiban milik Warrior Priestess sebagai ujung tombaknya.

Segera dia berada ditengah-tengah antara Rat Ogre dan Rat Shaman serta Rat Priest. Setelah itu dia membuka scroll tersebut tanpa ragu. Cahaya ungu keluar dari aksara yang ada discroll tersebut.

Tubuh Rat Slayer serta para Rat yang disekitarnya mendadak berat, seperti tersedot oleh bumi berkali-kali. Rat Ogre menggertakan gigi dan mengeraskan wajahnya, mencoba menggerakan tubuhnya namun hasilnya nihil.

"Kalian akan menemui kematian. Lepaskanlah, Lenneth!"

Tak tahu apa maksud seruan itu, tapi semua Omni-Rat merasakan tekanan yang luar biasa dari atas kepala mereka. Lalu sebuah cahaya suci dan kuat mulai menyelimuti mereka dengan sangat terang.

Lalu sekejap kemudian menghilang bagai ditelan bumi. Keringat menetes di pelipis para Omni-Rat atas kejadian itu. Napas lega dilepaskan mereka namun tidak berlangsung lama, sebab sebuah suara lembut nan dingin terdengar.

"Atas kuasa suci yang Engkau berikan. Oh Dewi, berikanlah hukuman kepada musuhku. Divine Ray!"

Selepas mengatakan itu pedang Agataha miliknya ditancapkan ke tanah bersamaan dengan bulir air mata yang jatuh, dan tiba-tiba sebuah ledakan terjadi ditengah-tengah para monster yang menghempaskan mereka semua.

Tanah disekitarannya terpental berikut para monster dan tentu dengan sang pemilik rencana yaitu Rat Slayer.

Namun, tepat sebelum ledakan itu terjadi sulur hitam menarik dirinya dari pusat ledakan. Sehingga luka yang diderita Rat Slayer berkurang, namun tidak untuk kesadarannya.

Warrior Priesstess kini terhuyung dan jatuh diatas lutut dengan napas terengah, disertai buah dada ranumnya yang naik turun.

Bulir air mata miliknya kian menderas karena dia yakin sekali, bahwa pusat dari keajaiban miliknya adalah tempat berpijak Rat Slayer. Sebab itulah yang diharapkan pria itu.

"Rat Slayer-san! Rat Slayer-san!"

Itulah kalimat yang terus menerus dilantunkan mulutnya, berharap sang empu nama merespon ucapannya dengan kalimat 'aku baik-baik saja' atau itu hanya sebuah harapannnya saja.

Sekian lama dia bergumam dan tidak mendapat respon apapun, membuatnya yakin jika pria itu sudah lenyap bersama para Omni-Rat yang ingin dibunuhnya.

Tak kuasa menahan beban karena telah membunuh Pria itu dan juga kelelahan mental, akibat menggunakan keajaiban tingkat tinggi dia ambruk tak sadarkan diri.

"Dasar orang-orang ceroboh!"

Kata itu keluar dari mulut Night Elf yang tengah menggendong tubuh Naruto, dengan keajaiban miliknya yaitu Black Root dia menariknya dari pusat ledakan tepat sebelum terjadi.

Matanya kemudian menangkap seekor Omni-Rat yang masih selamat dan itu merupakan Rat Priest. Monster itu selamat karena keajaiban dari Dark-God yang disembahnya.

"Null-Light ya, tidak buruk pilihanmu menggunakannya tapi. Benih … Kecambah … Tumbuh! Root Thorn!"

Dia mengetuk tongkatnya ke tanah dan Sulur hitam penuh duri menjalar dengan liar serta merambat ke arah Rat Priest.

Melihat itu mata sang monster melebar, sebab tubuhnya kini dililit akar berduri. Dia meraung kasar karena tubuhnya terasa sakit, akibat duri pada akar tersebut.

"Ini adalah keajaiban yang kudapat setelah berjuang keras, kau adalah monster beruntung yang telah melihat keajaiban baru milikku sebelum kematian menjemput."

Meski dia selalu melatihnya Night Elf Mage sebenarnya baru mendapat keajaiban ini, seminggu yang lalu setelah dia hampir diterkam Dire Wolf.

Setelah dia mengatakan itu, tangan yang memegang tongkat bergerak untuk mengetuk tanah sekali lagi.

Lalu lilitan akar berduri itu menguat membuat Rat Priest menjerit pilu, karena tubuhnya kian terasa sakit dan lilitan itu kiat menguat. Membuat tubuh monster itu memuncratkan darah segar, dengan beberapa dagian serta jeroan tubuhnya terjatuh di tanah.

Night Elf Mage menatap tak peduli pada kejadian di depannya. Baginya itu adalah hal wajar karena monster yang dibunuhnya adalah penyebab Ras Night Elf berkurang drastis.

Kini pandangannya beralih pada gadis berambut kuning, berselimutkan pakaian biarawati yang tengkurap tak sadarkan diri.

Matanya memicing kala melihat pedang yang tak asing baginya yaitu Sword of Agataha.

"Sepertinya, kau akan memikul beban berat ya dan orang ini entah kenapa selalu memburu Omni-Rat."

Mengatakan itu dia melirik pada Rat Slayer yang kini ada dipundaknya tidak sadarkan diri.

Dengan sisa kekuatannya Night Elf Mage membawa mereka beserta barang bawaan, menuju desa terdekat yang merupakan tempat keduanya menerima Quest.

Di kejauhan tepatnya di sebuah tebing curam, cahaya mentari yang menguning membuat sosok itu hanya seperti bayangan.

Kuda hitam atau bisa dikategorikan kerangka sebuah kuda berdiri gagah menopang sang penunggang. Jubah hitam milik sang penunggang berkibar tertiup angin.

Lalu bayangan hitam itu menggerakan wajahnya yang hanya sebuah tengkorak dengan mata kuning menyala.

Giginya tersusun rapi dan mulai bergerak, mengeluarkan suara berat nan berwibawa.

"Domba pengorbanan yang diabaikan. Apa kau mampu menggapai sesuatu yang gagal kuraih meski mendapat tubuh ini."

Lepas mengatakan itu, sekumpulan kabut hitam muncul dan menyelimuti sosok itu sepenuhnya. Beberapa saat kemudian kabut itu memudar, lalu sosok penunggang kuda itu sudah lenyap seperti debu yang ditiup angin.

And Cut

Fiuh niatnya merilekskan diri selama 2 minggu, eh malah kelabasan jadi 20 minggu :v. Mohon maafkan Author satu ini, masalah yang kupikir bisa diatasi sebentar ternyata keliru.

Untuk kalian yang masih setia mem Fav/Foll, aku sangat berterima kasih sekali. Karena meski Author kelamaan menyelesaikan masalah, kalian tetep setia makasih banyak.

Untuk yang review kemarin maaf kali ini gak bisa kubales, menyelesaikan ini aja berat karena baru mulai lagi kegiatan menulisnya.

Oke Lanjut ke pembahasan di chap ini.

Yah rencana Rat Slayer berhasil dan nyawanya gak melayang, berkat bantuan dari Night Elf Mage di detik terakhir.

Divine Ray, penyuka game Brigandine pasti gak asing ama sihir satu in. Sihir cahaya yang hanya dimiliki class Bishop dan Angel ini memiliki efek yang mengerikan. Apalagi jika lawannya beratribut dark makin gila aja damage yang diberikan.

Dalam sistem keajaiban Temple/Kuil, keajaiban tingkat tinggi ini mengkonsumsi total 3 doa tingkat rendah. Jadi kebayangkan beban mental yang di derita Warrior Priestess, saat melepaskan tuh keajaiban. Ahaha maaf jika terlalu menyiksa Warrior Priestess.

Lalu untuk Rat Slayer aka Naruto sendiri kepribadiannya itu udah kayak Goblin slayer, walau dibeberapa kasus ke depan dia bakalan ambil quest yang bukan tentang pembunuhan Rat namun masih menyerempet dengan mereka.

Untuk Ras Night Elf, akan kubuka sejarahnya dari mulut sang Night Elf Mage sendiri di chapter depan. Tentang ras mereka kenapa dikutuk, dikucilkan dan bagaimana dia memiliki keajaiban. Walau seluruh ras terkhusus High Elf King yang tergabung dengan Alliance dan Horde, mencabut akar keajaiban dari tubuh mereka.

Oke tanpa panjang lebar takut menspoiler ane akhiri:v

Note Khusus Rumah Utama gambaran Warrior Priestess itu adalah [Sword Maiden] di Goblin Slayer saat masih muda. Cuman disini aku buat di masih Perawan:v

Mohon maaf jika ada typo:v

Jinchuriki Shukaku Out!