oOo
Disclaimer
Naruto © Masashi Kishimoto
.
tomorrow, at sunrise...
oleh oreoivory
oOo
Musik EDM bergetar dari dalam rumah Naruto, menggema hingga ke jalanan. Meskipun, mereka selalu membuat polusi suara, tidak ada protes dari para tetangga karena Naruto bisa dikatakan tidak punya tetangga. Ayah Naruto termasuk orang kaya, rumahnya berada di Chavenage, kompleks perumahan elit di kotanya. Jarak satu rumah ke rumah lain adalah seratus meter, karenanya mereka sering mengadakan pesta di sana.
"Kau datang." Karin tersenyum antusias begitu melihat Sasuke muncul dari pintu rumahnya.
Sasuke mengacuhkan Karin, berjalan melewatinya menuju sofa yang masih kosong. Sebenarnya, Sasuke langsung mengancam Karin untuk membatalkan pestanya, tapi ternyata Sakura begitu antusias karena dia tidak pernah pergi ke pesta. Pesta Karin adalah yang pertama untuknya. Sasuke tidak tega dan memutuskan menghubungi Karin kembali, mengatakan padanya untuk tetap menyelenggarakan pesta. Persetan dengan Karin, Sasuke tidak mau merusak kebahagiaan Sakura dan membuatnya kecewa karena merusak momen pertamanya untuk berpesta.
Pesta kali ini terasa aneh. Meskipun ada satu tong bir penuh di sudut ruangan, tidak ada yang menyentuhnya apalagi meminumnya. Efek kedatangan Sakura benar-benar mempengaruhi semua orang. Hiruk pikuk pesta juga tak seramai dengan yang sudah-sudah, selain karena kali ini hanya para murid populer saja yang diundang, ada suasana menegangkan yang membuat siapa saja gelisah. Sasuke hanya heran, kenapa masih banyak yang datang kalau mereka takut.
Teman-temannya baru bisa dengan tenang mabuk-mabukan setelah lewat setengah sembilan. Mereka mengira Sakura tidak akan datang. Kemudian, mereka mulai mabuk saat jam sepuluh lebih dan tinggal menunggu larut agar mereka sepenuhnya teler dan mengacaukan rumah Naruto.
Sudah terlalu malam untuk Sakura datang. Mungkin dia memang tidak jadi pergi seperti dugaan teman-temannya. Sasuke akhirnya memutuskan untuk beranjak dari sofa, mengenyahkan diri dari sana. Sebelum benar-benar akan pergi, Karin—yang entah sejak kapan ada di sana—menarik tangannya hingga dia jatuh kembali menghantam sofa.
"Karin, kuperingatkan kau—"
Karin duduk di atas paha Sasuke dengan gerakan kilat, jarinya yang dicat dengan warna merah terang menelusuri bahunya, kemudian turun ke dada. "Dia tidak datang yah? Padahal aku sudah menyiapkan sesuatu," bisik Karin seduktif di telinga Sasuke. Napasnya berbau alkohol.
Sasuke mengernyit jijik. Benaknya waspada pada perkataan Karin. 'Menyiapkan sesuatu.' Artinya dia pasti ingin melakukan hal buruk pada Sakura. Kebutuhan Sasuke untuk melindunginya mendadak muncul. Sasuke akan memastikan tidak ada yang akan menyakitinya, bahkan jika dia harus benar-benar melukai sepupu Naruto secara fisik.
Sasuke sudah akan mendorong Karin saat dia melihat Sakura berada di pintu masuk rumah Naruto. Matanya berkelidan menyapu seluruh ruangan. Sasuke yang baru sadar akan posisi Karin yang mengangkanginya buru-buru menghempaskan Karin hingga terjungkal mencium lantai. Karin memekik karena sakit, tapi Sasuke tampak tidak begitu peduli. Sasuke langsung melesat melintasi ruangan menuju Sakura.
"Kau di sini?" Katanya gugup. Suaranya teredam musik yang menjadi latar belakang pesta. Tangan Sasuke berkeringat, efek bingung harus menjelaskan tentang apa yang mereka—Karin dan Sasuke—lakukan di sofa.
Mata Sakura langsung berbinar, seolah-olah baru melihat Sasuke. Dia menglemparkan badannya menabrak dada Sasuke, memeluknya dan mencium pipinya. "Maaf, tadi Profesor Tsunade tiba-tiba meminta laporan praktikumku. Jadi yah, aku jadi terlambat," katanya sedih.
Sepertinya tadi dia tidak melihat, pikir Sasuke. "Untuk apa minta maaf? Kau kan tidak melakukan kesalahan."
Sasuke melepaskan rengkuhannya dan baru benar-benar menyadari penampilan Sakura. Dia tadi terlalu panik melihat Sakura sampai tidak menyadari betapa cantiknya dia malam ini. Sakura selalu cantik, tapi ini lebih dari sekadar cantik. Sakura melepas kaca matanya, menggunakan lensa kontak yang memperlebar iris hijaunya. Dia memakai make up tipis, sapuan lip gloss merah muda di bibirnya, lalu pipinya merona sempurna.
Dan gaunnya biru lautnya, Ya Tuhan. Tidak sependek seperti yang selalu dipakai jalang-jalang di sekolah mereka. Tapi lumayan pendek untuk memamerkan kakinya yang indah. Cukup untuk membuat Sasuke meneteskan air liur kalau dia tidak diberkahi dengan seperangkat wajah tanpa ekspresi karunia Klan Uchiha. Meski begitu, dia benar-benar tampak terpesona dan tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.
"Wow, kau cantik." Sasuke tidak tahan untuk mempertemukan bibir mereka. Dia mencium Sakura sekilas untuk kembali mengagumi kecantikannya lagi.
Sakura terkekeh. "Jangan merusaknya, nanti Ino marah." Sakura mendorong Sasuke. Begitu nama Ino disebut, secara ajaib dia langsung muncul dari belakang Sakura. Sepertinya dia tadi memarkirkan mobilnya, karena tangannya baru saja memasukkan kunci ke dalam tas.
Ino memandang Sasuke dengan tidak suka. Dia selalu begitu setiap mereka bertemu sejak Sakura berpacaran dengannya. "Well, kita baru mau memulai pesta. Jangan langsung menggerayangi tubuh dan bercinta di depan pintu masuk seperti itu!" Ino kemudian melenggang pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ino selalu begitu. Jangan dirisaukan."
Sasuke juga tidak terlalu peduli pendapat orang lain, asal tidak ada yang menganggu hubungannya. "Tidak masalah."
"Jadi apa yang biasanya kalian lakukan?" tanya Sakura tiba-tiba.
Sasuke gelagapan mencari jawaban dari pertanyaan yang tidak terduga. Minum, teler, menghirup kokain, dan seks bukan jawaban yang akan dia berikan. Masukkan saja kepalanya ke dalam mesin cuci daripada dia harus mengatakannya. Dia tidak setolol itu.
"Oh ayolah! Jangan bilang; minum coklat panas, bermain tic tac toe, menyelesaikan puzzle dan bermain permainan papan." Sakura menyindir sebelum Sasuke benar-benar akan memberi jawaban konyol.
Sasuke tertawa. "Apa? Jawaban macam apa itu? Aku baru akan menjawab kami biasanya berbagi rahasia paling rahasia seperti menunjukkan kutil di masing-masing punggung. Naruto punya dua belas."
"Euw," Sakura membuat suara-suara jijik, kemudian ikut tertawa. "Jawaban itu lebih parah daripada bermain tic tac toe. Memangnya dia benar-benar punya kutil?"
"Tidak punya. Aku tadi cuma mengarang dengan sedikit imajinasi. Dan Aku tidak tahu apa itu tic tac toe, tapi aku tahu permainan mencium dengan melibatkan lebih banyak belitan lidah."
Sakura memutar matanya. "Tidak. Jangan merusak dandananku. Bagaimana kalau minum saja? Aku mau mabuk, dan siapa tahu kamu beruntung dengan permainan cium-ciuman tadi saat aku tidak sadar."
Sasuke menegang. Mabuk bukan kata yang cocok untuk Sakura. "Entahlah. Kurasa bukan ide yang bagus."
"Berhenti jadi perusak suasana, oke? Aku tidak selemah itu. Lagipula Kak Shisui dan Kak Itachi biasanya kalah dariku dalam urusan ini."
"Kau minum-minum dengan saudaraku?" Sasuke tidak sadar suaranya meninggi.
"Yah, dan sebaiknya kau lebih baik dari mereka dan mengalahkanku." Sakura mengedipkan matanya kemudian menarik Sasuke menuju teman-temannya yang sedang berkumpul.
"Wah, Sakura kau datang yah?" kata Naruto begitu melihatnya.
"Yup. Pesta yang meriah yah?" Sakura memperhatikan lampu warna-warni yang berkedip-kedip dan mendengarkan musik yang bising.
Ino datang menyelipkan diri di antara mereka dan membawa gelas karton berisi bir di kedua tangannya. Satunya dia tenggak hingga habis, satunya lagi dia berikan pada Sakura.
"Ave atque vale, tomorrow at sunrise." kata Sakura sebelum meneguk bir di gelasnya hingga tandas. Sasuke melihat senyum ganjil di bibir Sakura dan dia bersumpah tadi benar-benar mendengar 'tomorrow at sunrise', walaupun suara Sakura setipis lapisan es.
oOo
~bersambung
oOo
Catatan Cerita :
Bermain tic tac toe : kata-kata Spongebob dalam salah satu episodenya.
Ave atque vale : salah satu ungkapan dalam novel The Mortal Instrument series, ucapan penghormatan dari bahasa latin kepada shadowhunter yang udah meninggal, yang artinya 'Hail and Farewell' atau Selamat datang dan Selamat tinggal.
Catatan Penulis : Hai, aku bonusin up 2 chap sekaligus nih. Terimakasih dukungannya. Krisar selalu diterima dan dibutuhkan. ~Reo
