17
Reminiscence
.
.
Warn : Mature Content (R18)
Liburan itu menjadi hal yang sangat menarik. Meskipun mereka hanya bertiga tanpa Paman Seo atau beberapa pendamping, semuanya berjalan dengan baik. Sehun menyiapkan segalanya dengan sempurna, membuat Luhan mendesah tak bisa menemukan kekurangannya.
Hari pertama sepenuhnya mengikuti permintaan Shia untuk berenang dan membuat barbeque di beranda luas villa. Cuaca sangat cerah dan hangat, Shia berkecipak dengan air bersama Sehun yang mengajarinya berenang. Shia lucu dengan pelampung merah muda itu. Kulitnya memerah terkena sinar matahari tetapi tidak mengeluh sama sekali. Luhan dengan tenang memanggang barbeque untuk mereka, sesekali menahan floppy hat-nya agar tidak terbang mengikuti hembusan angin.
"Jangan tahan rok gaunmu, Sayang. Biarkan mereka, oke?"
Luhan nyaris melempar penjepit pada Sehun yang menggodanya. Luhan nyaris menyesal memakai summer dress putih ini.
Shia memutuskan untuk keluar dari kolam renang saat matahari sudah berada tepat di atas kepala mereka, hari mulai agak panas. Setelah membalut Shia dengan bathrobe tebal mereka memakan barbeque yang Luhan siapkan.
"Di sini tidak ada sumpit." Gumam Shia, sambil memotong daging barbeque-nya menggunakan pisau dan garpu dengan apik.
Sehun nyaris tersedak mendengar gumaman polos itu, sedikit menahan senyum lalu menatap Shia.
"Oh, dia sangat cepat belajar." Kata Sehun pada Luhan yang datang dari panggangan dengan beberapa potong kentang dan asparagus panggang.
Luhan duduk, melepas topinya karena bayangan payung sudah cukup melindungi dan meletakkan piringnya. "Tentu saja, Shia gadis kecil Mama yang hebat." Kata Luhan sambil mengusak rambut Shia yang masih basah.
Shia memberikan cengiran lucunya dan mengunyah makanannya. "Uuhh… Ini sangat enak." Pipinya menggembung seperti pipi tupai kecil.
"Shia ingin kemana setelah ini?" tanya Sehun sambil meminum jus tropis yang mengirimkan rasa manis asam itu. Shia tampak berpikir sejenak, kemudian menunjuk ke arah lautan lepas.
"Shia ingin melihat pantai di bawah sana, apakah tadi Papa melihatnya?"
"Mereka dikelilingi tebing-tebing dan hanya sedikit bagian yang memiliki pasir putih, apakah tidak apa-apa?"
"Eum!"
"Baiklah, setelah makan kita bersiap ke sana, oke?"
Pantai itu sedikit curam dengan tebing-tebing tajam di beberapa bagian, tetapi cukup ramai dengan turis-turis berbagai negara. Shia sempat bergumam saat melihat banyaknya rambut pirang di sekitar mereka. Shia kembali bertemu dengan air dan berbasah-basah lagi meski hanya dengan kaki kecilnya yang berbalut sandal gladiator tebal.
Luhan memilih pinggiran pantai, membiarkan Shia bermain air dengan Papanya. Luhan menatap mereka yang membelakangi cahaya, percikan air di antara senyum lebar itu, juga tawa yang mengudara. Luhan merasakan semua suara menghilang dari pendengarannya, lalu vistanya melambat perlahan.
Semua itu membuat matanya berkaca-kaca. Ia nyaris kembali bermimpi melihat semua ini, tak pernah ada dalam bayangannya, meski dalam bayangan termuluk sekalipun, bahwa Shia akan dapat tertawa seceria itu, tersenyum secerah itu dan tanpa beban menggelayuti sosok ayah yang dulu tak pernah ada.
Luhan mengambil ponselnya, memotret mereka beberapa kali sebelum mengusap matanya yang sedikit memanas.
Sehun menatapnya, lalu mengatakan sesuatu pada Shia. Shia ikut menoleh padanya, lalu tersenyum, terangnya mengalahkan cahaya. Shia melambaikan tangan, bersama Sehun yang menggendongnya. Sehun menatapnya penuh afeksi, dan seakan mengerti apa yang tengah ia rasakan, Sehun mengangguk, mengatakan sesuatu yang tak dapat ia dengar, tapi dapat ia ketahui dari gerak bibir.
"Ini semua layak, kalian layak bahagia."
Mereka kembali ke villa setelah menyaksikan matahari terbenam, dan seharusnya masih berlanjut karena Sehun berencana membawa mereka jalan-jalan keluar. Sehun sedang menjelaskan kedai-kedai makanan serta suasana jalanan Oia di malam hari, sampai Shia jatuh tertidur di sofa dengan damai.
Sehun berpandangan dengan Luhan, kemudian tersenyum pasrah.
"Gadis kecil kita kelelahan, hmm?" Sehun mengangkat Shia dengan perlahan, membawanya ke kamar.
"Padahal ini masih sangat awal, dasar." Luhan mencubit hidung Shia, lalu Shia bergelung ke dalam selimutnya. Luhan menahan diri untuk tidak mengusak pipi gembil itu karena sungguh, dia sangat menggemaskan dengan gulungan selimut yang menyerupai kepompong itu.
Luhan merasakan tangan Sehun meremas bahunya lembut, merendahkan tubuh dan mencium pelipisnya, berkata cukup pelan.
"Bersihkan dirimu, aku akan menunggu di kolam renang."
Oh…
Sehun pergi ke beranda sementara Luhan membersihkan dirinya. Di dalam kotak kaca Luhan berpikir, malam masih awal dan mereka memiliki waktu untuk berdua. Luhan mempertimbangkan apa yang akan ia kenakan, dan memutuskan ia akan memakai hadiah pernikahan dari Baekhyun. Luhan menatap set pakaian dalam dan renang berbagai model yang membuatnya malu bukan kepalang, lalu menarik set pakaian renang dengan warna putih sederhana.
Luhan membalurkan rose and honey water ke seluruh tubuhnya, kemudian mengikat rambutnya menjadi cepolan tinggi. Setelah membalut tubuhnya dengan bathrobe, ia turun ke beranda dengan hati sedikit berdebar.
Di sisi lain, Sehun, tidak… dia Shixun. Shixun menunggu di kolam sambil memejamkan mata, menyandar di dinding kolam dengan tangan melingkari tepian, kedalaman air hanya menenggelamkannya sampai sebatas dada. Matanya terbuka, menatap suasana malam yang cukup menakjubkan. Angin laut berhembus sejuk, tetapi tidak membuatnya kedingingan. Sebenarnya udara masih cukup hangat di sini.
Shixun mengamati Luhan yang muncul dari ujung tangga, ia dapat melihat Luhan terkejut dengan suasana ini. Mendekat dengan senyum kecil di bibir merah yang tak sabar ingin ia kecup dan gigit itu.
"Ada apa dengan lilin-lilin dan aroma bunga ini, hm?" tanya Luhan.
Shixun mengedikkan bahu, tersenyum miring. "Aku meminta pihak villa menyiapkannya, kau suka?"
Luhan mengangguk ringkas, sedikit meremat bathrobe-nya karena gugup. Gestur itu membuat Shixun tertawa rendah. "Lepaskan itu, aku ingin melihat tubuhmu."
Luhan memalingkan wajah dengan pipi bersemu, dan itu sangat tidak baik untuk Shixun yang sudah sangat bersabar. Tetapi Luhan sangat baik hati dengan menuruti keinginannya, bathrobe itu meluncur jatuh dan terabaikan di atas lantai parket kayu. Mengekspos tubuh Luhan yang berbalut bikini putih, tak terlalu terbuka, tetapi mengirimkan keinginan kuat bagi Shixun untuk segera melepaskannya.
Shixun sudah sangat bersabar, memberikan waktu yang cukup lama bagi Sehun untuk memiliki waktunya bersama mereka, selama ini ia hanya melihat lewat memori bagaimana Luhan bersemu, berpeluh dan berkeringat lembab. Sekarang ia bisa merasakannya secara langsung.
Luhan tidak lagi terlihat malu, meski wajahnya masih bersemu samar.
Luhan merasakan suhu air itu dengan ujung jari kakinya, kemudian masuk ke dalam air. Menapaki tangga-tangga kecil, menenggelamkan diri sampai leher dan mendekat pada Shixun yang tampak menertawakannya dalam diam.
Luhan menggerutu dalam hati.
Shixun menariknya ketika ia cukup dekat, membuat tubuh mereka menempel sepenuhnya. Shixun mengangkat tubuh Luhan, membawanya sampai mereka berhadapan sejajar.
"Aku takut kau akan tenggelam tadi." Bisik Shixun dengan nada bergetar, kentara sekali menahan kekehan.
Luhan mendengus sebal. "Aku bukan kau yang seratus delapan puluh lebih, oke?"
Shixun melepaskan kekehannya dengan santai setelah mendengar gerutuan itu. Mulai menciumi wajah Luhan dengan sentuhan kupu-kupu, ia bisa merasakan Luhan merinding di bawah sentuhannya. "Kenapa kau mengikat rambutmu? Aku lebih menyukainya ketika mereka digerai."
"Aku … mmh, aku tidak ingin rambutku basah. Nanti akan menyusahkan jika bantalku ikut basah."
Shixun tersenyum samar. "Bukankah kau bisa mengeringkannya dulu?"
Luhan menjauhkan diri, memegang kedua sisi wajahnya. "Apakah kau memiliki sedikit kesabaran menungguku melakukannya, sementara sesuatu di bawah sana sudah tidak bisa menunggu?"
Shixun tertawa, suaranya rendah dan sedikit serak. Mengirimkan desiran aneh pada tubuh Luhan.
"Kau ingin bercinta?"
Luhan mencium lehernya, menggigitnya kecil. Shixun balik menyerang leher Luhan yang tipis dan menggoda.
Shixun merangsek ke atas, menemukan bibir Luhan yang terbuka dan menangkapnya ke dalam ciuman. Tak ada kecupan lembut atau penyesuaian, ia langsung menggunakan lidahnya untuk mengobrak-abrik mulut manis itu.
Luhan cukup kesulitan mengimbangi, tetapi ia tak ingin berhenti. Hanya memberi kesempatan untuk sedikit menarik nafas sebelum kembali menciumnya dalam.
Tangannya bergerak di bawah air, menuju pantat berisi yang berbalut kain tipis itu. Menyangganya agar Luhan lebih tinggi, sementara tangan satunya lagi merambati punggung Luhan. Tangan Luhan mengalung di sisi lehernya, mencari pegangan.
"Mmhh…"
Desahan Luhan selalu jujur, tak begitu keras dan apa adanya. Shixun menggeram ketika Luhan makin melekatkan tubuh, dan ia yakin Luhan bisa merasakan seberapa keras dirinya. Luhan mengalungkan kaki ke pinggangnya, bergerak sugestif.
"Luhan, kau sengaja melakukannya?"
Luhan tidak menjawab, mendesah lirih dan terus menggerakkan tubuh, menggesekkan lekukan pantat ke ereksinya. Shixun menggigit bibir menahan diri, merendahkan tubuh dan mencium garis dada Luhan. Puncak dadanya mengeras karena suhu, dan Shixun menggigitnya pelan dari balik bikini. Luhan mengerang, meremat rambutnya cukup kuat.
Air bergejolak mengikuti irama mereka, dan Shixun nyaris kehilangan kendali.
"Cium aku…" Bisik Luhan.
Shixun melepaskan puting Luhan, mencium bibir Luhan yang terbuka dan melesakkan lidah, mencicipi rasa manis dan kecipak di dalam sana. Basah, panas dan sangat erotis. Memastikan Luhan mendapatkan topangan yang cukup, satu tangannya bergerak meremas dada Luhan. Memainkan sampai Luhan tercekat nafasnya sendiri. Tangannya besar, tetapi tak mampu mencakup semua bagian.
Ciuman itu terlepas dengan kecipak basah yang menggairahkan, Shixun menatap ke atas, di mana Luhan menatap sayu dengan wajah memerah. Bahkan seluruh kulit putihnya memerah lezat. Shixun menggesekkan ereksinya, menekan bukaan Luhan dan membuat wanitanya mendesah nikmat.
"Aku ingin menyetubuhimu di sini." Bisik Shixun, Luhan bergetar pelan dalam pelukannya. Tanganya menyelip ke celana dalam Luhan lewat belakang, menyusuri belahan dan memainkan jemari panjangnya di sana.
Luhan tersedak nafasnya sendiri ketika jarinya mulai masuk.
"Mhh…" Desah Luhan.
Luhan mendesah tak koheren. "Sekarang… Aku membutuhkanmu." Luhan mulai menuntut, tubuhnya bergerak mencari friksi.
"Tidak, tidak di sini." Dengan sisa pengendalian diri Shixun membawa Luhan keluar dari kolam, suara berisik air tak begitu berpengaruh. Luhan merinding merasakan angin menerpa kulitnya yang basah. "Kau akan terluka nanti." Bisik Shixun.
Luhan tidak berkata apapun, mengaitkan kakinya lebih erat, membiarkan Shixun membawanya ke kamar mereka. Sepanjang jalan Luhan tak berhenti menggerakkan tubuhnya, membuat Shixun nyaris menekan Luhan ke dinding dan menyetubuhinya di sana.
Luhan merasakan tubuhnya dibanting pelan ke atas ranjang, basah dan sedikit tak nyaman. Tetapi termaafkan ketika Shixun mengurung tubuhnya yang terbuka, melebarkan kakinya dan menekan ereksi yang masih berbalut boxerbrief ke miliknya. Miliknya tergesek fabrik, ia bergetar oleh friksi nikmat yang membuatnya makin basah.
Shixun menciumnya, dengan tangan sibuk melepaskan ikatan rambut Luhan, menggerainya dan membuatnya menyebar di atas bantal. Mulai turun, menarik lepas secarik kain yang menutupi dada Luhan, lalu ke celana dalam yang sudah basah kuyup itu. Luhan kooperatif, mengangkat tubuhnya agar Shixun lebih mudah.
Shixun bangkit, melebarkan paha Luhan dan menggunakan lidahnya untuk penetrasi ke rekahan merah muda kecil itu. Luhan nyaris tercekik nafasnya, cukup terkejut karena setahunya akan langsung ke intercourse. "J-jangan… Terlalu cepat… Hnghh…"
Shixun tidak mengindahkannya, membakar diri dengan friksi, membayangkan betapa sempit ketika ia masuk nanti. Lidahnya bergerak, sesekali menghisapnya. Ia berhenti ketika berhasil membimbing Luhan ke tepian orgasme.
Shixun bangkit, melepas boxerbrief-nya dengan tatapan lapar.
Di bawahnya Luhan terengah, seluruh kulitnya bersemu merah, sangat lezat hingga Shixun menjilat bibirnya sendiri. Tak sadar gestur itu membuat bagian bawah Luhan bergetar. Kain terakhir itu terlepas, Shixun meremas miliknya sendiri, masih dengan tatapan lapar yang sama sekali tak berkurang.
Luhan meremat bantal di sisi kepalanya, berusaha keras mengatur nafasnya yang memberat. "Kau tidak menginginkan fellatio?"
Shixun tersenyum samar. "Aku yang akan melakukan semuanya malam ini."
Luhan menggigit bibir, menatap tubuh yang berkilat basah itu. Semua lekukan ototnya terlihat jelas, bahu yang lebar, dada bidang lalu ke perut enam pak yang menyambung ke V-line menggoda itu. Luhan menatap milik Sehun yang besar, berdenyut dan kemerahan itu. Ujungnya berkilat basah, nyaris menetes.
Aku ingin merasakannya…
Luhan memerah menyadari pikiran kotor itu, memalingkan wajah sejenak sampai Shixun terkekeh, masih dengan tangan yang merangsang dirinya sendiri.
Shixun kembali mengungkung Luhan, memposisikan miliknya di depan milik Luhan.
"Kau ingin aku masuk?" Shixun menggenggam tangan Luhan di masing-masing sisi kepalanya. Mencium bibirnya main-main sambil menekan milik Luhan. Luhan mengerang, bergerak mengikutinya tanpa sadar. Suara basah memenuhi kamar. Luhan menggeliat tak tahan.
"Jawab aku, hmm?"
Luhan mengerang lagi ketika benda keras itu menyapa pintu masuknya, sesekali mendorong dengan lembut. "A-ah.. Mmhh.."
Shixun memasukkan sebagian, berhenti di sana dan membuat Luhan nyaris gila karena Shixun terus menggerakannya. Luhan butuh lebih, ia ingin lebih…
"Kumohon…"
Shixun tersenyum di sudut bibir. Ia melepaskan genggamannya pada tangan Luhan, beralih menyusupkannya ke rambut lembab Luhan, memiringkan kepala Luhan agar ia bisa menciumnya lebih dalam. Satu tangan lain memposisikan kejantanannya dengan tepat, dan mendorong keras dalam satu sentakan.
Suara Luhan teredam dalam mulutnya.
Shixun merasakan sedikit pedih pada punggungnya yang bertemu dengan kuku-kuku pendek Luhan, menggeram keras ketika kejantanannya diremat dinding basah dan sangat panas. Ia merasa bisa selesai kapan saja.
Shixun melepaskan ciumannya, dan Luhan tersedak. Terengah dan gemetar luar biasa.
Shixun mulai bergerak, memulai dengan tempo lambat yang menyiksa, lalu langsung memompa Luhan dengan tempo cepat dan keras. Luhan terhentak menerima tusukannya.
"Agh… Sial… Kau sangat sempit…" Geram Shixun, tangannya bergerak meremas dada Luhan.
Luhan berada di antara sadar dan tidak, kenikmatan yang membasuhnya sungguh menyilaukan. Nafas berat yang ia rasakan di lehernya memperparah semuanya, geraman nikmat dan sumpah serapah kasar membuatnya makin terangsang.
"Aku—" Luhan tercekat merasakan kenikmatan intens ketika Shixun menghujam ke sudut berbeda. "A-ah… C-cium aku." Luhan berkata susah payah, dengan seringaian Shixun mencium bibir bengkak itu tanpa memelankan tempo.
Shixun tahu ia sudah menusuk ke arah yang tepat, karena milik Luhan menjepitnya makin erat, juga makin basah. Sebentar lagi… Sebentar lagi…
Shixun melepaskan ciuman itu, bangkit dan menekan kaki Luhan sampai menempel ke dadanya sendiri. Luhan tergugu ketika ia bergerak keluar masuk dengan tempo lambat.
Shixun tersenyum separuh, lalu kembali memompa dengan keras dan cepat. Posisi ini membuatnya lebih mudah, dinding basah itu juga makin basah dan menyempit.
"Kau merasakan aku di dalam sana? Apakah ini enak?"
Luhan mendesah tak koheren. "Ya… Ini enak..." Meracau tak karuan
Shixun makin keras menghujamkan dirinya, dan orgasme itu datang dengan putih menyilaukan. Ia terus bergerak memompa meski ia sudah memenuhi Luhan dengan cairannya. Ngilu dan nikmat, dan ia terus melakukannya sampai ia merasakan tulangnya lolos.
Luhan mengerang ketika mendapat pelepasannya, merasakan Shixun memenuhi dirinya, melimpah dan hangat sampai ia pikir mereka akan keluar melalui sela-sela pertautan mereka di bawah sana. Shixun masih bergerak di dalamnya, mengirimkan nikmat berkali lipat saat tubuhnya masih sangat sensitif.
Shixun mengangkat tubuh Luhan, membalik posisi mereka dan membuat Luhan telungkup di atas tubuhnya yang panas dan meremang nikmat. Orgasme itu sudah selesai, tetapi Shixun masih terus menggerakkan miliknya. Shixun meremas dan melebarkan pantat sekal itu, merasakan cairannya sendiri sedikit keluar dari rekahan yang masih terisi itu.
"Ini nikmat?" Bisik Shixun, menggigit daun telinga Luhan sensual. "Kau merasakannya?" Shixun menghentak pelan, membuat Luhan mengeluarkan suara terkesiap yang menggairahkan. "Aku mengisi dirimu sampai meluap-luap."
Nafas mereka masih berkejaran, mata Luhan sangat berat tetapi ia tahu ini belum selesai ketika ia merasakan sesuatu di dalam tubuhnya mulai mengeras kembali.
"Emmh…"
"Aku ingin memilikimu dari belakang, berbalik, Sayang."
.
.
.
Jalanan Oia di malam hari tak kalah menakjubkan.
Meski warna putih menyilaukan tidak lagi menjadi fokus utama, tetapi pendaran cahaya dari lampu jalanan yang menawarkan suasana hangat oleh cahaya oranye, atau kerlipan lampu perak di pusat kawasan sangat menarik untuk ditinggalkan.
Cukup ramai dengan turis, Shixun membawa Luhan dan Shia berkeliling dengan hati-hati. Menikmati makanan-makanan kecil di beberapa kedai di samping jalan, menikmati tiupan angin yang sejuk dan mengirimkan aroma khas. Terlepas dari semua dekor yang sengaja dibuat untuk mempercantik kota, kawasan itu sudah indah dengan sendirinya. Menawarkan gaya bangunan cycladic yang sudah ada berabad-abad lalu. Tiap rumah di kawasan itu dibuat dengan membuat cerukan ke dalam batuan, dipahat hati-hati untuk membentuk gaya yang khas. Luhan tak keberatan jika banyak orang menyebut ini adalah salah satu surga dunia.
Shixun membawa Shia ke gendongannya, serta memastikan pinggang Luhan masih ada di bawah telapak tangannya. Sedikit mengabaikan bagaimana senyum lembut Luhan membuat dadanya berdesir, ia tak akan pernah menyebut perasaan ini dengan cinta. Hanya seorang Oh Se Hun yang menggunakan kata menggelikan itu.
"Papa, Shia ingin makan soulvavski, boleh?"
Shixun mengangguk kecil. "Kita cari tempatnya."
Luhan mengambil ponselnya, mengetikkan kata kunci dan menemukan restoran terdekat yang menyediakan makanan khas Santorini itu. Mereka sampai setelah beberapa menit berjalan, dan ternyata restoran itu menyajikan suasana yang cukup menyenangkan.
Shixun memilih tempat terujung yang dekat dengan laut, pemandangan di sana penuh dengan kelap-kelip lampu jalanan di bawah mereka, menyambung ke laut yang berwarna gelap. Shia duduk dengan tenang, sambil melihat foto-foto yang mereka ambil hari ini. Mereka mengunjungi beberapa museum, tempat ikonik seperti gereja berkubah biru, juga boutique yang menyediakan pakaian dan pernik khas dari tempat ini. Shia sama sekali tak kehilangan senyum.
Makanan itu datang, berupa daging yang ditusuk dan dipanggang sampai berwarna kecoklatan lezat, disajikan dengan kentang goreng dan salad. Itu sangat enak dan menggelitik lidah dengan rasa yang berbeda dengan kultur yang mereka bawa.
"Umm…" Shia makan dengan sopan, tetapi meninggalkan sedikit noda pada sudut bibirnya.
"Shia, bersihkan sudut bibirmu, hm?"
Shia mengerjap, lalu mengangguk dan mengambil tissue.
Di sisi lain Luhan menatapnya sedikit bingung, Sehun tak pernah mengatakan hal seperti itu, biasanya Sehun langsung melakukannya tanpa kata-kata.
"Mama, apakah enak?"
"A-ah," Luhan mengangguk cepat. "ini enak. Apa Shia menyukainya?"
"Eum!"
"Ya, ini enak. Benar begitu, Sayang?"
Luhan bersemu mendengarnya, ia menatap Shixun dan mendapati senyum menggoda terulas di bibir tipis itu. "Sehun, di sini ada Shia."
Mata Shixun sedikit melebar mendengar panggilan itu, sedikit nyeri tetapi tak bisa melakukan apapun.
Shixun hanya berakhir mengangguk pelan dengan senyum di sudut bibir, mengabaikan perasaan tak nyaman yang menggerayangi.
Hari sudah malam ketika mereka keluar dari restoran, Shixun memutuskan hari ini cukup lalu kembali ke villa. Sepanjang sisa hari Shixun tak begitu memperhatikan apa yang Shia katakan, bahkan ia tak begitu mempedulikan perbincangannya dengan Luhan.
Larut tengah malam, setelah sesi panjang yang mampu mengalihkan pikirannya untuk sejenak, Shixun masih saja terjaga dengan Luhan masih meringkuk di pelukannya. Shixun menatap wajah tertidur itu dengan perasaan campur aduk. Luhan terbangun ketika ia merapikan rambutnya.
"Sehun, ada apa?" Bisikan serak itu ia tanggapi dengan gelengan pelan.
Shixun mencium bibir Luhan cukup lama. "Kembalilah tidur."
Luhan memejamkan mata, mengeratkan pelukannya hingga tubuh telanjang mereka menempel tanpa celah.
Shixun menatap keluar, di mana ia dapat melihat langit malam yang tampak temaram di antara cahaya bulan.
Jauh sebelum ini, dan, selama ini, ia tak begitu mempermasalahkan ketika Luhan memanggilnya Sehun, karena meskipun saat itu ia yang menguasai tubuh ini, bentuk fisikal dirinya adalah Sehun. Oh Se Hun adalah sosok yang dikenal publik secara luas, sementara dirinya hanya dikenal beberapa orang yang memiliki jalan yang sama dengannya.
Ketika Oh Se Hun berjalan di bawah cahaya, ia berada di balik bayangan dan melakukan kejahatan dengan tangan yang sama.
Ia tak mempermasalahkannya, karena bagaimanapun mereka adalah dua jiwa berbeda meski terjebak di tubuh yang sama.
Perasaan seperti ini tak begitu mendapat tempat dalam pikirannya, hanya sesekali mampir dan selalu ditepiskan keras-keras. Ia tak membutuhkan perasaan sentimental menjijikkan seperti ini.
Masa lalu seorang Oh Se Hun—yang juga menjadi memori miliknya, tidak menyenangkan, hanya berisi penderitaan dan kesulitan yang membuatnya mendecih jijik.
Ia ada ketika Oh Se Hun berumur 11 tahun, hasil dari insiden mengerikan yang menghancurkan akal sehat Sehun dengan trauma mendalam. Sejak awal, ia merupakan persona cacat yang muncul dari semua mimpi buruk yang Sehun dapatkan.
Oh Se Hun lahir dari keluarga berantakan.
Ayahnya pemabuk dan pengangguran, pria tinggi besar bertempramen mengerikan yang menginginkan semua hal berada di bawah kakinya dengan cepat. Dan ibunya, adalah wanita malang yang menjadi bantalan kaki bajingan itu.
Oh Se Hun kecil adalah anak lelaki bertubuh kurus kering, kulitnya yang pucat seringkali lebam dan memar hasil pukulan sang Ayah yang seringkali tidak ia ingat. Sehun berangkat ke sekolah dengan seragam kusut dan perut kosong, Ibunya sibuk meladeni Ayahnya. Hanya ucapan "Ibu menyayangimu, belajarlah dengan benar" yang diucapkan tanpa menatapnya yang selalu ia dapat di pagi hari.
Di sekolah pun tak pernah sangat baik, tubuh kurusnya sering kali menjadi samsak tinju teman-temannya yang lebih besar, ia tak pernah melawan, ia hanya diam. Lalu terbangun dengan seluruh tubuh kesakitan. Para Guru tak begitu peduli, hanya menasehati sekenanya dan menghukum sekenanya, lalu kejadian itu terulang, dan mereka hanya perlu mengulang nasehat dengan teks yang sama. Seperti kaset rusak.
Sehun kecil merasa tak ingin pulang, tetapi ia tak memiliki tempat lain.
Ibunya bekerja serabutan, seringkali mendapat tatapan rendah dan hinaan yang membuat ia mengepal marah, tapi tak bisa melakukan apapun. Ia membenci kenyataan itu, hanya bisa diam ketika melihat Ibunya ditampar, tersungkur ke lantai sambil mengais makanan yang ditumpahkan itu.
Ketika ia berumur sepuluh tahun, Ibunya membawanya kabur dari tempat yang tak layak disebut rumah itu. Dengan kepala berdarah hasil pukulan botol sang Ayah, Ibunya berlari terseok menyeretnya. Sehun kecil terdiam, tak mampu mengatakan apapun ketika ia berakhir tidur di pinggir selasar toko dengan sang Ibu yang menangis sesunggukan.
"Maafkan Ibu… Maafkan Ibu, Sehun… Maafkan Ibu…"
Apa yang harus dimaafkan? Ibunya tidak memiliki kesalahan apapun.
Beberapa minggu pertama setelah kabur dari rumah adalah minggu-minggu terberatnya, Sehun tidak melanjutkan sekolahnya karena itu sangat riskan jika saja bajingan itu memutuskan keluar rumah dan mencari dirinya. Semuanya memburuk, benar-benar buruk hingga Sehun kecil tak bisa mengharapkan sesuap nasi untuk mengganjal perut.
Lalu segala sesuatu membaik, meski begitu pelan. Mulai dari Ibunya yang membawanya masuk ke kontrakan kecil berbau apak yang selalu Ibunya katakan sebagai cikal bakal dari rumah besar mereka nanti. Lalu ke barang-barang bekas jelek yang mulai mengisi rumah kecil mereka. Setiap pagi Sehun membantu Ibunya berjualan kue-kue yang tak begitu manis di pasar. Saat siang menjelang Ibunya bekerja membagikan brosur-brosur yang berakhir di tempat sampah. Sore hari menjadi tukang cuci pakaian yang bergaji tak seberapa. Ketika malam datang, Ibunya akan pergi mengupas bahan-bahan makanan sampai pagi buta, dengan wajah pucat kelelahan tanpa sekalipun mengeluh.
Ibunya bekerja sangat keras, mengusahakannya tetap makan meski hanya sekali sehari dan memastikannya minum susu meski harus diencerkan berkali-kali agar cukup untuk beberapa hari.
Sehun kecil mulai bersekolah lagi, di sekolah pinggiran yang berisi anak-anak nakal yang jauh lebih mengerikan. Tetapi ia menjadi lebih cerdas menyembunyikan itu dari Ibunya, semata agar perempuan malang itu tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Ia akan melepas kemejanya sebelum sampai di sekolah, menyembunyikannya di sela-sela ventilasi kamar mandi umum dan menggantinya dengan kaus putih usang. Jadi ketika ia kotor setelah dijerembabkan ke jalanan berdebu, kemejanya masih bersih. Ia membiarkan seluruh tubuhnya dipukuli, ia hanya melindungi wajahnya sekuat tenaga, karena jika Ibunya melihat lebam di wajahnya ia pasti akan sedih sekali. Terkadang Sehun hanya ingat perjalanan pulangnya saja, menganggap semua rasa sakitnya biasa.
Sehun kecil akan pulang dengan kemeja bersih, yang menyembunyikan semua memar dan lebamnya. Wajahnya yang memang selalu pucat membuatnya mampu menyamarkan diri saat kesakitan. Itu sangat sulit, juga sakit dan melelahkan. Tapi Sehun kecil tahu, mengeluh dan mengatakan semuanya hanya akan membuat Ibunya menderita.
Remedi kecil datang ketika Ibunya memiliki cukup uang untuk membawanya ke bukit yang penuh kebun anggur, duduk di tepiannya dan mengamati langit malam yang penuh bintang. Ada pembicaraan muluk tentang masa depan yang akan secerah malam bertabur bintang; Sehun kecil merasa sedikit tak percaya, tetapi harapan itu ada dalam hatinya.
Hari Minggu itu Ibunya mengajak ke pasar, seperti yang biasa mereka lakukan tiap akhir pekan. Sehun meringis ketika membawakan barang belajaan mereka, tangan ringkihnya sudah nyeri dan memerah. Tetapi ia tetap diam. Lalu matanya menangkap sepasang sepatu yang dipajang di sebuah toko kecil. Ia terhenti sejenak, dan teringat sepatunya yang sudah rusak di rumah.
Tampaknya sang Ibu menyadari itu, Sehun kecil mendapatkan tepukan di kepalanya.
"Apa Sehun ingin sepatu itu?"
"Tidak, Bu... Tabungan Sehun tidak cukup."
Ibunya tersenyum tipis, lalu mereka pulang. Sehun sedikit antusias dengan makan malam nanti, Ibunya membeli tuna kaleng dan berjanji akan memasaknya dengan enak.
Tapi, ia tidak akan pernah bisa merasakannya.
Malam itu, Ibunya sedang menata piring-piring makanan ke meja kecil mereka. Sehun baru saja akan mengambil nasi ketika rumah mereka digedor sangat keras.
"Keluar! Oh Ren Ah keluar kau perempuan jalang!"
Sehun terkejut mendengarnya, sementara Ibunya menampakkan ekspresi ketakutan di wajahnya. Tangan kecilnya ditarik sampai mangkuk nasinya terguling.
"Sembunyi di sini, apapun yang terjadi kau tidak boleh keluar! Kau mengerti?! Jadilah anak baik dan dengarkan kata Ibu! Diam di sini, jangan mengatakan apapun, jangan keluar dari sini!"
Ia bersembunyi di dalam lemari. Sehun kecil tak tahu apa maksudnya. Lalu ia mendengar suara pintu terbuka, dan pekikan Ibunya. Mungkin Ibunya terjatuh menabrak kursi mereka.
"Kapan kau akan membayar hutangmu, heh?" Suara berat seorang pria dewasa terdengar memenuhi ruang.
"M-maafkan aku… Aku belum memiliki uang dan—"
Terdengar suara pukulan yang cukup keras.
"Kau berbohong?! Kau mengatakannya seminggu lalu, dan minggu sebelumnya dan bulan sebelumnya juga. Kau mengatakan kau tidak punya uang tapi kulihat kau sedang makan, heh?! Enak sekali mulutmu itu bicara!"
Terdengar suara pukulan lagi.
"A-aku minta maaf, aku akan membayarnya minggu depan. Katakan pada Tuan Hwang aku akan membayarnya minggu depan! Kumohon aku—"
"Apa kau tahu kau sudah menunggak sangat lama heh?! Bos sudah muak menunggu, kau tahu? Aku juga lelah harus menagihmu seperti ini!"
Sehun kecil menggigil ketika mendengar suara pekikan Ibunya, diiringi suara pukulan-pukulan dan hantaman benda keras. Sehun kecil membekap mulutnya erat-erat.
Suara itu begitu menakutkan, tak ada cahaya yang ia peroleh di sana. Semua itu mengerikan dan begitu buruk. Tubuhnya menggigil ketakutan, seiring dengan rintihan Ibunya yang memohon-mohon… Lalu tiba-tiba saja hening. Hanya engah nafas yang terdengar.
"H-hei… Apa kau tidak keterlaluan?" Sehun kecil mendengar suara pria lain, ada warna ketakutan dan khawatir di sana.
Apa dia orang baik? Harapan kecil muncul, mungkin karena belas kasihan pria itu Ibunya akan berhenti dipukuli.
"S-sial! Bagaimana ini?!"
"Apa yang sudah kau lakukan?!" Pria yang sepertinya baik itu berteriak frustasi.
"Bos akan menghabisi kita jika tahu kita membunuh wanita ini!"
Bunuh? Huh? Apa maksudnya?
"Harusnya kau mengontrol emosimu, Bajingan! Cepat, ambil sesuatu yang berharga dari sini, aku akan menambahkan uangku untuk membayar hutang wanita ini! Sial, kita harus segera pergi!"
Tidak, dia bukan orang baik…
Sehun termenung saat bayangan-bayangan mengerikan menghampiri kepalanya. Ia mengabaikan suara berisik dari barang-barang yang diobrak-abrik, lalu seberkas cahaya datang dan menyilaukan matanya.
"Hei! Young Won di sini ada anak kecil!"
Sehun ditarik keluar, tersungkur menabrak meja yang terguling. Kerah kausnya ditarik oleh pria bersuara besar itu. Sehun kecil menggigil lebih keras. Pria besar itu memiliki wajah mengerikan dengan bekas luka memanjang. "Harus aku apakan dia?" Sepatu berat itu menghantam dadanya dengan keras.
"Pukul saja dia, buat dia pingsan. Aku sudah mengambil uangnya, cih, ini sangat sedikit!"
Young Won… Pria itu bukan pria baik…
Sehun kecil mencuri pandang, dan menemukan pria tinggi kurus dengan ekspresi menjijikan di wajahnya.
"Hei, bocah kecil. Jika seseorang datang, katakan rumahmu dirampok, eh?! Aku akan datang membunuhmu jika kau berani mengatakan—"
"Sialan jangan malah mendongeng!"
Lalu pukulan datang menghantam tengkuknya.
Semuanya gelap.
Mungkin, saat itulah ia benar-benar bangun dari pikiran terdalam Oh Se Hun. Shixun merasakan kepalanya berdenyut kencang, memori mengerikan memaksanya bangun karena itu terlalu menakutkan. Ketika ia membuka mata, yang ia lihat adalah rumah kecil yang hancur berantakan. Ia berusaha bangkit ketika melihat Ibunya tersungkur, Ibunya diam saja… Dadanya tidak naik turun.
Shixun melebarkan mata. Seluruh tubuhnya sakit, nyeri tak terlukis. Tapi aku harus melihat Ibu…
"Ibu sudah mati…" Bisiknya ketika melihat kepala Ibunya terluka, darahnya sampai menggenangi nyaris seluruh tubuh. "Mati…"
Kepalanya berdenyut menyakitkan, dengingan suara memekakkan telinga. Dadanya sesak, ia nyaris kesulitan bernafas. Sesuatu terlintas dalam kepalanya, begitu jelas dan terngiang-ngiang.
"Aku harus membunuh mereka…"
Shixun, yang saat itu belum menyadari siapa dirinya, mengambil pisau dapur yang tergeletak dekat kompor kecil, aku butuh sesuatu yang tajam dan dapat melukai… Ia berjalan keluar menyembunyikan benda tajam itu dibalik kausnya yang kotor. Tatapannya nanar, ia merasa masih di ambang kesadaran, tetapi pikirannya menjelajah.
Ibu meminjam uang dari mereka… Mereka menyebut bos, jadi mereka adalah kacung… Babi-babi menjijikkan itu… Di mana aku bisa menemukan mereka?
Matanya menyala dengan antusiasme. "Biasanya mereka berkumpul di dekat dermaga."
Kakinya terseok, berjalan tertatih ke tempat itu tanpa mempedulikan tatapan orang-orang. Ia terus mengamati sepanjang jalan, berkali-kali memindai dan mencari keberadaan mereka. Hanya satu hal yang terlintas dalam pikirannya.
Ibu mati… Mereka harus mati…
Kegelapan dengan baik hati menyembunyikan keberadaan tubuh kecilnya, matanya menangkap dua orang itu duduk di pembatas dermaga dengan rokok mengepul.
Shixun kecil menatap dari sisi kegelapan. Terkesiap dengan mata melebar ketika mendengar suara dari dalam kepalanya. Jangan… Jangan… Jangan…
Suara siapa itu?
Jangan bunuh… Jangan … bunuh…
Tapi Ibu mati, mereka harus mati.
Suara itu menghilang, berbarengan dengan mereka yang membuka percakapan.
"Menurutmu apa yang akan terjadi pada wanita itu?" Pria dengan bekas luka bertanya. "Sial, aku kelepasan tadi."
"Apa yang akan terjadi nanti bukan urusan kita, kita sudah membayar utang wanita itu. Bocah kecil itu tidak akan berani mengatakan kepada siapapun."
Ya, aku tak akan mengatakannya pada siapapun. Dan kalian tidak akan bisa mengatakannya pada siapapun.
Senyum lebar terlukis di wajahnya yang basah air mata. Bukankah orang mati tidak bisa bicara?!
"Aku akan pergi ke bar, kau ikut?"
"Aku akan menyusul."
Pria bernama Youngwon itu sendirian, menikmati kepulan asap rokok yang pasti mengerutkan paru-parunya.
Shixun kecil berpikir, kemana ia akan mengarahkan pisau? Ia tak bisa melukai kepalanya seperti apa yang mereka lakukan pada ibunya, lagipula tingginya tak akan mampu mencapai. Dada? Ibunya pernah mengatakan sesuatu tentang jantung, sesuatu yang membuat mereka hidup. Tapi tidak, jantung dilindungi tulang dan itu akan sulit.
Ia menemukannya.
Perut.
Mereka harus mengeluarkan banyak darah agar mati seperti ibu. Jadi … aku harus menusuknya berkali-kali.
Ada pertaruhan karena pria itu berkali lipat besar tubuhnya. Dan masih ada kemungkinan pria itu juga membawa senjata.
Tapi asal dia terkejut, itu akan menguntungkannya kan?
Shixun kecil mengeluarkan pisau dari balik bajunya, mendekat perlahan memanfaatkan bayangan yang menyelimutinya. Pisau itu tergenggam erat dengan posisi ke bawah.
Ya, aku harus membunuhnya.
Shixun berlari, mengangkat pisaunya tinggi-tinggi, menusuk ke sisi kiri perut pria Youngwon itu.
"Agh!" Pria itu memekik, shock merasakan sesuatu mengenai perutnya. Matanya melebar mengetahui bocah kecil yang dikiranya akan menangis ketakutan tersenyum lebar padanya.
"Belum berdarah." Katanya.
Shixun nyaris tersungkur ketika pria itu mengayunkan lengan untuk menjauhkan diri, Shixun dihantam pukulan dan tendangan, tetapi ia memegang kuat gagang pisau itu, menekannya kuat-kuat sampai pria itu berteriak.
"Setan kecil! Bajiangan lepaskan ak—aarrgghhhh!"
Entah kekuatan dari mana, Shixun menusuk pria itu berkali-kali. Dengan senyum maniak dan tatapan berkilau. "Mati… Paman harus mati seperti ibu."
Muncratan darah mengenai wajahnya, mewarnainya dengan warna merah pekat yang berbau anyir.
"Ohok!" Pria itu terbatuk mengeluarkan darah. Menatap pada Shixun yang mulai menjauh setelah darah menyebar ke seluruh kemeja pria itu. Mereka menetes, menggenangi jalan dan Shixun tersenyum lebar. Itu sudah sama seperti Ibu…
Shixun menikmati bagaimana pria itu tak bisa mengatakan apapun dengan mata melotot, hanya memegangi perutnya dengan sia-sia.
"Kau harus menenggelamkannya jika tidak ingin ketahuan." Sebuah suara datang dari arah belakang, dan Shixun menemukan pria baya berjas rapi duduk menyandar di depan mobil mengkilap mewah. Ada seorang pria lagi di sampingnya, gesturnya sangat sopan.
"Aku harus membuatnya tenggelam?"
"Ya, kau lihat laut, kan?"
Oh, saran ini bagus. Sehun mengambil pisau yang masih menancap itu, kemudian menusukkannya ke bagian dada sekuat tenaga. Senyuman masih terlukis di wajahnya. Tubuh kecilnya yang berlumuran darah susah payah mendorong tubuh besar itu melalui celah-celah pembatas. Cukup sulit, tetapi tidak membuatnya menyerah.
"Byurrr!"
Setelah tubuh itu tercebur ke dalam air, Shixun menatap pria baya itu. "Apakah aku sudah melakukannya dengan benar?"
Pria baya itu tertawa, berjalan mendekat dengan begitu kasual. Berdiri menjajarinya, melongok ke dalam air lalu mengangguk. "Ya, kau melakukannya dengan baik. Siapa namamu?"
Kepalanya berdenyut, ia tidak begitu ingat, tetapi Ibunya selalu memanggilnya Sehun. "Oh Se Hun."
Mereka terdiam beberapa saat, lalu pria itu menyalakan cerutu. "Kenapa kau membunuhnya?"
"Ibu mati karena mereka, jadi mereka harus mati."
"Mereka? Berarti kau harus membunuh beberapa orang lagi?"
"Satu orang lagi, aku akan membunuhnya. Dia pergi ke bar. Paman, boleh aku meminjam pisau? Apa kau memilikinya?" Shixun menatap ke pria baya itu dengan tatapan polos.
Pria itu tertawa. "Aku memiliki banyak pisau, aku akan meminjamkannya asal kau ikut denganku."
"Aku tidak bisa. Ibu masih sendirian di rumah, aku harus kembali."
Lalu sesuatu yang menyengat menyapa bilur nadi di lehernya. Shixun menatap suntikan yang pria itu pegang. Pandangannya mulai mengabur dan seluruh rasa sakit kembali menyerangnya.
"Paman … Apa yang…"
Pria itu menangkap tubuhnya yang lunglai. Di ambang batas kesadaran, samar ia masih mendengar apa yang mereka katakan.
"Seo Hwi Yoon, cari tahu tentang bocah Oh ini. Jika benar Ibunya sudah mati, suruh orang untuk membereskannya. Kita harus menghapus jejaknya."
"Apakah Anda serius akan membawa anak malang ini? Kita tidak mengetahui latar belakangnya, dan kita tidak tahu apakah dia akan—"
"Kau tidak melihatnya tadi? Dia akan menjadi saudara Chanyeol yang sempurna."
Lalu kegelapan menelan dirinya.
Saat ia membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit tinggi dan mewah. Seluruh tubuhnya hangat, lalu saat ia menoleh ke samping di antara bantal-bantal dan selimut hangat, ia menemukan Paman yang malam itu melihatnya.
Ia ingin bertanya apa maksud Paman itu membawanya ke tempat asing ini, tetapi yang keluar adalah kalimat yang sangat berbeda.
"Siapa kau?!"
Shixun terdiam, lalu ketika melihat paman itu terbelalak dan seakan menyadari sesuatu; ia juga menyadari sesuatu. Ada orang lain yang juga menghuni tubuh ini. Ketika ia ingin mengatakan sesuatu, ia merasa ditekan begitu kuat agar tetap diam.
Shixun melihat paman itu pergi sebentar, memanggil pria lain yang seingatnya bernama Seo Hwi Yoon. "Panggilkan dokter untuknya. Kurasa kita mendapatkan sesuatu yang tidak terduga dari bocah ini."
Ia mendapati dirinya berteriak-teriak ketakutan, dan itu membuatnya makin ingin mengatakan sesuatu. Dan saat dua keinginan kuat itu berbenturan, yang terjadi adalah rasa pusing luar biasa dan dengingan menyakitkan di kepalanya.
Shixun hanya mengamati setelahnya, bagaimana ia diberi pertanyaan semacam apa kau mengingat dirimu, apa kau ingat apa yang kau lakukan malam sebelumnya, apa yang terjadi pada ibunya. Dengingan kuat itu kembali muncul ketika dokter itu bertanya dengan kasual:
"Apa kau ingat membunuh seorang pria bernama Youngwon di pinggiran dermaga?"
"Tidak! Aku tidak melakukan apapun! Aku tidak membunuh siapapun! Aku harus bertemu ibu!"
Racauan itu melelahkan sekali, tetapi Shixun tidak memiliki kendali atas tubuh ini. Perlahan ia menyadari, bahwa pemilik pertama tubuh ini adalah Sehun. Dan ia, bahkan tidak memiliki nama. Ingatan pertamanya adalah saat malam mengerikan itu yang secara sadar ia lakukan, tetapi kenangan-kenangan lama yang ada di pikirannya adalah ingatan milik Sehun yang juga menjadi miliknya.
Shixun mengetahui Sehun begitu kebingungan dan ketakutan, tetapi keinginan Sehun untuk sadar masih begitu kuat dan itu menekan keberadaannya. Jadi ia tetap diam selama beberapa hari. Membiarkan Sehun kecil menangis keras memeluk guci abu kremasi ibunya—ibu mereka. Sehun kecil masih tidak dapat menerima kenyataan dan kerap kali diserang hysteria.
Lalu hari itu, ia merasakan keberadaannya makin kuat, dan ia bisa mengambil alih tubuh itu.
"Sehun?"
"Dia tidur di dalam."
Paman itu tersenyum samar, membantunya menyandarkan tubuh yang terasa lemah.
"Kau mengetahui apa yang terjadi?"
Shixun mengangguk. "Ibuku dibunuh, lalu aku pergi membunuh salah satu pelakunya, Youngwon, di tepi dermaga. Aku menusuknya dan menenggelamkannya ke dalam air. Paman, aku belum membunuh orang satunya, pinjamkan aku pisau."
"Tahan sebentar." Paman itu terkekeh gelap. "Kau mengatahui apa yang terjadi pada dirimu?"
Shixun terdiam sebentar, lalu mengangguk lemah. "Ada seseorang lain dalam diriku. Sehun. Dan aku juga ada di dalam tubuh yang sama."
"Kau tidak mengalami penyangkalan seperti saudaramu, hm?"
Shixun mengernyit dengan kata saudara itu. "Aku melihat semuanya, aku juga mendengar semuanya dari dalam. Tapi sepertinya Sehun tidak mengalami hal yang sama. Dia tidur, aku tidak merasakan dorongannya untuk bangun dan menguasai tubuh ini."
Butuh waktu berbulan-bulan dengan terapi berderet yang memusingkan untuk membuat Sehun mengerti apa yang terjadi pada dirinya, agar ia berhenti melakukan penyangkalan yang akan merusak kepalanya sendiri. Shixun tidak melakukan apapun, tetapi lewat terapi-terapi itu ia belajar bagaimana cara mengambil tubuh ini dengan memanfaatkan kelemahan yang ada di pikiran Sehun. Trauma, itu yang memicu ketakutan Sehun dan saat itu ia bisa menguasai tubuh ini.
Paman yang mengenalkan diri sebagai Park Jin Hwa itu pernah mengatakan, baik pada Sehun maupun dirinya, bahwa ia akan memiliki saudara bernama Park Chan Yeol, yang sebentar lagi akan datang dari Amerika.
Park Chan Yeol adalah bocah tinggi berkuping lebar yang kekanakan, suka sekali tersenyum sampai giginya terlihat. Shixun menilainya sebagai bocah ceria, dengan pikiran yang sudah terdoktrin dengan pengetahuan kedokteran. Berkata ia akan menjadi dokter bedah handal.
Chanyeol dan Sehun kecil bermain seperti teman biasa, Sehun mulai melupakan kesedihannya dan mencoba menerima meski masih memiliki ketakutan. Lalu saat kesempatannya muncul, ia menyeringai menyadari Chanyeol sudah mengetahui tentang dirinya.
"Aku bicara dengan siapa? Sehun, atau yang satunya lagi?"
"Yang satunya lagi." Shixun menjawab. Chanyeol menggeletakkan mainannya, menatapnya cukup serius.
"Kau akan jadi saudaraku. Kau yang akan menjalankan bisnis milik Ayah, karena orang tua itu akan mati suatu saat nanti."
"Kenapa bukan kau?"
"Aku ingin jadi dokter bedah, tetapi akan tetap membantumu kok."
"Membantu?"
"Ayah punya rumah sakit besar dan beberapa bisnis lain, tetapi tangannya juga sangat kotor karena dia punya kekuasaan di dunia bawah."
"Dunia bawah?"
Chanyeol menyeringai lebar. "Kau mengetahui tentang perdagangan narkoba, jual beli manusia dan juga hal-hal seperti itu? Ayahku salah satunya. Dia punya jaringan luas ke berbagai belahan dunia. Itu yang membuatku akan belajar di Amerika."
Shixun tidak menyadari matanya berkilau mendengar itu.
"Kenapa aku? Aku hanya orang asing."
"Aku tidak tahu," Chanyeol mengedik tak peduli. "tapi ayah tidak akan pernah membuat kesalahan. Dan lagi, kau tidak akan berkhianat kan? Ibumu sudah mati, kau tidak punya siapa-siapa lagi. Bahkan ayah kandungmu sendiri sudah pasti tidak peduli padamu. Kau mau jadi saudaraku?"
Shixun bukan anak lelaki yang tak tahu terimakasih, dan Sehun bahkan lebih parah dari itu, jadi ia mengangguk. "Akan aku pastikan Sehun tidak akan menyebabkan masalah."
"Oh, semoga berhasil."
Shixun bekerja keras, berkali-kali menguatkan keberadaannya agar Sehun bisa sepenuhnya menerima tentang kondisi spesial mereka. Ia tak akan menyebutkan berbagai penyangkalan luar biasa yang Sehun lakukan, itu sangat membosankan dan ia tak suka hal-hal yang menggunakan perasaan sentimental.
Saat umurnya empat belas, selepas mengantar Chanyeol ke bandara untuk menempuh pendidikan kedokteran di negeri Paman Sam, untuk pertama kalinya ia bisa bicara secara sadar dengan Oh Se Hun tanpa bantuan psikiater atau prosedur hypnosis. Saat itu larut tengah malam, di depan cermin di mana Sehun dapat melihat wajahnya, dapat melihat ia berbicara.
"Sehun, kau bisa mendengarkanku?"
Sehun tampak terkejut, secercah ketakutan ada di netranya. "Ya." Suara Sehun terdengar serak dan kering, sementara miliknya jauh lebih tegas.
"Berhenti melakukan hal-hal melelahkan, aku juga merasakan tekanan menjengkelkan ketika kau melakukannya. Apa kau tidak lelah dengan semua itu?"
"Aku…"
"Tidak bisa menerima ini?"
Sehun terdiam sejenak. "Apa benar kau yang melakukan pembunuhan pada orang yang memukuli Ibu?"
"Mereka membunuhnya. Ibu mati karena mereka, jadi mereka harus mati juga. Sekalipun sampai saat ini masih ada satu orang yang hidup."
"Kenapa kau melakukannya?! Kenapa kau melakukan hal mengerikan itu?!"
Shixun tersenyum mengerikan, dengan amarah yang mendidih di kepalanya. "Bukan kau yang menerima semua pukulan itu, bukan kau yang melihat Ibu mati dengan darah menggenang; jadi diamlah."
Sehun tersentak. Menggeretakkan gigi. Apa yang dikatakan itu memang benar, ada saat-saat di mana ia tak merasakan pukulan-pukulan yang ia terima, baik dari ayah kandungnya atau teman-teman brengseknya, ia tak mengingat apapun tentang malam mengerikan itu selain ia bersembunyi di lemari. Jadi, selama ini yang merasakannya adalah dirinya yang lain?
Shixun membiarkan Sehun larut dengan pikirannya sendiri, meski itu juga mengirimkan rasa dingin yang membuatnya menggigil. Seberapa terbiasanya ia dengan ingatan itu, kilasan tentang genangan merah darah yang mengelilingi ibu mereka masih begitu mengerikan.
"Kau sudah mengetahui semuanya, tentang Chanyeol, juga apa yang Paman Park kerjakan. Mereka memiliki dua sisi berbeda, di bawah cahaya dan di dalam kegelapan. Kau bisa berjalan di bawah cahaya, dan aku akan melakukan semua pekerjaan kotor untukmu."
Sehun mengepalkan tangannya erat. "Diam."
"Bukankah kau ingat nasihat ibu agar tidak menjadi anak yang tidak tahu terimakasih?"
Sehun memukul hancur cermin di depannya, terengah-engah dengan ekspresi keras kepala. Tetapi Shixun tahu, Sehun tidak bisa melakukan apa-apa dengan itu, mereka tak memiliki pilihan. Dan meski Sehun sakit menyadari tangannya akan dipinjam untuk melakukan kejahatan, Shixun mendapati dirinya cukup senang dengan hal itu.
Sensasi aneh yang ia rasakan ketika menikam pria bernama Youngwon itu, melihatnya ketakutan tak bisa melakukan apapun, cipratan darah dan ketidakberdayaan itu… Shixun merinding teringat sensasinya. Ia ingin merasakannya lagi.
Pembunuhan keduanya ia lakukan saat berumur 17 tahun, secara terencana menggunakan pisau dapur bertipe sama, tak begitu tajam tetapi cukup untuk menyayat kulit. Pria berwajah sangar itu mendapatkan banyak sayatan di seluruh tubuh, terus berteriak kesakitan dan juga menyumpah serapah sampai akhirnya mati perlahan.
Ketika pagi hari meledak dengan berita di mana seorang pria ditemukan mati di pinggir dermaga, dengan luka sayatan menganga mengerikan; Shixun tersenyum lebar mendapati Sehun gemetar, menggigil kedinginan.
Biasakan itu, Oh Se Hun…
.
.
.
Shixun menghela nafas, mengusak makin dalam merasakan aroma harum dari rambut Luhan.
Seharusnya ia baik-baik saja saat Luhan memanggilnya Sehun, ia tidak ingin Luhan mengetahui keberadaannya, ia tidak menginginkan kekacauan lagi setelah menemukan dirinya cukup senang dengan kondisi mereka sekarang. Begitu kontradiksi, tapi ia tak akan pernah mengakui perasaan sentimental yang ada di dalam dirinya itu.
Seberat apapun perasaannya, ia tak akan menempatkan penyesalan dalam pikirannya.
Semua perkataan yang menyinggung eksistensinya, tentang ia yang akan selamanya hidup di balik bayangan Oh Se Hun mulai mengganggu, sampai ke tahap yang membuatnya merasa marah. Tetapi, ia serius ketika ia mengatakan tak akan menarik kalimatnya sendiri.
Shixun mengetahuinya secara sadar, selalu ada konsekuensi untuk setiap perbuatan. Mau bagaimanapun, itu salah satu hal yang membentuk mereka sekarang.
Dan bukankah sudah sejak awal ia hidup dalam bayangan; melanjutkannya akan baik-baik saja…
Ya, seharusnya akan baik-baik saja.
.
Tbc
.
Okay, read on yor own risk; I've already warn you from the first very beginning.
This is ramadhan, feel a bit guilty posting this chap but I can't make you wait any longer. And I can't wait any longer.
Shixun should has a lot of spotlight, but I let his past not to be so detailed, there's a lot of hints back then. This chapter tiring me, *sigh
See you soon.
.
Anne, 2020-05-06
