Dari ujung matanya, Konan dapat memperhatikan Itachi yang masih mencoba menenangkan tangisan Ryuuko.

"Itachi duduklah. Siapa tahu gerakanmu itu yang membuat Ryuuko tidak nyaman," ujar Nagato.

Pria berambut hitam itu memilih untuk mengabaikan saran Nagato dan tetap menggendong bayi kecil tersebut hingga kembali terlelap. Setelah itu dengan sangat pelan, Itachi menyerahkannya pada Konan.

"Aku ingin melihatnya," pekik Tobi yang masih berdiri di ambang pintu.

"Pelankan suaramu itu bodoh," gerutu Deidara.

Kedua pria itu segera mendekati Konan yang sedang menggendong bayinya.

"Siapa namanya?" Bisik Deidara.

"Ryuuko."

"Kyaa, lucu sekali," pekik Tobi yang segera mendapat pukulan dari partnernya itu.

Tangisan Ryuko kembali pecah.

Deidara merutuki tingkah kekananak-kanakkan Tobi. Sementara Nagato menatap pria bertopeng itu dengan tajam seolah berkata, 'hentikan tingkah bodohmu itu.'

"Ku rasa kau harus bekerja lembur Itachi."

Sinar matahari mengusik Konan sehingga ia harus membuka matanya.

Ia tidak ingat pukul berapa kemarin ia tertidur karena Ryuuko yang terus menangis, untung saja Itachi dapat mengatasi hal itu.

Mata opal itu segera menjelajahi seisi ruangan dan Konan tersentak kala mendapati Madara yang sedang menggendong Ryuuko.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Konan yang tak bisa menyembunyikan nada tidak sukanya.

"Aku hanya ingin menggendongnya. Bukankah ia juga keluargaku?"

"Hentikan omong kosongmu, dan berikan Ryuuko padaku," ucap Konan.

Madara segera menghampiri Konan dan memberikan bayi itu padanya.

"Tenang saja, aku tidak mungkin menyakitinya," bisik Madara.

"Ngomong-ngomong Konan, kau tidak mau ikut denganku?" Tanya Madara yang kembali duduk di kursi yang sebelumnya ia tempati.

Konan mengerutkan dahinya.

"Kau tidak tahu? Itachi atau Nagato tidak memberitahumu?"

Madara menghela napas. "Sayang sekali mereka tidak memberitahumu. Itu artinya mereka tak ingin kau melihat pertarungan antara Itachi dan Sasuke."

"Apa maksudmu? Jangan bercanda. Untuk apa mereka bertarung?"

"Pelankan suaramu, kau bisa membangunkannya," ujar Madara yang segera dibalas oleh decakan Konan.

"Tentu saja mereka bertarung karena Sasuke ingin membunuh Itachi," jawab Madara.

"Karena dia tidak mengetahui kebodohan yang dilakukan klan Uchiha, dan aku juga berharap suatu saat nanti akan dihukum oleh Sasuke yang notabenenya juga seorang Uchiha."

Ucapan Itachi tiba-tiba saja melintas dibenak wanita itu. Ia berharap untuk dihukum oleh Sasuke? Bukankah itu berarti…

"Kau akan ke mana?" Tanya Madara saat melihat Konan yang sudah menyibak selimutnya.

"Aku akan ikut denganmu," jawab Konan.

Entah kenapa saat ini jantungnya bekerja lebih cepat. Bagaimana jika spekulasinya benar?

"Kau tidak bisa meninggalkan anak itu."

Konan menghela napasnya. Ia harus berpikir jernih.

"Menurutmu siapa yang akan menang?" Tanya Madara.

Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Madara segera melanjutkan perkataannya.

"Aku berani bertaruh Sasuke akan memenangkan pertarungan kali ini. Kau mau tahu kenapa? Karena alasan pertama Itachi tidak akan mugkin mau menyakiti Sasuke.

"Alasan kedua Itachi sudah merencanakan semua ini agar Sasuke bisa terlepas dari Orochimaru. Alasan ketiga kondisi Itachi sudah terluka parah sebelum pertempuran ini dimulai. Kau tahu kenapa ia terluka?

"Magekyu sharingan membuatnya melemah tapi jauh dari semua itu, Itachi mulai mengalami efek samping dari obat penenang yang ia konsumsi. Bukankah kau juga sering melihatnya? Dan alasan selanjutnya yaitu karena Sasuke benar-benar berambisi untuk membunuh Itachi," jelas Madara.

Konan menggelengkan kepalanya.

"Jangan mencoba menghasutku."

"Aku tidak menghasutmu. Aku hanya menyampaikan sesuatu yang dirahasiakan Itachi dan Nagato," elak Madara.

"Diamlah di sini dan jaga Ryuuko. Kau akan mendengar kabar kematiannya beberapa saat lagi dariku," bisik Madara yang segera menghilang begitu saja.

Konan berusaha menahan air matanya, namun usahanya sia-sia ia tetap terisak.

Sebagian dirinya membenarkan ucapan Madara, namun hati kecilnya masih berharap Itachi benar-benar pulang karena ia tak bisa meninggalkan Ryuuko.

"Konan."

Wanita itu segera mengusap wajahnya.

"Kisame."

"Kau baik-baik saja?"

Konan menggelengkan kepalanya lalu berkata, "bisakah ku titip Ryuuko padamu?"

"Eh? Aku tidak pernah mengurus anak kecil," tolaknya.

"Aku akan meninggalkan salah satu bunshinku denganmu."

"Konan, lebih baik kau di sini," ucap Kisame.

"Kau mengetahuinya," tuding Konan.

"Itachi memintaku untuk memastikan kau tetap di sini bersama Ryuuko."

Konan menggelengkan kepalanya.

Jika saja Itachi memberitahukan rencananya, Konan pasti masih bisa tenang. Namun pria itu tidak melakukannya.

Konan juga benci pada prediksi Madara yang selalu benar—hal itu pernah terjadi pada saat Madara memprediksikan kematian Sasori dan Orochimaru.

"Dengar, aku harus memastikan bahwa Itachi baik-baik saja. Aku memang membencinya, tapi ia tidak bisa meninggalkan Ryuuko begitu saja. Ryuuko tidak boleh mengalami apa yang pernah aku dan Itachi rasakan," jelas Konan.

Pria itu hanya diam.

"Baiklah aku akan menjaga Ryuuko."

Konan berusaha tersenyum, lalu memeluk anaknya untuk beberapa saat sebelum ia meninggalkan sebuah bunshin dan merubah diri aslinya menjadi ribuan kupu-kupu yang pergi mengikuti Madara.

"Nagato, kau tidak memberitahuku," tuding wanita bersurai biru itu.

Nagato menatap Konan. Ia sama sekali tidak terkejut karena ia sudah memprediksi bahwa Konan akan melakukan hal ini.

"Itachi yang memintaku. Lagipula ia pasti tidak apa-apa. Ia akan memenangkan pertarungan ini dengan mudah."

Nagato menatap pria bertopeng di sampingnya dengan tatapan tidak suka.

"Ku rasa Sasuke sudah tidak memiliki sisa chakra," ucap Madara yang duduk di atas bebatuan.

"Hm."

"Namun sayangnya Itachi juga mengalami hal yang sama," tambah Madara.

Nagato menggenggam lengan Konan yang sudah terkepal. Mata mereka tertuju pada tempat pertempuran yang sudah dipenuhi oleh api amaterasu.

"Ku rasa taruhanku salah Konan," ujar pria bertopeng jingga itu saat melihat Itachi yang mulai mengeluarkan susano'o sementara Sasuke sudah tidak bisa berkutik lagi.

"Aku tidak bisa menjamin hal-hal yang tidak bisa aku kendalikan, termasuk ketidakpastian dari masa selanjutnya. Bisa saja besok aku tewas, atau bisa saja besok perasaanmu padaku akan berubah," jelas Itachi.

Dari jauh pun Konan sudah dapat melihat bahwa Itachi semakin mendekati Sasuke yang khawatir dan ketakutan, namun yang ia cemaskan yaitu kondisi chakra milik pria itu.

"Itachi."

Mata opal itu seketika dipenuhi oleh genangan air. Tubuh pria itu tumbang setelah menyentuh Sasuke. Konan berusaha menghentakkan tangannya agar ia bisa terlepas dari genggaman Nagato yang semakin erat.

"Nagato lepaskan."

Pria berambut merah itu enggan melonggarkan pegangannya.

"Nagato aku tidak bisa membiarkan Itachi pergi begitu saja. Bagaimana dengan Ryuuko? Aku tidak bisa membiarkannya hidup tanpa Itachi," ujar Konan yang sudah mulai terisak.

"Nagato, dia tidak boleh merasakan hal yang aku rasakan. Dia harus tetap memiliki ayah dan ibu. Lepaskan aku."

Nagato membiarkan tubuh wanita itu lenyap menjadi ribuan kertas yang menghampiri Itachi.

Entah kapan terakhir kali Nagato melihat sahabatnya serapuh itu. Yang jelas, ia tak tahan mendengar permintaan Konan—terutama kalimat yang menyinggung mengenai latar belakang keluarga mereka.

Tanpa memikirkan rasa sakit pada tubuhnya, wanita itu tetap berjalan walau harus sedikit menyeret kakinya yang sulit diajak kompromi.

"Itachi," gumam wanita itu sembari menyentuh wajah pria di hadapannya.

"Untuk apa kau ke sini?"

"Berisik, aku membencimu."

Konan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dalam keadaan yang seperti ini pun pria itu masih bisa tertawa.

"Kau membenciku tapi kau menangis."

"Jangan banyak bicara," ucap Konan yang berusaha untuk menghentikan darah segar yang mengalir dari tubuh pria itu.

"Sial, seharusnya aku sedikit belajar tentang medis," rutuk Konan yang masih memegang tubuh pria itu.

"Kau tidak perlu melakukannya." Itachi meraih lengan milik wanita bersurai biru itu.

"Kalau begitu kita akan pergi," ucap Konan yang hendak merangkul pria itu.

"Tidak, ini hukumanku."

"Jangan konyol dan jangan bertindak egois seperti ini. Baiklah kau tidak perlu memikirkan wanita murahan seperti aku, tapi setidaknya tolong pikirkan Ryuuko," ujar Konan yang sudah tidak tahan dengan semua tindakan Itachi.

"Konan, maaf. Tolong jaga dia, kau tidak perlu menceritakan apapun tentangku padanya—Ryuuko tidak akan suka jika ia tahu bahwa ayahnya seorang ninja pelarian. Dan satu lagi, jaga dirimu."

Itachi mendekatkan wajahnya ke telinga Konan membisikkan beberapa kata lainnya.

"Aku benar-benar membencimu."

"Aku meyayangimu."

Entah sudah berapa lama wanita bersurai biru itu berdiri sembari menatapi tanah di hadapannya. Ya, ia kalah taruhan dengan Madara. Itachi benar-benar meninggalkannya begitu saja—sama seperti Yahiko.

"Aku juga meyayangimu," gumam Konan yang kesekian kalinya.

Tangisan Ryukuo kembali menyadarkan wanita itu. Dengan cepat ia berusaha menenangkan anak laki-lakinya.

Suara langkah kaki tak membuat Konan memalingkan wajahnya karena ia sudah tahu siapa yang akan menghampirinya.

"Konan, kau sudah di sana sangat lama," ucap pria itu.

Nagato hanya bisa berdecak dengan kesal. "Sebentar lagi turun hujan, Ryuuko bisa sakit jika terlalu lama di sana."

Wanita itu hanya dapat menghembuskan napasnya dengan pelan. Ia segera membentuk sebuket bunga kertas, lalu menyimpannya pada tempat peristirahatan pria itu.

Kau tahu? Bunga kertas tidak akan layu, sama seperti perasaanku padamu. Sama seperti kenangan kita.

"Selamat beristirahat. Kami menyayangimu."

END.

Hai mina-san. Semoga sehat yaa.

Gimana ending nya? Seneng? Sedih atau biasa aja? wkwk

Terimakasih banyak buat temen-temen yang udah baca cerita ini. Terimakasih untuk like dan reviewnya yang selalu bikin aku termotivasi buat nulis.

Sorry aku sering banget telat update karena masalah mood yang kayak rollercoaster (':

Sorry juga ceritanya banyak yang OOC padahal pengennya semi-canon gitu.

Semoga nanti kita bisa ketemu lagi di cerita lain. Btw aku sebenernya udah menyelesaikan cerita Best Mistake di wattpad terus bikin sequelnya juga. Judulnya Last Scene. Terus aku juga bikin one shoot ItaKonan judulnya Cherry Blossom. *maap malah promosi*

Aku gatau bakal publish di FFN ini juga atau engga wkwk. Menurut kalian gimana?

Oh ya, aku mau bales review dari

@Sona-chan DxD Makasii udah membaca dan menikmati cerita ini. Maaf ya updatenya lama teruss

Pokonya terimakasih banyak buat semua yang udah pernah mampir ke cerita ini.

PELUK ONLINE

dari aku *uhuk* sama Ryuuko.