disclaimer © Kanata Konami
warning Chi-centric, mungkin OOC, PWP (plot? what plot?), confused plot, typo(s), kebutaan EBI, ide klise, diksi ambyar, totally random.
"Chi! Ayo kita main!"
Melihat kedua orangtuanya memberi gestur menaruh telunjuk di depan bibir, Youhei menghentikan larinya. Beberapa jenis mainan berada dalam dekapan Youhei. Tampaknya bocah itu memang sudah berniat untuk bermain dengan kucing peliharaannya.
Youhei berjalan perlahan mendekati Chi. Si kucing putih abu-abu belang hitam mungil sedang tertidur di atas bantal oranyenya. Napasnya teratur, ekornya sesekali bergoyang. Beberapa kali Chi mengusap bagian wajahnya seolah ada sesuatu yang mengganggu. Youhei memutuskan untuk berjongkok di tengah-tengah ayah dan ibunya, memperhatikan tingkah laku Chi dalam tidurnya.
"Chi tidur nyenyak sekali," tutur Miwa. Tangannya mengusap bagian belakang kepala putranya. "Maaf ya, Youhei, sepertinya sekarang Chi tidak bisa bermain. Chi sedang tidur. Tidak tega kalau harus membangunkannya."
"Dia tidak lagi memberontak sejak bertemu sesama anak kucing di rumah sakit," jelas Kento menceritakan pengalamannya. "Dua anak kucing itu milik seorang wanita. Sayang sekali kami tidak sempat berkenalan, tetapi kurasa dia tinggal di sekitar sini. Aaah, imutnya Chi!"
"Biasanya Chi akan marah dan merajuk." Pernyataan Miwa direspons anggukan dari Kento dan Youhei. "Dia akan menghindari kita seharian, tapi akan melupakannya kalau dia kelaparan."
"Apa Chi memang tidak apa-apa, Otou-san?" tanya Youhei.
"Dokter bilang Chi baik-baik saja. Dari pemeriksaan air liur Chi, tidak ada kandungan soda di dalamnya. Sepertinya Chi hanya suka memainkan gelembung dari minuman bersoda." Kento menerka-nerka. "Biasanya kucing tidak menyukai banyak variasi minuman selain air dan susu, kata dokter tadi."
"Tapi Chi pernah meminum kopi milik Otou-san," balas Youhei. Miwa di sebelahnya hanya bisa tertawa canggung.
Mustahil mereka lupa. Mereka masih ingat bagaimana Chi justru mengabaikan susu dan makanan keringnya, dan malah memilih secangkir kopi yang waktu itu hanya isengnya Kento saja. Chi juga tidak memedulikan kue ikan dan sup yang disodorkan padanya. Begitu sebuah kol digulingkan ke arah Chi, kucing itu langsung menerjangnya. Sebuah fenomena yang bisa dikatakan membuat seisi rumah takut dan cemas.
"Waktu itu dokter juga bilang Chi tidak sakit," ujar Kento. "Entah apa yang terjadi pada Chi waktu itu."
"Mungkin Chi hanya ingin mencari perhatian kita." Miwa menepuk bahu suami dan anaknya bersamaan. "Sudah jamnya makan siang, omong-omong. Selagi Chi tidur, mari kita makan."
Ketiganya berjalan menuju meja makan, menyantap makan siang yang sudah disiapkan Miwa sebelumnya. Mereka makan dengan lahap dan tanpa suara, sambil melirik ke arah Chi beberapa menit sekali, yang posisi tidurnya tidak berubah banyak.
"Ya ampun, tidurnya benar-benar pulas," komentar Kento usai sesi makan siang. "Kalau begitu, aku akan bekerja dulu di atas."
"Youhei juga belum menyelesaikan tugas liburan musim panas, 'kan?" tanya Miwa. "Kerjakanlah dulu. Nanti Okaa-san akan membantumu jika kesulitan."
"Oke, Okaa-san! Aku akan menyelesaikannya!"
Setelah itu, semua fokus pada kegiatan masing-masing. Kento sibuk dengan tugas kantornya. Miwa sibuk merencanakan menu yang harus disiapkannya untuk makan malam. Youhei sibuk dengan tugas liburan musim panas sesuai dengan perintah ibunya. Chi pun sibuk dengan dunia mimpi di bawah alam sadarnya.
Suasana siang itu benar-benar tenang dan damai.
Hidung Chi menangkap bau yang lezat. Satu matanya terbuka untuk memastikan apa yang barusan dia cium. Karena masih mengantuk, dua mangkuk yang terletak tak jauh dari mukanya terlihat samar-samar. Mengetahui itu makanan dan susu untuknya, Chi langsung membulatkan mata dan berlari kecil mencapai dua mangkuk itu. Kantuknya hilang dalam sekejap.
"Rasanya seperti sudah lama sekali rumah kita tidak setenang ini." Miwa tersenyum. "Sekarang rasanya sangat kurang jika tidak ada suara Chi."
Kento menimpali. "Miwa-san benar! Chi memang membuat keluarga kita lebih hidup!"
"Chi!" Chi mengalihkan pandangan dari makanannya. Terlihat Youhei yang mengacungkan sebuah mainan berbulu. "Ayo kita main!"
"Bahkan Youhei pun merasa kesepian selama Chi tidur." Miwa melirik ke arah jam dinding. "Youhei, jangan terlalu lama bermain. Kau tidak boleh tidur terlalu malam."
"Baik, Okaa-san!"
Wawawawawa! Chi mengeong senang. Mangsa Chi!
Mengabaikan makanan dan susunya yang masih tersisa setengah, Chi melompat-lompat kecil demi mencapai mainan—atau mangsa—di tangan Youhei. Sudah jelas Youhei tidak akan mempermudah Chi meraih targetnya, dengan meninggikan tangannya setiap kali Chi melompat
"Youhei, biarkan Chi menghabiskan makanannya dulu."
"Hehehe, Okaa-san—oah!"
Listrik tiba-tiba mati. Semuanya benar-benar kaget. Sangat jarang apartemen tempat mereka tinggal mendadak seperti ini. Kalaupun terjadi, biasanya di saat hujan deras di mana petir terus menyambar dengan suara menggelegar. Akan tetapi, hari ini matahari bersinar sangat cerah tanpa terhalang awan, tipikal cuaca di saat musim panas.
"Apa terjadi sesuatu?" Kento bertanya-tanya. "Ah! Miwa-san, Youhei, apa kalian baik-baik saja? Di mana kalian?"
Miwa adalah orang pertama yang merespons. "Aku di dekat televisi, Kento-kun."
"Aku dan Chi berada di dekat pintu kaca, Otou-san," lapor Youhei. Disibaknya sedikit tirai kuning yang menutupi pintu kaca.
Sinar rembulan nyaris menerangi seluruh penjuru ruang tengah tempat mereka berkumpul. Youhei mendorong pintu kaca dan berjalan keluar bersama Chi, diikuti Kento dan Miwa dari belakang. Bintang-bintang berkilauan indah, menemani bulan sabit yang berdiam agung di pusat langit. Kumpulan kunang-kunang terlihat terbang ke sana ke mari, memancing perhatian Chi yang matanya mulai berkilat penuh kekaguman.
Sinar-Sinar! Chi mau main dengan Sinar-Sinar!
Kento bertolak pinggang. "Benar-benar tidak biasa ada kunang-kunang di daerah perkotaan seperti ini. Sepertinya pemadaman listrik ini tidak hanya terjadi di apartemen kita saja."
Miwa menyahut setuju. Dia berdiri di sebelah Kento. "Seluruh kota tampak gelap."
"Otou-san! Okaa-san!" panggil Youhei dengan Chi dalam pelukan. Yang dipeluk meronta-ronta berusaha melepaskan diri, ingin sekali segera menangkap benda terbang bersinar yang diklaim sebagai mangsa secara sepihak. "Bagaimana kalau kita berkemah di luar? Sudah lama sekali kita tidak berkemah!"
"Oh, kau benar juga, Youhei! Kalau begitu, Otou-san akan mengambil tenda!"
"Cari senter dulu, Kento-kun! Okaa-san juga mau membawa beberapa potong buah-buahan. Youhei mau?"
"Mau, mau! Aku dan Chi akan membantu!"
"Nyaaaaa!'
Miwa menaruh nampan berisi aneka ragam buah yang telah dipotong di atas meja kecil yang diambilkan Youhei, kemudian membantu Kento mendirikan tenda. Begitu tenda sudah berdiri, ketiganya beralih mengumpulkan ranting-ranting kering yang jatuh dari pepohonan sekitar apartemen, guna untuk membuat api unggun sederhana. Chi? Anak kucing betina itu bertindak sebagai pemberi semangat dengan terus mengeong ceria, sambil berlari mengejar satu per satu kunang-kunang yang terlihat paling dekat dengannya. Yakin seluruh persiapan perkemahan kecil mereka telah dilaksanakan, mereka duduk dan menyantap buah-buahan potong bersama.
Youhei mengunyah sepotong semangka dengan gembira. "Seghar sekawiiii!"
"Telan dulu, Youhei!" Miwa memperingatkan. Sepotong pisang di telapak tangan disodorkan pada Chi. "Kaumau, Chi?"
Chi menoleh. Apa, Okaa-san?
"Memangnya Chi boleh makan buah-buahan?" tanya Kento. Dua iris apelnya lenyap hanya dalam beberapa kali kunyahan.
"Tidak masalah jika hanya sedikit," jawab Miwa. "Chi, ke sini!"
Chi berjalan mendekat, mengendus potongan pisang yang diberikan Miwa. Chi tiba-tiba mengingat apa yang dikatakan Kuroino padanya, mengenai makanan dan endusan.
Baunya tidak begitu lezat—
"Mungkin Chi tidak suka, Okaa-san."
"Mungkin begitu."
—tapi Okaa-san yang memberikannya pada Chi! Rasanya pasti lezat!
"Myamyaaaa!"
"Bagaimana, Chi?" tanya Miwa.
"Myamyamyamyaaaaa!" Ini enaaaaaaak!
"Aku senang bersama Otou-san dan Okaa-san, dan juga Chi." Youhei memeluk Miwa dan Kento semampu rentangan tangannya. "Aku sayang kalian semua!"
Kento tersenyum. Miwa pun demikian.
"Kami juga menyayangimu, Youhei."
Di bawah temaram sinar dewi malam, seluruh semesta menjadi saksi bisu kedamaian cinta yang tercipta di dalam keluarga Yamada.
tamat
~himmedelweiss 20/08/2020
