Disclaimer: Semua tokoh dalam "Naruto" adalah milik Masashi Kishimoto dan cerita ini dibuat hanya demi hiburan. Adapun peminjaman nama perusahaan, tidak saya lakukan dengan maksud menyinggung.
MADDENING RIDDLES
o
o
o
o
o
Riddle #17
"Baiklah, cepat merapat!" perintah Kakashi di telepon pada Naruto yang masih dalam perjalanan bersama Gaara dan Tenten.
Begitu Tsunade pingsan, mereka kembali ke markas. Sasuke dan Sakura menyusul saat pembicaraan mereka dengan Nara Shikamaru selesai. Dan setelah Sasuke menjelaskan kecurigaannya tentang siapa yang mungkin jadi pelaku, tak ayal mereka terperangah.
Menurut Sakura, andai benar pelakunya adalah sersan, bisa jadi dari MPD dan NPA sebab keduanya sama-sama menurunkan sersan untuk berjaga. Tetapi, perlu diingat bahwa peserta sidang bukan hanya polisi, tapi juga beberapa jurnalis dan perwakilan elemen masyarakat. Rasanya itu lebih adil ketimbang menuding sersan yang tinggal satu blok dengan Kankurou dan Kiba.
Temari justru tak yakin kalau pelakunya merupakan seorang sersan. Pasalnya, ia belum pernah mendengar ada anggota kepolisian berpangkat rendah yang punya perilaku antisosial. Andai ada yang pernah mendaftar, sudah tentu mereka ditolak. Ia lebih setuju dengan pernyataan terakhir Sakura.
"Untuk menyingkat waktu, kita kerjakan yang paling cepat. Aku dan Sakura akan ke bagian kepegawaian," usul Sasuke.
"Nah, aku akan mendampingi kalian. Akan kubuatkan surat tugas," balas Kakashi.
Pria itu kemudian menelepon anak buah lainnya. Selama menunggu, ketiga polisi lain datang. Naruto menghampirinya dan melaporkan keadaan Tsunade yang kini sedang kritis. Penyakit jantungnya kumat karena dipicu oleh hal-hal yang berkaitan dengan kasus ini.
Kakahi bergumam. "Sebaiknya ... kau dan Sai pergi ke pengadilan. Masukkan berkas Matsuri!"
"Siap, laksakan!"
Naruto dan Sai meninggalkan tempat. Setelah surat dibuat, Kakakasi dan kedua sejoli berangkat ke gedung administrasi di belakang markas. Sesampainya mereka di sana, seorang petugas wanita mengantar ke deretan rak penyimpan berkas-berkas.
Mata Sakura tertuju pada berkas berlabel nama Sai. Kebetulan, letak map tersebut bersebelahan dengan map milik Sasakura Ichi. Ia ambil benda itu dan membukanya. Tak hanya curiculum vitae dan portofolio, lembar hasil psikotes pun ia temukan.
"Letnan," panggilnya, lalu Kakahi menoleh. "Pada malam kejadian, apakah Sersan Sai sedang di markas?"
"Ya, dan kebetulan dia kebagian jam dinas sore sampai diberangkatkan ke TKP."
"Kami berdinas di jam yang sama," imbuh Sasuke.
Alibi tak terbantahkan. Ia pun meminta maaf atas kecurigaannya. Bukan tanpa dasar, melainkan berdasarkan hasil tes psikologi Sai yang menunjukkan tingkat emosional sedikit di bawah nilai normal. Selain itu, si sersan merupakan inisiator pencarian fakta Jiraiya meski katanya ia hanya tergerak setelah mengobrol ringan dengan Naruto dan Kiba.
Sakura mendesah, baru mengingat bahwa standar pencarian awal biasanya dari pola hubungan korban dengan orang-orang di sekitarnya. Kemudian, ia pun meneruskan penelusuran enam belas nama lain, tetapi semua kurang memenuhi kriteria. Bahkan Sai. Mereka masih punya rasa takut akan hal-hal yang tak lazim.
Keanehan-keanehan itu berbeda dengan psikopat yang tak punya rasa takut. Lagi pula, tingkat emosional rendah bukannya sama sekali tak punya perasaan. Tingkat kecerdasan mereka bahkan di bawah Sai. Meski tak semua psikopat cerdas, pelaku termasuk yang berotak encer. Cara-cara melancarkan aksinya terasa mustahil dilakukan oleh mereka.
Sasuke pun setuju, ditambah fakta bahwa ilmu beladiri mereka belum setara dengan Kankurou. Padahal, ia yakin, sepertinya si pelaku melebihi para inspektur. Tapi, saat berpikir pria itu sepangkat dengan kepala inspektur atau anggota skuad Divisi Anti Teroris, ia mendengus. Siapa lagi yang harus dicurigai?
Tiba-tiba, Kakashi berjalan ke rak khusus. Rak itu tempat menyimpan berkas milik para petinggi. Ia kembali dengan sebuah map. Di sampul, tertulis nama Hagoromo Otsutsuki. Dialah superintenden NPA yang terkenal berkepala dingin dan bertangan besi di saat-saat tertentu. Lalu, Kakashi menyerahkan selembar hasil psikotes dan CT-scan.
"Dia seorang psikopat, tapi dia prososial. " ujarnya.
"Mirip dokter Fallon, ilmuwan syaraf dari Amerika. Dia juga psikopat prososial yang tak pernah melanggar hukum dan norma, bahkan dijadikan tempat berbagi banyak orang," tanggap Sakura.
"Kurasa karena ini," timpal Sasuke sambil menunjukkan salah satu hasil psikotes sang superintenden NPA.
Sakura dan Kakahi melihatnya. Di lembar itu disebutkan bahwa Hagoromo memiliki empati kognitif tinggi, tetapi tidak dengan empati emosionalnya. Hal itu membuat psikopat prososial dapat memberi solusi akurat tanpa merasakan emosi. Dan soal bisa menjadi prososial atau antisosial, itu tergantung faktor nucture alias pola asuh.
Struktur otak psikopat berbeda dari orang-orang yang terlahir normal. Mereka dapat melihatnya dari lembar CT-scan. Di bagian amygdala-nya berwarna biru kehitaman, tak seperti milik orang normal, sedangkan bagian medial prefrotal cortex berwarna biru tua, bukan kuning kehijauan. Mereka tak bisa mengartikannya lagi, tapi mereka tahu struktur itu memang tak sama.
"Pada kasus Hagoromo dan Fallon, profesi mereka adalah tujuan yang harus dicapai dengan cara apa pun. Psikopat memang selalu punya itu," jelas Kakashi.
"Jadi, bukankah memungkinkan kalau dia ada di balik semua ini? Maksudku ... NPA mencium kebusukan Ao, tapi karena dia harus menjaga reputasi, maka dia ...," ujar Sakura.
Kakashi menaikkan alisnya. "Kurasa itu tidak mungkin," katanya.
"Superintenden Hagoromo lebih tak peduli hal itu," timpal Sasuke.
"Kenapa?" tanya Sakura. "Karena prososial itu? Menurutku, pasti ada penyebab untuk berubah."
"Mungkin ... tapi tujuannya bertentangan dengan dugaanmu. Dia sangat berambisi mengungkap semua kasus pembunuhan, terutama Dan Kato," ujar Kakashi.
Kegilaan lainnya adalah Hagoromo yang memerintahkan Kakashi agar secepatnya menurunkan tim Sasuke. Ia ingin melihat bagaimana tim terkuat NPA berkolaborasi dengan tim terkuat MPD, yaitu Flamingo dan Gaara. Jadi, baginya, kedua regu dan pelaku adalah dua gladiator yang hendak bertarung.
Hal mencengangkan lain tidak sampai di situ saja. Semua kasus pembunuhan itu dianggap senjata. Jika pelaku menang, ia akan terus bebas berkeliaran, sedangkan promosi kenaikan pangkat para penyelidik akan ditunda. Begitupun sebaliknya. Yang terakhir, ia sedang menunggu waktu motif pelaku diketahui.
"Ini hanya untuk perbandingan supaya kita tahu bahwa ketujuh belas orang itu bukan psikopat. Kalau ya, pasti ada hasil CT-scan dalam berkas," ujar Kakashi.
XxX
"Shikamaru, ya ...," gumam Naruto.
Karena misi akan dimulai besok, mereka berkumpul di kediaman Sasuke, tempat yang dirasa paling aman untuk menyusun strategi rahasia. Setidaknya, itulah yang Sasuke yakini sejak mendapat peringatan dari Shikamaru.
"Dia muncul tanpa diundang saat kasus Mifune. Ya, bukan Sasuke ketuanya, tapi Jugo. Dia malah mencurigai kami gara-gara Shikamaru," lanjut Naruto.
Para sersan berseru kesal mengingatnya. Sejak saat itu, Jugo seakan selalu melolak ditugaskan bersama mereka. Tapi, Sasuke memiliki pendapat lain. Poinnya adalah si detektif datang tanpa diundang. Berbeda dengan sekarang, ia muncul karena telah diminta oleh Temujin. Entah mengapa kali ini ia percaya pada Shikamaru.
Gaara masih terdiam sambil bersedekap, mencoba menganalisis cerita. Ia hanya berharap, tim ini tidak terpengaruh pihak luar maupun kebingungan mereka sendiri. Andai saja Sasuke mau menugaskannya bersama Sakura, pasti akan lebih mudah baginya untuk bergerak. Maka dari itu, ia mengisyaratkan ketua tim mereka untuk keluar. Tak hanya Sasuke, Sakura pun ikut serta.
"Tugaskan aku dengan Sakura-senpai!" ujar Gaara.
"Kenapa?" tanya Sasuke.
"Itu jauh lebih baik."
Sasuke mengeraskan rahang. Jujur, ia tak suka. Bukan karena cemburu, melainkan karena permintaannya akan membuang waktu.
"Akan kupikirkan," balasnya, lalu ia kembali ke dalam.
Sakura memandangi rekannya dengan tatapan bingung. Selama ini, Gaara belum pernah protes secara serius. Meski begitu, ia akui, koordinasi mereka telah melemah. Mungkin karena harus menyesuaikan diri dengan orang baru, terutama antara MPD dan NPA. Di awal, ketidakpercayaan dan perdebatan begitu kuat hingga tim ini jadi kurang solid.
Kini, saat kepercayaan anggota-anggota antarbadan kepolisian sudah terbangun, Gaara seakan meruntuhkannya. Sakura benar-benar tak punya tenaga lagi untuk berdebat dengan Sasuke. Lelah rasanya jika ia harus mencoba meyakinkan sang kekasih.
"Kuharap, alasanmu bagus," katanya.
"Aku justru berharap agar kalian tetap yakin," balas Gaara.
"Maksudmu?"
"Apa yang Shikamaru katakan?"
Sakura terdiam. "Dia meminta kami untuk lebih peka, tapi ...," katanya.
Sungguh, ia tak sanggup memahaminya sampai Gaara tak percaya bahwa intuisi sang senior menumpul di saat mendesak begini. Maka, Sakura memejamkan mata. Cuma kebiasaan itu yang dianggap paling berguna dan akhirnya ia mengerti.
Gaara ingin ia dan Sasuke mendengarkan keyakinan mereka sendiri. Kericuhan hari ini tak ubahnya seperti mencari kambing hitam atas kesalahan yang telah mereka buat. Mereka tidak harus percaya penuh pada si detektif, tapi terlalu menghiraukan pendapat yang bermunculan dari berbagai spekulasi tak akan mengubah banyak hal.
Di dalam, mereka sibuk memperdebatkan hipotesis siapa yang paling masuk akal. Ia bahkan masih mendengar nama detektif itu disebut-sebut. Akhirnya ia sadar bahwa inilah penyebab fokus semua polisi pecah. Lalu, ia tatap Gaara yang tersenyum tipis, seakan pikirannya berhasil dibaca. Setelah beberapa menit berdiskusi, ia pun segera mengirim pesan singkat pada Sasuke.
Dengan muka masam, pria itu datang. Ia seakan enggan bicara, tapi Sakura sudah memantapkan hatinya. Yang benar harus tetap menjadi benar. Persetan jika mereka bertengkar.
"Kami minta keputusanmu," katanya.
"Kau, Gaara, dan Kankurou. Naruto akan bersamaku. Bagaimana?" jawab Sasuke.
"Aku, Gaara, dan Naruto-san," ujar Sakura. "Aku memintanya sebagai inspektur MPD. Atas nama kekhususan."
Sasuke terperangah. Ia bahkan nyaris lupa akan hal itu dan sekarang ia diingatkan. Di hatinya, menyeruak rasa sakit yang belum pernah ia alami. Sakit karena merasa baru dikhianati. Kalaupun ia menolak, kerugian yang akan ditanggung NPA menjadi tidak terhindarkan. Tetapi, tak apa. Selama ada Naruto, ia masih bisa mengendalikannya. Sebagai inspektur NPA.
"Baik," katanya.
Sakura tersenyum sebelum masuk. Kini, tinggallah kedua pria tadi. Sasuke, Gaara. Keduanya saling menatap tajam. Sasuke tak tahu apa yang pria itu pikirkan.
"Kita butuh koordinasi baik, Taichou, dan inilah yang terbaik. Tolong ...," ujar Gaara sebelum membungkuk rendah-rendah di hadapan Sasuke, " jaga Tenten untukku!"
Sang inspektur NPA pun mengernyit tak paham. Sesaat, pria dari MPD itu seolah menentangnya, tapi di sisi lain ia masih memedulikan salah satu personel NPA. Atau mungkin, Gaara memedulikannya sebagai kekasih. Yang jelas, ia tahu pria itu bersungguh-sungguh.
Ia pun menyusul untuk mengumumkan perubahan sususan. Mereka tak percaya, di saat seperti ini Sasuke masih sempat mengubah regu lagi. Namun, melihat raut wajahnya yang suram, mereka pikir tidak ada pilihan selain menurut. Dan rasanya, mereka tahu mengapa ia jadi begini.
"Kankurou, Kiba, Tenten, sisir kebun! Sai, Fu, kalian ikut aku. Naruto ... kali ini kau bersama Gaara dan Inspektur Haruno!" perintah Sasuke. "Bubar!"
Benar, 'kan? Tanpa membatah, mereka meninggalkan tempat. Kecuali Sakura. Ia merasa harus bicara dengan kekasihnya. Setelah sepi, ia mendekati Sasuke, lalu ia sentuh punggungnya.
"Hei ... ."
"Bubar!" balas pria itu dengan nada dingin.
"Hentikan omong kosongmu, Sasuke! Jika aku tidak mengatasnamakan kekhususan itu, apa kau mau dengar?"
"Itu kenapa ... bubar!"
"Tapi, sebagai kekasihmu, aku ingin kau percaya padaku. Itu saja," pungkas Sakura sebelum mendaratkan kecupan singkat di pipi kekasihnya.
Sasuke tetap bergeming hingga akhirnya ia hengkang. Sebenarnya, ia ingin ditahan. Sayang, kekasihnya terlanjur keras kepala. Namun, tanpa ia duga, keingingannya tadi terkabul. Sasuke menyusul dan langsung menyalakan mobilnya. Yang dikatakannya setelah itu hanyalah tawaran jasa antar-jemput. Tak ayal, Sakura tercekat, takut kalau sesuatu yang sudah bukan menjadi permainannya harus berakhir malam ini.
XxX
Sasuke masih marah dan mendiamkan Sakura. Para polisi sudah tak heran sebab mereka tahu bahwa ini sudah terjadi sejak tadi malam. Kakashi yang menyadarinya langsung mengalihkan perhatian dengan meminta mereka fokus.
Begitu rapat dibubarkan, tim Sasuke pergi terlebih dahulu. Tanpa pamit. Meski sedih, Sakura hanya mampu diam. Ia, Gaara, dan Naruto baru meninggalkan tempat pada pukul sebelas siang. Mereka merasa akan lebih efisien jika tak berlama-lama berada di depan kantor Matsuri.
Naruto merasakan sesuatu yang berbeda dengan Sakura dan Gaara. Mereka benar-benar bungkam. Bahkan, saat ia mencoba mencarikan suasana pun tak berhasil dan akhirnya ia ikut terdiam sampai jam mini di dashboard mobil menunjukkan jam dua belas siang.
"Aku tak percaya NPA sekeras kepala itu," celetuk Gaara.
"Bukan NPA, Bung, tapi Sasuke. Sudah tak heran, jadi jangan terlalu dipikirkan!" balas Naruto.
"Huruf NPA di wajahnya besar sekali, tahu! Apa bedanya aku bertugas denganmu dan Gaara?" Sakura merepet.
Naruto tertawa. Tak lama kemudian, yang mereka tunggu muncul. Matsuri dan tiga rekan kerjanya keluar. Tampaknya mereka hendak makan siang bersama. Para polisi itu pun segera mengikutinya dalam jarak kurang-lebih seratus meter. Lalu, mereka berhenti di sebuah restoran.
Posisi target sudah diketahui. Yang harus dilakukan sekarang adalah meretas CCTV di semua jalur yang nanti mungkin dilalui sang dokter untuk kembali ke kantornya. Tak lama, Naruto berhasil. Delapan puluh kamera kini sudah berada di genggaman sebelum mereka pergi dari sana.
"Kita makan siang saja. Jangan sampai kalian lapar," ujar Naruto.
"Ayo! Sasuke-teme itu membuat energiku habis," balas Sakura.
Sebuah kedai ramen dipilih oleh Naruto. Karena masih jam istirahat perkantoran, tempat itu ramai. Ia pun meminta seorang pelayan untuk mencarikan meja kosong. Kalau bisa agak jauh dari pengunjung lain. Gadis pelayan tadi menuntun mereka ke dekat kolam ikan.
Sambil menunggu dan memantau layar pengintai, Sakura menghubungi Matsuri dan mengajaknya bertemu sepulang kerja nanti. Ajakan itu disambut dengan senang sebab katanya sang dokter sedang butuh teman ngobrol.
"Ngomong-ngomong, kau seperti agak dendam pada Shikamaru," ujar Gaara.
"Dendam itu berlebihan. Aku hanya ingin kita lebih berhati-hati," balas Naruto.
"Kupikir, Naruto-san ada benarnya. Coba pikir! Dia seakan menuduh sersan-sersan," timpal Sakura.
"Sersan?"
"Hm. Memang, sih, ada beberapa yang menujukkan kecenderungan itu. Bahkan, Sai termasuk salah satunya."
"Sialan! Apa kubilang?"
Gaara bergeming, kemudian dilahapnya sepotong daging. Meski tampak kurang peduli, sebenarnya ia sedang memikirkan banyak hal. Dan hasilnya mencengangkan hingga Naruto mengerjap-ngerjap, sebab ia berpendapat bahwa menemui detektif itu adalah langkah solutif. Shikamaru bisa dimanfaatkan. Jika hanya mendengar saran, Sasuke tak harus membayarnya.
Tak terasa sudah dua jam mereka duduk di kedai. Layar mereka menampilkan sang dokter yang kembali ke kantornya melalui jalur awal. Sai bahkan belum melaporkan perkembangan aktivitas komunikasinya. Maka, mereka langsung ke apartemen target.
XxX
Sasuke memilih bergerak hari ini karena bertepatan dengan hari saat target pergi ke sekitar mall itu. Lalu, ia melirik Sai dan Fu. Rasa bersalah tak urung timbul saat teringat pertengkarannya dengan Sakura. Ia tahu, kekasihnya ingin regu ini bekerja maksimal, tetapi ia tidak bisa memaklumi alasannya. Karena tak ingin berlarut-larut dalam emosi, ia mengajak Fu turun.
Sai tetap di dalam mobil, mengotak-atik kode-kode peretas. Tak lama, beberapa CCTV yang telah dipilih pun tersambung dengan layar laptopnya. Sasuke melesat ke arah jam besar di tengah perempatan, sedangkan Fu ke sebelah mall. Rupanya benar. Jam setengah tiga, lelaki dengan ciri-ciri mirip pelaku muncul dan berjalan ke arah jam tadi.
Sasuke menghubungi Fu begitu target tak terlihat hendak ke mall. Dalam dua menit, gadis itu berhasil menyusul, lalu mereka berpencar. Sang inspektur berdiri di teras kios manga, sedangkan Fu berjongkok di depan pedagang jajanan. Dengan arahan Sai melalui komunikator telinga, mereka tahu target mendekat.
Target berbelok ke gang yang tidak terlalu luas. Setahu mereka, gang itu terhubung dengan sebuah diskotik. Mereka langsung terkejut begitu ia membuka tudung jaket. Mereka yakin, Aburame Shino dalam foto yang Sakura ambil dulu berambut cokelat, bukan kelabu. Tetapi, menurut Fu, pria itu sudah mewarnai rambutnya.
Langkah mereka terhenti seketika begitu melihat Shino didorong oleh dua laki-laki, tanpa bisa melawan. Ternyata, tubuhnya ringkih, seperti deskripsi Sakura dan yang tampak di CCTV. Gerakan mengindarnya juga payah. Akibatnya, ia tersungkur dan meringkuk di aspal.
"Kaupikir, kau bisa mengelabuhiku dengan warna baru rambutmu itu, hah?" ujar salah satu penyerang.
"Tahu diri sedikit, lah! Sudah lemah, tidak punya tenaga!" sahut yang lain.
"Lelaki macam apa yang beraninya cuma main keroyok?" Fu tiba-tiba menyela.
Kedua pria tadi menaikkan alis, lalu saling melempar tatapan sebelum terbahak. Si korban berusaha berdiri meski terhuyung. Saat melihat darah menetes dari hidung, Shino langsung histeris. Rupanya, ia takut darah, bahkan darahnya sendiri. Para pria brengsek itu makin tertawa.
"Kau ini siapanya?" tanya salah satunya.
Karena kejengkelannya tak tertahan lagi, Fu menunjukkan lencananya, membuat mereka terbungkam seketika. Sasuke pun muncul dan menghampiri anak buahnya. Sebelum membantu mengangkat korban, ia melemparkan tatapan tajam pada para penyerang. Sontak, mereka lari tunggang langgang, lalu ia dan Fu memapah Shino.
Tak ingin terlalu menarik perhatian, ia membawa keduanya ke sebuah restoran tua yang sepi. Pemiliknya juga sudah tua. Begitu melihat Shino yang lemas, si kakek mempersilakan mereka duduk. Gadis itu mengelap darah di hidung Shino dengan tisu yang sudah dibasahi.
Ketakutan Shino berangsur hilang, barulah ia menyadari siapa para penolongnya saat melihat lencana di saku dada mereka. Tak pelak, ia kembali tegang. Fu pun mencoba menenangkan dan meyakinkannya bahwa ia tak perlu takut. Sasuke yang pernah mendengar kisah romansa Shino pun menebak, penyerangan tadi berhubungan dengan kekasihnya yang bekerja di klub malam. Korban mengangguk.
"Terima kasih karena sudah menolongku," ucapnya.
"Tak apa. Lagi pula, kami memang sedang mencari Anda. Oh, kami dari NPA," balas Sasuke.
Korban terkejut. Sungguh, ia tak merasa sudah melakukan pelanggaran. Karena ia panik, Sasuke langsung mengungkapkan kepentingan mereka. Tentu tidak semua. Dengan tegagap, Shino bersumpah ia tak tahu apa-apa. Kedua polisi itu pun lagi-lagi menenangkannya dan ia baru lega ketika mendengar bahwa para polisi penyelidik sudah terkecoh.
Tak perlu banyak analisis untuk sekadar mengetahui bahwa Shino bukanlah target. Dari sosoknya pun sudah berbeda, apalagi gerak-gerik dan kekuatannya. Ia bahkan tak sanggup lari. Sekarang tubuhnya juga gemetaran, seolah baru saja selamat dari iblis, lalu bertemu iblis lain yang levelnya lebih tinggi. Dan setelah mendengar soal kasus itu, ia makin ketakutan.
"Pak, sungguh, aku tidak ... ."
"Aku tahu. Rekan kami sempat menemui Anda karena Anda pernah mendaftakan nomor ponsel orang lain," potong Sasuke.
Wajah Shino memucat. Ia tak menyangka, wanita berambut merah muda itu ternyata polisi. Inspektur Satu dari MPD sekaligus investigator kasus pembunuhan tersebut. Harusnya ia menyadari cara bicara, model baju, atau apa pun yang memang berbeda dari wanita-wanita lain. Pegawai kantoran biasanya lebih feminin, sedangkan Sakura tidak.
Ia pun mengaku selalu ke sini setiap hari Selasa dan Jumat. Pacarnya manggung malam harinya. Ia hanya ingin menemani dan memastikannya baik-baik saja. Dan alasannya berpakaian serba hitam adalah supaya ia tak menonjol. Namun, ternyata malah menarik perhatian polisi.
"Ini ... terlalu mengejutkan," ujar Shino.
"Maafkan keteledoran kami, Aburame-san! Kami akan lebih teliti," ujar Sasuke sambil menunduk rendah.
"Tak apa," balas Shino.
Sasuke menengakkan badan. "Tapi, lain kali jangan mendaftarkan nomor orang asing lagi!" katanya.
"Aku janji. Terima kasih dan ... semoga Anda berhasil."
"O, ya, Anda tinggal di mana?" tanya Fu.
"Rumah susun subsidi di distrik Kaeru."
Sasuke mengangguk. Urusan mereka pun selesai saat Shino meyakinkan bahwa ia sudah merasa lebih baik. Kedua polisi itu pun meninggalkan restoran setelah pamit pada si kakek pemilik.
Di mobil, mereka menyampaikan kejadian tadi pada Sai dan sersan itu mengerang. Ia merasa bodoh. Tetapi, bukan itu pokok persoalannya. Sasuke menduga, si pelaku sudah mengetahui Shino, hanya ia belum mengenal baik. Ia meniru penampilan pria itu, lalu berkeliaran di tempat-tempat yang biasa dukunjungi. Pria tua yang meminta tolong kemungkinan juga orang asing.
Yang jelas, pelaku mengambinghitamkan orang lain. Kemungkinan, ia bermukim di distrik yang sama atau bahkan di rumah susun itu. Berbekalkan petunjuk tersebut, Sasuke mengajak mereka ke sana.
Dalam waktu tak lebih dari seperempat jam, mereka sampai. Rumah susun Shino tampak mengenaskan. Banyak penghuni dengan taraf hidup di bawah rata-rata, tapi belum separah Amaguriama. Gedung itu cukup wingit. Tak heran jika penjahat bisa bebas keluar-masuk.
"Sai, tembak satelit sampai radius satu kilo meter! Fu, salin semua komunikasi! Nanti, kita pelajari di markas," perintah Sasuke.
"Siap!"
XxX
Matsuri tampak kacau. Terang-terangan ia menenggak wiski, langsung dari botolnya. Yang membuat Sakura yakin bahwa sang dokter memang mengalami depresi ialah tawa lepas yang menggantikan tangisan. Alur pembicaraan mereka juga melompat-lompat, tetapi yang paling sering dibahas adalah si pengguna nomor.
"Sepertinya ... dia tampan, ya, sampai kau jadi gila," celetuk Sakura.
Matsuri bergumam sambil memilin-milin rambut. Di sela tatapannya yang seakan melayang-layang, ada sebersit kesakitan.
"Sebenarnya ... namanya Aoi. Kau benar, dia tampan. Setidaknya bagiku," katanya.
Kini, Sakura yang bergumam. Nama pria itu berbeda tipis dengan Letnan Ao. Jika benar, Sakura sependapat tentang ketampanan tadi. Ia pikir, Ao memang tampan, tapi bukankah itu skandal besar? Pantas saja Matsuri setertekan ini.
"Om-om, ya?" celetuknya.
"Enak saja! Dia memang agak jauh lebih tua dariku, tapi belum jadi ojisan, kecuali kalau aku anak kuliahan," balas Matsuri
"Hm ... pria matang, ya! Kau tidak pernah menyimpan fotonya?"
Sang dokter menggeleng. Jawabannya kurang-lebih mirip dengan yang Matsuri berikan pada Naruto. Seringnya, foto-foto diidentikkan dengan kenangan. Andaipun hubungan mereka cuma menjadi sejarah menyakitkan, ia tidak harus repot-repot menghapusnya.
"Sounds blue," komentar Sakura.
"He has blue hair. Biru tua," balas Matsuri. "Mungkin, itu kenapa ia dinamai Aoi."
Sakura mengangguk-angguk. Seingatnya, dokter itu suka pria berambut gondrong. Matsuri membenarkannya meskipun Aoi berambut pendek. Hanya, pacarnya punya sepasang mata yang memukau. Abu-abu. Terkadang, mata itu begitu menenangkan; kadang terkesan sebaliknya. Yang Matsuri rasakan adalah kegelapan.
"Dia terdengar seperti penjahat," komentar Sakura lagi.
"Bukan penjahat, tapi fuck boy!"
Sontak, mereka tertawa bersama. Tentu Sakura sudah tahu mengapa Aoi disebut dengan istilah jahanam tadi. Perempuan mana pun pasti akan begitu.
"Ngomong-ngomong ... kau sudah siap untuk bersaksi?" tanya Sakura.
Matsuri mengangguk mantap. "Selama aku mengatakan yang sebenarnya, aku pasti akan baik-baik saja," jawabnya.
Sakura bergumam singkat, membenarkan ucapan kawannya.
"Lalu, tumben kau tak bersama Sasuke," ujar Matsuri.
Sang inspektur MPD mengerang. Saat ini, ia tak ingin membahasnya sebab ia pasti jadi teringat akan pertengkaran mereka. Tetapi, berhubung ia sedang menjalankan misi, ia tak membuka konflik sebenarnya. Itu sama saja membongkar rahasia polisi. Alasan yang ia berikan demi menghindari kecurigaan lawan bicaranya adalah bahwa cekcoknya dengan Sasuke disebabkan oleh kecemburuan.
Untungnya, Matsuri mengerti dan bahkan berpendapat bahwa Sasuke seperti anak kecil. Tetapi, begitulah cinta. Kata Patkay, deritanya tiada akhir. Ia malah lebih parah. Sudah tahu pacarnya brengsek, tetap saja didekati.
"Apa, sih, pekerjaannya? Sombong sekali!" cela Sakura.
Matsuri langsung menyembunyikan muka di permukaan meja. Rasanya, pertanyaan itu makin membuatnya terpuruk. Dengan malu-malu, ia meminta Sakura untuk tak tertawa sebelum mengakui bahwa lelaki itu sebenarnya menganggur selama lima bulan.
Entah mengapa, cerita menyakitkannya terdengar jujur. Sama sekali tidak dibuat-buat. Meski begitu, Sakura telah bertekad untuk tak terlalu terhanyut dalam suasana yang mungkin sengaja dibangun.
Ya, setidaknya ia berhasil mendapatkan informasi tentang pengguna nomor itu. Namanya Aoi, berambut biru tua cepak, warna mata abu-abu, dan berusia sekitar 30 sampai 35 tahun. Selebihnya, tak ada ciri-ciri fisik lain. Kalau hanya tampan dan jangkung, Sasuke pun begitu. Tapi, ukuran tinggi tadi sebenarnya bisa ia perkirakan. Tinggi Matsuri sekitar 165 sentimeter, jadi mungkin tinggi badan pria itu sekitar 175 sampai 180 sentimeter. Ia pun memicing.
Benar-tidaknya pasti akan Sakura ketahui saat waktunya tiba. Kini, setelah tidak ada lagi yang bisa mereka bicarakan, ia pamit pulang. Langkahnya makin cepat begitu tiba di area parkir. Ia langsung masuk ke mobil dan Naruto mematikan penyadap.
"Aku belum bisa menanyakan tempat tinggal pria bernama Aoi itu," katanya.
"Tak apa. Dia akan curiga kalau kau terlalu mengejarnya," balas Naruto.
"Tapi, ingat, waktu kita tak banyak!" Gaara memperingatkan. "Kalau kau bisa cecar, cecar saja!"
Naruto mengusap-usap kasar wajahnya. Polisi berambut merah itu memang tidak sabaran. Padahal, mereka masih harus mengikuti perkembangan dan mereka bisa melihatnya saat persidangan ketiga. Melihat keduanya saling melempar bahan debat, Sakura pun melerai dan meminta Naruto untuk melanjutkan perjalanan ke markas.
Sesekali, ia memeriksa ponsel. Barangkali Sasuke mengiriminya pesan, tapi ia harus kecewa saat tak ada satu pun dari sekian pesan yang dikirim oleh kekasihnya itu. Ia pun terdiam sambil menerawang ke luar jendela. Berpikir.
"Gaara," panggilnya, "beberapa sifatmu itu, kan, mirip dengan Sasuke."
"Kenapa aku benci kata-katamu, ya?"
Wanita itu terkekeh. "Kalau kau marah dan Tenten ingin berbaikan ... pemberian apa yang kauharapkan?"
"Berhenti keras kepala. Itu saja," jawab Gaara.
Tak hanya Sakura, Naruto pun jadi tertawa karena berpikir bahwa Gaara dan Sasuke memang punya kemiripan sifat atau sikap yang signifikan. Polisi pirang itu juga yakin kalau Sasuke akan mengharapkan hal yang sama.
"Kalau sepatu olahraga ... ah, aku pernah melihatnya! Kalau tak salah ukurannya 43 atau 44," ujar Sakura.
XxX
Malam setelah mengantar Sakura, Sasuke tak langsung pulang. Ia mendadak kacau. Selain karena belum berbaikan, ia masih memikirkan alasan kekasihnya dan Gaara bersekongkol menentangnya. Sungguh, ia justru tak ingat soal taruhan kedua kepala inspektur itu. Melalui kejadian demamnya Sakura, ia yakin wanita itu menyukainya.
Tekadnya sudah bulat untuk mendatangi distrik Kai. Di perempatan yang kemarin ia lewati bersama Sakura, ia berhenti tepat di depan kantor detektif swasta. Tentu itu kantor Shikamaru. Meksi benci mengakui, ia memang ingin mendengarkan saran si detektif. Ia turun dan menghampiri meja resepsionis. Sambil menunggu jawaban Shikamaru, ia melihat-lihat sekitar gedung itu. Tak besar, tapi bersih dan tenang.
"Tuan, silakan ke ruangannya di lantai dua!" ujar gadis pegawai itu.
Sasuke mengangguk, lalu menaiki tangga yang jalurnya membentuk lengkungan. Di depan pintu dengan papan nama detektif itu, ia berdiam sejenak sebelum menghela napas dalam. Semoga ia memang sedang waras. Ia pun membuka pintu.
"Ah, sudah kuduga. Pasti Inspektur Uchiha yang datang. Tadi, ada kupu-kupu masuk," sambut Shikamaru.
o
o
o
o
o
Bersambung ... .
Catatan Penulis
Halo! Bagi yang mengaharapkan bagian Shikamaru, harap bersabar, ya! Soalnya, dia pemeran deutragonis, hehehe. Bab ini mungkin terkesan lambat, tapi percayalah, saya sudah memperhitungkannya. #bocor. O, ya, jaga-jaga aja buat yang masih sering salah mengartikan alibi. Sebenarnya, alibi itu bukan alasan, melainkan keterangan yang menyatakan seseorang berada di tempat lain pada saat kejadian berlangsung.
Lalu, terima kasih pada kalian yang selalu membaca cerita ini. Terima kasih banyak!
Nejes: Rambutnya keabuan, bukan silver. Kakashi, dong, kalau gitu hahaha! Nanti ada, lah, cara Shikamaru. Ditunggu saja. Pasti terungkap kasusnya.
Yumehara: Wah, makasih, ya, udah kasih review sekalian chapter 15! Aduh, kesian Kakashi, wkwkwkwk! Dia kayaknya nggak tahu apa-apa. Btw, cahaya ilahi ini gimana jadinya? Hahaha! Tetap jadi penonton dan komentator, ya.
Aoi Hanabira: Syukurlah. Semoga selalu sehat. Nah, mudah-mudahan nanti saya bikin cerita genre ini, tapi mungkin butuh waktu buat mikir, hahaha!
Nanajaem1308: Pasti saya selesaikan, kok. Tetap ikuti dan review, ya! Aku juga padamuuu!
