Ah.
"Shut up."
Tapi aku belum bilang apa-apa?
"Shut. Up."
.
Wow. Up cepet. Saha maneh?
" … "
….
"Aing maung."
-o-o-o-
Avataramen is Now Online
Chapter 16
-o-o-o-
Terkadang aku bertanya-tanya: selain berbagi jiwa dan kosmik, apakah aku berbagi karma dengan reinkarnasiku juga.
Bukan, ini bukan tentang Teratai Merah. Walau memang patut dijadikan pertimbangan juga sih. Mengingat kelompok antagonis di hidupku itu ternyata dibentuk oleh avatar pendahuluku. Tetapi bukan itu yang membuatku berpikir demikian.
Ini soal curhatan Bu Tsunade terkait bagaimana Avatar Hiruzen merupakan seorang ayah yang payah, sementara saat ini guru You-Know-What yang sering kupanggil You-Know-Who itu hobi sekali membuatku jantungan. Dengan teori reinkarnasi avatar berbagi dosa dan karma, kupikir kejadian yang kusebutkan bisa jadi kalimat sebab-akibat.
Hm? Dia memberi ulangan dadakan lagi?
Aku tak percaya akan bilang begini, tapi betapa beruntungnya aku jika penyebab aku mempertanyakan sistem reinkarnasi avatar ini hanya karena ulangan dadakan.
Aku selalu tahu di dalam sanubari Bu Tsunade tersimpan sadisme—cuma guru sadis yang senang melihat muridnya kelabakan gara-gara ulangan dadakan, hey!—tapi tidak sampai begini juga!
Aku meneguk ludah dalam posisi kayang. Di depan mata, aku bisa melihat (dalam posisi terbalik) bongkahan batu besar yang menumbangkan beberapa baris pohon jati. Satu detik saja telat kayang, bisa dipastikan saat ini aku jadi manusia geprek.
Aku tidak diberi waktu untuk bersyukur lebih lama saat kurasakan getaran di kaki kiri. Buru-buru kugulingkan badan ke samping kanan, langsung mengambil posisi siaga setengah berjongkok saat kurasa jaraknya sudah cukup. Aku meringis melihat batu meruncing tumbuh tepat di posisiku kayang tadi, hasil pengendalian bumi.
Seharusnya, pagi ini menjadi hari sekolah yang biasa dan normal-normal saja. Tak ada pelajaran yang membebankan otak, atau yang membuatku dikatai Sasuke tidak punya otak. Seharusnya aku sedang duduk di kelas Literasi sambil membaca bacaan membosankan atau mendengar kicauan guru bersangkutan yang lebih membosankan. Bukannya menghindari kematian di tengah-tengah hutan seperti ini.
Tadi pagi, Bu Tsunade menungguku di gerbang sekolah. Beliau menyuruhku masuk ke mobilnya dan diantarkanlah aku ke kawasan Hutan Timur yang terkadang dipakai untuk latihan luar ruangan PJPD. Tanpa penjelasan, aku dibiarkan diserbu secara tiba-tiba oleh murid kelas tiga.
Sejauh ini kuhitung, ada dua belas anak jumlahnya. Salah satunya bermurah hati menjelaskan kalau mereka adalah kelompok senior yang memilih melanjutkan studi ke akademi militer dan kepolisian. Jadwal bimbingan profesi kali ini, mereka diberi waktu tiga jam untuk mengalahkanku.
Kenapa aku? Rupanya prestasiku memegang Juara Bertahan Bending Battle Porsenzar selama 3 semester berturut-turut yang membuatku dijadikan tumbal.
Aku menarik badanku, lompat kanan, lompat kiri, tambah salto demi menghindari tinjuan udara. Kutarik tanganku menyilang, mengirimkan kilatan petir untuk membelah bongkahan batu dari senior lain yang bergerak cepat ke arahku.
Aku hanya bisa mengumpat dalam hati ketika kulihat panah es melesat dari belakang. Napasku sudah terengah-engah. Aku menarik napas sedalam mungkin, kuhembuskan kuat bersamaan dengan kepalan tinju yang mengeluarkan kobaran api besar. Melenyapkan panah-panah es tersebut menjadi uap.
Berpasang-pasang mata membelalak. Aku menyeringai. Beberapa murid sudah kehabisan tenaga dan sisanya tak memiliki pertahanan yang cukup kokoh. Waktu yang tepat untuk aku gantian menyerang mereka setelah sekian lama hanya mengelak dan bertahan.
"Waktu habis! Semuanya berkumpul di pintu masuk!" Suara Pak Kakashi—Guru PJPD—menggema dari drone yang terbang di atas kami.
Aku melepas kuda-kuda menyerang, langsung berlari ke pintu masuk. Sesekali kumanfaatkan pohon-pohon kokoh yang ada sebagai tumpuan lompat agar aku bergerak lebih cepat ke tujuan. Begitu sampai di pintu masuk, aku melepaskan kilatan petir tepat di tengah-tengah dua sosok guru yang ada di sana. Keduanya berhasil menghindar, tentu saja.
"Naruto!" Guru pertama, Bu Tsunade, langsung memelototiku. Kupelototi balik dan kuberi dia acungan jari tengah.
Itu balasan karena membuatku jantungan tanpa penjelasan!
Guru yang kedua adalah Pak Kakashi. Guru PJPD itu berambut perak dan memakai masker bagai karakter permainan Counter Strike. Matanya tampak tersenyum dan dua jempol tangannya yang diangkat kuanggap sebagai undangan serangan ronde dua. Maka kulakukan.
Serangan petirku dia belokkan, ekspresinya tidak berubah sama sekali. Wajar jika ia mudah menangkisnya. Aku tak benar-benar berniat menyerangnya.
Sebarbar apa pun aku, bukan berarti aku akan serius menyerang guruku sendiri!
Aku mengerang frustasi. "Tak bisakah kalian jelaskan dulu sebelum melepasku di tengah kawanan T-rex?" protesku setengah berteriak.
Bu Tsunade bersiul dan aku benar-benar gatal ingin mengajaknya berkelahi.
Tentu tidak kulakukan. Aku terlalu takut dibalas dengan ulangan dadakan.
Hey, jangan menghakimiku. Kalian tahu kelemahan terbesarku apa.
Tutup mulutmu, penulis sinting! Jawabannya bukan nama orang!
"Kau tetap menang tuh? Apa informasi tetap diperlukan?" Pak Kakashi menanggapi enteng.
"That's a common sense, Pak!" Protesanku yang ini dianggap angin lalu.
"Dengan begini, kakak-kakak seniormu di sana tak bisa mengelak kalau kau bisa menang Bending Battle karena itu cuma pertarungan satu lawan satu yang cukup dimenangkan dengan strategi skor." Pak Kakashi mendekatiku. Tangannya digunakan untuk mengacak rambutku yang agak lepek oleh keringat. Ia melanjutkan, "seharusnya mereka sadar usaha mereka untuk lolos tes fisik akademi masih kurang jika menjatuhkan adik kelas saja belum mampu."
Oh, sebentar. Sepertinya aku lebih paham si penulis boncel menjebakku di adegan macam apa.
Kemungkinan, Pak Kakashi menegur usaha seniorku untuk ujian yang akan mereka hadapi tak lama lagi. Bisa jadi beliau menggunakanku sebagai pembanding dan pemicu motivasi, mengingat prestasiku di Porsenzar secara tidak langsung merupakan bukti bahwa aku lebih unggul dari semua murid di sekolah. Mereka tak mengakui kekerenanku dan aku dijadikan tumbal agar mereka sadar.
"Jadi, masih ada yang mau bilang petarung hebat di depan kalian ini tak pantas mendapat kemenangannya di Porsenzar?"
Aku mendelik. Jangan kira pujian itu bisa membuat urusan kita selesai, Pak Kakashi!
"Bagaimana kau bisa menghindari serangan kami?" Satu senior bertanya. Kalau tidak salah, dia adalah tersangka yang hampir membuatku menjadi manusia geprek. "Apa kau mengikuti latihan khusus untuk masuk militer?"
Aku terdiam.
Jujur saja, aku bingung mau menjawab apa. Tak mungkin 'kan kujawab aku berlatih untuk menghindari jembatan maut sejak umur 3 tahun yang intensitasnya semakin bertambah dan belum berhenti sampai saat ini?
"Menang satu lawan satu dengan elemen acak, aku bisa mengerti. Tapi melawan keempat elemen sekaligus hanya menggunakan satu elemen? Bagaimana kau melakukannya?"
Ah, pertanyaan yang itu memberiku sedikit pencerahan.
"Kalau kita bicara soal Bending Battle, ada dua hal yang menjamin kemenangan mutlak melawan kompatibilitas elemen dan tingkat keberuntungan. Yang pertama adalah reflek dalam menanggapi gerakan lawan, terutama dalam penyerangan. Yang kedua," Aku mengetuk pelipisku. "seberapa cepat kau bisa memikirkan strategi.
"Strategi yang kumaksudkan di sini bukan hanya memikirkan serangan pertama dan kedua, tapi berlanjut tiga-empat-lima bahkan kalau bisa sampai cabang z mengikuti kemungkinan respon lawanmu. Lebih bagus lagi jika kau bisa memancing gerakan lawanmu agar sesuai dengan strategi yang kaubuat." Terutama kalau kau tahu salah satu langkah saja nyawa jadi taruhannya.
"Ternyata kau petarung pemikir? Kukira dengan sikapmu yang barbar, kau termasuk orang yang asal hajar yang penting menang." Seseorang berkomentar di kerumunan senior.
Bibirku berkedut menahan kedongkolan.
Aku tahu Sasuke sering menghinaku bodoh tanpa menghiraukan kami sedang di mana. Tetapi sebegitu sulitkah untuk percaya otakku bisa pesat dalam hal selain You-Know-What?
Hei! Mereka pikir prestasi akademisku selain satu mata pelajaran terkutuk itu asalnya dari mana? Menyontek pada Sasuke?
Aku menangis darah pun mana mau dia memberi contekan!
"Ah!" Satu tangan terangkat. "Tapi bukannya menebak pergerakan lawanmu—terutama yang berbeda elemen—akan sulit? Tiap elemen punya prinsip dan pola gerak yang berbeda."
"Justru itu," Aku menjentikkan jari. "prinsip dan pola masing-masing elemen berbeda. Setidaknya kau bisa menebak apakah orang itu akan menyerang, bertahan, atau menghindar dari pergerakan kuda-kuda atau tangannya saja. Keautentikan dasar tiap elemen justru mempermudah pembacaan dan celah memanipulasi gerakan lawan."
"Kau mengingat dan menganalisa sampai ke gerakkan tangan? Tiap elemen? Kau ini berniat menjadi atlet Bending Battle apa bagaimana?! Kok segitunya?"
Aku mengusap leherku dan tertawa hambar. Haruskah kujawab tak ada yang mustahil dipelajari jika nyawa jadi taruhannya?
"Terima kasih, Naruto. Sekarang kau boleh kembali ke sekolah."
Ya Tuhan … Aku ingin bolos saja rasanya.
.
Aku menghela napas lega mendengar bel pulang sekolah berkumandang dengan indah. Semalam jadwal latihanku bersama Jiraiya. Aku juga kurang istirahat karena terlalu asyik bermain permainan konsol. Ditambah tadi pagi menghadapi ulah Pak Kakashi dan Bu Tsunade. Rasanya badanku lelah sekali hari ini.
"Sini, kubawakan tasmu." Sasuke mengusap kepalaku sejenak, lalu membantu merapikan mejaku.
Seseorang dari bangku tengah bersiul. "Semalam kamu apain si Naru sampe loyo begitu?" godanya.
Perubahan dinamika hubungan kami tak lepas jadi bahan keusilan teman-teman sekelas. Aku cuma bisa mengumpati kebucinan Sasuke dalam hati, sekaligus megutuk diri yang gagal kebal. Bukan berarti aku diam saja saat mereka menggoda sih.
Kuacungkan dua jari tengahku sebelum mengikuti Sasuke yang sudah jalan duluan.
"Pak Iruka tadi pagi bilang kau dapat dispen dari Bu Kepsek. Habis ngapain?" tanya Sasuke setengah perjalanan menuju Ruang OSIS.
"Dijadiin samsak tinju senior," jawabku asal. Aku menyipitkan mataku saat mendengar dengusan menahan tawa dari Sasuke. "Kalau mau ketawa ya ketawa aja! Sok-sokan nahan begitu."
Sasuke merangkulku. Sebelah tangannya mencolok pipiku yang agak linu, oleh-oleh 'olahraga' pagi yang terpaksa kulakukan. Wajahnya dihias seringai menyebalkan.
"Gak usah ngambek gitu. Jadi makin imut, tahu."
Sialan.
"Shut up!" Kudorong dia menjauh.
Sasuke malah mengekeh. "Cie, salting."
Aku menggerutu. Kurebut tasku dari tangannya, lalu kupakai untuk menabok wajahnya. Setelah itu aku mempercepat langkahku. Kuabaikan kekehan Sasuke yang lama-lama mengeras menjadi tawa.
Ah, sial. Wajahku terasa panas.
.
"Hmm … Sponsor yang ini memang persentase tawarannya lumayan sih. Tapi ada batas minimum produk yang terjual agar dana cair. Ini termasuk rugi kalau tidak mencapai target. Aku lebih setuju yang ini." Sasuke mengalihkan pandangannya ke arahku. "Bagaimana menurutmu, Nar?"
Kujawab, "Aku juga sependapat. Yang itu mungkin persentasenya tak sebesar kompetitornya. Tapi sudah pasti kita dapat, tak ada gambling dana. Kita cuma perlu menyediakan lahan untuk stand di hari pelaksanaan acara, 'kan?"
Sakura mengerang. "Kenapa kita harus ribet cari dana gini sih buat acara sekolah? Sekolah kan punya dana yang cukup dari donatur!"
Aku nyengir menanggapi kepenatan Sakura. Saat ini kami sedang memilah sponsor-sponsor yang masuk untuk acara festival tahunan sekolah.
Giliran memalak kawan sejawat untuk uang kas tingkahnya sudah seperti debt collector profesional. Dihadapi sponsor dan segala birokrasi yang mengikatnya, dia pusing sendiri.
"Tujuan kita menghubungi sponsor itu bukan untuk memenuhi dana, tapi mengumpulkan pengalaman mengurusi birokrasi seperti ini." Sasuke yang terbiasa mendengar permasalahan aktual negeri sebagai sarapan di pagi hari hanya menyeringai pada kawan kami yang berambut merah jambu itu. Tanpa disertai ucapan lisan lanjutan saja sudah jelas si kampret itu sedang menghina.
Sakura yang mulai bisa membaca ekspresi ketua kami tentu saja paham maksudnya. Gadis itu memukul bahu Sasuke kesal. "Enggak semua anak dapet pelatihan bagaimana langkah-langkah menyelesaikan sengketa lahan sepertimu, Pangeran!"
Aku menggeleng maklum. "Sudahlah, Sakura. Bukan cuma kau saja yang bingung menghadapi sponsor, kok."
Sakura mendelik. Dia terlihat ingin mengeluh lagi, tapi perhatiannya terputus oleh pintu yang terbuka agak kasar.
Ruang OSIS hening seketika. Di pintu, Bu Tsunade terlihat ngos-ngosan. Ekspresinya yang kalut membuat seisi ruangan semakin kebingungan.
"Sasuke, Naruto. Bisa ikut Ibu sebentar?" ujar beliau setelah napasnya normal lagi.
Aku dan Sasuke saling pandang dengan ekspresi tercermin. Kami mengikuti langkah Bu Tsunade yang agak tergesa-gesa.
Bu Tsunade menyuruh kami masuk duluan. Pintu ia kunci, gorden jendela diturunkan. Setelah itu, dinding air perlahan terbentuk mengelilingi kami, seolah menjadi media penyamar suara.
Semua ini membuatku was-was.
"Ada apa ya, Bu?" tanya Sasuke.
Bu Tsunade menggigit bibir bawahnya. Beliau mondar-mandir di depan kami. Ekspresinya benar-benar mengkhianati pamornya selama ini di mata murid. Sama sekali tak terlihat jejak wanita yang tangguh dan Kepala Sekolah yang tegas.
Bu Tsunade berhenti di depan kami, lalu mencengkram sebelah bahu kami. "Belum ada yang buka e-mail OSIS hari ini?"
Aku dan Sasuke saling pandang lagi. Sasuke yang memutus pertama, menjawab pertanyaan Bu Tsunade dengan gelengan kepala.
Bu Tsunade menghela napas. "Baguslah," gumamnya.
Aku mengernyit tak paham. "Memangnya ada apa di e-mail OSIS?"
Senyum kudapat sebagai jawaban pertama. "Tak ada apa-apa," ujar beliau, jelas berbohong.
"Bu, kau berbicara di depan dua murid unggul di sini." Sasuke menyipitkan matanya. "Dan salah satunya adalah putra dari Raja. Bukannya ikut campur, tapi ... Kalau Anda pikir saya akan melupakan gelagat aneh tadi, Anda salah."
"Ibu akan coba sesuatu. Kalau Ibu salah, tolong lupakan dulu hal ini. Mungkin kapan-kapan akan Ibu jelaskan. Kalau benar, ya …."
Bu Tsunade bahkan tak memberi kami waktu untuk merespon "Hah?" atas kata-katanya yang ambigu. Dia menarik tangannya menyilang ke bawah dengan gesit, tepat setelah ia selesai berbicara. Dalam waktu singkat, es berbentuk kerucut tajam yang terbentuk dari dinding air di sekeliling kami melesat ke tengah ruangan.
Ya, tepat di mana kami berdiri.
Aku reflek mengangkat tanganku—satu ke depan dan satu lagi agak menyerong ke belakang—untuk menghentikan pergerakan kerucut-kerucut es itu. Tepat saat pergerakannya berhenti, saat itu pula kulepas pengendalianku. Kerucut-kerucut es itu tertarik gravitasi dan berhenti setelah menghantam permukaan lantai. Beberapa sampai patah.
"Shit."
Aku meneguk ludah. Itu tadi terlalu tiba-tiba. Semampu apa pun aku mengendalikan keempat elemen, jika terpojok tiba-tiba oleh serangan pengendalian air, respon pertamaku akan tetap menangkisnya dengan pengendalian air. Karena bagaimana pun, elemen air adalah elemen pertama yang kupelajari sekaligus elemen yang menjadi identitasku.
Bu Tsunade menatapku dengan mata yang membola.
"Uh …."
Aku berkedip. Sasuke merubah posisinya, setengah menutupiku dari Bu Tsunade. Kulirik, ekspresinya waspada. Pipiku agak menghangat melihat dia begitu siap melindungiku, meski secara teknis aku lebih kuat darinya.
"Fuck."
Perlu loading dua kali sampai aku sadar umpatan yang tadi terdengar tidak keluar dari mulutku. Bukan juga Sasuke.
Ya, Bu Tsunade yang mengumpat.
"Aku butuh sake ..." Bu Tsunade berbalik, lalu melangkah gontai ke mejanya. Ia duduk memangku dagu, tawa kaku keluar dari bibirnya. "Tak perlu tegang begitu, Pangeran. Aku tidak akan menyerang Naruto, jika itu yang kau takutkan."
Ketegangan di bahu Sasuke berkurang, tapi dia tidak beranjak sedikit pun dari posisinya.
"Aku tak tahu harus mulai dari mana." Bu Tsunade memijat pelipisnya. "Begitu banyak yang ingin kutanyakan. Banyak juga yang memaksa untuk diucapkan. Tapi sekali lagi, aku tak tahu harus mulai dari mana."
Aku meneguk ludah.
"Karena aku tak tahu apa yang ingin kukatakan, kita sampingkan saja dulu dan fokus pada hal yang membuatku menyeret kalian ke sini hanya untuk menanyakan apakah ada yang sudah buka e-mail hari ini. Naruto," Bu Tsunade menatapku dalam. "apa kau sering memakai sepatu PJPD di luar jam sekolah?"
Aku mengernyit. Pertanyaan itu terlalu acak.
"Uh … Kadang? Sepatunya nyaman dipakai sih. Jadi ya … Lagian tak ada larangan 'kan?"
Bu Tsunade menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan, seolah ia sedang menenangkan diri. "Kalian tahu soal Teratai Merah?"
Kurasa respon kami yang terperanjat sudah cukup menjawab pertanyaan beliau.
Aku bersyukur aku membisukan energi kosmikku karena mimik wajah Bu Tsunade setelahnya benar-benar terbuka. Ketakutan.
Jika kubuka, aku yakin aku akan tercekik oleh rasa takut beliau.
"Teratai Merah tahu Avatar ada di sekolah ini," ujar beliau. "Ada e-mail masuk dari mereka."
Bu Tsunade menunjukkan layar laptopnya pada kami. Di sana, terlihat jendela pesan masuk milik akun OSIS. Bu Tsunade mengklik pesan terbaru, tertanda masuk pukul 1 siang saat seluruh badan sekolah sedang sibuk di tengah kegiatan belajar-mengajar.
Video yang terlampir di pesan itu adalah video yang terekam oleh Prajurit Kerajaan Bumi pada malam resonansiku dengan para Naga Spiritual. Perbedaannya, video itu terlihat lebih jelas dan diperbesar bagian lutut ke bawah saja. Mau dilihat dari sisi mana pun, itu jelas sepatu khusus pelajaran PJPD sekolah ini.
Di badan pesan elektronik tersebut, tercetak pesan padat.
.
Kami tahu kau di sana, Avatar.
-Teratai Merah
.
Telingaku berdesing. Napasku tersendat.
Aku melihat wajah panik Sasuke. Juga melihat saat Bu Tsunade meninggalkan mejanya dan meniru Sasuke di sisi lain.
Aku melihat bibir mereka bergerak, tanpa ada satu pun suara yang dapat tertangkap.
Sebelum aku sempat bertanya mereka kenapa, dunia terasa berputar.
Kemudian, seperti adegan klise lain ketika tokoh utamanya terlalu shock dengan kenyataan hidup yang diberikan penulis mereka, semuanya jadi gelap.
Iya, aku pingsan, bego!
Kalian mungkin bosan membaca pertanyaanku ini, tapi … tolong beri aku pencerahan.
Sebenarnya, fanfiksi parodi macam apa ini?
.
Bolehkah kuminta waktu sedikit lebih lama lagi?
To Be Continued
