Veil of Night
by becklypark
Adapted from Linda Howard's Best Selling Novel.
Cast
Byun Baekhyun as Bryce Wilde
Park Chanyeol as Richard Wilder
Park Sooyoung aka Joy RV as Joy Parker
Rate: M (Mature)
Genre: Romance, Misteri, Suspense.
Warn! Longchap!
Disclaimer
Banyak perubahan cerita namun tidak mengubah sedikit alur. Hanya beberapa karakter tokoh, asal-usul dan sebagainya untuk kepentingan keserasian tokoh cerita serta alur.
.
17
.
"Kau siap untuk wawancara lagi?" Kris bertanya segera setelah mereka memasuki mobil. Dia sudah menekan nomor telepon Yeri.
"Tentu saja." Saat ini sudah lewat pukul lima, sinar matahari yang panas membakar semua yang tersorot olehnya, tetapi pekerjaan polisi tidak memiliki jadwal teratur. Pekerjaan ini tidak dimulai sejak pukul sembilan pagi hingga lima sore—yah, juga bukan sejak pukul delapan pagi hingga lima sore. Jika Chanyeol beruntung, pada hari-hari tertentu rasanya dia bekerja sejak pukul tujuh pagi hingga pukul enam sore. Dia memasang pendingin udara hingga maksimum.
Setelah semenit, Kris memutuskan hubungan, sambil berkata "Tidak ada jawaban", meskipun itu tidak perlu. Dia lalu menekan nomor telepon lain yang diberikan oleh Senator Dennison. Semenit kemudian, dia berkata, "Ms. Kim, ini Detektif Richard Wilder dari Departemen Kepolisian Hopewell."
"Astaga, terima kasih," Chanyeol bergumam, tetapi, yeah, ini kasusnya dan sang sersan akan membiarkan dia menangani sendiri.
"Saya ingin meminta beberapa informasi dari Anda mengenai Joy Parker," Kris melanjutkan dengan lihai. "Tolong telepon saya di..." dia terdiam, berpikir, kemudian menyebutkan nomor telepon seluler Chanyeol.
Butik eksklusif tempat Yeri bekerja sebagai manajer pembelian pasti sudah tutup, meskipun Chanyeol tidak yakin berapa lama seorang manajer pembelian menghabiskan waktu di toko yang barang-barangnya dia pilihkan. Yeri tidak menjawab telepon selulernya, dan jika sedang di rumah, dia pun tidak menjawab teleponnya juga. Jadi, sepertinya pekerjaan mereka hari itu sudah selesai, kecuali jika Ms. Kim membalas telepon Kris cukup cepat. Chanyeol berpikir itu tidak akan terjadi.
Begitu juga Kris, karena dia menguap dan berkata, "Pengantinku yang merona akan senang jika aku bisa tiba di rumah pada waktu yang pantas malam ini."
"Maksudmu, kau akan senang jika kau berhasil tiba di rumah pada waktu yang pantas, sehingga penngantinmu yang merona tidak akan memotong organmu dan memasaknya untukmu."
"Tepat sekali," Kris mengiyakan, tersenyum tipis seperti yang selalu dia lakukan saat menyebut-nyebut istrinya. "Semurnya akan sedikit kenyal." Chanyeol mungkin tidak akan iri terhadap sang sersan karena istrinya—astaga, tidak!—tetapi dia iri karena hubungan mereka. Dia berharap suatu hari bisa menemukan seseorang yang masih bisa membuatnya tersenyum setelah mereka menikah bertahun-tahun. Ini membuatnya memikirkan Baekhyun, karena hubungan itu menyentuh hatinya bahkan sebelum berawal dengan sepantasnya—bukan berarti dia memikirkan pernikahan atau semacam itu, amit-amit. Dia hanya benar-benar berpikir bahwa mereka cocok.
"Aku tak memahami pecundang-pecundang brengsek seperti Senator itu," dia berkata, karena pikirannya membuat Chanyeol teringat pasangan yang baru saja mereka tinggalkan. "Bagaimana bisa seorang lelaki berbuat bodoh dengan berselingkuh dari seorang perempuan seperti itu?"
"Aku memikirkan hal yang sama. Cerdas, cantik, baik, kaya—apa lagi yang kaum lelaki inginkan?"
Tak mungkin mereka mengetahui apa yang terjadi diantara dua pribadi, tetapi jika dilihat dari luar, menurut Chanyeol sang Senator adalah bajingan. Mungkin ini berhubungan dengan kariernya di politik secara umum, karena sepertinya begitu banyak politisi yang berselingkuh dari pasangannya. Namun, dia langsung bisa sangat menyukai Mrs. Dennison sehingga Chanyeol langsung memasukkan sang Senator ke dalam kategori tolol lahir-batin.
Saat tiba kembali di Departemen Kepolisian Hopewell, mereka buru-buru masuk untuk memeriksa pesan-pesan dan mencari tahu apakah laporan-laporan sudah masuk. Markas itu tidak benar-benar berdengung bagaikan sarang lebah, tetapi tetap sibuk, dan paling sedikit ada setengah jumlah orang yang berada di sana memiliki pendapat tentang insiden kopi tadi pagi. Ha ha. Memikirkan kopi membuat Chanyeol teringat pada Baekhyun. Chanyeol ingat bahwa dia berjanji pada Baekhyun untuk menduplikat semua isi tas kerjanya, dan menampar keningnya sendiri dalam hati.
Sementara Kris menuju mejanya, Chanyeol memanggil seorang petugas dari bagian Barang Bukti yang berutang budi padanya, dan baru saja menuliskan pesan-pesannya saat Kris memanggil.
"Ada sesuatu yang menarik dari Divisi Kendaraan Bermotor," Kris berkata. "Tebak siapa yang memiliki Mercedes perak."
Mercedes adalah petunjuk besar. "Sang Senator," Chanyeol menebak. "Betul?"
"Betul. Kasus ini menjadi jauh lebih alot." Seorang politisi kaya bisa memiliki peran yang sangat besar dalam kasus ini, dan mereka berdua mengetahuinya.
"Dan mengubah tersangka potensial nomor satu kita menjadi saksi potensial nomor satu." Itu pun bukannya tanpa masalah. Setelah memiliki petunjuk, mereka bisa menunjukkan foto-foto beberapa pria berambut kelabu kepada Baaekhyun, tetapi itu salah satu masalah yang sudah disebutkan. Dennison Senator Negara Bagian yang mencalonkan diri sebagai anggota Kongres, kampanye politiknya ada di setiap stasiun televisi. Baekhyun bisa "mengenalinya" dengan mudah dari iklan-iklan tersebut. Chanyeol ingin melakukan penangkapan, tetapi sebelumnya, dan yang paling penting, dia tidak ingin melakukan kesalahan penangkapan.
Saat ini, mereka tidak punya cukup bukti untuk melakukan penggeledahan mobil, dan Chanyeol sangat, sangat ingin memiliki bukti. Namun, bahkan bukti-bukti belum cukup membuat seorang hakim mendengarkan mereka. Selain itu, sang Senator memiliki alibi, yaitu kekasih gelapnya. Mereka sudah menuju ke suatu tempat, tetapi masih menggali sedikit demi sedikit. Alibi-alibi bisa giyah. Dalam kasus ini, jika sang Senator ketahuan memiliki seorang kekasih gelap, Sandara Dennison mungkin akan maju dan menggoyangkannya sendiri.
"Kupikir kau perlu berbicara dengan Bryce Wilde lagi," ujar Kris. "Coba pastikan untuk mendapatkan deksripsi lebih detail tentang lelaki yang dia lihat."
Chanyeol memikirkan jadwal mendetail yang sudah ada di dalam tas kerja Baekhyun. Setidaknya, selama sisa minggu ini, dia tahu pasti tujuan Baekhyun dan kapan waktunya. Memiliki jadwal yang snagat teratur adalah sesutau yang hebat.
"Aku akan melakukannya," Chanyeol menyahut.
Saat Chanyeol berbalik, Kris memanggil, "Wilder."
Chanyeol berhenti dan menoleh ke belakang, kedua alisnya terangkat karena bertanya-tanya.
"Besok pagi, jika kau berniat mampir untuk membeli segelas kopi... urungkan saja niatmu."
.
.
.
Ada saat–saat Alice tidak mampu mengawasi jalannya sebuah pesta karena sakit, sehingga nyaris tak dapat menjaga kepalanya tetap tegak. Meskipun begitu, jika harus berada di sana, dia akan berusaha keras. Tak peduli sakit kepala, kram karena menstruasi (semua itu akhirnya, benar-benar sudah menjadi kisah masa lalu, syukurlah), dan virus-virus penyerang perut, dia harus hadir di sana, meskipun pada akhirnya dia selalu bertanya-tanya, apakah pengantin wanita akan berterima kasih kepadanya jika tertular virus sebelum berbulan madu. Dia selalu berusaha sekuat tenaga membatasi kontak langsung saat sedang sakit, tetapi jika tidak ada orang lain yang bisa menggantikan, dia tetap melakukan pekerjaannya. Dia merasakan hal yang sama malam ini, menanti geladi resik denga sikap "torpedo siap, maju dengan kecepatan penuh". Pilihan apa lagi yang ada? Hanya karena Joy Parker membuat dirinya sendiri terbunuh, tidak berarti waktu berhenti bagi para pengantin wanita lainnya. Kehidupan terus berlanjut. Premier terus maju.
Alice harus menabahkan diri untuk menghadapi geladi resik malam ini, dan pernikahan besok, dengan wajah tersenyum. Tidak ada yang menginginkan seorang perencana psta pernikahan dengan wajah sekusut bencana, tetapi sial, dengan perasaannya sekarang, ini akan sangat sulit.
Pengantin wanitanya, yang benar-benar merupakan perempuan muda nan manis, memiliki kecintaan yang nyaris patologis terhadap warna merah muda, sehingga mengubah pesta pernikahan ini menjadi suatu ledakan permen karet. Ada bunga-bunga, kartu undangan, dan bermil-mil pita merah muda. Ada gaun para pengiring pengantin, lilin-lilin, bahkan sabuk lebar pengantin pria pun berwarna merah muda. Kue pengantinnya rasa stoberi, dengan lapisan gula merah muda. Setidaknya, kue itu dihias dengan mawar-mawar putih, bukan merah muda—seseorang telah menyatakan bahwa mawar-mawar merah muda akan tenggelam di depan lapisan gula merah muda, jadi si pengantin wanita menyerah dalam hal itu.
Bahkan geladi resik pun tidak aman. Si pengantin wanita memakai gaun merah muda, dan pengantin pria memakai dasi yang serasi. Setiap pengiring pengantin mengenakan nuansa warna itu, meskipun malam ini mereka tidak seragam. Gaun-gaun mereka yang indah—dan beraneka warna—bernuansa pastel, merah muda mencolok, hingga warna raspberry. Ibu pengantin wanita mengenakan setelan sewarna sampanye yang cantik, serta membawa tas tangan merah muda cermerlang berukuran besar. Ada motif bunga-bunga merah muda besar di rok panjang dan mengembang ibu si pengantin pria.
Bahkan ada sentuhan merah muda pucat di blus Peach yang bermotif bunga.
Alice mengenakan setelan sederhana berwarna hijau kebiruan, merasa bagaikan seekor ikan berenang di lautan merah muda. Bukan hanya warna pakaian yang membedakannya, tetapi amarah dan perasaan frustasi yang tak berani dia ungkapkan. Dia tidak akan merusak pesta yang bagi mereka istimewa, demi apa pun di dunia ini.
Semua ini gara-gara Joy Parker, Alice berpikir dengan sebal. Mengapa perempuan itu harus membuat dirinya terbunuh pada minggu saat mereka harus menangani sejumlah besar pesta pernikahan? Dia tetap harus menghadapi semua ini sampai akhir.
Peach mencondongkan tubuh dan berbisik kepada Alice, "Kupikir aku akan muntah."
Alice menatap penuh arti ke warna merah muda di blus Peach dan melototi temannya itu untuk memperingatkan, tetapi tatapan tajam itu segera menghilang. Rasa humornya agak pulih karena eskpresi Peach yang sangat lucu, saat berusaha menyembunyikan kengeriannya dari para tamu pesta pernikahan yang, sejujurnya, sama sekali tidak tertarik kepada mereka. Mereka berdiri di tepi, menonton geladi resik, dan tidak akan ada yang mendengar komentar berbisik mereka.
"Ini suatu kecelakaan," Peach berbisik, diam-diam mencubiti bunga merah muda mungil di lengan bajunya. "Kecuali jika aku mengalami suatu kontak psikis, atau semacam itu. Maksudku, aku tahu pesta pernikahannya merah muda, tapi geladi resiknya juga?"
Ada sedikit kebingungan saat si pembawa cincin, bocah berusia lima tahun, harus berjalan menuju altar. Si gadis penabur bunga, yang berusia tiga tahun, bersikeras ingin maju duluan, karena dia adalah "pewempuan", dan "pewempuan hawus beljalan duluan!" Alice turun tangan dan menjelaskan kepada setan kecil berambut haus itu, bahwa orang-orang penting biasanya maju terakhir, dan karena itulah si pengantin wanita berjalan paling belakang dalam parade menuju altar. Gadis kecil itu tampak berpikir, kemudian memutuskan bahwa dia tak ingin ambil bagian dalam parade itu sama sekali.
Oke, ini akan menyenangkan.
Pesta pernikahan permen karet ini sama sekali tidak mendekati pesta paling mengerikan yang pernah Premier tangani. Sebenarnya, keberhasilannya masuk dalam daftar sepuluh teratas. Jika perasaannya lebih baik, Alice mungkin menganggap serbuan merah muda itu lugu dan memesona, karena lagi pula, pekerjaan mereka adalah mewujudkan keinginan si pengantin wanita, untuk membuat hari pentingnya istimewa, dan—dengan jari bersilang—bebas hambatan. Pengantin wanita ini menginginkan warna merah muda, dan banyak sekali, jadi mereka akan memberikan itu kepadanya. Dari bahan baju hingga bunga-bunga, kue hingga serbet, taplak meja hingga hadiah-hadiah bagi para pengiring pengantin, Premier memberikan semuanya. Ada begitu banyak nuansa warna merah muda, dan memastikan segalanya terkoordinasi membutuhkan waktu dan riset yang cukup. Mungkin nyaris seluruh pemandangan esok hari akan berwarna merah muda, tetapi demi Tuhan, seluruh kepingan kecil akan terkoordinasi dengan baik. Nuansa warna yang bertabrakan tidak diizinkan. Efek itu tidak tampak buruk. Bahlan tampak indah, jika Alice sedang merasa bahagia.
Selain penggunaan warna merah muda yang berlebihan, mengurus pernikahan istimewa ini mudah sekali. kedua pihak keluarga bersikap ramah, dan tidak ada seorang pun ratu drama diantara mereka, kecuali si gadis penabur bunga. Pasangan pengantin tampak jelas saling mencintai. Mereka orang-orang muda menyenangkan yang selalu menatap pasangannya dengan mata berbinar. Jika itu tidak bisa membantu pesta pernikahan mereka berlangsung semulus ini, Alice dengan senang hati akan membeli pakaian merah muda untuk dirinya sendiri. Mungkin setelan merah muda yang serasi bagi semua orang di Premier. Kartu nama merah muda. Jaguar merah muda menyala. Baekhyun akan sangat ngeri membayangkan hal itu.
Untuk pertama kalinya sepanjang hari yang sulit itu, Alice merasa seulas senyuman tulus akhirnya menyentuh bibirnya sejenak.
Ketika geladi resik itu selesai dengan sukses dan si gadis penabur bunga berhasil diyakinkan dia akan menjadi bintang pertunjukan jika setuju berjalan menuju altar di depan pengantin wanita, dengan sangat murah hati ibu pengantin wanita mengundang Peach dan Alice untuk ikut makan malam, yang akan berlangsung di salah satu restoran makanan laut di sisi kota ini. Pada malam lain, mungkin Alice akan tergoda, tetapi hari ini sangat melelahkan. Sejujurnya, dia sudah letih "bersiaga", letih berpura-pura bahwa semua baik-baik saja saat sebenarnya tidak. Alice tersenyum dan menolak undangan itu, dan memastikan lagi waktu pertemuan mereka di gereja besok malam.
Di lapangan parkir, Peach mengikuti Alice ke Jaguar, bukan ke mobilnya sendiri. "Bagaimana keadaan Baekhyun? Sungguh. Aku tak ingin mendapatkan jawaban 'baik' yang palsu dan setengah hati. Sepertinya dia cukup tabah, tapi karena kau ibunya, kupikir kau pasti tahu jika dia berpura-pura atau memang setenang penampilannya."
"Dia menghadapinya lebih baik dibandingkan jika aku yang ada di posisinya. Mungkin karena dia memang laki-laki yang patut untuk diandalkan." Alice berusaha keras memisahkan pekerjaan dengan kekhawatiran terhadap anak lelakinya, tetapi perasaan cemas itu tidak pernah menghilang. Seiring hari itu belalu, kekhawatiran telah terkubur oleh amarah yang semakin memuncak. Amarah lebih mudah dihadapi daripada kekhawatiran. Dia bisa memusatkan amarahnya kepada seseorang. Namun, ada begitu banyak target sehingga dia tak bisa memilih salah seorang saja.
Haruskah dia marah kepada Joy Parker, karena telah menjadi wanita superjalang dan menyebabkan semua ini kepada mereka? Atau haruskah dia marah kepada Detektif Richard Wilder, yang memiliki wewenang absolut untuk memperlakukan Baekhyun seperti penjahat? Saat ini, lebih mudah untuk marah kepada siapa pun dan segalanya.
"Pembunuhan itu sendiri sudah cukup buruk," Alice menggeram, "tapi, aku murka karena siapa pun bisa berpikir, bahkan selama semenit, bahwa Baekhyun bisa melakukannya sesuatu seperti itu. Aku bersumpah, jika bisa berdua saja dengan Richard Wilder dalam sebuah ruangan—"
"Aku tahu apa yang ingin kulakukan kepadanya jika berdua saja dengan detektif itu dalam ruangan," Peach bergumam, kemudian dia mengeluarkan gumaman hangat sebelum menyadari tindakannya, dan dengan cepat menambahkan, "dia harus mendapatkan pukulan keras di bokong." Dia terdiam, mengatupkan bibirnya. "Yah, kedengarannya tidak seperti yang kumaksud."
Alice mendesah. "Sebenarnya, mungkin memang benar. Bagaimana seorang detektif terlatih bisa sebuta itu? Baekhyun tidak mampu—"
Suara Peach serius, tidak seperti biasanya, saat berkata, "Entahlah. Bukankah kita semua mampu, jauh di lubuk hati yang terdalam? Dengan kesempatan terbuka lebar dan motivasi yang tepat?... Bukannya aku berpikiran Baekhyun benar-benar membunuh Joy Parker," dia menambahkan cepat-cepat. "Sedetik pun tidak. Tapi, dalam situasi tertentu, untuk melindungi seseorang yang kau sayangi, menurutmu, mampukah kau membunuh seseorang? Aku tahu, aku mampu. Mungkin siapa pun yang membunuh Joy adalah seseorang yang dinilai semua orang tak mampu melakukan kekerasan seperti itu. Apalagi Baekhyun pasti punya jiwa kelakian yang jelas-jelas tak akan mungkin benar-benar menghilang walau pun lingkup kesehariannya adalah wanita."
"Mungkin juga," Alice menjawab dengan lembut. Peach berusaha berpikir logis, saat Alice tidak ingin memakai logika. Dia seorang ibu, dan anaknya sedang terancam. Amarahnya berkobar lagi. "Aku bisa mengatakan ini padamu: jika Baekhyun berniat membunuh Joy Parker, dia akan melakukannya dengan cara yang tak menarik perhatian. Dia terlalu cerdas untuk membunuh perempuan yang baru saja menampar dan memecatnya di hadapan begitu banyak saksi yang bisa dipercaya." Jika Baekhyun memutuskan untuk membunuh Joy Parker—bukan berarti dia memang mau, tetapi secara teori—mayat perempuan itu tidak akan pernah ditemukan. Alice sama sekali tidak meragukan hal itu, karena dia dan anak lelakinya begitu mirip, dan itulah yang pasti dia lakukan.
Mobil-mobil sudah meninggalkan lapangan parkir sekarang, saat para hadirin geladi resik meninggalkan gereja menuju acara makan malam geladi resik. Alice dan Peach melambai ke arah mereka semua, tersenyum dan mengucapkan selamat jalan dengan ceria.
Alice sangat ingin berbicara dengan Baekhyun, dan satu-satunya alasan adalah memberitahu anaknya bahwa dia ada untuk Baekhyun, dan ingin bertanya lagi, apakah ada yang Baekhyun butuhkan. Namun, geladi resik yang Baekhyun tangani dimulai satu jam setelah geladi resik permen karet, jadi sekarang bukanw aktu yang tepat untuk menelepon. Dia harus menunggu Baekhyun meneleponnya.
Dengan pembunuhan dan kecurigaan yang mengambang di udara, suatu amarah yang tak tertuju ke siapa pun berkobar cepat, Alice tidak ingin sendirian. Dia memiringkan kepala sambil menatap temannya. "Kau punya rencana makan malam?"
"Apakah Lean Cuisine termasuk?" Peach bertanya dengan getir, membayangkan makanan instan kemasan itu.
"Tidak, tentu saja. Aku punya lagsana di freezer. Ikutlah ke rumahku, aku akan menyalakan microwave dan membuka sebotol anggur merah. Kita bisa melepaskan sepatu dan bersantai sejenak. Kau masih belum menceritakan kencanmu akhir pekan lalu, dan sejujurnya, aku ingin sekali pengalihan perhatian sejenak."
Peach mendesah. "Dasar iblis berlidah perak, kau telah memikatku sejak mengucapkan lasagna."
Alice berharap agar kehadiran Peach dan dua gelas anggur bisa memudahkannya tidur nyenyak, tetapi sepertinya mustahil. Sebelum anak kesayangannya terbukti bersih, dia tak akan bisa beristirahat dengan mudah.
.
.
.
Ini bukan pesta pernikahan Bulldog pertama Premier tangani, tetapi Baekhyun beranggapan bahwa partisipan pesta ini adalah para penggemar yang lebih fanatik, dan itu terlihat jelas. Saat itu pertengahan musim panas, dan saat geladi resik, pengantin dan para pengiring pengantin pria mengenakan kaus seragam tim football favorit mereka. Baekhyun cukup takjub karena tidak ada seorang pun yang mengusulkan—syukurlah—agar cincin pernikahan dilemparkan ke altar seperti bola football berhias pita merah dan hitam yang menempuh lintasan spiral. Dia mungkin harus menolak mentah-mentah. Berdasarkan pengalamannya, melemparkan apa pun dalam suatu pernikahan bukan suatu ide bagus.
Di daerah Selatan, football perguruan tinggi nyaris dianggap sebagai agama, namun dia tetap terkejut saat sang pengantin wanita meminta tema ini. Sudah menjadi tugas Premier untuk mewujudkan keinginan si pengantin perempuan, tetapi mencari warna merah khas Georgia Bulldog yang tepay untuk bahan baju, pita, dan bunga-bunga ternyata sangat sulit.
Dan Nancy dilarang menyebut-nyebut, selama persiapan atau eksekusi pesta pernikahan, bahwa dia adalah penggemar berat Georgia Tech. Para perencana pernikahan bisa dipecat karena hal sepele. Baekhyun pernah menghadiri beberapa konvensi perencana pesta, yang memusatkan diskusi tentang tim football perguruan tinggi yang berbahaya, serta cara mengangani persaingan dan fanatismenya. Dia Alabama, contohnya, semua orang berakal sehat tidak akan merencanakan pesta pernikaha pada saat tim Auburn dan Alabama bertanding, karena tidak akan ada yang menghadiri pesta selain anggota keluarganya, dan kebanyakan akan kesal karena melewatkan pertandingan itu—dan pesta itu pasti tidak akan meriah.
Nancy akan mendamping Baekhyun besok malam, saat pesta pernikahan, tetapi untuk menghadiri geladi resik, cukup seorang perwakilan dari Premier—kecuali Nancy ingin berada di sini. Namun, tentu saja tidak. Meskipun begitu, Baekhyun pasti bisa memintanya dengan mudah—karena dia adalah bosnya—dan membiarkan Nancy menangani tugas-tugas malam ini. Namun, dia ingin tetap sibuk. Tidak, dia ingin tetap sibuk mengurus sesuatu, apa pun, selain memikirkan para pengantin wanita yang tewas dan polisi-polisi menyebalkan.
Tidak, dia tidak akan memikirkan seorang polisi yang menyebalkan. Hubungan mereka sudah padam, dan dia merasa frustasi karena masih sakit hati terhadap tindakan Chanyeol. Baginya, marah tidak menjadi masalah. Marah mungkin adalah tindakan yang sehat. Namun, merasa terluka sepertinya konyol dan tidak masuk akal, dua sifat yang tidak ingin dia miliki. Sepanjang hari, dia menasihati dirinya untuk melupakan hal itu, tetapi tidak terlalu berhasil. Astaga, bagaimana jika dia sama sekali tidak berhasil?
Perhatiannya tertarik kembali ke geladi resik saat si pengantin pria menyalak, suara gonggongan khas Bulldog yang menandakan kesenangan, semangat, dan rasa syukur. Baekhyun berjuang untuk menjaga wajahnya tak bergerak, menjaga ekspresinya tetap datar. Apakah ini kebiasaan si pengantin pria untuk mengungkapkan kebahagiaan? Apakah dia menyalak saat bercinta? Pikiran itu sulit diterima. Untungnya, si pengantin wanita tertawa. Sialnya, beberapa pria lain menjawab gonggongan itu.
Dua anak kecil, keponakan lelaki dan perempuan si pengantin wanita, menghibur diri dengan berlarian di lorong, melakukan permainan yang hanya bisa dimengerti oleh mereka, tetapi melibatkan banyak pekikan dan cekikikan, yang berbaur apik dengan gonggongan tadi. Karena aktivitas ganjil itu menyibukkan mereka, dan tidk terlalu gaduh—terlalu gaduh bersifat subjektif—semua orang membiarkan mereka bersenang-senang. Keluarga itu sudah terbiasa dengan kehebohan. Bahkan Baekhyun harus menyuruh mereka diam, saat dia memberikan instruksi untuk pesta pernikahan, kemudian mundur untuk menyaksikan geladi resik. Jika prosesi harus berjalan diantara anak kecil yang berlarian, sepertinya tidak ada yang keberatan. Aura malam itu begitu penuh energi dan gembira.
Harapannya berlebihan agar malam itu berlanjut tanpa bencana apa pun. Si anak lelaki kecil—berumur sekitar empat tahun, menurut perkiraan Baekhyun—berlari mengitari ujung sebuah bangku panjang gereja, tersandung dan jatuh, mendarat dalam posisi telungkup di tengah lorong pinggir, tepay di hadapannya. Selama semenit yang panjang dan mendebarkan, anak itu tidak bersuara.
Bagaikan jantungnya naik ke mulut, Baekhyun terburu-buru mendekati anak lelaki kecil itu untuk memeriksa luka-lukanya. Ya Tuhan, apakah anak itu pingsan? Ketakutan itu langsung menghilang saat si anak mulai melolong, semakin keras dan tinggi, hingga menyerupai peluit kereta uap. Baekhyun berlutut di samping anak itu, menyentuh punggungnya, namun tindakan itu membuat si anak mencapai suatu dimensi yang dapat Baekhyun bayangkan. Semua orang mulai bergegas mendekati mereka, sementara musik rekaman masih terus bermain.
"Ayolah, Sayang. Duduklah dan coba kita lihat bagian kepala mana yang terbentur," Baekhyun membujuk, berharap tidak ada darah. Dia tidak terlalu takut, tetapi—Sambil menabahkan diri, dia membantu anak itu berguling untuk duduk, kemudian benar-benar menghembuskan desahan lega yang keras saat memandang wajah mungil itu. Ada banyak air mata dan ingus, tetapi tidak ada darah.
"Kau pasti baik-baik saja," Baekhyun berkata lembut, menyibakkan rambut anak itu untuk memeriksa apakah ada benjolan di keningnya.
Mendengar suara Baekhyun, dan menyadari bahwa bukan ibunya maupun neneknya yang datang untuk membantu, tetapi seorang asing, anak itu melolong lebih keras lagi.
Benarkah dia menginginkan satu atau dua makhluk seperti ini? Baekhyun berpikir sambil berdiri dan mundur untuk membiarkan ibu si anak, yang sangat tenang tak peduli kerasnya suara jeritan, untuk menggantikannya. Tidak ada anak kecil dalam kehidupan Baekhyun. Dia tidak memiliki saudara lelaki maupun perempuan, begitu pun keponakan. Jika yang harus dia pelihara adalah sosok seperti ini, mungkin sebaiknya dia memelihara tikus gerbil saja. Atau ikan. Dan itu adalah pikiran yang menyedihkan. Dengan jeritan atau tidak, bukan itu yang dia inginkan selama sisa hidupnya.
Sang ibu memeriksa mulut, hidung, dan kepala si anak, bagaikan dia telah ribuan kali melakukan pemeriksaan tersebut—dan mungkin memang iya. Dia mengambil tisu dari saku dan menyeka ingus si anak. Anak itu terus menjerit, dan ibunya merespons dengan bisikan menenangkan. Sepertinya si ibu tidak khawatir, jadi Baekhyun berpikir bahwa dia sendiri bisa berhenti khawatir.
Kemudian, suara yang sudah dikenal di belakang Baekhyun terdengar, "Apa yang kalian lakukan, menguliti anak itu hidup-hidup?"
Tubuh Baekhyun menegang, rambut halus di tengkuknya berdiri karena ngeri. Ya Tuhan, apa yang dia lakukan di sini? Jika orang itu menanyainya di hadapan klien-kliennya, jika orang itu datang kemari untuk menangkapnya, dia akan... dia akan membunuh orang itu, sehingga orang itu memiliki alasan yang nyata untuk memasang borgol di tangannya.
Namun, bukannya menyambar tangan Baekhyun dan memasang borgol, orang itu melewatinya, mendesak di lorong yang sempit sehingga Baekhyun harus mundur dan menghirup aroma tubuh yang khas, sesaat merasakan kehangatan. Lelaki itu berjongkok di samping anak lelaki kecil yang memekik, menyibakkan jasnya sehingga senjata api hitam berukuran besar terlihat bersama lencana yang terselip di sabuknya, lalu mengacak-acak rambut anak itu dengan tangannya yang besar. "Kelihatannya kau mengalami kecelakaan kecil."
Anak itu berhenti menjerit sesaat, teralih oleh lelaki besar yang tidak dia kenal. Dia melihat senjata dan lencana, matanya menjadi melotot. Dia terisak keras dan mengangguk. Ibunya menatap Chanyeol penuh penilaian, kemudian memutuskan secara kilat dan berdiri, memberi jalan. Dia hanya seorang ibu. Bagaimana mungkin dia berharap bisa bersaing dengan ketertarikan terhadapan senjata sungguhan dan lencana yang mengilap?
"Apakah itu sungguhan?" anak itu bertanya, menunjuk ke senjata api.
"Tentu saja. Lencananya juga."
"Anak nakal, anak nakal," anak itu mulai bernyanyi. Lumayan. Suaranya tidak sumbang, bahkan meskipun dia baru empat tahun. Bibirnya mulai bergetar dan air mata menggenangi matanya lagi.
"Kau datang untukku?" dia bertanya dengan nada memelas. Ibunya mengatupkan tangan di atas mulut, menahan diri agar tak tertawa keras.
"Tidak, aku datang hanya untuk anak nakal, dan sepenglihatanku, kau salah seorang anak baik." Chanyeol mengacak rambut anak itu lagi. "Dan berani. Kelihatannya keningmu akan benjol. Jika kau ingin bermain kasar, kau harus belajar cara melindungi diri."
"Tapi, bagaimana?"
Chanyeol berdiri, tetapi menyentuh pundak kecil anak itu.
"Coba kupikirkan." Kemudian, dia berbicara dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh semua orang. "Kulihat ada beberapa penggemar football di keluargamu."
Beberapa lelaki menyalak untuk mengiyakan. Anak itu mengangguk, dan bersama-sama, dia dan Chanyeol berjalan menuju altar, tempat setengah lusin pria berdiri, menunggu geladi resik dilanjutkan. "Aku yakin salah seorang dari mereka akan senang jika bisa membelikanmu helm yang ukurannya cocok denganmu, agar lain kali, jika terbentur, kepalamu akan terlindungi. Kau ingin jadi pemain football jika besar nanti?"
Anak lelaki itu mengangguk antusias.
"Yeah, aku bisa melihatnya," Chanyeol berkomentar. "Kau tangguh. Aku yakin kau bisa menjadi running-back, karena itu adalah posisi yang sulit."
"Quarterback!" anak itu membantah dengan keras kepala.
"Kau bercanda? Kau akan menjadi quarterback? Astaga, itu benar-benar tangguh. Kau jelas membutuhkn helm untuk itu."
Dada kecil si anak membusung penuh kebanggaan, air matanya menghilang, bibir bawahnya berhenti bergetar. Sesaat lalu, dia menjerit bagaikan kepalanya dikuliti, dan sesaat kemudian, semua beres.
Baekhyun tidak akan berterimakasih kepadanya. Ya, Chanyeol memberikan pengalihan perhatian saat dibutuhkan, tetapi bukan berarti sesuatu yang sangat buruk tidak akan terjadi.
Si pengantin pria berjanji akan membelikan anak itu helm football, dan berkata bahwa si anak boleh memakainya pada pernikahan besok malam. Itu sama sekali bukan bayangan Baekhyun tentang pernikahan yang elegan, tetapi itu bukan pernikahannya, itu pernikahan mereka. Jika mereka gembira, hanya itu yang penting. Dia akan menyediakan helm football bagi semua anak jika itu yang mereka inginkan.
"Ada masalah?" ibu sang pengantin wanita bertanya kepada Chanyeol dengan khawatir.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Saya teman Bryce."
Oh benarkah? Baekhyun merapatkan rahangnya lagi untuk menahan bantahan yang ingin meledak. Ibu si pengantin wanita memandang Baekhyun, kemudian Chanyeol, tersenyum tipis, kemudian meninggalkan mereka berdua.
Seluruh hadirin kembali memusatkan perhatian kepada kegiatan yang tertunda itu, geladi resik. Mereka sudah terlambat, karena terlalu banyak bersenang-senang, dan pasti tidak akan tiba tepat waktu di restoran sesuai reservasi jika tidak mempercepat langkah-langkah geladi resik.
Baekhyun maju sedikit, mengatur semua orang agar berbaris sesuai urutan yang tepat, lalu menentukan dimana mereka akan berdiri. Dia merasakan Chanyeol bergerak mendekatinya, berdiri di belakangnya bagaikan sebongkah batu. Baekhyun merasa gatal di tengah kedua tulang belikatnya, bagaikan Chanyeol mengeluarkan pistol dan menodongkan sejata itu ke tubuhnya. Mimpi buruk terbayang di depan kedua matanya. Akankah Chanyeol menanyainya di sini? Atau lebih buruk lagi, menahannya di depan para kliennya?
Namun, Chanyeol hanya berdiri di sana, diam dan tenang, menyaksikan geladi resik. Sang pendeta sudah mengambil alih acara mulai dari sekarang, jadi tak ada lagi yang harus Baekhyun lakukan selain hadir di sana, siapa tahu dia dibutuhkan. Anak-anak yang tadinya heboh telah duduk di bangku baris kedua, atas desakan ibu mereka, sambil berbisik-bisik dan mengayunkan kaki.
Akhirnya, Baekhyun tak tahan lagi. "Apa yang kau lakukan di sini?" dia berbisik, suaranya jelas terdengar tajam.
"Aku mendengar jeritan minta tolong dan terikat tugas untuk menyelidikinya. Melayani dan melindungi, itu alasannya."
Bukan itu maksud Baekhyun dan Chanyeol pasti mengetahuinya.
Chanyeol tidak mengeluarkan borgol atau buku catatannya, jadi Baekhyun agak relaks. Jika Chanyeol mengajukan pertanyaan lagi, sepertinya dia berniat menunggu geladi resik selesai, sehingga tidak akan mempermalukan Baekhyun. Jika Chanyeol datang untuk menangkap Baekhyun, dia tidak akan menunggu. Mungkin.
Sialan, dia tidak melakukan kesalahan apa-apa, Baekhyun berpikir dengan getir, tetapi dia tetap harus menanggung akibatnya! Ya, jika ada yang bertanya, dia memang harus berkata bahwa dunia lebih damai tanpa kehadiran Joy Parker, tapi bukan berarti dia seorang pembunuh. Dan saat ini, dia ingin sekali Joy kembali sebentar saja, agar dia bisa mengungkapkan isi pikirannya dan memberitahu Joy segala hal yang dia tahan selama berbulan-bulan panjang menghadapi perempuan itu.
Ketika geladi resik selesai, dia berjalan menjauhi Chanyeol tanpa menoleh ke belakang atau berbicara. Dia mengucapkan selamat tinggal kepada pengantin wanita dan ibunya, lalu mengingatkan semua orang, jam berapa mereka harus bertemu besok malam. Dia sudah memberikan alasan untuk melewatkan makan malam geladi resik, dan dari cara pengantin wanita dan teman-temannya menatap Chanyeol, mungkin mereka berpikir Chanyeol adalah alasan Baekhyun yang sebenarnya untuk tidak ikut makan malam.
Yang benar saja.
Saat para peserta geladi resik mulai pergi, Baekhyun menoleh dan melihat apakah Chanyeol masih berdiri di sana, memutar borgol bagaikan penjahat di film kartun Sabtu pagi. Chanyeol tidak ada di sana. Baekhyun merasa terkejut, memandang berkeliling, tetapi tidak melihat Chanyeol dimana-mana. Selama sesaat yang terasa tolol dan membingungkan, dia merasakan kelegaan sekaligus kekecewaan. Dia mengusir kekecewaan itu dan berkonsentrasi terhadap perasaan lega, tetapi tetap saja masih bertanya-tanya, mengapa Chanyeol datang kemari.
Baekhyun adalah orang yang terakhir pergi sebelum sang pendeta, yang mengunci pintu-pintu besar ruang kebaktian di belakang Baekhyun. Sang pendeta akan keluar lewat belakang, menuju mobilnya yang diparkir di sana, setelah memastikan gereja aman untuk malam itu. Baekhyun terdiam di anak tangga teratas, memandang berkeliling dengan cepat.
Masih ada beberapa mobil di lapangan parkir, yang lain baru saja keluar menuju jalan. Pasangan yang berbahagia itu sudah masuk ke truk pickup merah milik pengantin pria, yang penuh stiker dan bendera-bendera Bulldog. Tidak mengejutkan, Baekhyun berpikir. Tak jauh dari situ, ada Toyota milik salah seorang pengiring wanita. Dia memanfaatkan waktu sejenak untuk mengulas perona bibir, sementara pengiring lainnya duduk di kursi penumpang, berbicara riang. Mereka orang-orang yang bahagia, Baekhyun berpikir, dan orang-orang yang beruntung. Apa salahnya jika mereka memiliki obsesi berlebihan terhadap football? Dalam hidup mereka, itu bukan suatu masalah besar. Yang penting adalah mereka menikmati hidup, tidak menyakiti orang lain, dan besok mereka akan mengalami sebuah pesta besar yang sempurna.
Mobil sang pendeta juga masih ada di sana, tentu saja, juga Jaguar-nya—dan mobil Chanyeol terparkir tepat di sebelah mobil Baekhyun, tetapi orang-orang itu tidak ada di dalamnya. Tidak, Chanyeol bersandar ke Jaguar-nya, dengan sikap santai, bagaikan sudah ada di sana sejak pagi, setumpuk kertas tergulung di tangannya.
Baekhyun menarik napas dalam-dalam dan berjalan mendekati mobilnya, tulang punggungnya tegak, dan jantungnya berdebar. Dia ingin sekali mengusir, menabrak Chanyeol, serta mencurahkan seluruh frustasi dan amarah yang telah menguasainya sepanjang hari. Namun, tidak bisa. Lelaki itu bukan sekedar Park Chanyeol, pasangan hubungan cinta semalam yang menjadi kacau. Dia adalah Detektif Richard Wilder, dan menyerangnya mungkin akan mengirim Baekhyun ke penjara.
Pada kesempatan lain, kepuasan mungkin sepadan dengan risiko itu, tetapi tidak minggu ini. Jadwal Baekhyun terlalu padat.
Baekhyun berhenti di depan Chanyeol, menggenggam kunci mobilnya. "Ada pertanyaan tambahan untukku, Detektif?"
Chanyeol mendesah, mungkin karena Baekhyun memanggilnya "Detektif", atau mungkin dia lelah, seperti Baekhyun. "Ya, ada. Lelaki berambut kelabu yang kau lihat di gedung resepsi kemarin sore: Bisakah kau memberikan detail lagi tentangnya? Merek mobilnya? Apa pun?"
"Tidak," Baekhyun menjawab singkat. "Lelaki berambut kelabu, mobil perak. Hanya itu. Aku mengalami hari yang buruk dan pikiranku sedang kacau untuk mengamati orang-orang di lapangan parkir. Sungguh tidak berasalan untuk mengusikku saat aku bekerja, Detektif. Aku memiliki nomor teleponmu, dan jika aku mengingat sesuatu yang baru, aku akan menelepon dan memberitahumu."
"Aku tidak mengusikmu."
"Itu pendapatmu." Baekhyun mengguncang kunci mobilnya sebagai suatu isyarat, tetapi Chanyeol tak bergerak, tetap menghalanginya masuk ke mobil. Mungkin Chanyeol sengaja memilih posisi itu. Bukannya berusaha memaksa Chanyeol minggir—yeah, memangnya Baekhyun memiliki keberuntungan sebesar itu untuk mencobanya?—atau terlihat putus ada dengan membuka pintu penumpang dan melangkahi pembatas dengan serampangan, dia berdiri tegak.
Sialan. Saat menatap Chanyeol, dia tak tahan untuk memikirkan kembali malam itu, saat Chanyeol membuatnya merasa lebih baik dibandingkan perasaannya selama bertahun-tahun, saat Chanyeol membuatnya tertawa, membuatnya memekik, membuatnya melupakan apa pun selain menjadi seorang lelaki yang sempurna. Chanyeol adalah suatu pelampiasan semalam, pengalihan sesaat, tetapi saat ini, Baekhyun bersedia memberikan apa pun agar Chanyeol berkata, dia tahu Baekhyun tidak membunuh Joy atau orang lain, bahwa dia memercayai Baekhyun, dan ingin berjuang untuk Baekhyun.
Yeah, yang benar saja. Baekhyun membuang-buang waktu.
Setelah hening sesaat, Chanyeol berkata, "Aku membawa duplikat berkas yang kau minta."
"Oh."
Yah, lelaki sialan, berani-beraninya dia melakukan sesuatu yang manis untuk Baekhyun, saat Baekhyun murka kepadanya? "Oh" rasanya bukan jawaban yang cukup layak, sekarang Baekhyun harus berterima kasih kepadanya. Lagi.
"Terima kasih," Baekhyun berkata dengan kaku, menyambar gulungan kertas yang Chanyeol ulurkan kepadanya.
"Aku membutuhkan kehadiranmu besok untuk beberapa foto—"
Besok? Baekhyun sangat ngeri, memikirkan segala hal yang harus mereka kerjakan besok—besok adalah hari kerja mereka yang gila, paling sibuk, dan paling merepotkan—sehingga sesaat, pikirannya kosong, dan yang bisa dia dengar hanyalah semacam deru. Kemudian, dia merasakan mulutnya bergerak, dan yang keluar adalah: "Dengar, Studly Do-Right, tangkap aku saja, atau jangan ganggu aku!"
•
Chapter 17 : END
•
Original Story by Linda Howard
Veil of Night 2010
Re-Written by Becklypark
Copyright 2020 All Rights Reserved
︎
yah berantem ;-;
