Disclaimer : I'm not taking any profit for this fanfiction. This ff is only for self satisfactory.

Boku no Hero Academia by Kōhei Horikoshi

Until we meet again by cyancosmic

.

.

.

Enjoy!


Ask 20. Why he didn't see it before?

Bunyi langkah yang tak asing membuat beberapa orang yang lewat menoleh terlebih saat melihat penampakan dua hero papan atas agensi mereka. Yang berseragam biru dengan warna rambut berbeda tampak santai meski yang seorang lagi tak terlihat demikian. Apalagi saat pemuda berseragam yang didominasi warna hitam itu berteriak pada rekannya.

"Gara-gara serangan tanggung yang kau lancarkan, penjahat itu pun lolos." Ia berkata dengan gusar. "Seharusnya kau pensiun saja. Dasar tak berguna!"

"Menyalahkan orang lain karena diri sendiri tak berguna itu menunjukkan bahwa dirimu hanya orang bodoh banyak omong. Kau sendiri meloloskannya dengan seranganmu yang serampangan," balas lawan bicara yang berhasil membalasnya dengan kata-kata pedas yang serupa. "Seharusnya sebagai pro hero nomor satu kau tahu bahwa seranganmu bukan hanya untuk pamer saja!"

"Lihat siapa yang bicara!" Sang pro hero berseragam hitam oranye kembali berkata. "Kalau bukan karena serangan quirk api mu yang seolah memberi tanda pada musuh itu, tak mungkin sampah itu bisa kabur!"

Meski terlihat tenang, Shouto tetap takkan menyudahi pertukaran kata-kata dengan Katsuki begitu saja. Ia punya banyak argumen untuk menyanggah tuduhan sang hero yang tak masuk akal. Hanya sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, seseorang lebih dulu menepukkan kedua tangan. Membuat Shouto terpaksa menelan ucapannya dan menunggu.

"Sudah cukup, Shouto, Ground Zero!" Sang pro hero veteran dengan sayap kemerahan yang muncul tiba-tiba menengahi pertengkaran keduanya. Pro hero yang memakai sebutan 'Hawk' itu menggelengkan kepala saat menatap keduanya dan berkata, "Kalian tahu 'kan bahwa misi ini ditujukan untuk melatih kerja sama kalian? Semestinya kalian akur, bukannya bertengkar dan memancing keributan seperti ini."

"Kalau itu tujuanmu, berarti kau sudah membuang-buang waktuku," Shouto menjawabnya dengan sinis. Sambil menunjuk Katsuki ia berkata, "Tak ada yang dapat bekerjasama dengan Ground Zero. Itu faktanya!"

Menghela napas Hawk berpaling pada Katsuki dan ia berkata, "Apalagi kali ini, Ground Zero?"

"Hah? Kenapa bertanya padaku? Dia yang menghalangi seranganku dengan apinya sehingga penjahat itu lolos," jawab Ground Zero sembari balas menunjuk Shouto. Ia pun berpaling pada Hawk dan berkata, "Meskipun untuk satu hal aku setuju dengannya. Misi kali ini hanya membuang-buang waktuku!"

"Jangan berkata begi—"

"Lain kali," Ground Zero memotong ucapan Hawk, "aku tak butuh partner untuk menjalankan misi! Aku sendirian saja sudah cukup!"

"Kau itu," Hawk berkata sembari menggelengkan kepala, "kau tahu 'kan tujuanmu berada di agensi ini untuk melatih kerja sama dengan top hero kami berhubung kedua agensi kita beraliansi. Kalau kau terus seperti ini, apa bedanya dengan bekerja untuk agensimu sendiri? "

Memicingkan mata, Ground Zero terlihat tak tertarik menanggapi ucapan Hawk. Ia melewati pro hero veteran yang hanya dapat menghela napas itu. Meski sebelum ia benar-benar jauh, ia berbalik sedikit dan berkata, "Kalau begitu, bagaimana kalau kita hentikan saja aliansinya? Sedari awal juga aku tak pernah setuju untuk bergabung dengan kalian."

Hawk hendak kembali mengucapkan sesuatu, namun Katsuki telah berlalu dari hadapannya. Ia tak lagi mendengarkan ucapan sang pro hero yang ditugaskan sebagai mentor pengganti baginya dan Shouto itu. Bagaimanapun juga ia hanya mengatakan fakta. Fakta bahwa lebih baik baginya untuk bekerja sendirian dibanding dipasangkan dengan rekan yang lain. Ia sudah tahu, tak ada yang sanggup bertahan dengan temperamennya yang ajaib terlebih bila ia dalam suasana hati yang jelek. Seperti saat ini.

Bila sudah begini, semua hal akan mudah mengundang amarahnya. Loker yang kuncinya sulit diputar, shower yang air panasnya kurang hangat, atau pun jejak air yang berceceran setelah ia mandi pun akan terasa menjengkelkan. Belum lagi ditambah kenyataan bahwa ketika ia kembali ke mejanya, ia tak menemukan orang yang seharusnya ada di sana.

"Di mana bocah sialan itu?" Katsuki kembali berkata dengan jengkel. Ia berputar di sekitar meja, memundurkan kursinya dan berharap menemukan orang yang ia cari di bawah meja. Namun tetap tak ada apapun di sana. Meja dan kursinya tetap saja kosong.

Tangannya mengepal erat. Tidak punya pilihan, ia menarik ponsel dan menyentuh layarnya. Ditekannya satu angka pada layar yang langsung menghubungkannya dengan kontak yang ia butuhkan. Tak berapa lama, nada dering pun terdengar sementara ia menunggu.

Ia tahu meski ia mencoba menelepon pun bocah itu mungkin takkan mengangkat. Hubungan keduanya saat ini benar-benar mendingin. Sejak ia memakinya dan mengatakan padanya untuk tak berbuat apapun, Deku hampir tak bicara dengannya. Baik itu di rumah maupun di kantor, Katsuki benar-benar diabaikan. Bila Katsuki bertanya, ia akan menjawab. Tapi untuk hal-hal lain, Deku sama sekali bungkam. Bocah itu belum mau memaafkannya.

Mendecih, ia pun mencoba kembali menghubungi ponsel anak itu ketika ia menyadari ada bunyi getaran tak jauh darinya. Memasang telinga, Katsuki pun mendengarkan. Sepertinya bunyi ini berasal dari meja kerjanya.

Di atas meja ia tak menemukan apa pun. Namun begitu ia menarik laci, di tumpukan paling atas ia menemukan ponsel dengan nomor kontaknya tertera di layar. Ia pun langsung mematikan sambungan dan mengambil ponsel tersebut. Kejengkelannya menguap dan ia menundukkan kepala sambil terdiam.

Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya lebih erat. Terus terang, hal ini membuatnya frustasi. Ia belum pernah mengalami yang seperti ini sebelumnya. Sewaktu menjadi Deku kecil, umpatan atau makian Katsuki tak pernah membuatnya menjauh. Hanya saja setelah menjadi lebih besar, semua itu malah semakin menjauhkannya dengan Deku. Seolah-olah Deku tak memahaminya, padahal sewaktu ia kecil betapa mudahnya anak itu untuk menempel padanya.

Sembari memasukkan benda itu ke dalam kantungnya, Katsuki pun mulai berjalan. Ditinggalkannya meja kerjanya berhubung ia tahu ia takkan menemukan Deku di sana. Anak itu biasanya selalu berada di perpustakaan pada jam segini, 'tenggelam di balik buku' baik dalam arti kiasan maupun harfiah.

Ia pun berputar dan melangkahkan kakinya ke arah lift. Agar lebih cepat menuju perpustakaan yang terletak di bawah, ia memutuskan untuk menggunakan lift. Ditekannya tombol dengan angkat tujuh di dalam dan menunggu beberapa saat sementara lift membawanya turun. Tak lama kemudian, lift pun terbuka dan ia keluar.

Keseluruhan lantai tujuh terdiri dari perpustakaan dan tempat duduk untuk membaca. Banyak pro hero maupun staf biasa yang masih hilir mudik pada jam seperti ini. Bahkan kedai kopi yang ada di dalam perpustakaan masih buka untuk melayani pengunjung. Ia pun melangkah melewati gerbang dan menempelkan id card nya di sana sementara matanya mulai mencari-cari di antara rak yang dipenuhi buku.

Sekali kakinya memutari satu lantai tanpa menemukan sosok yang ia cari. Menghela napas, Katsuki mulai memutari untuk kedua kalinya ketika ia memicingkan mata. Perpustakaan di lantai tujuh juga memiliki akses langsung ke roof garden, tempat setiap orang bisa membaca buku sembari menikmati udara luar. Sebelumnya ia tidak terpikir untuk mencari ke sana karena ia selalu menemukan Deku di dalam. Hanya berhubung ia tidak menemukannya di sini, maka ia pun memutuskan untuk mencari ke luar ruangan.

Didorongnya pintu kaca yang membatasi ruang dalam dan luar. Melangkah keluar, kakinya menginjak papan bernuansa kayu sementara di kiri kanannya semak tanaman yang tak terlalu tinggi membatasi jalan. Matanya mencari-cari di antara bangku-bangku taman yang terbuat dari papan kayu. Meski sudah tak banyak pengunjung yang duduk, tetap saja tak mudah baginya untuk menemukan sosok yang ia cari. Ia nyaris saja memutuskan untuk kembali ke dalam, ketika melihat rambut hijau yang nyaris tersamarkan di balik tanaman. Ia pun sudah hendak menghampiri saat menyadari bahwa sosok itu tak hanya duduk seorang diri di sana.

Duduk berhadapan dengan pagar pembatas, anak remaja berambut hijau yang dicari Katsuki diam di sana bersama dengan pria yang tubuhnya tiga kali lipat dirinya. Pria berambut merah rancung yang tengah mengenakan kemeja berwarna hitam itu tampak sangat berbeda tanpa api yang menyala-nyala di alis juga janggutnya. Meski tampak heran, Katsuki menyimpan sendiri keingintahuannya dan baru saja beranjak mendekat ketika ia mendengar salah seorang dari mereka bicara.

"—jadi karena itu," pria yang lebih besar itu berkata. "Pantas saja akhir-akhir ini Ground Zero semakin eksplosif."

Mengangguk, anak itu berkata, "Ia kerepotan mengurusku. Terlebih saat ini aku menjadi beban baginya."

Menoleh menatap lawan bicara, pria yang lebih besar itu berkata, "Aku heran bagaimana bisa kau menyimpulkan seperti itu. Kudengar dari Eraser Head, dia sendiri yang mengajukan diri untuk mengurusmu waktu itu."

Itu memang betul. Deku sendiri tahu itu. Hanya saja ia berkata, "Tapi, mengurusku waktu kecil tidak sama dengan sekarang, Endeavor-san. Mungkin sekarang ia menyesal karena aku tiba-tiba bertumbuh begitu saja tapi tetap merepotkan."

Pria yang dipanggil Endeavor itu menggerakkan kepalanya sedikit. Mengalihkan pandangan dari remaja mungil di sampingnya, ia pun berkata, "Aneh sekali. Aku tidak melihatnya seperti itu."

"Kau hanya tidak mengenalnya, Endeavor-san."

Menggelengkan kepala, pria yang lebih tua itu berkata, "Tidak juga. Tidak perlu mengenalnya juga aku bisa melihatnya. Itu sangat gamblang. Mungkin hanya kau yang tak bisa melihatnya. Kau dan Shouto sangat mirip. Kalian berdua terlalu keras kepala."

Deku menoleh. Ekspresi herannya ditunjukkan terang-terangan pada pria yang jauh lebih tua darinya itu. Padanya ia berkata, "Keras kepala?"

Mengangguk, Endeavor pun berkata, "Shouto juga sama. Semua pelatihan yang kutujukan untuknya dianggapnya bahwa aku hendak menggunakannya sebagai senjata terkuat. Ia melihat ambisiku untuk menjadi nomor satu mengalahkan Allmight dan mengira bahwa aku tengah menggunakannya untuk mencapai tujuan itu."

Dahinya semakin berkerut. Deku memang tahu bahwa Shouto tampak tidak menyukai sang ayah. Tapi ia tak pernah tahu asal usulnya. Baru setelah sang ayah sendiri yang menceritakan akhirnya ia mengerti. Sedikit penasaran, ia pun berkata, "Apakah bukan?"

Mengangkat bahu, Endeavor pun berkata, "Tidak sepenuhnya salah. Aku tidak akan menyangkal itu. Ia yang sedari lahir dianugerahi quirk yang luar biasa membuatku terbutakan oleh ambisi dan memaksanya untuk berlatih hingga batas kekuatannya."

"Kau juga sama saja, Endeavor-san," ujar Deku.

"Ya, tapi aku tidak bisa menyesal," lanjut Endeavor lagi. "Semua yang kuajarkan padanya adalah demi kebaikannya. Shouto harus dapat melindungi dirinya sendiri. Aku tak bisa selamanya melindunginya. Meskipun itu berarti membuatku dibenci olehnya."

Ucapannya membuat Deku mengerjap. Ia menatap Endeavor lama sebelum akhirnya ia berpaling. "Seharusnya kau mengatakan itu padanya, Endeavor-san. Shouto takkan membencimu kalau kau mengatakan yang sebenarnya."

"Tidak juga," jawab Endeavor sembari tersenyum kecut. "Sulit mengubah pikirannya bila anak itu sudah memutuskan sesuatu."

Diam-diam, Deku setuju dengan ucapannya. Meski baru mengenal Shouto selama beberapa minggu, ia tahu bahwa di balik sikap tenang dan tidak mudah terpancing yang ditunjukkannya, Shouto amatlah keras kepala. Deku sudah pernah melihatnya saat pemuda itu menyerang Stain, tak peduli meski Deku sudah menjelaskan bahwa Stain tidak berniat melukainya.

"Tapi sepertinya ajaranku berbeda dengan Ground Zero," ucap Endeavor tiba-tiba. "Bila aku memaksa Shouto agar ia dapat melindungi dirinya sendiri, maka Ground Zero sebaliknya."

Deku kembali menoleh. Sekali lagi ia mengernyit mendengar perkataan sang pro hero legendaris. "Apa maksudmu, Endeavor-san?"

"Sebagai orang tua, tentu kau ingin agar anakmu dapat mandiri," ujar Endeavor sembari melipat kedua tangannya. "Tapi Ground Zero tidak seperti itu. Ia tidak mendidikmu agar kau dapat mandiri. Justru sebaliknya."

"Aku tidak menger—"

"Ia justru ingin agar kau bergantung padanya," tegas Endeavor sebelum Deku sempat bertanya. "Daripada sebagai orang tua, ia lebih tepat disebut sebagai—" Endeavor menahan lidahnya ketika netra hijau diarahkan padanya, menggeleng, ia pun kembali berkata, "— tidak, mungkin aku salah."

"Itu mustahil, Endeavor-san," Deku tertawa mendengarnya. "Katsuki selalu mengomel dan mengataiku quirkless. Mungkin akan lebih baik bila aku pergi agar Katsuki tak lagi kerepotan."

Hampir tanpa dipikir Endeavor langsung berkata, "Jangan lakukan itu!"

"Kenapa?" Deku kembali menyanggah. "Bukannya dengan begitu Katsuki takkan terbeban lagi olehku?"

Dalam hati Endeavor sudah tahu jawabannya. Memisahkan bocah ini dari Ground Zero hanya akan berarti satu hal, musibah, dan ia tak ingin hal itu terjadi terlebih ketika ia tengah bertanggung jawab akan hero yang satu itu. Aliansi mereka bisa hancur berantakan kalau sang hero tidak berada dalam keadaan mental yang stabil.

Hanya saja, Deku juga tak bisa diyakinkan, terlebih olehnya yang memang hanya orang luar dalam dunia bocah ini. Sama seperti Shouto yang keras kepala, bocah ini pun punya pemahamannya sendiri. Karena itulah akhirnya ia menghela napas dan menatap remaja tanggung asuhan Ground Zero.

"Kalau memang kau sudah berpikir begitu, aku punya usul untukmu," ujar Endeavor akhirnya. "Daripada kau pergi tak tentu arah, bagaimana kalau kau menginap sementara di tempat kenalanmu?"

Menundukkan kepala, Deku kembali berkata, "Aku tidak punya kenalan."

Memutar bola matanya sedikit, Endeavor pun berkata, "Di tempatku juga boleh."

Menoleh, Deku sedikit terkejut mendengar tawaran itu.

"Tanganmu juga hampir sembuh 'kan?" Endeavor menggerakkan kepalanya menunjuk leher Deku. "Lagipula Shouto pun tampaknya tidak keberatan denganmu."

"T-tapi itu sama saja artinya dengan merepotkan Shouto dan Endeavor-san," ujar Deku dengan suara yang mencicit. "Aku tidak ingin merepotkan orang lain."

"Hanya menginap beberapa hari hingga pikiranmu lebih tenang takkan merepotkan," jawab Endeavor. Teringat sesuatu, ia berkata, "Tapi mungkin kau harus minta persetujuan walimu. Kalau ia tak mengizinkan, aku pun takkan memaksa."

Deku menunduk sedikit. Ia tak tahu apakah Katsuki akan mengizinkannya menginap atau tidak. Tapi pindah ke tempat lain karena di satu tempat ia dianggap merepotkan bukanlah solusi. Ia tak ingin merepotkan orang lain, tapi ke mana pun ia pergi, sepertinya ia akan selalu membebani mereka.

Melihat keraguan di wajah Deku, Endeavor pun menghela napas. Ia mengangkat tubuhnya dan bangkit berdiri. Sembari menepukkan satu tangannya di bahu anak remaja di sampingnya, ia pun berkata, "Sepertinya Ground Zero pun takkan mengizinkannya. Sebaiknya lupakan saja ucapan—"

Perkataannya terhenti ketika ia menyadari pandangan menusuk yang tertuju padanya. Menoleh, ia pun menemukan pemuda yang tengah mereka bicarakan berdiri tak jauh dari tempatnya berbicara dengan Deku. Ketika pandangan mereka bertemu, pemuda itu pun menurunkan tangannya dan berjalan mendekat.

"Kau sudah kembali rupanya, Ground Zero," ujar Endeavor ketika melihat Katsuki menghampiri. Penampilan sang hero saat itu sudah berganti dari seragam kerjanya menjadi baju sehari-hari dengan tas menyamping di depan dada. Ia pun menyadari bahwa saat ini sang hero sudah selesai bertugas dan karena itu ia berkata, "Sudah mau pulang? Kalau begitu, aku permisi dulu."

Mendengar ucapan Endeavor, Deku pun menoleh. Netra hijaunya bertemu dengan netra kemerahan yang berkilau diterangi mentari sore. Ia mengernyit sedikit saat itu. Mungkin ia salah, tapi netra merah itu terlihat sedikit berkilau. Walau kilaunya lebih terlihat memilukan dibanding memesona.

Seperti biasa, Katsuki langsung menghampirinya sementara Deku berpaling. Hanya ia salah bila ia mengira bahwa Katsuki akan mengajaknya pulang. Pemuda itu justru mengambil satu tangannya dan menyerahkan ponsel yang sebelumnya ia tinggalkan di laci. Baru setelahnya pemuda itu berkata, "Kau meninggalkannya tadi."

Deku menggumamkan terima kasih pelan padanya. Ia mengangkat kepalanya dan menunggu hingga Katsuki kembali bersuara. Tapi pemuda itu tak berkata apa pun. Malah pemuda itu langsung mundur dan berbalik hingga Deku menggerakkan kepala bingung.

"Ah," ucap pemuda itu saat melewati Endeavor, "apa ada orang kalau aku mengirimkan bajunya?"

"Apa?"

"Bajunya," ujar Katsuki sambil menunjuk Deku. "Bukannya kau mengizinkannya untuk menginap di tempatmu, Orang Tua?"

Alis Endeavor terangkat. Ia tak menyangka bahwa pemuda itu sudah mendengarnya. "Memang. Tapi kukira kau takkan mengizinkan."

Tanpa menjawab, Katsuki berbalik. Sebelum ia meninggalkan Endeavor, ia berkata, "Jam tujuh. Aku akan mengantarkannya nanti."


Kediaman keluarga Todoroki memang sudah sangat terkenal dengan kemegahan tanpa mengabaikan unsur lokalitas di dalamnya. Rumah yang bernuansa Jepang tradisional itu didirikan di atas tanah seluas satu hektar atau lebih dengan sistem keamanan yang mutakhir. Interior di dalamnya pun sama tradisionalnya seperti bagian luarnya. Pemandangan pintu geser, tatami juga balok kayu yang diukir hingga sedemikian rupa sudah menjadi hal yang lumrah di sana. Benar-benar tempat yang luas meski hanya beberapa orang keluarga inti yang tinggal di dalamnya.

Selain Shouto, hanya ada kakak perempuannya saja yang sehari-hari menempati rumah itu di samping para pelayan. Meski seharusnya Shouto memiliki kedua kakak laki-laki, saat ini keduanya sudah meninggalkan rumah sehingga hanya mereka bertiga saja yang tersisa.

Kehadiran Deku pun tak menambah keramaian di dalam rumah. Meski ia menempati salah satu kamar milik kakak Shouto, tetap saja ia tak berada di rumah itu terus menerus. Lebih sering ia mengikuti Shouto pergi ke sana kemari dibanding berdiam diri di dalam rumah. Walaupun demikian bukan berarti ia tak akrab dengan anggota keluarga yang lain.

Kakak perempuan Shouto, Fuyumi, terkadang mengajaknya berbelanja atau sekedar membantunya menyiapkan makan malam. Fuyumi-neesan pintar memasak dan Mapo Tofu buatannya sangat lezat. Ia mengajarkan Deku cara membuatnya dan meski sedikit kesulitan, pada akhirnya ia berhasil. Mungkin suatu saat nanti ia bisa mempraktekkannya sendiri.

Ia pun tak kesulitan berbicara dengan Todoroki yang lebih senior. Sesekali Shouto melihat ayahnya dan Deku tengah mengobrol meski ia tak yakin apa yang keduanya tengah bicarakan. Meski sedikit heran, Shouto tak berniat menginterupsi. Seringkali ia meninggalkan keduanya larut dalam pembicaraan serius dan baru menyudahi bila sudah lewat waktu tidur malam untuk anak itu.

Meski sehari-harinya ia tampak akrab dan ceria, Shouto tahu bahwa sebenarnya anak itu merindukan walinya. Lebih dari sekali Shouto melihat anak itu memandangi ponsel. Ketika Shouto menanyakan apa yang dilihatnya, anak itu buru-buru memasukkannya dan mengatakan bahwa tidak ada yang penting.

Sekali dua kali, mungkin Shouto akan mengabaikannya. Hanya begitu ia melihatnya untuk kesekian kali, Shouto pun angkat bicara. Tanpa basa-basi ia pun bertanya, "Kau merindukan Bakugou, Deku?"

Deku memandanginya sebelum mengalihkan pandangan. Bungkam tanpa menjawab.

Menyadari bahwa Deku takkan menjawab membuat Shouto menanyakan yang lain. Ia pun berkata, "Kau mau pulang?"

Kali ini Deku menggelengkan kepala. Dengan dahi berkerut ia menjawab, "Katsuki akan kerepotan, kalau aku di sana."

Menghela napas, Shouto pun tidak lagi bertanya.

Deku satu hal, tapi walinya adalah hal lain. Hampir selama seminggu Deku menginap di tempatnya namun tak ada pesan masuk atau apapun dari walinya yang menanyakan kabar. Shouto pun mulai berpikir jangan-jangan selama ini Bakugou Katsuki memang menganggap Deku sebagai beban. Padahal sebelumnya, sejam sekali pemuda itu akan menanyakan kabar tentang Deku. Tapi sekarang pemuda itu malah tak melakukan apa pun, seolah sosoknya hilang ditelan bumi.

Ketika ia menyampaikan itu pada Hawk yang merupakan mentor mereka, pro hero veteran itu hanya tertawa. Sang pro hero menjawab tentu saja Katsuki tak bisa meneror mereka berhubung saat ini Hawk tengah mengirimnya untuk menjalani misi. Shouto menyanggah tentu saja. Baginya sesibuk apapun Bakugou Katsuki dalam misi, tak mungkin ia sampai tak menghubungi atau mencari Deku hingga selama ini. Ini benar-benar janggal.

Hawk hanya mengangkat bahu mendengarnya. Ia menjelaskan bahwa kasus yang ditangani Ground Zero saat ini merupakan kasus sulit, yakni kasus transfer quirk secara ilegal. Kebanyakan korbannya merupakan orang-orang yang menginginkan quirk yang flashy. Setelah menjanjikan quirks hebat dengan mengeruk sejumlah keuntungan tanpa memikirkan akibatnya, pihak-pihak ini pun menghilang. Itu sebabnya Katsuki memutuskan untuk menyelidikinya sendiri.

Shouto terkejut mendengar Katsuki mengambil alih kasus tersebut. Kasus itu menyita perhatian beberapa pihak karena para penjahatnya memiliki stok quirk yang sangat berbahaya. Mendatangi mereka ke sarangnya sama saja dengan bunuh diri, terlebih kalau dilakukan seorang diri.

"Oh, dia tak seorang diri," jawab Hawks saat Shouto mengutarakan pendapatnya. "Ia bersama dengan Eraser Head, tentu saja. Bersama dengannya juga Monoma Neito dan Hitoshi Shinsou. Jadi seharusnya ia baik-baik saja."

Eraser Head mungkin memang tepat ikut serta dalam misi ini. Tapi ia memutar bola matanya saat mendengar nama Monoma Neito maupun Hitoshi Shinsou. Ground Zero sangat tidak cocok dengan mereka. Samar-samar Shouto mencium bau kegagalan di sana.

Meski demikian, Shouto memutuskan untuk tak berpikir negatif. Tak ada yang ingin mendoakan kegagalan terlebih bagi hero yang sedang berjuang di tengah misi. Kegagalan bisa berarti kehilangan nyawa dan Shouto tak ingin hal itu terjadi. Ia tetap mendoakan keberhasilan mereka, sekalipun saat mendengar berita di televisi malam itu, mau tidak mau ia jadi berpikir sebaliknya.

Berita yang tengah ditayangkan saat mereka tengah duduk di ruang keluarga awalnya tak mendapat perhatian. Paling tidak hingga sang pembawa berita menyampaikan bahwa kasus ilegal quirks yang selama ini terjadi telah ditangani oleh sekelompok hero. Ia mengabarkan bahwa hero yang bersangkutan berhasil menyelesaikannya hanya ia juga menyampaikan bahwa sang hero tengah mendapat perawatan darurat dari rumah sakit terdekat.

Mendengar itu, Shouto pun langsung pucat. Sikapnya membuat sang kakak dan Deku menanyainya. Mulutnya terbuka meski tak ada kata-kata yang keluar sehingga sang ayah terpaksa menggantikannya bicara.

"Sepertinya, misi yang diambil Ground Zero lebih berbahaya dibanding yang kita duga," ujar Todoroki senior sembari melipat kedua tangannya. Menoleh pada Shouto, sang ayah berkata, "Bagaimana kalau kau tanyakan pada Hawk bagaimana kondisinya, Shouto?"

Suara ayahnya membuat Shouto kembali sadar. Ia baru saja meraih ponselnya dan akan menghubungi Hawk ketika suara yang polos menahannya. Netra hijau dihadapkan padanya dan pemiliknya berkata, "Misi yang diambil Katsuki?"

Tanpa banyak bicara, Shouto mengangguk. "Ya, Deku. Bakugou mengambil misi ini bersama dengan Eraser Head dan yang lain."

"Katsuki... mengambil misi...," ulang Deku sekali lagi. "Katsuki?"

Sekali lagi Shouto mengangguk, membuat Deku terhenyak. Tangannya gemetar. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Pikirannya kosong dan meskipun Shouto mencoba mengajaknya bicara, Deku tetap diam.

Menyerah, Shouto akhirnya mencoba menelepon Hawks seperti perkataan sang ayah. Setelah mencoba menelepon beberapa kali, barulah sang pro hero menjawab. Hanya saja bukan nada ceria yang Shouto dengar saat sang hero mengangkat telepon. Justru nadanya yang tergesa-gesa membuat firasat Shouto semakin tidak enak.

"Aku sedang menyetir, Shouto, nanti saja," jawab Hawks saat itu, "kututup dahulu."

Meski Shouto hendak menyindir bahwa hero yang satu itu akan lebih cepat sampai dengan terbang, ia menahan lidahnya. Mengesampingkan sindirannya, ia pun berkata, "Ground Zero. Bagaimana kondisinya, Hawks? Apa yang terjadi?"

"Justru itu, aku tidak tahu," balas Hawks dengan gusar. "Rumah sakit di sana menghubungiku dan mereka bilang hero yang kuutus mengalami kecelakaan. Aku sedang menuju ke sana."

Tak membuang waktu Shouto pun langsung menanyai di mana rumah sakitnya sebelum pria itu memutuskan sambungan. Begitu mendapatkan sebuah nama, Shouto pun langsung mencari alamat dan memutuskan untuk mengambil kunci mobil. Walaupun demikian, sebelum ia beranjak sang ayah kembali memanggilnya hingga ia menoleh.

"Kalau kau mau ke rumah sakit, ajak juga anak ini," ujar sang ayah sambil menunjuk Deku. "Mungkin ia dibutuhkan di sana."

Shouto mengerutkan dahi. Ia justru khawatir bila mengajak Deku ke sana. Kalau-kalau Bakugou Katsuki mengalami cedera serius, anak ini pun takkan bisa berbuat apa-apa. Malah ia takut anak ini akan mengambil tindakan ekstrim karena mengetahui walinya terluka. Ketiadaan Bakugou Katsuki selama beberapa hari saja membuat anak itu sedih, lalu apa yang akan terjadi bila ternyata pemuda itu tak dapat membuka matanya lagi?

Hanya ia tak dapat mengatakan apa pun saat anak itu bangkit berdiri. Melangkahkan kaki melewati sang ayah dan kakaknya, anak itu mengikuti Shouto. Ia menyentuh ujung baju Shouto dan berkata, "Aku ikut, Shouto."

Tak punya pilihan, Shouto pun akhirnya membawanya. Mereka berkendara selama dua jam lebih sebelum akhirnya tiba di rumah sakit yang disebutkan Hawks. Ketika sampai, ia langsung bertanya pada resepsionis kamar Bakugou Katsuki. Untungnya resepsionis di sana mengenalnya dan mengetahui reputasinya sebagai putra Endeavor. Berkat itu, dengan mudah ia mendapatkan nomor kamar, tempat pemuda itu dirawat dan tergesa-gesa menghampirinya.

Sesampainya di lantai yang khusus dipergunakan bagi orang-orang dengan privasi tinggi, Shouto pun segera bergegas. Ia menemukan nomor kamar setelah mengikuti petunjuk yang diberikan oleh perawat yang bekerja di sana. Hanya saja, remaja tanggung di sampingnya jauh lebih cepat. Bahkan anak itu membuka pintu lebih dulu tanpa sempat mengetuknya.

"Sudah kubilang, aku harus pulang!" Ia mendengar seseorang berkata. "Ini sudah satu minggu lebih, aku harus menjemputnya. Kalau tidak, ia akan mengira aku benar-benar menganggapnya merepotkan."

"Untuk kebaikanmu, sebaiknya kau turuti nasehat Recovery Girl," ujar suara lain yang terdengar lelah. "Atau kalau tidak, aku terpaksa meminta bantuan Control. Pastinya ia akan dengan senang hati melakukannya."

Suara lain, tertawa mendengar percakapan keduanya. Bukannya membantu orang itu berkata, "Biarkan saja, Eraser Head! Biar saja dia mati karena kehabisan darah. Dengan begitu, nomor satu akan kosong."

"Bagaimana kalian bisa bekerja sama sebelumnya?" Suara lain yang berada di dalam ruangan berkata. Meski sayapnya yang besar membuat pandangan Katsuki terhalang dari pintu, "Ngomong-ngomong Ground Zero, cedera di kepalamu itu tidak ringan. Recovery Girl bilang padaku bahwa ia masih perlu memantaumu selama beberapa hari. Untuk memastikan tidak ada kerusakan dan sebagainya."

"Aku lebih memahami kondisi tubuhku dibanding Nenek Tua itu," ujar Katsuki keras kepala. "Aku harus segera pergi, aku harus segera—"

Ucapannya dipotong oleh Eraser Head dengan berkata, "Kalau kau tahu bahwa kau harus segera menjemput anak itu seharusnya kau pikirkan dulu aksimu sebelumnya. Merangsek masuk ke markas musuh dari depan jelas bukan ide yang bagus!"

Pemuda yang dipanggil Bakugou kembali bicara. "Kalau mengikuti caramu, ini akan berlangsung lama. Kalau lebih lama lagi aku meninggalkannya—", sesaat ia bungkam, sebelum kembali melanjutkan, "pokoknya aku tidak akan mengikuti caramu yang berbelit-belit."

"Aku lebih suka menyebutnya 'hati-hati'," jawab Eraser Head. Ia baru saja hendak berpaling pada Control yang tak banyak bicara ketika pandangannya bertemu dengan netra kehijauan yang tak asing. Mengerjap sedikit, pro hero veteran yang dikenal sebagai underground hero itu pun memaksakan seulas senyum di wajahnya sebelum berkata, "Berisik ,ya di sini? Harap maklum ya, Deku!"

Mendengar kata itu, pemuda yang sebelumnya terbaring di ranjang pun mengikuti arah pandangan Aizawa. Saat itulah irisnya yang kemerahan bertemu dengan remaja tanggung yang dicarinya. Ia hendak mengucapkan sesuatu, namun tak ada kata yang keluar.

"Aizawa-san," ucap Shouto sebelum mengedarkan pandangannya ke sekeliling, "Hawks, Control, Monoma Neito dan—" Shouto menghela napas melihatnya, "Bakugou."

Terdengar decihan pelan yang diabaikan Shouto. Ia melangkah kembali ke dalam dan berbicara pada Eraser Head, "Apa yang terjadi, Aizawa-san? Bakugou terluka?"

"Kepalanya," jawab pria yang lebih tua itu sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya. "Meski dari awal sudah ada masalah di sana."

Shouto mengabaikan sindiran itu dan kembali berjalan ke dalam. Ia menepuk bahu Deku yang sedari tadi tak bergerak. Berpaling pada Aizawa, ia pun berkata, "Apakah parah?"

"Lumayan," jawab Aizawa sambil menggerakkan kepala, "setidaknya dia harus istirahat di rumah sakit selama dua atau tiga hari hingga hasilnya keluar. Ia sempat tak sadar selama beberapa jam sebelumnya. Kalau bukan karena kecupan Nenek Chiyo, mungkin ia takkan seenerjik ini."

Menghela napas, Shouto kembali menatap pada partner sementaranya itu. Setidaknya ia merasa lega bahwa orang yang selama ini menguji kesabarannya masih hidup. Meskipun itu berarti penderitaannya sebagai partner orang itu tak akan segera berakhir.

Sepertinya ekspresi jengkelnya mencapai Katsuki, sehingga walaupun ia tak bicara, ia sukses membuat pemuda itu mendengus padanya. Hanya saja Shouto tak mau ambil pusing. Pandangannya tertuju pada anak yang dititipkan di tempatnya selama seminggu. Saat ini, anak itu bahkan tak memerhatikan sekelilingnya. Perhatiannya hanya tertuju pada satu orang. Meski kakinya tertambat di tempatnya dan tak dapat bergerak.

Menyadari situasi, Control akhirnya bangkit berdiri dari sofa yang ia tempati. Berjalan melewati ranjang Katsuki menuju ke pintu. Sebelum ia meninggalkan ruangan, ia pun berkata, "Aku permisi dulu. Sudah tidak ada urusan di sini."

"Ah, aku juga!" Neito dengan cepat mengikutinya. "Tunggu aku, Hitoshi!"

Melihat kedua badai itu pergi, Aizawa menghela napas. Ia pun berkata bahwa ia masih harus membuat laporan. Namun sebelum pergi, ia memberikan satu ancaman pada Katsuki untuk tidak meninggalkan tempat. Ia tahu ancamannya akan diabaikan, makanya ia menyentuh pundak Deku dan berkata, "Aku titipkan Bakugou padamu, Deku! Tolong jaga dia!"

Tanpa menunggu komentar Deku, Aizawa pun melenggang pergi. Ia mengabaikan umpatan di belakangnya dan menutup pintu.

"Aku juga permisi dulu kalau begitu," ujar Shouto. Ia juga berkata pada Deku bahwa ia akan mengambilkan barang-barangnya sebelum pergi dan meninggalkan ruangan. Bersamanya, Hawks yang mengatakan hendak mengurus administrasi pun mengikuti. Kini ruangan yang sebelumnya ramai pun mulai kosong dan hanya menyisakan mereka berdua.

Selama beberapa saat lamanya mereka hanya terdiam satu sama lain. Tidak ada yang bergerak. Deku menundukkan kepala sementara jemarinya memainkan ujung kausnya.

"Hei," panggil Katsuki akhirnya.

Ia mengangkat kepala dan sekali lagi pandangannya bertemu dengan netra merah yang dirindukannya. Menatap wajahnya, ia bisa melihat perban yang melingkari rambut pirang pemuda itu. Tangannya mencengkeram ujung bajunya lebih erat sementara manik hijaunya mulai terasa pedih.

"Mungkin bagimu ini hanya alasan," ujar Katsuki akhirnya, "tapi, aku benar-benar tidak bisa menghubungimu."

Deku menggerakkan kepala. Bingung dengan percakapan tiba-tiba ini.

"Aku—," Katsuki kembali berkata sembari menundukkan kepala. Tangannya terkepal. "Mungkin aku kekanakan dan aku minta maaf. Hanya— ," Katsuki lagi-lagi menghentikan ucapannya sebelum kembali berkata, "—hanya kau harus tahu bahwa aku tidak pernah menganggapmu sebagai beban. Kau—"

Sebelum Katsuki dapat menyelesaikan ucapannya, remaja di hadapannya berkata, "Kenapa Katsuki yang minta maaf?"

Mengangkat kepalanya Katsuki kembali berkata, "Karena aku seharusnya tak bilang begitu. Aku— tidak tahu kenapa aku mengucapkannya."

Menggeleng, anak itu kembali berkata, "Katsuki tidak salah."

"Ng?"

"Aku yang salah," ujar anak itu dengan airmata yang akhirnya menetes jatuh saat anak itu mengerjap. "Aku yang sudah seenaknya..."

"Tidak, itu..."

"..."

Katsuki tak dapat mendengarnya. Mengernyitkan dahi, ia berusaha menangkap perkataan anak itu.

"M...a..gap," ucap suara itu, hampir serupa bisikan. Airmata membuatnya semakin tidak jelas terdengar namun Katsuki paham apa yang ia katakan. Di balik airmata yang mengalir, di balik tangan yang berusaha menghapus air mata yang jatuh, Katsuki mendengarnya. "Ma...gap... Hat...huki..."

Ucapannya membuat Katsuki bungkam. Isak tangisnya terdengar sementara sang hero menatapnya dalam diam. Hingga akhirnya ia tak tahan lagi.

"Deku..."

Deku menatapnya dan untuk sesaat wajahnya yang berlinangan airmata bertemu dengan wajah Katsuki. Ia memandangi kedua tangan yang terulur seolah hendak menyambutnya. Untuk sesaat, airmata yang hendak tumpah pun berhenti dan ia menatapnya bingung.

"Kenapa kau hanya diam di sana?"

Mengerjap pelan, Deku hendak mengangkat kakinya.

"Kemari!"

Kali ini ia tak menunggu lagi. Kakinya berlari secepat yang ia bisa hingga ia mencapai tujuannya. Kedua tangannya melingkari tubuh pemuda itu sementara airmata membasahi baju yang dikenakannya. Isak tangisnya tak tertahankan lagi sementara ia mengeratkan pelukannya.

Mengusapnya pelan, pemuda itu memeluknya sembari menempatkan kepalanya di cerukan leher anak itu.

"Ma..gap," ujarnya dengan terisak. "Ma...gap..."

"Tidak apa," gumamnya sembari merengkuh anak itu. Lebih erat lagi. "Tidak apa, Deku."

Deku tidak menjawab. Airmatanya mengalir deras melihat Katsuki. Menyesali mengapa ia begitu keras kepala dan mengira bahwa pemuda ini menganggapnya sebagai beban. Kenapa ia tidak bisa melihatnya padahal semua itu begitu jelas? Kenapa harus ada kejadian seperti ini sebelum ia dapat menyadarinya?

Bahwa pemuda ini menyayanginya melebihi nyawanya sendiri.

.

.

.

(t.b.c)


A.N :

Holla! Cyan kembali lagi ke sini! Apa kabar semuanya? Mohon doanya agar saya bisa lanjut sampai tamat :D Aniway, meski nyebelin, saya lumayan suka Monoma Neito XD

Aniway untuk :

hanazawa kay : holla, Kay! Iya, sepertinya dia nggak salah paham lagi sekarang XD

Lean Aviliansa : untungnya keburu disetop sama Papi Enji sebelum salah langkah! Mengutip perkataan beliau, bisa jadi musibah buat agensinya kalau hero papan atas kita mentalnya jadi gak stabil karena satu anak :P

Zzich-vers : iyaaa, seneng bisa jadi your cup of tea meskipun jarang banget mereka bisa berantem, biasanya akur melulu dan berantemnya juga nggak bisa lama-lama. Masalahnya bisa ke perdamaian dunia, kalau sampai pro hero kita nggak stabil :P

Tsuna : hello Tsuna XD hope you're still waiting for this fic. Yes, Katsuki had terrible way to express his feeling. Good things he realize before it became worst. Aniway, usually I'm updated on Sunday since I need one week (or more :P ) to develop an idea. But before, I take it longer than usual because of many personal reason. T^T

Hikaru Rikou : hallo Hikacchi! Lama tak fangirlingan XD selamat menikmati ff sy kembali

Guest : makasih buat semanget dan doanya XD

Ratna : sedang saya lanjut XD happy reading! :D

Cahya Nyagi : XD makasihhh, semoga kamu suka sama ceritanya, dan memang, kadang saya suka jahat ama Deku-kun. Terus sekarang lagi jahatin Lord Explodo Murder, karena sepertinya dia harus disadarin dari kata-kata jahatnya.

Makasihhh, mohon doanya semoga saya bisa lanjut ampe tamat ya XD

el-Vtrich : sedang saya update XD selamat membaca El-san!

Guest : sad end nggak ya? XD saya nggak menjanjikan apapun karena saya anti PHP dan anti di PHP in XD

Guest : makasih semangetnya dan makasih juga uda baca berkali-kali XD saya seneng banget kalo fic saya bisa sampe dibaca berulang, padahal jujur kalo saya baca berulang kali, yaampun saya malu banget karena salah ketiknya banyak T^T

Aniway, thank you as well for anyone who make this story as your favorite, follow and give a review. I really cherish it :D

For anyone who just enjoy reading, thank you as well. Please keep reading and enjoy the story XD