Kakashi menunduk, jelas sekali menyesal dengan tindakannya. Ia rasa, yang ia lakukan sebelumnya bukan karena sharingan miliknya yang haus chakra, tapi insting hewan buas dalam dirinya yang menguasai. Entah kenapa, seolah-olah ia sendiri kehilangan kesadaran dan kontrol terhadap tubuhnya hingga ia menggigit leher Iruka. Sungguh, ia merasa malu telah melakukan itu. Bagaimana bisa jonin elit yang selalu dipandang tinggi oleh sebagian besar shinobi Konoha—dan bahkan Iruka sendiri bisa kehilangan kendali, dan semua itu hanya karena aroma tubuh Iruka? Astaga, Kakashi benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri.

Iruka sama canggungnya dengan Kakashi. Mereka berdua duduk bersebalahan di sofa, dengan Tsunade dan Shizune yang menatap mereka seolah-olah tengah mengadili anak-anak nakal. Wajah Iruka merah padam. Selain karena malu, ia sendiri merasa tubuhnya aneh. Iruka sudah berkali-kali bersentuhan dengan Kakashi, tapi tetap saja efek panas dalam tubuhnya tak pernah hilang ketika lagi-lagi Kakashi menyentuh kulitnya. Padahal, itu pun belum tentu Kakashi lakukan atas keinginannya.

Shizune mengusap dagunya. Sebuah papan jalan dan kertas-kertas yang terjepit di sana dibolak-balik, menimbulkan satu-satunya suara di tengah keheningan yang mereka ciptakan. Tsunade tidak melakukan apa-apa selain menatap mereka secara lekat.

"Iruka-san, wajahmu merah sekali. " celetuk Shizune tanpa sadar. Ia mencatat semua yang ia lihat, termasuk respon wajah Iruka meski mungkin saja itu tidak berkaitan dengan penelitian mereka. Tsunade selalu mengajarinya untuk mencatat detail terkecil apapun ketika bertugas, karena bisa jadi itulah yang menjadi kunci suksesnya.

"Ma-maaf, aku hanya—"

"—Apa tubuhmu terasa aneh? panas misalnya? Atau, perasaan aneh yang menjalar dari dada menuju perutmu?"

Iruka mendongak, menatap Shizune. "I-itu.."

Shizune terkikik. "Katakan saja sejujurnya, Iruka-san. Kau tidak perlu malu. Tenang saja, semua ini hanya kita berempat saja yang tahu. Lagipula, datanya nanti akan masuk ke jurnal pengobatan Tsunade-sama yang mana jurnal itu hanya akan dibuka olehnya—dan aku kadang kala."

Iruka mengusap tengkuknya, seulas senyum paksa ia tampilkan. Rasanya benar-benar malu. Iruka ingin sekali segera berlari pulang dan menyembunyikan wajahnya pada bantal.

"Baiklah kalau Iruka-san masih bingung bagaimana mengatakannya, bagaimana kalau Kakashi-san saja dulu. Lagipula, dia yang tiba-tiba agresif saat bersentuhan dengan Iruka-san."

"Hah?" Kakashi mendongak, tatapan mata malasnya tak sirna, meski begitu ia sendiri bingung ingin mengatakan apa, soalnya yang ia lakukan memang reflek karena insting. Memangnya siapa yang tidak reflek melakukan itu ketika disuruh memangku seseorang seperti Iruka. Eh?

"Jadi, Kakashi-san. Apa yang sebenarnya kau pikir dan rasakan ketika melakukan itu? Lagipula kalian tidak sedang transfer chakra. Ayo! Ayo! Kalian berdua harus bicara agar kami bisa memperoleh informasi lebih banyak lagi. Sebenarnya, seperti apa ikatan kalian ini."

Kakashi menghela napas. "Baiklah, silahkan tanya apa saja." Katanya datar.

Shizune tersenyum ceria, ia buru-buru duduk di hadapan mereka dengan papan jalan siap pakai. Apapun yang dikatakan Kakashi dan Iruka akan menjadi informasi penting untuk mereka.

"Jadi, aku tau kalau Kakashi-san dan Iruka-san sudah sering melakukan transfer chakra, di mana posisi seperti tadi aku yakin sudah sering kalian gunakan. Hanya saja, Kakashi-san hanya perlu menghisap saja tanpa menggigit, jadi mengapa tadi Kakashi-san dengan sengaja menggigit leher Iruka-san?"

Kakashi menggaruk surai peraknya, sekali lagi ia menghela napas. "Sebenarnya aku tidak tau. Ku rasa aku pernah melakukan hal seperti ini dengan Iruka, hanya saja dalam keadaan tak terkendali. Tapi, kali ini aku sadar, dan aku tidak tau mengapa aku tertarik dengan aroma tubuh Iruka."

Kedua bola mata Shizune melebar, wanita itu melirik Iruka, yang mana sama-sama terkejut dengan jawaban Kakashi.

"Aroma?"

Kakashi mengangguk. "Ku rasa aroma tubuh seseorang biasa saja—meski tentu berbeda-beda. Tapi sejak aku terikat chakra olehnya, bau tubuh Iruka terasa sangat jelas untukku, aku tidak mengerti. Aneh sekali manusia bisa merasakan hal seperti itu."

Shizune sigap menulis semua yang ia dengar. Memang aneh, dan semakin aneh saja ikatan keduanya. Dimulai dari insiden sharingan, hingga hubungan mereka berkembang ke arah yang aneh dan ambigu. Tsunade dan Shizune bukannya tak sadar, keduanya tau bahwa ada sesuatu di antara keduanya selain ikatan chakra itu. Hanya saja, mereka tidak tau apa jenis ikatan keduanya.

"Apa yang Kakashi-san rasakan dari aroma itu?"

"Hm… menyengat?"

Iruka mencium tubuhnya sendiri. "A—apa badanku bau ya?" gumamnya panik.

Kakashi tertawa dari balik maskernya. "Bukannya bau, Iruka-sensei. Hanya saja, aroma tubuhmu terasa kuat ketika kita berdekatan, makanya aku reflek menggigitmu karena aromanya sangat… ugh… bagaimana mengatakannya, menggoda?" Kata terakhir diucapkan Kakashi dalam nada yang amat pelan nyaris seperti gumaman. Wajah Iruka merah padam, selalu seperti ini. Apapun yang dikatakan Kakashi selalu membuatnya salah paham.

Wajah Shizune ikut merona mendengarnya. Astaga, ia biasanya tidak begitu tertarik dengan hubungan orang lain. Tapi melihat Kakashi dan Iruka yang seolah benar-benar saling membutuhkan membuatnya tertarik. Apalagi, masih ada banyak misteri di balik hubungan mereka, secara medis, psikis, maupun perasaan masing-masing. Untuk bagian terakhir, tentu hanya Kakashi dan Iruka yang tau, dan tidak akan pernah bisa dibuktikan secara valid.

Shizune berdeham, berusaha menetralkan pikirannya dari hal-hal aneh yang ia pikirkan tentang keduanya. Ia harus benar-benar fokus.

"Jadi, aroma yang menggoda itu seperti apa, Kakashi-san?"

"Hm?"

"Kau tau ada banyak bau yang enak di dunia ini. Wangi bunga-bungaan yang menyegarkan, wangi dedaunan yang menenangkan, makanan yang menggugah selera, dan semacamnya. Jadi, bau macam apa yang kau katakan menggoda itu?"

Kakashi menopang dagu. "Bagaimana aku menjelaskannya… bau yang manis? Aku tidak tau jenis bau apa itu, yang pasti sangat adiktif hingga membuatku kelepasan seperti itu."

"O—oh, begitu ya."

"Shizune, kemari."

Kakashi bernapas lega, ia menyandarkan tubuhnya pada sofa. Kakashi sadar bahwa Iruka canggung di sebelahnya. Ia melirik pemuda itu, selalu menautkan kedua telapak tangannya dan menggigiti bibir bawah, benar-benar tampak sekali sedang gugup. Kemudian, Kakashi melirik ke meja Tsunade, di mana kedua wanita yang jago dalam medis itu tampak benar-benar serius dalam berdiskusi.

"Kakashi, Iruka, ku rasa hari ini cukup dulu. Ingat, kalian harus datang kemari setiap hari di jam yang sama."

Keduanya mengangguk paham dan segera keluar dari kantor Hokage.


"Iruka-sensei, soal yang tadi aku minta maaf."

Iruka tampak terkejut. "E—eh? Tidak kok, tidak apa-apa, Kakashi-san. Lagipula, Kakashi-san tidak berniat dengan sengaja."

Kakashi menahan pergelangan tangan Iruka, ia menyibak rambut Iruka, dan menarik rompi shinobi miliknya. "Aah, berbekas ya."

"E—eh?"

Kakashi tersenyum di balik maskernya. "Maaf, rasanya seperti pertama kali aku melakukannya waktu itu."

"Kakashi-san tidak perlu minta maaf terus-terusan. Aku baik-baik saja, lagipula seperti yang Kakashi-san katakan, Kakashi-san hanya reflek."

Kakashi mendekat, membuat dada mereka saling menempel. Ia menurunkan kepalanya, tepat sejajar dengan telinga kanan Iruka. "Bagaimana jika yang ku lakukan tadi memang sengaja?" bisiknya pelan.

Iruka membeku, bahkan ketika Kakashi telah menarik diri, ia masih bertahan dalam posisi itu. Sekali lagi, Iruka benar-benar tidak mampu menghadapi Kakashi dan segala ucapannya.

Kakashi menyungging senyum cerah. "Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Jaa~"

Iruka merosot jatuh, ia membenamkan wajahnya pada lipatan lutut. Wajah hingga telinganya merah padam. "A—apa-apaan sih" gumamnya pelan.

TO BE CONTINUE


A/N: Mind to review?