Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
Dan di sini author akan membuat segalanya terlalu berlebihan, hehehe,
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[Crown for the Queen ]
~ Chapter 17 ~
.
.
Sasori Pov.
"Saya punya urusan pangeran! Kenapa saya harus terus membantu pangeran!" Teriak kesatria Sai.
"Kau harus membantuku mencari buku yang kau sebutkan itu! Dimana tanggung jawabmu sebagai seorang kesatria terbaik!" Teriak pangeran Sasuke.
Menatap kedua pria ini, seharusnya kesatria Sai lebih menjaga sikapnya pada pangeran, tapi mereka sangat akrab dulunya, apalagi tugas pertama kesatria Sai adalah menjadi pengawal pribadi pangeran Sasuke, mereka jadi berteman karena hal ini.
Aku datang ke sini karena seorang penjaga mendapat perintah dari kesatria Sai untuk memanggilku, lalu apa yang akan aku lakukan sekarang? Menonton mereka berdebat?
"Ehem!"
Keduanya berhenti dan mulai menjaga sikap masing-masing.
"Ada apa kesatria Sasori berada disini?" Tanya pangeran padaku.
"Saya datang karena mendapat panggilan dari kesatria Sai." Ucapku.
"Kenapa kau memanggilnya?" Tanya pangeran dan menatap kesatria Sai.
"Sekarang nona Sumire telah selesai dengan pekerjaannya, pangeran terus menahan saya disini. Maaf kesatria Sasori, aku jadi membebanimu, tolong jaga nona Sumire dan antar dia kembali ke istana barat." Ucap kesatria Sai padaku.
Nona Sumire?
Ah, wanita itu, wanita yang menjadi pembicaraan orang-orang di istana, rumornya dia yang akan menjadi ratu di istana ini, tapi karena latar belakangnya yang tidak jelas dan statusnya saat di bawa adalah seorang budak, para bangsawan menjadi protes besar pada Yang mulia raja, aku belum pernah melihatnya secara langsung, lagi pula apa yang membuat Yang mulia raja sampai membawanya pulang? Yang mulia raja tidak memiliki sikap seperti itu, wanita mana pun akan sulit menaklukannya.
Aku sudah bekerja pada Yang mulia raja bertahun-tahun lamanya, bahkan lebih dulu dari pada kesatria Sai, kesatria Sai terbilang lebih muda dariku.
"Jangan dengarkan ucapan kesatria Sai, kembali pada pekerjaanmu." Ucap pangeran, aku tidak mengerti, pangeran malah tidak setuju.
Lagi pula aku tidak punya pekerjaan lain selain mengawasi para penjaga dan memberi mereka arahan, sekarang kesatria Hidan sedang tidak berada di istana, dia tiba-tiba pergi dan hanya mengatakan sedang mendapat tugas rahasia dari Yang mulia raja.
"Apa maksudmu pangeran! Kalau begitu biarkan saya pergi dan kesatria Sasori akan membantu anda." Protes kesatria Sai.
"Dia tidak ada hubungannya, jangan melimpahkan pekerjaanmu pada orang lain, jika kau membantuku, harus sampai selesai!" Ucap pangeran.
Mereka bertengkar lagi.
"Tolong jaga sikapmu, kesatria Sai." Tegurku.
"Ma-maaf atas kelancangan saya pangeran, tapi tetap saja! Tugas saya adalah melindungi nona Sumire! Biarkan saya pergi!"
"Aku tidak peduli! Wanita itu tidak perlu mendapat perlakuan khusus seperti ini!"
"Baiklah, aku akan pergi untukmu kesatria Sai." Ucapku, aku malas melihat mereka berdebat seperti itu, aku juga ingin melihat bagaimana wanita itu.
"Terima kasih kesatria Sasori, aku akan mengantraktirmu nanti."
Melambaikan tangan dan segera pergi, ruangan galeri adalah tempat menyimpan banyak catatan penting dari kerajaan Uchiha, apa yang mereka berdua cari disana? Setelah sekian lama tidak bertemu seperti ini, hubungan mereka masih baik.
Hal ini adalah sesuatu yang di harapkan Yang mulia raja, dia ingin para kesatria miliknya juga akrab dengan pangeran walaupun sikap pangeran dan Yang mulia sangat bertolak belakang.
Berjalan menuju ruangan tuan Kabuto, jadi benar, dia juga mendapat pekerjaan selain tinggal nyaman di istana ini, wanita yang sangat hebat, dalam beberapa waktu saja dia sudah seperti orang penting di istana ini.
Kami akhirnya bertemu, wanita berambut softpink sebokong, dia bukan berasal dari negeri ini, sosok yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, mungkin dia berasal dari negeri yang jauh, jika di lihat sekarang, penampilannya memang tidak terlihat seperti seorang budak lagi, mungkin karena telah menggunakan pakaian yang lebih bagus dan dia mendapat perawatan.
Wanita itu menatap lama ke arahku, dia sedang memperhatikanku dan aku sadar akan beberapa hal yang ada padanya, luka di jidat itu dan juga bekas sayatan pedang di lengannya, luka itu seperti baru saja di dapatnya, apa dia mendapat masalah di istana? Atau seseorang mengincar nyawanya? Selama kesatria Sai bersamanya, dia akan aman, tapi saat ini dia dan pangeran sedang berdebat seperti anak kecil.
Sekarang, siapa saja yang mendengar nama nona Sumire, mereka akan terlihat marah dan benci, dia menjadi wanita yang sangat ingin di usir dari istana ini.
"Maaf saya merepotkan kesatria Sasori, padahal tuan tidak perlu melakukan ini, saya bisa kembali ke istana saya sendirian." Ucapnya.
Aku cukup terkejut saat mendengarnya berbicara, ini bukan gaya bicara seorang budak, wanita ini berbeda, apa ini alasan Yang mulia membawanya ke istana?
"Tidak perlu sungkan seperti itu, kesatria Sai meminta tolong padaku, aku juga sedikit penasaran akan sosok nona Sumire." Ucapku dan mendapat balasan senyum ramah darinya.
"Terima kasih tuan kesatria, semua kesatria milik Yang mulia sangat baik hati."
Ini semacam pujian, tidak buruk.
"Apa seseorang menyerangmu, nona?" Tanyaku, aku penasaran akan luka di tubuhnya.
Gerak-geriknya berubah menjadi tidak nyaman, dia berusaha menutupi lengannya yang memiliki bekas sayatan disana.
"Hanya sebuah kecelakaan, bukan apa-apa." Ucapnya, dia berusaha terlihat tenang.
Seseorang seperti tidak sengaja mengayungkan pedang ke arahnya, sayatan itu bukan karena ingin melukai nona Sumire, sayatan panjang, aku bisa mengetahui hal semacam ini, nona Sumire menggunakan lengannya untuk melindungi dirinya, mungkin aku perlu mendengar cerita kesatria Sai selama menjadi pengawal pribadi nona Sumire.
Parasnya cukup menawan, tutur bahasa yang sopan dan lemah lembut, cara bicara yang seakan dia orang yang berpendidikan, ini adalah sosok nona Sumire yang orang-orang tidak akan tahu, mereka harus melihatnya secara langsung, jika hanya mendengar rumor saja, mereka tidak akan mengetahui pasti bagaimana sikap nona Sumire.
"Aku sedikit penasaran, kau seorang budak dan bisa bekerja pada tuan Kabuto?"
"Ini hanya perintah dari Yang mulia raja."
"Meskipun ini perintah, tetap saja bekerja pada tuan Kabuto adalah yang tidak mungkin untuk seorang budak."
"Saya hanya membantu sedikit tuan Kabuto."
Dia juga pandai mencari alasan, sikapnya sungguh tenang, seakan sudah sering mendapat hal semacam ini.
Berhenti berjalan dan menatap wanita ini baik-baik, apa yang membuat raja sangat peduli padanya? Parasnya? Itu tidak mungkin? Tubuhnya, itu juga tidak, jika paras dan tubuh, ada begitu banyak putri dari kerajaan tetangga yang sangat mengagumi Yang mulia raja, bahkan mereka jauh lebih cantik dan dewasa, wanita ini masih terlihat cukup muda, mungkin lebih muda dariku.
"A-ada apa tuan kesatria? Apa saya salah berbicara?" Ucapnya dan tidak berani menatapku.
"Tidak, aku hanya salut akan sikapmu, nona Sumire."
Dia menatapku sejenak dan tersenyum kaku.
"Bagaikan seorang putri." Tambahku.
Tatapannya sejenak terkejut dan segera mengalihkan tatapannya lagi.
Oh, ini sungguh menarik, ada hal yang disembunyikan Yang mulia raja dan wanita budak ini.
Apa saja yang di lakukan kesatria Sai saat bersamanya? Seharusnya dia menggali informasi sebanyak apapun tentang wanita ini.
Apa tujuannya untuk masuk ke istana dan apa latar belakang yang sedang di tutupinya.
.
.
.
.
.
Sakura Pov.
Kesatria Sasori, aku mungkin perlu mewaspadainya, dia tipe orang yang pandai menganalisis, aku juga tidak bisa mengubah gaya bicaraku atau mengubah sikap sopan santunku, dulunya aku terus di ajari agar kelak menjadi seorang ratu.
Dia hanya mengantarku, menggantikan kesatria Sai sementara waktu, apa yang membuat kesatria Sai tidak bisa pergi dari pangeran? Apa yang sedang mereka lakukan? Aku jadi ingin tahu, mungkin bisa mendengarkan kesatria Sai berbicara.
"Terima kasih telah mengantar saya dengan aman, kesatria Sasori." Ucapku.
"Tidak masalah nona Sumire, silahkan masuk dan selamat beristirahat." Ucapnya dan pamit untuk pergi.
Lain kali kesatria Sai tidak perlu mengutus siapapun, aku kurang nyaman dengan kesatria lain, mungkin karena memikirkan tanggapan mereka, apalagi rumor tentangku tidak berhenti juga, mereka benar-benar ingin aku keluar terlebih dahulu.
Aku melupakan sesuatu, Yang mulia raja sebentar lagi akan berulang tahun, aku perlu memberinya sesuatu, tapi aku tidak punya apapun, uang sepeser pun sangat sulit aku dapat, apa bekerja pada tuan Kabuto akan mendapat upah? Atau ada sesuatu yang bisa aku kerja di istana ini agar mendapat uang? Setidaknya aku membalas sedikit kebaikan Yang mulia raja padaku.
Berjalan masuk ke dalam bangunan istana barat dan pelayan wanita itu mulai menata makan siang untukku.
"Apa ada sesuatu yang bisa saya kerajakan agar mendapat upah?" Tanyaku pada nyonya Rose, dia masih tetap setia melayaniku walaupun para pelayan lain memberinya saran agar segera meninggalkanku, dia wanita yang baik dan tulus melayaniku.
"Untuk apa nona melakukan itu? Bukannya nona sudah bekerja pada tuan Kabuto?" Ucapnya.
"Itu benar, tapi apa saya mendapat upah?" Tanyaku, frontal. "Ma-maksud saya bukan karena uang saya bekerja, saya hanya bertanya saja." Tambahku, nyonya Rose pasti berpikiran aneh tentang ucapanku.
"Saya kurang tahu tahu, nona." Ucapnya dan tetap bersikap ramah, mungkin dia tidak terlalu memikirkan ucapanku tadi.
Ternyata dia juga tidak tahu apapun, apa tanya saja pada Yang mulia raja langsung? Tapi, tunggu sampai luka di jidat ini menghilang, sudah cukup lama aku tidak bertemu dengan Yang mulia raja lagi, aku harap dia tidak berpikir aku hanya tinggal begitu saja di istana ini tanpa ikut mempersiapkan rencana yang kami susun bersama.
"Ada apa nona? Jika nona ingin membeli sesuatu, di dalam kamar nona ada kotak perhiasan, itu di berikan dari Yang mulia raja, katanya nona bisa gunakan perhiasan itu atau menjualnya." Ucapnya.
"Apa saya memiliki hal itu?" Tanyaku, aku tidak tahu jika Yang mulia memberikan kotak perhiasan agar aku bisa menggunakannya, tapi jika di jual sama saja, itu adalah uang milik Yang mulia raja, bagaimana mendapat uang tanpa dari tangan Yang mulia raja? Atau aku meminjam saja, aku akan mengembalikan harga perhiasan itu.
"Perlihatkan pada saya, apa saya bisa menjualnya satu?" Tanyaku, tetap saja merasa tidak enak.
"Katanya ini sudah di berikan pada nona, jadi terserah nona mau melakukan apapun dengan perhiasaan itu."
"Saya sangat mengharapkan itu."
.
.
TBC
.
.
updatee...~
