Judul : Otonari-San

Chapter : Extra Chapter

Crossover : Naruto x LoveLive

Pairing : Kiba x Honoka :v

Genre : Ecchi, lemon, NTR, romance, drama, dll.

Disclaimer : Naruto punya Om Masashi Kishimoto dan LoveLive punya Sakurako Kimino

Rating : M

A/N :

Ini hanya ekstra chapter sebagai permintaan maaf karena Erocc WB lama banget.. dan emang udah dipikirkan sejak lama.. btw, ini lemon Kiba x Honoka pas festival musim panas..

.

.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ :)
LANGSUNG LEMON SOALNYA..

.

.

.

.

.

Sekarang tepat di dalam apartement Naruto terdapat kedua pasangan yang meminjam apartementnya, siapa lagi kalau bukan Kiba dan Honoka. Mereka masih tinggal dengan keluarga sehingga sulit melakukan hubungan intim dengan leluasa, bahkan dua minggu yang lalu mereka melakukannya di toilet umum.

Sungguh Kiba beruntung memiliki Honoka yang tidak mengeluh untuk melakukannya di toilet umum, oh sialan. Semua ini sebab Kiba yang meskipun anak orang kaya kehabisan uang karena boros saat berkencan dengan Honoka. Itu semua karena Honoka yang hobi jajan.

Sekarang Kiba tengah di toilet untuk buang air kecil, sedangkan Honoka menunggu di ruang tengah. Kiba menekan tombol kloset lalu keluar dari toilet, Kiba menuju ruang tengah lalu melihat kekasihnya yang sedang duduk di atas futon dengan pose sexy dan hanya menggunakan celana dalam.

"Aku sudah siap.."

Kiba melotot aneh pada pacarnya yang tumben banget menggoda padahal biasanya Kiba yang godain duluan. Terjadi keheningan yang aneh, Honoka langsung mengambil kain yukatanya dan menutupi tubuhnya lalu berbalik untuk menyembunyikan diri dari Kiba.

"Sudah kuduga, aku tidak bisa melakukan ini!" Teriaknya ngedumel sendiri sambil nangis bombay.

Membuat Kiba ingin tertawa, "Jangan tertawa!" Yang langsung bungkam karena perintah kekasihnya yang sedang malu setengah mati.

Kiba langsung duduk di sebelahnya Honoka, "Lagian untuk apa kau melakukan itu? Padahal kau pemalu untuk menggoda.." jelas Kiba sembari membuka tutup botol air mineral untuk meminumnya.

Honoka menengok ke belakang pada Kiba dengan wajah memerah, dari ekspresinya terlihat panik untuk menatap Kiba.

"Ah! A.. um.. kupikir itu akan membuatmu senang.. Yah, jika kau tidak suka, aku tidak a-akan.." Honoka mulai menjelaskannya dengan tergagap karena gugup, wajah Kiba ikut merona malu melihat pacarnya bersikap lucu seperti itu, ada sedikit rasa bahagia di dalam hatinya.

Manik Honoka melebar saat tahu Kiba bergeser dan mendekat padanya. Honoka langsung terdiam saat salah satu pipinya di sentuh Kiba, menarik wajahnya untuk saling bertatapan. Honoka langsung refleks menutup matanya ketika sadar bahwa Kiba akan menciumnya, bibir mereka saling menempel dan langsung melumat dengan penuh perasaan.

Salah satu tangan Kiba menggenggam pergelangan tangan Honoka, mendorong wanita itu untuk terbaring di futon. Honoka lanjut membuka mulutnya hingga lidah Kiba langsung masuk untuk menelusuri rongga mulutnya. Lidah mereka saling melilit satu sama lain menimbulkan suara decapan, berada di bawah membuat Honoka menelan air liur mereka yang bercampur. Pasokan oksigen membuat mereka melepaskan ciuman panas tersebut.

Kiba menatap wajah tak berdaya Honoka di bawahnya yang tengah menghirup oksigen, mata bulatnya memperhatikan wajah Kiba dengan rona merah di kedua pipi chubbynya. Menambah kesan manis untuk wanita ceria sepertinya.

"Ini pertama kalinya, kita melakukannya di rumah orang lain. Aku jadi tidak enak pada Naruto-kun.." jelas Honoka yang merasakan salah satu tangan Kiba turun ke bawah pada dadanya, tangannya mulai menangkup buah dada berukuran C-cup itu dan meremas pelan.

"Tidak apa-apa, Naruto juga sudah mengizinkan kita.." jelas Kiba yang mulai iseng memainkan puting dada Honoka dengan mencubitnya.

"Ahn!" Honoka mendesah merasakan rangsangan dari tangan Kiba yang mencubit lalu memelintir putingnya, "ah.. tidak, aku mengeluarkan suara yang aneh lagi.. mnn.." Honoka menggigit bibirnya untuk menahan desahannya, dia merasakan bibir kekasihnya yang mencumbui buah dadanya, menjilat puncaknya yang mengeras, lalu menghisapnya dengan kuat.

Tangan Kiba yang lain mulai mengelus pahanya dari bawah ke atas. Jari-jari Kiba mulai menekan dan menggesek bagian sensitif tersebut yang sudah basah. Tangan Kiba sampai pada batas atas celana dalam Honoka lalu ditarik ke bawah secara perlahan hingga lepas dan dibuang ke sembarangan tempat, pemuda tersebut membuka selangkangan Honoka agar melebar.

Matanya langsung menatap lurus pada kemaluan Honoka yang sudah basah karena rangsangan, belahan kemerahan seperti persik yang menggiurkan ada di hadapannya. Pikiran kotor untuk mengacak-ngacaknya sudah bertebaran di dalam otak Kiba. Ditatap mata tajam Kiba membuat Honoka mengalihkan pandangannya ke samping dengan wajah memerah.

"Jangan terus memandangnya, itu memalukan.." jelas Honoka yang tidak dipedulikan oleh Kiba yang menurunkan kepalanya tepat pada liang senggama Honoka yang terbuka, "Aah~! Tunggu, jangan menjilatnya.. mnn.. uh.." gerutu Honoka yang merasakan lidah Kiba yang menari-nari di kemaluannya tanpa rasa jijik.

Kaki honoka mulai bergerak tak nyaman, beberapa kali pinggangnya melengking karena tegangan dari benda lunak yang memainkan tonjolan kecil di kemaluannya dengan perlahan. Honoka semakin mendesah keras ketika tiba-tiba lidah Kiba masuk ke liang senggamanya. Aroma kemaluan Honoka terasa memabukkan bagi Kiba, cairan seperti madu terus mengalir dari sana.

Lidah Kiba bergerak memutar hingga menimbulkan perasaan aneh dari perut Honoka yang merasa akan mencapai puncak. Namun, tiba-tiba Kiba berhenti. Honoka menjadi kecewa dan frustasi karena belum mencapai puncak, saat bercinta Kiba memang suka sengaja melakukan hal itu, untuk menjahilinya. Pemuda itu naik ke atas mengurung Honoka di dalam kungkungannya, menatap manik biru wanita di bawahnya dengan ekspresi serius, membuat wanita di bawahnya merona karena terpesona.

"Aku tidak bisa menahannya lagi, Honoka.." Honoka tentu tahu apa maksud Kiba, laki-laki di depannya sudah tidak sabar ingin menggagahinya.

Tangan Kiba memandu tangan Honoka untuk merasakan kejantanannya yang sudah keras hingga menjadi besar.

"Uhh.. ini tetap saja memalukan, aku ingin menghilang.." jelas Honoka yang masih malu-malu untuk menggesek kejantanan Kiba dengan tangannya dari balik yukata Kiba, meskipun mereka sudah pernah melakukannya berkali-kali sejak mulai berkencan.

"Kau pikir aku akan biarkan kau kabur begitu saja.." balas Kiba yang membelah yukata yang masih dia pakai dengan kakinya sehingga terlihat kejantanannya yang polos, Honoka merona dan menatap aneh pada Kiba.

"Kau tidak pakai celana dalam, kau ini mesum sekali.. mnn!" jelas Honoka saat merasakan Kiba mulai menggenggam dan menggesekkan ujung kejantanan tepat pada kemaluannya.

"Aku lepas saat di toilet tadi, lagian kita akan langsung melakukannya.." jelas Kiba yang mulai menggesek kejantanannya dengan gerakan yang lebih cepat saat liang senggama Honoka mulai licin dan basah karena cairan penetrasi yang mereka hasilkan, "apa bedanya denganmu? Kau juga tiba-tiba telanjang saat aku keluar toilet tadi, kau ini mesum sama sepertiku.."

"A-aku tidak semesum itu!" Honoka menggembungkan kedua pipinya di hadapan Kiba.

Kiba tersenyum nakal melihat kekasihnya terganggu karena dibilang mesum, tanpa menunggu lagi Kiba langsung memakai kontrasepsi yang dia ambil dibungkusnya. Selesai memakainya, Kiba mulai memposisikan kejantanannya pada liang senggama Honoka yang melebarkan kakinya.

"Bagaimana jika ada tetangga yang mendengar kita? Uhn~" Tanya Honoka khawatir menatap Kiba yang tengah mendorong kejantanannya, dia tak enak jika tetangga Naruto mendengar mereka berhubungan intim di rumah orang lain.

"Kenapa kita harus peduli?" Tanya Kiba yang masih mendorong kejantanannya secara perlahan, Honoka sendiri mulai merasakan benda asing yang memasuki tubuhnya.

Kejantanan Kiba terasa lebih besar dari biasanya, memang sejak festival tadi pria itu sudah menggerutu ingin melakukannya dengan Honoka. Bahkan, mereka hampir melakukannya di semak-semak tadi jika Honoka tidak memperingati Kiba untuk melakukannya di tempat yang lebih tertutup.

"Itu terasa lebih besar.." jelas Honoka yang memeluk erat punggung Kiba, menggenggam erat yukata yang Kiba kenakan, Honoka menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Kiba.

"Kau juga terasa lebih ketat dari biasanya.." jelas Kiba merasakan kehangatan pada kejantanannya saat berada di dalam liang senggama Honoka, cengkeraman kuat yang berdenyut dia rasakan dari batang kejantanannya.

"Kiba, aku menginginkanmu.." ucap Honoka yang membuat Kiba juga memeluknya dan mulai bergerak keluar-masuk dengan tempo sedang, "Ah~ ah.. aaahn!" Honoka langsung mendongak nikmat dan mendesah keras, kejantanan Kiba yang menyeruak memasuki liang senggamanya seperti sebuah sengatan listrik dan membuatnya lemah di dalam pelukan pemuda bersurai coklat tersebut.

Kiba menutup matanya dengan mendesis sesekali, dia dapat merasakan ketatnya liang senggama Honoka yang meremasnya. Bergerak sedikit saja membuatnya serasa ingin mencapai puncak. Saat mengeluarkan kejantanannya dapat dia rasakan hawa dingin udara, namun kembali hangat begitu masuk ke dalam liang senggama Honoka. Ini sensasi yang sangat disukainya setiap kali berhubungan intim dengan wanita di bawahnya, terutama ketika Honoka berulang kali menyebut namanya dengan desahan yang sexy.

"Kiba! Kiba! Ahn! Ah! Kiba..ahnm~"

Nafas mereka semakin bergemuruh ketika Kiba mempercepat gerakan pada pinggangnya, tangan Honoka meremas erat punggung Kiba seakan tidak ingin melepaskan pemuda tersebut. Sepasang kekasih tersebut sedang menikmati nirwana bersama seperti dunia hanya ada mereka berdua. Kejantanannya mendorong lebih dalam liang senggama Honoka hingga mencapai tempat ternikmat bagi wanita yang tengah mendesah keras dengan suara erotisnya.

Kiba mulai terangkat dengan lengan yang menahan tubuhnya agar tidak menghimpit Honoka yang berada di bawahnya. Posisi ini memungkinkan Kiba untuk menghujam Honoka lebih leluasa, ditandai dengan suara keras antara selangkangan mereka yang bertabrakan. Honoka memegang lengan Kiba, matanya melihat ke bawah dimana kejantanan Kiba tengah membajak liang senggamanya. Keringat mulai membuat tubuh mereka basah dan mengkilap.

"Ahn~! Ah! Hnmn~ Kiba, ochinkomu memenuhiku.. mnm.. Ahn! Ah~" desah Honoka yang terguncang-guncang cukup cepat hingga buah dadanya bergoyang naik-turun dengan nakalnya membuat Kiba menurunkan kepalanya untuk melahap puncak pink yang mencuat

"Ahn! Kimochii~! Itu terasa enak, Kiba.. ahm.. ah~ ahn!" Honoka masih mendesah dengan kata-kata erotisnya yang membuat Kiba semakin bersemangat menghujamnya dengan gerakan berputar, dengan kedua tangannya Kiba menahan pinggang Honoka hingga tubuh Honoka melengkung ke depan, lalu bergerak keluar-masuk dengan cepat.

"Honoka, aku akan keluar..! Sst.." jelas Kiba yang mulai merasa akan mencapai puncak.

"Ah! Ah.. Aku juga.. ahn! Ah!" Rasa nirwana bagai surga membuat Honoka semakin mendambakan kenikmatan, dengan sendirinya dia semakin melebarkan kedua kakinya.

Kiba langsung menunduk ke dalam pelukan Honoka, "Ini dia, Honoka! Agh.." desah Kiba dengan satu hentakan ke dalam, dia langsung mengeluarkan hasratnya yang terkumpul di kontrasepsi yang dia gunakan.

"AAAHN!" jelas Honoka yang tubuhnya ikut menegang begitu mencapai puncak, dia juga merasakan kontrasepsi yang mereka gunakan sudah dipenuhi oleh cairan sperma Kiba, "Itu berkumpul di dalam.. hnm~" lanjutnya yang menatap ke bawah pada persatuan mereka.

Beberapa saat kemudian Kiba melepaskan kejantanannya dimana kontrasepsi yang dia gunakan menyembul akibat menampung cairan spermanya. Honoka menggigit bibirnya begitu melihat kontrasepsi yang Kiba lepas dan dibuang tong sampah.

"Kau terlihat masih keras.." jelas Honoka begitu melihat kejantanan Kiba yang masih tegang.

Kiba menyeringai mesum, "Persiapkan dirimu, ini akan jadi malam yang panjang untuk kita berdua~ Honoka-chan~" goda Kiba yang mendorong Honoka untuk kembali terbaring.

"Kya~" desah Honoka dengan nada menggoda sebagai respon dia rela menghabiskan malam panas dengan Kiba.

"Ahn! Ah!..mnn~ ahn! Kiba.. AHN!" Desahan penuh semangat kembali memenuhi ruang apartement Naruto malam itu.

Tanpa mereka berdua sadari di luar Nozomi melewati ruangan itu untuk berangkat menginap di rumah Eri, agar tidak ketahuan bahwa Nozomi tetangga Naruto. Matanya melirik ke sebelah apartement Naruto, yang terdengar desahan erotis.

Ah, mereka sedang melakukannya? Ucapnya dalam hati karena menyadarinya.

.

.

.

.

.

END

Senang kan lo, dpt extra lemon :'v

Sisanya silahkan kalian bayangkan sendiri.. :v