Doumo, minna! Sudah lama saya tidak nongol di fanfic. Mohon maaf karena selama satu tahun terakhir saya mengalami masa-masa berat yang disebut sebagai quarter life crysis. Saya sudah melewati masa 'kritis', namun keadaan saya sekarang masih belum bisa disebut baik-baik saja. Yang pastinya saya sudah bisa kembali menjalani aktivitas seperti sedia kala. Well, cukup cuap-cuapnya. Mari kita mulai ceritanya!

Summary : "It's about our secret". Rahasia antara Karin dan Kazune. Mereka mempunyai hubungan spesial, mereka sepakat untuk menyembunyikan rahasia itu dari semua orang. Namun, semua menjadi tidak mungkin ketika Kazune tidak bisa menahan perasaannya. (Bad summary)

Disclamer : Kamichama Karin milik Koge Donbo-sensei seorang, not anyone else

Rating : T++++ (plak)

Pairing : Hanazono Karin dan Kujyou Kazune

Warning : Typo, OOC, OOT, gaje, mengada-ada, imajinasi liar

~Kamichama Karin~

Secret : Perpisahan Sementara, atau...

"SUDAH CUKUP!" teriak Himeka keras-keras, nafasnya terlihat memburu, "berhenti mementingkan ego kalian. Karin-chan harus segera mendapatkan pertolongan!"

Nafasku langsung tercecekat. Sial sekali. Sepertinya aku sudah kelewatan. Pada saat itu aku sadar bahwa aku harus segera mengendalikan emosi. Benar apa yang dikatakan Himeka, aku harus mementingkan keadaan Karin daripada mementingkan egoku sendiri.

Mencoba untuk tidak mempedulikan Kuga, aku segera bergerak ke samping. Menyingkir dari hadapannya dan berjalan mendekati Karin, "Baiklah, aku akan berangkat sekarang."

"Tidak!" seru Himeka masih terdengar marah, ia bahkan menatapku dengan pandangan tajam, "Michi yang akan mengantar Karin-chan ke rumah sakit. Aku, Kazune-kun dan Jin-kun harus mengikut kelas sore ini."

Sontak aku memutar tubuhku untuk menatap Nishikiori. Berharap pemuda itu mau membelaku dan membiarkan aku mengantar Karin. Tapi, ketika bertukar pandang denganku, pemuda itu malah mengalihkan pandangan dan tersenyum kecil. Baru setelah itu ia menatapku lagi.

"Benar juga, hanya aku yang tidak mengambil mata kuliah pilihan sore ini," ucap Nishikiori tenang, "baiklah, aku akan mengantar Hanazono-san ke rumah sakit," pemuda itu berjalan mendekatiku dan menepuk pundakku, "Kazune-kun tolong bantu aku, gendong Hanazono-san sampai ke parkiran. Setelah itu kau bisa kembali untuk ikut kelas sore."

Aku hampir saja putus asa karena melihat Himeka marah sampai begitunya padaku, itu adalah pengalaman pertamaku melihat dia marah besar. Mengingat Himeka adalah gadis kalem dan sabar, sepertinya kelakuanku ini sudah kelewatan batas sampai-sampai membuatnya begitu.

Jadi, setelah Nishikiori memberiku kesempatan untuk menebus kesalahanku, aku benar-benar berterima kasih padanya. Meski sekarang yang bisa ku lakukan hanyalah menatap dia dengan pandangan terima kasih.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku langsung bergerak mendekati Karin. Aku baru sadar bahwa reaksi yang ia tunjukkan tidak separah sebelumnya. Posisinya sekarang Karin sedang mencengkram selimut yang menutupi kasur yang ia tempati. Rahangnya terkatup dengan erat dan hanya rintihan kecil saja yang keluar dari mulutnya.

Meski demikian mata Karin tetap tepejam. Seakan dia sedang berperang dengan batinnya sendiri, berusaha mengendalikan diri agar tidak berteriak kesakitan lagi. Ya, begitulah Karin. Dia akan berusaha menjadi kuat ketika itu dibutuhkan.

Perlahan ku selipkan tanganku di bawah leher Karin, kemudian ku angkat pelan-pelan. Ku tempelkan kepala Karin di dadaku sembari beralih menggendong kedua kaki Karin. Baru setelah itu aku berdiri dan berbalik untuk mencari keberadaan Nishikiori.

Dengan sigap, pemuda itu melambai ke arahku sambil menunjukkan kunci mobilnya. Aku berusaha untuk tidak mempedulikan ekspresi Kuga dan Yi. Masing-masing memasang ekspresi berbeda. Kuga sendiri menatapku dengan tatapan dingin. Sedangkan Yi, dia menatapku dengan pandangan yang sulit dideskripsikan, kemudian ia menunduk takut.

Aku tidak ingin memikirkan isi pikiran dari dua orang yang sudah ku sebutkan tadi. Sekarang aku hanya ingin fokus dengan keadaan Karin. Bagaimanapun juga dia sedang dalam keadaan bahaya sekarang.

Sebelum ini, aku sudah pernah kecolongan. Aku tidak ingin hal buruk teradi pada Karin lagi. Ini bukan tetang keselamatan Karin saja, ada nyawa lain yang harus ku lindungi di dalam tubuh Karin.

Setelah aku berhasil melewati Kuga dan Yi, Nishikiori segera melangkah keluar dari ruang kesehatan terlebih dahulu. Dengan begitu, aku langsung membuntut di belakangnya. Bersamaan dengan diriku melewati pintu, ku dengar Himeka mengajak Kuga untuk segera pergi menuju kelas sembari meminta Yi untuk meninggalkan totebag Karin di ruang kesehatan.

Agak jauh dari ruang kesehatan, perhatianku segera tertuju pada Karin. Ku lihat dia sudah tidak merintih kesakitan lagi, namun wajahnya begitu pucat. Aku bisa menebak bahwa dia masih dalam keadaan bahaya.

"Jangan khawatir, kau akan baik-baik saja. Bertahanlah sedikit lebih lama lagi," gumamku berusaha untuk menenangkan Karin. Mencoba untuk tidak menghiraukan puluhan pasang mata yang memperhatikanku dengan ekspresi terkejut.

...

Karin POV

Kalian pernah seluruh tubuh kalian babak belur karena dihajar masa? Itulah yang ku rasakan sekarang.

Pandanganku masih kelam meski sejak tadi aku sudah sadar.

Bicara tentang sadar, sebelum itu aku akan memberitahukan kapan terakhir kali aku terjaga sebelum pada akhirnya pingsan karena tidak kuat menahan rasa sakit yang ku rasakan beberapa saat yang lalu.

Aku masih sadar ketika Kazune menggendongku keluar ruang kesehatan dan membawaku ke tempat parkir. Hal terakhir yang ku dengar sebelum aku pingsan adalah suara kalem Kazune yang menggema di dalam kepalaku. Pada saat itu mataku sudah terpejam, jadi aku tidak tahu ekspresi apa yang sedang dipasang oleh suamiku pada saat itu.

Yang pasti, aku bisa tahu dari suara kalemnya itu Kazune berusaha menenangkanku. Dan benar saja, setelahnya aku sudah bisa rileks dan tanpa ku sadari aku sudah terlelap begitu saja. Aku sudah tidak sadar ketika Kazune menaruhku di kursi penumpang mobil milik Michi. Aku pun tidak sadar kapan aku sampai di rumah sakit.

Aku bisa menebak bahwa aku sekarang berada di rumah sakit dari percakapan terakhir saat sebelum aku dibawa keluar dari ruang kesehatan.

Setelah berusaha untuk mengumpulkan tenaga dan pulih dari rasa kantuk yang menyerangku, kelopak mataku berhasil terbuka secara perlahan. Hal pertama yang ku lihat adalah langit-langit berwarna putih. Di atasku tepat ada lampu kecil yang sinarnya menerangi ruangan yang ku tempati.

Di saat aku sedang asyik memperhatikan langit-langit, tiba-tiba saja wajah Michi memenuhi pandanganku. Lengkap dengan senyum manis khas milik pemuda itu. Dia menyapaku dan menanyai kabarku.

"Hanazono-san, bagaimana keadaanmu sekarang?"

Ku perjapkan mataku terlebih dahulu sebelum memberi Michi senyum balasan. Kemudian, aku berkata, "Setidaknya sudah lebih baik dari sebelumnya," ku gerakkan tangan kananku untuk mengelus perutku sendiri, "bagaimana penjelasan dokter setelah memeriksa keadaanku?"

Michi makin meninggikan kedua ujung bibirnya, "Tidak ada yang mengkhawatirkan. Kamu hanya kelelahan dan terlalu tegang," tiba-tiba saja ia merubah ekspresinya jadi masam, "ya, meski demikian dokter tidak membenarkan hal itu. Jika terus-terusan begitu, perkembangan bayi yang ada di dalam perutmu bisa terhambat."

Aku meringis. Pertama karena tidak ku sangka hanya karena kelelahan dan terlalu tegang bisa membuat perutku sesakit itu. Kedua, ku pikir pada awalnya yang sakit adalah bayi yang ku kandung. Namun, dari penjelasan Michi aku sadar bahwa semua rasa sakit itu berasal dari diriku sendiri.

Puas mendapat penjelasan itu, ku alihkan pandanganku untuk melihat sekeliling. Berusaha untuk mencari keberadaan jam dinding atau sejenisnya.

"Jam berapa sekarang?" tanyaku masih dalam posisi mencari keberadaan jam.

Dari ujung mataku ku lihat Michi menoleh ke arah lain—tidak melihat ke arahku. Kemudian ia menjawab, "Kemungkinan besar sebentar lagi Kazune-kun akan datang ke rumah sakit ini."

Pergerakanku langsung terhenti. Ku sunggingkan senyum masamku, "Itu tidak menjawab pertanyaanku."

Michi kembali menoleh untuk memperhatikanku, "Yah, aku yakin setelah bertanya tentang itu, kau pasti bertanya kira-kira kapan Kazune-kun akan datang ke rumah sakit untuk melihat keadaanmu."

Ingin sekali aku menyangkal hal itu, namun ku pikir semakin aku menyangkalnya, semakin terlihat bahwa itu adalah informasi yang ingin ku ketahui sejak awal. Ya, meski pada dasarnya aku memang ingin mengetahui hal itu. Hanya saja, tidak asyik bukan jika aku mengakui hal itu?

Tidak ingin berlama-lama dalam diam, akhirnya aku menghela nafas dan memberi Michi senyum termanisku, "Ngomong-ngomong, terima kasih karena sudah menemaniku. Aku bersyukur tadi ada dirimu di kampus. Setidaknya aku tidak harus diantar oleh Kazune ataupun Kuga-senpai."

Benar, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika tadi salah satu dari dua orang itu mengantarku. Pertama, jika Kazune mengantarku, maka Kuga akan semakin curiga pada kami—aku dan Kazune—setidaknya tentang hubungan kami. Kedua, jika Kuga yang mengantarku... Kazune memang tipe orang yang terlihat cool di luar, namun aku sangat mengenalnya. Dia adalah tipe pecemburu akut dan akan marah—bahkan ngambek—jika dia sudah merasa cemburu total.

Ya, aku sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan tentang rasa cemburu Kazune. Bagiku sangat menyenangkan ketika mengetahui kebenaran bahwa dia merasa cemburu ketika aku dekat dengan orang lain—terutama lawan jenis. Aku bisa menyimpulkan bahwa dia benar-benar menyayangiku karena adanya rasa cemburu itu.

"Sama-sama," timpal Michi sambil memberiku senyum termanisnya juga, "jangan lupa berterima kasih juga pada Himeka. Tanpa adanya dia di ruang kesehatan, aku pasti tidak bisa menengahi Jin-kun dan Kazune-kun."

Aku mengangguk, benar juga. Adu mulut antara Kazune dan Kuga terhenti karena sikap tegas Himeka. Selama hidupku ini, selama aku kenal dengan Himeka, baru pertama kali itu aku mendengar gadis itu bersuara tegas. Itu cukup mengejutkan mengingat sifat asli Himeka yang kental dengan sifat kalem.

Jujur saja, tadi aku sudah bisa mengendalikan diriku—tidak mengerang kesakitan—karena aku terkejut mendengar suara tegas Himeka. Sebenarnya tadi aku ingin menengahi Kazune dan Kuga, namun karena keadaanku sedang tidak memungkinkan untuk melakukan itu, aku membiarkan perkelahian itu berlanjut.

Untungnya Himeka bisa bersikap tegas. Aku yakin Michi sendiri tidak mungkin bisa menengahi perkelahian Kazune dan Kuga. Bukan karena tidak mampu, hanya saja Michi bingung menempatkan posisi. Bisa dibilang serba salah.

Keadaan sempat hening sejenak sebelum terdengar suara dentingan lonceng. Sumber suara berasal dari ponsel Michi. Sang pemilik ponsel langsung tersenyum tak lama setelah ponselnya berbunyi.

Pemuda itu menatapku masih dengan senyumnya. Ia berdiri sembari memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Kemudian ia melambai kepadaku dan berkata, "Aku pamit dulu ya, Hanazono-san. Aku harus menjemput Himeka."

Sontak aku berjingkat pelan, jantungku pun terasa berhenti sebentar. Ku perhatikan Michi yang sudah mulai berjalan mendekati pintu tanpa menunggu tanggapan dariku.

"Tunggu dulu, Michi. Lalu, bagaimana dengan aku?" tanyaku sediki panik. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku jadi panik.

Michi berbalik menatapku ketika dirinya berhasil membuka pintu ruangan yang ku tempati, "Kazune-kun akan menjemputmu nanti. Jangan khawatir, kau tidak perlu menginap di rumah sakit."

"Sekarang aku pergi dulu ya, aku yakin sebentar lagi Kazune-kun akan menjemputmu," lanjut Michi sebelum meninggalkanku sendiri di ruangan.

Aku hanya bisa menghela nafas panjang sembari menatap langit-langit. Ya, setidaknya aku tidak mendapat kabar buruk. Setidaknya aku masih berhasil mempertahankan anakku meski sempat membahayakan nyawanya. Setidaknya aku masih diberi kesempatan lagi untuk memperbaiki diri.

Setelah ini aku bertekad untuk tidak panik ataupun berpikir berlebihan. Akan ku ingat itu karena hal itu bisa membahayakan bayi dan diriku sendiri.

Bunyi gemerisik dari luar jendela ruangan yang ku tempati membuatku tertarik untuk menoleh ke arah jendela. Bermaksud mencari sumber keributan yang memecah keheningan di dalam ruanganku.

Meski samar tapi aku bisa melihat titik-titik air sedang berjatuhan dari langit. Hujan turun secara perlahan, semakin lama semakin deras. Tanpa aku sadari sedaritadi aku terus menatap ke arah luar jendela. Menikmati pemandangan... ah tidak, mengagumi titik-titik air yang mulai membasahi kaca jendela.

Aku tidak mengerti kenapa, tapi aku merasa tenang ketika melihat hal itu. Dan secara kebetulan aku jadi ingat dengan ekspresi serius Kazune.

Dia sering memasang wajah dingin ketika sedang dalam mode serius. Memang sudah wataknya, orang-orang pun otomatis akan merasa takut ketika Kazune sedang serius. Tidak akan ada yang berani melawannya ketika sedang dalam posisi itu.

Tidak, aku sempat berpikiran seperti itu. Namun, aku jadi teringat sesuatu.

Ada seseorang yang berani membantah Kazune ketika dia sedang memasang wajah dingin. Orang itu tak lain adalah Kuga.

Ku pikir Kuga baru berani membantah akhir-akhir ini. Karena jika ku ingat-ingat, dulu saat ada insiden di kegiatan uji nyali, Kazune juga sedang marah besar. Pastinya dia memasang wajah dinginnya saat itu. Pada saat itu pun tidak ada satu orang pun yang berani membantah Kazune. Tidak terkecuali Kuga.

Namun, kejadian saat di kampus tadi sangat berbanding terbalik dengan kejadian saat di uji nyali. Aku jadi heran kenapa Kuga bisa seberani itu padahal tadi Kazune sudah benar-benar marah.

"Karin, kau sudah sadar?"

Suara yang begitu ku kenal tertangkap pendengaranku. Dengan sendirinya kepalaku menoleh ke sumber suara dan mendapati Kazune sedang berdiri di pintu ruangan sambil menatapku lurus-lurus. Tidak ada ekspresi yang terpasang di wajahnya. Meski demikian aku mencoba untuk memberinya senyum termanisku. Aku ingin menunjukkan bahwa semua baik-baik saja.

Tidak ada yang perlu ditakutkan.

Bahu tegang Kazune terlihat melemas, "Nishikiori memberitahuku bahwa tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan," padangannya sempat turun sejenak, "jika semua baik-baik saja, ayo pulang."

Kazune berbalik begitu saja dan mulai melangkah pergi. Dia bahkan tidak menungguku bergerak dari kasur.

Baru saat itu aku sadar bahwa Kazune marah. Entah apa alasannya.

Dadaku langsung terasa sakit ketika melihat ia berbalik dan meninggalkanku. Kami mungkin sudah sering bertengkar, entah itu masalah sepele maupun masalah rumit. Tapi, dari sekian banyak pertengkaran kami, rasa sakit yang ku rasakan sekarang adalah yang paling membuatku menderita.

Ini mungkin efek dari ekspetasiku. Sebelumnya aku sangat berharap Kazune datang menjemputku dengan wajah khawatirnya—sama seperti biasa. Namun, yang ku dapat malah sebaliknya.

Kazune terlihat tidak peduli, hanya dengan mengetahui bahwa tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan dia sudah bisa bersikap tidak peduli. Seakan mengkhawatirkanku adalah sesuatu yang berlebihan.

Rasanya badanku jadi semakin lemas. Aku sudah menantikan saat-saat ingin bermanja dengan Kazune, namun sepertinya aku tidak bisa mendapatkan hal itu sekarang. Ya, aku yakin besok dia sudah bisa bersikap biasa lagi. Setelah itu aku akan mengambil jatah bermanja-manjaku.

Jadi, perlahan mulai ku gerakkan badanku untuk turun dari kasur dan berjalan mendekati pintu. Baru selangkah aku keluar dari pintu, ku lihat Kazune sedang menungguku di ujung lorong. Ya, meski ekspresi di wajahnya masih terlihat dingin.

Meski demikian aku bersyukur. Setidaknya dia tetap menungguku. Jadi, kami berjalan menuju parkiran secara beriringan.

...

Aku sudah menduganya sebelum ini, namun aku masih merasa canggung ketika suasana di dalam mobil hening. Hanya terdengar suara deru mesin mobil dan rintik hujan.

Posisinya saat ini Kazune sedang berada di belakang kemudi, fokus menatap depan. Aku sendiri sedang duduk di kursi penumpang samping Kazune sambil menatap depan juga. Memperhatikan tetes air yang menerjang kaca bagian depan mobil.

Hujannya masih cukup deras ketika kami berada di perjalanan, alhasil keadaan jalanan jadi agak tidak terlihat jelas karena hujan tersebut. Meski demikian, Kazune tetap mengendarai mobil dengan kecepatan... yang bisa dibilang cukup kencang. Jujur itu membuatku agak was-was.

Aku tahu, Kazune adalah orang paling hati-hati yang pernah ku kenal. Itu sebabnya sekarang aku agak was-was. Tidak biasanya dia melakukan hal ini, jadi aku belum terbiasa menghadapinya.

Meski Kazune marah sekalipun, dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Kejadian ini adalah yang pertama kalinya bagiku.

"Akan ku antar kau ke apartemen. Seminggu ke depan kau harus tinggal di sana," ucap Kazune tiba-tiba.

Sontak aku langsung menatapnya dengan tatapan kaget. Antara kaget karena tiba-tiba ia bicara dan kaget karena pernyataan yang baru saja dilontarkan oleh Kazune.

Benar juga. Aku baru ingat bahwa kami memiliki apartemen. Tidak, sebenarnya bukan aku sang pemilik apartemennya. Tapi, Kazune. Aku pasti sudah pernah cerita sebelumnya. Keluarga Kujyou adalah keluarga kaya raya, tentu saja mereka memiliki aset dimana-mana.

"Apa sedang terjadi sesuatu?" tanyaku hati-hati. Aku baru sadar wajah Kazune masih sama kakunya ketika kami berada di rumah sakit.

Helaan nafas berat keluar dari mulut Kazune, "Semua sudah sepakat, kami akan melaksanakan latihan dasar kepemimpinan di rumah. Bisa disebut rumah kita akan dijadikan basecamp. Jadi, selama seminggu ini kau harus mengungsi."

Rahangku langsung tertarik gravitasi. Aku sudah pernah mendengar ini sebelumnya, tapi tidak ku sangka Kazune akan membiarkan hal itu begitu saja. Ku pikir dia tidak akan setuju.

"Aku sudah berusaha untuk menjelaskan pada teman-teman agar tidak menjadikan rumah kita sebagai basecamp. Tapi, akhirnya aku terpojok dan hanya bisa pasrah," jelas Kazune seakan bisa membaca pikiranku.

Mendengar itu aku benar-benar dibuat bungkam. Aku tidak tahu harus berkomentar apa dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Maksudku, aku tidak masalah jika keadaanku sedang baik-baik saja. Barusan aku mengalami masa-masa sulit—sebut saja tertekan—dan sekarang aku disuruh tinggal sendiri di apartemen.

Bukannya orang yang tertekan—baca : stres—harus ditemani? Orang yang tertekan tidak seharusnya ditinggal sendiri.

Tanpa aku sadari, air mata sudah menggenang di ujung mataku. Dengan sendirinya air itu menetes melewati pipiku. Seakan sadar aku sudah meneteskan air mata, Kazune melirikku sebentar. Tak lama kemudian laju mobil yang kami tumpangi jadi memelan. Kazune meminggirkan mobil dan memarkirkannya di dekat trotoar.

Ia menarik rem kuncinya sembari menatapku secara langsung. Ekspresi dingin yang semula terpasang di wajahnya kini sudah hilang. Hanya saja sekarang dia tidak berusaha menenangkanku. Kazune sedang memasang ekspresi datar, sebut saja tanpa ekspresi.

"Aku sudah berusaha, bukan berarti aku membiarkan mereka masuk ke rumah kita begitu saja," jelas Kazune lagi, kini nadanya agak lebih kalem.

Aku sudah menduga itu, namun aku tetap saja tidak bisa menerima hal itu begitu saja. Aku sudah mengharapkan ada sesuatu yang baik terjadi padaku setelah penderitaan yang ku rasakan sebelumnya. Hanya saja ekspetasiku itu tidak sesuai realita.

Ku tarik nafasku kuat-kuat sembari mengalihkan pandangan ke arah luar jendela. Mencoba untuk memperhatikan rintik hujan yang sudah mulai reda. Dalam hati aku terus berteriak untuk menenangkan diriku sendiri. Aku harus bisa bersikap tenang agar pikiranku jadi jernih.

Memang benar, tidak mungkin jika aku tinggal serumah dengan teman-teman seangkatanku—beserta teman-teman Kazune. Untuk kejadian beberapa hari yang lalu pengecualian. Tentunya aku tidak mungkin bisa melakukan itu lagi karena akan terlalu berbahaya untuk melakukannya lagi.

"Bagaimana dengan bajuku?" tanyaku berusaha untuk berbicara dengan nada tenang.

"Himeka akan mengemasi bajumu. Dia dan Michi akan datang ke apartemen setelah mengambilkan barang-barang yang kau butuhkan," jelas Kazune.

Sekarang aku mengerti kenapa Michi meninggalkanku sendiri di rumah sakit sebelum Kazune tiba. Ternyata dia punya tugas lain, bahkan sampai detik ini Kazune, Himeka dan Michi berusaha untuk menutupi rahasia antara diriku dan Kazune. Mereka adalah orang profesional. Tentu saja mereka tidak akan menunjukkan gelagat yang mencurigakan. Benar-benar diluar ekspretasiku.

Ini memang sesuatu yang tidak ku suka, aku harus mengungsi dari rumahku sendiri hanya karena rumahku akan digunakan untuk suatu acara yang tidak ada hubungannya dengan diriku. Walau tidak suka sekalipun aku harus tetap melakukannya demi kebaikanku sendiri.

Ya, aku yakin Kazune memintaku untuk melakukan hal ini karena demi kebaikanku sendiri.

Ku hapus bekas air mata yang tertinggal di pipiku sembari menatap Kazune secara langsung, "Baiklah, untuk seminggu ke depan aku akan tinggal di apartemen."

Mau bagaimanapun tidak mungkin aku mendahulukan egoku. Apalagi kami sudah melakukan perjanjian, sebisa mungkin kami harus bersikap fleksibel untuk menutupi hubungan kami. Tidak boleh ada yang egois ketika sedang dalam keadaan genting.

Setelah sekian lama akhirnya aku melihat senyum Kazune. Meski senyum yang kini terukir di bibirnya bukanlah senyum lebar. Dari sorotan matanya, Kazune terlihat lega dengan keputusanku.

Tangan Kazune terulur, ia mengelus ujung kepalaku pelan sembari memposisikan diri untuk melihat ke depan lagi. Tanpa berkomentar apapun ia melepas rem kuncinya dan menginjak pedal gas secara perlahan. Mobil melaju dengan pelan di jalanan. Berjalan menuju apartemen milik keluarga Kujyou yang sudah lama tidak ditempati.

...

Cukup mengejutkan karena Himeka dan Michi sudah berada di apartemen ketika aku dan Kazune sampai di lokasi. Mereka berdua berinisiatif untuk membersihkan apartemen. Ya, karena apartemennya sudah lama tidak ditempati—dan tidak ada yang membersihkan juga—keadaan di dalam apartemennya bisa dibilang tidak baik. Meski ya, aku bisa menyebut apartemen milik keluarga Kujyou ini termasuk apartemen elit.

Beruntung karena posisi kamar berada di lantai 10. Aku bisa melihat pemandangan kota dengan baik dari ketinggian ini. Selain itu, poin plus-nya adalah apartemen ini cukup luas. Ada dua kamar tidur—satu kamar tidur utama dan satu kamar tidur biasa. Di kamar tidur utama ada kamar mandi dalam. Di luar pun ada dua kamar mandi untuk umum.

Ruang tamu dan ruang santai—ruang tv—pun ada di dalam apartemen ini. Dapur berada di dekat ruang tamu. Semuanya begitu sempurna, ini adalah tempat tinggal yang cocok untuk orang-orang yang membutuhkan ketenangan.

Namun, tidak cocok untuk diriku yang sedang dalam keadaan seperti ini. Aku yakin Kazune ingin aku merasa nyaman saat tinggal di sini, dari beberapa apartemen yang dimiliki keluarga Kujyou, dia memilihkanku apartemen terbaiknya.

Sesampainya di apartemen, Kazune langsung berinisiatif membantu Michi dan Himeka untuk bersih-bersih. Aku sendiri... sedang berdiri terpaku di tengah ruang tamu sambil memperhatikan ketiga orang itu sibuk dengan urusannya. Entah berapa lama aku terpaku di tempat, yang pasti Kazune, Himeka dan Michi sudah selesai membersihkan seluruh ruangan.

"Karin, kau tidak perlu ikut membantu kami. Istirahatlah, kau membutuhkan itu," ucap Kazune sambil menyeka keringat di pelipisnya. Padahal ruangan ini ber-AC, bagaimana bisa ia berkeringat.

Nah, tapi aku tidak ingin memikirkan itu. Satu-satunya hal yang ada di pikiranku sekarang adalah nasibku ke depannya. Mungkin ini terlalu berlebihan, tapi aku merasa hidupku bakal hampa jika aku tinggal di apartemen ini sendirian. Aku tidak mempermasalahkan hal itu jika saja aku masih lajang. Aku sudah mulai terbiasa hidup dengan orang lain sekarang.

"Karin-chan, kamu baik-baik saja?" Himeka ikut bicara karena aku tidak segera menanggapi.

Sontak langsung ku tatap mata bulat gadis kalem itu sambil menyunggingkan senyum. Aku menggeleng dengan panik, "Aku baik-baik saja."

Namun sepertinya tidak ada orang yang percaya dengan jawabanku karena setelah itu ketiga orang di hadapanku kompak menatapku dengan pandangan iba. Tidak, kecuali Kazune. Dia sedang memasang wajah penuh selidik.

Cepat-cepat aku mengibaskan tangan di depan wajah, "Aku tidak bohong. Aku sudah baik-baik saja, tapi sepertinya aku memang harus istirahat lagi," ku gerakkan kakiku untuk melangkah mendekat ke arah kamar tidur utama, "aku akan membaringkan diri di kasur."

Ku lewati Himeka, Kazune dan Michi tanpa mengucapkan apapun lagi, mereka pun memilih diam sama seperti diriku. Pada akhirnya aku berhasil sampai di kamar tidur utama dan itu membuat diriku menghela nafas lega. Aku tidak tahu mengapa, tapi rasanya tadi aku sempat tertekan saat menghadapi Kazune dan yang lainnya.

Aku pun baru sadar bahwa sedaritadi aku sudah mencengkram kemejaku sendiri—di bagian dada. Ketika sadar segera ku lepas cengkraman tersebut dan bergegas mendekati kasur.

Baru saja pantatku bersentuhan dengan kasur empuk, dari arah pintu kamar terdengar suara kalem Himeka yang memanggil namaku. Sontak aku menoleh dengan panik karena kaget. Namun, dengan cepat langsung ku rubah mimikku sembari memberi gadis itu senyum termanisku.

"Ada apa, Himeka?" tanyaku ketika ia tidak segera melangkah masuk ke dalam kamar.

Himeka terlihat ragu, "Bolehkah aku masuk?" ia bertanya dengan nada hati-hati.

Rasa tidak tega langsung meruak dalam dadaku. Kalau begini aku jadi seperti orang jahat. Bahkan Himeka, orang terdekatku, jadi takut mendekatiku.

Ku lemaskan bahuku yang kaku—aku bahkan baru sadar bahwa sedari tadi badanku sedang tegang. Perlahan ku hela nafas berusaha agar Himeka tidak mendengarnya. Setelah merasa benar-benar tenang, ku tepuk kasur yang ada di sisi kiri tubuhku.

"Silahkan. Duduklah sini," tanggapku berusaha untuk bicara dengan nada kalem.

Himeka membalasku dengan senyum sembari melangkah masuk ke dalam kamar. Tanpa bicara apapun, dia duduk di sampingku dan menghela nafas panjang.

"Kazune-kun dan Michi sedang masak makan malam. Pasti akan menyenangkan," gumam Himeka seakan bicara sendiri, "ku dengar tadi mereka akan memasak makanan kesukaanmu, Karin-chan."

Mendengar itu aku sangat paham bahwa Himeka berusaha untuk menghiburku. Ya, ketiga orang itu pasti sudah paham aku sedang tidak bersemangat. Dalam artian mereka paham bahwa aku tidak sedang baik-baik saja. Seburuk itukah aktingku? Padahal aku sudah berusaha untuk terlihat baik-baik saja.

"Benarkah?" aku berseru dengan riang, "menu makan malam kali ini adalah belut?"

Himeka mengangguk dengan yakin, ia tersenyum lega setelah melihatku berubah jadi riang, "Itu adalah ideku. Aku pikir selain jadi makanan kesukaanmu, belut juga memiliki banyak nutrisi. Pastinya nutrisi itu baik untukmu saat ini yang sedang hamil."

Pada awalnya ku pikir Kazune memiliki inisiatif untuk menghiburku karena ia akan meninggalkanku sendiri di apartemen yang dulunya pernah ia tinggali. Namun, ternyata dugaanku salah. Ya, apapun itu. Meski aku sedikit kecewa, namun Himeka sudah berusaha untuk membuatku senang. Aku harus menghargainya.

Segera ku rangkul gadis kalem itu sembari berterima kasih, "Tidak salah lagi, kamu memang punya hati bagai malaikat!" seruku makin mengeratkan pelukan.

Himeka membalas pelukanku sambil tertawa kecil.

...

Ku tatap langit-langit kamar yang sedang ku tempati, berwarna putih bersih. Hal itu berhasil mengingatkanku pada langit-langit rumah sakit yang baru saja ku datangi tadi sore. Setelah itu, kejadian beberapa jam sebelumnya kembali terlintas dalam benakku. Bagaikan film yang sedang diputar di bioskop.

Lama aku terpaku, pada akhirnya kelopak mataku bergerak tertutup. Ku hela nafasku pelan sembari merubah posisi tidur menghadap ke samping kanan. Ada bagian kosong di sana. Aku sudah terbiasa berada di posisi tidur ini—tidur di sisi kiri kasur—dan sekarang aku tidak bisa merubah kebiasaanku dalam semalam. Hal ini pun berhasil mengingatkanku dengan sosok Kazune.

Samar-samar ku lihat bayang-bayangnya yang sedang menggunakan baju tidur sedang terpejam dengan posisi tidur menghadap ke atas. Tangannya ia tautkan satu sama lain dan ia posisikan di atas dadanya. Benakku berhasil membuat visual nyata tentang dirinya karena aku bisa melihat dengan jelas wajah tidur Kazune, sangat rinci sekali.

Untuk kesekian kalinya aku menghela nafas. Ku alihkan pandanganku untuk melihat jam yang tertempel di salah satu dinding kamar. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam, namun aku tidak merasa ngantuk sama sekali.

Akhirnya aku memutuskan untuk bangun dari tidurku dan meraih ponsel yang berada di meja kecil tepat di samping kasur. Ku pencet tombol lampu sehingga lampu utama kamar menyala dan lampu tidur mati.

Perlahan ku turunkan kakiku dari kasur dan bergerak keluar kamar. Kebiasaanku sejak dulu, ketika aku sedang insomnia, aku selalu menjadikan balkon untuk dijadikan sebagai tempat menenangkan diri.

Sayangnya satu-satunya balkon di apartemen ini berhubungan langsung dengan ruang tamu, jadi aku harus keluar kamar dulu agar bisa mengakses balkon.

Aku tidak ingin membesar-besarkan tapi, khusus untuk ruang tamu—sebut saja ruang tengah—lampu di ruangan itu sengaja dibuat otomatis. Sebut saja sensor gerak. Jadi, ketika ada orang yang bergerak masuk ke dalam ruangan, lampu akan otomatis menyala.

Perhatianku langsung tertuju ke arah gorden berwarna putih yang menutupi jendela kaca yang akan membawaku ke balkon. Cukup lama aku terdiam di tempat sambil memperhatikan gorden, akhirnya ku putuskan untuk melanjutkan perjalananku.

Tanpa basa-basi ku buka kunci jendela dan melangkah keluar. Balkon yang ada di apartemen tidak sebesar balkon di rumahku, namun pemandangan yang ku lihat dari balkon ini berhasil menutupi kekurangannya. Lantai 10 cukup tinggi juga ternyata.

Dan benar saja, perasaanku langsung terasa tenang ketika melihat hamparan lampu malam kota dari kejauhan. Layaknya kunang-kunang yang berkedip di kegelapan. Saat aku mendongkak pun bintang-bintang bersinar dengan terang seakan sedang berusaha keras untuk menghiburku. Ya, meski ada beberapa awan tipis yang menghalangi bintang di atas sana.

Ini benar-benar tidak terduga karena kedua ujung bibirku terangkat. Sebelumnya aku berpikir bahwa aku bakal susah untuk tersenyum sampai aku bisa kembali tinggal di rumah bersama Kazune. Tapi... ya hal tidak terduga selalu terjadi. Aku tidak mempermasalahkannya karena ini adalah hal yang baik.

Dengan sendirinya tanganku bergerak ke arah perut dan mengelusnya dengan hati-hati, "Maafka aku ya, kamu pasti tersiksa karena aku bersikap egois terus-terusan."

Tanganku yang bebas menggenggam pagar balkon, terus ku arahkan pandanganku ke atas. Aku memang suka melihat pemandangan malam kota, tapi aku lebih suka lagi melihat bintang di langit malam.

Lagi-lagi tanpa ku perintah, otakku kembali memutar kenangan saat makan malam yang baru saja ku lewati beberapa jam lalu. Bukan kenangan buruk, jujur saja. Karena selama makan malam Kazune benar-benar memanjakanku. Meski ya, ekspresi yang ia pasang tidak semenenangkan biasanya. Ada sesuatu yang sedang ia tahan, jauh di dalam lubuk hatinya. Entah apa.

Aku sangat ingin menanyakannya. Tapi, mengingat watak Kazune aku jadi urung melakukan hal itu. Aku yakin, dia akan menceritakan hal itu jika dia sudah siap. Sekarang aku harus bisa berpikir positif.

Selama makan malam pun Himeka dan Michi berusaha untuk mencairkan suasana. Michi tidak henti-hentinya melakukan hal konyol dan Himeka selalu menanggapi hal itu dengan sifat polosnya.

Hal itu berhasil mengingatkanku pada profesionalitas mereka, nyatanya mereka bisa melakukan itu dengan sangat natural meski aku tahu tujuan mereka. Intinya, aku benar-benar terhibur. Itu artinya mereka berhasil melakukan misi dengan baik.

Ujung bibirku semakin meninggi. Rasa syukur segera menyeruak dalam dadaku. Setidaknya aku masih punya keluarga dan sahabat yang masih peduli denganku meski rintangan yang menghadangku banyak sekali. Bagaikan badai yang berhembus tak hentinya.

"Cukup itu saja," gumamku sendiri, lebih ke mengingatkan diri agar bisa bersyukur dengan apa yang ku miliki saat ini.

Aku harus bisa fokus dengan apa yang ku miliki sekarang.

...

Keesokan harinya aku bangun cukup siang. Untungnya hari ini aku baru ada kelas setelah tengah hari. Jadi, aku bisa bersantai sedikit dengan memasak sarapanku sendiri beserta mandi dan rendaman air hangat sampai airnya jadi dingin.

Masalah rutinitas kuliah, aku sudah biasa datang ke kampus menggunakan taksi. Memang terkadang Kazune mengantarku—terkadang Himeka juga menjemputku dan mengajakku pergi ke kampus bersama. Ya, orang-orang kampus melihat kami sebagai sepupu jauh. Jadi, kadang-kadang berangkat kuliah bersama tidak masalah.

Sesampainya di kampus aku langsung berjalan menuju ruang kelasku karena memang aku sengaja berangkat agak mepet. Itu juga ku lakukan untuk melindungi diriku sendiri, maksudnya sekarang aku sedang menghindari Kuga dan Rika. Jika aku terlihat sedang sendirian di luar kelas, sudah pasti aku akan jadi target mereka.

Usai melewati lobi, aku berbelok ke arah kiri dan berjalan di lorong. Awalnya memang aku berniat seperti itu. Namun, ada sesuatu yang berhasil menghentikan langkahku. Sebuah kerumanan mahasiswa angkatanku terlihat sedang asyik bisik-bisik dengan kelompok masing-masing.

Pada awalnya ku pikir mereka membicarakan aku—yah, aku kemarin telah membuat keributan—namun ternyata bukan itu yang mereka omongkan. Topiknya lain, aku bisa yakin karena saat aku melewati kerumunan itu tidak ada satu orang pun yang menatapku. Mereka masih sibuk berbisik-bisik. Aku bisa bernafas lega ketika berhasil melewati kerumunan.

Aku sedikit tidak paham sebenarnya. Sebentar lagi kelas akan dimulai tapi mereka masih belum juga masuk ke dalam ruangan.

Tidak ingin memikirkan hal itu, ku lanjutkan langkahku menuju ke ruang kelas.

Sesampainya di pintu kelas, aku terpaku di depannya. Kelas terlihat sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk secara random di bangku dalam ruangan itu. Tiga orang sedang berbincang dengan wajah serius. Satu orang yang agak jauh dari tiga orang itu sibuk membaca buku seakan tidak tertarik dengan keadaan di sekitarnya. Jauh di ujung belakang deretan bangku ada anak yang asyik bermain ponsel.

Pandanganku pun terhenti ketika aku melihat sosok gadis yang ku kenal. Miyon, gadis itu sedang duduk di barisan depan sambil menatapku dengan pandangan yang susah ku artikan. Antara bingung, sedih dan iba. Aku yakin ia sudah memperhatikanku sedaritadi, anehnya dia tidak segera menyapaku.

Aku jadi ingat, kemarin dia harus melihat Kazune dan Jin beradu mulut. Ditambah lagi Himeka yang sedang marah. Ia pasti terguncang dan terganggu dengan itu.

Mencoba untuk tidak peduli, ku sunggingkan senyumku sembari berjalan mendekati Miyon sambil melambai. Ku panggil nama gadis itu dengan nada riang.

Bukannya membalas sapaanku dengan segera, Miyon malah mengerutkan dahi khawatir sambil menautkan jarinya satu sama lain. Tautan itu mengerat sampai membuat tangannya bergetar.

"Karin-chan," panggil Miyon dengan suara pilu, "kamu sudah tahu beritanya?"

Jantungku seakan berhenti sejenak ketika Miyon menanyakan itu. Aku punya firasat buruk tentang berita yang dimaksud gadis di hadapanku ini.

Ku teguk ludahku dengan sesah payah sebelum menanggapi, "Berita tentang apa?"

Bahu Miyon melemas. Ia berdiri dan berjalan mendekatiku. Saat berada di sampingku ia menepuk pundakku pelan dan berkata, "Ayo ikut aku."

Rasanya ada orang yang sedang mengguyurku dengan air es. Aku sempat membeku sejenak sebelum berbalik dan membuntut di belakang Miyon. Gadis itu pun terus diam saat kami berada di perjalanan.

Langkahku terhenti ketika melihat Miyon berhenti melangkah dan menoleh ke arahku masih dengan ekspresi gusar. Lagi-lagi tanpa itu kembali menggerakkan kepala, menoleh ke arah lain. Segera ku ikuti arah pandangnya. Baru saat itu aku sadar bahwa di ujung lorong ku lihat ada ruang sidang yang biasa digunakan untuk rapat dewan. Ruangan yang biasa digunakan anggota inti BEM untuk rapat juga.

Aku tidak tahu seberapa lama aku berdiri terpaku di tempatku. Miyon pun tidak bergerak dari posisi awalnya dan terus memperhatikan ruang sidang. Sama seperti diriku.

Tiba-tiba saja pintu kaca hitam ruang sidang bergerak terbuka. Ku lihat ada Sakurai—ketua BEM baru—dan wakil ketuanya berjalan keluar ruang sidang. Mereka sedang berbincang sambil memasang ekspresi serius.

Kedua orang itu berdiri di depan pintu ruang sidang selama beberapa saat sebelum melangkah lagi sambil menghadap depan. Saat dua orang itu menatapku—atau mungkin menyadari keberadaan Miyon—mereka langsung menunjukkan ekspresi... sedih.

Miyon bergegas mendekati sahabatnya itu, "Yuki, bagaimana hasil rapatnya?" tanya gadis itu dengan nada khawatir.

Sakurai berhenti melangkah saat berada di depan Miyon. Ia bungkam sambil menatap lurus sahabatnya. Kemudian ia beralih ke arahku, "Kau yang mengajak Hanazono-san ke sini?"

Miyon menoleh ke arahku dengan wajah panik, "Ya. Ku pikir dia juga harus tahu tentang masalah ini karena Karin-chan adalah saudara jauh Kujyou-senpai."

Nyawaku terasa melayang saat aku mendengar kata 'masalah' dan 'Kujyou-senpai'. Sudah pasti, aku yakin sekali orang yang mendapat masalah adalah Kazune.

Aku menunggu-nunggu penjelasan dari Sakurai, namun pemuda itu tetap bungkam sambil terus menatapku. Ya, dia terus menatapku tanpa menunjukkan ekspresi. Tidak marah tidak pula sedih.

Dari arah belakang Sakurai terdengar suara riuh yang berhasil membuat pandanganku teralih. Segera ku tatap pintu ruang sidang yang kembali terbuka. Dari dalam ruangan itu keluarlah Himeka dan Michi.

Jantungku langsung terpacu ketika melihat Himeka sedang menangis. Michi yang ada di sampingnya berusaha dengan keras untuk menenangkan Himeka. Sontak aku langsung berlari mendekati gadis tersebut.

"Himeka-chan," panggilku dengan nada panik, "apa yang terjadi?"

Michi dan Himeka kompak menatapku. Mereka terlihat bengong sebentar. Lama terdiam, Himeka kembali menangis. Bahkan tangisannya semakin menjad-jadi setelah ia melihat diriku.

Aku beralih menatap Michi yang terlihat panik. Ia berkali-kali mengalihkan pandangan—menatapku dan menatap Himeka secara bergantian—seakan tidak tahu harus menjelaskan apa.

"Dasar gadis bodoh!"

Seruan itu berhasil mengalihkan perhatianku. Lagi-lagi arah pandangku tertuju pada pintu ruang sidang yang bergerak terbuka.

"Sejak awal aku sudah tidak setuju untuk melakukan itu dan kau bersikeras untuk melakukannya. Sekarang siapa yang kena?! Kita semua!"

Suara Kuga menggelegar di lorong. Ku lihat sosoknya sedang berjalan keluar ruang sidang, namun pandangannya tertuju ke arah dalam ruangan. Lebih tepatnya ke arah ruang rak sepatu yang memisahkan lorong dan ruang sidang. Aku bisa mengerti itu karena aku pernah sekali masuk ke dalam ruang itu.

Jin memasang ekspresi marah, tidak ku sangka dia akan bisa memasang ekspresi seperti itu. Ini tidak terduga sama halnya saat aku tidak menduga Kazune bisa memasang wajah marah juga. Aku bisa maklum karena Kazune memiliki wajah dingin. Namun, Jin? Dia adalah orang periang, sama sekali tidak menyangka dia akan bisa memasang ekspresi seperti itu.

Di belakang Jin, Rika membuntut keluar. Matanya bengkak, wajahnya pun demikian. Posisinya sekarang dia masih sesenggukan. Ya, meski tidak sehisteris Himeka, tapi aku bisa tahu bahwa sebelum ini dia baru saja menangis cukup parah.

Tak lama setelah dua sejoli itu keluar dari ruang rak sepatu, Kazune ikut keluar. Ekspresi yang terpasang di wajahnya adalah ekspresi paling tenang yang pernah ku lihat darinya. Sama sekali berbeda dengan mantan rekannya. Ia memejamkan mata sambil berjalan dengan kalem layaknya seorang bangsawan. Apapun itu, dia kelihatan sangat tenang.

Ku pikir aku sudah tidak bisa terkejut lagi setelah melihat Jin yang marah dan Rika yang menangis. Namun, ternyata melihat Kazune yang bersikap tenang di saat teman-temannya sedang diselimuti emosi membuatku makin terkejut lagi.

Antara dia sedang dalam mode ketuanya—apapun itu, seorang ketua harus bisa bersikap tenang meski keadaan sedang tidak baik—atau mungkin dia tidak ingin ambil pusing dengan masalah yang ada. Karena ya, ia memiliki segudang masalah yang kini ia pikul dengan pundaknya sendiri.

"Kau juga Kazune!" bentak Kuga tiba-tiba berhenti melangkah sembari mengalihkan pandangan ke arah orang yang ia sebut, "kenapa kau menyetujui usulan Rika?"

Kazune melemaskan bahunya sambil menghela nafas panjang. Kelopak matanya perlahan terbuka memperlihatkan bola mata warna biru laut yang ia miliki. Tanpa merubah ekspresi, ia balas menatap Kuga.

"Aku sudah menolaknya, bukan?" tanggap Kazune dengan suara tenang pula, "kau sempat menatapku dengan pandangan tidak enak saat aku menolaknya. Sekarang maumu apa? Melimpahkan semua tanggung jawab padaku?"

Sontak Kuga langsung terpaku. Semua pandangan kini tertuju pada Kazune. Aku yakin Miyon, Sakurai dan wakil ketua BEM baru pun menatap ke arah yang sama.

Merasa Kuga tidak bisa menjawab, Kazune beralih menatap Rika, "Aku punya alasan kuat kenapa aku menolak usulanmu. Sekarang kau sudah bisa paham dengan alasan itu, kan?"

Rika langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya sendiri, suara isak terdengar tak lama kemudian. Melihat itu, Kazune kembali menghela nafas panjang. Ia alihkan pandangan ke arah lain, berusaha untuk tidak melihat orang-orang di hadapannya.

"Percuma saja jika aku bicara panjang lebar. Untuk saat ini kalian sudah cukup mendapat banyak kritikan dari para dosen. Kita akan bicarakan masalah ini setelah semuanya tenang, lebih baik sekarang kita bubar dan kembali ke kelas," ucap Kazune. Pandangannya berubah jadi kosong.

Ia pejamkan lagi matanya sembari melangkah kembali. Ku pikir dia akan tetap memejamkan mata, namun dugaanku itu salah. Setelah wajahnya menghadap depan, Kazune membuka matanya lagi. Langkahnya pun terhenti ketika ia sadar dengan keberadaanku.

Ekspresi yang ia pasang tidak berubah sedikitpun. Ku pikir dia akan merasa bersalah atau mungkin khawatir. Tapi, tidak demikian. Kakinya kembali bergerak, ia melangkah dengan tenang melewati Rika dan Kuga. Ia tidak mengucap satu katapun. Bahkan saat ia melewati Himeka, Michi dan diriku.

...

Ku peluk erat kedua kakiku sambil menaruh dagu di atas kedua lututku. Hari ini aku merasa sangat lelah, lelah menangis lebih tepatnya. Tanpa bantuan kaca pun aku sadar bahwa sekarang mataku bengkak. Pastinya, sejak aku pulang dari kampus sampai saat ini pukul sembilan malam aku terus-terusan menangis.

Setidaknya air mataku sudah tidak keluar karena persediaannya sudah habis. Andaikan masih banyak, pasti sampai saat ini air asin itu akan terus keluar. Badanku terasa lemas sekali, terlepas dari aku belum makan siang dan makan malam.

Ah, sudah jelas bahwa penyebab diriku seperti ini karena kejadian tadi di depan ruang sidang. Bukan karena aku dicampakkan oleh Kazune, melainkan berita yang tersebar setelah kejadian itu.

Entah ke berapa kalinya ku hela nafasku sambil sesekali memindahkan posisi kepala. Menghadap depan, menghadap kanan, menghadap kiri, terkadang juga ku sembunyikan wajahku di antara kedua lutut. Ini sangat melelahkan jujur saja. Fisik dan batinku tersiksa.

Lampu di ruang tengah yang sedang ku tempati tiba-tiba menyala. Seperti yang sudah ku jelaskan sebelumnya. Lampu di ruang tengah apartemen yang sedang ku tempati ini sengaja disetel otomatis. Pergerakan kecil yang ku lakukan sedaritadi tidak tertangkap sensor geraknya. Jadi, pasti ada orang lain—atau mungkin makhluk lain—yang masuk ke dalam ruangan ini.

Sontak aku langsung mendongkak untuk mencari tersangka atas menyalanya lampu ruang tengah. Sekitar lima meter dariku berdirilah Kazune lengkap dengan kantung belanjaannya. Ia balas menatapku sambil memasang wajah tanpa ekspresi.

Dengan keadaanku yang sebelumnya—lemas dan tidak berdaya—entah darimana aku mendapatkan kekuatan untuk bergerak turun dari sofa yang ku tempati dan cepat-cepat mendekat ke arah Kazune. Suara dalam hatiku terus menyemangatiku agar segera mendekatinya.

Sesampainya di hadapan Kazune, ku ayunkan tanganku. Dengan seluruh tenaga yang ku miliki, ku tampar pipi Kazune sampai mengeluarkan suara yang cukup keras. Berhasil menamparnya, nafasku langsung memburu. Tidak ku sangka air mataku kembali menggenang dan menetes melewati pipiku.

"Berani-beraninya dirimu menunjukkan batang hidungmu di hadapanku!" aku pun berteriak dengan seluruh tenaga yang ku miliki.

Badanku langsung lemas setelahnya. Aku jatuh terduduk. Kembali ku peluk kedua kakiku sembari menyembunyikan wajah di antara lutut. Isakku pun pecah.

Keadaan jadi hening—ah tidak, hanya suara isakku yang memenuhi ruangan. Kazune tidak berusaha untuk menanggapiku. Bahkan aku yakin, dia tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya semula setelah aku menamparnya dengan keras.

Perlahan bisa ku rasakan ada tangan yang mengelus ujung kepalaku. Kecupan kecil mendarat di keningku, "Tidak masalah jika kau tidak ingin melihat wajahku untuk sementara waktu ini, kau memang butuh waktu untuk menenangkan diri," di samping telinga bagian kananku terdengar suara lembut milik Kazune, "sekarang kau bisa istirahat. Aku akan menyiapkan makan malam, sarapan serta bekal untukmu besok. Setelah masak aku akan segera pergi."

Tanganku terkepal dengan sendirinya. Ku gigit bibir bawahku kuat-kuat berusaha untuk menahan isakku agar tidak menjadi-jadi.

Kazune menepuk-nepuk pelan ujung kepalaku sembari bicara lagi, "Aku tidak melarangmu untuk membohongi dirimu sendiri. Menangislah ketika kamu sedih. Berteriaklah ketika kamu marah. Tapi, satu pesanku. Apapun yang terjadi kau harus tetap menjaga kesehatanmu, makanlah yang banyak dan jangan biarkan stres menguasaimu. Ingat, ada nyawa lain yang bergantung pada dirimu sekarang."

Setelah itu bisa ku rasakan Kazune menarik tangannya dari kepalaku. Terdengar suara langkah kakinya yang melangkah pergi menjauhiku. Tanpa mempedulikan aku lagi, dia mulai sibuk di dapur untuk membuatkanku makan malam, sarapan serta bekal untuk ku bawa ke kampus besok.

Selama Kazune memasak, aku masih berada dalam posisi awalku, duduk meringkuk di lantai sambil menyembunyikan wajah. Lama kelamaan isakku mulai hilang, air mata pun sudah tidak keluar dari mataku. Tanpa aku sadari, aku terlelap dalam posisi sama karena kehabisan energi.

Tsuzuku ~

Akhirnya selesai juga. Benar-benar perjalanan panjang untuk membuat chapter ini. Sebenarnya saya sudah lama mulai ngetik chapter ini, tapi karena beberapa alasan progress-nya jadi terhambat. Salah satunya karena saya sakit. Well, saya tidak mau banyak bicara lagi, yang pastinya, fanfic ini sudah memasuki chapter-chapter terakhirnya. So, jangan lelah untuk menunggu saya update meski satu tahun sekali update-nya. Oke, sudah cukup cuap-cuapnya. Sekarang waktunya sesi balas review.

Ah, sebelum itu. Dengan sangat hormat saya ingin bicara baik-baik kepada readers, viewers, dan reviewers saya. Beberapa saat yang lalu ada yang melapor kepada saya bahwa ada pihak yang meng-copas fanfic ini tanpa ijin saya dan ia tidak mencatutkan nama saya sebagai author-nya. Yuk mari saling menghargai. Saya membuat fanfic ini dengan susah payah dan ide murni datang dari diri saya sendiri. Saya tidak meminta apa-apa, tapi jika masih ada pihak yang berbuat nakal, saya tidak akan segan-segan menegurnya secara personal. Jangan main-main masalah hak cipta. Salam hangat dari saya.

Cica1-san : Halo reader kesayangan. Selamat menunggu lagi, semoga tidak bosan menunggu. Sebentar lagi fanfic ini akan berakhir (spoiler total). Kalau masalah wattpad, mungkin bakal saya pikirkan lagi. Terima kasih atas laporannya. Saya sangat menghargai kejujuran Anda. Doakan semoga saya sehat terus ya lol.

MoonVistheu-san : Jangan baku hantam, tidak cocok untuk mahasiswa *plak. Yah, menurut saya baku hantam itu efek samping dari semangat remaja. Berhubung mahasiswa sudah tidak remaja lagi... jadi begitulah. Terima kasih atas reviewnya.

Silent Reader-san : Saya juga suka banget waktu Kazune cemburu. Karena orang yang hamil muda biasanya terkena anemia, jika terlalu banyak kegiatan atau terlalu banyak tekanan bisa juga pingsan—apalagi kalau orangnya tidak kuat. Well, untuk chapter ini saya buat Karin yang kepanasan *devillaugh*. Terima kasih atas reviewnya.

wartani-san : Sama-sama. Saya juga sangat suka dengan fic yang satu ini. Terima kasih atas reviewnya.

Lia-san : Misalkan jujur, nanti ketahuan dong kalau selama setahun telah membohongi orang satu fakultas? Author masih belum bisa membayangkan hukuman apa yang bakal didapat Kazune jika hal itu benar terjadi *plak. Terima kasih atas reviewnya.

FullMoon15-san : Kadang ada beberapa orang yang malah stress ketika sendiri. So, saya ingin mengambil sifat itu dan menaruhnya di diri Karin. Memang benar, jadi mari kita lihat apakah nanti anaknya Karin dan Kazune bisa bertahan dengan keadaan ibunya yang seperti itu *double plak. Terima kasih atas review panjangnya. Big love!

Nath-san : Terima kasih sudah mau mengikuti cerita saya. Terima kasih juga atas reviewnya.

No name-san : Saya berusaha untuk semangat. Semoga tidak membosankan dan mengecewakan. Terima kasih atas reviewnya.

Yudha-san : Terima kasih atas reviewnya.

Sebelumnya, saya ingin berterima kasih kepada semua yang sudah mau menunggu saya selama beberapa tahun ini. Memang niat awal saya membuat fanfic ini untuk melepas rasa stress saya menghadapi perkuliahan yang begitu rumit. Tidak saya duga ternyata banyak yang suka dengan ceritanya. Well, untuk chapter ini bagaima pendapat kalian? Kurang seru? Kurang panjang? Ada yang aneh? Silahkan tinggalkan review ya, agar saya bisa lebih semangat lagi! Semoga bisa bertemu di chapter selanjutnya!