*Disclaimer*
Bungou Stray Dogs just by Asagiri Kafuka Harukawa Sango
WARN : BoysLove, ABO, LEMON IN THIS CHAPTER, OOC (saya berusaha sebisa mungkin membuat karakter-karakter ini IC tapi ternyata tetap OOC *cry), Typo (always). Saya tidak suka digunjing, mending kita baku hantam di sini kalo ada yang kurang berkenan XD
.
.
CHAPTER XXII
Pagi itu, seluruh tubuh Chuuya ngilu. Dazai benar-benar tidak memberi kemudahan, agak menyesal telah mengizinkan alpha itu lepas kendali. Tapi, yah, memang malam yang bagus. Seks yang bagus. Dazai melakukannya dengan sangat hebat.
Dia kering beberapa kali tapi Dazai tidak peduli hingga waras Chuuya hilang tiga ratus persen dan malah meminta lebih. Sungguh malam panas penuh teriakan ditambah seringai Dazai yang terngiang-ngiang di kepala.
Chuuya ngilu.
Di sebelahnya kini Dazai masih melingkarkan tangan sementara ia yang kebetulan sangat haus tidak bisa bergerak. "Dazai, aku haus." Chuuya memberi perintah dalam kalimat itu sebagai tuntutan pertanggungjawaban atas perbuatan pria yang masih terpejam. "Ambilkan aku minum."
Bukannya bergerak tidak nyaman sebagai respon normal, atau beranjak pergi sebagai kebaikan, Dazai malah menyanggah tubuhnya dengan siku dan meraup bibir Chuuya. Tidak lembut.
"Mmhh—"
Saliva yang jatuh ke kerongkongan diberi Dazai sebagai pengusir dahaga sekaligus menikmati kesempatan ciuman pagi penuh gairah. Demi bintang-bintang, Dazai masih merasakan hasrat beredar di selangkangannya.
Tangan Chuuya yang setia lumpuh membagi stimulasi dengan meremas seprai yang kusut. Dia ingin menggigit lidah Dazai yang memotong napas, namun jujur dia suka ciuman itu.
Dibanding pengaduan, Chuuya lebih memilih melawan dengan menolehkan wajahnya secara paksa memutus pagutan. Ia tahu perlawanan akan membuat Dazai menginginkannya lebih. Seperti memberi kecup-kecup ganas di area leher yang sudah penuh bercak merah. Chuuya sangka telah menghabiskan semua desahnya semalam, tapi ternyata ia masih bisa. "Ahh.." Mereka berdua gila.
"Oh, Chuuya-ku yang nakal ingin dijamah?"
"Hn Dazai hh—"
Dazai memutar tubuh omeganya hingga miring ke samping, pelukannya dari belakang tidak membuat rasa sakit Chuuya berkurang. Ia mengambil kepemilikan Chuuya yang semalam bermain di mulutnya, lalu memulai pelayanan.
"Hahh.." Bokong yang memerah serta rongga manis di sana jelas-jelas masih lecet. Tapi Chuuya menggerakkan pinggul ketika Dazai menyapa dengan ujung miliknya. "Dazai—"
Kini tangan pemuda itu berhenti mengurus ereksi Chuuya dan beralih pada salah satu puncak yang masih terukir bekas gigitan hingga menyisakan nyeri ketika jemari sang alpha menyapa. "Siapa Tuannya sekarang, hm?"
Chuuya mengigit bibir, "Hmp..."
Dazai masuk dengan mudah. Menyentuh semua bagian Chuuya di dalam dan berdenyut memenuhinya. Bukan Chuuya mengabaikan sakit itu, dia hanya menyukai ketika Dazai menambah perih di sana dan mulai bergerak.
Mereka terbaring dan bertumpu pada bahu kanan masing-masing, dengan Dazai hanya menatap tengkuk memerah dan Chuuya terpejam nikmat. "Ah Dazai!" Apa yang terjadi semalam membuat seluruh malu Chuuya berubah menjadi afeksi dan pesona. Dia tidak bisa memungkiri rasa nyaman ketika bersatu dengan pria yang ia anggap alphanya.
"Daz—hnn.."
"Ini terlalu hebat," Dazai menarik paha berisi Chuuya untuk memperketat kurungannya, "tubuhmu, Chuuya."
"Disana—hh" Chuuya menggerakkan pinggul untuk disenggama lebih jauh ketika Dazai menemukan titik manisnya, "Ini menyakitkan."
Detik kemudian ia memekik ketika Dazai memutar tubuhnya lebih jauh. Kini ia telungkup menempel pada kasur sementara alpha itu berada di atasnya.
"Kau lelah, kan? Tetaplah di sana dan biarkan aku mengurus semuanya, sayang?" Jemari Dazai menarik lembut helai jingga itu untuk disampirkan ke belakang telinga. Melihat seluruh punggung mungil yang bergetar membuatnya lebih besar. Dan ketika ia melanjutkan, Chuuya mengabaikan sarannya. Bukannya diam di sana untuk dilayani, pria mungil itu malah menaikkan bokongnya untuk ditancap dan ditarik lebih oleh sang gairah.
"Ahh.. Dazaii—" suara Chuuya yang serak diredam sebuah bantal. "Sakit, Dazai hh sakit.."
Meski mengadu ia tetap bermain. Dazai menyukai orang ini. Bukan sekedar pelampiasan atas semua hasrat, ia menyukai Chuuya karena terlahir memberinya makna kehidupan. Seumur hidup, Dazai selalu melakukan hubungan badan dengan orang-orang yang tidak ia ingat namanya. Setiap malam, pergi ke pub dan bar, menggoda beberapa omega dan beta, lalu berkencan dengan bayaran uang atau sama-sama nikmat. Lalu ketika bertemu dia, Nakahara Chuuya, Dazai menahan semua.
Ketika puncak melanda keduanya, Chuuya yang pertama mengerang dan jatuh.
"Aku sudah bilang."
"Itu.. Hn.." Lenguh lepas bersamaan ketika liangnya diberi kebebasan. "Kau tidak punya batas ya?"
Dazai tertawa renyah membantu Chuuya berbaring dengan baik. Ya ampun, wajah bersemu dengan sepasang berlian biru yang berkilau malah membuatnya kembali naik.
"Ahh Chuuya. Aku butuh satu putaran lagi."
"Gila." Chuuya menerima kecupannya kembali. Kali ini lebih lembut layaknya ciuman selamat pagi biasa. "Aku lumpuh."
"Bohong sekali.." Kenyataan kalau dia masih bisa mengangkat tubuh serta pahanya tadi menjadi bukti. "Lagi pula Chuuya ku tidak kalah dengan mudah."
Dazai meraih sekotak tisu di atas nakas.
"Kau tidak perlu—"
"Perlu."
Chuuya merona ketika Dazai menyapu perutnya untuk membersihkan sperma. Dilanjutkan kepemilikan hingga mata Chuuya terpejam, lalu bagian yang disenggama semalaman. Seperti bayi, Chuuya diam dan hanya bisa berdebar ketika tangan pemuda itu kembali membelai area-area sensitifnya.
"Kau tidak harus lakukan itu."
"Tentu saja aku harus." Dazai mengecup perutnya. "Mau sarapan apa? Aku cuma bisa buat mi instan dan roti panggang."
"Untuk apa kau bertanya?" Chuuya terkekeh kecil. "Roti saja."
"Laksanakan." Dazai beranjak tanpa lupa menutup bagian bawah pasangannya dengan selimut. Sementara Chuuya terbaring di sana memejamkan mata untuk menikmati rasa nyerinya.
Chuuya berbaring di senyap-senyap kesunyian pagi. Matanya terpejam mencoba berhenti bersyukur karena bertemu dengan Dazai dan bertahan sampai detik ini. Mereka tidak cocok sebenarnya. Dazai seperti laut di kedalaman yang tidak terbaca sedangkan Chuuya adalah permukaan toska yang selalu ingin menyentuh kebebasan matahari. Tapi kedua bagian itu yang membuat dunia indah penuh misteri. Mereka saling melengkapi dan memahami, itulah alasan bertahannya cinta belia yang tumbuh.
Ketika kantuk hampir menggoda lagi, sebuah tangan membelai surainya lembut.
"Masih ngantuk?" wajah Dazai yang tersenyum seperti malaikat. Ia tidak menunggu Chuuya menguap dan segera menggendong tubuh mungil omega kesayangannya di kedua tangan, "Chuuya berat juga."
"Berisik."
Dazai membawa duduk berpangkuan di sofa. Ia tidak membiarkan Chuuya menyentuh sedikitpun makanan di depan meja melainkan menyuapinya perlahan. Menutupi fakta dia hampir menghancurkan Chuuya menjadi serpihan kelopak bunga kemarin malam, dan berpura-pura menjadi orang suci di pagi harinya.
Chuuya berinisiatif mencuri kecupan di pipi, menularkan manis susu vanila di sana sebelum Dazai mengambil sendiri semua rasa lembut itu dari bibirnya dengan sebuah ciuman dalam.
"Aku mengalah loh, jangan menggoda dan bersabarlah sejenak, mengerti sayang?"
Chuuya mengantar ukiran senyum tipisnya kembali ke bibir Dazai, "aku mencintaimu."
Tertegun, kalap, Dazai memeluk tubuh mungil itu. "Ughh..." Mendengar tawa Chuuya di sela-sela kegiatannya membenam wajah di pundak si omega. "Chuuya curang."
"Kau juga sering," ia menepuk bahu Dazai. "Setelah ini aku mau tidur seharian, ikut?"
"Ikut."
Piring berisi tiga roti panggang dibagi dua, Chuuya makan lebih banyak. Tubuhnya begitu lengket sebab keringat dan ketika ia ingin ke kamar mandi, Dazai mengatakan, "Jangan mandi dulu, ya?"
Chuuya tidak bertanya lebih jauh dan memilih menanti Dazai menyiapkan air hangat di bak mandi. Chuuya sedikit banyak tahu tentang After Care yang sering dibicarakan orang-orang tentang kehidupan mereka, namun tidak pernah menyangka bahwa akan mendapatkan hal itu untuk diri sendiri.
Dazai benar-benar kasar semalam. Putaran pertama begitu lembut hingga Chuuya merasa seperti Ratu namun seiring waktu sosok dibalik topeng terlihat. Dazai menjadi binatang buas dan Chuuya adalah budaknya. Memperlakukan Chuuya sesuai keinginan, membuatnya menangis dan berteriak, namun semua rasa cinta tersampaikan tanpa noda. Chuuya tidak menyerah. Ia telah berkata akan menerima segalanya disamping dia memang menyukai perlakuan Dazai yang liar.
Lalu sekarang, pemuda itu seperti pelayan, penghamba. Menyiapkan sarapan, menyuapi dengan sabar, menyiapkan air mandi, dan segala macam yang membuat Chuuya merasa kembali menjadi Ratu. Ia tersenyum melihat Dazai mondar-mandir.
"Perlu kubantu?"
"Tidak," Ia mencuci piring di westafel sembari menunggu bak mandi penuh. "Chuuya duduk manis saja."
Chuuya menghabiskan waktu menunggu melihat ponsel. Ada pesan dari Kunikida yang meminta Dazai untuk datang ke kantor.
"Ini hari libur," adalah jawaban Dazai Osamu mengenyampingkan kemungkinan keadaan darurat dunia hanya untuk bersama kekasihnya. "Kalau benar-benar penting pasti dia menelpon."
Chuuya menghela napas, menekan tombol panggil di kontak Kunikida hingga Dazai merasa kesal.
"Kunikida?" Keterkejutan menjawab sejenak karena pasti pria berkacamata tidak akan menyangka suara Chuuya menjadi pembuka panggilan dari Dazai Osamu yang seumur-umur tidak pernah menelponnya. "Kau di sana?"
"Ya.. Kau bersama Dazai?"
"Um. Dia mencuci piring, ada apa?"
Dazai tidak terima waktu liburnya dihabiskan dengan pikiran-pikiran idealis Kunikida atau hal heroik seperti menyelamatkan dunia. Ia tinggalkan piring yang belum selesai dicuci dan melangkah ke sofa tempat Chuuya duduk dengan kemeja miliknya.
"Aku dan Ranpo-san menyelidiki sesuatu—"
"Hei..."
Suara Kunikida berhenti sebab Chuuya mengintrupsi. Chuuya mengintrupsi sebab Dazai mengecup lehernya dalam dan meninggalkan bekas. Memutar tubuh Chuuya yang masih ngilu agar berhadapan dengannya. Terpisah punggung sofa, namun tetap bisa menjamah.
"Nakahara?"
"Ya—" Chuuya menahan lenguh tatkala tangan Dazai membelai paha. "Apa hasilnya? Hh..."
Ragu-ragu Kunikida melanjutkan, "Sepertinya ada sebuah pergerakan di tepi Zona Batas—"
"Ah!"
Dazai tidak memikirkan apa yang akan Kunikida sangka ketika memasuki anal Chuuya dengan dua jari. Tangan omega itu bergetar antara ingin menggenggam erat ponsel dan bertumpu pada bahu Dazai yang menunduk mengecupnya.
"Hn— Dazai.. Ah..." Ia berusaha sekuat mungkin untuk menekan suara namun Dazai memaksanya berteriak terang-terangan dengan mulai menusuk titik nikmat Chuuya dengan jemarinya.
"Nakahara kau baik?"
"Hn?" Chuuya menggigit bibir. Menahan lenguh nikmat atas dasar rasa sopan dan malu. "Ya— ya... Hng!"
Dazai memberi gigitan di bahunya hingga merah merekah. Menciptakan bekas untuk melengkapi lukisan di kulit seputih kanvas milik Chuuya. Ia tersenyum melihat omeganya bergairah. Begitu malu untuk didengar namun begitu nafsu untuk mendesah memanggil namanya. Ketika Dazai merasakan ereksi Chuuya di balik kemeja, ia mengambil ponsel itu dan berbicara.
"Ada apa Kunikida-kun?"
"Dazai?" Kunikida sedikit khawatir, sedikit risih, sedikit berpikiran mesum ketika suara-suara erotis Nakahara Chuuya menyebrangi hubungan telepon. "Apa semua baik-baik saja? Aku mendengar—"
"Dazai! Ahhnn!"
Dazai tersenyum. Chuuya tidak lagi kuasa menahan desahannya ketika Dazai menambah jari untuk memompa. Membuat Kunikida di ujung sambungan bertambah gugup dan memilih berkata, "Aku hubungi lagi nanti."
Dazai menjatuhkan ponsel setelah bunyi sambungan berakhir terdengar. "Nah, aku bisa kembali padamu, Omega-ku."
"Dazai! Hng.. Disana— ah!"
Dazai memeluknya erat, agar Chuuya tetap bertumpu di kedua lutut dan tidak merosot turun ke atas sofa. Niatnya memberi sedikit perhatian lembut dan istirahat, membaringkan Chuuya di semua permukaan hangat dan melakukan segala kerja untuknya. Namun Chuuya begitu menggairahkan untuk dihukum secara keji, misalnya memaksa tubuh letih itu bertumpu sambil menganiaya liang surga yang membuat Dazai mabuk semalaman.
"Kau dekat?" Chuuya mengangguk tatkala Dazai melebarkan celahnya yang basah. Ia menikmati sentuhan hangat Dazai, menyukai bahu lebar tempatnya bertumpu, hembusan napas yang menerpa kulit pipi, serta rendah suara Dazai di telinganya.
"Kau sengaja menelponnya untuk mendapatkan ini kan, Chuuya?" Sinoper itu melenguh. "Kau benar-benar suka aku memberimu hukuman kan?"
"Tidak— hn!"
"Kau mekanik manisku yang suci namun ternyata penuh kelicikan."
"Dazai aku.. Ha—hh..."
Belum ada satu jam sejak Chuuya terbangun dan Dazai sudah membuatnya keluar dua kali dengan hal-hal menyenangkan. Ia merasa nyeri di kepemilikan yang terus bekerja, di bagian belakang yang terus dijamah, namun Chuuya tidak ingin menjadi munafik dan mengatakan benci. Ia yakin akan menyukai hari-hari seperti ini di masa depan, dengan Dazai dan hasratnya.
Chuuya jatuh di lengan kokoh sang Alpha, bernapas dengan tamak dan mengeluarkan sisa-sisa lenguh nikmat. Dazai memberi kecupan di kening seakan benar-benar tahu cara merawat Chuuya.
"Ayo mandi, kurasa airnya sudah cukup."
"Jangan lakukan ini lagi di kamar mandi," Chuuya meminta. "Aku lelah, Dazai.."
Perlahan dengan lembut Dazai melepaskan satu-satunya pakaian yang menutup tubuh Chuuya. Memandangi kulit porselen sehalus kelopak bunga sakura yang penuh jejak dirinya. Dazai mau tak mau tersenyum, membalas wajah kesal Chuuya dengan niat membantah. Sejujurnya Dazai ingin berhenti dan membiarkan Chuuya pulih, tapi dia tidak bisa. Dia tidak bisa menyia-nyiakan tubuh itu dan keinginan Chuuya untuk dijamah dibalik rasa iritasi dan malu-malu.
Dazai menggendong tubuh telanjang Chuuya dipinggul. Mencuri-curi aroma manis yang membuat darah berdesir. Membawanya untuk diletakkan dengan sangat perlahan di dalam kukungan hangat air mandi beraroma lavender. "Cukup hangat?" Chuuya mengangguk.
Luka-lukanya nyeri karena air busa, terlebih pada bagian yang selalu menjadi pintu penyatuan Dazai dan dirinya. Chuuya memejamkan mata dan melewatkan kesempatan melihat Dazai menelanjangi diri.
Air beriak tatkala Dazai ikut bergabung. Memaksa Chuuya menekuk lutut sebelum Dazai dengan sangat lembut memapah kaki Chuuya untuk bertengger di atas pahanya yang bersila. Mempersilahkan Chuuya melepas seluruh lelah dengan lembut sembari memijat tungkai-tungkai kurusnya.
"Kau lelah?"
Chuuya kembali mengangguk membalas tatapan hangat Dazai. Chuuya tidak pernah merasakan sebuah afeksi sebesar yang Dazai beri. Tidak pernah merasa begitu ketergantungan pada hal lain separah ia ingin perhatian Dazai sepanjang hari.
Pemuda itu terus membelai betis Chuuya. Membasuhnya dengan busa-busa lembut seraya memberi pijatan yang melegakan. "Ada luka di sini," Ia mengusap bekas gigitan seperti sebuah penghargaan.
"Banyak luka yang kau beri hanya dalam semalam. Kuharap aku bisa berganti kulit setiap selesai berhubungan badan denganmu." Dazai menjawab dengan senyum tanpa dosa. "Kau sendiri?" Chuuya menunjuk sebuah luka besar di badan Dazai. Melintang seperti sabitan di bagian dada, diafragma, sampai ke perut. Luka lama yang masih membekas. Kaki Chuuya membelai bekas itu, memberi Dazai kelembutan dan apresiasi rasa sayang. "Luka apa ini?"
Dazai menarik kaki Chuuya menempel pada pipinya sebelum sebuah kecup mendarat di punggung kaki putih itu hingga Chuuya merona. "Kau melarangku melakukannya, tapi tetap menggoda. Chuuya kau sadis ya?"
Chuuya berusaha menarik kakinya, namun Dazai kembali menahan dan mengulang pijatan lembut. "Kau mau tau luka ini?" Ia bertanya.
"Aku mau tau semuanya.." Chuuya ingat ia menangis ketika melihat perban-perban Dazai terlepas dan menampilkan luka-luka itu. Dari kemarin ia ingin sekali bertanya. Namuh melihat wajah Dazai yang bahagia dengan kesintingan gairah, Chuuya merasa tidak akan baik mengungkit hal keji penyebab luka ketika sedang bercinta. Maka ia menahan rasa ingin tahu dan menunggu saat yang tepat untuk bertanya.
"Aku tidak ingin memaksamu bercerita jika kau tidak mau," Chuuya takut sekarang bukan saat yang tepat, jadi dia bersedia menunda dan menunggu Dazai siap.
Jawaban pemuda itu adalah senyum dan sebuah kecupan lagi di lutut Chuuya. Mengabaikan rasa getir sabun dan mendekat meraup bibir mungil sang omega lembut. Sejenak, hanya untuk mengingat keberadaan Chuuya di bibirnya sebelum kembali bersandar di sisi lain bak mandi.
"Dulu di panti asuhan, sebelumnya oleh orang tua kandung, yang besar ini ketika latihan menjadi pembunuh." Dazai menunjuk satu persatu luka di tubuhnya. Sebuah luka bakar di pundak, bekas jahitan, sayatan, semua yang bisa ia perlihatkan hanya untuk membuat Chuuya meringis sedih.
Dazai tertawa lembut, menyeka genangan air mata di pelupuk lembut Chuuya.
"Jangan menangis, jangan menangis.. Kenapa kau menangis? Astaga.. Kau lucu sekali.." Ia masih tertawa dan Chuuya memukul bahunya. "Tidak akan ada yang percaya omega cengeng ini adalah teroris yang meledakkan rumah karna hobi."
Bibir Chuuya mengerucut, "Lalu yang di lengan?"
Seketika gelak Dazai terhenti diganti sebuah tatapan sendu. Luka itu sudah sembuh, hampir hilang namun bekas sayatannya masih ada. Dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari Chuuya, tapi dia yakin pemuda mungil itu akan menjadi bayi cengeng jika ia memberitahu.
"Dazai?" Chuuya menuntut.
"Ini percobaan bunuh diri," Sesuai dugaan Dazai, Chuuya merintih. "Sebagian lagi karena aku tidak punya uang untuk beli obat-obatan dulu."
"Dazai—"
"Shh... Itu dulu, oke?"
Beberapa waktu terlewati bagi Dazai untuk melihat Chuuya terisak. Ia tidak mengerti darimana rasa bersalah itu muncul ketika air mata Chuuya jatuh bercampur air sabun. Tapi Dazai tidak melakukan apapun selain membelai pundaknya padahal dia yang baru menceritakan hal sedih malah Chuuya yang menangis.
"Dazai.." Chuuya bersuara, menyeka air mata di pipi, "Boleh aku ke sana?"
"Tentu.."
Chuuya memaksa dirinya bergerak. Dibantu lengan Dazai akhirnya ia sampai di antara kaki pemuda brunette dan bersandar di dadanya. Dazai memeluk tubuh Chuuya, sementara Chuuya menggenggam tangannya di dada.
"Kau sakit sekarang?"
"Aku bahagia."
Chuuya mengecup dadanya, "Jangan lakukan hal itu lagi. Mengerti?"
"Tentu."
"Bunuh diri dan obat-obatan, jangan lakukan lagi. Mengerti?"
Dazai tersenyum, lembut, memberi kecupan di puncak kepala Chuuya yang menghangat akibat uap air beraroma lavender. "Tidak akan.. Aku punya Chuuya sekarang."
"Kalau kau bunuh diri lagi aku akan membunuhmu. Mengerti?"
Mau tak mau Dazai tertawa sebab Chuuya mengucap kalimat konyol sambil terisak. "Aku mengerti," jawabnya. "Berhenti menangis, Chuuya. Aku tidak suka melihatmu menangis kecuali ketika kusetubuhi."
"Kau mesum."
Ruang kecil itu menjadi hening. Chuuya meresapi belaian Dazai di tangannya, sementara Dazai menikmati aroma yang menguar dari helai-helai jingga Chuuya. "Kau menyesal?" Adalah kalimat yang meluncur dari mulut Dazai untuk memecah keheningan itu.
"Tidak," Jawab Chuuya singkat, tanpa bertanya konteks ucapan Dazai.
"Apa kau menyesal memberi tubuhmu padaku?" Dazai memperjelas.
"Aku sudah menjawabnya. Tidak."
"Apa kau menyesal karena mengisi waktu denganku, Chuuya? Menyelamatkan dunia dan hal konyol lainnya. Kau menyesal?"
"Tidak. Aku sudah menjawabmu, Dazai. Aku tidak menyesal atas apapun saat ini. Semuanya berkah, tidak ada yang perlu kusesali." Chuuya menolehkan wajah untuk bisa melihat Dazai dengan segala kejujuranya. "Kecuali.." Kedua tangan menangkup pipi sang alpha, Chuuya menatap beberapa kali ke mata Dazai, menerawang dan mencari, atau mungkin hanya menikmati. "Kecuali, pertemuan kita yang terlalu lama."
Dazai pun merasa demikian. Dengan perlahan ia memutar tubuh Chuuya untuk sepenuhnya berada di atas pangkuan, berhadapan, bertatapan. Andai mereka bertemu lebih cepat, Chuuya akan mendapat sebuah kasih sayang lebih awal. Andai mereka bertemu lebih cepat, Dazai tidak akan jatuh terlalu dalam hanya untuk merasakan arti dari kehidupan.
"Andai kita bertemu lebih cepat.." Dazai membenamkan wajahnya di pundah Chuuya yang basah. "Kita bisa bahagia lebih lama."
"Aku bersyukur bertemu denganmu, Mumi."
"Aku bersyukur jatuh cinta padamu, Chibi."
"Jangan panggil aku Chibi!"
To Be Continued
Untuk mengganti 20an chapter yang lemot banget padahal rate M, aku buat satu chapter isinya smut semua.
Bagus enggak ya bodo amat. Yang namanya M pasti kalian diembat juga kan.
Lagian abis ini bakal puncak konflik, jadi aku kasih kalian service.
Iya, Sama-sama.
/Anyway, kalian mau adegan di bath tub tidak? Saya terima rekues kali ini karena berdosa telang gantungin haha/
...
See You
Cylva~
