BUAK!

BRUAAK!

DUAK! DUK! DUK! BRUAKK!

DUK!

Sawamura Daichi menelaah dari sisi tembok berusaha mengatur nafas. Perjalanan tiga lantainya menyusahkan. Ia cuma punya satu peluru yang tersisa. Para kkangpae yang ada di ruangan ini semuanya berserk, berteriak bahwa 'gagak dan elang harus ditombak jatuh dari langit! Demi hwangje!' Daichi terpaksa menghadapi mereka demi bergerak maju. Berapa orang yang tadi sudah ditumbangkannya? 10? 20? 25 orang? Ia bahkan tidak menghitung. Beberapa kkangpae masih mengejarnya. Dan setibanya di lantai 25, ia melihat sebuah ruangan berdinding kaca dengan banyak layar, dan juga koridor panjang dengan beberapa pintu dan ruangan seperti daerah yang lain meski jumlah ruangannya tidak terlalu banyak. Di dalam ruangan kaca tersebut, pengacara Kunimi Akira menatap layar dan berbicara melalui mikrofon melengkung—mungkin perempuan itu menjadi pusat keamanan dan komando. Pantas saja para kkangpae bisa dengan cepat bereaksi menghadapi penyerbuan yang dilakukan Raven.

Oikawa dan Kageyama ada di sana. Daichi melihat mereka saling berbaku hantam dan tendang. Pemuda bersurai legam itu sudah babak belur. Berdirinya sudah oleng-oleng. Oikawa sendiri bukannya tidak apa-apa. Ada bilur biru besar di sebagian wajahnya. Satu tangannya terkulai lemas, yang Daichi perkirakan sudah patah. Ada lubang bekas tembakan peluru di tubuh Kageyama.

Jaraknya terjangkau range tembakan Daichi. Ia menghitung dan menganalisa. Kesempatannya cuma sekali untuk membunuh Oikawa dengan headshot telak. Kedua orang tersebut masih saling memukul. Daichi mengacungkan moncong pistolnya, berusaha membidik kening Oikawa yang terekspos akibat serangan Kageyama.

BUAKH!

BRUK.

Daichi menegang. Satu pukulan uppercut di perut Kageyama membuat pemuda itu lunglai. Kageyama Tobio tumbang tidak berdaya dan jatuh tersungkur ke lantai. Oikawa menatap tinjunya yang terkepal. Daichi tanpa berpikir panjang langsung melepaskan tembakan. Pelurunya meleset. Oikawa menoleh dan berjalan menghampiri si pimpinan Raven. Daichi membuang pistolnya dan mengepalkan kedua tinju, memasang kuda-kuda. Meski penampilannya sudah porak-poranda, Oikawa masih bisa beradu pukul dengan Daichi dengan sengit.

"BERANINYA KAU MERUSAK DONGSAENG KESAYANGANKU, GAGAK-GAGAK BUSUK! SSIBAL-SAEKI!"

BAK! BUK! BAK! BUK!

DUAK! DUAK! BUK!

BRUAK! BUK! BUK!

BAK! BUK! BUK! DUAK! DUAK! DUAK!

"HEAAAAAHHH!"

BRUAAAK!

Daichi mengerenyit. Sudah berapa lama ia tidak berhadapan dengan Oikawa? Apakah kekuatan seseorang bisa berubah drastis hanya dalam empat atau lima tahun? Tidak hanya semakin baik dari blokade dan kekuatan, akurasi serta kecepatan tendangannya betul-betul diluar nalar! Daichi tahu, bahwa Oikawa dijuluki hwangje oleh para kkangpae di Tokyo bukan hanya karena dia adalah anak dari pimpinan sebelumnya. Daichi merunduk menghindari tendangan cangkul Oikawa yang menuju kepalanya. Tumit pria berambut coklat itu menabrak tembok dan meninggalkan retakan. Daichi berguling, lalu berlari menjauh. Ia butuh waktu, ia butuh strategi, ia butuh senjata! Oikawa terlalu kuat baginya untuk dirobohkan hanya dengan tangan kosong.

"Ini adalah Kerajaanku!" Raung Oikawa parau. "Kau dan elang bedebah itu harus tunduk padaku!"

BUAKH!

"Ohok!"

Oikawa memutar pinggulnya, melayangkan tendangan berputar hingga Daichi tersuruk jatuh. Sebelah kakinya yang terangkat mengakhiri serangan dengan tendangan kapak. Daichi menyilangkan kedua tangan di atas kepalanya guna menghalau tendangan tersebut. Sang boss para gagak Yokohama kemudian membalas dengan windmill spin dan berhasil menjatuhkan Oikawa dari tendangannya. Daichi dengan sigap mengunci pergerakan Oikawa dan memiting lehernya. Pria berambut coklat itu menggelepar. Seluruh urat wajahnya mencuat keluar. Kunimi keluar dari tempatnya bersembunyi dan menodong pistol. Tembakan pertamanya bisa dihindari Daichi dengan cara melepaskan Oikawa dan berguling menyamping. Perempuan berambut panjang itu kembali membidik dengan waspada. Oikawa yang tersengal-sengal mulai bangkit dan mengejar Daichi yang refleks berbalik lari. Aksi saling balas memukul dan menendang kembali terjadi. Daichi berlari mengitari area tersebut dan merutuk benci ketika ia malah terpojok ke area balcony penthouse.

"Sudah bosan main kejar-kejarannya, Sawamura?" Oikawa menggosok-gosok lehernya. "Cekikanmu sakit sekali. Kupikir leherku akan patah."

Daichi melirik ke pintu kaca di belakang Oikawa. Cuma itu satu-satunya jalan keluar. Oikawa merangsek maju, kedua tangannya terentang seakan membentengi Daichi agar tidak bisa melewatinya.

"HUWOOOOHHH!" Daichi melolong seperti seekor banteng. Ia menubruk Oikawa dengan kekuatan pundaknya hingga pria tinggi berambut coklat itu terdorong mundur beberapa langkah.

BUAK! BRUK! DUAK! DUK! DUK!

BUAK! BUAK!

BUK! BRUAK! BUAK! BUAK! BUAK!

Dengan kekuatan dan teknik beladirinya, Oikawa berhasil menggiring Sawamura Daichi kembali ke area balkoni penthouse. Ia menarik kemeja Daichi dan melemparnya ke teralis pembatas. Kali ini Daichi tidak menghindari pukulan dan tendangan Oikawa. Saat satu tungkai Oikawa terentang memberikan tendangan lurus tepat di wajah Daichi, pria itu tidak bergeming. Momen singkat dimana Oikawa menarik kembali tendangannya adalah saat dimana Daichi merangsek maju dan memberi pukulan jab keras di bagian dalam lekukan lutut Oikawa.

BRUAKH!

KREK!

"GUWAAAAHHH!"

Oikawa berteriak kesakitan. Ia menjambak wajah Daichi dengan murka serta mencakarinya, berusaha mencongkel bola matanya juga saat Daichi menarik Oikawa semakin dekat dengan teralis pembatas. Rontaan Oikawa membuatnya lepas sesaat dan memberikan tendangan ke wajah Daichi. Sang pimpinan Raven beranjak bangun dan menghempaskan Oikawa ke teralis pembatas. Tetapi Oikawa membalas dengan cara menarik Daichi dan melemparnya melalui teralis pembatas yang cuma setinggi dada orang dewasa tersebut.

GREPP!

SRAAAAATTT!

Sebelum Daichi betul-betul terjun bebas, Ia mencangkulkan sebelah kakinya ke teralis pembatas dan menjambak Oikawa ikut jatuh bersamanya. Posisinya terbalik, kepala di bawah dan Oikawa bergelantungan padanya. Sang hwangje para kkangpae tersebut dengan panik berpegangan pada tubuh Daichi dan berhasil menjambak jasnya yang sudah separuh merosot dari bahu. Wajahnya berubah ungu karena ketakutan. Ini di lantai 25. Sekali jatuh mereka berdua akan mati!

"Dengan begini kita impas ya, Sawamura?" Oikawa tertawa bahagia. "Sampai jumpa di neraka nanti."

"Siapa yang mau ikut ke neraka bersamamu, hah?!" hardik Daichi kesal.

SRAAAAAAAATTTTT

HYUUUUUUU

Oikawa tersenyum lebar.

"Aku menang, eomma..."

BRUAKKKKKKK!


PIIIP

PIIIP

PIIIP

PIIIP

PIIIP

PIIIP

"...ummm..."

Putih.

Dingin dan bau karbol.

Semi Eita mengerjap-ngerjap lemah, perlahan-lahan sadar. Lalu ia melihat gorden gantung berwarna hijau muda aneh dan tubuhnya yang terbaring berlapiskan piyama biru pupus khas pasien rumah sakit..

"...nnn..."

Sosok mungil Ushijima Wakatoshi tertidur dengan kepala bersandar ke ranjang rawat Semi. Kedua tangan boss kecilnya di gips. Sebuah tiang infus bersanding di sebelah tiang infus miliknya. Pasti Ushijima bersikeras menunggui Semi sampai kabur dari ruang rawatnya di bangsal anak-anak, begitu pikirnya. Hayato ada di sisi satunya, duduk di kursi dengan wajah terpaku pada laptop. Ia terlihat lelah, tetapi lebih baik dibanding Semi. Pria itu tersenyum singkat dan mendekat.

"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya lembut.

Semi ingin berkata buruk sekali tapi bibirnya sangat sulit digerakkan. Ia hanya melirik Ushijima yang masih terlelap sambil memegangi tangannya.

"Tuan muda baik-baik saja. Patah dua tangan dan seluruh kuku jari kakinya hilang." ucap Hayato "Patah tangannya sedikit lebih parah dari dugaanku. Dokter menyarankan jadwal terapi."

Semi cuma mengangguk pelan. Ia mengumpulkan seluruh tenaganya untuk mengulurkan tangan, dan membelai surai gelap milik bocah yang hampir berusia 10 tahun tersebut. Tidak ada yang lebih membuatnya lega dan bersyukur bisa melihat Ushijima baik-baik saja. Anak laki-laki itu terbangun, dan memekik girang melihat Semi sudah sadar. Ia merangkak naik ke kasur Semi dengan susah payah dan mendekatkan wajahnya, memberi ciuman di pipi negosiatornya.

"Yokatta..." Ushijima kembali mengisak. "Aku sudah takut kau tidak bangun lagi, Semi! Soalnya orisuru yang kulipat belum sampai 1000. Hiks...hiks...sulit sekali melipat dengan tangan seperti ini..."

"...ori...suru?" Semi melirik Hayato.

Pria tersebut bangun dari kursinya dan berjalan memutari ranjang Semi. Ia memungut kertas aneka warna, motif dan bentuk yang dilipat membentuk bangau. Bangau kertas itu bertumpuk-tumpuk di dalam kantong kertas besar di sisi ranjang Semi.

"Aku menipunya agar tuan muda Wakatoshi bisa tenang menunggumu bangun. Dia mimisan lagi saat melihatmu tidak sadar kemarin." ucap Hayato tanpa suara.

Sang negosiator Phantom Hawks tidak lagi bisa menahan haru. Padahal bocah itu bossnya, bukan darah dagingnya. Semi sudah siap mati kapan saja dan rela jika posisinya digantikan selama itu demi kepentingan klan. Hanya ada loyalitas, dan perasaan sudah lama disingkirkan Semi dari lubuk hatinya. Ushijima bahkan rela membuat orisuru dengan harapan bahwa negosiatornya bisa sadar. Kebaikan hatinya yang sangat murni begitu menyentuh. Semi bahkan sudah lupa rasanya bahagia yang begitu sederhana semenjak mengabdikan diri sebagai elang putih Yokohama. Ia merangkul kepala mungil itu dan mendekapnya lembut.

"Terima kasih banyak, tuan muda." bisiknya lembut.


11 jam adalah waktu yang terbilang singkat untuk perang antar klan yakuza.

Kenyataannya, perselisihan antara Aoba Johsai, Raven dan Phantom Hawks memang cuma berlangsung selama 11 jam.

Hoshiumi Korai berjongkok di sisi sebuah jasad laki-laki yang baru saja terjun bebas dari lantai tertinggi gedung apartemen tersebut. Kepalanya pecah, darah, otak dan potongan wajahnya berserakan. Kaki, tangan serta lehernya terpelintir. Siapapun yang jatuh dari lantai 25 pasti tewas, tentu saja. Kericuhan sebesar itu wajar mengundang keributan warga sekitar. Sekumpulan mobil polisi datang dan menghalau kerumunan masyarakat yang bergerombol karena panik dan penasaran. Tetapi setelah massa bubar, gerombolan polisi tersebut malah pergi begitu saja tanpa melakukan investigasi meski mereka melihat ada mayat di luar gedung dan jelas-jelas mereka bertatap muka dengan Hoshiumi.

Mungkin disana pengaruh Itachiyama bekerja—membuat perang semencekam tadi tidak terdengar sampai telinga Kiryuu Wakatsu si Menteri Pertahanan Jepang. Entah bagaimana caranya, Sakusa dan istrinya memiliki kinerjanya terlalu memusingkan untuk diselidiki. Kalau ketahuan media massa, semua orang yang terlibat pasti dibasmi oleh angkatan bersenjata Jepang. Kecaman Kiryuu Wakatsu masih terlalu kuat bagi para gokudo. Dan yang bisa meredam semua itu hanya kekuatan yakuza kerah putih seperti Itachiyama.

Pria pendek berambut putih itu merogoh kantongnya dan mengunyah Eaglegum bungkus kedua. Produk Phantom Hawks yang satu ini merupakan kesukaannya, antidepressan penghilang sakit dengan rasa asam segar dan berbentuk permen kunyah lunak. Semenjak bekerja sebagai talent di agen hitman mercenaries membuatnya kecanduan sekaligus kebal dengan segala macam pain killer. Kalau orang biasa bisa dibuat tertidur pulas seperti dibius kalau mengkonsumsi Eaglegum meski kaki-tangannya diamputasi, Hoshiumi cuma merasa kebas sedikit saja. Nyeri mengerikan di tangannya yang terluka sekarang tidak lagi berasa.

Beberapa pasukan Phantom Hawks dan para kkangpae masih saling menghajar di beberapa lantai. Dari wireless yang sedari tadi dihiraukannya, Hanamaki mendeklarasikan kemenangan para kkangpae. Iwaizumi memerintahkan anggota yang tersisa untuk memungut mayat anggota klan Aoba Johsai dan menyingkirkan jasad-jasad musuh. Hoshiumi memutuskan turun ke lantai dasar ketika ia melihat dua orang terjun bebas dari lantai atas. Bunyi bedebum keras terdengar lebih dulu sebelum Hoshiumi sempat mencapai lantai dasar dan keluar dari gedung tersebut.

Jasad laki-laki itu diidentifikasi sebagai Oikawa Tooru.

Hoshiumi yakin 100%, dari pakaian dan posturnya. Sementara laki-laki yang jatuh bersamanya adalah Sawamura Daichi. Keajaiban menyelamatkannya. Sang pimpinan Raven tersangkut di lift pembersih kaca beberapa lantai sebelum jatuh dan sempat menyelamatkan diri. Hoshiumi juga melihat beberapa anggota Raven menggotong keluar rekan-rekan mereka yang penuh darah dan luka. Tetapi ia tidak mengejar. Hoshiumi sudah masa bodoh.

Toh, perang ini sudah berakhir.

Ponsel di kantong celananya berdering. Ia merogohnya dengan susah payah dan mengangkat telepon dari Fukuro.

"Korai-kun! Kau dimana? Wireless-ku rusak. Hakuba dan Sachiro dalam keadaan gawat. Bantu aku membawa mereka ke rumah sakit, oke?"

"Aa." jawab Hoshiumi singkat.

"Kau terluka?"

Hoshiumi menatap tangannya, lalu mengepalkannya di dada. "..sedikit."

"Dimana kau sekarang?" tanyanya.

"Lantai dasar. Diluar gedung." Hoshiumi menengadah, lalu menghela nafas. "Fukuro-san, bagaimana cara membuat laporan untuk client loss?"


DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!

DRAP! DRAP! DRAP!

DRAP! DRAP!

DRAP!

BBRRRAAAKKKK!

Miya Osamu mendorong pintu ruang rawat keras-keras. Nafasnya tersengal-sengal. Begitu Rintaro mendapat telepon dari Raven, si bungsu Miya mencari penerbangan dari Kobe ke Yokohama sesegera mungkin dan bergegas menuju rumah sakit yang diberitahukan Yamaguchi. 2.5 jam dikebut gila-gilaan oleh Osamu melalui pesawat, kereta, berlari. Begitu sampai, ia mendapati seorang laki-laki terbaring dengan tubuh di perban. Banyak kabel dan selang tertancap di tubuhnya. Meski matanya tidak bisa berbohong, hatinya menyangkal. Itu tidak mungkin Miya Atsumu. Si rubah pirang brengsek itu nyawanya berlapis-lapis, ia melewati Perang Kapak Baja dengan sukses. Mana mungkin ia tumbang semudah itu?

"Osamu-kun, mau dengar aku sebentar?"

Seorang gadis mungil berambut pirang menghampiri Osamu dan mengenggam sikunya dengan lembut. Gadis itu kemudian menjelaskan dengan perlahan dan rinci bagaimana keadaan Atsumu.

"Dokter bilang, Miya-san mengalami hemorrhagic shock. Ia terkena luka tusukan besar di perutnya. Saat dibawa kesini, beberapa organ dalamnya sudah mulai tidak bereaksi terhadap penanganan. Tapi..."

Osamu tidak menghiraukan perkataan Yachi, si gadis pirang tersebut. "Kemana gagak-gagak yang lain?"

"Mereka terpencar-pencar. Semuanya terluka juga. Yamaguchi-kun menangani sebagian dari mereka." jawabnya.

Atsumu tidak pingsan atau koma. Mata chesnut itu masih mengedip lemah, melirik lirih menyadari saudara kembarnya datang. Satu tangannya menggenggam tangan mungil seorang perempuan—Miya Shoyo, yang juga sama-sama babak belur berbalut perban dan piyama rumah sakit. Bahkan tiang infus berdiri di sisi Hinata. Pasti wanita mungil bersurai ginger itu memaksakan dirinya untuk menemani sang suami. Dari balik masker oksigen, Atsumu menyeringai tipis.

"...dia sadar." Osamu tidak kuasa menahan airmatanya. "Sialan! Kau membuatku takut saja, 'Tsumu!"

"Dia menunggumu, Osamu." ucap Hinata lirih.

Osamu melangkah lebih dekat. Ia melangkahi untaian kabel-kabel rumit itu dan melekatkan keningnya ke kening sang kakak kembar. Tangan besarnya menelusup dengan hati-hati menuju belakang kepalanya, memberi belaian halus meski Osamu gemetar ketakutan. Airmata Osamu jatuh, bertitik-titik di pipi kembarannya.

"..aku rindu...'Samu..." lirih Atsumu.

"Diam. Jijik, tahu." Osamu menjauhkan wajahnya, lalu menggenggam sebelah tangan Atsumu. "Jangan mati. Pokoknya jangan mati. Mustahil mencari kembaran pengganti yang satu darah, tahu!"

"Osamu-kun..." Yachi menghampiri Osamu dan membelai pundaknya. "Aku mohon maaf. Tetapi tegarlah demi kakakmu juga."

"Apa maksudmu!? 'Tsumu belum mati! Dia tidak akan mati!"

"Osamu." Hinata bersuara. Ia menyeka airmata yang terus menerus membasahi wajahnya. "Tim dokter sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tubuh 'Tsumu-san sudah tidak merespon."

Osamu membelalak. "Shoyo, kau ju—"

"Mungkin dia tidak akan bertahan sampai besok. Dia tersadar penuh dalam keadaan begini saja sudah mukjizat dari para Dewa." Hinata terisak. "Onegai, dengarkan kata-kata terakhirnya dengan baik."

Osamu merunduk di sisi lain ranjang. Hinata dan dirinya menelan tangisan kesedihan mereka dalam-dalam. Atsumu mengedip lemah, lalu kembali tersenyum.

"...cintaku...Shoyo..." Atsumu mengeratkan genggamannya yang semakin terasa lemah. "...maukah kau menepati janjimu?"

"Tentu saja, 'Tsumu-san..." suara Hinata pupus membalas ucapan suaminya.

Mata chesnut itu bertumbuk dengan manik kelabu baja milik Osamu. Adik kembarnya, belahan jiwanya. Meski Osamu tidak pernah mengakui bahwa ia menyayangi Atsumu, semua perbuatannya mengungkapkan. Atsumu mencintai Osamu seperti dia mencintai dirinya sendiri. Ia bahkan mengukir tatto kanji nama sang adik di tubuhnya. Ia menggunakan satu slot ramuan Heviz wax bath untuk memulihkannya saat mereka berkelahi memperebutkan Hinata. Atsumu bahkan mengikut-sertakan Osamu dalam malam pertamanya sebagai pengantin dengan sang istri. Di saat-saat terakhir hidupnya, harapannya untuk kembali bertemu dengan Osamu dikabulkan.

Setitik airmata turun dari sudut mata Atsumu. "'Maafkan...aku. Dan juga...terima kasih atas...semuanya, 'Samu...aku...selalu sayang...'Sa...mu..."

Osamu mengangguk. Ia menarik tangan Atsumu dan menciuminya, menggenggamnya dengan kedua tangan dan membenamkannya di wajah. Osamu bukanlah pria saleh, tetapi kali ini ia memanjatkan segala doa yang ia tahu. Ia memohon pada para dewa, pada Tuhan, pada Sang Hidup, untuk tidak merenggut kembarannya.

Atsumu menengadah. Ia menarik nafas panjang yang lemah.

"...aku...sungguh...ba..hagi...a..."

BEEEEEEEEEEEEEEEPPPPPPPP

Suara panjang statis tersebut menandakan sisa-sisa nyawa Atsumu telah habis. Tim dokter dan perawat bergegas datang memeriksa. Isak pilu pecah dari Hinata dan Osamu. Yachi yang sama-sama tidak bisa menahan kesedihan berusaha menyingkirkan kedua orang tersebut agar dokter bisa melakukan penyelamatan, namun semuanya tidak memberikan hasil. Osamu tersungkur ke lantai dengan wajah kosong ketika dokter mencabuti selang dan kabel yang menancap di tubuh kembarannya, lalu membentangkan kain putih menutupi tubuhnya. Hinata menangis meraung-raung di pundak Yachi. Seorang dokter menjelaskan prosedur pengurusan jenazah dengan singkat kepada Yachi yang tampak paling tenang dan masih bisa merespon dengan baik.

Pada malam itu, di awal musim panas.

Langit runtuh. Bumi remuk dan semesta hancur bersamaan.

Miya Shoyo ditinggal cinta sejatinya, Miya Atsumu.

Sang Maut memisahkan mereka ke alam yang berbeda.


"Hirugami-san, mungkin Hirugami-paisen sudah mati."

"Sembarangan! Buat apa dia masih ditaruh disini kalau sudah mati, kan?"

"Oh, iya. Layarnya masih bunyi-bunyi. Tapi kenapa dia tidak bangun-bangun, sih? Aku bosan tahu dirumah sakit!"

Hirugami Fukuro mendapati adiknya hampir saja dijemput ajal. Ia dan Morrigan Seventh alias Sugawara Koushi sama-sama tumbang dalam pertarungan adu tembak. Bukan peluru loom of faith yang merobohkan Sachiro, melainkan lembaran kartu tarot kaku setajam silet yang menjadi senjata lama Sugawara. Beberapa lembar kartu tersebut menikam bagian tubuh Sachiro seperti pisau lempar. Selembar kartu tarot bergambar the hanged man menancap di kening si bungsu Hirugami. Beruntung jiwanya masih bisa diselamatkan. Cedera kepala mungkin terdengar menakutkan, tetapi dokter bilang Sachiro akan baik-baik saja. Hakuba sendiri menderita beberapa patah tulang dan pendarahan dalam, sedikit kejam kalau mengatakan bahwa sang raksasa shimanchu nyaris tidak apa-apa. Fukuro mengakses asuransi Kamomedai Northwatch dan menempatkan Sachiro serta Hakuba dalam satu bangsal VIP agar Fukuro yang cuma menderita luka ringan bisa menunggui mereka di dalam sambil tiduran di sofa.

"Kemana Korai-kun?" tanya Hakuba. Ia menggaruk sisi dimana jarum infus ditancapkan pada lengannya. "Dia nggak mungkin sudah mati, kan?"

"Dia mengurusi administrasi pekerjaan kita." gumam Fukuro.

"Administrasi?"

Hirugami Fukuro beranjak dari sisi ranjang adiknya dan memilih duduk di pinggir ranjang Hakuba. Pria besar itu sudah jauh lebih segar. Buktinya, 9 jam setelah dirawat ia sudah bisa duduk bersila. Fukuro memutuskan dalam hati kalau adiknya sudah sadar, mereka berempat bisa pulang ke Hokkaido dengan segera.

"Administrasi kontrak baru untuk client loss." ujarnya.

Hakuba mengerenyit bingung. "Apa itu?"

"Jadi begini ya, bocah besar..." Fukuro menjelaskan. "Dalam kontrak tertulis yang diajukan agensi Kamomedai Northwatch, kita akan terus memburu target hingga mati. Durasi dan jam terbang talent diharap menyesuaikan tanpa biaya tambahan. Tetapi jika client loss alias klien mereka yang justru tewas, maka kontrak dianggap berakhir. Para talent diharuskan kembali ke kantor dan membuat laporan tertulis."

Mendengar penjelasan rumit itu, anehnya otak Hakuba langsung membuat kesimpulan cepat.

"Ja..jadi...Oikawa..."

Fukuro mengangguk.

"Bagaimana dengan yang lain?"

"Korai-kun sedang menyelidiknya." Fukuro membalas dengan wajah khawatir. "Harusnya dia bilang mau saat kutawari bantuan. Kenapa sih, bocah itu keras kepala sekali?"

"Korai-kun kan super kuat dan sakti. Dia pasti baik-baik saja." Ujar Hakuba santai. "Tumben sekali Hirugami-san lebih mengkhawatirkan si cebol kikir itu dibanding aku. Aku ini anggota paling junior. Harusnya paling dikhawatirkan, lho!"

"Naluri bapak-bapak." Fukuro bersidekap. "Aku nggak sampai hati mau bilang padanya, alasan kenapa Korai-kun masih jomblo adalah karena dia tidak memberi ruang di hatinya untuk masalah cinta."

"Apa maksudmu, Hirugami-san?"

"Korai-kun itu ibarat pekerja kantoran workaholic paruh baya yang masih melajang. Kerjaannya bagus, tapi kalau hidup selalu tentang kerjaan kan jenuh juga. Dia masih muda banget, sih, Tapi kalau nggak mulai cari, dia bisa jadi bujang lapuk."

"Pantas saja dia minta cuti terus! Pasti Korai-kun mau mencoba cari jodoh!" Gumam Hakuba.

"Aku kenapa?"

Hakuba dan Fukuro menoleh ketika Hoshiumi masuk ke dalam ruang rawat. Ia tampak segar dan sudah ganti pakaian. Kemeja lengan pendek berwarna peach dan celana abu-abu bergaris dengan suspender, ditambah sepatu coklat model oxford. Kacamata aviator-nya terpasang rapi. Ia mengenakkan sebuah ransel—Hakuba yakin isinya laptop karena benda itu tidak ditaruh di bagasi pesawat saat mereka berangkat ke Yokohama. Satu tangannya dibebat perban. Ada beberapa plester luka dan perban ringan di bagian tubuhnya yang lain. Sebuah amplop putih besar ia letakkan di meja. Hoshiumi merogoh kantong plastik yang dibawanya dan menyodorkan Hakuba sekotak stroberi yang tampak berkilauan. Sisanya ia taruh di meja, di sebelah amplop tersebut.

"Puja kerang ajaib!" Hakuba memberikan gerakan menyembah dan menikmati bulir-bulir stroberi tersebut dengan nikmat.

"Bagaimana keadaanmu, Korai-kun?" tanya Fukuro.

"10 jahitan di tanganku. Memar dalam abdomen dan 1 tanggal gigi. Sisanya lecet-lecet saja." jawab Hoshiumi datar. "Sachiro belum bangun?"

Fukuro menggeleng. "Bagaimana keadaan Aoba Johsai?"

"Iwaizumi mengambil alih posisi sebagai boss darurat atas desakan para kkangpae. Hanamaki menjadi negosiator. Kunimi-sensei yang cantik bakal menelpon setelah mereka membereskan markas. Tetapi sepeninggal Oikawa, aku tidak yakin Aoba Johsai akan berperang dengan Raven atau Phantom Hawks lagi."

"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Fukuro.

"Iwaizumi lebih berbakat menjadi geondal dibanding Oikawa." tutur Hoshiumi. "Saat merekrut pasukan, sebagian besar kkangpae dan yakuza yang ada di wilayah Chidoya dan Shinjuku menyerahkan diri dengan sukarela kepada Aoba Johsai. Mereka kembali mendirikan kerajaan di kekuasaan lama mereka meski dalam perang ini mereka kalah telak. Di sisi lain, Phantom Hawks kehilangan beberapa petinggi mereka. Boss kecil mereka juga cedera. Kemungkinan besar, klan itu akan hiatus lumayan lama demi memulihkan keadaan internal mereka."

"Bagaimana dengan Raven?" tanya Hakuba penasaran.

"Sama. Kemungkinan hiatus lama. Morrigan Seventh ditumbangkan Sachiro. Kondisinya masih 20-80. Sejujurnya, keadaan mereka jauh lebih buruk dari Phantom Hawks."

"Bagaimana dengan Miya Atsumu dan si joki cebol itu?" Hakuba kembali bertanya.

Hoshiumi terdiam. Raut wajahnya mendadak mendung. Ia berbalik dan berjalan keluar ruang rawat.

"Hoi, Korai-kun! Mau kemana?" Fukuro mengerenyit bingung.

"Tidak tahu." jawab Hoshiumi gamang. "Aku sudah tidak peduli."

Fukuro melempar tatapan penuh tanya pada Hakuba, yang membalas hanya dengan gedikan bahu sambil mengunyah stroberi.


Kita Shinsuke dan semua petinggi Inarizaki datang ke Yokohama pada pagi buta. Osamu menjemput mereka di bandara, dan kedua klan mengadakan pertemuan singkat perihal pemakaman Miya Atsumu. Dari pihak Raven, hanya Daichi, Hinata, Tsukishima, Asahi, Yamaguchi, Nishinoya, Ennoshita, Yachi dan Kinoshita yang sudah bisa berjalan sedikit. Sugawara masih terbaring tak sadar di rumah sakit. Di meja panjang tersebut, tidak ada sodoran dokumen ataupun suguhan sake. Yachi hendak menyiapkan suguhan tetapi Daichi menahannya. Firasatnya buruk soal pertemuan saat ini, tetapi ia berusaha menepisnya.

"Kalian kurang satu orang." Kita bersidekap. Hakama hitam yang digunakannya sederhana dan ringkas, seakan menggambarkan duka yang merongrong di balik ekspresi dinginnya.

"Para kkangpae menangkap Kageyama." ucap Daichi. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya sampai saat ini."

"Begitu."

"Kami turut berduka, Kita-san." gumam Daichi. "Miya sudah menjadi bagian dari klan kami. Kehilangannya terasa sangat menyakitkan."

"Terima kasih telah menerimanya dengan baik." jawab Kita muram. "Aku akan mengkremasinya disini. Abunya akan kubawa ke Kobe. Atsumu akan kumakamkan bersama ayah dan pamanku, bersama anggota keluarga Kita yang lain di makam keluarga. Apakah kau keberatan?"

Daichi melirik Hinata. "Bagaimana, Shoyo?"

Hinata terdiam cukup lama, lalu ia berujar. "Apakah aku boleh menjenguk kuburannya?"

"Inarizaki dan Raven adalah saudara sedarah." Kita menuturkan. "Para gagak adalah kerabat kami di Yokohama, seperti halnya rubah yang menjadi kerabat kalian di Kobe. Tidak ada yang berubah. Kau boleh menjenguknya kapanpun kau mau. Pintu rumahku terbuka lebar untukmu. Berkunjunglah kalau kau berkenan, Shoyo."

"Jadi Anda tidak mengakhiri hubungan klan kita, Shinsuke-san?" Hinata terperangah. "Meskipun...'Tsumu-san...sudah..."

"Kau mencintai Atsumu sampai akhir hayatnya, Shoyo. Itu perbuatan yang sangat mulia." Kita beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Hinata. "Kau akan selalu menjadi menantuku. Meskipun nantinya kau menikah lagi dengan orang lain."

Hinata dengan kikuk melingkarkan lengannya untuk memeluk Kita. Laki-laki itu jelas sekali sedih, tetapi ia menerima kematian Atsumu dengan lapang dada. Osamu sendiri masih berantakan. Matanya bengkak dan ia tampak sangat lesu. Hinata melonggarkan pelukannya, dan menggenggam kedua tangan Kita.

"Shinsuke-san..." Hinata tercekat menelan sedu sedannya. "...ajari...ajari aku jadi orangtua. Aku tidak tahu cara membesarkan anak tanpa 'Tsumu-san..."

Manik ambar Kita membelalak. Lututnya melemas. Ia limbung, jatuh terduduk. Rintaro bergegas menghampiri oyakata-sama yang menangis tersedu dengan senyum tipis dikulum. Hinata membantu Kita berdiri. Pria berambut kelabu tersebut takut-takut mengusap perut Hinata dan memandang wanita bersurai ginger tersebut, yang dibalas anggukan singkat. Kita kembali memeluk Hinata, dan mengusap rambutnya.

"Daijobu, Shoyo..." bisiknya sambil mencium puncak kepala Hinata. "Aku akan membantumu membesarkan cucuku."


"Ah, annyeonghaseyo, jeonsa!"

Ada yang salah.

Kageyama terbangun di kasurnya sendiri. Dan matahari terlihat terbit dari jendela kamarnya. Ada sebuah vas bunga, dan bunganya masih segar. Ia masih berada di apartemen terkutuk ini. Beberapa kkangpae berpapasan dengannya dan menegur santun. Ini pasti mimpi, tetapi sakit-sakit di badannya membuatnya sadar total. Ia berjalan penuh amarah ke lantai 10, yang merupakan ruang kerja Oikawa.

"Oikawa-sshi!"

Dan saat ia membuka pintu, disana ada Iwaizumi dan seorang pria tinggi dengan rambut ikal tengah mengobrol santai. Laki-laki itu mengerenyit tidak suka sementara Iwaizumi refleks berdiri dari kursinya.

"Taedoneun eodie issseubnikka?" Iwaizumi bertanya. Segaris urat wajahnya mencuat keluar.

"Jo-joesonghaeyo, Iwaizumi-sshi!" Kageyama tergagap. Lalu ia menggeleng pelan, kembali mengumpulkan tekad untuk apa ia datang kemari. "Aku resign dari Aoba Johsai! Dan aku tidak takut pada kalian semua!"

Kageyama berbalik, lalu berjalan keluar ruangan tersebut. Iwaizumi mengejarnya, lalu menghadang pemuda bersurai gelap tersebut.

"Eodi gani?" tanyanya.

"Jangan bicara padaku dalam bahasa Korea lagi. Aku bukan kkangpae." Kageyama menukas benci.

"Tobio." Iwaizumi menahan pundak Kageyama yang hendak melewatinya. "Oikawa sudah mati."

Kalimat tersebut membuat Kageyama membeku seketika. Iwaizumi mendorongnya agar mundur selangkah. Ia sudah siap kalau-kalau akan dipukul. Toh, selama ini Iwaizumi memang ringan tangan sekali kepadanya. Tetapi kali ini tidak. Iwaizumi mengusap rambut Kageyama dan memberikan tatapan merana.

"Tinggalah, aku mohon." katanya. "Cuma Hanamaki dan Kunimi yang tersisa."

"...Matsukawa-sshi juga?"

Iwaizumi mengangguk. Kageyama terdiam dan tertunduk.

"Kau pingsan. Tidak sadar selama dua hari." ucap Iwaizumi. "Untuk sementara, aku yang menjalankan peran sebagai boss. Tetapi, jadi boss itu menyusahkan."

Iwaizumi menepuk kepala Kageyama. "Bagaimana kalau kau jadi hwangje, jeonsa?"

Kageyama terbelalak. Ekspresinya seperti habis disambar petir. "Haah?!"

"Kau ingat kata-kata yang pernah dilontarkan Kindaichi padamu sewaktu buaya tambang menyerang para gagak?"

Tentu saja Kageyama ingat. Itu kan kata-kata terakhirnya Kindaichi. Lalu, segala fakta dan kejadian lampau menghantam ingatannya seperti badai. Wajah Oikawa terbayang di benaknya, bahkan suaranya bergema di kepala Kageyama dengan sangat nyata.

Jadi agen ganda memang akan sangat menyakitkan. Kau harus siap kehilangan banyak orang, termasuk aku. Tapi semua ini demi darah dan nadi kita. Demi Aoba Johsai. Kami mengandalkanmu, Tobio.

Tunggu sebentar.

Demi Aoba Johsai

Kau harus siap kehilangan banyak orang, termasuk aku

"...apakah Oikawa-sshi..." Kageyama menggigil. "...merencanakan semua ini dari awal?"

Dengan mantap, Iwaizumi mengangguk. "Dia menjualmu, menjadikanmu agen ganda, semua itu demi membuat peperangan agar Aoba Johsai bisa memiliki pengaruh, mendapatkan kembali kerajaan kkangpae dan berjaya seperti dulu. Dia menjualmu, menjadikanmu agen ganda, membiarkanmu berkhianat pada kami; semuanya sudah ada dalam skenarionya. Oikawa berakting sampai akhir hidupnya demi menjadikanmu hwangje."

Kageyama menggigil. Ia meremas dadanya, merasa sesak dengan ucapan Iwaizumi. Tidak mungkin orang seperti Iwaizumi mengarang cerita. Kageyama tahu sekali Iwaizumi adalah orang yang seperti apa.

"Kau menjalankan semua plotnya dengan baik, Tobio." Iwaizumi kembali bertutur. "Lihat kita sekarang. Punya markas. Punya pasukan. Berdiri di kerajaan yang sebenarnya. Kau benar-benar jeonsa sejati."

Safir gelap itu menggenang. Kageyama menggosok-gosok matanya dengan kasar, tetapi airmata tidak bisa dibendungnya. Nafasnya lambat laun berubah menjadi isak tangis. Oikawa yang selama ini dipikirnya adalah bedebah bengis tidak berarti, mengorbankan segalanya termasuk dirinya sendiri untuk kembali membangun kejayaan Aoba Johsai. Dan setelah semua itu tercapai, Kageyama yang sudah berulang kali mencampakkan laki-laki itu justru mempersembahkan segala hasil jerih payah tersebut kepadanya.

Kalau Kageyama tidak jatuh cinta pada Hinata, ia tidak akan mengabdi sepenuhnya pada Raven. Kalau ia tidak mengabdi kepada Raven, Aoba Johsai tidak akan bisa memusnahkan buaya tambang dan mengeruk kekayaan mereka agar bisa perlahan pulang dari Incheon dan mengungsi ke Hakata. Kalau ia tidak menculik Sugawara, Raven pasti langsung membongkar kedoknya. Kalau ia tidak berempati dan membebaskan Sugawara, lagi-lagi pasti Raven sudah membongkar kedoknya. Kalau ia tidak membocorkan denah apartemen markas Aoba Johsai pada Raven, Oikawa tidak bakal mati dengan cara yang seharusnya. Raven dan Aoba Johsai adalah musuh bebuyutan sejak lama. Alasan mengapa Oikawa melepas Kageyama pada Raven adalah karena statusnya sandera. Para kkangpae beranggapan Kageyama diculik dan bersikap sebagai pahlawan revolusi.

Teknisnya, Aoba Johsai memang kalah dari perang ini. Tetapi, memang itulah tujuan utamanya. Oikawa harus mati dalam rencana ini, agar Kageyama bisa menjalankan kerajaan yang sudah dibangunnya kembali.

"Sakusa menyadari kalau kedengkian Oikawa itu beracun bagi klannya sendiri, dan ia memberitahunya terang-terangan." kata Iwaizumi. " Mereka merancang plot dimana kau memang mengkudeta Oikawa. Tetapi kau tumbang lebih dulu. Sawamura membunuhnya secara tidak sengaja. Para kkangpae tetap meyakini bahwa kau adalah jeonsa yang telah membantu mereka kembali pulang ke sini."

Kageyama terdiam sejenak. "...kenapa...dia berbuat sejauh ini?"

"Bukankah sudah jelas?" Iwaizumi bersidekap. "Kau adalah dongsaeng kesayangannya. Dia mendidikmu dengan sempurna. Seorang hwangje tidak mungkin naik tahta tanpa kerajaan, kan?"

Oikawa sudah mati.

Bukannya senang, justru sakit hati yang dirasa Kageyama. Nestapa menghantam bertubi-tubi. Permainan agen ganda ini benar-benar sudah membuat Kageyama tidak waras. Setelah pontang-panting berjuang lepas dari kungkuhan Oikawa, justru yang didapatnya adalah sebuah klan yakuza besar di kota metropolitan; yang didapat dari hasil mempermainkan jiwa Kageyama. Apakah itu kasih sayang Oikawa kepadanya? Atau merupakan salah satu rencana busuknya? Yang manapun, pasti membuat Oikawa tertawa durjana dari akhirat jika melihat Kageyama saat ini.

Iwaizumi memijat pelan pundak Kageyama. "Meskipun perang tempo hari membuat kita rugi besar, kita jauh lebih kuat sekarang. Itachiyama masih menyuntik dana dengan dermawan. Kau bisa merebut gongju-mu dengan mudah tanpa siluman rubah itu."

Kageyama menoleh. "Apa Miya-seonbae juga—"

Iwaizumi mengangguk. "Tuan putrimu jadi janda sekarang, Tobio."

Kageyama kembali terdiam. Miya Atsumu juga tewas. Tetapi lagi-lagi Kageyama tidak senang. Lelaki bajingan itu adalah saingan abadinya berebut cinta Hinata, namun teringat sikapnya yang ramah dan penuh kasih malah menorehkan luka. Terlebih, Hinata pasti porak-poranda. Cintanya pada Atsumu membuat Kageyama merasa kalah. Kalaupun Hinata mau bersamanya, apakah dia bakal dicintai seperti Hinata mencintai Atsumu? Keraguan itu selalu membuat Kageyama mencelos pahit, tetapi pikirannya malah berbuat sebaliknya. Kageyama sudah tahu bahwa Hinata mungkin tidak bisa membalas cintanya, dan ia selalu melakukan apapun agar gongju-nya bahagia seperti sumpahnya saat mereka pertama kali bertemu. Kageyama menyerahkan nyawanya untuk membahagiakan Hinata. Ia sudah mengalah untuk membiarkan tuan putrinya berbahagia dengan pilihannya sendiri. Apa setelah semua ini, masihkah ada kebahagiaan yang tersisa untuk sang Johnny Blaze Yokohama? Bagaimana cara membahagiakan wanita yang sudah dua kali kehilangan sosok pria yang paling dicintainya?

"Rubah pirang terkutuk itu anak sulungnya Raja Neraka dari Inarizaki. DET Sarkad. Johnny Blaze Kobe." Iwaizumi menasehati. "Kau tidak akan sanggup mempersunting gongju-mu kalau kau tidak punya apa-apa. Pikirkan matang-matang, Tobio."


Begitu mendapati kabar bahwa Oikawa Tooru tewas terjatuh dari balkoni penthouse, seluruh talent Kamomedai Northwatch menarik diri. Dalam kontrak tertulis yang diajukan agensi Kamomedai Northwatch, mereka akan terus memburu target hingga mati. Durasi dan jam terbang talent diharap menyesuaikan tanpa biaya tambahan. Tetapi jika client loss alias klien mereka yang justru tewas, maka kontrak dianggap berakhir. Para talent diharuskan kembali ke kantor dan membuat laporan tertulis. Kobayashi (Kobachan-senpai, kalau kata Hakuba) adalah orang yang bertugas mengaudit laporan para talent dan membandingkannya berdasarkan data terkini keadaan klien dan target pada kontrak sebelumnya dalam kurun waktu 12 hari, baru uang refund dan bonus akan dibagikan. Karena kebanyakan klien dari Kamomedai Northwatch adalah klan gokudo, kontrak pembunuhan dapat dipindah-tangankan; misalkan dari si boss yang tewas ke negosiator atau kerabatnya, melalui tanda tangan kontrak pindah-tangan. Selama masa audit, jika klien yang memindah-tangankan kontrak kembali menghubungi, maka para talent di haruskan menunaikan tugas mereka untuk membunuh target tanpa dipungut biaya tambahan. Lewat masa audit tetapi berjarak maksimal 120 hari, akan dikenakan biaya administrasi 10 juta Yen. Selebihnya, diharuskan membuat kontrak baru.

"Hei, ada apa sama Hoshiumi-senpai?" tanya Bessho pada Nozawa.

"Dia kenapa?" Nozawa melirik pria berambut putih yang baru saja keluar ruangan kantor karena diserahi tugas beli makan siang hari ini.

"Tidak tahu. Akhir-akhir ini mood-nya jelek sekali." Bessho membereskan berkas yang dikerjakannya ke dalam suatu folder dan merenggangkan bahu. "Hakuba, kau meledeknya sampai ngambek lagi, ya?"

Hakuba yang wajahnya kusut menatap layar laptop menoleh karena namanya dipanggil. Hirugami Fukuro yang tadinya bekerja dengan tenang mulai penasaran dengan apa yang terjadi dengan si koordinator senior tersebut. Biasanya Hoshiumi itu bawelnya minta ampun. Suasana kantor jadi riuh tetapi sangat seru. Hoshiumi yang diam dengan wajah muram membuat semua orang khawatir. Perkara apa yang membuat si cebol kikir sampai semendung itu?

"Tumbuh gigi kali, ya?" ujar Sachiro. "Aniki ingat tidak, di umur segitu aku kena migrain hebat. Kukira aku kena tumor otak ternyata tumbuh geraham bungsu."

"Masa sakit gigi bisa bikin badmood berhari-hari?" Kobayashi menepis. "Apa dia kecopetan?"

"Apa dia ditolak cewek yang lagi dia suka?" Nozawa bersidekap, memasang wajah bingung.

"Dia sudah seperti itu sejak kemarin-kemarin." Hakuba menjawab jujur.

"Serius?"

Hakuba mengangguk. Semua orang mendadak berkerumun ke meja Hakuba.

"Apa dia kebawa pikiran, ya?" Fukuro menimbang-nimbang. "Selama karirnya di Kamomedai, baru pertama kalinya Hoshiumi memukul perempuan. Biasanya sekali tembak beres. Dia jarang banget mau terima target perempuan juga, sih."

"Mungkin saja. Korai-kun lemah sama perempuan." Sachiro menimpali. "Tetapi waktu itu dia menembak dan memukul kepalanya Akaashi Keiji tanpa ragu sedikitpun, ah. Kurasa bukan itu penyebabnya, aniki."

"...itu karena si cebol istrinya Miya. Johnny Blaze Yokohama itu."

Semua orang menoleh pada Hakuba.

"Aku mengecek laporannya Korai-kun, dan dia tidak membuat laporan assasination pasutri Miya. Fukuro-san menyuruhku membuatnya. Aku mengeceknya di CCTV markasnya Aoba Johsai sebagai data sah. Cewek cebol itu kejar-kejaran dengan Iwaizumi. Saat Hirugami-paisen berhadapan dengan Morrigan Seventh, Korai-kun menghadapi Miya. Melihat suaminya dibunuh, cewek bodoh itu berlari menyerang Korai-kun seperti berserk. Cewek itu bahkan tidak repot-repot menghindari tembakan Korai-kun. Dia terseok-seok, berdarah-darah, tetapi tetap menyerang Korai-kun sampai cewek itu ambruk tidak sadarkan diri. Korai-kun menangkap tubuh cewek itu. Dia menggendongnya, lalu merebahkannya di sebelah Miya dan pergi. Kemejanya kotor penuh darah, dan dia menggosok-gosok matanya dengan kasar. Baru kali ini aku melihat ekspresinya yang begitu. Aku tidak berani tanya apa-apa sepanjang perjalanan pulang."

Semua orang menyimak cerita dramatis yang diungkapkan Hakuba.

"Berapa kalipun kuajak makan ramen, ke hostess club, pokoknya kuajak bicara dan bercanda seperti biasa, tetap dia nggak mau menjawab. Diam kayak tuli-bisu. Aku bahkan berkunjung ke rumahnya, dan aku dicuekin kayak patung Totem." Hakuba menghela nafas. "Aku nggak suka dikatain, dipukul atau dijahilin sama Korai-kun. Tapi kalau diacuhkan seperti ini rasanya aku ribuan kali lebih kesal..."

"Yang mana sih cewek cebol itu?" Nozawa kembali membongkar foto-foto target pada proyek kali ini. "Aku penasaran. Cewek macam apa yang sampai bikin multipurposed Hoshiumi Korai acak-acakan begitu, sih?"

Hakuba menunjuk foto Hinata dan menyerahkan berkas mengenai data pribadi sang Johnny Blaze Yokohama yang sudah dirisetnya semenjak menerima proyek ini. Berkas beserta foto Miya Shoyo beredar bergantian diantara talent yang tidak menjalankan misi tersebut.

"Uwah, kawaii. Imut-imut badass gitu, ya?" Bessho berkomentar. "Jangankan Hoshiumi-san yang lemah sama cewek. Aku yang punya pacar aja naksir, kali."

"Presence-nya lumayan besar. Di arena balap semua orang memujanya seperti dewi." ungkap Hakuba. "Si kawaii chibi itu memang jagoan balap sungguhan, kuakui. Tampangnya innocent, tapi jiwa dan kelakuannya sangar kayak boss yakuza."

"Kurus tapi oppai-nya ngacung begitu. Mantap." Nozawa mengangguk-angguk setuju. "Cebol juga, lagi. Korai-kun pasti girang akhirnya bisa lebih tinggi dari cewek yang ditaksirnya."

"Nozawa-senpai jahat banget!" ucap Bessho.

"Halah, Korai-kun memang dari dulu agak nggak tahu diri. Udah tahu dia mungil begitu tapi cewek-cewek yang ditaksirnya malah pramugari lah, model lah, atlet lah. Biar dikata dia banyak uang dan tingkahnya nggak kayak buaya darat, cewek biasanya ilfeel sama cowok pendek." keluh Hakuba. "Bessho-kun nggak sering bersama Korai-kun sih, jadi nggak tahu borok-boroknya si cebol kikir itu."

"Kalau bukan masalah cewek, apa mungkin karena dia mengalahkan Miya?" Kobayashi menerka. "Tahu nggak, kalau di komik shounen biasanya protagonis bakalan twisted mood gitu setelah mengalahkan rival atau antagonis yang jadi musuh bebuyutannya."

"Apa Korai-kun terbawa perasaan karena menumbangkan sepasang suami-istri?" tanya Sachiro pada kakaknya. "Aniki punya teori apa?"

Fukuro hanya menggedikkan bahu dengan acuh. Hoshiumi kembali dengan tiga tentengan dan membagikan makan siang bagi rekan kerjanya tanpa bicara. Menunya merupakan macam-macam sushi yang ditata dengan cantik sekali. Kotaknya terbuat dari plastik kokoh, kecil pipih dan sangat stylish. Sachiro sampai memotret menu makan siangnya dan menghabiskannya dengan perasaan tidak tega. Hakuba membuat dua gelas teh dan meletakkan satunya di meja Hoshiumi.

"Korai-kun nggak makan?" tanyanya santai. "Kumakan jatahmu, nih!"

Hoshiumi mendorong pelan kotak bento-nya mendekati Hakuba. Ia membuka sebuah folder dan mulai menulis catatan dalam post it berwarna, memberi tanda pada dokumennya dan bekerja selayaknya pria kantoran pada umumnya. Semua orang saling melempar pandang dengan wajah tidak kerasan. Hoshiumi biasanya ultra sensitif dengan Hakuba, mulutnya selalu saja berkoar ganas pada si raksasa shimanchu. Dan hari ini tidak ada satupun kalimat atau perbuatan abusif bertitel 'mendidik' dari si cebol berambut putih untuk Hakuba? Ada sesuatu yang salah dari Hoshiumi Korai hari ini!

"Selamat siang, wahai pria-pria yang dicintai pacar dan istrinya masing-masing selain Hoshiumi yang masih jomblo!" Direktur Suwa Aikichi datang dengan tiga koper besar. "Briefing!"

Semua anggota Kamomedai Northwatch berdiri dan pergi ke ruang rapat. Setelah semua orang duduk dengan nyaman, Suwa membuka kedua koper tersebut yang isinya adalah tumpukan amplop tebal. Di tangannya, ada selembar laporan keuangan yang berarti hari ini mereka semua akan menerima bonus. Pembayaran dilakukan secara tunai, dan diharapkan para talent dapat mengelola uang mereka masing-masing. Jumlah pemasukan yang fantastis dalam rekening dapat menimbulkan kecurigaan dari pihak kepolisian, katanya begitu.

"Hora, hora..." Hakuba mengendus-endus udara. "Korai-kun, nyium nggak? Bau-bau uang bonus..."

Hoshiumi tidak menjawab. Kamomedai Northwatch dibuat gempar. Cebol kikir yang sangat menggemari uang itu bahkan tidak bereaksi pada saat mereka akan terima uang bonus?!

"Ehm." Suwa berdehem, lalu membacakan laporan. "Berdasarkan misi yang diberikan klien kita, Iwaizumi Hajime, aku sudah merekap laporannya dengan seksama. Pembayaran yang diterima dari klien, 1,067,600,000 Yen. Refund list, sebagai berikut."

Suwa menelaah tabel laporannya sejenak sebelum melanjutkan.

"Sawamura Daichi, boss Raven, 60% loss. Tsukishima Kei, Raven, 60% loss. Azumane Asahi, Raven, 60% loss. Nishinoya Yuu, Raven, zero spent. Shimizu Kiyoko, Raven, full spent. Yachi Hitoka, Raven, zero spent. Miya Shoyo, Raven, 20% loss. Sugawara Koushi, Raven, DET Ulster, 20% loss. Ennoshita Chikara, Raven, 60% loss. Yamaguchi Tadashi, Raven, zero spent. Kinoshita Hisashi, Raven, zero spent. Narita Kazuhito, Raven, full spent. Semi Eita, Phantom Hawks, DET Ulster, 20% loss. Ohira Leon, Phantom Hawks, 60% loss. Tendou Satori, Phantom Hawks, full spent. Shirabu Kenjiro, Phantom Hawks, full spent. Miya Atsumu, Inarizaki, DET Sarkad, full spent."

Suwa membalik dokumen laporan yang dibacakannya.

"Total refund, 300,000,000 yen. Total gross profit, 767,600,000 yen. Talent loss, zero. Total point 768. Talent gratuities..."

Talent gratuity adalah tanda terima kasih dari perusahaan terhadap talent yang turun melaksanakan misi pembunuhan. Nominal uang ini dibagikan begitu misi terlaksana, diluar gaji pokok bulanan yang diterima seluruh anggota Kamomedai Northwatch (nyatanya cuma sejumlah gaji pekerja kantoran biasa pada umumnya). Jumlah yang didapatkan tergantung sistem poin berdasarkan jabatan. Direktur memiliki 300 poin. Koordinator senior seperti Fukuro dan Hoshiumi memiliki 180 poin. Koordinator seperti Sachiro, Nozawa dan Kobayashi memiliki 120 poin. Officer ialah anak baru seperti Bessho dan Hakuba cuma memiliki 50 poin. Total poin diperoleh dari total gross profit dibagi satu juta yen. Jumlah gratuity yang didapat dihitung dengan cara poin talent dibagi poin keseluruhan lalu dikalikan total gross profit, kemudian dikurangi pajak perusahaan 25%. Bagi talent yang tidak bertugas dalam misi akan digaji bulanan seperti biasa.

Jumlah talent gratuity fantasis yang diberikan Kamomedai Northwatch adalah salah satu alasan Hoshiumi Korai bekerja keras dan sangat suka uang. Karena baginya uang adalah bentuk dari jerih payah yang bisa dinikmati secara nyata.

"Hakuba Gao, 37,5 juta yen." Suwa memberikan segepok amplok besar berbubuh nama sang raksasa berlogat shimanchu. Kemudian dia memberikan dua gepok amplop tebal kepada Sachiro. "Hirugami Sachiro, 90 juta yen."

Kedua koper yang dibawa Suwa akhirnya dibuka. Masing-masing isinya 135 juta yen untuk Hoshiumi dan Fukuro. Hirugami sulung cuma menutup kembali kopernya, sudah lama bekerja dengan Kamomedai Northwatch membuatnya percaya dan tidak perlu menghitung kembali uangnya. Hoshiumi biasanya akan melepas jalinan segepok uang dan merasakan gesekan lembaran uang yang baru dicetak dan menikmati sensasinya diantara jari-jarinya yang mungil tetapi super kuat tersebut. Hakuba terperangah bahagia ketika Hoshiumi mengambil segepok uang dan melakukan kebiasaan rutinnya.

"Korai-kun, banyak banget! Senang, kan? Ayo kita liburan! Kuajak kau ke Seychelles. Ke Mauritius. Ke Maldives. Ke Bali. Ke Hawaii." Ujar Hakuba bersemangat. "Kita bisa nginep di villa mewah, lho! Nanti kita join bikini party juga, deh! Kedengaran seru, kan?!"

SRAAAAAAAT.

Hoshiumi meletakkan kembali gepokan uang yang tadi dibongkarnya ke dalam koper. Ia mendengus singkat dan melempar koper tersebut dengan kasar sampai terbalik. Lembaran uangnya berhamburan kemana-mana, terbang dan melayang-layang di ruangan lalu jatuh lemas tidak berdaya di meja dan lantai. Semua orang terperanjat dengan wajah memucat saat Hoshiumi Korai berjalan meninggalkan ruangan dengan geram beriring debuman pintu yang terbanting.

"...oi, ini bukan mimpi, kan?" Nozawa menganga tidak percaya. "Korai-kun baru saja—"

"Hoshiumi-senpai itu suka uang, kan?" Bessho menoleh kepada senior-seniornya dengan wajah kosong. "Aku yakin aku tidak salah lihat. Dia melempar uangnya seakan-akan ia sangat jijik dengan uang."

"Iya, kau tidak salah lihat." Hirugami bersaudara menimpali bersamaan.

Kobayashi menggeleng-geleng heran. "Koper yang tadi dilemparnya berisi 1,2 juta USD. Sudah jelas ada yang tidak beres dengannya."

"Korai-kun melempar uangnya... Korai-kun melempar uangnya... Korai-kun melempar uangnya..." wajah Hakuba berubah menjadi ungu seperti sedang menahan mual. "Cebol kikir brengsek itu mencampakkan uang sebanyak ini, lho! DIA BENAR-BENAR SUDAH GILA!"

"Siapa saja tolong tangkap minion berambut putih itu." Suwa menggeram pelan sambil bersidekap. Urat-urat wajahnya keluar semua karena menahan murka. "Atau kupecat kalian semua!"

"HAI, SACCHO!"


a/n

Windmill spin: gerakan di breakdance yang badannya dilantai tapi kakinya keatas dan muter-muter gitu. Kalo nggak kebayang silahkan googling sendiri.

hemorrhagic shock: syok yang terjadi kalau seseorang mengalami pendarahan parah yang mengakibatkan kehilangan banyak darah. Kondisi ini membahayakan nyawa. Karena darah yang dipompa jantung berkurang, organ-organ dan jaringan tubuh perlahan shut down karena kekurangan oksigen dari darah. Denyut nadi melambat dan nafas mulai sesak. Diperlukan penanganan segera karena syok ini bisa berujung gagal organ (gagal ginjal, gagal jantung, kolaps paru-paru, dll) dan berujung kematian.

Taedoneun eodie issseubnikka: Artinya 'mana sopan santunmu?' kalimat sarkas yang cukup straightforward. Iwaizumi bilang begitu karena Kageyama masuk ruangan nggak ngetok dulu (bahasa Korea).

Eodi gani: mau kemana? (bahasa Korea).

[*] mengutip dari anime movie Koe No Katachi, ada mitos di Jepang katanya kalau kita buat 1000 orisuru (bangau kertas origami) permintaan kita bakalan terkabul. Yamagata Hayato nyuruh Ushijima buat orisuru dan berharap Semi bisa sadar dari koma-nya, padahal sebetulnya ia cuma bohongin Ushijima biar nggak terlalu stress. Dari chapter-chapter sebelumnya, Ushijima pasti mimisan dan demam kalau stress berat.


B.A.N.G.S.A.T:

Yah akhirnya chapter terbaper klimaks dari segalanya selesai digarap! Tolong readers yang budiman jangan ngasah golok dan tombak, please. Author juga mewek yaaa pas harus ngebunuh Atsumu ya tapi gimana dong?! Kan udah di warning dari chapter 1 kalo bakalan ada chara death. Baper parah sih Hinata udah kehilangan ayahnya di chapter awal, terus di chapter ini kehilangan suaminya juga huwaaa /maapin authornya halu campur maso. Ngetik plot sendiri, mewek gegulingan sendiri tapi seneng banget kayak begitu/

Tenang tenang tenaaaaang! Bocil oren kesayangan kita akan happy ending dengan pria yang tepat, kok! Hayo tebak, kandidatnya ada 3 orang! Yang berhasil nebak boleh request 1 oneshot fanfic hinata x (siapa sok pilih semenya), semangat hinata harem supremacy masih berkobar-kobar nih hahahahaha.

Terima kasih sudah mau baca Johnny Blaze sampai chapter ini dan juga meninggalkan review. Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Stay safe ya guys!