Ruangan itu remang-remang dan bersuhu sangat dingin. Ada banyak peralatan bedah di sebuah meja dalam ruangan itu. Seorang pasien wanita berdaster biru terikat di sebuah ranjang. Bibirnya pucat karena kedinginan. Bola matanya tak henti mengedari sekitar. Tubuhnya menggigil campuran antara rasa dingin yang menusuk dengan rasa takutnya. Ia menatap peralatan bedah yang tersusun rapi di atas meja.
Perlahan air matanya menetes. Ia tak ingin mengalami ini. Ia ingin kabur dari sini, namun ikatan tali yang melilit tubuhnya sangat kuat. Ditambah dalam dua hari belakangan ia belum diberi makan sehingga tubuhnya lemas, sehingga ia tak memiliki tenaga untuk melawan, apalagi kabur. Ia hanya bisa pasrah, terisak pilu, ketika suster-suster itu membawa tubuhnya ke sini, menyuntiknya dengan obat bius, dan meninggalkannya sebentar.
Pintu kamar operasi terbuka. Empat orang memasuki ruangan. Mereka berpakaian seragam operasi lengkap dengan penutup mulut dan rambut mereka. Salah seorang yang melangkah paling depan terlihat mencolok dengan kacamata bingkai htamnya. Sosok itulah yang menghampiri sang gadis terlebih dahulu. Manik hitam di balik kacamata itu tersorot dingin. Walau bagian mulutnya tertutup, terasa kalau sosok itu tengah menyeringai padanya.
"Dokter, kumohon lepaskan aku," Gadis itu mengiba. Suaranya nyaris tak terdengar karena obat bius sudah mulai bereaksi. Tangisannya semakin menjadi di tengah kesadarannya yang mulai menipis.
"Kau bilang hidupmu tak berguna bukan? Aku akan menjadikannya berguna," Penutup mulutnya kembang-kempis saat ia bicara. Dokter berkacamata itu mengambil sebuah pisau bedah, lalu menggoreskannya di pipi sang gadis.
"Ampuni aku, dokter. Aku masih ingin hidup,"
Dokter itu seperti tak mendengar permohonan sang gadis.
"Tak akan menyakitkan. Tidurlah," Ia mengusap pipi gadis itu dengan lembut. Gadis itu tak bisa melawan kantuk yang menyerangnya. Perlahan, mata itu terpejam. Ia pun menyerah. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk melawan. Lagipula, kematian tak akan menyakitkan bukan, seperti yang dokter itu katakan.
"Pembedahan dimulai," Tiga rekannya langsung mengeubungi ranjang sang pasien. Salah seorang melepas ikatan tubuh pasien itu. Suster lainnya mendorong peralatan bedah agar bisa lebih dijangkau oleh mereka. Wajah mereka semua nampak tenang, bahkan sampai sang dokter mulai membedah tubuh pasien itu.
"Ambil ginjalnya,"
Asap rokok mengepul lalu lenyap termakan oleh angin malam. Seorang berjas putih nampak berjongkok di sebuah koridor sambil melihat ke langit yang gelap gulita. Kacamatanya memantulkan bayangan bulat sang bulan. Ia terus menatap ke langit, sampai rokok yang dijepitnya mulai memendek. Pria berambut hitam itu pun membuang puntung rokoknya begitu saja. Ia masih tak ingin beranjak dari tempatnya. Kini, pria berkumis tipis itu menyandarkan tubuhnya pada dinding. Matanya tak lepas menatap langit, seolah ada hal menarik yang bisa ia saksikan di balik hitam pekatnya cakrawala.
Suara langkah yang terdengar pun tetap tak bisa menggubrisnya. Sosok pria berambut pirang panjang, memakai jas putih, muncul dari sebuah ruangan. Ia melihat sosok itu tengah menyendiri, jadi pria paruh baya itu memutuskan untuk menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan, Ukoku?" Pria paruh baya itu meledeknya. Sosok yang dimaksud langsung mengalihkan pandangannya, menatap sang senior yang memiliki hubungan cukup dekat dengannya itu.
"Bulan malam ini nampak indah," Ucapnya. Pria berambut pirang itu ikut menatap langit. Ia tercenung lalu menelengkan kepalanya.
"Bagiku biasa saja,"
Ukoku tergelak pelan.
"Kau tidak pulang, Koumyou? Biasanya malam begini kau sudah kembali ke rumahmu?" Pria berkacamata itu mengambil sebatang rokok lagi. Tak lupa, ia menawarkannya pada sang senior.
"Tidak,"
"Kenapa? Kau bilang selalu khawatir dengan keadaan anak asuhmu?" Pria berkacamata itu menyerahkan pematik padanya. Koumyou terdiam. Ia menyalakan rokok, menikmati satu isapan. Setelah itu, ia pun masih diam.
"Hei,"
"Aku menyuruh Rikudo yang menjaganya," Jelas Koumyou. Ia melirik pria itu "Lagipula, pekerjaan hari ini cukup banyak. Kau juga sebenarnya habis melakukan pembedahan, bukan?"
"Ya," Ukoku mengisap rokoknya.
Tak ada yang bicara lagi setelah itu. Mereka menikmati keheningan, menatap langit dan mendengarkan suara jangkrik. Rokok Koumyou sudah memendek. Ia hendak beranjak untuk kembali ke ruangannya, namun panggilan Ukoku menghentikan langkahnya.
"Bagaimana rasanya mengasuh seorang anak?" Koumyou tercenung heran mendengarnya. Sulit baginya untuk menjelaskannya kepada junior yang penuh rasa ingin tahu itu.
"Ya… melelahkan," Hanya itu yang bisa Koumyou ungkapkan.
"Melelahkan pun, kau tetap membiarkannya tinggal bersamamu, padahal sudah empat bulan lebih," Ukoku menatap mata sipit Koumyou.
"Apa tujuanmu, Koumyou?" Ukoku bertanya lagi. Koumyou tersenyum sambil menghela nafas.
"Tak perlu kujelaskan,"
Ia menopang dagunya. Tumpukan pekerjaan di atas meja serasa menjemukan. Asbak yang dipenuhi oleh puntung rokok menandakan kalau ia sudah berada sangat lama di ruangan ini. Mungkin sudah empat jam lebih ia bergelut dengan dokumen-dokumen ini, namun entah kenapa tumpukan kertas di sampingnya itu tetap saja tinggi.
"Ah," Ia mengeluh sambil mengempaskan tubuhnya di kursi putar. Roda kursi bergerak ke belakang menjauhi meja. Ia menumpukan kedua kakinya di atas meja. Posisi ini memang terasa paling nikmat untuk bersantai di tengah pekerjaannya.
Sudah setengah tahun ia menekuni pekerjaan ini. Latar belakang pendidikan yang tinggi ditambah dengan otaknya yang pintar membuat ia tak sulit mendapatkan pekerjaan. Ia memang seharusnya bisa mendapat pekerjaan lain yang lebih baik dari pekerjaan ini, namun ia cepat bosan dengan pekerjaan yang biasa saja, apalagi sebagai dokter yang hanya bekerja di sebuah rumah sakit atau membuka klinik. Ia ingin pekerjaan yang lebih menantang.
Pada akhirnya, sebuah situs illegal yang ia akses membawanya pada pekerjaan ini. Ya, saat membaca deskripsi pekerjaannya, Ukoku langsung menemukan hal yang menarik. Ia membedah orang-orang lalu mengambil organ-organ mereka. Bisa juga ia membunuh mereka dengan racun sesuai perintah. Organ-organ tersebut nantinya akan dipasarkan secara illegal oleh organisasi yang merekrutnya. Secara finansial, ia bisa mendapatkan lebih daripada dokter pada umumnya, walau resiko pekerjaan yang ia tekuni pastinya amat besar. Tapi, hal itu tak jadi masalah, karena selama ini ia memang sangat menyukai tantangan.
Bermain dengan hidup manusia itu sangat menyenangkan. Kau jadi sosok yang paling ditakuti, karena kau memiliki wewenang untuk mengambil nyawa mereka. Orang-orang itu akan mengiba-iba padamu sampai menangis darah, dan kau bisa mempermainkan perasaan mereka, bahkan menyiksa mereka dengan cara yang paling keji. Lalu, membiarkan mereka meregang nyawa dalam kondisi yang paling mengenaskan. Ia merasa saat ini ia sedang menekuni pekerjaan yang ia sukai.
Hanya saja, terkadang ia bisa merasa bosan dengan laporan yang harus ia buat berkaitan dengan pembedahan organ-organ mereka. Seperti halnya saat ini, ia sepertinya ingin kabur saja dari ruangan untuk mencari aktivitas lain ketimbang duduk manis di ruangan selama empat jam lebih dan bergelut dengan dokumen-dokumen ini.
Ukoku berdiri, meninggalkan tumpukan pekerjaan itu. Ia memilih untuk mengikuti nalurinya. Lagipula, percuma saja menyelesaikan laporan dengan setengah hati. Hasilnya pasti tak akan maksimal. Lebih baik ia berjalan-jalan dulu sampai mood-nya kembali, lalu menyelesaikan laporan itu.
Ketika keluar ruangan, ia akan disambut oleh lorong yang sunyi. Lampu pijar redup menemani langkahnya. Di sepanjang lorong, terdapat beberapa ruangan kantor yang pintunya tertutup rapat. Memang, dokter yang bekerja di tempat ini bukan hanya dirinya. Ada beberapa petugas medis lain, namun masing-masing dari mereka jarang berkomunikasi bahkan mengobrol akrab. Mereka hanya menjalankan tugas apabila diminta oleh organisasi. Selebihnya, mereka menutup diri. Pekerjaan ini memang beresiko, sehingga hubungan antar rekan kerja pun sebisa mungkin dihindari agar mereka tidak bisa dilacak oleh pihak keamanan. Kalau satu dokter tertangkap bisa jadi ia melaporkan dokter lainnya.
Memang rasanya membosankan juga bekerja tanpa adanya sosialisasi. Ukoku pun terkadang membutuhkan teman mengobrol. Pria itu melihat sekitar koridor, berharap kalau dokter itu bertugas di saat yang sama dengannya. Dia adalah dokter Koumyou
Dokter Koumyou memang berbeda dengan dokter lain yang cenderung menutup identitasnya. Ia sosok yang supel. Ukoku yang notabene-nya agak tertutup pun pada akhirnya bisa cukup dekat dengannya. Dokter Koumyou seolah tidak khawatir dengan resiko yang bisa terjadi kalau ia terlalu akrab antar sesama dokter.
Ukoku yang baru enam bulan bekerja bahkan sudah mengetahui kehidupan pribadinya. Dokter paruh baya berambut pirang panjang itu diketahui tinggal di sebuah pondok di daerah pegunungan. Ia sangat menyukai holtikultura, karena saat mereka mengobrol, Koumyou selalu membahas tentang tanaman.
Ada satu hal lain yang menarik perhatian Ukoku. Koumyou bercerita kalau ia mengadopsi seorang anak laki-laki belasan tahun. Anak itu diambil dari sebuah panti asuhan. Entah apa alasannya, yang jelas Koumyou sangat menyayangi anak itu. Bahkan ia menyempatkan diri untuk pulang setiap hari demi menemani anak itu.
Kini, sudah tiga bulan Koumyou mengasuh anak itu. Dan, sepertinya pria itu tidak merasa terbeban dengan aktivitas barunya. Ukoku selalu bertanya apa yang menarik dari menjadi seorang ayah angkat. Namun, Koumyou tidak pernah memberikan alasannya. Ukoku seolah diajak untuk berpikir sendiri. Sayangnya, sampai saat ini ia belum bisa menebak alasan pastinya.
Apakah memang menyenangkan? Ukoku berpikir seraya bersandar pada dinding lorong. Ia mengeluarkan rokok dan pematik. Ukoku menikmati waktu santainya ditemani oleh sebatang rokok. Sang dokter memperhatikan gumpalan asap yang terbang ke udara lalu lenyap. Pikirannya menerawang. Apakah mengasuh anak itu bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan?
Sepertinya, iya. Karena Koumyou sangat menikmati saat-saat itu.
Kalau begitu ia juga ingin mengasuh anak. Namun, dari mana ia mendapat seorang anak kecil? Apakah ia harus pergi ke panti asuhan, seperti halnya Koumyou?
Seguret senyum terukir di bibirnya yang tengah mengapit sebatang rokok. Mendapat satu kegiatan baru yang sepertinya menarik itu membuatnya bersemangat. Ukoku ingin segera mencobanya. Mungkin setelah mengerjakan laporan, ia bisa pegi ke salah satu panti asuhan dan memilih anak mana yang cocok untuk dibawa pulang.
Pikiran Ukoku langsung teralih ketika mendengar derap langkah menggema di lorong. Tempat ini sangat sunyi sehingga derap langkah itu terdengar sangat jelas. Ia menoleh ke sumber suara. Ada seseorang yang tengah berlari ke arahnya, pasti pemilik dari langkah itu. Semakin terlihat jelas, sosok itu ternyata adalah seorang anak laki-laki.
Anak laki-laki berpiyama putih itu langsung memeluk tubuh Ukoku. Pria berpakaian dokter itu kaget menerima perlakuan dari sang anak. Belum pernah ada yang berani memeluknya, bahkan orang tuanya sekalipun. Namun anak ini tanpa canggung langsung memeluk Ukoku, padahal mereka berdua belum saling kenal sebelumnya. Ukoku hanya tercenung, membiarkan sang anak menenggelamkan wajah ketakutannya dalam pinggang sang dokter.
Tak lama, Dua orang petugas medis datang. Dengan tergopoh, mereka menghampiri Ukoku. Tatapan mereka tertuju pada sang anak. Anak itu pasti mencari perlindungan kepada sang dokter, namun di luar dugaan dokter itu tak merasa terusik.
"Ada apa sebenarnya?" Ukoku bertanya dengan santai.
"Pasien ini lepas dari kami saat akan dibawa ke kamar bedah," Alis Ukoku naik. Ia beralih menatap anak itu. Ukoku menarik lengan anak itu untuk melepas pelukannya. Namun anak kecil berambut pirang itu tetap bergeming, bahkan semakin kuat memeluknya.
"Hei," Tegur sang dokter. Anak itu tetap tak menggubrisnya.
Ukoku menarik lengan kurus itu lagi dengan lebih kasar. Pada percobaan kedua, anak laki-laki itu akhirnya mau melepas pelukannya. Ukoku tertegun menemukan sepasang mata sayu menatapnya, seolah memohon belas kasihan. Butir-butir air mata membasahi pipi kurusnya. Suara isakan terdengar. Bibir pucatnya bergetar, ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa, sehingga hanya suara tangisnya yang terdengar.
"Berani sekali kau," Ukoku menatapnya dingin. Namun, anak itu tetap memelas padanya, seolah masih mengharapkan adanya pertolongan dari sosok berbalut jas putih itu. Ia tahu kalau sosok itu adalah bagian dari mereka, namun tak ada yang bisa menolongnya selain dokter itu.
Ukoku membetulkan letak kacamatanya. Ia berjongkok, menyamakan tingginya dengan anak itu. Ia memegang dagu anak itu sambil menelengkan kepalanya, meniliknya dengan serius. Tangis anak itu berhenti menerima respon aneh pria di hadapannya. Isakannya masih terdengar. Ia menyeka air mata dan ingus di wajahnya. Setelah itu ia masih mendapati pria itu meniliknya.
Wajah anak itu sangat tidak menarik. Kulitnya pucat. Pipinya tirus. Ditambah lagi, ada bekas luka bakar di sekitar mata kanannya. Ukoku juga tak merasa iba sedikitpun padanya. Namun, ia tidak perlu menggunakan perasaannya saat ini. Apalagi, ia mendapat gagasan yang menarik.
"Apa yang kalian ingin ambil darinya?"
Kedua petugas medis bertukar pandangan heran menerima pertanyaan itu. Ukoku berdiri sambil berkacak pinggang. Anak itu seperti mendapat harapan kalau sang dokter akan melindunginya, sehingga ia pun menyembunyikan dirinya di balik badan sang dokter.
"Jantung," Salah seorang petugas menjawab ragu. Ia kenal dokter Ukoku sebagai sosok yang agak aneh dengan jalan pikiran yang sulit ditebak.
Dokter itu berpikir sejenak. "Aku bisa membelinya?"
"Dokter, anda yakin?" Keduanya nampak kaget mendengar keputusan itu. Ya, tentu saja karena belum pernah ada seorangpun di sini yang mau membeli pasien.
"Ya, kalian bisa memotong dari honorku,"
"Dokter…" Salah seorang berusaha menjelaskan. Gagasan dokter Ukoku cukup beresiko karena bisa saja pasien itu malah membocorkan organisasi mereka. "Ini di luar dari wewenang kami," jeda sejenak "Kami tidak bisa memberikan keputusan. Lagipula untuk apa anda membeli anak ini?"
"Oh, jadi kepada siapa aku harus melaporkannya?"
"Dokter, anda yakin? Ini terlalu beresiko," Petugas medis lainnya mencoba membujuk Ukoku. Sang dokter hanya menghela nafas sambil tersenyum santai, seolah sudah menerima segala konsekuensinya.
"Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Anak ini bisa membantuku suatu saat nanti," Ujar Ukoku. Dua petugas medis itu pun saling pandang. Salah satu mengangkat bahu, seolah mengisyaratkan untuk menerima keputusan sang dokter.
"Kami tak bisa memberikan keputusan, seperti yang kami jelaskan tadi," Salah seorang petugas medis menjelaskan. "Namun, kami akan mengantar anda pada pimpinan. Biar anda yang menjelaskan semuanya,"
Dokter Ukoku tersenyum simpul. "Baik, antarkan aku,"
Kedua petugas itu melangkah terlebih dahulu sebagai penunjuk arah bagi Ukoku. Sang dokter melangkah santai, dan anak kecil itu membuntutinya. Bola mata birunya menatap punggung tegap Ukoku. Riak matanya cerah. Senyum simpulnya terkembang. Ia sangat bersyukur kalau ada sosok yang mau menyelamatkan hidupnya. Dan, ia merasa lebih senang mendengar sang dokter mau membelinya. Mungkinkah ia akan tinggal bersama dokter itu?
Anak kecil memiliki pikiran yang sederhana. Ia membayangkan bisa hidup bersama sang dokter dengan bahagia, merasakan kasih sayang darinya. Namun, pola pikir calon ayah asuhnya itu jauh berbeda dengannya. Ia memiliki rencana sendiri, yang bahkan tak bisa terbayangkan oleh anak itu.
