18
Search The Universe
.
.
.
Tahun ajaran baru dimulai awal musim Semi, dan Shia sudah tidak sabar untuk kembali ke sekolah meskipun ia sangat menyukai tutornya yang hebat. Mr. Lee tak menampakkan ekspresi apapun saat Shia bercerita bahwa ia sangat semangat dengan ide itu, tetapi tetap saja pria itu agak sedikit sulit berpisah dengan murid kecilnya. Yang meskipun memiliki banyak sekali hal untuk berbuat jahil—khususnya lewat sesuatu yang berkaitan dengan manis; tetap membawa kebahagiaan tersendiri.
Mr. Lee secara terbuka mengatakannya di hadapan Luhan dan Sehun di ruang kerja; formalitas terakhir sebelum Mr. Lee berhenti secara resmi.
"Shia gadis yang sangat hebat, dia sangat pandai dan tak mudah menyerah meski aku memberikan kesulitan." Mr. Lee terkekeh kecil. "Putri Anda sungguh menyenangkan, Tuan Oh, Nyonya Oh; saya rasa saya akan merindukannya."
Luhan tersenyum. "Kami sangat berterimakasih. Anda sangat membantu kesembuhannya."
"Anda terlalu berlebihan, Nyonya Oh."
Luhan mengulas senyum lembut. "Saya juga meminta maaf, jika selama ini Shia suka sekali menjahili Anda." Sehun tak dapat menahan tawa kecilnya mendengar itu. "Anda bahkan masih memiliki gantungan kunci stroberi itu."
Mr. Lee berdehem, menahan senyum. "Itu … Shia akan cemberut jika saya melepaskannya; apa yang bisa saya lakukan?"
Mereka tersenyum.
"Mr. Lee, Shia akan sedih jika tiba-tiba kehilangan Anda. Aku akan mencoret pelajaran melukis Shia di sekolah barunya nanti, dia akan melakukannya dengan Anda sebagai tutornya, sama seperti yang telah kita lakukan selama ini."
Mr. Lee tersenyum, menyesap tehnya perlahan. "Anda sangat berbaik hati, Tuan Oh."
Luhan memberikan tas kertas di sisinya, menyodorkannya dengan sopan ke Mr. Lee.
"Harusnya ini menjadi hadiah perpisahan, tetapi sekarang ini hanya hadiah yang sederhana."
Mr. Lee membukanya dan tersenyum melihat isinya, jam tangan dengan merk favoritnya, dan ini adalah seri lama yang cukup sulit ditemukan. Ia ingat pernah menceritakan sesuatu tentang jam ini pada Shia, di sela-sela pelajaran yang mereka lakukan.
"Katakan pada saya, apakah Anda yang meminta Shia menanyakan perihal kesukaan saya?"
Luhan menggeleng. "Tentu saja tidak, ini permintaan Shia sendiri."
"Dan dia akan sangat senang melihat Anda memakainya saat kemari." Lanjut Sehun, dengan seulas senyum tulus.
Luhan harus berusaha cukup keras membuat Shia memejamkan mata di malam harinya, dia terus mengoceh tentang betapa ia sangat bersemangat, teman-teman baru dan juga banyak hal menyenangkan yang sudah lama tidak ia lakukan. Luhan hanya bisa tersenyum sambil membujuk Shia untuk tidur, yang akhirnya setuju dengan sedikit peringatan berbalut kalimat halus.
"Jika Shia tidur kemalaman, Shia akan terlambat bangun dan tidak jadi pergi ke sekolah, jadi?"
Sekolah internasional itu merupakan salah satu sekolah terbaik yang memiliki management terstandar dan fasilitas yang membuat Luhan terbelalak, departemen pendidikan dasar macam apa yang memiliki fasilitas yang bahkan SMA-nya dulu tidak miliki? Luhan sedikit khawatir apakah Shia dapat beraktivitas dengan nyaman di sana, Sehun pernah mengatakan sesuatu tentang banyak anak-anak dari pejabat bahkan duta besar yang bersekolah di sana.
"Apakah ini tidak terlalu berlebihan?" Luhan tidak mau melihat soal rincian biaya yang Sehun berikan, itu membuatnya makin tidak nyaman.
Sehun menghela nafas, menarik pipinya cukup kuat. "Berhenti mengatakan itu, dia putri sulungku Luhan."
Luhan terdiam, ah, kalimat itu membuat hatinya terenyuh.
Shia tidak kehilangan senyum di pagi pertamanya. Nyaris sepanjang pagi menggumamkan nyanyian merdu. Sedikit protes saat ia berpakaian, karena ia sangat ingin mencoba seragam barunya yang sangat indah.
"Kenapa Shia tidak memakai seragam hari ini?" Shia bertanya pada Luhan yang sedang mengikat rambutnya dengan pita biru muda, senada dengan rok dan pita leher yang ia kenakan.
"Apakah Shia lupa bahwa seragam itu hanya dipakai saat hari berseragam? Di tanggal 17 setiap bulannya?"
"Humm… Sayang sekali padahal seragam baru itu bagus sekali." Shia sedikit mencebik, teringat seragam-seragam baru untuk tiap musim berbeda. Warnanya menyesuaikan tiap musim, dan Shia sangat menyukai seragam musim seminya karena itu berwarna merah muda! Uh, tampaknya ia harus bersabar lagi.
"Selesai, Shia cantik sekali." Kata Luhan, membawa Shia berputar di depan cermin yang langsung tersenyum lebar.
Miran dan Heeju datang dari kloset dengan tiga buah sepatu berbeda; berwarna hitam polos, biru muda yang senada dengan pakaian Shia, dan warna putih tulang dengan pita emas.
"Nona ingin memakai yang mana?"
Shia menimbang, lalu memilih sepatu hitam polos.
Luhan tersenyum, lalu mengambil sebuah kotak perhiasan kecil dari laci meja cermin dan membukanya. Sebuah brooch pin bouquet, terbuat dari metal platinum yang membentuk rangkaian bunga liar dengan violet rose sebagai point. Luhan menyematkannya pada dada kiri Shia. Shia mengamatinya dengan tatapan polos.
"Indah sekali."
"Ini hadiah dari Papa untuk hari pertama sekolah, jangan lupa berterimakasih dan mencium Papa nanti, oke?"
Shia mengangguk antusias, membuat kuncirannya bergerak menggemaskan.
Sekolah itu berjarak tiga puluh menit perjalanan, berada di kawasan khusus yang bersebelahan dengan lapangan golf dan salah satu hutan kota. Memiliki bangunan utama 6 lantai dan beberapa bangunan lain yang menyebar.
Luhan masih saja khawatir, tetapi Shia sendiri tidak merasakan apapun selain antusiasme. Mereka menuju kantor headmaster lebih dulu, dan Shia hanya duduk sopan dengan senyum manis saat wanita baya berkacamata itu berbincang dengan orangtuanya.
Seorang guru perempuan masuk, memperkenalkan diri sebagai wali kelas Shia.
Shia menggumamkan kelas dan posisi kelasnya sepanjang perjalanan, mengingat dalam diam agar ia bisa mencapainya sendiri besok.
Ruang kelas itu cukup luas, hanya berisi kurang dari 20 anak yang memandang penasaran saat Shia dibawa masuk. Wali kelasnya sempat berkata tiap kelas akan memiliki susunan anak yang berbeda, tergantung mata pelajaran yang akan dilakukan.
Di luar ruangan, Luhan sibuk menggigit kuku jarinya. Gelisah melihat tatapan penasaran yang Shia terima dari teman-teman barunya saat wali kelasnya memberikan kalimat pembukaan.
"Bagaimana jika mereka tidak menerima Shia? Bagaimana jika mereka mengucilkannya? Sehunna, apa kau melihat anak lelaki dengan rambut pirang itu? Juga gadis kecil berambut kelabu itu? Astaga, apakah Shia bisa berteman dengannya? Dengan teman-teman lainnya? Kau bisa lihat mereka sangat beragam dan aku khawatir Shia akan kesulitan."
Sehun tersenyum, menatap sekilas Paman Seo yang mengangguk penuh maklum. Sehun dengan kasual meraih pinggang sempit Luhan, menyentuh sisi wajah Luhan dengan ujung hidungnya sekilas dan berbicara di sana.
"Lihat Shia, kau akan mendapatkan jawabannya."
Luhan menatap ke dalam. Di mana Shia berdiri dengan tegak, tersenyum manis.
"Baiklah, perkenalkan dirimu pada teman-teman, Dear."
"Selamat Pagi. Perkenalkan," Shia berhenti sejenak, matanya tampak menerawang jauh, sedikit berkaca-kaca, sebelum tersenyum sangat manis. "namaku Oh Shia."
Luhan tertegun.
"Senang bertemu dengan kalian! Semoga kita bisa berteman baik dan mohon bantuannya!" Shia membungkukkan tubuhnya sekilas, lalu mendapat tepuk tangan meriah dari teman-temannya.
"Luhan, kau bisa melihatnya. Dia bisa mengatasi semuanya, dia gadis kecil kita, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun."
Luhan tersenyum susah payah, menghalau air mata yang menggenang.
"Shia, bagaimana jika kamu menceritakan dirimu pada teman-temanmu? Sepertinya aku pernah mendengar bahwa Shia menguasai bahasa Inggris dengan baik? Maukah kamu berbagi dengan teman-teman?"
Luhan tertawa bahagia mendengar gumaman woah dari teman-teman Shia saat Shia melakukannya dengan senang hati, begitu lancar tanpa sedikitpun merasa terbebani.
"Ya, kurasa aku tidak perlu mengkhawatirkannya."
"Luhan," Entah Luhan salah dengar atau apa, tetapi ia mendengar nada bicara Sehun sedikit berubah. "Shia duduk dengan anak lelaki pirang yang kau sebut tadi, apakah dia anak lelaki yang baik? Dia tersenyum antusias pada gadis kecil kita, dan Shia juga tersenyum padanya! Mereka mengobrol, aku tidak dapat mendengarnya."
"Oh astaga," Luhan tak dapat menahan tawa lembutnya. "kau mengkhawatirkan hal yang berbeda denganku. Sehunna mereka bahkan belum genap 8, apa yang kau pikirkan?"
Luhan mengulum senyum melihat ekspresi keras kepala yang Sehun perlihatkan dengan begitu jujur, mendesah pelan dan bergumam geli dalam hati.
Shia akan mendapat banyak masalah dengan Papanya saat ia beranjak besar nanti, hmm?
.
.
.
Mereka bertiga memiliki bulan lahir yang sama, dengan tanggal begitu berdekatan yang memungkinkan mereka untuk selalu mengingat. Kejutan adalah hal yang mustahil dilakukan, jadi Luhan memutuskan untuk menyerah dengan itu.
"Kenapa kau memikirkan hal-hal seperti itu?" Tanya Sehun geli ketika Luhan sedikit menekuk bibir membicarakan perihal ulang tahun itu. Luhan menatapnya sebal.
"Ini bukan hal-hal seperti itu, Sehun, oke? Aku tidak bisa mengabaikannya karena … karena bagaimanapun…" Pipi Luhan memerah, dan membuat Sehun nyaris terbatuk mendengar lanjutannya. "itu pertama kalinya aku memutuskan untuk mulai menerimamu. Mungkin bagimu itu tidak terlalu penting, tetapi momen itu sangat berarti dan—"
"Dan sekarang aku ingin menciummu." Kata Sehun dengan senyum di bibirnya.
Luhan mendekatkan wajah, memberikan satu kecupan kecil yang cepat. "Kau sudah, jadi mari kita membicarakan ini dengan serius, oke? Aku tidak bisa menyiapkan kejutan atau hal-hal seperti itu, kita semua tahu itu."
Sehun mengerjap. "Sayang, aku benar-benar baru menyadari kau sering melakukan hal menggemaskan seperti ini; lakukan lebih banyak, aku menyukainya." Sehun mengangguk serius.
"Sehunnaaa…"
"Ah baiklah. Aku akan serius sekarang." Sehun menarik Luhan ke pelukannya, ke posisi favoritnya akhir-akhir ini. Memeluk Luhan dari belakang dan menumpukan dagu ke bahu sempitnya, ini terasa intim dan menenangkan. "Kita bisa membuat pesta di tanggal 20, sama seperti tahun lalu."
Luhan terdiam. "Ah, tahun lalu ya…"
Sehun menyadari kesalahannya, tetapi tak bisa mengatakan apapun karena itu bukan sesuatu yang bisa diperbaiki dengan kata-kata. "Kau masih mengingatnya?"
"Ya…" Bisik Luhan, suaranya sedikit jatuh dan serak. "Tanggal itu ulang tahunku, aku masih mengingat paduan suara musim semi yang indah itu, juga pesta kecil di rumah lama kami. Kukira semuanya akan membaik saat itu, tapi ternyata tidak."
"Luhan, kau tahu kau akan sakit ketika mengingatnya."
"Ya, aku tahu." Sehun terdiam ketika merasakan punggung tangannya basah. Sehun melonggarkan pelukannya, membawa Luhan yang sudah berlinang menghadapnya. Hatinya masih saja teremat kuat ketika melihat Luhan menangis.
"Kumohon, jangan menangis lagi. Aku akan ikut terluka, hm?" Sehun mendekatkan wajah sampai dahinya bersentuhan dengan Luhan. "Aku mengerti jika kau masih belum bisa melupakannya, tetapi semua itu sudah berlalu. Shia sudah bersama kita sekarang, hmm?"
"Maafkan aku…" Luhan menengadahkan wajah, mencoba agar air matanya tidak menetes.
"Tidak, jangan meminta maaf, aku mengerti itu. Luhan," Sehun berhenti sejenak, dan Luhan tahu suaminya sedang menimbang sesuatu. "apa kau ingin mengetahui kabar Nyonya Kim Na Young?"
Luhan menarik nafas tajam, tetapi mengangguk dengan hati berdebar.
"Beliau mulai pulih, itu yang aku dengar dari dokter keluarga mereka di Jepang. Jadi jangan khawatir lagi, meski memang sulit untuk berdamai dengan kematian Nara, tetapi beliau sudah dapat menerimanya."
"Bagaimana kau mengetahui hal itu?"
Sehun tidak mungkin mengatakan bahwa ia yang menyediakan seluruh akomodasi dan beberapa hal untuk keluarga Kim tersebut, jadi ia memilih untuk membuat kebohongan lainnya.
"Baekhyun mengenal dokter keluarga mereka, jadi aku memintanya secara hati-hati untuk kabar itu."
"Aku cukup lega mendengarnya."
Tak ada percakapan berarti setelah itu, hanya menikmati keberadaan satu sama lain di taman belakang yang cukup hangat ini. Sehun memutuskan untuk berangkat lebih siang, hanya memiliki satu dua rapat penting di pertengahan hari nanti.
"Sehunna…"
"Hmm?" Suasana ini membuat Sehun enggan pergi, ia ingin terus memiliki Luhan dalam pelukannya.
"Jam kerjamu akan efektif beberapa hari lagi, aku sudah mendengar banyak proyek besar yang sedang dikerjakan rumah sakitmu. Shia sudah mulai bersekolah dan mungkin dia baru pulang setelah jam makan siang, kupikir aku—"
"Kupikir kau akan merasa kesepian, tetapi tidak dapat melakukan apa-apa?"
Luhan mendengus sebal. Menoleh ke belakang, menatap Sehun yang sama sekali tidak tersenyum. "Yang ingin aku katakan adalah aku ingin memiliki kegiatan juga. Kenapa kau suka sekali memotong kalimatku bahkan sebelum aku masuk ke intinya?"
Sehun menghela nafas. "Aku tidak mengijinkanmu jika kau ingin bekerja."
"Sehunna…"
"Kau cukup di rumah, bersenang-senang saja atau melakukan hal yang kau sukai. Menemani Shia saat Shia pulang dari sekolah, dan menyambutku setiap hari. Bolehkah aku memintanya darimu?"
Luhan terdiam sejenak. "Apa maksudnya ini?"
Sehun dengan sabar menjelaskan, berusaha tidak menyinggung perasaan istrinya.
"Luhan, kau memiliki Shia saat kau berumur 18 tahun, kehidupanmu sangat berat dan kau bahkan harus berhenti dari kuliahmu—"
"Aku tidak akan pernah menganggap Shia sebagai beban!" Ucap Luhan tajam. Matanya menyala penuh rasa tidak suka, ada sepercik kemarahan di sana.
Sehun mengangguk, sedikit tersenyum. "Mulai sekarang aku tidak akan memotong ucapanmu, Sayang. Maafkan aku. Jadi, tolong dengarkan aku sampai selesai?"
Luhan tidak menanggapi apapun. Masih keras kepala dengan ekspresinya.
"Aku juga tidak menyebut Shia sebagai beban, Sayang. Yang aku maksud adalah, kau sudah berjuang sangat lama. Aku bahkan tidak bisa membayangkan betapa sulitnya bertahan sendirian, dengan Shia yang masih kecil dan membutuhkan dirimu. Kau yang mengetahuinya, Luhan. Membesarkan Shia sendirian menjadi gadis kecil yang sangat tangguh dan kuat seperti dirimu."
Sehun memberi jeda, menarik nafas dalam.
"Dan seperti apapun kita mencoba mengelak, semua hal terburuk datang setelah aku mengatakan aku mencintaimu."
"Sehunna itu—"
"Jangan menyela ucapanku, Luhan." Sehun mencium bibir Luhan, tidak ingin Luhan mengatakan penyangkalan apapun karena itu hanya akan membuatnya makin sedih.
"Aku tidak bisa mengatakan aku menyesali semuanya, menyesali telah mencintaimu dan Shia. Aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa saat bencana itu datang. Yang aku inginkan adalah, kau sudah cukup berjuang sendirian, biarkan aku yang melakukan sisanya. Kita akan melihat Shia menjadi dewasa bersama-sama. Luhan, kau mengerti?"
Sehun terus saja berbohong, ia merasa begitu tertekan menyembunyikan alasan terbesarnya melakukan semua ini, di samping cintanya yang begitu besar, ia adalah penyebab mengapa Luhan sampai begitu menderita.
"Hmm mm." Luhan berbalik memeluknya sangat erat. Hembusan nafasnya menerpa perpotongan leher, Sehun tahu Luhan menahan air matanya.
"Sehunna… Aku mencintaimu."
"Ya," Sehun menjawab serak. "Aku juga sangat mencintaimu." Bahkan mengatakannya pun masih mengirimkan rasa sakit.
Beberapa saat setelah Sehun berangkat, Luhan diam-diam meminta salah seorang pelayan untuk mengantarnya ke rumah sakit. Berpesan agar jangan sampai Sehun mengetahui ini. Mereka panik, sangat panik sampai membuat Luhan tak mengerti, tetapi ia menenangkan mereka.
"Percayalah, aku tidak akan melakukan apapun yang berbahaya—aku bahkan tak tahu kenapa aku sampai harus menggunakan kata berbahaya. Aku hanya ingin mengunjungi Baekhyun, tetapi Sehun akan sedikit mengacau jika tahu aku kesana; kalian tahu maksudku."
Ia memang ingin mengunjungi Baekhyun, meski itu bukan tujuan utamanya. Sudah seminggu lebih ia merasakan ada hal berbeda dalam dirinya, dan ia ingin memastikan itu.
Baekhyun terkejut dengan kedatangannya.
"Luhan, ada apa? Mengapa kau mengirim pesan akan kemari tetapi juga memintaku agar Sehun tidak mengetahui ini?!" Luhan tersenyum tertahan dengan kepanikan Baekhyun.
"Apa kau merasa sakit? Apa kau merasakan kecemasan berlebih? Apa kau kesulitan tidur? Seharusnya kau mengatakannya padaku dan—"
"Dan duduklah lebih dulu, aku akan menjelaskannya."
Baekhyun memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam kemudian duduk. Menatap Luhan serius.
"Ada apa? Katakan padaku atau aku akan mati sekarang."
Luhan tersenyum. Mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Benda putih itu membuat Baekhyun mengerjap bodoh.
"Luhan, kau tahu aku seorang psikiater, bukan ranahku untuk—"
"Iya aku tahu." Kata Luhan gemas. "Itu hasil tesku pagi ini, seminggu lalu aku melakukannya dan juga positif. Aku kemari karena ingin kau mengantarku. Aku belum ingin Sehun mengetahui ini sebelum aku memastikannya."
Mata Baekhyun berkaca-kaca "Oh, Tuhan… Aku akan punya keponakan lagi."
Luhan tertawa lembut.
Mereka ke dokter kandungan setelah Baekhyun membuat janji secara hati-hati. Luhan berkonsultasi bersama Baekhyun yang menemaninya. Luhan cukup gugup, tetapi kehadiran Baekhyun sangat membantunya.
Luhan sudah merasakan perubahan pada tubuhnya beberapa minggu ini, ia hanya belum berani memastikan. Tetapi setelah datang bulannya terlambat dan ia melakukan test mandiri, ternyata memang benar. Ia datang kemari karena ingin memastikannya secara nyata.
"Selamat Nyonya Oh, Anda hamil empat minggu. Janin anda kuat dan sehat."
Luhan tak dapat menahan air matanya, sementara di sisinya Baekhyun sudah memeluknya sangat erat dan berbisik serak. Luhan merasakan bahunya sedikit basah. "Aku akan punya keponakan lucu lagi… Astaga padahal Shia masih begitu menggemaskan… Uhh apakah aku akan kuat…"
Luhan tertawa lagi, mengucapkan terimakasih pada dokter kandungan itu. Juga membuat janji agar ini hanya untuk mereka bertiga saja. Luhan bersemu ketika dokter itu tertawa manis, mengatakan ini akan jadi kejutan menyenangkan untuk Direktur rumah sakit ini.
"Aku akan menebuskan vitamin untukmu nanti, masih terlalu mencolok jika kita kesana sekarang, aku akan mengantarmu pulang. Ayo."
Di dalam mobil, Baekhyun menatap perutnya yang masih datar.
"Beberapa saat lagi akan ada baby bump di sana. Kapan kau akan memberitahu ini pada Sehun?"
Luhan tersenyum. "Mungkin saat tanggal 12?" Luhan sebenarnya masih menimbang-nimbang.
Luhan terkejut ketika Baekhyun menyentuh perutnya, mengelusnya pelan dan berbicara di sana. "Baby, kau harus tumbuh dengan kuat dan sehat. Kami tidak sabar menunggu kehadiranmu di dunia ini, aku berharap kau perempuan agar Sehun harus menghadapi kesulitan yang besar di masa depan; aku yakin kau akan secantik kakakmu."
Luhan tertawa. "Kau menginginkan keponakan perempuan lagi?"
Baekhyun melemparkan cengiran, lalu menjalankan mobil. "Untuk mengerjai Sehun; ya, tetapi entah bagaimana, aku mendapat firasat bahwa bayimu adalah laki-laki."
.
.
.
20 April datang, Sehun menyiapkan pesta kecil di rumah mereka. Tak ada dekorasi mewah atau semacamnya, Luhan mengatakan ia hanya ingin berkumpul dengan keluarganya. Luhan menyiapkan kue cokelat untuk Shia, yang sudah tak tahan ingin mencoleknya sejak awal. Luhan nyaris luluh dengan mata berair Shia.
Suasana ini mengingatkan Luhan akan malam natal, perbedaannya hanya pada ornament dan pohon natal yang sekarang absen. Shia sibuk membuka kado bersama Sehun dan Ibunya yang menemani di atas karpet, sementara di sini ia duduk bersama Baekhyun yang sedang menyesap wine.
Luhan menatapnya sedikit sebal. Baekhyun menyadarinya dengan baik dan tertawa minta maaf.
"Satu gelas lagi, Luhan, hehe."
Luhan mendengus geli. Wine tak pernah absen, karena di sini ada Baekhyun—dan juga Sehun sebenarnya.
"Sudah lama sekali sejak aku meminumnya hummm…"
Baekhyun tertawa menahan diri agar tidak menarik pipi Luhan karena astaga, ibu hamil ini menjadi berkali lipat lebih menggemaskan.
"Bagaimana bisa kau minum sementara kau sedang hamil muda, Luhan?"
Luhan melotot dan Baekhyun menyadari kesalahannya ketika seisi ruang yang sebelumnya riuh rendah dengan gurauan dan humor, tiba-tiba sepi dan semua orang menatap mereka terkejut.
"Oh… Jangan bilang kau belum memberitahu Sehun? Dan semua orang? Bukankah kau berkata akan memberitahukan kabar ini di tanggal 12?"
Luhan mengibas tangan, menghalau rona merah di wajahnya.
"Aku memutuskan untuk mengatakannya hari ini, di mana semua orang berkumpul. Eum," Luhan mengedarkan pandang. Pada Ayah Ibunya yang berkaca-kaca, juga Paman Seo dan Chanyeol yang tersenyum lembut, terakhir pada Shia yang berbinar terang dan Sehun, dia terdiam dengan mata menatap dalam.
Luhan tersenyum.
"Aku hamil, ini terhitung minggu kelima. Apakah aku akan mendapat selamat?"
"Astaga Luhan!"
Ia mendapat serbuan pelukan, Luhan hanya bisa tertawa bahagia mendapat semua ucapan selamat. Ibunya menangis tersedu di pelukan sang Ayah, sementara Shia sudah sangat berbinar. Bertanya tanpa henti kapan adiknya akan lahir, siapa namanya, apakah yang ia rasakan dan hal-hal menggemaskan lain yang membuatnya mencium sayang putri kecilnya itu.
"Luhan, selamat. Aku ikut berbahagia." Kata Chanyeol dengan senyum tulus, Luhan mengangguk berterimakasih.
"Tuan Sehun, bukankah kau harus mengatakan sesuatu untuk Nyonya Luhan?" tanya Paman Seo dengan nada menggoda. Sehun masih berdiri kaku, menatapnya tanpa kedip.
"Kau hamil?"
"Ya. Dia sudah berada di sini selama lima minggu. Apa kau ingin menyapanya?"
Sehun menutup wajah dengan sebelah tangan, dan ia mengerti Sehun tak ingin begitu banyak orang melihatnya dalam keadaan lemah karena menangis.
"Sudah, jangan membuat Luhan salah paham, Bodoh."
Sehun tertawa susah payah, mendekat dan merengkuh Luhan ke dalam pelukannya. Luhan tersenyum saat ia mendengar lirih isakan Sehun, serta gumaman terimakasih yang tidak berhenti prianya ucapkan. Luhan sampai menyandar ke sofa menerima seluruh berat tubuh itu, sedikit terkekeh betapa Sehun sangat lucu dengan reaksinya.
"Terimakasih…Terimakasih…"
"Hm mm. Bukankah ini hadiah yang sangat istimewa?"
Sehun mengangguk cepat, menenggelamkan wajah ke leher Luhan. "Kau tidak tahu betapa bahagianya aku mendengar kabar ini. Astaga, Sayang, aku sangat mencintaimu."
Luhan membalas pelukan Sehun lebih erat.
"Apakah Papa menangis?" Pertanyaan polos itu mengundang gelak tawa.
Sehun melepaskan pelukan, beralih duduk di samping Luhan dan menyembunyikan wajah ke kedua telapak tangannya.
"Ya, Papamu menangis seperti anak kecil. Oh, bahkan Shia bisa tersenyum selebar ini, lho."
"Diam, Baekhyun." Desis Sehun malu.
Namun Luhan lebih dari sekadar mengerti, jadi ia mengambil sebelah tangan Sehun, mengarahkannya ke perutnya yang mulai memiliki baby bump menggemaskan.
"Hai Sayang, kamu sudah bertemu dengan Papamu, kamu senang?"
Sehun tak dapat menahannya lagi, mencium perut Luhan dengan sayang dan menenggelamkan wajah di sana.
Sepanjang malam Sehun menjadi bahan candaan, wajahnya sepenuhnya memerah karena baik Chanyeol maupun Baekhyun tidak berhenti menggodanya. Luhan tidak dapat membantu apapun kecuali hanya membiarkan Sehun menggenggam tangannya.
Menjelang akhir hari, setelah menidurkan Shia dengan cerita tentang bayi kecil menggemaskan, Luhan datang ke kamar utama dan menemukan Sehun berdiri di belakang jendela. Bayangannya tegas dan kokoh. Luhan mendekat, memeluk Sehun dari belakang sebelum Sehun menarik tubuhnya sendiri.
"Uft!"
Luhan mau tak mau terkekeh ketika Sehun beralih memeluknya dari belakang. "Kau tidak boleh memelukku seperti itu lagi, nanti bayi kita kesakitan."
"Apa sih?" Luhan tak dapat menahan tawa lembut.
"Kenapa kau baru memberitahuku tentang ini? Jika dia berumur lima minggu, itu sudah cukup lama, oke?" Luhan mendengar tuntutan dalam pertanyaan itu. "Bahkan kau tidak mengatakan apapun di tanggal 12, hmm?"
Luhan memilih untuk menjawabnya dengan tenang.
"Aku masih belum yakin, seminggu lalu aku meminta Baekhyun untuk mengantarku ke dokter kandungan, dan meminta agar kau tidak mengetahui ini."
Sehun menghela nafas. "Aku kelelahan dengan semua rasa bahagia ini, aku merasa ingin memelukmu sangat erat dan menciummu. Tapi kita tahu itu akan beresiko jika aku tidak dapat menahan diri. Kau tahu aku lebih sering tidak dapat menahan diri jika sudah menciummu."
Luhan tersenyum mengerti, lalu menatap ke luar di mana langit sudah begitu gelap. "Kita akan berkonsultasi bersamaan dengan periksa kandungan bulan depan, oke?"
Mereka menikmati keheningan.
"Sehun, apa kau bahagia?"
"Pertanyaan macam apa itu?" Sehun berkata gemas, mengigit cuping telinga Luhan main-main. Tangannya mengelus perut Luhan dengan hati-hati. "Tentu saja aku sangat bahagia. Kita akan memiliki satu lagi makhluk menggemaskan di rumah ini."
"Makhluk menggemaskan?" Luhan tak dapat menahan nada gelinya.
"Ya; kau dan Shia. Kalian adalah makhluk menggemaskan mililkku."
"Jadi, kau menginginkan anak laki-laki atau perempuan?"
Sehun tertawa. "Akhirnya kita memiliki pembicaraan ini, heum? Aku tidak mempermasalahkannya; jika dia laki-laki, maka dia akan menjadi anak laki-laki yang tampan sama seperti aku. Jika dia perempuan, maka aku akan memiliki satu tanggung jawab besar lagi di kemudian hari, suatu saat aku akan menjadi musuh bagi putri kita."
"Karena menjadi Papa jahat yang melarang mereka berkencan?" Luhan begitu terhibur dengan jawaban Sehun.
"Aku tidak suka dengan ide itu, aku ulangi. Tapi kau benar."
Sehun mengeratkan pelukannya, mencium leher Luhan yang terbuka.
"Laki-laki atau perempuan, sama saja bagiku."
"Jadi kita akan menolak ide USG untuk mengetahui jenis kelaminnya di kemudian hari?"
"Aku sungguh tidak menyukai kejutan, Luhan, tolonglah." Desah Sehun lelah. Luhan tertawa lagi, merasakan dadanya begitu hangat.
"Sehunna… Kau akan menjadi ayah yang hebat." Luhan mengetahui kekhawatiran yang Sehun rasakan. Bagaimana pun ini adalah momen pertamanya menjadi seorang ayah secara nyata, meski Sehun akan marah jika ia menyinggung perihal itu. Mungkin Luhan akan didiamkan selama beberapa hari jika itu terjadi.
"Bukankah aku sudah menjadi ayah yang hebat untuk Shia?"
Luhan tak dapat menahan air matanya, tersenyum tipis mendengar kalimat mengharukan itu. "Ya…" Bisiknya serak.
.
.
.
Hari berikutnya, Luhan menunggu Kyungsoo di sebuah café bernuansa industrial yang kental. Café cukup ramai ketika Luhan datang, dan ia memilih salah satu meja di lantai dua yang dekat dengan jendela luas. Menunggu dengan damai bersama secangkir teh hijau dan beberapa potong kue beras manis. Agak mengejutkan memang menemui menu ini.
"Luhan?"
Luhan menoleh ke mulut tangga, menemukan sahabat terbaiknya datang dengan tampilan baru yang ia akui begitu cocok. Luhan berdiri, menyambutnya dengan hangat dalam pelukan. Rambutnya dipotong pendek, menyerupai gaya pixie cut yang manis.
"Kyungsoo… Aku sangat merindukanmu, kau tahu?"
Kyungsoo duduk, bersama seulas senyum dan gestur minta maaf dengan kedua tangannya. "Aku diminta pulang ke rumah, dan baru bisa kembali sekarang. Maaf tidak bisa memenuhi undanganmu tadi malam."
"Apa yang kau katakan? Sama sekali bukan masalah, aku akan sangat senang kau datang, tetapi bukan berarti aku akan memaksamu. Apakah keluargamu sehat?"
Kyungsoo mengangguk. "Ya, terimakasih telah bertanya. Mereka juga menitipkan salam untukmu."
Pesanan Kyungsoo datang beberapa saat kemudian; segelas Americano dan sepotong cake cokelat.
"Luhan," Kyungsoo mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dan Luhan hanya bisa tersenyum pasrah, sekuat apapun ia menolak Kyungsoo pasti akan keras kepala. "ini hadiah kecil untukmu. Kau sudah menjadi samonim sekarang, aku nyaris tak tahu harus memberikan apa."
Luhan mengibaskan tangan dengan candaan itu, menerima kotak kecil berwarna hitam polos itu. Saat Luhan membukanya, terdapat gelang rantai perak dengan white gem di sana. Ada print merk ternama berwarna perak di bagian tutup, dan Luhan menatap tak percaya.
"Kyungsoo-ya…"
"Aku membelinya sepasang." Kyungsoo memperlihatkan pergelangan tangannya, menampakkan gelang yang sama dengan sapphire gem.
"Terimakasih."
Kyungsoo hanya tersenyum lebar. Kemudian menyesap americanonya khidmat, sebelum bertanya pada Luhan.
"Kau berjanji akan memberitahuku sesuatu, yang membuatku nyaris mati penasaran karena kau terdengar sangat serius."
Luhan mengulum senyum.
"Aku hamil, sudah 5 minggu."
Kyungsoo membulatkan mata, membuatnya tampak menggemaskan sampai membuat Luhan tak tahan untuk menarik pipinya.
"Lhuhan apah kwau ber—demi Tuhan lepaskan capitanmu!" Kyungsoo berseru gemas. "Kau tidak bercanda?"
"Tentu tidak."
Luhan mengira Kyungsoo akan memeluknya dan memberi selamat, tetapi sahabatnya itu malah meneteskan air mata. Wajahnya memerah dan Luhan tidak dapat mengartikan ekspresinya.
"Kyungie?"
"Astaga, maafkan aku," Kyungsoo mengusap air matanya cepat. "aku bukannya tidak senang, aku bahagia sekali. Aku sangat bahagia mendengar kabar ini. Shia akan menjadi seorang kakak dan astaga…"
"Kyungsoo, jangan menangis." Luhan menyentuh punggung tangan Kyungsoo, masih sedikit tak mengerti.
"Tolong jangan salah paham," kata Kyungsoo setelah ia bisa mengatur nafas. "kau tahu, aku salah satu orang yang mengetahui bagaimana kau merawat dan menyayangi Shia sendirian. Meski kau tak pernah berbagi sepenuhnya, tetapi aku bisa membayangkan betapa berat saat kau harus mengandung sendirian. Luhan," Luhan tertegun melihat tatapan Kyungsoo yang begitu menentramkan. Luhan sangat bersyukur ia tidak kehilangan manusia yang sangat berharga ini. "kini kau memiliki seseorang di sampingmu, dia yang akan merawatmu, dia yang akan memenuhi permintaanmu ketika kau mengidam, dan dia yang akan memijat tengkukmu ketika kau morning sick. Aku … sangat bahagia dengan itu."
"Ah…" Luhan tak dapat berkata-kata. Ia tersenyum dengan ketulusan yang Kyungsoo ucapkan untuknya. "Kyungsoo… Kau tahu aku sangat menyayangimu, kan?"
"Bodoh," Kyungsoo tertawa, meski dengan air mata yang mengalir. "tentu saja kau menyayangiku. Aku juga sangat menyayangimu!"
Mereka menghabiskan waktu untuk jalan-jalan. Menikmati suasana musim Semi yang hangat dan terang. Hanya membicarakan hal-hal ringan, juga mimpi Kyungsoo untuk membangun café-nya sendiri. Karena Nyonya Jung sudah memiliki Jiwon dan satu juru masak lagi.
"Aku ingin memiliki café dengan interior bergaya classic; warna-warna lembut seperti putih, dengan sentuhan sedikit emas dan juga mauve. Apakah menurutmu itu bagus?" Kyungsoo berjalan dengan Luhan di sisinya, menggandeng Ibu hamil yang menatap sedih pada es krim di tangannya.
Kyungsoo tertawa. "Kau belum boleh makan es krim."
"Darimana aturan itu datang?! Aku tahu kau hanya mengerjaiku!" Luhan jengkel, tetapi tertawa ketika Kyungsoo menyodorkan es krim itu padanya.
"Jadi?"
"Itu sangat bagus. Kita bisa menambahkan lampu gantung Kristal, apakah sofa-sofa berwarna krem akan cocok dengan meja berkaki metal? Hmm, kita harus menambahkan beberapa spot untuk single table."
Kyungsoo mengangguk-angguk, sebelum menoleh cepat. "Kau berkata Sehun tidak memperbolehkanmu bekerja, lalu kenapa ada kata kita?" Kyungsoo tak mengerti.
Luhan mengedikkan bahu. "Aku ingin ikut membangun café itu, tidak boleh? Hmm, semacam investasi?"
Kyungsoo bersemu tipis. "Aku baru tahu, seorang ibu hamil bisa menggemaskan seperti ini. Apakah Sehun bahkan rela melihatmu berjalan di luar? Kurasa ia cemburu banyak orang yang menatapmu, hmm?"
Luhan tertawa. "Jangan bicarakan itu, kau tak akan percaya betapa sulit meminta izinnya untuk keluar. Dia baru luluh ketika berkata aku merindukan sahabatku, sampai rasanya ingin mati."
"Apakah itu dengan mata berair?"
Luhan tertawa lagi. "Bagaimana kau bisa tahu?"
Mereka melanjutkan jalan-jalan kecil mereka, sesekali keluar masuk toko jika salah satunya melihat sesuatu yang menarik.
Luhan tidak menyadari tatapan haru yang Kyungsoo berikan padanya; dalam diam wanita bermata burung hantu itu bersyukur, Luhan dapat memiliki sisi yang begitu bebas, cerah, dan memiliki senyum manis yang lepas, tak lagi menahan dan memaksakan diri. Luhan yang dikenalnya dulu adalah pribadi dewasa luar biasa, yang memiliki tatapan teduh dan penuh tekanan. Senyumnya begitu tulus untuk putri tunggalnya, Shia, tetapi menyimpan berjuta kepedihan dan rasa sakit.
Kyungsoo ikut bahagia, semua penderitaan Luhan terbayar dengan satu senyum sederhana yang lepas itu.
"Jadi, Kyungsoo, apakah kau sudah bertukar nomor dengan Detektif Kim?"
Kyungsoo melotot sebal. "Kau akan kubuat menyesal mengangkat topik itu, Nyonya Oh Lu Han!"
.
.
.
Akhir Musim Panas, di mana udara dingin dan kering mulai mengantikan hawa panas dan aroma matahari yang khas.
Shia menunggu Sehun datang menjemput, karena seminggu terakhir ini Luhan sudah mulai kesulitan dengan perutnya yang membesar. Juga sempat membuat seisi rumah panik dengan flu musim panas yang membuat Shia merajuk tak bisa berdekatan dengan Luhan.
"Shia, kamu menunggu siapa?"
Seorang anak lelaki berambut hitam datang dan berdiri di sampingnya, namanya Huan, dan dia adalah murid yang paling pandai yang pernah Shia tahu.
Shia tersenyum kecil. "Papa."
"Oh, akhir-akhir ini kamu selalu menyebut Papa. Mamamu sudah jarang menjemput, ya?"
Shia mengangguk kalem. Ingin menjelaskan sedikit tetapi ia melihat mobil Papanya datang mendekat. Shia berbinar.
"Huan-ah, Shia pulang dulu ya? Dah, Huan!"
Huan tersenyum manis. "Dah, Shia! Hati-hati di jalan!"
Sehun bahkan tak perlu membukakan pintu, Shia sudah langsung masuk dan duduk di kursi samping kemudi setelah meletakkan tasnya di kursi belakang.
"Selamat Siang, Papa!" Shia tersenyum manis. Sehun membalas senyum manis itu, lalu menjalankan mobilnya.
"Selamat Siang, Sayang. Apakah hari ini berjalan dengan baik?"
Shia mengangguk, mengeluarkan note kecil dari saku cardigannya dan membacanya berurutan.
"Shia belajar matematika, ada dua soal yang salah tetapi Miss Yoon berkata itu tidak apa-apa. Hmm… Lalu tadi pelajaran keterampilan, Shia berhasil membuat banyak sekali origami burung. Yang terakhir …" Shia terdiam sebentar, mengernyit kecil. "Miss Yoon bercerita tentang lukisan-lukisan dan warna-warna dasar. Shia tidak terlalu ingat bagian ini…" Shia berucap makin kecil.
Sehun mengusak rambutnya. "Tidak apa-apa, bukankah nanti sore Mr. Lee akan datang dan melihat Shia melukis? Apa yang ingin Shia lukis nanti?"
Shia tersenyum. "Hmm… Sepertinya Shia ingin melukis pantai."
Shia masuk ke rumah dengan sambutan kecil, langsung berlari ke kamarnya di lantai dua dan berganti pakaian. Seperti biasa di sana sudah ada Nona Miran yang menyapanya ceria, selalu dengan "Apakah hari ini menyenangkan?" atau "Apakah Nona Shia ingin bercerita?". Shia terkikik kecil.
"Apakah Mama sedang tidur?"
"Ya, Nona. Nyonya sedang tidur setelah menyelesaikan beberapa rangkaian bunga. Nona melihatnya?"
Shia menoleh ke meja nakas dekat jendela, dan menemukan rangkaian bunga mawar merah muda gelap dan hyacinth di sana. "Cantik sekali…" Gumamnya senang.
"Secantik Nona Shia, Nona ingin makan siang atau mengunjungi Nyonya dulu?"
"Tentu saja ke kamar Mama! Shia ingin menyapa adik bayi!"
Shia berterimakasih tepat setelah Miran mengancingkan kancing gaun terakhirnya, lalu berlari ceria menuju kamar utama. Sudah dapat ia tebak di sana Papanya sedang mengganggu Mamanya. Shia tersenyum lebar dengan pikiran tersebut, memelankan langkah tepat setelah mendekati pintu kamar utama.
Mengetuknya pelan dengan kaki menari kecil.
"Masuk, Sayang."
Suara lembut itu membuat Shia tersenyum, ia masuk dan menemukan Luhan duduk bersandar di atas ranjang bersama Sehun di sisinya.
"Kenapa Papa selalu mencuri waktu? Bukankah seharusnya Papa belum boleh pulang, hmm? Miss Yoon said wasting time is not a good thing." Ucapan itu polos, tetapi mengirimkan sindiran yang cukup tajam. Gadis kecil mereka rupanya tahu Sehun selalu ingin bersama Luhan, bahkan sampai tahap memonopoli—tolong dimengerti, ia masih tidak terima nyaris seminggu tidak memeluk Luhan, oke?
Sehun tersenyum kaku, tampak mengerti dirinya sedikit dimusuhi.
"Peluk Mama, Sayang." Luhan tersenyum kecil, menyambut pelukan Shia yang cukup berhati-hati. Shia meletakkan kepalanya di perut Luhan yang sudah membesar. Bayi kecil itu sudah berumur enam bulan, mulai bergerak kesana kemari di dalam perut Ibunya.
"Siang, Shane… Apakah Shane menjadi anak baik dan tidak menyusahkan Mama?"
Sudah terkonfirmasi bahwa bayi yang dikandung Luhan adalah laki-laki, dan Shia langsung menyeletuk ingin memberinya nama. Luhan belum memikirkannya, tetapi kemudian Sehun bergumam ingin memberi nama yang tidak jauh berbeda dengan Shia. Dengan seluruh keegoisannya, Luhan merasa menjadi orang luar dengan pemilihan nama itu—Sehun, Shia, Shane, tidakkah itu terlalu mirip? Tapi Luhan tak bisa protes terang-terangan karena ia juga menyukai nama itu. Sedikit menyebalkan memang.
"Adikmu sangat pintar hari ini, dia terus bergerak tapi tidak sampai membuat Mama tidak nyaman."
Shia mengecup perut Luhan. "Baby Shane pintar sekali!"
"Apakah hari ini berjalan dengan baik?"
Shia tersenyum, pertanyaan itu selalu sama dengan apa yang Shia dapat dari Sehun. "Berjalan saaangat baik! Di pelajaran matematika Shia salah dua, tetapi itu baik-baik saja. Shia juga sudah bisa membuat origami burung! Shia akan membuatkannya untuk Mama nanti. Oh oh… Shia juga ingin melukis pantai nanti. Mama, apakah Mama sudah menyiapkan pudding stroberi untuk Mr. Lee?"
Luhan tertawa. "Sudah, Sayang. Kamu bisa mengambilnya di lemari pendingin bagian atas, oke?"
Shia terus bercerita sampai suara ketukan mengalihkan perhatian.
Pintu terbuka. Miran datang dengan bungkukan tubuh ringan.
"Nona Shia, Mr. Lee sudah datang untuk Anda. Beliau menunggu di ruang lukis."
"Oh! Mr. Lee sudah datang! Mama," Shia mengecup pipi Luhan cepat, lalu beralih pada Sehun yang balas mengecup keningnya. "Shia belajar melukis dulu ya, oh iya, apakah Shia boleh meminta Mama datang nanti jika Mama tidak terlalu lelah?"
"Tentu saja. Bersenang-senanglah, Sayang."
Sehun membawa Luhan ke pelukannya begitu pintu tertutup, mencium puncak kepala Luhan dengan sayang dan penuh kehati-hatian.
"Ada apa, Sehun? Kau menginginkan sesuatu lagi?"
Sehun terkekeh. Mengingat kebelakang di mana ia menjadi pria yang sangat merepotkan dengan keinginan-keinginan konyolnya. Luhan yang mengandung, dia yang mengalami morning sick dan segala macam kelelahan fisik. Tetapi yang mengambil bagian untuk mood swing dan mengidam adalah dirinya; membuatnya malu bukan kepalang, sebenarnya. Tapi ia bisa apa jika orang-orang mengatakan itu adalah keinginan anak mereka?
Sehun tidak mengalami masalah dengan mengidam, hal-hal yang ia inginkan cukup sederhana dan mudah ditemukan.
Namun, berbeda dengan mood swing.
Mood swing yang Sehun alami sejujurnya cukup parah, tetapi pengedalian emosi sudah menjadi seperti kemampuan dasar, jadi tak banyak yang mengetahui tingkat keparahannya selain mereka berdua—ia dan dirinya yang lain. Yang muncul ke permukaan tanpa bisa disembunyikan hanya perasaan gelisah dan takut yang membuatnya ingin selalu di dekat Luhan.
"Aku ingin memelukmu terus. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan."
"Tidak akan ada sesuatu buruk yang akan terjadi, kau menjagaku, kan, Sehunna?"
Sehun tersenyum, mendapati Luhan selalu tahu apa yang harus dia lakukan untuk membuatnya merasa sedikit tenang.
Sehun memutuskan untuk membiarkan Luhan kembali istirahat, untuk kemudian pergi ke kamar mandi sejenak. Memejamkan mata rileks dengan punggung menyandar dinding. Ia merasakan dorongan kuat dalam dirinya, membiarkan sensasi tenggelam memeluknya dan ia tahu ia memberi kesempatan pada Shixun untuk mengambil alih. Pekerjaannya setelah ini adalah bagian Shixun, bukan dirinya.
Shixun membuka mata, menatap sejenak bayangan di pantulan cermin yang lebih pucat dari biasanya. Sehun selalu mendapat banyak kekhawatiran, rasa takut dan kegelisahan yang sejujurnya berlebihan. Ia bisa merasakannya, sedikit banyak juga terpengaruh.
Sehun tidak pernah membicarakan itu padanya, bahkan mereka tak punya obrolan berarti sejak saat itu. Tetapi Shixun tahu Sehun memikirkan tentang keberadaan mereka berdua. Shixun tidak membenci putra mereka yang Luhan kandung, tapi juga tidak begitu sangat antusias. Yang dapat ia pikirkan adalah keluarga ini akan menjadi sempurna—terlepas dari kebenaran tentang keberadaannya, dan Luhan tak akan pernah mencoba berpikir untuk pergi.
Ia tahu Sehun juga khawatir tentang bagaimana mereka akan membesarkan putra mereka nanti, tentang posisinya nanti. Keluarga Park merupakan salah satu keluarga yang berpengaruh, meski Sehun tetap menggunakan nama lamanya, tidak akan ada yang menyangkal jika nama Oh Se Hun menduduki puncak hierarki. Karena Park Chan Yeol melakukan apa yang ia sukai, sangat tidak keberatan meninggalkan tampuk kekuasaan ke tangannya. Chanyeol memiliki posisinya sendiri, tetapi dia bukan pria yang bertanggung jawab terhadap seluruh organisasi sejak gelar pewaris dilimpahkan pada Oh Se Hun.
Mereka berdua sudah mengetahui seluk beluk keluarga ini, kakek Chanyeol adalah pendiri organisasi dan yang bertanggung jawab terhadap semua jaringan dan koneksi, juga wilayah. Dan organisasi ini sudah begitu besar dan berafiliasi dengan beberapa kelompok besar lain. Perputaran uang kotor sudah menjamah perusahaan-perusahaan terbuka dan virtual di beberapa belahan dunia. Mengalihkan kekuasaan adalah hal bodoh terakhir.
Shia tentu akan menjadi pewaris utama, sebagaimana apa yang Sehun lakukan selama bertahun-tahun. Tetapi membiarkan Shia juga mewarisi bagian yang menyeberang garis terang nyaris tidak mungkin, sangat tidak mungkin dengan semua traumanya. Itu sama saja jalan bunuh diri.
Yang menjadi masalah terbesar adalah, Sehun juga tidak menginginkan putra mereka nanti menapaki jalan yang sama. Dan entah bagaimana, Shixun juga tidak merasa senang dengan ide itu. Sejak awal Oh Se Hun dan Shi Xun adalah jiwa yang cacat, dan menenggelamkan diri ke dalam kegelapan menjadi satu-satunya pilihan. Memikirkan jalan yang penuh dengan darah untuk bayi yang bahkan belum menghirup udara terasa begitu salah.
Shixun menghela nafas. Itu membuat kepalanya berdenyut, ia memutuskan akan memikirkannya nanti.
Shixun keluar dan mendapati Luhan sudah kembali terlelap damai. Wajahnya berseri cerah dan penuh kebahagiaan, meski lelah masih tergurat di sana. Shixun mendekat, mengusap wajah itu dengan perlahan dan mendaratkan ciuman kecil di bibir yang sedikit terbuka itu.
Luhan membuka mata sayu, terdiam sebentar sebelum tersenyum tipis. "Kau akan kembali ke rumah sakit, Sayang?"
Shixun mengangguk. "Aku akan melihat Shia sebentar sebelum pergi."
"Hati-hati di jalan."
Shixun mengecup Luhan sekali lagi dan pergi.
Sunyi, adalah suasana yang selalu tercipta ketika Shia menyentuh kuas lukis dan menorehkan warna ke kanvas. Putrinya duduk membelakangi cahaya dari jendela, dengan Mr. Lee berdiri di sisinya penuh pertimbangan. Alis pria setengah baya itu mengerut cukup tajam, begitu serius menatap apa yang tengah Shia kerjakan.
Shixun melangkah pelan, mencoba tidak mendistraksi juga tidak berniat mengendap. Mr. Lee menangkap kedatangannya, bersikap sopan dengan menundukkan kepala sejenak. Shixun tersenyum samar, lalu memindai apa yang sedang Shia lukis.
Shixun tidak bisa tidak tertegun, ia ingat Shia menyebutkan pantai, dan tak hanya sekali. Tetapi apa yang ia lukis sekarang begitu jauh dari objek itu. Shixun tak bisa menarik kesimpulan karena ia bukan orang yang memiliki paham soal seni lukis. Yang bisa ia katakan itu adalah abstrak. Garis-garis tak beraturan, terdiri dari garis tegas dan garis lengkung, serta goresan cat yang membaur antar warna.
"Sepertinya dia ingin melukis sesuatu yang berhubungan dengan langit malam di kutub—semacam aurora, atau mungkin galaksi." Mr. Lee menjelaskan tanpa diminta.
Shixun terus mengamatinya. Ya, itu sesuatu yang berhubungan, karena gambar itu tidak memiliki unsur realist di sana. Warna-warna tajam seperti biru gelap dan ungu bertabrakan, membaur di beberapa titik. Dengan garis-garis dari warna yang lebih gelap membingkai dengan pusat sebuah bintang—Shixun tidak yakin itu bintang, itu lebih terlihat seperti sisa spasi di tengah kanvas yang belum tersentuh cat.
"Shia menyukainya." Kata Shia.
Shixun menatap bagaimana Mr. Lee tersenyum dan menepuk bahu Shia, Shixun tidak melihat superioritas di sana, Mr. Lee lebih menganggap Shia setara dengannya. Seperti seorang teman.
"Apa yang kamu inginkan untuk itu?" Shixun mengerti Mr. Lee merujuk pada bagian tengah kanvas.
Shia terdiam sejenak, menelengkan kepala selama beberapa saat sebelum tersenyum polos. Berkata dengan ringan. "Shia tidak tahu, apakah boleh Shia membiarkannya kosong seperti itu?"
Shixun tidak mengerti kenapa ia memikirkan kalimat itu sampai ke tulang.
"Papa, bukankah Papa meninggalkan pekerjaan terlalu lama?" Ucapan itu cukup menusuk, sepertinya putri kecilnya masih sedikit ngambek.
Shixun terkekeh tanpa bisa menahannya, untuk kemudian dengan tulus—jika ia bisa menggunakan kata itu, mencium puncak kepala Shia yang kembali konsentrasi dengan lukisannya.
"Tidak menyayangi kuku cantikmu yang akan ternodai?" Shixun mengerling jemari Shia yang penuh cat, serapi apapun dia dengan lukisannya, jemarinya akan tetap berwarna.
"Shia sudah mengotorinya berkali-kali, dan selalu bisa dibersihkan jika kotor, Papa."
Shixun tersenyum samar. Meninggalkan dua orang itu dengan dunia mereka sendiri. Shixun mengambil ponsel di sakunya, memanggil seseorang yang ada di speed dial ke 2.
"Chanyeol… Katakan pada Lance dan Huening aku akan segera datang."
Suara Shixun menghilang sepenuhnya.
Shia menatap kepergian Shixun dengan sedikit cebikan bibir.
"Ada apa, Shia?"
Shia menggeleng, kembali ke lukisannya dengan tatapan berkabut. "It's fine, Mr. Lee. I just haven't said goodbye to him."
.
Tbc
.
I'm stressed out because of all this corona things (ノT_T)ノ(﹏)
Phase seems run a bit fast, but I've warned it for ya. I just wanna make us reach the next section without too much unnecessarily things, then hit the last conflict.
See you soon.
.
Anne, 2020-05-31
