disclaimer © Kanata Konami
warning Chi-centric, mungkin OOC, PWP (plot? what plot?), confused plot, typo(s), kebutaan EBI, ide klise, diksi ambyar, totally random.
"Bermain! Bermain! Chi suka bermain! Bersama Cocchi, Ann, dan Telly! Hum hum hum!"
Karena kurang lebih seminggu lagi musim gugur akan datang, suhu hari ini bisa dikatakan sejuk. Beberapa pohon terlihat sudah menguningkan bahkan menanggalkan daun-daunnya. Sebagai tambahan, kali ini Youhei mengekori Chi dari belakang sesuai dengan saran Juri. Youhei akan bergabung dalam permainan yang Chi ikuti jika waktunya tepat.
"Itu Ann dan Telly!" seru Chi.
Ann dan Telly menyahut berbarengan. "Chi!"
Chi memiringkan kepalanya. "Apa yang Ann dan Telly lakukan?"
Telly justru tidak menjawab pertanyaan Chi, "Tidak kusangka kemarin kita bisa bertemu!"
"Bertemu Ann, Telly, dan dokter kemarin!" Secara ajaib, Chi si kucing dengan ingatan jangka pendeknya, ternyata masih mampu mengingat apa yang terjadi hari sebelumnya.
Ann mengulas senyum imutnya. "Kami belum lama sampai, dan kemarin itu sungguh menyenangkan!
"Cocchi mana?" Toleh kiri, tidak ada. Toleh kanan, sama saja. Chi tetap tidak melihat keberadaan nama anak kucing yang dia sebut itu. "Mana Cocchi?"
"Mungkin Cocchi tidak datang lagi hari ini." Ann menggeleng putus asa. "Aku dan Telly juga sudah mencari Cocchi saat sampai di sini, tapi kami sama sekali tidak menemukannya."
"Cocchi ingin memiliki harta karun sendiri," tutur Chi seenaknya. "Pasti seperti itu."
"Begitukah?" Telly merespons, sepertinya dia sedikit tidak setuju dengan pendapat Chi.
"Oooooooi!"
Tiga pasang telinga langsung berdiri.
"Apa kalian mendengar itu?" tanya Ann.
"Chi mendengarnya!" jawab Chi.
"Itu seperti suara Cocchi!" sambung Telly.
Seperti yang dikatakan Telly, Cocchi berlari memasuki taman. Youhei yang sejak awal sudah bersembunyi di balik salah satu semak-semak hanya mengernyit bingung, terlebih lagi pada saat seekor anak kucing lain datang ke taman.
Sebelumnya, Youhei pernah satu kali diam-diam mengikuti Chi untuk mengetahui seperti apa dunia kehidupan kucing, namun kali ini Youhei hanya ingin membuktikan perkataan Juri dengan membuntuti Chi seharian. Mungkin agak lucu jika mendengar seseorang yang sangat ingin tahu, seberapa besar cinta seekor hewan kepada teman manusianya. Nyatanya, sebagai anak kecil yang sangat suka bermain sekaligus sungguh mencintai Chi, tentu Youhei memikirkannya.
"Chi memang punya dunia sendiri ketika tidak ada di rumah," gumam Youhei. Ada keraguan yang terselip dalam kalimat selanjutnya. "Apa benar kata Juri-chan ... kalau Chi sangat senang bermain di luar jika bersamaku? Tampaknya dia melupakanku kalau sudah berada di luar …. Ah! Tapi ini memang tujuanku mengikuti Chi hari ini. Aku ingin tahu!"
Kembali pada situasi di sekitar Chi, sekarang Cocchi sedang berusaha mengatur napasnya. Ann dan Telly menatap Cocchi dan satu sama lain bergantian, berbeda dengan Chi yang tanpa pikir panjang langsung menabrakkan dirinya pada Cocchi. Reaksi Cocchi? Sudah jelas dia marah dengan ekspresi muka tak senang.
"Apa yang barusan kaulakukan, hah?!" hardik Cocchi. Chi membeku di tempat. "Biarkan aku beristirahat sebentar!"
"Apa kucing yang itu mau melukai Chi?" tanya Youhei. "Tapi kemarin kata Juri-chan kucing itu baik."
Chi berkedip dua kali. Selama lima detik, matanya terus membelalak karena terkejut. Setelah itu, Chi mengeong panjang dengan intonasi ceria. "Chi senang bisa bertemu lagi dengan Cocchi! Hewewewee!"
Cocchi membuang muka. "Heh."
"Cocchi, ke mana saja kamu pergi selama ini?" tanya Ann khawatir. "Kami semua bingung mencarimu ke mana."
Ada jeda sebelum Cocchi menjawab, "Itu bukan urusan kalian. Lagi pula aku sudah kembali. Kekh."
"Sudah Chi katakan, Cocchi mendapat harta karun mangsa yang banyak dan ingin menyimpannya sendiri." Chi mengulang pendapat yang diutarakannya sebelum Cocchi datang. Yang dibicarakan langsung mendelik ke arah Chi dan memprotes tidak terima.
"Aku tidak begitu!"
"Cocchi begitu!"
"Jangan seenaknya!"
"Tapi Chi benar!"
"Tidak! Kau sama sekali tidak benar! MIGAAAAA! Berhenti menggigit ekorku!"
"Cocchi juga menggigit ekor Chi! Miaaaaaaawww!"
"Hentikan! Jangan meniru apa yang kukatakan!"
"Cocchi yang meniru apa yang Chi katakan!"
Pada akhirnya, adu mulut dan saling gigit di antara Cocchi dan Chi berhenti karena kedua belah pihak merasa kelelahan. Ann bersama Telly juga berperan dalam memisahkan keduanya agar tidak terus-terusan bertengkar. Di tempat persembunyiannya, Youhei sempat berniat untuk memisahkan Chi dengan kucing liar itu, namun tidak jadi karena sesuatu yang bahkan Youhei tak mengerti kenapa.
Di salah satu bangku panjang, seorang pria dewasa duduk. Di atas pangkuannya terdapat sebuah kotak berwarna ungu dengan bagian tutup di bawahnya. Asap mengepul-ngepul dari makanan hangat itu, meningkatkan selera makan bagi siapa saja yang mencium aromanya. Sejumlah kucing dewasa pun terlihat mendekat, namun dia memilih beranjak dan duduk di bangku yang lain. Kejadian itu terus berlangsung, hingga pada akhirnya dia duduk di salah satu bangku yang berlokasi cukup dekat dengan Chi dan teman-temannya.
Di antara mereka berempat, Chi adalah yang paling polos dan tidak mengenal marabahaya sebelum mengalaminya sendiri. Karena ketidaktahuannya itulah, Chi berani mendekati si pria berwajah tidak terlalu bersahabat yang memiliki makanan lezat. Ann mengeong cukup keras, akan tetapi Chi seperti tidak mendengarkan.
"Myaa?" Chi menengadah, memandang asap itu penasaran sekaligus penuh harap.
"Chi, dasar kau!" omel Cocchi. Bersama Telly dan juga Ann, mereka menyusul Chi yang tak merasa terancam sama sekali. "Tidakkah kau melihat apa yang dia lakukan pada kucing-kucing tadi? Dia mau menendang mereka!"
Pria yang terus berusaha menyantap camilannya hanya menghela napas. "Aku tidak bisa mengabaikan kucing-kucing seimut kalian. Apa kalian memang menginginkan ini? Kalian tahu, ini hanya wortel rebus, bukan daging seperti yang kalian sukai."
Meskipun berpendapat demikian, pria itu menaruh empat potong wortel rebus berbentuk bunga kecil miliknya di tanah. Chi mengendus baunya—menurut Chi sama persis dengan apa yang dia cium tadi. Chi menepuk-nepuk wortel rebus jatahnya beberapa kali dengan tujuan agar tidak terlalu panas saat dimakan. Setelah melakukan serangkaian persiapan, serta yakin bahwa dia akan makan enak hari ini, Chi langsung melahap dan mengunyahnya
"Chi, apa kau baik-baik saja?" tanya Telly khawatir.
"Hawawawa!" Terdengar suara makanan ditelan yang cukup keras. Air liur tak lama kemudian menetes dari sudut bibir Chi. "Ini enak sekali! Chi ingin lagi!"
Ann dan Telly ikut melakukan hal yang sama, begitu juga dengan Cocchi yang sebenarnya agak ragu. Mendapati keempat anak kucing di depannya tampak senang, pria itu memberikan beberapa potong wortel rebus lagi untuk mereka.
"Melihat kalian membuatku teringat dengan kucing peliharaanku," tuturnya. "Dia sudah lama mati. Aku jadi membenci kucing karena dia meninggalkanku. Aku ingat sekali dia sangat suka wortel rebus seperti kalian. Tumbuhlah besar kalian semua, oke?"
"Ini benar-benar enak!" komentar Telly.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" Yang Ann maksud adalah Si Pria Wortel Rebus. "Ternyata dia baik, ya."
Lelaki yang tampak paruh baya tersebut menepuk dahinya. "Apa yang kulakukan? Aku berbicara dengan empat ekor anak kucing? Aku benar-benar aneh, hahahaha!"
Chi menggigit wortel terakhir miliknya, lalu berlari meninggalkan pria itu. Youhei yang terus mengawasi Chi sangat syok begitu tahu Chi bermaksud mendatanginya.
"Myaaaaaa!" Ternyata Youhei di sini! Youhei beraroma lebih enak!
"Kau bermaksud ... memberikan itu untukku?" tanya Youhei menanggapi potongan wortel yang Chi jatuhkan dari mulutnya. "Ternyata kau memang benar-benar memikirkanku, Chi!"
"Myamya! Mya!" Hooooooo! Youhei main petak umpet! Chi menemukan Youhei!
"Hahaha, Chi. Tentu saja!" Youhei menggendong peliharaan kesayangannya. "Ayo kita bermain bersama. Aku menyayangimu, Chi!"
"Nyaaaaaaa!"
tamat
~himmedelweiss 21/08/2020
