Disclaimer: Semua tokoh dalam "Naruto" adalah milik Masashi Kishimoto dan cerita ini dibuat hanya demi hiburan. Adapun peminjaman nama perusahaan, tidak saya lakukan dengan maksud menyinggung.
MADDENING RIDDLES
o
o
o
o
o
Riddle #18
Shikamaru menyalakan rokok, sementara Sasuke memperhatikan ayunan Newton di meja kerja. Detektif itu tersenyum saat tamunya tak juga mengalihkan perhatian dari benda tersebut. Seakan ada ide yang muncul, ia meraihnya dan membenturkan bandul paling ujung. Pendulum di sisi lain pun bergerak. Sontak, Sasuke mengedip.
"Apa yang Anda pikirkan?" tanya Shikamaru.
"Tidak," jawab Sasuke.
Kali ini, sang detektif yang memandangi ayunan tadi. Lalu, untuk yang kedua kali, ia mengulanginya hingga menghasilkan gerakan bertempo ajek. Merasa tertarik, sang inspektur juga memainkannya, tapi yang ia tarik adalah pendulum yang tidak disentuh Shikamaru. Aneh, gerakan statis itu seperti memberi efek menenangkan sekaligus fokus.
"Newton," ujar Sasuke tak yakin.
"Einstein," balas sang detektif.
Polisi itu mendadak berhenti memandangi bandul. Ayunan itu adalah alat peraga untuk menjelaskan hukum ketiga Newton, tepatnya kekelan momentum dan energi. Ia sempat mencoba menganalogikan para polisi dan pembunuh, tapi Shikamaru baru saja menyadarkannya bahwa teori itu tak akan berlaku pada selain benda atau apa pun yang tidak memiliki kekonstanan.
Aksi para polisi dengan reaksi atasan dan pelaku nyatanya tidak terjadi secara linear. Ada beberapa faktor yang mempelambat pergerakan, misal pola gerak acak pelaku, kondisi emosional para penyelidik, hal-hal tak terduga, perubahan susunan strategi, dan tuntutan yang kadang membuat misi ditunda. Terutama saat ini. Kedua, mereka hanya tahu bahwa mereka bergerak, tapi tak tahu kecepatannya. Setelahnya, sang detektif berandai, kalau pelaku berada di, katakan, kerangka acuan non-inersia yang dalam hal ini adalah wadah, maka mereka akan sama-sama tidak tahu.
Shikamaru mengambil kertas dan pensil, lalu menggambar ilustrasi dua pengamat dalam dua kerangka acuan. Jika seperti ini, barulah pusat koordinasi relatif terlihat berbeda. Yang satunya para polisi dan satu lagi pelaku. Inilah realitasnya: si pelaku sebenarnya sudah tidak sewadah lagi.
Darah Sasuke berdesir, terasa ngeri dan ia tak ingin percaya. Kata sebenarnya seolah menyiratkan, pelaku ialah seseorang yang posisinya dekat.
"Jadi ... Anda yakin dia ada di kepolisian?" tanyanya.
Sang detektif memandanginya lekat-lekat. Disunggingkannya senyum sinis sebelum mengatakan bahwa mereka harus paham dasar tuduhannya. Menggunakan analogi rumit ini ia yakini sebagai cara paling jitu untuk meraih pencerahan.
"Siapa yang lebih tahu pergerakan kalian? Wartawan? Masyarakat? Itu konyol sekali," katanya.
"Aku sudah memeriksa data para sersan dan tak menemukan apa-apa," balas sang inspektur.
"Uchiha ... kubilang, siapa yang lebih tahu."
Sesama penyelidik dan atasan, termasuk petinggi. Hanya itu kemungkinannya. Bagi Shikamaru, dasar logikanya sesederhana itu. Ia pun kembali berkutat dengan teori Einstein. Namun, kal ini ia menggunakan perumpamaan yang lebih gampang sejak yang ia hadapi sekarang adalah Uchiha Kacau Sasuke.
Sama seperti berada dalam pesawat, para polisi tidak bisa mengatakan apakah pesawat yang mereka tumpangi bergerak cepat, malah terasa tidak bergerak sama sekali. Shikamaru yakin, pelaku masih ada dalam pesawat yang sama sampai tujuan pribadinya tercapai. Maksudnya adalah si CEO sebab pelaku tak muncul setelah itu. Sebagai pilot, Sasuke diarahkan ke bandar udara yang jalurnya memutar. Pelaku juga masih merasa santai sebelum Jiraiya ditahan. Dengan tak adanya sidik jari dan darah anjing, ia berhasil mengecoh hingga setidaknya tujuannya ditunaikan. Ia jadi tak begitu yakin lagi bahwa ia akan tetap bebas setelah penangkapan. Di situlah ia terpisah.
Shikamaru pernah menyarankan supaya strategi dadakan mereka dirahasiakan. Si pelaku akan bingung dan mereka akhirnya bisa bertindak dengan bebas. Itulah yang ia maksud. Sasuke berpikir, berdiskusi di rumahnya memang tepat. Tak menerima dana operasional dan melaporkan semua rencana mereka juga benar.
"Sepertinya, markasku berubah menjadi kandang hyena," ujarnya.
Dan kata mengarahkan tadi benar-benar mengganggu. Orang-orang yang berhak mengarahkan hanya Kakashi dan Temari. Oh, Tuhan, sampai kapan ia harus terus berprasangka? Apalagi, mereka berhenti dengan alasan dihentikan sejak Temujin menjadi "aktor panggungnya."
"A ... baiklah," ujar Shikamaru, lalu terdiam, seakan sedang memikirkan hal lain. "Anda mungkin benar, tapi sebaiknya strategi itu cuma Anda dan orang yang Anda percayai yang tahu. Untuk menentukan siapa saja yang patut dipercaya, gunakan intuisi dan kepekaan Anda!"
Kakashi dan timnya. Mereka yang paling ia percayai. Kakashi ... di antara perasaan mamang, ia meyakini pria itu tidak seperti prasangkanya. Lalu, Sakura. Setidaknya, wanita itu memiliki alibi tak terbantahkan. Pada saat kejadian, ia dan Gaara masih berada di Azerbaijan, maka tak salah jika ia percaya pada mereka. Tetapi, mencurigai yang lain terasa tak waras. Ia berpikir, jangan-jangan Shikamaru sedang melakukan hal yang sama seperti ketika kasus Mifune.
Tiba-tiba, ia merasa bimbang lagi. Entah sudah keberapakalinya. Di satu sisi, Gaara adalah salah satu yang bisa ia percaya, itu mengapa ia memilih menemui si detektif dan mengabaikan larangan Naruto yang juga ia percayai. Namun, jika dipikirkan, di belakang rekan kepercayaannya, larangan datang dari anak buahnya yang lain. Demi Tuhan, hati kecilnya menolak mencurigai mereka. Sangat menolak. Ia pun terdiam sejenak.
"Lalu, apa posisi Anda?" tanya Sasuke.
"Kalau dalam analogi naik pesawat, aku bocah yang melihatnya dari menara yang tinggi. Anda merasa kalian tak ke mana-mana, tapi tidak bagiku atau pelaku yang baru saja lepas ... ."
"Siapa yang lepas dan bagaimana dia lepas?" potong Sasuke.
Shikamaru berdecak sambil menggerak-gerakkan telunjuknya. Sang polisi NPA tak ayal mengeraskan rahang.
"Aku ingin menghormati gengsi Anda, jadi akan kulanjutkan," katanya. "Bagi pelaku, gerakan kalian lebih tidak terbaca, hanya jika strategi dadakan Anda terjaga. Bagiku, gerakan Anda memang tidak stabil. Tidak konstan karena banyak keraguan."
Artinya, pelaku senang karena sudah berhasil membuat Jiraiya tertangkap, tapi dengan membunuh Dan? Apa Shikamaru waras? Ia pun mulai merangkai sejumlah kemungkinan alasan pelaku, seperti cuma ingin Jiraiya mendapatkan hukuman atau dendam. Namun, yang kedua lebih dapat Sasuke nalar. Dendam itu seperti energi potensial yang mejadi kinetis saat pelaku beraksi. Hanya, jika dendam ialah energi, maka sifatnya akan kekal dan tersimpan. Lalu, jika sudah tuntas, mau apa lagi? Ia ingat, pelaku adalah seorang psikopat. Ia tak tahu apakah setelah tujuan tercapai, psikopat akan terus menyimpannya.
Kemudian, jika motifnya adalah dendam dan nafsu ingin memenjarakan Jiraiya, ia lebih yakin kalau yang ada di balik semua misteri ini punya kepentingan yang cukup berkaitan. Mendapat kenaikan pangkat, misalnya, atau kebanggaan.
"Tidak mungkin juga!" gumam Sasuke.
Jika Shikaku menginginkan kebanggaan, mungkin Shikamaru ... .
"Bagaimana?" tanya sang detektif.
"Kurasa, aku sudah mengerti. Terima kasih, Detektif. Aku pamit."
"Baiklah. Kalau masih ada pertanyaan, datang saja!"
Sang inspektur menatapnya.
"Bagaimana penjelasan logis atas sidik jari yang tidak ditemukan?" tanyanya.
"Sarung tangan lateks warna kulit banyak dijual, Uchiha-san."
"Anjing pelacak kami tak mencium baunya sama sekali."
"Aku tahu cerita itu dan soal tidak adanya aroma ... jujur, sulit menemukannya," balas Shikamaru, "tapi pasti bisa."
Sasuke tersenyum tipis, sinis. Lalu, ia pun berdiri, lalu membungkuk dan si detektif mengikutinya sampai ke lantai dasar. Ia akui, kekacauan pikirannya baru saja bertambah, tapi ia berjanji akan lebih rasional. Langsung menuduh Shikamaru jelas tak bijak, begitupun kalau langsung menelan semua perkataannya.
Kecurigaanya dilandasi pemikiran bahwa Shikamaru mungkin saja akan mengecoh, lalu membelokkan kebenaran. Sasuke tak dapat menampik kenyataan, detektif itu memang sangat cerdas. Dengan analogi tadi, ia mendapat pencerahan sekaligus kebingungan. Keberadaannya simultan.
Ia melirik jam mini di dashboard sebelum memutuskan untuk pulang. Malam mulai larut dan badannya sudah terlalu lelah. Ia berharap, tidur lebih awal akan mengembalikan konsentrasinya.
XxX
Tingkat emosi Sai memang cenderung rendah, tapi justru itulah keuntungannya dalam keadaan seperti ini. Sakura dan Gaara memanfaatkannya sejak polisi lain sudah terlalu emosional. Sang sersan pun bersedia menuruti permintaan mereka. Ia segera pergi ke apartemen Matsuri untuk sekadar berkeliaran. Semantara itu, kedua yang lain hendak menemui Shino.
Menurut informasi yang Kakashi terima dari Sasuke, malam ini Shino pasti berada di diskotik dekat mall yang menjadi lokasi terakhir pelaku hampir ditangkap. Meski sudah pukul sebelas malam, mereka tak merasakan lelah sebab misi ini betul-betul memicu adrenalin. Mereka tidak mau lagi menunggu. Apa pun risikonya, ambil saja.
Shino diperkirakan akan keluar dari klub malam itu pada pukul dua belas. Ia harus kembali ke rumah susun setelah bertemu kekasihnya yang akan manggung. Entah apa pertunjukannya, tapi menurut rumor yang beredar, klub itu mempertontonkan tarian telanjang. Bahkan, polisi telah lama mengincarnya.
Mereka pun menggunakan sepuluh menit yang tersisa untuk mengotak-atik angka. Jika dengan rumus peluang, mereka akan menemukan ratusan. Masalahnya, angka yang mereka otak-atik berdasarkan waktu dan tanggal kejadian. Ini memang konyol, tapi patut dicoba.
Waktunya pukul 23.21, tanggalnya adalah 23 September 2017. Saat itu, Ino sedang berulangtahun ketujuh belas. Pasangan angka waktu menghasilkan nilai 44, lalu 23 ditambah 9 menghasilkan 31. Angka 2017 menjadi 37. Sialan! Mereka merasa seperti menghitung perjodohan ala anak kecil saja.
"Sudahlah, kita coba!" ujar Gaara.
"Baik. Sekarang, lima ditambah dua sama dengan tujuh. Yang kedua menjadi empat yang terakhir adalah sepuluh. Gabungkan, lalu menjadi 117. Ketiganya ditambah dan jadinya sembilan, tapi jika kutambahkan dengan usia Ino, maka hasil akhirnya ialah delapan," ujar Sakura.
Ia bergerak-gerak gusar hingga ponselnya tertindih. Tanpa disengaja, ia melakukan panggilan, entah pada siapa.
"Aku pernah menghitung jumlah semua luka pada tubuh korban," celetuk Gaara.
"Aku juga. Pelaku menambah pukulannya sebanyak dua kali, padahal korban sudah sekarat dan pasti tewas dalam beberapa detik. Kalau merujuk pada fakta tersebut, maka usia Ino tidak termasuk."
Gaara termenung beberapa saat, lalu ia berkata, "Apa kau pernah berpikir kenapa pelaku tak pernah muncul setelah Jiraiya ditangkap?"
Sakura bergumam singkat. "Kurasa, dialah tujuan pelaku."
Tanpa otak psikopat, mustahil seseorang dapat merancang sedetail ini. Gaara betul-betul tidak mengerti apa yang jadi motif si pelaku. Kalau dendam, bisakah psikopat merasakannya jika merasa adalah bentuk pengkhianatan atas teori bahwa psikopat tak bisa merasa? Namun, Sakura justru berpendapat lain.
Ia pernah mendengar bahwa psikopat pun bisa memiliki dendam, tapi bukan dendam seperti sakit hati sampai menghilangkan kesadaran berakal sehat. Semua tindakan pelaku selalu disadari sepenuhnya tanpa penyesalan. Dan dendam tadi disebabkan oleh terhalangnya tujuan yang sedang ia coba raih, lalu ia melakukan berbagai cara untuk mencapainya. Kalau pelaku adalah orang normal, ia pasti akan menyerang si target secara langsung, bahkan membabi buta. Nyatanya tidak. Pelaku memilih jalur memutar agar ia bisa lepas dari tanggung jawabnya, dengan darah anjing. Selain itu, tujuannya untuk membuat permainannya lebih menarik. Ia akan menikmati ekspresi lelah orang lain, terutama polisi yang kian lama malah kian bersemangat. Adrenalin terpicu dan justru menjadi kesenangan. Di saat itulah dopamin, endorfin, dan hormon bahagia lainnya keluar.
Tidak, pelaku tak sedang menjadikan para polisi sebagai bonekanya. Ia justru sedang bermain petak umpet karena itu dianggap menggetarkan. Kalau ia ketahuan di akhir cerita ... Sakura tak bisa memikirkan apa saja kemungkinannya.
Saat mereka masih tenggelam dalam pemikiran, Shino keluar. Lagi-lagi, pria itu diserang, tetapi kali ini ia tidak hanya didorong. Tiga laki-laki bertubuh kekar menendanginya yang sudah tersungkur.
Sambil memaki, Sakura dan Gaara segera turun, lalu berlari menghampiri Aburame Shino. Wanita itu makin menegang ketika dilihatnya korban nyaris dihantam dengan sebatang besi, sementara pria lain sudah menggenggam senjata tajam. Ia terpaksa mengeluarkan pistol dan ditembakkannya sekali ke atas. Tembakan peringatan. Pria-pria itu sontak membeku dan menoleh ke arah kedua penembak. Setelah itu, Sakura dan Gaara menunjukkan lencana.
"Konoha MPD!" serunya sambil mendekati mereka. "Merapat di tembok!"
Ketiga pria itu menuruti perintahnya, lalu Gaara mengeluarkan borgolnya dari sabuk dan juga mengambil milik Sakura. Sambil tetap menodongkan pistol ke arah kepala mereka, Gaara memborgol ketiganya, tapi salah satu dari pria tadi tiba-tiba melawan. Tak ayal, berbagai jenis tendangan dan pukulan melayang hingga ia pun berhasil dibekuk. Shino meringkuk ketakutan.
Gaara menghubungi rekannya di markas MPD agar segera menjemput tahanan. Tak lama kemudian, polisi patroli yang mendapat perintah dari markas datang dan mengamankan mereka. Sakura dan Gaara melaporkan kronologi, kemudian menolong Shino.
"Apa ada yang luka?" tanya Sakura.
Shino sempat terpana saat bertemu dengan wanita itu lagi. "Tidak, tapi kakiku terkilir," jawabnya.
Kesempatan. Gaara menarik kedua bagian bawah celana untuk memastikan sesuatu. Ia pun mendongak dan menatap Sakura, lalu menggeleng. Di kaki Shino tak ada bekas luka tebasan. Diam-diam, sang inspektur wanita merasa lega. Kini, korban dipapah ke mobil sebelum membawanya ke rumah susun sebab ia menolak diajak ke rumah sakit.
Setibanya di sana, Shino masih dipapah sampai ke depan unitnya. Ia meyakinkan bahwa ia sudah baik-baik saja dan mereka pun pamit. Saat menuruni tangga, mereka baru percaya, rumah susun ini lebih mirip sarang penyamun. Gerombolan pemabuk sedang minum-minum di beberapa sudut hingga tidak memedulikan siapa yang kini sedang lewat.
Baru saja mereka mengempaskan pantat di jok mobil, sebuah panggilan masuk dari Temari. Firasat mereka mendadak buruk. enak. Atasan tidak pernah menghubungi anak buahnya jika tak ada situasi darurat.
"Siap, Letnan!" jawabnya. "Aku dan Gaara sedang di distrik Kaeru ... apa?! Baik, kami segera merapat!"
"Ada apa?" tanya Gaara.
"Sai diserang di distrik Kai. Dia sudah di rumah sakit."
"Distrik Kai?"
Tiba-tiba, Sakura mematung. Pertanyaan-pertanyaan berlompatan di benak. Lokasi kantor Shikamaru berada di Kai, lalu untuk apa Sai ke sana? Meski kemunculanya itu karena diminta oleh Temujin, tapi rasanya sulit menampik kecurigaannya terhadap si detektif. Ia pun tersentak saat rekannya menginjak pedal gas kuat-kuat.
Semoga saja mereka tidak salah langkah dengan menggiring Sasuke menemui pria itu. Shikamaru jenius, tak heran andai ia bisa membuat rencana gila. Tetapi, justru itu yang menegasikan kemungkinannya. Jika memang si detektif penyerangnya, ia tak akan memilih lokasi yang amat sangat berhubungan dengannya.
Dan semoga pengerangan itu memang dilakukan oleh target utama mereka. Jika ya, maka kebenaran makin mendekat.
Karena mengebut, mereka berhasil tiba di rumah sakit dalam waktu beberapa menit. Mereka berjalan cepat dari tempat parkir ke unit gawat darurat. Di sana, Naruto dan Kiba sudah sampai duluan. Wajah Naruto tampak tegang dan marah.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Gaara.
"Aku sedang di rumah, hampir tidur. Tiba-tiba Letnan Kakashi menghubungiku dan memberitahu bahwa Sai diserang di sana. Katanya, dia sudah ditemukan tergeletak setengah tak sadar di depan ATM. Hanya, belum ada konfirmasi apa ada barangnya yang hilang. Dompetnya masih ada," jelas Naruto.
Sakura memicing. "Lalu, siapa yang sudah menemukan dan membawanya ke sini?"
"Mereka," balas Naruto sambil menunjuk sepasang muda-mudi yang diinterogasi petugas.
"Aku juga tiba-tiba dihubungi. Yang lain mungkin sudah tidur," timpal Kiba.
"Paham," balas Sakura. "Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?"
"Belum sadar. Tim medis menemukan bekas pukulan di kepala belakang. Aku takut dia terkena gegar ringan." Naruto menjawab. "Kami akan memeriksa CCTV di lokasi itu."
Sakura menggeleng. Dalam keadaan seperti ini, sebaiknya jangan ada polisi penyelidik kasus Dan yang ke sana. Toh, ini menjadi tanggung jawab MPD. Naruto dan Kiba akhirnya batal pergi. Tak lama, seorang dokter menghampiri mereka, bersamaan dengan datangnya Kakashi dan Temari.
"Anda semua rekan pasien?" tanyanya.
"Dia anak buahku," jawab Kakashi. "Apa dia baik-baik saja?"
"Sementara, pasien diduga mengalami syok kepala, jadi kami memindahkannya ke ruang observasi. Saat ini, pasien masih tidur karena efek obat pereda sakit. Besok siang saja baru Anda temui," balas dokter. "Permisi."
Mereka saling membungkuk, Kakashi dan polisi lain mengucapkan terima kasih, lalu duduk di kursi ruang tunggu. Akhirnya, ia memerintahkan anak buah yang masih di markas untuk berjaga di depan ruang Sai. Ia tak mungkin menyuruh para penyelidik tinggal karena mereka sudah terlalu lelah. Maka, mereka meninggalkan rumah sakit.
"Kalian masih mengerjakan sesuatu, ya?" tanya Naruto.
Gaara mengangguk. "Kami baru menemui Aburame untuk memastikan apakah ada luka di kakinya. Ternyata tidak ada."
"Jangan-jangan ... Sai diserang pelaku," ujar polisi pirang itu.
"Kami juga berpikir begitu ... ah, sudah di tempat parkir, rupanya. Sampai jumpa!" jawab Sakura.
Hampir saja Sakura lupa mengabari sang kekasih. Untuk kali ini saja, ia lupakan ego dan gensinya demi Sai. Kejadian ini lebih penting. Ia hanya mencoba berprasangka baik saat Sasuke tak membalasnya. Bisa saja pria itu sudah tidur. Ia bahkan butuh beristirahat sebab tubuh dan pikirannya benar-benar lelah.
XxX
Sasuke mengerang saat mulai terbangun sambil meregangkan punggungnya. Rasa lelah belakangan membuatnya terserang flu ringan. Setelah menenggak obat tadi malam, ia langsung terlelap sebelum jam sepuluh. Sialnya, ia kesiangan dan waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Karena itu, ia berniat memberitahu rekan-rekannya, tapi tangannya terhenti begitu melihat enam pesan masuk dan delapan panggilan tak terjawab. Sakura telah tiga kali meneleponnya dan semua pesan itu isinya sama, yaitu tentang musibah yang Sai alami. Di distrik Kai.
Cepat-cepat ia bersiap ke markas, bahkan mandi saja tak sampai sepuluh menit. Isi pikirannya makin berantakan, tetapi yang paling banyak adalah tentang Shikamaru. Ia tidak bisa melawan lagi kecurigaannya yang menguat. Baru semalam ia berpikir, hari ini ia mendapat kabar tak sedap yang menurutnya berhubungan.
Sampai di markas, ia hanya bertemu Kiba, Kankurou, dan Fu. Katanya, Gaara sedang pergi bersama Tenten ke rumah sakit. Naruto dan Sakura menemui kepolisian distrik Kai untuk minta diperlihatkan rekaman CCTV di sekitar tempat kejadian perkara. Sasuke pun memejamkan mata erat-erat. Sungguh bodoh dirinya karena terlambat datang! Dan ia tahu, menyisir kebun saat ini akan percuma.
"Kankurou, datangi pengelola apartemen Matsuri! Minta tunjukkan semua rekaman CCTV enam bulan yang lalu sampai tadi malam dan lihat semua pria yang pernah menemui Matsuri!" perintah Sasuke.
"Siap!"
"Kiba, Fu, retas CCTV di sekitar kantor Nara Shikamaru. Telusuri sampai lokasi terakhir yang dia kunjungi semalam dan kalian semua, bawalah surat tugas!"
"Siap, Taichou!" balas ketiga sersan itu serempak.
Setelah mereka pergi, Sasuke langsung ke rumah sakit. Menurut informasi dari polisi yang berjaga, Sai sudah bisa ditemui. Tak lama kemudian, pesan masuk dari Naruto. Pria itu mengirim gambar penyerang Sai. Pelaku tiba-tiba muncul dari sebelah minimarket yang sebenarnya tidak dekat dengan kantor si detektif swasta. Ciri-ciri yang tampak agak jauh dari bayangan. Ia pikir, pelakunya sama dengan pembunuh Dan. Yang menyerang semalam bertubuh lebih gemuk dan setelah Sai terkapar, pria tadi mengambil ponsel korban.
Perampokan, pikir Sasuke. Namun, hanya ponsel yang diambil, padahal Sai barusan menarik uang. Tak ingin buang waktu lagi, ia meneruskan perjalanan. Di rumah sakit, ia langsung dipersilakan masuk oleh para polisi jaga. Sai tampak menahan sakit dan terbaring tanpa bantal. Gaara dan Tenten setia menungguinya.
"Ah, maafkan aku, Taichou!" sesal Sai.
"Bukan salahmu," balas Sasuke. "Jadi, ada keperluan apa kau ke Kai?"
"Teman satu blokku minta dibelikan gurita bakar di sana. Anda pasti tahu tempatnya. Hanya ... aku sudah merasa diawasi sejak masih di apartemen Matsuri. Saat sampai di ATM, tiba-tiba aku diserang."
Sasuke terdiam. Mungkin, sudah benar ia memerintahkan ketiga anak buahnya tadi menelusuri apartemen Matsuri dan kantor Shikamaru.
"Taichou ... entahlah ... sejak kemarin aku memikirkannya," ujar Sai. "Kuharap, Anda tak mudah berasumsi."
"Percayalah, Uchiha," imbuh Gaara, "situasi kita sekarang disebabkan oleh kurangnya kepekaan."
Seakan kesadarannya kembali, Sasuke mengembuskan napas pelan. Ia merasa si sersan menangkap jalan pikirannya. Lagi pula, pelaku kejahatan berotak encer pasti akan memilih lokasi dan hal-hal yang jauh dari yang merepresentasikan dirinya.
"Aku mengerti ... tapi, untuk apa kaupergi ke apartemen Matsuri?"
"Inspektur Sakura yang memintaku," jawab Sai.
Sasuke mengernyit.
XxX
"Kurasa, dia bukan pelaku pembunuhan itu," ujar Sakura.
Naruto mengangguk. Sudah berkali-kali ia memastikannya dengan memeriksa ulang video dalam ponsel Sakura, tetapi tak satu pun menunjukkan kemiripan. Lalu, wanita itu kembali mengamati CCTV, sedangkan Naruto dan empat polisi distrik hanya ikut memperhatikan. Tak lama, sang inspektur MPD menunjuk layar, tepatnya di bagian rambut pelaku penyerangan.
"Rambutnya diikat tinggi," katanya.
"Seperti tak asing, tapi ...," balas Naruto, "rasanya juga tak mungkin."
"Nara?"
"Itulah. Hanya ... badannya lebih gemuk."
Sakura bergumam, menyetujuinya. Pelaku yang mereka tahu bertubuh cukup atletis. Menurut kesaksian warga desa kebun itu, rambutnya hitam dan lagi pula, ia tak bisa melupakan fakta adanya bekas luka jahit di dagunya. Dan yang paling mencekam di antara semua misteri, pelaku telah meniru penampilan Aburame Shino. Sasuke dan Sai bahkan tidak menemukan komunikasi mencurigakan di distrik Kaeru.
Naruto bersedekap, kedua matanya lurus tertuju pada layar. Ia hanya menyesalkan, mengapa bukan dirinya yang mendapat bagian Sai. Entah penyerang berhubungan dengan pembunuh itu atau tidak, ia yakin ia pasti akan bisa melawan atau bahkan membekuknya di tempat. Namun, Sakura berpikir bahwa ia hanya bisa bergantung pada Sai sebab sersan itulah yang selalu memegang penyadap.
Setelah tidak menemukan petunjuk lain, mereka mengucapkan terima kasih pada para polisi distrik itu. Dalam pejalanan, si polisi pirang mengacak-acak rambutnya.
"Kaulihat sendiri bagaimana hasilnya," ujar Naruto.
"Maaf, Naruto-san. Kupikir, kau juga sudah ikut terlalu emosional. Kau bahkan terlihat bersimpati pada Matsuri ... sampai kupikir kausuka padanya."
"Eh? Ah ... hahaha! Ya ... dia sudah punya pacar."
Sakura bergumam panjang, bermaksud menggoda. Lalu, ia mengatakan bahwa nanti, saat Matsuri sudah putus, Naruto akan bebas mendekatinya. Dan akhirnya, lenyaplah ketegangan di antara mereka. Wanita itu bahkan berkelakar, andai sang kekasih tak keras kepala sepertinya, pasti saat ini mereka sudah berbaikan.
Melihat wajah Sakura yang tiba-tiba sendu pun, Naruto mengulurkan tangannya pada Sakura dan mengusap-usap punggung si polisi MPD. Sepertinya, wanita itu sedang tertekan karena pertengkarannya. Rindu, tetapi marah. Marah, tapi rindu. Tak ayal, Sakura tergelak.
"Pesanku saja tidak dibalas," ujar wanita itu.
"Serius?" seru Naruto. "Memang, apa yang sudah kaukatakan padanya?"
"Aku bilang, aku ingin bertugas denganmu dan Gaara karena aku merasa paling bisa memercayai kalian."
Naruto menepuk kening. Pantas Sasuke marah. Meski sebagai polisi, ia dan Gaara tetaplah pria. Mungkin, si rambut merah tidak terasa mengacam, berbeda dengan dirinya yang masih sendirian ini. Ia benar-benar mengerti duduk perkaranya. Di sisi lain, permintaan Sakura ada benarnya. Ia anggap, bagian paling bahaya sebaiknya dilakukan oleh yang terkuat saja. Mereka harus ingat, target yang mereka incar saat ini bukan orang tanpa kemampuan gila.
Mendengarnya, kebandelan Sakura makin menjadi-jadi. Ia merasa dibela dan seakan lebih dipercaya.
"Sepertinya, mendiamkan dia bukan ide buruk," katanya.
"Oh, tidak! Aku tidak membelamu karena kaubilang kau lebih percaya padaku. Kau baru menciptakan potensi pertengkaran di antara kami," balas Naruto.
Wanita itu tertawa keras. Tentu saja ia tak bermaksud membuat Sasuke merasa tak dipercayai. Kekasihnya sendiri yang terlalu jauh berprasangka. Karena jengkel lagi, ia mengajak Naruto makan siang. Entahlah, tapi marah membuatnya lebih cepat lapar.
Setelah bersepakat, mereka berhenti di sebuah restoran makanan China. Meski agak mewah, tempat ini tak menyediakan ruang VIP. Ketika mereka masuk, bunyi gemelinting bel pintu terdengar merdu. Mata mereka langsung tertuju pada meja di dekat taman buatan. Baru saja pesanan mereka datang, telepon genggam Sakura berbunyi. Ia menaikkan alis begitu nama Ino muncul.
"Maaf, Naruto-san," katanya.
"Angkatlah! Aku juga mau ke toilet."
Pria itu berdiri dan berjalan ke kamar kecil, sementara Sakura langsung menjawab si cucu korban. Perasaannya agak tak enak begitu tahu Ino sedang berbicara secara diam-diam. Ia menyadarinya dari bisikan gadis itu. Pasti Temujin yang melarangnya menghubungi polisi-polisi penyelidik.
"Ino-chan, ada apa?" tanyanya.
"Nenek kritis, Sakura-nee," balas Ino.
Dahi Sakura mengerut. Dalam seminggu, sudah dua kali Tsunade jatuh dalam kondisi itu.
"Bagaimana awalnya?" tanyanya.
"Nara-san menunjukkan beberapa foto, tapi aku tak tahu siapa yang ada dalam foto-foto itu. Kupikir, yang dia duga iblis itu."
Sial! Berarti, Shikamaru sudah tahu siapa saja yang ciri-cirinya paling mendekati si pelaku. Jangan-jangan, pelaku itu sendiri. Andai saja ia bisa menghubungi Sasuke, mungkin mereka dan Naruto sudah pergi ke sana sekarang juga. Masalahnya, sang kekasih bahkan belum membalas pesan atau menelepon balik. Lalu, mengapa si detektif tidak memberitahukan langsung ketika di pengadilan?
"Kami akan ke sana sekarang. Tunggulah!" pungkas Sakura sebelum Ino menutup telepon.
Entah rasa gugup apa yang menghinggapi hatinya. Kenyataan bahwa orang luar bisa melihat "bentuk" kejadian ini dengan lebih jelas telah mengganggunya. Dan saking gugupnya, ia tidak sengaja ia menyenggol gelasnya sampai jatuh dan pecah. Sontak, ia menarik beberapa lembar tisu di meja untuk memunguti pecahannya.
"Sakura-san," panggil Naruto.
"Ah, ya, aku memecahkan gelasku," jawab Sakura.
Dengan sigap, pria itu memanggil pelayan agar pecahan-pecahan beling secepatnya dipungut dan tak melukai orang lain. Atas kejadian itu, Sakura meminta maaf, lalu ia bayar uang gantinya sebelum kembali ke meja mereka.
"Sepertinya, kau kacau sekali," kata Naruto dengan wajah cemas.
"Shikamaru ... kurasa dia sudah tahu siapa pelakunya."
"Hah?"
Sakura menggedik, seakan masih belum meyakini hal itu. Tatapannya tertuju pada meja.
"Bagaimana kautahu?" cecar pria itu sambil mengaduk-aduk minumannya.
"Nara membuat Tsunade anfal setelah dia menunjukkan beberapa foto yang dia duga pelaku," jawab sang inspektur MPD. "Kita ke sana setelah ini."
"Baiklah."
XxX
Hari ini, ketidakmengertian Sasuke sudah berada di puncaknya. Pacarnya membuat keputusan tanpa mendiskusikannya lebih dulu. Atau, jangan-jangan ia menelan kata-kata Shikamaru mentah-mentah. Wanita itu lantas merahasiakan semua rencana dari yang lain. Mau minta penjelasan dari Gaara, pria itu malah sudah pergi bersama kekasihnya untuk bertugas.
Sai menatap langit-langit ruang perawatan itu. Yang ia tahu, Sakura hanya kebetulan bertemu dengannya saat yang lain sudah pulang. Lagi pula, karena emosinya yang rendah, ia cocok menjalankan tugas ini. Tugas yang dimaksud yaitu membuat Matsuri tak curiga jika melihatnya. Kalau Naruto, jelas wanita itu akan tahu.
Mendengarnya, Sasuke lega. Mungkin, ia sendiri sudah kelewat berprasangka buruk terhadap kekasihnya. Apalagi setelah tahu bahwa Sai diawasi dan diikuti sampai toko di sebelah apartemen. Ia memarkir mobil si sana.
"Sai, andai yang menyerangmu berkaitan dengan pelaku, dari mana dia tahu kalau kau ke Kai? Lalu, siapa yang memintamu membawakan gurita bakar?"
"Seperti yang kubilang, dia teman seblok di asrama, Sasuke-taichou. Jika pelaku itu berkaitan ... aku sungguh tak tahu harus berkata apa," jawab Sai.
Harusnya, Sasuke tak terlalu menekan Sai selama pria itu masih sakit. Apalagi, sakit yang disebabkan syok kepala.
"Bagaimana hubunganmu dengannya dan apa yang paling dia takuti?"
Sang sersan mengerang pelan karena rasa sakit kepala yang datang tiba-tiba. Saat Sasuke hendak menyuruhnya tak usah meneruskan, ia mengentikannya juga dengan mengangkat telapak tangan.
"Dia sangat baik, bahkan sampai dimanfaatkan. Yang paling ditakuti adalah kehilangan pacarnya karena bisa dibilang, dia budak cinta," katanya.
"Dia punya hutang?"
"Orang lain yang punya hutang padanya sampai ia tak punya uang, Taichou. Dia berjiwa lemah."
Kemungkinan tertutup seketika. Lagi pula, mengapa semakin tua usia bumi, semakin banyak pria yang tunduk pada wanita, sih?
"Taichou, bagaimana kabar Haruno-san?"
"Aku harus pergi. Jika ada apa-apa, cepat hubungi salah satu dari kami!" elak sang ketua tim sebelum meninggalkan ruang perawatan.
Sayangnya, hatinya ingin ia bedekatan lagi dengan kekasihnya. Dan akhirnya egonya kalah. Ia meraih ponsel di kantong celana, hendak mengirimi Sakura pesan. Namun, yang ia temukan jutru pesan dari wanita itu. Kira-kira, masuk setengah jam lalu dan karena ia mematikan dering, ia tidak tahu siapa saja yang menghubunginya.
Pesan Sakura hanya satu. Bukan sapaan atau kata-kata kangen—yang sebenarnya memang tak pernah diungkaplan melalui pesan—melainkan berita baru yang agak mencengangkan. Agak, karena ia percaya bahwa detektif seperti Shimarau pasti tak sebodoh itu.
Nyonya Tsunade kritis setelah Shikamaru menunjukkan beberapa foto yang kuduga pelaku.
Pria itu memijat-mijat pangkal hidung saat tekanan baru muncul. Kalau begini, ia dan rekan-rekannya akan makin tak dipercayai oleh keluarga Dan. Lagi pula, dengan fakta barusan, Shikamaru jelas tidak berkaitan dengan penyerangan Sai. Ia pun mencoba mengingat dan memahami tiap perkataan si detektif, mulai awal pertemuan sampai tadi malam.
Peka ... intuisi ... ingatan ... logika.
Sasuke kembali memandangi ponselnya dan melihat tanda notifikasi kecil di sudut kiri atas layar. Pesan suara akan masuk jika panggilan tak dijawab. Ada dua pesan di sana, dari Naruto dan Sakura. Ia melihat waktu masuknya dan ternyata semalam. Isinya pasti tentang Sai, tetapi karena ia ingin mendengar suara kekasihnya, ia pun membuka pesan Sakura.
"Apa ini?" gumamnya saat yang ia dengar hanyalah dua orang bercakap-cakap.
o
o
o
o
o
Bersambung ... .
Catatan Penulis
Hai, hai! Makin ke sini, makin ngebut, ya. Soalnya sudah menuju penyelesaian, jadi saya harap hasilnya memuaskan.
Nejes: Eh? Apa yang bikin takut? Hehehe.
Yumehara: Hahaha! Sai bukan, yaaa. Kita lihat aja, deh. Tetaplah jadi penonton dan komentator, ya!
Estuseryo.paweling: Duh, kayaknya soal keromantisan itu masih kudu ditahan nih, hahaha! Tunggu aja karena semua akan indah pada waktunya.
