CHAPTER 16
Pada malam hari, Jongin sibuk di kandang ular saat tiba-tiba pergelangan kakinya dililit sesuatu. Ia menunduk dan melihat Tao sedang merayap di kakinya. Jongin terkejut dan mengambil Tao, membawanya dalam pelukan dan berkata dengan riang, "Apa yang kau lakukan disini?"
Sehun bersandar pada pintu dengan rokok di mulutnya. Tubuh tinggi dan besar miliknya menutup setengah dari cahaya yang masuk.
Setelah menghilang selama beberapa hari, Jongin melihat bahwa Sehun seperti tidak merasakan apapun setelah pergumulan intim mereka. Jongin tiba-tiba merasa sedikit tertekan, Ia tidak tahu kenapa.
"Letakkan di lantai." Kata Sehun, "Biarkan Ia bermain."
Jongin baru saja akan meletakkan Tao di lantai ketika ular itu merayap di celananya.
"Bukan salahku." Ujar Jongin.
Sehun mengambil dua langkah besar ke arah Jongin dan mengambil Tao dari lengan Jongin. Sehun mengangkatnya dan mensejajarkan mata mereka, "Kau terganggu?"
Tao menggerakkan ekornya dan kepalanya bergetar. Jika Ia bisa berbahasa manusia, Ia sudah mengatakan 'Aku kesal! Aku kesal...! Aku kesal!'
Melihat Tao yang tidak berperilaku baik membuat wajah Sehun menggelap. Ia membawa rokok yang sejak tadi disudut mulutnya untuk mendekat kepada Tao.
Bangsa ular sangat takut asap dan Tao tidak terkecuali.
Sesaat kemudian, Tao merayap pergi dengan patah hati.
"Tutup semua peti ularmu dengan erat. Jangan biarkan Ia memakannya."
Jongin tiba-tiba teringat dan buru-buru menutup kandang ularnya dengan erat.
Keduanya pergi keluar mencari tempat untuk duduk. Sehun berpaling untuk melihat wajah Jongin. Jongin telah melakukan banyak hal sebelumnya dan pada saat duduk, keringatnya turun seperti air mengalir dan membasahi bagian depan pakaiannya.
"Kenapa kau berkeringat begitu banyak?" Sehun menyeka pipi Jongin dengan punggung tangannya.
Jongin tersadar lalu bergerak menjauh dari tangan itu dan berkata, "Jangan menyeka itu. Itu akan keluar lebih banyak ketika kau menghapusnya."
Sehun bersikeras menghapusnya dan secara khusus memilih leher, telinga, bahu dan juga dada Jongin. Jongin mendorong dan mencegah tangan Sehun. Sehun memegang kedua tangan Jongin dan dengan bersemangat mencium bibir lalu telinga Jongin.
"Jangan lakukan itu." Jongin tidak senang. "Aku berkeringat. Kau tidak mau menjadi bau kan?"
Setelah Sehun membelai mulut Jongin dengan lidahnya, Ia berkata, "Aku suka bau keringatmu. Bokongmu benar-benar tertutup oleh keringat saat kau mencapai klimaks dan ranjangku basah karena keringatmu."
Jongin menggertakkan giginya dan sengaja membuat Sehun merasa mual, "Keringat dan urin terbuat dari hal yang sama. Kau pasti memiliki bakat untuk minum air urin!"
Sehun terlihat tidak peduli, "Jika kau berani untuk buang air kecil di mulutku, maka aku akan berani untuk meminumnya."
Selangkangan Jongin berkedut. Ia berdiri untuk meninggalkan Sehun, namun tangannya ditarik kembali oleh Sehun dan dijatuhkan kembail ke bangku. Tangannya menggenggam selangkangan Jongin.
Penis Jongin menjadi lebih tegang dan keras setelah Sehun menekannya beberapa saat. Angin malam bertiup dan dahan pohon saling bergesekan. Jongin menegang. Ia memegang tangan Sehun, "Nanti ada orang."
Sehun benar-benar tidak menanggapinya, "Jangan khawatir. Mereka akan lebih malu daripada kau."
Hembusan angin kembali bertiup. Sehun mengambil kesempatan untuk menakut-nakuti Jongin, "Ada yang datang."
Jongin berada di ujung. Ia menjadi khawatir ketika mendengar perkataan Sehun dan kemudian klimaks.
"Eungh..." Jongin menjatuhkan wajahnya di bahu Sehun dan melenguh karena tidak mampu untuk menahan erangannya dan takut jika terdengar oleh orang lain.
Beberapa menit kemudian, Jongin sudah bisa mengangkat wajahnya. Mereka merokok bersama dan tidak berbicara.
"Sudah berapa lama kita tidak bertemu?" Tanya Sehun.
"Lima hari." Jongin menjawab dengan tenang.
"Ini hari keenam." Sehun menambahkan
Jongin masih merokok dan hanya menatap sepatu Sehun sebelum berkata omong kosong, "Rokokmu sangat bagus. 1.500 won per pack dan 15.000 won untuk yang berbagai rasa."
Sehun mengangkat tangannya dan menyentuh kepala Jongin, "Sudah menjual ular-ularnya?"
"Belum. Tidak ada harga yang cocok. Harga ular tahun ini sangat rendah dibandingkan tahun sebelumnya."
Arti sebenarnya dari perkataan Jongin adalah cepat bantu aku! Bukankah kau juga yang akan untung jika aku berhasil di masa depan?!
Sehun memperlihatkan seringaiannya, sudah pintar bermain-main dengan hatiku rupanya. Kau benar-benar tahu harga untuk tahun ini?
Aku tahu kalau kau suka bermain dengan pemikiran. Batin Jongin.
.
.
.
Dalam perjalanan pulang, Sehun mengusap kepala Jongin. Rambut Jongin yang sudah berantakan semakin berantakan seperti sarang burung. Jongin menoleh dan menggenggam tangan Sehun.
"Kau harus potong rambut," ujar Sehun.
Jongin mengangguk, "Aku sangat sibuk untuk sementara waktu, tapi setelah pekerjaanku selesai, aku akan pergi untuk potong rambut."
"Gaya apa yang kau inginkan?" tanya Sehun.
Jongin telah memikirkan banyak ide dan Ia sangat ingin potongan rambut pendek dengan warna merah maroon dan bagian depan yang panjang. Tapi gaya itu mungkin keren dan terkesan kejam. Sehunku sudah memberitahu jika Ia ingin pendek, maka Ia pasti akan memangkas rambutku sampai habis.
"Aku tidak peduli dengan gaya apapun, aku akan mencukurnya sangat halus sehingga kau dapat tampil lebih baik."
Angin malam ini sangat dingin dan musim gugur perlahan datang... pikir Jongin, akhirnya musim panas akan menghilang.
Setahun telah berlalu dalam sekejap.
Setahun lalu Jongin memiliki keyakinan pada Krystal dan setahun kemudian Ia terlibat hubungan ambigu dengan pacar wanita itu.
Dunia benar-benar gila!
Ketika Jongin sedang memikirkan wanita itu, telepon Sehun berdering.
Siapa yang menelepon selarut ini? Itu pasti si wanita kesepian, Krystal!
Karena sangat kesepian, Ia memohon pada Sehun untuk datang dan menemaninya.
Jongin tidak tahu apakah karena Ia sudah terbiasa atau karena Ia masih memiliki keinginan untuk menghancurkan telepon itu ketika mendengar rengekan Krystal. Untungnya, Sehun dengan cepat menutup telepon saat Jongin hampir tidak bisa menahan dorongan jiwanya lagi.
Kali ini Jongin yang bicara dan tidak menunggu Sehun mengatakan apapun.
"Kembalilah dengan cepat."
Itu diucapkan dengan tidak tulus dan dengan keengganan sedikit, tapi tidak munafik.
Mata Sehun menggelap. Ia memegang belakang kepala Jongin, menarik Jongin ke arahnya. Napas Jongin didominasi oleh bau tembakau.
"Apa kau benar-benar membiarkanku pergi?"
Jongin merasa seperti bukan dirinya sendiri, tapi seorang aktor dalam sebuah drama. Karena Ia terlalu jauh di dalam drama, Ia tidak perlu berpura-pura mengatur ekspresinya.
"Jangan lupa jika ularmu masih terikat oleh ayahmu."
Tatapan mereka bertemu, keinginan tersembunyi melonjak dan mereka terbawa oleh perasaan masing-masing. Perasaan yang tidak bisa diungkapkan.
Sehun menggenggam tangan Jongin. kulit yang bersentuhan satu sama lain, Jognin bisa dengan mudah melepas genggaman itu tapi tampaknya Ia tidak akan pernah bisa melepaskan genggaman Sehun. jongin sebenarnya ingin agar hatinya bersenang-senang, dengan cata disengaja, seperti sebelumnya Ia ingin merubah taktiknya. Dan ingin membuat wanita itu bersembunyi di bawah selimut sambil menangis tersedu-sedhu.
Tapi akhirnya, Ia masih bisa menahan diri.
Alih-alih membuat wanita itu menangis sekarang, Ia mungkin bisa membuat wanita itu menangis untuk seumur hidupnya.
Jongin menarik tangannya dari genggaman Sehun, "Tanganmu."
Memaksakan senyuman, Ia memberi Sehun tepukan dibahunya, "Cepatlah pergi. Aku tidak bisa mandi dan berganti pakaian jika kau tidak pergi. Aku memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan besok. Aku harus tidur lebih awal."
Sehun tiba-tiba menarik pinggang Jongin dan memeluknya erat.
Jongin menyikut Sehun, "Kau menghabiskan waktumu denganku tapi kau tidak punya waktu untuk menghabiskan waktu dengan ayahmu."
Setelah Jongin mengatakan itu, Ia mendorong Sehun pergi dan berjalan menuju klinik. Ia menyeret kakinya dengan tangan yang mengepal. Aku akan terus menggertakkan gigiku. Cepatlah pergi! Jika kau tidak pergi, aku mungkin tidak akan membiarkanmu pergi lagi!
Sehun benar-benar meninggalkan klinik.
Ketika Jongin mandi, Ia mendengar suara bel berdering dan hatinya berdebar liar. Mungkinkah kau kembali? Jangan datang kembali! Jika tidak, semua usahaku akan menjadi sia-sia!
Jongin berdiri bertelanjang kaki di kamar mandi dan dengan gugup mendengarkan setiap gerakan dari luar.
Sehun melirik kamar mandi dan Ia bisa melihat sebuah siluet dari celah pintu. Ia dengan jelas melihat wajah itu, seluruh ekspresi yang Jongin tunjukan penuh dengan kecemasan, harapan, ketakutan, kegelisahan. Sehun meninggalkan pintu seolah-olah ada sesuatu yang menarik-narik hatinya.
Pada akhirnya, pintu kamar mandi tertutup rapat dan situasi yang Jongin harapkan tidak terjadi.
Sehun telah meninggalkan klinik dan ada sebuah kotak di pintu masuk.
Jongin menunduk dan melihat kotak rokok yang tadi Ia puji dan sangat Ia inginkan.
Sebuah merek rokok premium di Korea.
Ia duduk diatas kotak dan merasakan sakit yang tidak dapat dijelaskan dalam hatinya.
.
.
.
Sehun tidak jadi menemui Krystal.
Ditengah jalan Sehun menerima telepon dari Oh Dami, "Kakak tercintamu telah kembali. Cepatlah ke airport dan menjemputku!"
Sehun berputar dan segera menuju airport untuk menjemput kakaknya dan kedua keponakannya, si hitam dan di putih.
"Sini, biar kakek menggendong kalian."
Oh Manse menunduk lalu menggendong Kedua cucunya, satu sebelah kiri dan satunya disebelah kanan. Pria paruh baya itu terus saja mencium pipi keduanya.
"Kau mencium bibir mereka, pasti sudah ada bakteri disana," Ibu Sehun kesal.
Mendengarnya, Oh Dami berkata, "Bu, kau tidak perlu khawatir. Mereka bukan anak-anak yang lemah."
Kedua anak itu adalah Do Young dan Min Young. Min Young menangis kehausan dan meminta air.
"Mom is busy go find your uncle." Anak-anak Dami hanya bisa berbahasa inggris. Setelah itu Ia menunjuk ke arah Sehun.
Sehun membuka segelas air dan memberikannya pada Min Young, "Little Blackie, drink this."
"Bisakah kau berhenti menyebutnya begitu?" Oh Dami tidak senang mendengar orang-orang selalu memanggil anaknya blackie.
Sehun dengan sengaja mengabaikan kakaknya, "Kau harus benar-benar memperhatikan mereka. Jangan biarkan Ia berlarian di tengah malam atau kau tidak akan menemukannya!"
"Kau!"
"Keluarga kita akan mengadakan makan siang bersama besok. Sehun kau harus memanggil Krystal. Biarkan kakakmu mengenalnya."
"Krystal?" Oh Dami terlihat bingung, "Siapa itu?"
Ibu Sehun tersenyum, "Pacar adikmu."
Oh Dami berbalik, "Otakmu akhirnya kembali? Sungguh keajaiban!"
.
.
.
Hari berikutnya, Sehun datang bersama Krystal. Setelah mereka tiba, Krystal segera menyapa orang tua Sehun baru menyapa Oh Dami, "Eonni, aku Krystal."
Senyum Oh Dami tidak terlihat hangat atau dingin. Dibandingkan dengan make up Krystal, Oh Dami terlihat seperti tidak menggunakan make up. Rambutnya diikat dan gaunnya juga sederhana. Tapi, Ia terlihat seperti gadis bangsawan. Perilakunya memperlihatkan kalau Ia bukan gadis biasa.
Krystal menunduk dan memberikan dua mainan pada Do Young dan Min Young.
"Aunties gives these both of you!"
Do Young dan Min Young terlihat bahagia menerima mainan itu dan segera memainkannya.
Oh Dami mengulurkan tangannya dan berbicara dengan kedua anaknya dengan bahasa Inggris yang cepat, "Hand the toys to Mommy. We are going to eat. You can;t touchr dity things."
Krystal mengerti kata 'dirty things'.
Selama makan siang, ketika semua orang sedang berbincang, Oh Dami tidak lagi mengatakan apapun dan hanya sibuk menyuapi kedua anaknya. Krystal sudah beberapa kali mencoba mengajak Dami berbicara tapi responnya begitu dingin.
Krystal mengambil beberapa makanan dan menyimpannya di atas piring Do Young dan Min Yoing, tapi sampai makanannya habis, Dami tidak menyuapi anaknya dengan itu.
Sehun dan Krystal pulang ke rumah setelah makan siang. Oh Dami melihat ke arah orang tuanya dan menggerutu.
"Mom, Dad! Kalian berdua sudah dipermalukan satu atau dua kali? Sesuatu antara adikku dan Luhan sudah lewat enam tahun. Bukankah Ia hanya berada di jalan yang salah sekali? Kenapa kalian menjadi setakut ini? Secara acak menerima setiap wanita? Bisakah kalian tidak melakukan ini pada anak kalian sendiri?"
Ekspresi Oh Manse tidak terlihat baik, "Kamu mendukung hubungan mereka tapi kami belum membicarakan tentang pernikahan. Itu sudah cuckup bagus karena Ia sudah punya pacar perempuan. Siapa yang akan senang berada disekitarnya ketika Ia terus saja sibuk dengan ular-ularnya?"
"Benar." Ibu Sehun setuju, "Aku pikir gadis itu tidak buruk. Ia berasal dari keluarga sederhana tapi Ia ramah dan pintar. Penampilannya juga tidak buruk. Ada banyak gadis dari kaum bangsawan tapi adikmu tidak menyukainya."
"Ini bukan tentang status." Oh Dami menyanggah, "Tidak apa-apa jika gadis itu dari keluarga sederhana, tapi lihat wajah palsunya, ada tulisan besar 'Aku ingin memanjat kehidupan bangsawan!; di dahinya."
"Jangan mengada-ada. Kau baru saja bertemu dengannya, bagaimana kau berkata seperti itu?"
"Jika kalian tidak percaya, tunggu dan lihatlah sendiri."
Setelah sampai di rumah, Krystal merasa siksa dan tidak bahagia. Dan terus menerima pesan dari orang yang tidak dikenal.
Hentikan mimpi tidak masuk akalmu. Kedua orang tua Sehun tidak akan pernah menjadikanmu menantu mereka!
"Siapa yang mengirim pesan ini?" Krystal ketakutan dan mengingat wajah dingin Oh Dami. Seperti bagaimana wanita itu bersikap padanya saat di meja makan. tapi melihat dari isi pesannya, itu pasti bukan Oh Dami.
Ketika sedang berpikir, Ia menerima sebuah pesan lagi.
Jangan bermimpi terlalu tinggi!
Tidak berlalu lama, Kerystal menerima pesan ketiga, keempat, kelima... dan semuanya berisi hal yang sama. Sebuah saran agar Ia berhenti bermimpi secepat mungkin karena Ia tidak akan pernah bisa menikahi pria yang kaya.
Dengan cepat Ia memanggil nomor itu.
"Siapa kamu? Bicaralah! Aku bisa dengan cepat tahu identitasmu! Apa hubungannya denganmu jika aku menikah atau tidak? Kau..."
Jongin melempar ponselnya ke samping dan membiarkan wanita itu terus berteriak padanya ditelepon. Matanya sedang sibuk menonton pertunjukkan basket di televisi. Situasi ini disebut menjadi tenang.
.
.
.
TBC
.
.
.
Shtpnk's memo:
Belum di edit, sorry for typo :)
