Paginya, Naofumi, Kirito dkk. sedang berada di dermaga. Mereka sedang bersiap-siap untuk perjalanan ke Cal Mira.

"Kalian semua siap?" Tanya Kirito semangat.

"Siap!" Jawab yang lainnya.

Setelah mereka memasukkan barang mereka, akhirnya mereka pergi ke kabin tempat mereka beristirahat. Mereka pun bertemu dengan dua orang petualang.

"Yo, kau pasti Naofumi si Pahlawan Perisai dan kau sahabatnya si Vassal Sword" Kata si pria berambut merah dengan sabit besar berwarna hitam. "Namaku adalah L'arc Berg. Kalian bisa panggil aku L'arc" Si pria berambut merah memperkenalkan dirinya.

"Dan aku Therese Alexanderite" Kata wanita berambut biru di kiri L'arc.

"Tunggu, apa?" Kata Raphtalia kebingungan. "Apa kau dari luar negri atau dari tempat lain dengan bahasa sendiri?"

"Oh, aku lupa" Ucap Therese. "Bagaimana sekarang, kau paham?"

"Ya, aku paham" Jawab Raphtalia.

"Jadi begitu, senjata kami punya kemampuan menerjemahkan" Pikir Kirito menganalisa. Kemudian Therese memperkenalkan diri nya ulang. Setelahnya, kelompok Naofumi yang memperkenalkan diri.

"Jadi, nama kalian beneran Naofumi dan Kirito? Kupikir nama palsu" Kata L'arc mengatakan kekeliruannya.

"Kenapa kau berpikir begitu?" Tanya Kirito.

"Ya, aku sering mendengar tentang kalian berdua yang katanya "keji" tapi, kurasa kalian orang baik" Jelas L'arc.

Kemudian, mereka lanjut mengobrol, kecuali Kirito. Dia masih terus memperhatikan sabit yang ada di ruangan itu.

"Oh, itu adalah sabit ku" Kata L'arc yang menyadari arah penglihatan Kirito. "Ada apa? Kau tampak sangat serius"

"Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir, bagus sekali sabit mu ini" Kata Kirito berbohong. "Kristal ini... Mungkin dia juga Vassal Heroes. Setelah dipikir lagi, kalau aku tidak salah liat, wanita Glass itu juga mempunyai kristal pada kipasnya. Mungkin dia semacam... Evil Heroes? Tidak. Kalau pahlawan itu biasanya baik. Lalu? Mungkin... Darkness Villain. Ya, itu bisa saja. Dan aku tidak tau, apakah L'arc ini Heroes atau Villain-"

"Ki-ri-to!" Lamunan Kirito dipecahkan oleh suara yang berasal dari kedua sahabatnya.

"Oh, Naofumi, Yujio. Ada apa?" Tanya polos Kirito.

""Ada apa?" Kau ini, dari tadi melamun, apa yang sedang kau pikirkan ha? Jangan-jangan..." Kata Naofumi hendak meledeknya di akhir.

"Tentu aku bukan memikirkan hal aneh. Kalian ini... Huh"

"Oi, Kirito. Kau lupa dengan apa yang akan kita katakan pada mereka?" Tanya Naofumi.

"Ap-oh, tentu aku tidak lupa. Yaudah, ayo!" Mereka pun berjalan keluar dari dek bawah.

"Mereka semua mabok?" Pikir Kirito melihat ketiga pahlawan duduk tak kuat menahan sakit.

"Begini, aku ingin memberitahu tentang teknik menyalin-" Kata-kata Naofumi terpotong.

"Argh. Aku sedang tidak mau mendengar hal yang rumit" Kata Motoyasu.

"Tentang teknik itu-" Kali ini Kirito yang berbicara dengan nada lebih kencang.

"Bisa tolong jangan berisik" Sela Itsuki.

Tiba-tiba seekor ikan melayang masuk kapal. Kemudian muncul lah sosok yang kemudian menendang satu ikan lainnya.

"Dia malah berenang" Komentar Naofumi.

"Yo Filo, kau menangkap ikan nya lumayan. Malam ini kita makan ikan Filo!" Seru Kirito pada Filo.

"Jangan berisik Kirito..." Itsuki makin tak kuat dengan mabok nya ini.

"Bau ikan ini..." Ren pun menahan muntah.

"Yo, bocah perisai, anak pedang. Lho, mereka kenapa?" L'arc muncul bersama Therese yang kemudian bingung melihat ketiga pahlawan yang duduk menahan maboknya.

"Ada apa?" Tanya Naofumi pada L'arc.

"Oh, bukan aku tapi, Therese" Jawab L'arc. Kemudian Therese melangkah dengan sebuah kantong.

"Aku mendengarnya dari yang lainnya, kalau kalian dapat mengolah batu" Kata Therese.

"Biar kutebak, batu nya berada di dalam kantong itu, benar?" Tanya Kirito.

"Ya, ini dia"

"Hm... Baiklah, tapi karena fokus kami adalah untuk meningkatkan level, akan lama selesainya" Jawab Naofumi.

"Starfire..." Kata Kirito yang masih memperhatikan batu dari Therese.

"Oh iya. Aku tadi bicara dengan salah satu awak kapalnya. Katanya nanti akan ada badai. Jadi, semoga beruntung kalian bertiga" Kata Kirito meledek ketiga pahlawan yang masih dalam kondisi sakit.

Waktu pun terlalui. Mereka akhirnya sampai Cal Mira.

"Wah, jadi ini Cal Mira. Leganya, seolah-olah badai tadi tidak pernah terjadi ya..." Kata Raphtalia sambil meregangkan badan.

"Haduh... Padahal kau mabuk ketika pertama kali naik kereta" Kata Kirito.

Ketiga pahlawan yang makin sakit dibawa dengan tandu.

"Salam. Pahlawan, namaku Habenberg selalu penanggung jawab kalian selama di Cal Mira. Dan karena kelihatannya ketiga pahlawan lainnya sedang sakit, aku akan mengantar kelompok Pahlawan Perisai dan Vassal Sword" Kata seorang pria yang datang dengan jas hitam.

"Lho? Yujio, Alice. Kalian tak apa?" Tanya Kirito khawatir melihat Yujio dan Alice yang juga mabok.

"Aku tak apa. Kalian duluan saja" Jawab Yujio.

"Integrity Knight tidak pernah dilatih untuk ini" Kata Alice.

"Sinon, Leafa, Asuna, Sachi dan Filo, tolong jaga mereka dulu" Pinta Kirito.

""Baiklah!"" Jawab yang disuruh.

"Jadi, ini yang katanya peninggalan pahlawan terdahulu" Kata Naofumi ketika mereka menghampiri sebuah monumen yang terbentuk dari batu.

"Sebagai Vassal Sword bacakan lah" Kata Kirito menggunakan sihir untuk membaca mantra yang tertulis di batu itu. "Fast Aura" Kirito menggunakan sihirnya lagi kepada Misako. Misako mengeluarkan listrik hingga setinggi langit.

"Yo, bocah Perisai, anak Pedang. Jadi kalian disini" Kata L'arc menghampiri mereka.

"Ya, bagaimana kau tau?" Tanya Kirito.

"Itu karena aku melihat sebuah listrik menyambar ke atas. Jadi kupikir itu adalah teman kalian. Dan kami oun dapat menemukan mu" Jelas L'arc.

"Baiklah kalau begitu, kami masuk terlebih dahulu. Janne" L'arc dan Therese pun masuk ke penginapan.

"Hm... Walau sudah sore, mari kita meningkatkan level. Kita tidak tau kapan wave berikutnya datang. Lagipula, Misako juga masih baru kesini. Jadi levelnya masih rendah" Ajak Kirito.

"Walau level disini ku rendah, aku masih mempunyai kekuatan Esper ku" Bantah Misako. "Aku baru teringat, Kirito, bukankah kau punya Esper power?"

"Aku seorang Esper? Hm... Kurasa tidak" Jawab Kirito.

"Kalau tidak salah kau... Fire Thrower" Jawab Misako. "Dan kau ini level 4" Lanjut Misako.

"Benarkah, wah wah wah. Kirito, kenapa tidak bilang dari kemaren?" Ledek Naofumi.

"Ya mana kutahu. Aku bahkan sempat lupa beberapa temanku"

"Mungkin karena beberapa ingatan mu hilang, kau jadi tidak bisa memakai Esper power mu" Jelas Misako.

"Yasudah, kita bahas ini lain waktu. Ayo kita meningkatkan level kita" Ajak Kirito dan akhirnya mereka pergi meningkatkan level.

"Ternyata benar, Exp yang didapat lebih banyak. Kalau begini, mungkin aku bisa sampai level 60" Kata Kirito semangat.

"Level 53... Beda nya lumayan jauh. Aku hanya level 40. Yasudah, lagipula yang terpenting bagi ku adalah pertahanan bukan level" Pikir Naofumi. Tiba-tib mereka mendengar suara dari semak-semak.

"Jadi kalian disini rupanya" Itu adalah L'arc dan Therese bersama dengan party Naofumi dan Kirito yang lainnya.

"Yo, jadi bagaimana kalia-"

"Jangan sembarang 'yo'. Kami mencari kalian tau" Yujio mengomeli mereka berempat.

"Kami juga tidak mau sampai kenalan kami mati" Sambung L'arc.

"Kenalan?" Tanya Naofumi bingung.

"Iya, jangan bilang kalian akan membantah nya" Balas L'arc.

"Ya, tidak bermaksud membantah juga sih..." Balas Kirito.

"Baiklah, kita kembali. Mereka mengadakan pesta. Sebaiknya kita kembali" Ajak L'arc.

"Baiklah, ayo!" Mereka pun kembali dan menghadiri pesta yang dimaksud L'arc.

Mereka berpesta. Raphtalia sekali lagi, mabok. Dan adu panco dengan pria yang sebelumnya bertarung dengannya.

Anehnya, Raphtalia menang panco seperti itu bukan apa-apa bagi dia. Naofumi yang sedang berada di pinggir menontonnya dengan kaget. Sedangkan Kirito, ya dia tidak heran dengan kekuatan Raphtalia.

Naofumi menyadari adanya semacam buah di kanannya. Dia pun memakannya. Saking suka nya, dia memakan dua lagi. L'arc dan Kirito kaget ketika Naofumi memakannya. Motoyasu yang sedang mabuk juga ikut memakan bery itu. Sebaliknya, Motoyasu langsung pingsan ketika memakannya.

"Jadi ini adalah bahan dasar membuat minuman-minuman itu. Hm... Padahal dimakan langsung juga enak" Kata Naofumi melahap satu buah lagi.

"Itu karena ketahanan Alkohol mu lebih hebat" Balas Kirito.

Bersama dengan Fitoria, sang mantan Ratu itu sedang memandangi langit. Ketika tiba-tiba sebuah suara memecah lamunan nya.

"Kau adalah Ratu Philorial Fitoria, benar?" Sosok gadis kecil dengan topi dan baju ungu layaknya seorang penjaga perpustakaan dengan sebuah tongkat menhampiri Fitoria.

"Namaku Fitoria, dan aku ini mantan Ratu. Kau pasti Cardinal. Sedang apa kau disini?" Tanya Fitoria pada sosok bernama Cardinal.

"Aku kemari ingin membicarakan sesuatu denganmu" Jawab Cardinal. "Ini tentang dunia ini dan yang ada di dalamnya"

"Kukira aku tau yang kau maksud. Aku memang punya niat untuk memindahkan penduduknya. Tapi sepertinya belum ada tanda-tanda dari persiapan dunia sana" Jelas Fitoria.

"Dunia sana?" Tanya Cardinal bingung.

"Ya, dunia salah satu teman - mungkin bisa dibilang juga tuan ku. Katanya, dia akan membuat tempat dimana penduduk Melromarc dapat tinggal tanpa harus memikirkan dunia ini lagi. Dia juga berpikiran untuk membawa sebagian dari dunia satunya" Jelas Fitoria lagi.

"Maksudmu dunia yang juga mengalami wave, kan?" Kata Cardinal memastikan. Fitoria hanya menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan membantumu"

(Skip time)

Paginya mereka berkumpul di depan monumen yang kemaren. Kelompok Naofumi dan Kirito bertemu dengan L'arc dan Therese.

"Hai, kalian. Ingin pergi meningkatkan level?" Sapa ramah Therese.

"Ya. Dan ini, Therese, kami sudah selesai" Kata Kirito memberikan gelas dengan permata yang diberikan oleh Therese.

"Wah, arigatou gozaimasu" Kata Therese menerima gelangnya. Tiba-tiba saja, Therese menangis tanpa alasan.

"Woah, ada apa, Therese?" Tanya L'arc kebingungan.

"Ini, batunya sangat bagus. Aku bisa merasakan kerja keras kalian di dalam batu ini" Jelas Therese menyapu air matanya. "Ini bayaran kalian" Katanya memberi sekantung berisi koin emas.

"Wah, ini-" Kalimat Naofumi terpotong.

"Aku tau. Masih kurang banyak kan? L'arc cepat kemari kan seluruh uang mu!" Perintah Therese.

"Kau tau, kurasa ini cuma kurang sedikit saja. Sekitar 5 koin perak saja" Jelas Kirito.

"Tidak, aku tau kalian sudah berusaha sangat keras" Therese masih dengan air matanya.

"Yasudah, kami akan meningkatkan level kami. Nanti lagi saja bayarnya. Janne" Kata Naofumi kemudian mereka semua pergi.

Mereka pun pergi meningkatkan level mereka. Kini, Kirito sudah level 56 sedangkan Naofumi masih level 43.

"Tuan-tuan" Panggil Filo.

"Exp nya tidak muncul" Ucap Kirito. Mereka pun melihat para pahlawan lain sedang berada di sana. Mereka bertiga bertengkar sedangkan party Naofumi memutuskan untuk pergi.

"Haa!" Teriak Raphtalia menggunakan sword skill slant.

"Ternyata disini Exp nya luar biasa" Kata Kirito terkagum.

"Yo, kita bertemu lagi, bocah perisai, anak pedang" Sapa L'arc.

"Oh, kalian. Bagaimana dengan permata nya?" Tanya Kirito basa-basi.

"Hebat. Terimakasih kepada kalian yang sudah bekerja keras" Puji Therese.

"Kau tak perlu selalu memuji. Bagaimana kalau kita berparty bersama? Aku melihat dua buah monster disana" Kata Kirito menunjuk ke arah kiri nya. "Salah satunya bukan berasal dari dunia ini. Jadi itu adalah urusanku" Sambung Kirito.

"Baiklah kalau begitu, ayo!" Mereka pun berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Kirito.

"Oh, itu. Penguin Lord dan Strict Hermit. Baiklah, kami akan bantu" Kata L'arc.

"Begini rencananya, Naofumi akan menggunakan Hate Reaction nya, kemudian Therese akan menggunakan sihirnya untuk menghabisi monster Penguin nya. Sisa nya akan ditangani oleh kami" Jelas Kirito dengan rencananya.

Tanpa basa-basi, Naofumi langsung maju dan menggunakan Hate Reaction nya. Semua Penguin itu langsung menyerang Naofumi.

"Sekarang, Therese" Kata Kirito memberi aba-aba.

"Wahai kekuatan permata yang jauh dan luas. Dengarlah panggilanku dan muncullah. Ledakan Batu Delima" Serangan Therese tepat mengarah ke Naofumi.

"Naofumi!" "Naofumi-sama!" "Tuan!" Teriak seluruh anggota party Naofumi.

"Tak apa. Dia akan baik-baik saja" Tepat seperti yang dikatakan L'arc, Naofumi tidak terluka sama sekali. Jangan kan terluka, bajunya bahkan tidak hangus. Terlebih lagi, kutukan miliknya pun menghilang.

"Sihir yang aneh" Pikir Kirito. Semua monster Penguin pun terbakar habis.

"Tinggal dua lagi!" Teriak Naofumi.

"Serahkan pada kami!" Yang lainnya pun maju dan menghabisi monster tsb.

"Kau tak apa Naofumi-sama?" Tanya Raphtalia khawatir.

"Ya, aku tak apa" Jawab Naofumi. "Sepertinya banyak variasi sihir di dunia ini" Kata Naofumi mengeluarkan pemikirannya.

"Aneh, mungkin itu bukan dari dunia ini... Lalu? Dari mana mereka?" Pikir Kirito.

"Kita bagi drop item nya!" Kata Naofumi memanggil L'arc dan Therese. "Ada beberapa item aneh"

"Aneh?" Tanya L'arc bingung. "Item apa ini?" L'arc makin bingung.

"Terimakasih karena kalian kami bisa naik level" Kata Raphtalia, Asuna dan Sachi.

"Ya, terimakasih kembali" Jawab Therese.

"Bagaimana kalau kalian ikut berparty dengan kami lagi?" Ajak Naofumi.

"Tidak, kurasa kami cukup sampai disini saja" Jawab L'arc.

"Sekali lagi, terimakasih karena sudah membuat gelang ini dan membantu kami menaikkan level. Janne" L'arc dan Therese pun pergi.

"Ya, sama-sama dan terimakasih juga" Jawab Raphtalia.

"Janne!" Sambung Misako.

"Ne, Naofumi. Bagaimana kalau kota berlobur besok? Bukan karena aku sedang malas. Juga karena mereka telah berjuang keras" Usul Kirito apda sahabatnya.

"Baiklah, besok kita libur dulu" Kata-kata Naofumi membuat seluruh anggota partynya senang.

III

Yosh, para pahlawan dan party nya dalam perjalanan ke Calmira. Hayo, udah sampe chapter 19 gini, seru nggk? Seru kan? Terimakasih buat minna yang udah baca..(semoga aja ada)Jangan lupa follow (bagi yang belom), dan comment (kalo perlu). Sampai jumpa di lain kesempatan reader-san.