Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[Crown for the Queen ]
~ Chapter 18 ~
.
.
Sai Pov.
Di sebuah ruangan tempat istirahat untuk para kesatria.
"Pangeran benar-benar membuatku lelah." Ucapku.
Aku terus membantunya mencari buku itu, padahal halamannya sudah sengaja aku robek, ini karena perintah Yang mulia raja, aku terus beralasan jika buku itu entah berada dimana atau ada yang salah menaruhnya, berkali-kali kami mencari dari A hingga ke Z, pangeran Sasuke pun tetap keras kepala ingin aku menemukan buku itu.
Semua ini salah Yang mulia raja, apa susahnya jika lembaran di buku itu tidak perlu di robek? Aku tidak perlu menjadi orang yang begitu bodoh mencari buku yang sudah aku robek sendiri.
"Hanya bersama pangeran Sasuke seharian saja, nyawamu seperti hampir lepas, ada apa ini?" Tanya kesatria Sasori padaku.
"Aku berterima kasih banyak padamu, maaf melimpahkan tugasku padamu, ini semua gara-gara pangeran yang keras kepala itu."
"Hey, aku sudah katakan padamu berkali-kali untuk menjaga sikap, dia adalah seorang pangeran, bagaimana pun kalian dulunya akrab hingga menjadi seorang teman, tetap saja, kedudukannya berada sangat tinggi di atas kita." Tegur Kesatria Sasori.
"Ya, aku tahu, aku selalu ingat itu, seorang pangeran dan kesatria, hubungan itu saja membuatku sangat sulit, walaupun cara pangeran memperlakukanku tidak berubah, dia tetap menganggapku sebagai teman sebayanya, seharusnya dia yang lebih menghormatiku karena aku jauh lebih tua darinya." Ucapku.
"Kalian sedang mencari sesuatu?" Tanyanya.
"Ah, sebuah buku yang berisi catatan tentang kerajaan Haruno." Ucapku.
"Kerajaan Haruno? Aku baru mendengarnya."
"Sungguh? Aku pikir kau mengetahui kerajaan itu, katanya itu kerajaan di sebelah selatan, bukannya Yang mulia raja Fugaku dulu pernah berkunjung hingga ke sana?"
"Mungkin saat itu aku masih menjadi kesatria biasa, hanya orang-orang terpilih milik Yang mulia raja Fugaku yang bisa pergi mengikuti raja keluar istana, selebihnya harus tetap menjaga istana. Lalu, ada apa dengan kerajaan itu? Kenapa pangeran Sasuke sangat ingin mencarinya?"
Terdiam dan menatap kesatria Sasori, apa ini pantas di ceritakan padanya? Walaupun kesatria Sasori bukan tipe mulut ember, tapi Yang mulia raja telah berpesan untuk menutupi segala rahasia yang telah aku dengar.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja pangeran menginginkan catatan itu." Alasanku.
"Mungkin ingin menjalin kerjasama lagi."
"Mungkin saja."
Untunglah kesatria Sasori tidak menanyakannya lebih lanjutnya.
"Aku sudah melihat nona Sumire, ternyata apa yang menjadi rumor tidak semuanya benar, dia terlihat seperti wanita berkelas." Ucap kesatria Sasori.
"Wah, aku tidak menyangka jika kita akan memiliki pemikiran yang sama, kau benar, jika hanya mendengar rumor saja itu tidak akan beralasan, mereka harus melihat langsung bagaimana sosok nona Sumire itu. Saat aku bersamanya pun, aku merasa jika sedang mengawasi seorang putri mahkota." Jelasku.
"Hanya karena dia ditemukan di kapal budak, orang-orang terus menuduhnya seorang budak kotor yang mengemis pada Yang mulia raja. Penampilannya sekarang juga tidak menjadi hal utama, penampilan tidak akan bisa menutupi sikap asli seseorang. Caranya berbicara dan menunjukkan sikapnya, seorang budak akan sangat sulit memperlihatkan hal seperti itu." Ucapnya.
Aku tidak akan meragukan apa yang di ucapkan kesatria Sasori, sejak dulu, sebagai orang yang menganalisis di garis pertahanan saat perang, sudah menjadi hal yang terus di lakukannya, Yang mulia raja Itachi sangat mengandalkannya. Selain menganalisis saat perang, dia pandai menganalisis apapun, otaknya begitu encer dan cepat memahami apapun.
"Bagaimana dengan luka di tubuh nona Sumire?" Tanya kesatria Sai, dia sampai mengamati segalanya dari nona Sumire.
"Kau harus tahu, pangeran tidak begitu menyukainya, saat hari pertama aku mengawal nona Sumire, pangeran datang bersama beberapa pengawal untuk menangkapnya, aku sudah berusaha melindunginya, tapi yang terjadi nona Sumire melindungiku." Ucapku, aku menceritakan apapun yang terjadi pada kami saat itu, dan luka di jidatnya entah siapa yang melakukannya, nona Sumire memilih diam.
"Selain terlihat pandai, dia sangat berani, wanita yang akan sulit di temukan." Ucap kesatria Sasori.
Aku juga tidak percaya jika dia sampai berani melindungiku, kesatria macam apa aku ini?
"Jadi apa aku akan mendapat teraktiranku? Jangan lupa kemarin kau sudah berjanji." Ucapnya, menanyakan apa yang aku janjikan.
"Iya, aku akan mentraktirmu." Ucapku.
"Kesatria Sai dan kesatria Sasori, Yang mulia raja memberi perintah untuk kalian berdua." Ucap seorang penjaga, tiba-tiba datang dan memberitahukan sebuah perintah dari Yang mulia raja.
Kami bergegas berdiri dan mendengar perintah itu.
"Yang mulia raja ingin kalian berdua menangkap nona Sumire dan pelayannya, bawa mereka ke hadapan Yang mulia raja di ruangan pertemuan."
Aku cukup terkejut mendengar hal ini, ada apa ini? Kenapa Yang mulia raja ingin kami menangkap nona Sumire dan pelayannya?
Kesatria Sasori menatap ke arahku dengan tatapan bingung. Aku sendiri juga bingung, Yang mulia raja sangat peduli pada nona Sumire.
Setelah mendengar perintah itu dan kami bergegas ke istana barat, menemui nona Sumire dan dia terlihat tidak tahu apapun.
"Apa yang terjadi nona? Kenapa Yang mulia memerintahkan kami untuk menangkap anda?" Tanyaku padanya.
"Sa-saya sungguh tidak tahu apapun." Ucapnya, dia jauh lebih bingung dari pada kami.
"Untuk sementara, ikutlah bersama kami, mungkin Yang mulia raja hanya ingin menyampaikan sesuatu." Ucapku, sekedar membuatnya tenang.
Nyonya Rose, pelayan pribadi nona Sumire juga tidak mengerti kenapa dia harus ikut bersama kami.
Aku sangat ingin tahu apa yang sedang terjadi.
.
.
.
.
.
[ ruangan pertemuan]
Kami tiba di dalam ruangan itu, Yang mulia raja tengah duduk menunggu di singgasananya, di sampingnya ada pangeran Sasuke dan di sebelahnya lagi ada tuan Kabuto, beberapa pelayan wanita pun berada di ruangan ini.
Saat melihat Yang mulia raja Itachi, dia terlihat sangat marah, apa yang sudah di lakukan nona Sumire? Selama aku bersamanya, dia tidak pernah membuat masalah, nona Sumire selalu berhati-hati dalam bertindak, sebaliknya, wanita ini terus mendapat masalah dan terus saja diam.
"Kami telah menjalankan perintahmu Yang mulia raja." Ucap Kesatria Sasori.
Kami membiarkan nona Sumire dan nyonya Rose menghadap raja, sementara kami berdiri di samping dan mendengar apa yang sedang terjadi.
"Bicaralah." Ucap Yang mulia dan menatap ke arah para pelayan.
"No-nona Sumire mencuri salah satu kotak harta milik Yang mulia raja." Ucap salah seorang pelayan.
Sungguh? Sejak kapan? Nona Sumire terus berada di istana barat, dia akan terus berada dalam pengawasanku, bagaimana dia bisa mengambil kotak harta milik Yang mulia raja? Di sana juga memiliki penjagaan yang sangat ketat.
Menatap nona Sumire dan dia sangat terkejut, kali ini masalah apa lagi yang sedang terjadi padanya?
"Ya-Yang mulia raja, saya tidak melakuka-"
"-Aku tidak menyuruhmu berbicara, Nona Sumire." Ucap Yang mulia raja, dia bahkan tidak membiarkan nona Sumire membela diri, kenapa sikap yang mulia raja begitu berubah?
"Lanjutkan." Perintah Yang mulia raja setelah menghentikan nona Sumire untuk berbicara.
"Nona Sumire bahkan membagikannya pada nyonya Rose, mengatakan jika kotak harta itu pemberiaan Yang mulia raja, kami tidak percaya hingga meminta nyonya Rose mengatakan yang sebenarnya."
Menatap Nyonya Rose, bukannya dia pelayan yang begitu tulus melayani nona Sumire? Sekarang tatapan nona Sumire terlihat tidak percaya, dia terus menatap ke arah nyonya Rose, namun wanita itu tidak berani menatapnya dan terus menundukkan wajahnya.
"Baiklah, sekarang, apa yang akan kau sampaikan tuan Kabuto?" Tanya Yang mulia raja dan menatap ke arah tuan Kabuto setelah para pelayan di sana selesai berbicara.
"Nona Sumire mengacaukan catatan data pajak, saya sudah memberinya salinan yang asli, tapi dia mengubahnya, Saya benar-benar tidak mengerti, kenapa nona Sumire mengubah catatan pajak hingga di naikkan 50%, saat kami menagih nanti, ini akan menjadi masalah Yang mulia raja." Ucap tuan Kabuto.
"Sa-saya tidak mengubah apapun Yang mulia raj-"
"Sekali kali lagi kau berbicara, aku akan benar-benar memberimu hukuman, nona Sumire." Ancam Yang mulia raja.
Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya, hanya dalam sehari saja, semua masalah tertumpuk pada nona Sumire, dia bukan wanita seperti itu, aku juga ingin membelanya, tapi jika begitu banyak saksi, aku tidak bisa melakukan apapun, Yang mulia raja juga masih terlihat sangat marah.
"Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa bersikap seperti ini, Nona Sumire, aku memberimu kebebasan di istana ini tapi kau tidak menjaga kelakukanmu." Ucap Yang mulia raja.
I-ini tidak benar 'kan? Yang mulia raja tidak pernah bersikap seperti ini jika sedang berbicara pada nona Sumire, menatap ke arah pangeran Sasuke, dia tipe orang yang pandai menyembunyikan ekspresinya, tatapan tuan Kabuto terlihat kecewa, dan para pelayan terlihat takut, apa sedang ada drama disini?
Nona Sumire akhirnya berlutut dan tidak mengucapkan apapun.
"Maaf nona Sumire, semakin banyak masalah yang kau buat, semakin sulit untuk di maafkan. Kesatria Sai tolong kurung nona Sumire di penjara bawah tanah." Perintah Yang mulia raja padaku.
Rasanya ada yang aneh.
"Kenapa tidak bergerak? Yang mulia raja memerintahmu." Tegur kesatria Sasori yang tengah berdiri tepat di sampingku.
"Ba-baik Yang mulia raja." Ucapku, aku hanya masih tidak percaya.
Menghampiri nona Sumire, mencoba membantunya berdiri, tatapan itu, dia terlihat sangat sedih, aku juga ingin minta maaf, aku tidak bisa melakukan apapun, kekuasaan tertinggi di pegang oleh raja.
"Nona Sumire, tolong ikut aku." Ucapku. Dia pun tidak melawan dan mencoba membela dirinya lagi, nona Sumire seperti pasrah mengikutiku.
.
.
TBC
.
.
updatee...~
disini ada konflik kecil...
