"Daylight"

Disclaimer : The story belongs to Summer Plum. Nama-nama yang tercantum dalam cerita sepenuhnya milik mereka.

Genre : Romance, Action

Main Casts : Kim Tae Hyung x Jeon Jung Kook

Other Casts : Kim Nam Joon | Kim Seok Jin | Min Yoon Gi | Jung Ho Seok | Park Ji Min

Rated : M

Warning : Top!Kim Taehyung x Bottom!Jeon Jungkook

YAOI, BoyxBoy, dan sejenisnya

M-Preg

Typo everywhere

Hi, I'm back!

Chapter 18

"Jaehyun, kau bekerja dimana?"

Jungkook yang sedari tadi memutar-mutar gelasnya dengan canggung, kini menatap wajah seorang pria tua yang berdiri di hadapannya. Pemuda itu memindai lawan bicaranya dari ujung kaki ke ujung kepala. Sepatu mahal, setelan sutera, Rolex di tangan kiri, dan gelang kesehatan berwarna perak di tangan kanan. Rambutnya klimis dan kacamata bergagang bengkok tersemat di wajah tuanya. Dari sekilas pindai saja Jungkook tahu jika pria di depannya ini adalah manusia yang memiliki aroma uang. Mungkin tipikal pria tua yang suka menyimpan para kawula muda sebagai piaraan mereka.

"Manager bank." Jawab Jungkook singkat tanpa mengulas senyum. Ia sudah diwanti-wanti Komandan Guardian untuk tidak dengan mudahnya melemparkan senyum di tempat ini. Terlalu sering senyum bisa membuatnya dalam bahaya. Ia juga diberi identitas palsu supaya orang-orang tidak bisa merendahkannya jika tahu siapa Jungkook sesungguhnya.

"Tapi kau tidak terlihat seperti manager bank."

Jungkook kicep. Ia melirik ke arah pantulan wajahnya di mangkuk sup yang dibawa pelayan yang kebetulan melintas di depannya. Jika saja Jungkook ada di antara kaumnya, maka ia bisa dibilang tergolong orang necis yang cukup berkelas. Akan tetapi, ia kini berada di antara sekumpulan Kaum Primer yang memakai outift dengan total puluhan, belasan, bahkan ratusan juta dalam sekali pakai. Tentu saja di sini ia tak lebihnya bak seorang anak muda yang mungkin kaya tapi punya selera berbusana yang payah.

"Aku agak kurang sehat beberapa hari belakangan." Dusta Jungkook. Ia tentu tidak sakit. Badannya baik-baik saja tanpa ada sedikitpun keluhan.

Kecuali di bagian dada, jika teringat Kim Taehyung.

"Permisi, saya harus menemui seseorang dulu."

Dengan kesopanan sekadarnya, Jungkook mengangguk singkat pada pria tua itu sebelum berjalan meninggalkannya. Ia berjalan berkeliling ruangan megah itu dengan langkah kikuk. Sudah dua puluh menit semenjak Park Jimin meninggalkannya. Kata Jimin, ia harus menemui beberapa rekan kerja ayahnya sebelum menemani Jungkook berkeliling di sekitar istana tersebut.

Jungkook berdecak sebal. Sungguh, susah payah ia meredam emosinya kala pertama kali mengetahui jika Jimin adalah anak dari Dewan Tertinggi. Ia tidak habis pikir mengapa otaknya tidak langsung mengirimkan sinyal curiga kepada komandan itu semenjak mereka bertemu pertama kali.

Bayangkan saja, di rezim seperti ini, sudah pasti jabatan-jabatan bagus di pemerintahan maupun di kalangan pasukan perdamaian tidak akan jauh-jauh dari anggota keluarga. Jika jabatan sebagus Komandan Guardian disematkan pada seseorang, orang itu pastilah merupakan salah satu anggota keluarga dari Dewan Tertinggi ataupun Para Petinggi. Logikanya seperti itu, bukan?

Namun yang Jungkook tidak habis pikir lagi adalah, bagaimana bisa Jimin dan ayahnya memiliki sifat yang saling bertolak belakang?

Jimin, daripada digolongkan sebagai keluarga besar Guardian, ia lebih terlihat seperti Guardian yang sesungguhnya. Sudah banyak sekali hal baik yang ia lakukan pada Jungkook. Bila dihitung-hitung, Park Jimin bahkan lebih sering menjadi garda pertama dalam melindungi Jungkook di saat bahaya dibandingkan pasangan Copulation-nya sendiri. Memang Kim Taehyung juga menyelamatkannya beberapa kali, tapi lebih sering Jimin lah yang beraksi terlebih dahulu sebelum Taehyung datang.

Bagaimana bisa ia begitu baik? Dibandingkan dengan sifat ayahnya yang mematikan, bagaimana bisa Park Jimin lebih manusiawi?

Netra Jungkook menangkap pemandangan orang yang ada di benaknya itu. Berdiri kurang lebih lima meter di sisi kirinya, Park Jimin tengah berbincang dengan ayahandanya yang mulia. Dewan Tertinggi itu terbahak dengan jumawanya.

Ketika Dewan Tertinggi itu bertatap mata dengan Jungkook, rasanya sudah terlambat baginya untuk memalingkan wajahnya.

"Kau, kemarilah."

Jungkook, yang hadir dengan nama samaran Jaehyun, dengan gugup berjalan mendekati sumber suara. Saat langkahnya terhenti tepat di sebelah Jimin, ia mendongak dan memandang wajah Lee Minwoo yang menatapnya dengan gurat penasaran. Jimin menepuk pundak Jungkook pelan sebelum mengenalkan Jungkook ke beberapa orang yang tengah berbincang dengannya.

"Dimana kau dan anakku berkenalan?"

Pemuda Jeon mengerjap. Ia sedikit kaget akan pertanyaan mendadak yang dilontarkan Dewan Tertinggi.

"Kami teman sekolah dasar dulu, abeoji. Aku sudah memberitahumu barusan."

Jimin, sekali lagi, bertindak sebagai Guardian bagi Jungkook dengan menjawab pertanyaan mendadak tersebut. Ia mengangguk singkat dan menambahkan jawaban yang diharapkan bisa sedikit meyakinkan. "Dulu saya satu kelas dengan Jimin, Tuan."

Lee Minwoo mengangguk singkat. Ia menunjuk seseorang yang mengekori seorang pria yang mendatangi mereka dengan wine di masing-masing tangannya. "Kalau begitu kau pasti kenal dengan Wendy. Dia sepupu Jimin dan satu kelas dengannya juga. Kalian masih saling ingat?"

Sosok yang disebut sebagai Wendy itu menilik Jungkook lebih dekat. Tak kalah cantik dengan kakak perempuan Jimin, Wendy terlihat begitu menarik dengan setelan kemeja berenda putih yang dipadupadankan dengan blazer berwarna biru donker. Bagian bawahnya terbalut rok mini donker dengan heels yang membuatnya terlihat setidaknya lima belas senti meter lebih tinggi.

Wendy mengernyitkan kening kemudian menggeleng pelan. "Aku tidak ingat jika punya teman sekelas bernama Jaehyun."

Pemuda Park kemudian mengambil alih ucapan Wendy itu dengan tawa kecil. "Bagaimana bisa kau ingat kalau kau sendiri dulu sering bolos kelas?"

Mereka kemudian saling terbahak dan membahas kisah masa lalunya dengan antusias. Jimin menyebutkan jika Jaehyun alias Jungkook adalah sosok teman sekelas yang pindah sekolah. Ia melanjutkan omong kosong itu seolah-olah Jungkook adalah kawan lama yang begitu dirindukannya. Akan tetapi dari serunya percakapan tersebut, pemuda Jeon sama sekali tidak dilibatkan dalam pembicaraan. Praktisnya, ia hanya berdiri bak orang idiot di tengah kaum yang sama sekali asing baginya.

Jungkook ingin pulang saja.

Ia merasa asing berdiri di antara orang-orang ini. Ia begitu muak harus bertatap muka dengan sosok yang sudah membunuh kakaknya dengan keji. Ia benci harus bersikap sopan pada orang yang sangat ingin ia hancurkan.

Ingin di rumah Taehyung saja. Memendam semua amarah di balik selimut hangat milik pasangan Copulation-nya.

"Semuanya, permisi sebentar. Saya dan Jaehyun akan menemui teman yang lain."

Dengan dua kalimat tersebut, Park Jimin mendorong Jungkook menjauh dari kerumunan. Pikirnya, ia akan diajak untuk menemui orang lain lalu membahas hal-hal tidak berfaedah yang sangat membosankan. Nyatanya, Jimin mengajaknya melipir meninggalkan orang-orang dan menuju ke dapur.

"Hyung, kita mau kemana?"

Jimin menyerukan sstt sejenak sebelum menggandeng tangan Jungkook dengan mantap. "Jangan tanya dulu. Diam saja dan ikuti aku."

Mata Jungkook membola. Ia sedikit menepis tangan Jimin yang menggandengnya sebelum mendapat jawaban yang cukup menenangkan.

"Aku tidak berniat mencelakakanmu. Percaya padaku, Kook." Ia menyibakkan pakaian yang dikenakan Jungkook hingga pundaknya terbuka.

"Hyung!"

Niatnya, Jungkook hendak menepis tangan yang dengan kurang ajarnya membuka bajunya begitu saja. Walau hanya terbuka sedikit, namun ia cukup malu karena praktisnya Jimin adalah orang asing menurutnya. Akan tetapi, saat mendapati bahunya tertempel sebuah benda kecil berwarna keemas an, Jungkook langsung mengurungkan niatnya karena dipenuh rasa penasaran.

"Apa ini?"

"Chipset. Alat itu membantumu supaya detector yang tertanam di lenganmu terlacak sebagai Kaum Primer bukannya Sekunder," terang Jimin. "Jika kau terdeteksi sebagai Sekunder, maka habislah sudah riwayatmu saat kita tiba di pintu masuk rumah ini tadi."

Jungkook menyentuh lempengan kecil yang terlihat menyatu dengan kulitnya. Sedikit mencongkelnya, Jungkook sadar jika benda itu menempel kuat di sana.

"Aku tidak mau berbuat cabul. Hanya memeriksa saja apakah chipset itu masih ada di sana atau tidak."

"Kapan kau menempelkannya?"

Jimin mengedikkan kepalanya ke arah sebuah pintu berwarna gading di hadapan mereka berdua. "Tadi saat kita sedang belanja," ungkapnya. "Sekarang ayo masuk ke kamarku."

.

.

.

Sudah tiga puluh lima menit Taehyung berkendara.

Semenjak menemui Yoongi yang baru saja siuman, Taehyung harus menghabiskan setidaknya dua puluh menit terjebak dalam rengekan minta tolong pemuda bermarga Min tersebut. Ia belum mengiyakan permintaan Yoongi karena jujur saja, menyembunyikan peserta Copulation di rumahnya? Itu sama saja menyeret Jungkook ke dalam penjara jika sampai ketahuan. Maka dari itu, niatnya ia hendak mencari Jungkook untuk meminta pendapatnya. Taehyung merasa jika pendapat Jungkook sangat penting untuk dipertimbangkan.

Akan tetapi, para maid yang mulai sibuk membersihkan rumah Taehyung mengatakan jika pasangan Copulation miliknya sudah dijemput oleh Komandan Guardian. Ia tahu betul siapa komandan yang dimaksud.

Yang tidak ia ketahui adalah, apa motif dibalik ajakan Park Jimin. Bagaimana bisa ia mengajak pasangan orang lain untuk hadir di kalangan Kaum Primer? Bagaimana kalau Jungkook kenapa-napa?

Kim Taehyung bersumpah jika Jungkook sampai terjebak atau terluka sedikit saja, ia akan membuat perhitungan pada pemuda yang dibencinya sejak pertemuan pertama. Ia tidak suka Jungkook terlalu akrab dengan orang yang bersimpuh di kaki pemerintahan. Terlalu riskan bagi Jungkooknya yang seharusnya ada di bawah pengawasan Taehyung.

Karenanya, ia berusaha sedetail mungkin menyisir seluruh tempat yang sekiranya menjadi tempat dimana Jungkook dan Jimin bertemu.

"Kemana sih kau…" gerutu Taehyung pada kehampaan. Sebuah nostalgia kecil di mana rasanya ia pernah melakukan hal yang sama sebelumnya.

De javu.

Taehyung ingat beberapa waktu yang lalu di mana ia mencari Jungkook kemana-mana. Ia sama frustasinya karena tidak bisa menemukan keberadaan Jeon yang ternyata diantarkan pulang oleh Park sialan Jimin. Bukan sekali saja Jungkook menghilang dari pandangannya. Berkali-kali pemuda manis itu berada dalam mara bahaya dan Taehyung cukup terlambat untuk menolongnya.

Taehyung merasa jika dirinya adalah pasangan payah yang tidak bisa diandalkan.

Saat ini, ia bahkan sampai harus menghubungi rekan kerjanya untuk mencaritahu dimana kediaman Pemimpin Guardian itu. Dari beberapa jawaban yang didapat, ia menyimpulkan jika mungkin saat ini Jungkook tengah ada di rumah Park Jimin yang berada tak jauh dari istana negara.

Tapi setibanya di hunian yang diduga menjadi tempat Jungkook berada, yang ia temui hanyalah rumah dan pekarangan yang sepi. Hanya ada dua orang pekerja kebun yang tengah menata bunga-bunga di pot taman rumah.

Taehyung mengusak kepalanya dengan kasar. Ia sangat khawatir jika sesuatu yang buruk menimpa Jungkook.

Apalagi rasa bersalahnya pada pemuda Jeon masih begitu besar.

Ketika hendak masuk lagi ke mobilnya, Taehyung mendapati ponselnya bergetar. Dari saku mantel yang dikenakan, Taehyung menarik keluar ponsel canggih miliknya dan mendapati sebuah nomor asing menelponnya.

"Halo?"

"Hyung."

Indera pendengaran Taehyung menajam. Begitu pula indera pengelihatannya yang membelalak menyadari suara sosok yang dicari-cari bergaung nun jauh di sana.

"Jungkook?"

"Iya, hyung. Ini aku."

Taehyung mengumpat pelan sebelum mendesah lemas. "Kau kemana saja? Kau telpon pakai nomor siapa?"

Terdengar suara pemberitahuan khas yang menandakan jika sepertinya Jungkook sedang tak jauh dari stasiun subway.

"Aku bersama Jimin hyung. Jemput aku di stasiun Gwanghwamun, Seoul Line 5. Aku di dekat pintu keluar 2, ya."

Tanpa ba bi bu lagi, Taehyung segera tancap gas untuk menemui pasangan Copulation-nya. Segala amarah mengumpul di dadanya. Rasanya ia harus melayangkan satu atau dua hantaman lagi ke rahang Komandan Guardian yang tidak tahu diri itu. Sudah berapa kali Taehyung memperingatkan untuk tidak dekat-dekat dengan Jungkook, tapi pria itu masih bebal saja.

"Kau pikir dengan menjadi komandan lalu kau bisa berbuat sesuka hati? Tch."

Sepuluh menit.

Waktu tercepat yang dilaluinya karena Taehyung jelas mengemudi dengan kecepatan gila-gilaan.

Langkah kakinya lebar-lebar. Taehyung tergesa karena tak sabar akan melayangkan tinjunya pada orang yang kini menjadi musuh abadinya.

Ketika ia mendekati pintu keluar dua, sesuai dengan aba-aba Jungkook, yang didapatinya hanyalah pasangannya yang manis yang mana tengah melambai ke arahnya.

"Kook, kau kemana saja sih?"

Baru saja Jungkook hendak menjawab, Taehyung sudah menariknya dalam pelukan. Pria bermarga Kim itu melesakkan wajahnya dalam-dalam di leher Jungkook sembari menghirup aroma manis yang memanjakan hidungnya. Rasa rindunya dan kelegaan terbayar sudah dengan adanya Jungkook dalam dekapan.

"Maaf tidak memberitahumu dulu, hyung. Jimin hyung buru-buru mengajakku untuk datang ke acara ulang tahunnya."

Mendengar nama yang satu itu membuat Taehyung menjauhkan kepalanya dari leher Jungkook. Ia berdecak sebal dan menatap Jungkook dengan pandangan menuntut.

"Dimana brengsek itu? Apa dia sembunyi?"

Jungkook menggeleng ringan. "Aku menyuruhnya pulang duluan. Tadinya ia mau mengantarkanku ke rumah, tapi bertemu denganmu rasanya bukan ide yang baik."

"Kau melindunginya?" tanya Taehyung dengan nada sedikit meninggi.

"Aku melindungi dia," ujar Jungkook seraya menunjuk ke arah perutnya yang terbalut mantel hitam. "Aku tahu kalau kau bertemu Jimin hyung, kau mungkin akan menghajarnya. Aku tidak mau bayi ini melihat ayahnya berindak anarkis, hyung."

Sebuah kehangatan mendadak memenuhi dada Taehyung. Bukan gemuruh yang menyulut api peperangan, tapi lebih seperti pelukan hangat yang melingkupi tubuhnya. Ia tidak tahu jika Jungkook bisa sehati-hati itu dalam menjaga kandungannya.

"Kau benar. Aku mungkin akan menakuti bayi kita," terkekeh pelan, Taehyung mengangkat panggilan yang membuat sakunya bergetar sedari tadi. "Sebentar, ya."

Jungkook mengangguk pelan. Netranya mengekori sang pasangan yang sedikit menjauh untuk berbincang dengan entah-siapa-di sana. Ia merogoh saku mantelnya dan menyentuh benda kecil yang diberikan Jimin padanya satu jam yang lalu.

"Apa? Min Yoongi kabur? Bagaimana bisa?"

.

.

.

5 bulan kemudian

"Hyung, kau tidak perlu terlalu sering membelikanku baju baru. Yang minggu kemarin saja masih muat. Nanti bisa-bisa lemarinya kepenuhan."

Jungkook melipat lagi celana khusus ibu hamil yang baru saja dibelikan Taehyung. Kendati sudah lima bulan lebih hidup bersama, ia masih belum memahami jalan pikiran lelakinya itu. Konsep hidup berhemat dan bersahaja jelas tak ada di kamus seorang Kim Ningrat Taehyung.

Setelah berdebat cukup sengit, ia mengalah pada ego Taehyung yang memberikannya setumpuk baju dan celana baru tanpa kira-kira. Kehamilan Jungkook yang menginjak usia bulan memang membuat perutnya perlahan terlihat lebih berisi. Ia masih mengeyel saat Taehyung menggandengnya dengan sedikit paksaan menuju ke gerai sepatu bermerek yang biasa didatangi para Kaum Primer. Jungkook menolak dengan keras usaha Taehyung untuk membelikan ini-itu yang dianggap penting bagi pemuda Kim, tapi jelas pemborosan besar-besaran bagi Jungkook.

Karenanya, mereka kali ini hanya membawa pulang banyak pakaian yang sudah pasti membuat lemari Jungkook tidak muat saking banyaknya.

"Kita bisa beli lemari baru. Aku bisa meminta layanan pesan-antar jika tak ada waktu luang."

Jungkook mengembuskan napas dalam-dalam. Ia memutar bola matanya yang dibalas dengan kecupan singkat di pipi Jeon.

"Aku serius, hyung. Jangan beli banyak barang lagi. Kau harus banyak menabung."

Kim Taehyung terkekeh mendengar saran dari pasangannya itu. "Tabunganku sudah cukup untuk memenuhi kehidupan kita bahkan hingga belasan tahun ke depan."

Jungkook tersenyum getir. Terkadang ucapan Taehyung memang membuat nyeri di dadanya kambuh lagi.

"Aku mandi dulu."

Dengan santainya pria itu melenggang pergi meninggalkan Jungkook yang terduduk tanpa tenaga di ranjang miliknya.

"Menghidupi kehidupan kita?" bisik Jungkook nyaris tanpa suara. "Yang benar saja. Mungkin kehidupanmu dan Joy nanti."

Seakan tak cukup, Jungkook menambahkan rasa sakit hatinya dengan memeriksa ponsel Taehyung yang tergeletak di sebelahnya. Terkekeh pelan penuh rasa getir, Jungkook membaca pesan-pesan yang Taehyung kirimkan untuk Joy.

Mereka berdua memang sudah tidak pernah bertemu lagi semenjak Taehyung menunda tanggal pernikahan. Akan tetapi, komunikasi di antara mereka rupanya tak akan pernah padam.

Meski begitu, Jungkook bisa menangkap perbedaan dari chat-chat yang tertulis di layer itu.

Jika dipikir-pikir, dari hari ke hari pesan singkat yang dikirimkan pasangan Copulation-nya memang singkat dalam arti yang sebenarnya; hanya satu atau dua kata saja. Akan tetapi, rasa panas yang membakar dadanya begitu kentara saat Jungkook menyadari jika Taehyung tentu masih peduli pada wanitanya. Hal tersebut bisa dibuktikan dari ucapan selamat malam yang selalu Taehyung kirimkan ataupun selipan emoji peluk di beberapa pesan.

Beralih dari pesan singkat, Jungkook mendapati Taehyung beberapa kali ditelpon oleh Joy. Meski durasinya tidak terlalu lama, namun rutinitas telpon-menelpon itu tidak absen sama sekali.

Tubuh Jungkook semakin lemas karena ia tahu jika Taehyung sudah berbohong padanya.

Minggu lalu Jungkook pernah bertanya apakah Joy masih sering menghubunginya. Dengan tenang Taehyung menjawab tidak tanpa ada penjelasan lebih lanjut.

Nyatanya mereka masih sering menelpon. Jungkook tidak pernah memergokinya karena memang mereka saling bertemu via suara saat Taehyung ada di kantor. Jungkook tahu karena dari keterangan waktu yang tertera di layar selalu di pukul sebelas pagi.

"Kenapa masih sakit saja?"

Jungkook meremat dadanya yang berdenyut. Ia sedikit melempar ponsel Taehyung sebelum meninggalkan kamar dengan tergesa. Ia butuh menenangkan pikiran sebelum suasana hatinya semakin kacau.

Menuju ke ruang tamu, ia membuka smartphone-nya sendiri yang sudah empat bulan yang lalu dibelikan Taehyung. Ia membuka bagian penyimpanan file dan detik berikutnya hologram yang menampilkan beberapa data mengenai pulau tak terjamah terpampang di hadapannya. Ia melirik ke belakang dan suara Taehyung yang tengah berdendang di kamar mandi menjadi pertanda bagi Jungkook untuk melanjutkan kegiatan rahasianya.

Ia masih tidak yakin dengan ide membebaskan diri yang diutarakan Park Jimin lima bulan yang lalu. Ide gila untuk pergi ke Meonji Seom memang menggugah rasa penasarannya. Tapi Jungkook masih belum yakin betul. Karenanya, ia mendiamkan file dalam flashdisk milik Jimin selama berbulan-bulan tanpa berniat untuk mencaritahu lebih lanjut lagi. Sebenarnya bukan karena tidak masuk akalnya ide yang digagas, tapi lebih karena pencetus ide itu adalah seorang Komandan Guardian. Bagaimana ia bisa mempercayakan ide pergi dari Seoul ke tempat antah berantah yang disarankan oleh anak dari Dewan Tertinggi?

Pemuda Jeon menggeser hologram yang menampilkan daerah-daerah gersang yang penuh bebatuan. Ia sama sekali tidak pernah mendengar tentang Meonji Seom. Apakah benar tempat itu ada di dunia ini? Apakah di sana ia bisa menemukan kebebasan hidup tanpa kekangan? Apa di sana ia bisa membesarkan anaknya tanpa campur tangan Para Petinggi?

Sedikit rasa bersalah melingkupi batinnya. Ia belum menceritakan apapun mengenai informasi ini kepada sang pasangan. Jungkook masih sangsi untuk berbagi rahasia walaupun tadinya ia ingin mempercayai Taehyung sepenuhnya.

Apalagi ia baru saja tahu jika Taehyung juga tak jujur padanya.

"Sedang lihat apa?"

Niatnya, Jungkook mau menutup hologram tersebut, tapi Taehyung sudah lebih cepat menyambar smartphone yang terkoneksi dengan hologram yang kini berada di genggaman tangannya. Jungkook mencoba meraih ponsel itu yang langsung ditepis oleh Taehyung.

"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku, Kook."

Yang dituduh itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Untuk sepersekian detik ia kehilangan kata-kata karena Taehyung menatapnya dengan tatapan dingin.

"Jungkook, aku tak suka kau berbohong padaku."

"Aku tidak bohong. Kau yang bohong," ujar Jungkook lirih. "Kembalikan ponselku, hyung," imbuhnya dengan suara mencicit.

Taehyung semakin menjauhkan handphone yang hendak diraih Jungkook. Ia menggeleng sekali sebelum memiringkan kepalanya memandang Jungkook yang menunduk. "Aku bohong apa? Katakan padaku."

Jungkook tidak sampai hati untuk mengatakannya. Kendati ia begitu ingin berteriak mengungkapkan kekecewaannya, namun ia masih harus berpijak di pendiriannya di mana ia harus tahu diri. Tahu posisinya sebagai apa di kehidupan Taehyung.

"Jungkook," panggil Taehyung lirih. "Kita sudah berjanji untuk mengatakan apa yang dimau dari satu sama lain. Kau sudah berjanji untuk memberitahuku apapun yang mengganjal di hubungan ini. Jangan diam begini. Bilang saja."

Taehyung mengangkat wajah Jungkook dengan dua jemarinya. Melalui sentuhan lembut di dagu, netra Jungkook memandang Taehyung yang menatapnya cemas. Tatapan tajam yang tadi dilayangkan padanya telah menghilang dan digantikan dengan rasa khawatir yang kentara.

"Kau bilang… kau sudah tidak pernah berkomunikasi dengan tunanganmu. Tapi kenapa kau dan Joy diam-diam saling menelpon saat sedang di kantor?" Jungkook menggigit bibir bagian dalamnya sebelum melanjutkan permasalahan yang mengganjal di antara mereka. "Kau bahkan masih sering berkirim pesan dengan gadismu itu," ia melepaskan jemari Taehyung yang bertengger di dagunya. "Apa kalian juga masih sering bertemu di belakangku?"

Pria yang mendapatkan pertanyaan beruntun tersebut sedikit melemaskan bahunya yang tanpa disadari sedari tadi menegang. Ia mendapati mata bulat Jungkook mulai berkaca-kaca. Ketika itu juga rasa bersalah menyelimutinya lagi dan lagi.

"Kau memeriksa ponselku, ya?"

Anggukan yang menjadi jawabannya. "Maaf aku sudah lancang. Kau bilang aku boleh menggunakan ponselmu kapan saja. Aku hanya penasaran, tapi nyatanya yeah—"

"Kau mau memaafkanku?"

Tangan Taehyung terulur untuk menyentuh lembut pipi Jungkook. Ia bisa merasakan jika pasangan Copulation-nya sedikit berjengit. Suatu hal yang jarang Jungkook lakukan.

"Baiklah, kau tidak harus memaafkanku secepatnya. Kurasa akulah yang melanggar janji kita."

Taehyung menuntun Jungkook supaya mereka berdua duduk di sofa. Dengan Jungkook yang masih diam seribu bahasa, Taehyung kemudian mengambil ponsel dari celana piyama yang dikenakannya. Ia melepaskan tangan Jungkook kemudian mengetik dengan cepat tanpa sedikitpun menoleh ke arah ibu dari anaknya itu.

Setelah hampir tiga puluh detik berlalu, Taehyung menunjukkan bagian layar ponselnya ke Jungkook.

Jeon Jungkook, yang sedari tadi sudah merasakan sesak di dada karena menganggap Taehyung mengacuhkannya, kini menatap layar ponsel tanpa berkedip.

Di sana, di sebuah chat yang baru saja dikirimkan, Jungkook membaca kalimat panjang yang diketik pemuda Kim. Sosok yang tengah hamil itu memincingkan matanya setengah tidak percaya akan pesan yang baru saja dibacanya.

Kemarin adalah yang terakhir Joy. Aku minta kepadamu dengan tulus untuk jangan menghubungiku. Biarkan aku dan Jungkook menyelesaikan semuanya. Maafkan aku.

"Aku memang tidak jujur padamu, Kook. Aku dan Joy masih berhubungan hingga kemarin malam. Bukannya aku berniat menyakitimu, tapi ibunya terus menerus mendatangiku ke kantor dan berkata jika Joy tidak mau lepas dariku. Katanya Joy sakit dan menolak makan ataupun minum obat jika aku tidak mengiriminya pesan atau mengangkat telponnya," terang Kim Taehyung. Pria berusia dua puluh dua tahun itu menghela napas panjang dan berat. Tiba-tiba saja kepalanya terasa pening jika mengingat hubungan cintanya yang rumit bersama kedua orang itu. "Aku sudah meminta pada Joy untuk berhenti menghubungiku dulu, tapi ia selalu menolak. Joy bahkan mengancam akan menyakiti dirinya sendiri jika aku mengabaikannya."

"Hyung, kau tak harus memaksakan diri begini. Aku tahu pasti sulit untukmu," ucap Jungkook lirih. Ia meraih ponsel Taehyung dan membatalkan pesan yang dikirimkan beberapa menit yang lalu. Setelahnya ia meletakkannya di atas sofa dan menggenggam tangan pasangannya. "Aku tak meminta hubungan yang lebih. Aku tidak ingin berharap sedikitpun. Toh, setelah semua ini usai kita akan kembali pada kehidupan kita masing-masing. Untuk apa kau mencoba menyingkirkan Joy dari hidupmu? Dia kekasihmu yang sesungguhnya, bukan aku."

Taehyung menggeleng pelan. Di benaknya ia tidak menyangka jika Jungkook akan mengatakan hal itu dalam kondisi seperti ini.

"Bagaimana jika aku tak mau kembali?"

Pertanyaan itu terdengar jelas, menggema di dalam ruangan luas yang menjadi tempat berlindung bagi dua orang yang tengah dilanda rasa gundah.

"Kau akan menyakiti Joy."

"Dan aku telah menyakitimu."

Taehyung meletakkan kembali ponsel milik Jungkook sebelum bangkit dari duduknya. Ia berjalan mondar-mandir sembari meremat surainya yang masih basah.

"Aku tidak apa, hyung. Aku—"

"Bagaimana bisa kau tidak apa-apa, Kook?" nada tinggi dari suara Taehyung sedikit menghentak Jungkook. Mata tajam itu kembali lagi, menatap Jungkook intens seolah menelanjanginya dalam pertanyaan yang tak terungkapkan. "Aku tahu kau terluka akan sikapku. Aku sadar betul jika hubunganku dengan Joy selalu membuatmu sedih dan bingung dan kecewa dan—"

"Memang seperti itu adanya, bukan? Sudah kubilang, aku hanya butuh tempat berteduh dan makanan yang cukup. Tak perlu repot-repot mengusahakan hubungan ini karena memang tak akan ada akhir yang indah di ujung sana, hyung."

"Bersikap egoislah, Kook! Kau banyak menangis setiap malam selama lima bulan ini. Kau pikir bagaimana perasaanku melihatmu terpuruk begitu?"

"Lalu apa yang harus ku katakan? Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus bilang padamu betapa sakitnya hatiku mengetahui jika kau berkirim kabar dengan tunanganmu? Apa aku harus meminta padamu untuk meninggalkan wanita itu demi aku?"

"Akan ku lakukan jika kau memintanya!"

Taehyung membanting ponsel miliknya dengan kekuatan yang tidak main-main. Ponsel berharga puluhan juta itu sukses hancur menjadi beberapa bagian, berceceran di kaki mereka berdua.

Seolah belum puas menyalurkan amarahnya, Taehyung memukul meja berlapis kaca di hadapannya hingga dalam hitungan satu detik saja, kaca itu pecah dan melukai tangan kirinya. Pria itu terduduk tanpa daya. Ia mengabaikan pekikan Jungkook maupun gelanyar perih yang mulai menyerang tangannya yang berlumuran darah.

"Jangan membenciku, Kook. Jangan menjauh dariku."

Taehyung menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Secara otomatis darah dari buku-buku jemari menempel di wajahnya yang semula bersih tanpa noda.

"Aku tahu ini gila. Tapi aku jatuh hati padamu."

.

.

.

TBC

.

.

.

Ada yang masih ingat Daylight? Masih nunggu kelanjutannya? Hehe maaf ya Plum hiatus hampir satu tahun ini.

Untuk yang masih mau baca, terima kasih. Jangan lupa beri review sebanyak-banyaknya biar Plum makin semangat nulisnya.

Untuk yang belum tahu, sila follow Instagram Plum yang terbaru yakni thisissummerplum. Instagram yang lama lupa password huhu sedih. Selain itu follow juga akun Wattpad plum di summer_plum (double underscores). Di Instagram dan Wattpad akan Plum update tentang info cerita. Stay tune ya!

Lots of Love,

Summer Plum