VENGEANCE

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Park Hana, Kim Suho, Kim Minseok, Others.

Rated M

Mohon maaf untuk typo dan pemilihan bahasa yang berantakan, Padahal udah aku coba perbaiki.

Selamat membaca!

.

.

.

Chanyeol melangkah keluar dari kamar Baekhyun, setelah memastikan lelaki itu masih tertidur. Jadi, ia putuskan untuk makan malam terlebih dahulu.

Chanyeol sendiri tidak mengerti, mengapa ia tiba-tiba menyetujui permintaan aneh lelaki mungil itu. Yang pasti, hatinya menghangat kala melihat Baekhyun menyentuh bagian perutnya. Dan ketika tangan besarnya menyentuh perut bawah Baekhyun yang keras, Chanyeol merasa seperti setengah jiwanya berada di sana. Fakta bahwa darah dagingnya tengah tumbuh di perut Baekhyun, membuat Chanyeol tergerak untuk menuruti semua keinginan Baekhyun, selama lelaki itu mau menjaga dengan baik kandungannya.

Ya, Chanyeol menyayangi bayi tersebut.

"Tanyakan apapun keperluannya, dan berikan apapun kebutuhannya jika ia sudah bangun nanti."

"Baik, Tuan."

Kim Jongin, pengawal pribadi kepercayaan Chanyeol, yang kini di beri tanggung jawab untuk mengawasi Baekhyun.

Chanyeol tidak sebodoh itu untuk membiarkan Baekhyun berbuat semaunya, setelah kepergian Kim Minseok. Chanyeol memang berniat untuk tidak lagi mengekang lelaki itu, namun Chanyeol masih mengawasi, jika saja sesuatu yang buruk terjadi kepada Baekhyun.

Chanyeol lalu berjalan menuju dapur untuk menyantap makan malamnya. Bermacam-macam makanan pun sudah tersaji di atas meja makan.

Do Kyungsoo, kepala koki di Mansion Chanyeol, menghampirinya. "Tuan, ada yang bisa saya bantu?"

Chanyeol mengangkat tangannya tanda tidak ada. Kyungsoo lalu membungkuk hormat dan undur diri dari sana.

Seperginya Minseok dari Mansion ini, Chanyeol memang mempekerjakan beberapa koki dan pelayan untuk membantu segala keperluan Baekhyun. Sebenarnya, ia hanya perlu memerintah Jongin, dan beberapa saat kemudian semuanya beres. Itulah mengapa Chanyeol begitu mempercayai pengawalnya tersebut.

...

Baekhyun membuka kedua matanya dan mengerjap beberapa kali. Bibirnya menguap lebar, lalu bergerak meregangkan tubuhnya. Baekhyun tidak ingat kapan terakhir kali ia tidur senyenyak ini. Kendati persetubuhannya dengan Chanyeol sedikit mengusik moodnya, namun Baekhyun tidak begitu mempermasalahkannya. Entahlah, ia merasa seperti persetubuhannya dengan Chanyeol beberapa waktu yang lalu adalah suatu hal yang biasa.

Baekhyun menggeleng, enggan memikirkan. Ia menyentuh perutnya yang keroncongan. Jika di ingat kembali, terakhir kali ia makan adalah roti tawar yang di buatkan oleh Minseok. Ah, Baekhyun merindukan lelaki itu.

Perutnya yang kembali berbunyi membawa Baekhyun untuk beranjak dari kamarnya. Ia sedikit terkejut ketika mendapati pria tan berdiri di depan pintu kamarnya. Pria itu membungkuk dan tersenyum canggung ke arah Baekhyun. Baekhyun mengernyit sebelum melanjutkan langkahnya menuju dapur.

Baekhyun berbinar ketika mendapati berbagai macam makanan tersaji di atas meja. Ia segera mengambil piring dan menyendok nasi, kemudian mengambil potongan paha ayam yang paling besar.

Kegaduhan yang di buatnya, membuat tiga orang pelayan menghampirinya. Baekhyun menatap pelayan asing di depannya, yang kini membungkuk hormat. Mereka yang mengerti kebingungan Baekhyun, lantas memperkenalkan diri.

"Ah, Saya Do Kyungsoo, Tuan. Kepala koki baru yang bekerja mulai hari ini. Mereka adalah asisten saya. Jika Tuan Baekhyun memerlukan sesuatu, Tuan bisa mengatakannya kepada kami."

Baekhyun mendengus mengerti. Ini pasti ulah Chanyeol lagi.

"Apa ancaman yang Chanyeol berikan kepada kalian, sehingga kalian rela bekerja disini?"

Suara dingin Baekhyun membuat mereka terlonjak kaget. Kyungsoo yang mengerti segera menjawab pertanyaan Baekhyun. "Tuan Park akan membayar berapapun yang kami mau selama kami bekerja dengan baik, Tuan."

Sebenarnya, itu bukanlah jawaban yang sepenuhnya benar Kyungsoo berikan. Karna faktanya, mereka yang bekerja di Mansion milik Chanyeol ini telah lebih dulu diberikan ancaman mematikan, sehingga mereka tidak bisa menolak dan tunduk kepada Tuannya tersebut.

"Kalian boleh pergi, aku akan makan sendiri."

Merekapun meninggalkan Baekhyun, dan memberi ruang untuk Baekhyun menikmati makanannya.

...

"Tuan Baekhyun sedang memakan makan malamnya, Tuan. Beliau juga menolak untuk di temani oleh pelayan."

"Terus awasi dia."

Jongin membungkuk hormat dan beranjak dari hadapan Chanyeol.

Lelaki jangkung itu juga tengah mengawasi Baekhyun dari rekaman cctv yang terpasang di sudut ruangan. Baekhyun terlihat lahap menyantap makan malamnya. Semua sajian di atas meja Baekhyun cicipi satu persatu. Lelaki mungil itu mengangguk nikmat, kemudian mengelus perutnya puas.

Chanyeol tersenyum tanpa sadar. Jantungnya berdebar menyenangkan. Melihat perilaku Baekhyun kali ini membuat hatinya menghangat. Sama seperti ketika pertama kali ia bertemu dengan Baekhyun. Mungkinkah Chanyeol kembali jatuh cinta pada lelaki mungil itu?

Chanyeol mengerjap dan berdeham canggung menyadari pemikirannya. Ia lalu mematikan tabletnya, dan membuka laptopnya untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya.

Perannya sebagai CEO perusahaan keluarganya membuatnya cukup sibuk namun memiliki banyak waktu senggang. Chanyeol menyadarinya baru-baru ini. Mengingat statusnya yang akan menjadi seorang ayah, membuat Chanyeol semangat dalam mengerjakan apapun.

Kendati demikian, keadaan keluarganya tengah dalam keadaan yang buruk. Kedua orangtuanya baru-baru ini tengah menyelidiki penyebab Hana mengalami gangguan kejiwaan. Chanyeol tidak menyimpan khawatir sama sekali. Karena ia telah mengubur semua kasus yang bersangkutan dengan namanya.

Lama berkutat dengan laptopnya, pintu ruangannya kembali di ketuk dari luar. Sosok jongin kembali menghadapnya setelah ia persilahkan masuk.

"Tuan Baekhyun baru saja menginginkan sesuatu, Tuan. Keinginannya sangat mudah namun sedikit aneh."

Jongin lantas membungkuk memohon maaf, menyadari perkataannya.

"Apa yang di inginkannya?"

"Jam dinding, Tuan."

...

Chanyeol tengah memasangkan jam dinding di sebrang tempat tidur Baekhyun. Jongin yang tengah memegangi kursi yang Chanyeol pijak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Chanyeol turun dari kursi dan menatap tajam ke arah Baekhyun yang duduk di atas tempat tidurnya. "Sudah."

Baekhyun berpaling muka, dan bergumam sebagai balasan.

"Jam dinding?"

"Yaa, Tuan. Berbentuk oval, berwarna biru telur asin, dan harus ada tampilan tanggal di dalamnya. Beliau juga minta di pasangkan sekarang dan harus anda yang memasangkannya."

Chanyeol mendengus mengingat percakapannya dengan Jongin beberapa saat yang lalu. Ia menyamakan jarum di jam dinding dengan di arlojinya sekali lagi.

02.50 pagi.

Butuh waktu hampir lima jam untuk Jongin mendapatkan jam sesuai keinginan Baekhyun. Setelah berkeliling tidak mendapatkan hasil, ia pun meminta ke sebuah toko jam yang bisa membuatkannya dalam waktu singkat. Ia berhasil membawa jam tersebut setelah membayar 10 juta won kepada toko tersebut.

"Ada lagi yang kau inginkan?"

"Tidak,"

"Kalau begitu pergilah tidur, karena ini sudah larut malam. Tidak baik untuk kandunganmu."

Chanyeol lalu meninggalkan kamar Baekhyun di ikuti Jongin di belakangnya.

Baekhyun menyeringai menatap pintu kamarnya yang tertutup. Ia mengambil buku diary di bawah bantal dan menceklis baris kedua di buku tersebut.

"sepuluh menit lebih cepat. Aku harus membuatnya semakin sulit untuk selanjutnya."

...

"Mungkinkah Tuan Baekhyun tengah mengidam?"

Chanyeol yang sedari tadi memijat dahinya yang mendadak pusing, mengangkat kepalanya menatap Jongin.

"Mengidam?"

Jongin mengangguk. "Setahu saya, orang yang tengah hamil muda suka meminta hal-hal aneh bahkan terkadang di luar talar. Biasanya mereka akan meminta langsung kepada pasangannya untuk memenuhi keinginannya tersebut. Jika keinginannya tidak terpenuhi, maka bayi yang di kandungnya akan ileran ketika lahir nanti, Tuan."

Chanyeol mengernyit mendengarnya. Ia pernah mendengar hal tersebut. Benarkah? Sepertinya ia akan mulai mencari tahu perihal kehamilan mulai sekarang.

"Tuan, jika anda memperbolehkan, ijinkan saya dan pelayan lainnya untuk berbicara non formal kepada Tuan Baekhyun. Karna setelah saya amati, sepertinya Tuan Baekhyun lebih terbuka jika seseorang berbicara santai kepadanya."

Lagi, Chanyeol mengernyit. Jika di pikir kembali, sepertinya apa yang Jongin katakan memang benar apa adanya. Ketika Baekhyun bersama Minseok dulu, bukankah Baekhyun cukup terbuka karena merasa nyaman dengan lelaki itu?

"Baiklah, lakukan selama itu untuk kebaikannya dan bayinya."

Jongin lalu undur diri dari ruang kerja Chanyeol. Meninggalkan lelaki jangkung itu yang kini tengah melihat kembali perilaku Baekhyun hari ini. Apakah semua semata-mata karena bayi yang di kandungnya? Seperti Chanyeol yang melakukan segalanya untuk bayi di kandungan Baekhyun tersebut. Jika memang iya, sepertinya Chanyeol harus menyiapkan diri untuk hari selanjutnya.

...

(keesokan harinya.)

07.30

"Aku ingin rainbow cake dengan sepuluh warna yang terbuat dari buah-buahan untuk sarapanku. "

"Akan aku carikan, Baek."

"Tidak, Jongin. Aku ingin Chanyeol yang mencarinya, dan harus sudah ada di hadapanku 30 menit dari sekarang."


Setelah sarapan..

"Berikan aku stabilo dengan warna lengkap."

"Jongin, aku ingin pena dengan tinta warna-warni. Oh, berikan aku buku tulis dengan cover bergaris pelangi."

"Sepertinya Baekhyun tergila-gila dengan warna pelangi." Batin Jongin.


Dua jam kemudian..

"Kyungsoo, bisakah kau buatkan karangan bunga mawar untuk di letakan di dekat jendela?"

"Tentu, Baekhyun."

"Aku ingin semua jenis mawar dan warnanya ada di sana."

"A-ah, tentu."


Jam makan siang..

"Tuan, apa yang anda inginkan untuk makan siang?"

"Bulgogi dengan saos delima."

"A-ah, tunggu sebentar. Akan segera saya sampaikan pada Tuan Kyungsoo."

"Ah, satu lagi. Aku ingin jus buah mengkudu."

...

Chanyeol menatap Baekhyun yang terlelap di meja dekat jendela. Chanyeol mengusap pipi Baekhyun yang basah, karena lelaki itu menangis ketika menulis sesuatu di buku tulis. Chanyeol mengalihkan pandangannya pada buku tulis tersebut.

Aku rindu Luhan hyung..

Chanyeol kembali menatap wajah Baekhyun, lalu mengangkat tubuh itu untuk di pindahkannya ke atas tempat tidur. Chanyeol membenarkan posisi tidur Baekhyun, dan menyelimutinya sampai batas dada.

Seharian ini, Chanyeol terus mengawasi Baekhyun dari kamera CCTV di kamar ini. Lelaki itu sepertinya kelelahan setelah membuat Jongin dan beberapa pelayan kewalahan dengan keinginannya.

Chanyeol menatap bagian perut Baekhyun yang tertutupi selimut. Benarkah semua ini karena keinginan si jabang bayi? Chanyeol tidak menyangka jika kehadiran jabang bayi di perut Baekhyun tersebut bisa mengubah 90 derajat sikap lelaki itu.

Dan tanpa Chanyeol sadari, bahwa kehadiran jabang bayi tersebut juga sudah membuatnya berubah begitu banyak.

Apakah bayi tersebut yang akan mengubah alur kehidupan Baekhyun dan Chanyeol?

...

"Kyungsoo, bisa temani aku menghirup udara segar di taman belakang?"

"Aku akan meminta ijin kepada Tuan Park terlebih dahulu."

Kyungsoo lalu meninggalkan Baekhyun di meja makan, karena memang lelaki itu baru saja menyelesaikan makan malamnya.

Selang beberapa menit, Kyungsoo kembali dengan senyum merekah di bibir tebalnya. Baekhyun tersenyum samar dan melangkah terlebih dahulu menuju taman belakang.

Sesampainya di taman, Baekhyun mendudukan dirinya di sebuah ayunan kayu dan mengayunkannya dengan perlahan.

Sementara Kyungsoo berdiri tidak jauh dari Baekhyun. Lelaki itu menatap sendu punggung sempit Baekhyun. Ia memang tidak tahu menahu mengenai hubungan Baekhyun dengan Chanyeol. Tapi sepertinya hubungan mereka tidak bisa di katakan baik.

Baekhyun sendiri menurut Kyungsoo, adalah pribadi yang bisa di katakan easy going. Terlepas dari raut wajahnya yang terlampau dingin, dan tidak pernah menampilkan senyum. Itu lah kenapa ia dan Jongin bisa berbicara dengan santai terhadapnya dalam beberapa waktu saja.

"Hari ini adalah hari spesial untuk seseorang yang sangat berharga dalam hidupku."

Kyungsoo mengerjapkan matanya mendengar penuturan lirih Baekhyun. Sepertinya lelaki itu sedang ingin berbagi cerita. Maka Kyungsoo tidak perlu menyahuti, cukup mendengarkan.

"Hari ini, adalah hari ulang tahun Luhan hyung, saudara tiriku. Ibu akan membuatkan sup rumput laut untuk sarapan kami. Kemudian memanjat syukur, dan berdoa untuk kebahagiaan kami."

Kyungsoo melihat Baekhyun menundukan kepalanya. Ia tidak tahu saja, jika Baekhyun kini tengah tersenyum miris dengan air mata yang siap menetes kapan saja.

"Tapi Tuhan tidak pernah mengabulkan doa kami. Ah, atau aku yang salah?"

Baekhyun mendongakan kepalanya menatap langit malam yang di penuhi bintang. Air matanya kini menetes bersama dengan kalimat yang kembali ia ucapkan.

"Kau lihat bintang paling terang disana, Kyungsoo?"

Kyungsoo mengikuti arah tunjuk Baekhyun. Memang benar, terdapat satu bintang yang bersinar paling terang.

"Aku yakin itu adalah Luhan hyung. Aku yakin ia sudah mendapatkan kebahagiaannya saat ini."

Kyungsoo membulatkan matanya terkejut. Jadi maksud Baekhyun, Luhan yang tengah di bicarakannya sudah tiada?

"Tidak jarang aku berpikir, jika mati adalah jalan satu-satunya menuju kebahagiaanku. Namun setelah di pikir kembali, mereka tidak akan bahagia jika aku mati begitu saja. Karena itu aku harus tetap hidup, dan berterima kasih kepada Chanyeol."

Kyungsoo masih tidak mengerti dengan cerita Baekhyun. Tapi yang jelas sesuatu yang sangat buruk pasti telah di alami lelaki itu.

Baekhyun mengusap air matanya tanpa sepengetahuan Kyungsoo. Ia lalu beranjak untuk kembali masuk kedalam Mansion milik Chanyeol.

"Udaranya sudah mulai dingin. Aku akan membaca novel pemberian Jongin di kamar. Tolong bawakan aku susu dan beberapa kue kering."

Setelahnya, mereka pun berjalan bersama meninggalkan taman tersebut. Tanpa menyadari bahwa si pemilik Mansion telah mengawasi mereka dari jendela ruangannya, sejak kali mereka melangkah menuju taman tersebut.

...

Ini sudah hari ketujuh sejak ia mengalami morning sickness. Baekhyun akan bersimpuh di depan closset dan mengeluarkanseluruh isi perutnya sampai benar-benar lemas.

Usia kandungannya yang baru memasuki lima minggu memang belum menunjukan perubahan pada perutnya. Namun Baekhyun dapat merasakan benjolan keras ketika ia menekan bagian perutnya. Sampai saat ini pun Baekhyun masih tidak percaya jika ia benar-benar tengah mengandung. Tidak pernah terbayangkan sedikitpun olehnya, bahwa ia adalah seorang carrier. Sama seperti Luhan, kakak tirinya.

Baekhyun membasuh wajahnya diwastafel sebelum kembali beranjak menuju tempat tidur. Jam masih menunjukan pukul enam pagi, Baekhyun perlu mengistirahatkan tubuhnya yang lemas sebentar lagi. Namun ketika mencoba memejamkan mata, wajah angkuh Chanyeol terlintas di benaknya.

Baekhyun segera membuka kembali kedua matanya. Menggeleng pelan bersamaan dengan tubuhnya yang tiba-tiba terasa panas. Baekhyun meraih remot AC, dan menurunkan suhunya. Namun bukannya mereda, panas tubuhnya semakin menjadi.

Baekhyun mendudukan tubuhnya dan mengipasi wajahnya yang kini memerah. Kepalanya tidak berhenti memikirkan wajah Chanyeol dan tubuh kekar lelaki itu. Baekhyun lalu beranjak menuju kamar mandi, bermaksud mendinginkan tubuh dan pikirannya di bawah shower.

Namun setelah beberapa saat berdiam di bawah guyuran air shower, atau berendam di dalam bathub, tubuhnya justru semakin panas, bersamaan dengan kemaluannya yang mengeras.

Baekhyun hampir menangis dengan keadaan tubuhnya sekarang. Bayangan ketika Chanyeol menyentuh tubuhnya terakhir kali membuat lubang senggamanya terasa gatal. Baekhyun tidak bisa menyangkal, bahwa ia menginginkan sentuhan Chanyeol saat ini.

Maka dengan langkah terhuyung-huyung, Baekhyun berjalan keluar menuju ruangan pribadi milik Chanyeol, dengan hanya menggunakan bathrobe yang membungkus tubuhnya.

Jongin yang berada di depan kamarnya tidak bisa melarang ketika Baekhyun berucap, "Aku ingin Chanyeol."

Dan disinilah Baekhyun. Berdiri di ambang pintu dengan hormon kehamilan yang tengah melonjak tinggi. Bahkan dengan tidak sabar tangan kecilnya menggedor kasar pintu kayu tersebut.

...

Chanyeol di buat terkejut dengan sosok Baekhyun yang tiba-tiba memeluk lehernya dengan mata yang menatapnya sayu, ketika ia membuka pintu ruangannya.

Chanyeol reflek melingkarkan tangannya pada pinggang Baekhyun dan menutup kembali pintu ruangannya.

Ia belum bisa mencerna keadaan Baekhyun, ketika lelaki itu telah lebih dulu menjinjitkan kakinya untuk meraih belah bibir tebalnya.

Chanyeol terkejut bukan main. Namun tidak ada alasan untuk dirinya menolak, ketika singa dalam dirinya terlanjur di bangunkan.

Chanyeol mendorong Baekhyun ke atas tempat tidur dan bergerak melepas piyama tidurnya, dengan mata tidak berhenti menatap Baekhyun yang menggeliat, bersama tatapan sayu yang sarat akan gairah.

Chanyeol segera mencium bibir Baekhyun dengan rakus, setelah membuang asal piyama atasnya. Baekhyun membalas tidak kalah liarnya, meskipun tidak bisa mengimbangi ciuman Chanyeol.

"Aahhh.. Chanyeolhh"

Desahan tersebut terdengar ketika Chanyeol beralih mencumbu leher Baekhyun. Tangannya bergerak melepas tali bathrobe Baekhyun dan menyingkapnya ke masing-masing sisi.

Chanyeol menghentikan cumbuannya dan menegakkan tubuhnya, guna melihat tubuh Baekhyun yang kini terekspos di hadapannya. Tidak pernah sebelumnya Chanyeol memandangi lamat-lamat tubuh Baekhyun seperti ini. Tubuh putih tanpa cacat yang sudah menjadi candunya selama ini.

Puting merah muda yang telah mencuat, Chanyeol sesap dengan tidak sabar.

"Aahhh! Sshh unnhh ahhhh.."

Baekhyun membusungkan dadanya setinggi mungkin, bersama dengan tangannya yang mencengkram kepala Chanyeol. Meminta lelaki itu untuk tidak berhenti memainkan putingnya.

Puas dengan puting kanan Baekhyun, Chanyeol beralih menjilat sensual puting kiri Baekhyun. Menggigit gemas pada bagian areola, kemudian menyesap kuat putingnya dan menariknya menggunakan giginya.

"Aakhh!! Ouuhh Chanhh aahhh.."

Baekhyun memekik nyaris menjerit, saking nikmatnya. Kepalanya menggeleng putus asa, sedang air mata mulai menggenang di matanya.

Chanyeol menuruni garis tubuh Baekhyun dengan kecupan-kecupan ringan, dan sesekali menyesap kuat untuk menandai.

Sesampainya pada selangkangan Baekhyun, Chanyeol melebarkan paha Baekhyun, dan menempatkan dirinya di antaranya.

Chanyeol kembali menghampiri wajah Baekhyun untuk meraih bibir ranum itu. Sementara sebelah tangannya bergerak untuk memenyentuh kejantanan Baekhyun dan mengusapnya dengan perlahan.

Baekhyun melenguh dalam ciuman panasnya. Kakinya bergerak gelisah ketika Chanyeol melingkarkan jemarinya pada kejantanannya, dan mengusap kepala penisnya menggunakan ibu jari.

Sedetik kemudian Baekhyun menggelinjang dan sontak melepas paksa ciumannya. Kepalanya mendongak dengan iris terpejam kuat. Chanyeol mengocok kejantanannya dengam sangat cepat di bawah sana.

"Aahh aahhh ouuhhh mmph aahh ahhh.."

Baekhyun tidak bisa berhenti mendesah. Kedua tangannya mencengkram bantal di bawahnya, dengan dada yang kembali membusung ketika Chamyeol kembali memainkan bibirnya disana.

"A-akuhh ahhh ssshh sam-paii ughh.. aaahhhhhhh~"

Baekhyun mengejang dan bergetar hebat karena pelepasannya. Nafasnya memburu, sedang keringat mulai membasahi tubuhnya.

Chanyeol yang tidak mampu menahan libidonya, segera mengeluarkan kejantanannya dari dalam celana. Mengocoknya perlahan, dengan jemari yang mulai mengusap kerutan ranum di antara belah pantat Baekhyun.

"Ahhh.. Chanyeol tung-guhhh.."

Baekhyun yang masih menetralkan debar jantungnya pasca orgasme, belum siap menerima kenikmatan selanjutnya. Sementara Chanyeol terlihat tidak peduli. Satu jarinya mulai menerobos masuk, dan langsung mendapat cengkraman kuat dari dinding rektum Baekhyun.

"Akh! Chanhh.."

Chanyeol menambahkan satu jarinya dan mengocoknya dengan sangat cepat. Baekhyun menggelinjang dan mencoba merapatkan pahanya. Namun Chanyeol kembali membukanya dan menjilat sensual paha Baekhyun.

"Ahhh aahh aahh.. Le-lebihh ce-cepathh uhhh ahhh.."

Chanyeol yang mendengar permintaan Baekhyun, menambah satu lagi jarinya, menghentaknya dengan hentakan satu-satu, namun dengan gerakan yang cepat dan dalam. Menyenggol prostat Baekhyun berkali-kali.

Baekhyun tidak tahan untuk kembali orgasme. Ia mencengkram seprai di bawahnya bersiap untuk mengeluarkan pelepasan keduanya, sebelum Chanyeol berhenti dan mengeluarkan jemarinya begitu saja.

Baekhyun hendak melayangkan protes, namun sedetik kemudian menjerit lantang ketika Chanyeol menghentak kejantanannya kedalam lubang Baekhyun, menumbuk tepat pada prostat Baekhyun di dalam sana.

"Aaaahhhhhhh!!!"

Baekhyun mengejang kuat dan mengangkat pinggulnya tinggi ketika hal tersebut membuatnya kembali orgasme.

Chanyeol mengusap sejenak perut Baekhyun dengan lembut, sebelum bergerak perlahan mengeluarkan kejantanannya, dan hanya menyisakan kepala penisnya saja di dalam sana. Sedetik kemudian, ia menghentakan kuat kejantanannya dan kembali mengenai prostat Baekhyun. Chanyeol menggeram nikmat dan mengangkat kedua kaki Baekhyun, untuk di letakannya di kedua pundaknya.

Chanyeol merunduk, menyesap leher Baekhyun dengan kejantanannya yang bergerak kasar di lubang Baekhyun.

"Aaahh aahh emmhh Chanhh pelanhh pel-aanhhh ahhh ahh ahhh.."

Baekhyun menggeleng frustasi dengan kenikmatan yang di terimanya. Tangannya mencengkram bisep Chanyeol, meninggalkan guratan memanjang yang justru membuat Chanyeol semakin bergairah.

Chanyeol menurunkan kedua kaki Baekhyun dari pundaknya, tanpa aba-aba ia membalik tubuh Baekhyun menjadi tengkurap. Chanyeol menggeram nikmat dengan sensasi penisnya yang terasa di peras kuat oleh rektum Baekhyun.

Chanyeol menarik pinggul Baekhyun, membuatnya menungging tinggi dengan tubuh menempel pada kasur di bawahnya.

Baekhyun menggigit bantal di bawahnya ketika Chanyeol kembali bergerak dengan cepat di dalam sana.

"Ummph unggh ughhh uhhh.."

Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun dari belakang. Memelintir kuat puting Baekhyun, membuat Baekhyun menggelinjang di bawahnya. Gerakannya pada lubang Baekhyun semakin tidak terkendali. Kejantanannya semakin membesar dan siap mengeluarkan pelepasannya.

Baekhyun yang turut merasakannya, mencengkram kuat bantal di bawahnya. Lubangnya semakin mengetat dan berkedut hebat. Chanyeol menggeram nikmat di samping telinganya. Baekhyun pun melesakkan wajahnya ke dalam bantal ketika orgasme ketiganya tidak mampu di tahannya lagi.

Tujuh hentakan dalam pun Chanyeol berikan, disusul semburan panas di dalam lubang berkedut milik Baekhyun.

"Aaaaaahhhhhh~"

Baekhyun mendesah panjang menikmati sensasi panas di bagian perut bawahnya.

Chanyeol segera menggeser tubuhnya ke samping dan memeluk tubuh Baekhyun dari belakang. Kecupan lembut Baekhyun dapatkan di pucuk kepala. Tanpa sadar, Baekhyun meneteskan air matanya, dan terlelap bersama usapan lembut di perut ratanya.

Bersambung...


Note,

Aku berasa bikin omega heat pas adegan mature nya. Hahaha