Enjoy Reading!
BRAKKK!
"ITU DIA!" Tsunade menggebrak meja hingga terbelah dua, mengakibatkan dokumen-dokumennya beterbangan berantakan. Shizune yang sejak tadi tengah fokus meneliti jurnal pengobatan sampai terlonjak kaget. Dua wanita dewasa itu tengah fokus dengan pekerjaan masing-masing, lalu tiba-tiba Tsunade berteriak sekaligus membelah mejanya.
"Tsunade-sama!" Shizune mencengkram kepalanya. Tamat sudah riwayatnya. Dokumen berserakan pastilah dia yang harus membereskan semuanya. Jabatannya sebagai ajudan Hokage hanya indah didengar orang lain, padahal yang sebenarnya ia juga merangkap babunya Tsunade.
Tsunade tersenyum lebar. "HAHAHAHA! AKHIRNYA AKU TAU! AKU YAKIN SEKALI!"
Shizune memutar bola matanya. "Tau apa Tsunade-sama?"
Tsunade menyentuh hidungnya. "Ini. Hidung."
"Haaah? Aku juga tau kalau itu Hidung, Tsunade-sama."
"Cih, maksudku, indera penciuman. Alasan mengapa Kakashi mengatakan kalau aroma Iruka terasa menyengat karena Kakashi terbiasa dengan indera sensor anjing. Seluruh kuchiyose miliknya adalah anjing dengan beragam tipe sensor. Seperti Jiraiya yang mampu merasakan hawa lingkungan karena kuchiyose miliknya adalah katak. Sudah pasti ini berhubungan!" Serunya panjang lebar, tak lupa pose bangga khas Tsunade.
Shizune mengusap dagu. "Benar juga, Kakashi-san tipe yang sensitif dalam segala hal. Ah, tapi kenapa hanya aroma Iruka-san yang tercium menyengat olehnya. Jika penyebabnya karena hidung Kakashi-san yang tajam, harusnya dia juga mampu mencium aroma kita?"
"Kau ini terlalu lama membaca buku Shizune..." Tsunade menghela napas. "Kau kira anjing akan langsung hapal dengan aroma semua manusia? Tentu saja tidak. Intensitas pertemuan Kakashi dengan kita dan dengan Iruka sangat berbeda. Apalagi Kakashi dan Iruka sudah saling bersentuhan. Denganku dan denganmu? Yaaa... Aku mungkin bersentuhan dengan Kakashi ketika menjewernya, tapi tentu sentuhan semacam itu berbeda dengan yang dilakukan Kakashi dan Iruka. Lagipula, tak semudah itu menghapal bau."
Shizune mengangguk-angguk. Sangat masuk akal seluruh penjelasan Tsunade. Meski Shizune merasa belum yakin. Ia percaya ada faktor lain dari semua itu, hanya saja sekarang ini hanya perkiraan itulah yang cukup relevan dengan keadaan.
"Panggil Kakashi dan Iruka kemari, aku harus memastikannya sekalian melakukan tes lainnya."
Shizune mengangguk. Ia menangkupkan kedua tangannya, membentuk segel. Cahaya ungu pudar berpendar, kemudian berubah menjadi dua burung kertas yang bercicit ramai. Shizune mengangguk, dua burung kertas itu terbang keluar jendela menuju arah yang berlawanan.
"Hidung?" ulang Kakashi ragu. "Apa maksudnya berhubungan dengan hidungku?"
"Jangan pura-pura bodoh, Kakashi. Aku tau kau pintar sejak lahir." sindir Tsunade kesal.
"Yah, aku tau aku pintar. Maksudku, aku hanya tak kepikiran apapun soal hidungku seperti yang kalian katakan."
Tsunade menghela napas. Ia menoleh kepada Iruka yang sejak tadi hanya duduk diam memperhatikan diskusi ketiganya.
"Iruka, aroma apa yang menggambarkan seorang Kakashi?"
"Eh? Maksudnya?"
Tsunade menepuk dahi. "Kalian berdua ini kenapa sih? Dari tadi menanyakan maksud? Memangnya pertanyaan ku terlalu tidak jelas ha?" aura-aura hitam menguar dari balik punggung Tsunade. Kakashi reflek mundur beberapa langkah berikut Shizune yang sudah bersembunyi di balik tubuh Iruka.
"Ah, maafkan aku Tsunade-sama. Aku hanya bingung dengan pertanyaanmu. Ku pikir mungkin lebih baik aku menanyakan maksudnya terlebih dahulu daripada aku memberikan jawaban yang salah. La-lagipula data ini nantinya untuk kami. Makanya..." Iruka menunduk, takut jika alasannya tak diterima.
Tsunade menghela napas. "Apa boleh buat, seandainya tidak ada Iruka di sini, kau pasti sudah babak belur Kakashi!"
Kakashi hanya tertawa canggung sembari menggaruk surai peraknya.
"Jadi Iruka, aroma apa yang menggambarkan Kakashi?" ulang Tsunade.
Iruka menggaruk pipinya. "Um... Rumput liar. Ah, ma-maksudku aromanya segar seperti rumput liar." Iruka melirik Kakashi kemudian buru-buru memutus kontak mata mereka dan menunduk dalam, Kakashi menatapnya lekat-lekat, jujur saja ia takjub dengan jawaban super jujur dari seorang Iruka yang pemalu.
Tsunade mencatat jawaban Iruka. "Sejak kapan kau merasakan aroma itu?"
"Sejak aku memberikan chakra ku kepada Kakashi-san."
"Yosh!" Tsunade berteriak heboh. "Perkiraan ku benar soal ini!" Serunya super riang.
"Ano, apa Iruka-san juga terbiasa menggambarkan seseorang dengan aroma?" tanya Shizune memastikan.
Iruka menggeleng. "Aku tidak pernah merasa penciumanku setajam ketika merasakan aroma Kakashi-san."
"Ah, berarti perkiraan Tsunade-sama valid. Tadinya ku kira semua ini hanya kebetulan. Sejak kalian sering bersama dan bersentuhan, otomatis indera kalian saling merasakan satu sama lain. Tapi tentu tak menutup kemungkinan untuk merasakan orang lain. Penciuman bukan indera yang cukup valid untuk membuktikan sesuatu, apalagi jika menyangkut masalah seperti ini di mana Kakashi-san aslinya memang sudah sensitif terhadap bau apapun. Saat Iruka-san mengatakan bahwa kau juga bisa merasakan baunya, berarti kalian saling terhubung dan asumsi Tsunade-sama benar."
Kakashi ber-hum pelan. Ia duduk di samping Iruka dan menyilangkan lengannya di depan dada. "Apa berbagi chakra juga membuat kami jadi sensitif satu sama lain?"
Tsunade mengangguk. "Kalian benar-benar tidak peka. Katakan padaku, sudah berapa kali kalian berciuman?"
Satu
Dua
Tiga
"Eh?"
"EHHHHHH!?"
Tsunade mengangguk bangga. Sesuai perhitungannya. Tiga detik, dan teriakan membahana itu memenuhi ruangannya. Yang berteriak adalah Iruka dan Shizune. Jangan kira Kakashi akan melakukan hal itu. Pria itu hanya melotot karena terkejut.
"Tung-He? Kakashi-san dan Iruka-san? B-berciuman?" ulang Shizune. Ia benar-benar shock. Lagipula, darimana Tsunade tau soal hal itu?
Tsunade mengusap hidungnya bangga. Memangnya ia pikir dirinya siapa? Hanya untuk mengetahui hal remeh seperti itu bukanlah perkara sulit. Yah, bukan maksudnya juga ia ingin mencampuri urusan pribadi, tapi melihat akar masalah mata Kakashi yang seolah terus mengindikasikan berhubungan dengan indera dan kontak fisik mereka, rasanya tak salah juga Tsunade meneliti soal itu.
"Tidak perlu terkejut. Aku tidak berniat mencampuri urusan pribadi kalian kok, tenang saja. Ini hanya bagian dari pemecahan masalah."
"Pemecahan masalah? Ha?"
Tsunade menatap Kakashi, pria itu benar-benar shock. Oh, ayolah bahkan sampai sekarang sebenarnya Kakashi masih ragu dengan ciuman mereka. Mereka berciuman dalam keadaan genting, yang Kakashi yakini hanya bagian dari saling memberikan kenyamanan di tengah rasa sakit. Memangnya apa yang istimewa dari itu?
Lagipula Kakashi juga tidak tahu bagaimana perasaan Iruka kepadanya. Ia menggeleng pelan, untuk sekarang ia pikir lebih baik melupakan soal perasaan dan fokus pada metode penyembuhan yang dipikirkan oleh Tsunade.
"Tidak ada yang mau menjawab?" tanya Tsunade.
Iruka dan Kakashi sama-sama mendongak, sejak tadi mereka hanya terfokus pada pikiran masing-masing. Agaknya pertanyaan sensitif Tsunade mampu membuat keduanya melayang ke ingatan beberapa waktu belakangan.
"Aku lupa. Mungkin dua atau tiga kali?" jawab Kakashi santai.
"Hn... Begitu. Baiklah, ngomong-ngomong, Shizune telah mengembangkan alat sensor untuk kalian berdua. Sangat kecil, hanya tinggal menempelkannya di hitai-ate kalian. Jika Kakashi membutuhkan bantuan, ia tinggal menggeleng atau melakukan gerakan apalah yang menimbulkan alat itu bergetar dan otomatis akan tersampaikan kepada Iruka, pun sebaliknya. Hm... Ku rasa aku belum mau melakukan pengujian lagi sampai kalian berdua cukup sadar dengan apa yang terjadi di antara kalian. Karena percuma saja menanyai kalian pada hal-hal yang kalian sendiri tak ketahui. Saranku, perbanyaklah melihat sekitar, dan peka."
Nasihat panjang itu diterima keduanya dengan senang hati. Mereka keluar setelah diizinkan oleh Tsunade. Meski sebenarnya mereka tetap merasa tidak jelas dengan sesi yang digagas Tsunade. Kadang-kadang mereka harus melakukan sesuatu, dan di waktu yang lain hanya duduk sambil menjawab pertanyaan.
"Mau makan ramen, Iruka-sensei?"
"Eh?"
"Kau kelihatan suram sejak tadi. Biasanya ramen bisa mengembalikan semangatmu seperti Naruto."
Wajah Iruka berseri-seri. "Kebetulan aku ingin makan ramen juga, ayo Kakashi-san!"
Kakashi terkekeh di balik maskernya, berpikir betapa enaknya menjadi Iruka. Pikirannya sederhana sekali. Hanya dengan ramen mood nya langsung naik drastis.
Saat mereka sampai di kedai ramen, Guy, Asuma, Izumo, dan Kotetsu juga baru saja sampai.
"Ara? Jarang sekali melihat jonin dan chunin berkumpul begini, memangnya kalian nganggur?" tanya Kakashi.
Guy mengepalkan tangan kanannya, berteriak dengan semangat masa muda. "MESKIPUN KAMI NGANGGUR, TAPI TETAP HARUS WASPADA! KEWASPADAAN DIDAPATKAN DENGAN SALING BERKUMPUL BERSAMA TEMAN SEPERJUANGAN!"
Kakashi menutup telinganya. "Iya iya."
"Ngomong-ngomong, kau juga jonin yang sedang bersama chunin. Memangnya kau sendiri nganggur?" Asuma menirukan gaya bicara Kakashi sembari menunjuk Iruka.
Iruka terkejut, kemudian membungkuk kepada Asuma dan Guy. "Ah, konnichiwa."
"Ma, ma... Tidak perlu formal begitu, Iruka-sensei. Kita semuanya adalah rekan seperjuangan!" seru Guy penuh semangat. Iruka tertawa canggung. Di antara mereka berempat hanya Izumo dan Kotetsu yang lumayan dekat dengannya karena sesama chunin dan sering bekerja bersama sebelum ia memutuskan untuk menjadi guru Akademi.
Mereka berenam akhirnya makan ramen dengan tenang. Para jonin asyik membicarakan topik mereka, pun Iruka bersama Izumo dan Kotetsu.
"Ne, Iruka. Cepat ajak Kakashi-san berkencan." Bisik Izumo iseng.
Iruka terbatuk-batuk. "A-apa maksudmu?"
Kotetsu menyeringai. "Kau kira kami tidak tau kalau kau suka dengan Kakashi-san. Sudah jangan denial, akui saja."
Iruka menggeleng kencang. "Kalau pun aku suka, mana mungkin aku mengajaknya kencan. Kalian gila? Aku hanyalah chunin biasa yang mengerjakan laporan misi, kenapa juga Kakashi-san harus tertarik padaku?"
Izumo menepuk-nepuk pundak Iruka. "Ma... Ma... Tenang saja, kalau dia menolakmu, kami akan mengeroyoknya! Ide bagus 'kan?"
"Ka-kalian benar-benar gila." dengus Iruka kesal sembari menunduk malu.
Setidaknya, obrolan mereka tak beda jauh. Jika Izumo dan Kotetsu berusaha menjodohkan Iruka kepada Kakashi, Guy dan Asuma pun tak mau kalah. Sejak Iruka dan Kakashi sering bersama, rekan-rekan mereka sudah tahu jika di antara mereka ada sesuatu, sayangnya keduanya adalah manusia denial sejati.
"Hei Kakashi, cepat ajak dia." bisik Asuma pelan.
Kakashi menatap malas. "Apa?"
"Jangan pura-pura tak mengerti. Tentu saja berkencan!" seru Guy nyaris berteriak namun ia tahan karena yang mereka bicarakan hanya berjarak beberapa kursi dari mereka.
Kakashi menghela napas. "Ma~ satu-satunya yang ku lakukan adalah merepotkannya dengan laporan misi yang berantakan, kenapa juga dia bisa tertarik padaku?"
Guy mengepalkan tangan masih berusaha menahan diri untuk tak berteriak. "Kakashi! Ini adalah kesempatanmu! Benih-benih kebersamaan antara kau dan Iruka-sensei akhirnya akan mekar!"
Kesempatan? Ketertarikan? Keduanya sama-sama tak tahu perasaan masing-masing, dan tentu sikap denial mereka masih kuat menahan. Untuk selanjutnya mereka tidak tahu, seperti yang Guy katakan, Kakashi harap jika itu benar, perasaannya akan benar-benar mekar seperti yang dikatakan Guy.
TO BE CONTINUE
A/N: Mind to review?
See you in the next chapter. Bye!
