WITH LOVE.
.
.
.
DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO
WARNING: GAJE, OOC, TYPO, EYD, DLL
PAIR: SAI X INO
.
.
.
kalian mungkin bertanya tanya kemana ino dihari naruto menjodohkan kiba dan hinata. ada satu alasan kenapa ino tak bisa ikut, tentu saja karena janji kencannya pada sai.
dan ja menepati janjinya.
ino melamun menatap pemandangan dibalik kaca mobil, matanya meminta untuk terpejam, tapi kesadarannya meminta untuk tetap terjaga. salahkan pria itu yang menculiknya jam empat pagi, untung saja orang tuanya tak ada dirumah jadi ia bisa pergi.
"sebenarnya kita mau kemana?" tanya ino menoleh pada sai yang fokus menyetir.
'matahari bahkan belum menunjukkan tanda tanda akan terbit' pikir ino menatap langit yang masih gelap.
"kencan" ucap sai dengan senyum diwajahnya.
"aku tau kencan, tapi kita mau kemana pagi pagi buta seperti ink?" tanya ino tak mengerti.
"kau akan tau" ucap sai tersenyum misterius.
ino memutuskan untuk tak banyak bicara, ia masih sangat mengantuk hingga ia bahkan tak tau ia berada di jalan apa meskipun ia melihat pemandangan yang familiar.
sai melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata karena jalanan yang masih sepi. ia menghentikan mobilnya tepat ketika ino hampir jatuh tertidur.
"sudah sampai?" tanya ino mengerjapkan matanya beberapa kali. ino melempar senyum ketika sai membukakan pintu mobil untuknya. ino melangkah keluar dan meregangkan badannya, ia belum sempat memproses dimana ia berada.
"hm?"
"i ini?" ino melebarkan matanya terkejut.
"kau ingat tempat ini ojii san?" tanya ino terkejut, ini adalah tempat dimana mereka pertama kali bertemu.
"tentu saja aku ingat" sai mengangguk
"hanya sekali dalam hidupku ada perempuan yang berani mengganggu tidurku" ucap sai.
sai berjalan menuju bangku panjang dipinggir sungai itu. "sini" ucap sai menepuk bangku kosong disebelahnya.
ino mengikuti permintaan sai. ia mendudukan diri disamping sai.
"hm?" ino menoleh ketika merasakan tangan sai menggenggam tangannya.
"untuk hari ini tolong panggil aku sai" ucap sai menatap ino dalam.
'aaaaaa terlalu dekattt' pikir ino menatap wajah sai yang berada tepat diwajahnya, ia dapat melihat kulit putih pucat sai yang halus seperti porselen.
"sai kun, kau mulus sekali" ucap ino
"arigatou" ucap sao tersenyum lembut.
'waaaaa dia tampan sekali' pikir ino dengan wajah memerah.
sepertinya aku terlalu lemah dnegan lelaki tampan, lelaki tampan tidak bagus untuk kesehatan jantung, pikir ino.
"matahari terbit" bisik sai menatap kearah timur dimana matahari terbit, semburat merah yang mulai mengusir gelapnya malam.
"kirei" gumam ino pelan, perpaduan antara matahari terbit juga pantulannya yang indah disungai sangat memanjakan mata.
sai tersenyum melihat ino yang nampak antusias melihat pemandangan Indah ini, tapi baginya ino bahkan lebih Indah dari matahari yang terbit.
ino menatap pemandangan didepannya dengan antusias, ia tak tahu jika matahari terbit akan seindah ini karena ia tak pernah memperhatikannya.
"kau mau kemana setelah ini?" tanya sai menyingkirkan anak rambut yang menempel diwajah ino.
"aku mau ke..."
.
.
.
"kenapa kita kembali lagi?" tanya sai menatap rumah ino dengan bingung. ia baru saja ditipu oleh ino, beberapa saat yang lalu ketika ia bertanya ino ingin kemana gadis itu menjawab sebuah alamat, tapi ia tak menduga bahwa itu adalah alamat rumah gadis itu.
"ada banyak yang ingin kulakukan" ucap ino melangkah masuk kedalam rumahnya, meskipun sangat disayangkan karena ia sudah bangun pagi pagi untuk melihat matahari terbit.
"kau tidak merencanakan hal aneh kan?" tanya sai.
"kau pasti berpikiran mesum" ucap ino dengan ekspresi kesal.
"jangan berbuat macam macam okey, aku masih 17 tahun" ucap ino sebal meninggalkan sai diruang tamu dan kembali dengan secangkir teh.
"kau tidak mau memperlihatkan seperti apa rumahmu?" tanya sai menyesal tehnya.
"kalau mau berkeliling berkeliling saja" ucap ino kembali menghilang.
sai menghela nafas panjang, sebenarnya ia ingin mengajak ino ketempat yang romantis seperti restoran mewah, tapi sepertinya ino tak akan suka dengan gaya kencan seperti itu.
"tapi jangan masuk kamarku sembarangan" teriak ino.
sai mengangkat alisnya, tak ada gunanya juga ia masuk kamar ino, meski sebenarnya ia penasaran. sai bangkit dari duduknya dan mencari ino yang menghilang.
"apa?" tanya ino ketika mendapati sai menatapnya dari atas kebawah.
"ehem" sai berdeham pelan, ia mendapati ino yang berdiri ditengah dapur mininya dengan apron warna ungu, ino juga menguncir rambutnya tinggi dan ada bandana yang melingkar dikepalanya.
"kau terlihat seperti istri yang baik" ucap sai dengan wajah sedikit memerah. wajah ino memerah total.
"jangan berfikir aneh aneh" ucpa ino kesal berusaha melupakan ucapan sai.
'aku masih 17 tahun aku masih 17 tahun aku masih 17 tahun' ino terus mengulang ulang kalimat itu dikepalanya.
"apa yang kau lakukan?" tanya ino menatap sai yang mengambil apron berwarna pink dan memakainya.
"bermain jadi suami yang baik" ucap sai.
ino sangat ingin menyumpal mulut sai, karena laki laki itu terus mengucapkan kata yang bisa membuat perempuan melayang kesurga.
"memangnya kau bisa memasak?" tanya ino meremehkan, sai adalah direktur utama yang seharusnya memiliki banyak chef dan tak pernah memasak, jadi mana mungkin dia bisa kan.
"aku pro dalam segala hal" ucap sai penuh kebanggaan.
.
15 menit kemudian.
.
ino menatap penuh kasihan pada telur yang kini tak tahu lagi bagaimana keadaanya, gosong dan tak berbentuk.
"dia mengenaskan" ucap ino lirih, sementara sai nampak tak kalah sedih.
"ini pertama kali aku memasak, wajar kan jika tidak berakhir baik?" ucap sai membela diri meskipun telur yang baru saja ia buat nampak mengenaskan.
"lebih baik kau duduk dan tunggu saja okay" ucap ino mendorong sai keluar dari dapur yang nampaknya bisa hancur jika sai bertahan disana lebih lama lagi.
sai dengan terpaksa pergi dari dapur, padahal ia ingin menunjukkan bahwa ia adalah laki laki yang bisa diandalkan, namun ia malah nampak menyedihkan sekarang.
"hmmm?" sai berjalan menyusuri rumah ino yang lumayan besar namun tentu tak sebesar rumahnya.
tanpa sadar ia berakhir didalam ruangan yang tak jelas apa fungsinya namun sepertinya ruangan itu milik ino, melihat isi isi didalamnya. sai memutari ruangan itu, melihat foto foto polaroid yabg digantung di dinding, kebanyakan foto ino dengan naruto.
"ck, aku juga mau fotoku ada disini" komentar sai, ia kembali menatap sekelilingnya.
ada beberapa kardus yang nampaknya menarik perhatiannya. ada setumpuk buku lama yang berdebu, novel novel klasik, buku tahunan junior haighschool ino, ia membuka dengan rasa tertarik. ada foto ino yang terpajang di buku itu, juga beberapa foto lainnya yang merupakan kenangan di junior highschool.
'tidak ada naruto' pikir sai.
'kupikir mereka teman dekat'
merasa kehilangan ketertarikan sai menutup buku itu. ia menemukan sebuah peta dunia.
"sai?"
sai menoleh dan mendapati ino yang manatapnya dari balik pintu.
"sarapan sudah siap" ucap ino tersenyum lebar, sai mengangguk dan berjalan menuju ruang makan yang terletak tak jauh dari dapur.
"cantik sekali" puji sai melihat makanan yang dibuat ino.
"itadakimasu" ucap ino memakan sarapannya diikuti dengan sai.
"itadakimasu"
keduanya sarapan dalam diam, sesekali sai melirik ino yang makan dengan lahap.
"mau membantuku?" ucap ino setelah selesai membersihkan piring piring kotor.
"jika kau yang meminta mana mungkin aku menolak" ucap sai. ino dapat merasakan seolah olah kupu kupu berterbangan diperutnya.
ino berjalan menuju ruangan yang tadi sai datangi.
"bantu aku menata ruangan ini" ucap ino tertawa. yah ruangan itu memang belum terlalu rapi, ia berniat untuk mendekorasinya.
sai mengangguk dan membuka kembali kardus yang tadi ia buka.
"ini mau ditaruh dimana?" tanya sai mengeluarkan setumpuk novel juga buku buku lama.
"kau bisa taruh dirak ini" ucap ino menepuk rak kayu berwarna putih yang nampak cocok dengan ruangan berwarna biru muda itu.
ino mengambil lampu berwarna warni yang berada dikardus lainnya dan memasangkannya mengelilingi ruangan.
"foto foto milikmu banyak sekali" komentar sai ketika membuka kotak kecil yang teranyat berisi polaroid.
"ini juga mau di gantung?" tanya sai menunjukkan foto foto itu.
"hmmm? biar kulihat" ucap ino mengambil foto foto itu dan menyebarkannya dilantai, sai ikut mengamati foto foto itu, foto foot itu berbeda dnegan foto yang digantung disana.
"ini siapa?" tanya sai mengambil sebuah foto ino bersama dengan lelaki gendut.
"dia sahabatku saat junior high school, ah foto itu diambil saat festival sekolah" ucap ino dengan senyum lebar.
"aku maniskan difoto itu" ucap ino, sai melihat foto itu sekali lagi, ino memang sangat manis difoto itu dengan kostum maid berwarna pink.
"manis" ucap sai setuju.
"yang ini diambil saat liburan" ucap ino penuh semangat menunjukkan fotonya bersama lelaki berambut nanas dan lelaki gendut yang ada di foto saat festival.
"yang rambutnya seperti nanas ini shikamaru dan yang ini choji, mereka sahabatku akrab" ucap ino semangat.
"sekarang mereka dimana?" tanya sai penasaran.
"ah mereka ada di suna sepertinya" ucap jko tak yakin.
"aku juga mau punya foto dengamu" ucap sai menatap ino dalam.
"eh?"
"aku mau punya foto denganmu, suatu saat kau akan bercerita pada teman temanmu menunjukkan fotoku dengan penuh semangat seperti ini" ucap sai.
ino diam sejenak, ia mengeluarkan hpnya sementara sai nampak masih memperhatikan foto foto yang tergeletak dilantai.
"senyuuummm" ucap ino menarik perhatian sai.
CKREK
sai menatap ino dengan otak yang belum bisa memproses semuanya.
"kita sudah foto kan" ucap ino dnegan pipi memerah menunjukkan foto dihpnya
"aku jelek" ucap sai melihat wajahnya yang datar.
"tampan kok" ucap ino memalingkan wajahnya.
"he?" sai nampak butuh waktu untuk memproses ini semua.
sai beradu tatap dengan ino, dengan cepat ia meraih tangan ino dan menggenggamnya erat.
"jadilah kekasihku" pinta sai menatap ino penuh harap.
.
.
.
TBC
SO CRINGE CRINGE CRINGE
AKU BUKAN SPESIALIS CINTA
AKU YANG NULIS AKU YANG MALU
