"Sudah berapa lama dia disana?"

Rintaro melirik Ginjima, lalu mendesah pelan. "3 bulan."

Ginjima Hitoshi memberengut kesal. Miya Osamu sudah berhenti berlatih iaijutsu, menolak bekerja dan bahkan tidak lagi berselera makan. Setiap matahari terbit ia akan pergi ke makam keluarga Kita, menyalakan dupa dan meletakkan sesaji di makam kakak kembarnya dan duduk berdiam disana. Menjelang sore, Osamu beranjak pulang dan akan kembali lagi ketika matahari terbenam untuk mengganti dupa dan sesaji lalu berdiam diri disana sambil minum vodka hingga matahari terbit. Tidak ada yang berhasil menghiburnya, bahkan Kita Shinsuke. Rintaro diperintahkan membereskan kamar baru untuk Osamu, membiarkan kamar lamanya kosong tetapi tetap terawat bersama dengan barang-barang peninggalan mendiang Atsumu. Awalnya mereka kira cara ini bisa menyudahi masa berkabung si adik, nyatanya tidak. Inarizaki membiarkan Osamu berlarut-larut dalam kesedihannya hingga ia muak sendiri nantinya.

"Aku tahu dia sebetulnya sangat sayang dengan Atsumu." kata Ginjima. "Tetapi apakah ini tidak berlebihan?"

Rintaro menggedikkan bahu. "Kita tidak bisa menghakiminya begitu juga. Atsumu dan Osamu sudah bersama sejak di kandungan. Kurasa, dibanding istrinya atau oyakata-sama, Osamu adalah orang yang paling kehilangan."

"Aku khawatir dengannya juga. Dia sudah seperti adikku sendiri." Ginjima menimpali. .


Hokkaido di bulan Agustus adalah pemandangan spektakuler. Meski terkenal dengan daerah yang dingin bersalju, di pertengahan tahun saat matahari bersinar cerah ada begitu banyak warna yang tampak. Musimnya bunga lavender telah tiba. Hamparan hijau pepohonan dan langit biru yang terang bersanding apik dengan udara yang tidak terlalu menyengat. Miya Shoyo—yang dulu bernama gadis Hinata, menghela nafas sambil berpegangan pada tembok saat lift gedung kantor multikompani tersebut membawanya naik ke lantai 11. Papan nama KAMOMEDAI NORTHWATCH terpampang besar di depan sebuah ruangan kantor yang bagian depannya berdinding kaca. Hinata terkesima, tidak menyangka bahwa markas professional hitman terbaik seantero Jepang ternyata merupakan kantor kerja sungguhan yang terlihat jauh lebih normal dibandingkan bayangannya. Ia melangkah masuk dan seorang laki-laki muda menyambutnya dengan senyuman ramah.

"Selamat sore. Selamat datang di Kamomedai Northwatch. Namaku Bessho Kazuyoshi. Ada yang bisa dibantu?" ucapnya.

"Selamat sore. Maafkan aku datang selarut ini." sapa Hinata. "Aku mencari Hoshiumi Korai-san."

"Sudah buat janji?"

"Apakah aku harus buat janji dulu sebelum datang?" tanya Hinata bingung.

"Tidak juga. Silahkan duduk."

Hinata mengangguk. Ia duduk di sofa yang dipersilahkan Bessho dan menunggu. Tempat itu tidak ada bedanya dengan kantor Karasuno Brewery, atau lebih seperti kantor agensi asuransi. Banyak sekali rak-rak berisi dokumen. Sepanjang penglihatannya, tidak ada atribut yang mencerminkan bahwa tempat ini adalah markas yakuza. Bessho kembali lagi dan menghidangkan Hinata segelas minuman dingin yang tampaknya es teh dan sekaleng kecil biskuit susu yang memang terkenal Hokkaido. Tak lama, orang yang dicari Hinata muncul. Ia mengenakkan kemeja katun lengan pendek dengan warna hijau pupus, celana kelabu dan sepatu docmart pendek semata kaki. Kacamata aviator membingkai netra gioknya yang tampak terkejut melihat Hinata. Ada semburat merah gelap di pipinya, melintang sampai pertengahan hidung dan garis rahangnya.

Hinata melambai kikuk pada Hoshiumi Korai yang mematung tidak bereaksi. "Uhm, hai. Hisashiburi."

Hakuba, Nozawa dan Hirugami Sachiro mengintip dari sisi pintu begitu Bessho memberitahu seniornya bahwa ada seseorang yang datang mencarinya tanpa membuat janji. Hoshiumi mendekat dan membungkuk singkat pada Hinata.

"Selamat sore, Miya-san." Nada bicaranya yang santun terdengar formal. "Apa yang bisa kubantu?"

"Aku punya beberapa pertanyaan."

"Silahkan. Apa yang—oi, oi!"

Wanita bersurai ginger itu melepas jaket dan menurunkan hem berwarna peach yang digunakannya tanpa ragu. Hoshiumi memalingkan wajah dan menghalangi pandangannya, tetapi hanya hening yang didapatinya. Ragu-ragu, ia mengintip dari balik celah jemarinya. Hinata mengenakkan strapless camisole kelabu dibalik hemnya. Ia menunjukkan bilur kehitaman yang menyebar menjadi ruam-ruam ungu berserabut di pundaknya, menyebar hingga dada dan perutnya yang membuncit karena mengandung janin kembar. Bekas itu, sedikit banyak mirip dengan yang ada di lengan Hoshiumi.

"Apakah kau mendapat bekas ini karena menggunakan He—"

"Sssh!" Hoshiumi melotot ngeri dan menyilangkan telunjuknya di bibir, seakan kalimat Heviz wax bath bisa memicu kiamat kalau diucapkan keras-keras. Mata indah sewarna giok itu melirik curiga, menyadari bahwa rekan-rekan kerjanya memang masih mengintip di sana dan menguping dengan sengaja. Tidak biasanya mereka bersikap begitu. Pasti karena yang datang adalah Hinata.

"Naruhodo." Hoshiumi mendekati Hinata. Tangannya menggigil, terulur membenahi pakaian wanita manis itu. Hinata mengangguk pelan tanda terima kasih. Hoshiumi menjulurkan kepalanya dan berbisik lirih pada telinga Hinata. "Jangan bicarakan hal itu terang-terangan, bakayaro."

Hinata berjengit. Menyadari para talent Kamomedai Northwatch semakin curiga, Hoshiumi lalu tersenyum manis dan menggenggam tangan Hinata.

"Miya-san, Anda pasti capek sudah jauh-jauh kesini. Bagaimana kalau kita bicara sambil makan malam?" ucapnya.

"Ah. Boleh."

"Mohon tunggu sebentar."

Hoshiumi berbalik, berjalan cepat menghiraukan teman-temannya yang ultra penasaran dan berbenah seadanya. Berhubung 10 menit lagi memang sudah jamnya bubar kantor, Hoshiumi memilih sign out absensi dan mengulurkan tangannya pada Hinata. Mereka bergandengan tangan melenggang keluar kantor. Nozawa, Sachiro, Bessho dan Hakuba saling melempar tatap.

"Brengsek. Halus banget modusnya si cebol itu." Nozawa menggeleng-geleng tidak percaya.

"Biarin, lah. Kapan lagi kan VW Golf kesayangannya Korai-kun dipakai membonceng perempuan?" Sachiro tertawa kenes sambil berjalan kembali ke meja kerjanya untuk berbenah. "Walaupun konyol sih, karena membawa jagoan balap motor naik mobil."

"Mana mungkin naik motor dengan perut sebesar itu? Jalan saja sudah susah." Bessho menimpali. "Tapi Hoshiumi-senpai benar-benar gentleman, ya."

"Kalian nggak lihat apa tadi? Cewek itu mendadak buka baju!" kata Hakuba berapi-api. Hidungnya kembang kempis. "Pasti mau ngajak maksiat! Hirugami-paisen, memangnya cewek hamil bisa diajak berhubungan se—"

BUAK!

Hirugami Sachiro melayangkan sebuah folder tebal di mejanya tepat menghantam wajah Hakuba. Isinya bertebaran kemana-mana dan Nozawa sebagai rekan kerja yang baik membantu memungut dan merapikannya kembali. Hidung Hakuba berdarah tetapi tidak ada yang peduli.

"Jangan ngomong yang nggak-nggak, dasar paus kurang ajar." Sachiro mendesis kesal.

"Tidak heran Hoshiumi-senpai selalu menghajar Hakuba." Bessho mengeluh. "Kau ini benar-benar tidak punya otak. Dasar raksasa amoral."

"Dia itu janda, dan sedang mengandung. Perkataanmu sangat tidak sopan. Dimana rasa hormatmu?" Omel Nozawa.

"Lagipula, Korai-kun itu laki-laki terhormat. Mana tega sih, dia berbuat sebejat itu?" Imbuh Sachiro. "Aku sebagai teman dekatnya ikut tersinggung, tahu."

"Kalian semua kenapa jadi kendor gitu, sih? Apa karena dia janda dan lagi hamil? Dia itu yakuza juga, lho!" Hakuba membalas sambil menyeka hidungnya. "Kalau dia membunuh Korai-kun untuk balas dendam bagaimana?! Seperti misalkan mengajak berbuat mesum lalu pas lagi enak-enaknya, Korai-kun digorok! Kalau begitu gimana?!"

"Mana mungkin." Nozawa dan Bessho membalas bersamaan.

"Tampaknya, urusan yang mereka mau bicarakan itu pribadi." Sachiro mengenakkan jaketnya. "Kita tidak berhak ikut campur."

"Beneran?" sahut Hakuba.

"Korai-kun itu professional, kok. Kalau masalah pribadinya berkaitan dengan karirnya sebagai hitman mercenary, dia pasti melapor pada kantor."


Hoshiumi Korai membawa Hinata menikmati makan malam di salah satu restoran tradisional Jepang yang sangat mewah. Keduanya duduk di lantai pertama dengan pemandangan taman zen dan bebungaan musim panas yang indah. Menu makanannya berupa satu set yang diantarkan langsung dengan baki berkaki.

Pria pendek itu mengucek-ucek rambutnya. Suasananya canggung sekali. Hinata juga tidak berinisiatif membuka topik pembicaraan, bahkan tidak menyentuh hidangan yang sudah dipesankan untuknya.

"Kau ini nekad sekali..." Hoshiumi menghela nafas, berusaha membenahi kalimatnya agar tidak terlontar berantakan. "Susah-susah terbang dari Yokohama ke Hokkaido dalam keadaan hamil besar begini, seorang diri, untuk menemui aku?"

Hinata terdiam. Ia balas menatap Hoshiumi. "Pipimu merah. Kau demam?"

"Terbakar." Hoshiumi mengoreksi. "Aku baru saja pulang liburan dari Dubai bulan lalu."

"Bagaimana liburanmu?" Hinata tersenyum tipis. "Kau melihat unta?"

"Panas." Hoshiumi membalas. Pundaknya mengendur. "Lumayan seru. Naik unta, lalu sand safari. Musim panas di Timur Tengah terasa seperti pinggiran neraka."

Hinata tersenyum lembut. Hoshiumi menopang dagu dan menatap Hinata sejenak.

"Bagaimana aku harus memanggilmu?" Hoshiumi menggaruk tengkuknya. "Kita bahkan tidak benar-benar saling kenal."

"Aku masih tidak biasa dipanggil Miya-san. Kau boleh memanggilku Shoyo." kata Hinata.

"Baiklah." Hoshiumi menganyam jemarinya dan menatap Hinata dalam-dalam. "Apa maksud kunjunganmu kesini, Shoyo?"

Hinata menatap Hoshiumi, lalu melirik tangannya. Bekas lemparan pisau Atsumu ada di ibu jari kirinya. Tampak baik-baik saja meski berbekas.. Menyadari kemana Hinata memperhatikannya, manik giok Hoshiumi melirik lengannya dan tersenyum pias.

"Kau penasaran dengan bekas lukaku?" tanyanya.

Hinata mengangguk.

"Sudah berapa lama bekas itu muncul?" tanyanya. Nada bicaranya teduh dan sehalus beledu, kontras dengan suaranya yang beraksen serak.

"Seminggu yang lalu." ujar Hinata. "Ada di pundak dan pahaku juga. Awalnya cuma serat-serta ungu tipis. Kupikir cuma pecah pembuluh darah karena sedang hamil. Lalu...lalu jadi seperti ini. Aku ingat, bekas lukanya sama dengan punyamu."

Hoshiumi meraih sumpit dan mulai menyantap hidangannya. "Apa golongan darahmu?"

"A. A negatif."

"Oh, sama denganku. Sudah konsultasi ke dokter?"

Hinata menggeleng. Menyadari tidak ada kalimat jawaban, Hoshiumi menoleh sejenak dan termenung. Ia seakan tengah membaca emosi dari raut wajah Hinata.

"Suamimu mengajarimu banyak hal, ya? Soal assassination skill-nya sebagai DET Sarkad." ujar Hoshiumi. Hinata masih tidak mau menjawab. Lalu Hoshiumi menambahkan. "Daijobu. Rahasiamu aman padaku. Kalau kau masih tidak nyaman, aku akan membuatkanmu surat perjanjian tertulis dengan materai."

Hinata masih bungkam. Si pemilik netra giok yang pada dasarnya bukan laki-laki penyabar, mendengus kasar.

"Jadi kau jauh-jauh ke Hokkaido untuk main dengki-dengkian denganku?" terkanya. "Tidak, kan? Shoyo, ayolah. Bagaimana aku bisa membantumu kalau kau bersikap seakan kau tidak ingin dibantu?"

"Bagaimana kau bisa tahu tentang heviz wax bath?" tanya Hinata. "Kata 'Tsumu-san, cuma DET Sarkad yang tahu."

"Salah." Hoshiumi mencomot sepotong daging dari baki hidangannya, lalu bicara lambat-lambat sambil mengunyah. "Cuma alumnus DET Sarkad yang percaya dengan heviz wax bath."

Hinata tercenung.

"Sebetulnya, heviz wax bath tercantum dalam salah satu buku di mata kuliah Bahasa Penyihir." Hoshiumi menerangkan. "Mengenai seorang penyihir yang membuat ramuan mandi ajaib untuk memulihkan pangeran yang mati dalam peperangan. Bahkan bahan dan cara membuatnya diceritakan dengan rinci. Dikisahkan, si pangeran hidup lagi, dan berjanji akan mengabulkan permintaan apapun yang dikehendaki orang yang telah menghidupkannya. Penyihir itu mendemonstrasikan karyanya, dan pangeran mempercayainya. Ia minta dinikahi oleh si pangeran itu. Singkat cerita, pangerannya jahat. Mereka menikah, lalu si penyihir disuruh membuat kolam air panas istana menjadi heviz wax bath. Setelah itu si penyihir dibakar hidup-hidup di alun-alun kota. Sebelum mati, si penyihir memanggil seekor naga dari dasar neraka untuk menjatuhkan kutukan. Siapapun yang pernah menggunakan heviz wax bath akan diberi tanda kebencian."

"Persis seperti yang didongengkan 'Tsumu-san!" Hinata terkesiap. "Apa kalian belajar takhayul juga?"

"Tidak, tentu saja. Di kampus-kampus lain, cerita itu adalah fiksi literatur dalam mata kuliah Bahasa Penyihir. Seperti cerita momotaro di kelas Bahasa Jepang. Bahasa Penyihir itu mata kuliah laknat. Aku berkali-kali gagal dan terus mengulangi membaca cerita itu."

"Oh, begitu." Hinata menggumam. "Bagaimana kau bisa mendapat luka itu? Dan bagaimana kau tahu soal khasiat sungguhan heviz wax bath?"

"Ceritanya panjang sekali. Tapi aku akan berusaha meringkasnya." Hoshiumi kembali bercerita sambil makan. "Klien pertamaku saat baru bekerja di Kamomedai Northwatch adalah Itachiyama. Mereka adalah yakuza kerah putih yang sudah lama bersitegang dengan semua orang. Tetapi permasalahan mereka dengan Inarizaki adalah karena Inarizaki disogok pemerintah untuk membuat kasus kriminal. Istri bossnya Itachiyama adalah seorang jaksa korup yang membayar klan suaminya guna membuat kasus kriminal juga, agar performanya sebagai penegak keadilan bisa terdongkrak. Jadi, kejahatan setting-an yang dilakukan dua klan ini seringkali bertabrakan di berbagai daerah."

"Bossnya Itachiyama membayarmu untuk membunuh 'Tsumu-san." terka Hinata. "Tapi kau gagal."

"Tidak. Aku berhasil." Hoshiumi berkilah. "Tapi suamimu hidup lagi."

"Tapi bagaimana..." Hinata mengerenyit. Lalu ia teringat satu hal bahwa sebelum Hinata dan Atsumu bertemu, mendiang suaminya cuma mencintai satu orang dengan seluruh jiwa raganya. "...Osamu. Dia meminta Osamu memandikannya dalam heviz wax bath. Betul, kan?"

"Miya membutungi tanganku." Hoshiumi mengusap lengannya. "Operasi rekoneksi berhasil menyatukannya lagi. Tapi cuma sekedar menempel. Aku lumpuh dari siku kebawah."

Hinata mengerenyit jijik. "Jadi kau membawa-bawa potongan tanganmu ke rumah sakit?"

"Aku membebatnya biar tidak lepas-lepas." Hoshiumi menyeringai jahil. "Aku berobat jauh-jauh sampai ke Amerika dan Inggris. Lalu, seorang dokter yang melihat tatto DET di dadaku menyuruhku pergi ke sebuah spa super kuno di daerah Heviz, Hungaria. Aku sembuh seperti normal setelah berendam di air panas bercampur aneka lilin tumbuhan. Satu tahun kemudian, bekas aneh ini keluar. Mulanya sepertimu. Lalu hitam seperti bekas terbakar dan urat-uratnya menyembul keluar."

Hinata masih diam mendengarkan. Ia mulai menikmati makanannya juga.

"Aku kembali buang-buang uang dan waktu untuk berobat. Orang-orang gipsi Hungaria menyebut bekas ini dengan nama balaur sărut, ciuman naga. Mereka bilang ini adalah kutukan karena aku mencurangi Sang Maut. Aku tidak terima, jelas saja. Kan aku tidak sekarat saat mencoba wax bath itu." Hoshiumi menandaskan makan malamnya dan berbisik gochisousama deshita. "Lalu aku menemukan jawabannya melalui jalur pengobatan medis. Balaur sărut sebetulnya merupakan reaksi alergi bertahap. Dari sekian banyak bahan yang digunakan, ada satu tumbuhan yang ternyata memberikan reaksi alergi ke tubuhku. Yaitu anthirrinum—minyak biji snapdragon. Kulit terasa panas, gatal dan berbekas. Nggak banyak orang yang alergi anthirrinum. Mungkin kau sama sepertiku."

"Karena itu mereka menamainya ciuman naga?" Hinata menebak.

"Mungkin." jawabnya diplomatis. "Krim magnesium terbukti ampuh. Oleskan tipis setiap habis mandi. Bekas lukamu kecil, pasti bisa hilang tanpa bekas dalam waktu dekat. Aku bisa memberimu satu tube. Selanjutnya kau bisa beli sendiri di toko online."

Hinata mengangguk. "Terima kasih, Hoshiumi-san."

"Sama-sama."Hoshiumi menadahkan tangannya.

Hinata yang tidak peka bahwa Hoshiumi bermaksud minta imbalan untuk informasi tadi, malah mengulurkan tangannya menaruhnya di genggaman Hoshiumi dengan polos. Pria berambut putih tersebut tertegun sejenak, lalu menggenggam tangan mungil tersebut dengan lembut.

"Shoyo, boleh kutanya satu hal?" ungkapnya.

"Boleh."

"Apa kau mendendam padaku?"

Bagus. Pertanyaan telak. Wanita mana yang tidak mendendam pada orang yang telah membunuh cinta sejatinya?

"Hoshiumi-san, dendam adalah alasan pertama dan satu-satunya aku memutuskan jadi yakuza." Katanya.

Netra giok itu masih memandang dalam wajah manis Hinata tanpa berpaling.

"Tapi..." Hinata mengulum senyumannya. "Memangnya kalau aku membunuhmu, 'Tsumu-san bisa hidup lagi?"

"Kenapa kau tidak mencoba merendamnya lagi dengan heviz wax bath?" tanya Hoshiumi.

"Kami kehabisan waktu, dan tahu-tahu 'Tsumu-san sudah pergi." Hinata menghela nafas pelan, lalu berdiri. "Terima kasih atas jamuan dan bantuanmu, Hoshiumi-san. Aku akan kembali ke Yokohama. Shitsureishimasu."

"Kau sudah mau pulang?" tanya Hoshiumi.

Hinata mengangguk. "Urusanku sudah selesai."

Sebelum Hinata betul-betul meninggalkan Hoshiumi, pria itu mengejarnya dan menjegal pelan tangannya. Wanita manis itu nekad bepergian bolak-balik Yokohama-Hokkaido seorang diri dalam keadaan hamil besar cuma demi informasi yang sebetulnya bisa didapat lewat telepon resmi ke kantor. Pasti ada hal lain. Tidak biasanya Hoshiumi percaya dengan firasat, tetapi kali ini ia memutuskan mengikuti bisikan hatinya. Giok bertumbuk dengan karamel. Hinata menatap tangannya yang dijegal Hoshiumi, lalu menatap wajah laki-laki itu.

"Menginaplah." katanya. "Kau harus istirahat. Badanmu sudah tidak kuat, kan? Dari Yokohama ke Hokkaido itu jauh, lho. Pasti kau capek sekali kan, Shoyo?"

"Kenapa kau begitu peduli, Hoshiumi-san?" tanya Hinata gamblang.

Pertanyaan itu terasa seperti lembing yang menikam dada Hoshiumi. Ah, iya. Kenapa dia harus peduli? Wanita ini bukan siapa-siapanya. Ia datang bukan untuk berbicara soal bisnis. Hoshiumi melepaskan tangan Hinata, kelu karena tidak punya jawaban. Saat menjalani misinya, Hoshiumi Korai banyak mempelajari soal Hinata. Latar belakang, masa lalu, hingga fakta bahwa terakhir kali mereka saling baku hantam dan beradu banting Hinata tengah mengandung 3 bulan. Lalu Hoshiumi membunuh suami Hinata, Miya Atsumu. Tetapi ia melalaikan misinya membunuh Hinata. Dua kali, sejujurnya. Itulah alasan mengapa Hakuba yang bertugas menabrak Hinata hingga mati. Alasan mengapa Hoshiumi membakar laporannya mengenai pembunuhan Miya Atsumu dan Miya Shoyo dan membiarkan Hakuba mengarangkan laporan untuknya.

[Gadis pendek yang cuma bisa balap motor. Johnny Blaze Yokohama perempuan pertama dan termuda. Bergabung dengan yakuza demi membalaskan dendam pada seorang kkangpae yang ternyata bocah SMA dan menjadi ajudan setianya. Lalu terlibat perang dengan buaya tambang melalui kasus penculikan hingga terdampar di Kobe. Menjadi murid Bokuto Kotaro dari Nocturnal. Menyabet gelar Johnny Blaze Kobe dalam waktu 4 bulan. Menjadikan Inarizaki sebagai saudara sedarah Raven melalui ikatan pernikahan dengan Miya Atsumu. Bertarung sampai pingsan karena kelelahan dalam keadaan hamil 3 bulan dan sudah terluka parah.]

Hoshiumi bahkan ingat ia mengetik laporan seperti itu tentang Hinata. Semuanya fakta, diambil dari sudut pandangn interpretasi seperti yang biasa ia lakukan. Tetapi laporan itu terkesan sangat subjektif seakan-akan Hoshiumi begitu terobsesi dengannya. Diulik sampai lelahpun, hasil laporannya tetap sama. Bukan ada sesuatu yang salah dengan Hinata, tetapi ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Tidak biasanya Hoshiumi terbawa perasaan, secantik apapun targetnya. Tetapi Hinata berbeda. Semakin Hoshiumi mempelajari wanita itu, ia semakin dibuat tenggelam dan tergila-gila. Wajah manisnya yang ayu, perangainya yang pemberani meski Hinata sendiri tahu bahwa dirinya rapuh dan tidak berdaya. Hatinya yang teguh membengkokkan ego setiap orang, membuat mereka bersimpuh mengabdi kepadanya murni karena panggilan jiwa. Wanita mungil itu sudah berkali-kali melampaui batas yang sejatinya tidak mungkin untuknya. Miya Shoyo yang dulu bernama gadis Hinata benar-benar seperti protagonis dalam cerita drama pahlawan. Hoshiumi memutuskan tidak membunuh Hinata bukan karena ia perempuan. Tetapi karena Hinata menciptakan kontradiksi dan kekacauan di dalam batin Hoshiumi. Seperti badai yang meluluh-lantakkan daratan sekitar.

"Menginaplah." ulang Hoshiumi setelah jeda yang lama. "Aku akan mencarikanmu hotel yang paling dekat dengan bandara."

Hinata kembali memberi tatapan dingin penuh tanda tanya.

"Aku punya pertanyaan untukmu." katanya lagi. "Banyak sekali. Mungkin kau bakal muak mendengarnya. Tapi, kumohon menetaplah sedikit lebih lama. Aku butuh jawabanmu, biar aku bisa hidup lebih tenang."

Wanita bersurai ginger itu cuma mengangguk pelan berulas senyum tipis yang sangat indah.

"Maaf merepotkanmu sekali lagi, Hoshiumi-san."


Hujan di kala matahari terbenam terlihat begitu dramatis.

Muram kelabu mengguyur dedaunan dengan gemerisik pilu yang statis. Setelah reda, semburat oranye hangat dan lembayung sejuk menembus gumpalan awan mendung dan melukiskan pemandangan elok.

Masih menjadi misteri mengapa laki-laki selembut Hoshiumi Korai mau-maunya bekerja sebagai professional hitman. Caranya mengusap, membelai, memeluk, mencium, mencumbu Hinata begitu halus, begitu hati-hati seakan ia adalah boneka porselen yang elok tetapi mudah hancur. Sentuhannya tipis dari syahwat, begitu khidmat penuh pemujaan. Manik karamel itu luruh, terpejam sayu. Hinata menyerah dalam buaian sayang Hoshiumi. Ia menyendiri selama 3 bulan dengan alasan merawat kandungan, nyatanya Hinata hanya berpura-pura tabah atas kehilangan Atsumu. Setiap ia membuka mata, lalu menutup mata, dalam setiap tarikan nafas dan hembusannya, bayang-bayang Atsumu kembali datang seperti gentayangan. Curahan kasih sayang dan nikmat cinta mendiang suaminya membuat hati Hinata kering kerontang selepas ditinggal. Tubuhnya haus, dan Hoshiumi sudah separuh berhasil menyegarkan dahaga hasrat Hinata. Tetapi alam bawah sadarnya memberontak, seakan tahu bahwa pria yang tengah menyentuhnya bukan sang cinta sejati. Netra giok itu keruh memelas, namun dengan jantan mengalah ketika Hinata dengan halus menolaknya.

"Tidak apa-apa, Shoyo. Maafkan aku karena terlalu memaksa." bisik Hoshiumi. Ia mencium kening Hinata sambil menarik selimutnya lebih rapat. "Wajahmu pucat. Kau harus istirahat."

Wanita bersurai ginger itu mengangguk pelan. Ia mengusap perutnya yang terasa sesak. Bakal bayi-bayinya bergerak, menendang lagi.

"Hoshiumi-san?" Hinata melirih pada pria yang beranjak meninggalkan kasurnya.

"Hmm?" Hoshiumi menoleh.

"Jangan pulang." Hinata menyembunyikan wajahnya dari balik selimut. "Temani aku sampai besok. Onegai."

Hoshiumi tersenyum lembut. Ia mengangguk lalu duduk di pinggir kasur Hinata. Wanita mungil itu beringsut mendekat, merebahkan kepalanya di pangkuan Hoshiumi. Pria berambut putih cepak itu merapikan untaian ginger kusut yang kilaunya memudar, berubah urakan bercabang. Hinata pasti kelimpungan membenahi duka dan kehidupannya sendiri. Ia terlihat tidak terurus dengan baik.

"Kalau kau bertemu aku sebelum Miya, apa kau mau jadi istriku?" tanya Hoshiumi. "Kau benar-benar sempurna untukku, Shoyo."

Hinata terdiam sejenak. "Antara iya dan tidak."

"Jadi mana yang benar?" Hoshiumi terkekeh pelan.

"Ada beberapa hal yang aku suka darimu." Hinata menengadah, menatap paras pemilik netra giok tersebut. "Dan ada yang tidak."

"Apa karena aku pendek?" Hoshiumi mendengus sinis. "Atau kurang tampan buatmu?"

"Bukan." Hinata kembali merebahkan kepalanya. "Kau itu pangeran berkuda putih. Aku sukanya John Wayne. Kau kurang buas untukku."

"Ah, oke." Hoshiumi menggumam. "Lalu, apa yang kau suka?"

"Matamu indah. Dan juga, kau itu spesial." kata Hinata, ia susah payah duduk dan kini memilih bersandar di pundak Hoshiumi. "Cara bicaramu. Tingkah lakumu. Aku langsung merasa nyaman, merasa sudah mengenalmu sejak lama dan sangat akrab. Padahal kau ini cerewet, tapi malah tidak banyak membicarakan tentang dirimu, Hoshiumi-san. Apa itu yang namanya empati tinggi?"

Hoshiumi menatap Hinata dengan pandangan bingung. "Hakuba juga bilang begitu. Si raksasa shimanchu. Dan juga Sachiro dan Fukuro-san—Hirugami bersaudara."

"Rekan-rekan kerjamu pasti sangat sayang padamu." ucap Hinata.

"Lupakan. Mereka semua bedebah." Hoshiumi merangkul Hinata dan mengusap lembut pundaknya.

"Hoshiumi-san?"

"Hmm?"

Hinata memberi jarak, lalu menatap lelaki itu dalam-dalam. "Kau tadi tanya padaku, apakah aku dendam padamu, kan?"

"Iya." Hoshiumi mengerjap. "Aku tahu kau dendam. Aku bisa melihatnya di matamu."

Hinata balas menatap dingin. Memaku pandangannya pada netra giok eksotik tersebut.

"Kau tahu aku tidak bersenjata dari tadi. Kau menyembunyikan sebilah deba di balik bajumu. Kau berniat menikamku kalau aku mencumbumu lebih lanjut." katanya. "Lalu kau ragu, Shoyo. Kau ragu saat aku mundur. Kau ragu saat kau sadar, tubuhmu setengah mati rindu belaian laki-laki dan kau menikmatinya, tapi aku bukan Miya Atsumu kesayanganmu."

Raut wajah Hinata berubah masam. Ia memalingkan pandangannya dari pria pendek berambut putih tersebut.

Hoshiumi mengarahkan tangan Hinata ke wajahnya. "Kau itu sedang hamil, Shoyo. Kau pikir aku ini laki-laki biadab?"

Hinata mengulum senyum. Ia mengusap rona merah padam bekas terpapar matahari di wajah Hoshiumi. "Osamu bilang, aku ini picik dan naif. Aku mana bisa melakukan hal sekeren balas dendam?"

Hoshiumi cuma balas memandang, tanpa kata-kata.

"Kageyama Tobio, adalah orang yang membunuh ayahku. Lalu bocah itu berakhir mengejar-ngejarku dengan cinta yang buta, dangkal tetapi polos dan begitu murni. Sebelumnya, Miya Osamu mendendam padaku karena menurutnya akulah alasan kenapa 'Tsumu-san membangkang Inarizaki. Dia berusaha selalu menikung saudara kembarnya lewat perselingkuhan jarak dekat, karena itu aku bersikeras tinggal di Yokohama agar Osamu bisa lupa padaku. Lalu kau, Hoshiumi-san. Orang yang ditugaskan membunuh suamiku, dan akhirnya malah bercengkrama denganku seperti sepasang kekasih baru."

Hinata menengadah, tampak menahan suaranya yang tercekat.

"Kehidupan yakuza itu menyakitkan. Aku sudah memilihnya, tetapi tetap saja menyakitkan." Hinata melempar pisau deba yang ada di balik pakaiannya jauh-jauh. "Dendam itu menyakitkan sekali, semakin dipendam aku malah dibuat semakin tersiksa. Aku tidak bisa menghilangkannya, karena itu berarti aku akan kehilangan orang yang kusayang sekali lagi. Aku mencintai 'Tsumu-san dan ayahku, makanya aku ingin membalaskan kematian mereka dengan membuat mereka sama merananya dengan aku yang ditinggal, bagaimanapun caranya."

Hoshiumi terkesiap mendengar ucapan tersebut. "Shoyo, hei..."

"Daichi-san pernah bilang, dendam dan cinta berdampingan seperti dua sisi koin. Akan selalu tumbuh dendam kalau kita mencintai seseorang. Daichi-san juga bilang kalau dendam itu berbisa. Meskipun pedih, memaafkan membuat bisa di hati kita luruh dan kita bisa lebih bahagia. Aku ingin mendengarkan Daichi-san, menghilangkan semua itu dengan jalan memaafkan. Tapi...tapi...apakah mereka yang mati akan memaafkan aku kalau aku terus-menerus memaafkan pembunuh mereka dan membaliknya menjadi cinta? Aku ini bukan Tuhan yang Maha Pengasih! Siapa yang akan mencintai aku kalau aku terus-menerus memaafkan orang yang sudah membuatku kehilangan orang yang kucintai dan mencintaiku lebih dari bagaimana aku ingin dicintai?"

Hoshiumi membiarkan nalurinya menuntun. Ia mendekat, meraih tangan Hinata dan mengecupnya penuh kasih. Tangannya perlahan merangkul pundak kecil Hinata yang menggigil. Membawa manik coklat karamel dan hijau giok itu bertemu pandang. Kening dengan kening, hidung dengan hidung, bibir bertemu bibir dan jiwa mereka saling bersentuhan.

Hinata adalah perempuan yang begitu hangat. Sentuhan tipis dan senyuman ayunya mampu meleburkan hati sepi Hoshiumi yang sudah bertahun-tahun membeku. Jiwa seindah dan serapuh itu tidak sepatutnya berada di belantika mafia yang penuh dengan warna merah gelap, kelabu saru dan hitam mencekam.

"Shoyo..." Hoshiumi berbisik di dalam ciumannya. "Love is a losing game."

Hinata merunduk. Ia membenamkan wajah dan isak tangisnya dalam dentuman damai detak jantung Hoshiumi. Setelah 3 bulan berusaha ceria dan menikmati keriangan indah menjadi calon ibu muda, Hinata kembali menangis. Hinata begitu cinta dengan Atsumu, dan kehilangannya membuat Hinata kesakitan—jiwa dan raga. Dari sekian banyak orang yang bisa meringankan nestapanya, kenapa harus Hoshiumi Korai—si pelaku yang membuat Hinata dan Atsumu terpisah dunia? Apakah Sang Hidup dan Sang Maut sedang ingin bercanda dengan mereka berdua?

"Maafkan aku sudah membunuh suamimu." ucap Hoshiumi tulus. "Kau sudah mengerti dunia macam apa yang kita berdua jalani, kan? Ucapanku mungkin terdengar bodoh. Tetapi, aku akan tetap minta maaf padamu. Aku akan terus minta maaf sampai kau lega."

Hinata sesungguhnya sudah tahu.

Hinata sudah lama memaafkan Kageyama karena telah membunuh ayahnya. Ia juga sudah memaafkan Hoshiumi ketika memutuskan bepergian ke Hokkaido seorang diri demi mencari solusi yang hanya lelaki berambut putih itu yang memilikinya. Memaafkan dan melepaskan dendam itu sukar dan Hinata ingin menepati janjinya kepada Atsumu untuk terus hidup. Mendendam hanya akan membuat dunianya statis dalam masa lalu yang tak akan pernah bisa diubah, dan tidak ada kehidupan dalam dunia yang tidak berputar. Ia harus rela menahan pedih karena melepas dendam, agar hidupnya tetap berjalan dan bahagia.

Mencari tahu mengenai Hinata seperti jebakan tiada akhir bagi Hoshiumi. Semakin terbuka faktanya, semakin ia terjerumus dalam sosok manis tersebut. Di satu sisi, dimana hal paling rentan yang tidak sengaja disentuhnya dalam perkenalan mereka yang singkat dan intim adalah fakta bahwa Hinata ingin dimaafkan.

Hinata ingin dimaafkan dirinya sendiri, karena telah meracuni hatinya dengan dendam.


TAP. TAP

ZZZRRAAASSSHHH!

Suna Rintaro mengguyur Miya Osamu yang tertidur memeluk lutut dengan seember air. Pemuda bermanik kelabu baja itu kelojotan panik, lalu menyeka wajahnya sekedar untuk melihat raut bengis sang butler kesayangan Raja Neraka yang tampak sudah muak dengan aksi berkabung melodramatik menyusahkan Miya bungsu.

"Bangun." ucapnya dingin. "Mandi dan bereskan penampilanmu. Perintah dari Oyakata-sama."

Miya Osamu menggerutu, lalu bangkit dengan gontai dan berjalan menuju rumah. Rintaro menghela nafas panjang. Ia membereskan serakan botol vodka di sekitar makam Atsumu dan menyeka nisan marmer itu. Dinyalakannya dupa dan ditaruhnya seikat bunga segar di makam tersebut sebelum Rintaro kembali ke dalam rumah. Seusai mandi dan berpakaian santai sesopan mungkin, Osamu digiring menuju ruang kerja Kita Shinsuke cuma untuk menemukan sang Raja Neraka tengah duduk di lantai dengan hakama, meja pendek berisikan kertas, kuas dan tinta, serta Miya Shoyo yang perutnya sudah semakin membesar. Osamu bahkan tidak berpikir sama sekali saat kakinya melangkah dengan gusar dan menerjang Hinata, melingkarkan kedua lengannya yang kokoh berotot ke tubuh mungil itu.

"Hisashiburi¸ Osamu." Hinata menepuk-nepuk kepala Osamu. "Kau tampak sehat, ya."

Basa-basi yang sangat buruk. Jelas sekali Hinata melihat kabung tidak berujung dari manik kelabu baja Osamu. Si Miya bungsu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Hinata. Paras manis itu seakan menutup segala jalan pikirannya, membuatnya gelap mata dan bergerak hanya berdasarkan nafsu. Tidak seperti mendiang abang kembarnya yang merupakan perayu perempuan kelas kakap, Miya Osamu adalah laki-laki dingin yang nyaris belum pernah jatuh cinta. Sekalinya jatuh, ia tertambat pada wanita mungil ini. Sejak pertemuan pertama mereka, sentuhan Hinata sudah sukses membuat Osamu mabuk kepayang bukan kepalang hingga kini. Ia menarik Hinata lebih dekat dan menjilat bibirnya, mengusap perut besar wanita manis tersebut dengan penuh kasih meski Hinata memberontak minta dilepaskan.

"Osamu."

Kita mengait leher Osamu di lekukan sikunya, menariknya dengan kasar agar lepas dari Hinata dan melemparnya menjauh. Hinata terengah-engan, matanya yang berair memancarkan kebingungan dan ketakutan. Manik ambar oyakata-sama mendelik murka atas perilaku anak bungsunya tersebut.

"Shoyo itu kakak iparmu. Dia sedang hamil besar." ucap Kita dingin. "Sikapmu tadi benar-benar tidak pantas."

Osamu menegang. Ia buru-buru bersimpuh dan menundukkan kepalanya. "Sumimasen, oyakata-sama. Dan juga, Shoyo-neesan."

Hinata mendengus pelan dan mengangguk. Osamu cuma memanggil Hinata dengan sebutan itu di hadapan ayahnya saja. Kita menyuruh Osamu duduk di sebelahnya, dan mereka melanjutkan pembicaraan yang sebelumnya.

"Osamu, Shoyo kemari karena ingin minta pendapatku." jelas Kita. "Soal nama apa yang bagus untuk anak-anaknya. Cucu-cucuku. Keponakan-keponakanmu."

"Begitu." Osamu mengangguk paham. "Sudah ketahuan jenis kelaminnya?"

"Dua-duanya laki-laki." jawab Hinata sambil mengelus perutnya. "Mungkin bakalan lahir caesar. Panggulku kecil. Anak-anakku tumbuh sangat besar sampai mulai membuat tulang punggungku punya trauma karena menahan beban terlalu berat. Dokter bilang, melahirkan normal akan sangat sulit untukku."

"Asal kalian semua selamat dalam proses melahirkan kelak, cara apapun tidak masalah." gumam Kita.

"Terima kasih, Shinsuke-san." Hinata tersenyum.

"Nama apa yang kau inginkan untuk bakal jagoan-jagoanmu?" Tanya Kita.

Hinata terdiam sejenak. "...Atsu.."

"Kau mau menamai salah satunya Atsumu?" tanya Osamu. "Seperti 'Tsumu?"

Hinata mengangguk. "Atau setidaknya, ia memiliki nama yang kanjinya terdengar sama. Aku ingin mereka menjadi pengobat rinduku pada 'Tsumu-san. Aku ingin setiap aku merawat dan mencintai anak-anakku, aku bisa terus menjaga janjiku pada 'Tsumu-san untuk terus hidup demi dirinya yang sudah tiada."

Kita terenyuh mendengar ucapan manis wanita tersebut. Ia meraih kuas dan mulai melukiskan huruf kanji yang tampak begitu artistik.

"Bagaimana kalau Atsushi?" ungkap Kita. "Melambangkan ketulusan. Seperti Atsumu padamu, dan Shoyo pada Atsumu. Karena anakmu kembar, kau bisa membedakan akhirannya seperi Atsuyuki, Atsunori. Bahkan kau bisa mengganti cara membaca kanjinya meski hurufnya masih sama."

"Bisa dibaca Tsutomu dan Satoshi." sahut Osamu. "Atsushi dan Satoshi terdengar keren."

"Bisa juga dibaca Osamu, lho." tambah Kita.

"Sebuah nama yang bisa mengingatkan aku bahwa 'Tsumu-san dan aku saling mencintai." Hinata merenung. "Dan juga, mengingatkan bahwa 'Tsumu-san juga mencintaimu, Osamu. Kau juga mencintainya, kan?"

Osamu membuang muka. "Huh. Aku senang dia pergi. Akhirnya aku jadi anak tunggalnya Raja Neraka."

"Kalau kau senang, buat apa kau setiap hari duduk di sebelah kuburannya seperti orang dungu?" Kita meraih wajah Osamu dan mengusap pipinya.

"'Tsumu adalah kepunyaanku yang paling berharga." ucap Hinata. "Kau pernah bilang begitu padaku."

Kita Shinsuke tersenyum lebar penuh kasih sayang sambil memeluk Osamu yang wajahnya memerah. Pria bongsor itu cuma mengangguk kikuk dengan wajah merona.

"Oyakata-sama harus punya ide lain." Osamu mengelak karena salah tingkah.

"Oh, aku sempat kepikiran satu nama."

Kita mengambil kertas baru dan melukiskan dua karakter kanji.

"Souma." Hinata dan Osamu membaca bersamaan.

"Karena anakmu laki-laki semua, kurasa ini adalah nama yang gagah." Kita menjelaskan. "Bermakna kekuatan sejati. Pasangan kembarnya bisa diberi nama Kazuma. Karakter kanji depannya diganti, tetapi kanji ma-nya masih sama. Bermakna kedamaian sejati."

"Ooh! Sughe...." Osamu menggumam kagum.

"Cinta kalian berdua memberikan kedamaian bagi kedua klan kita." Kita menimpali. "Bersama-sama, kalian saling menguatkan. Sepasang nama yang cocok untuk mengabadikan cintamu dan Atsumu sebagai orangtua yang luar biasa."

Hinata tersenyum sambil mengelus perutnya. Ia menatap tulisan itu selama beberapa saat dan menyadari satu hal.

"Kanji ma-nya bisa juga dibaca shin." ucap Hinata. "Terdengar seperti Shinsuke-san."

"Bunyi sama, tetapi kanji berbeda." Kita menulis nama lengkapnya dalam huruf kanji. "Kita bisa terus mencari nama yang tepat sampai kau puas, Shoyo."

"Kurasa hari ini sudah cukup." Hinata membalas. "Terima kasih atas waktu dan kebaikanmu, oyakata-sama."

"Beristirahatlah dengan nyaman. Kau bisa mencariku kapanpun kau butuh." Kita berdiri, membantu Hinata untuk bangkit. "Rintaro sudah menyediakan kamar, hidangan dan pakaian ganti untukmu. Buat dirimu kerasan disini ya, Shoyo."

"Uhm." Hinata kembali mengulas senyum.


Kemewahan kediaman Kita sekaligus markas Inarizaki selalu membuat Hinata takjub. Tidak hanya megah, nuansa tradisional Jepangnya yang berbaur dengan teknologi menciptakan atmosfir yang sangat menyenangkan. Tidak heran mengapa dari dulu Atsumu sangat ingin Hinata tinggal bersamanya di Kobe. Rumah mungilnya di Yokohama tidak sebanding dengan istana ini. Sewaktu Hinata membawa Atsumu menemui ibu dan adiknya di Isogo, mereka sangat terkejut sekaligus bersyukur Hinata bisa menikahi laki-laki seperti Atsumu. Suaminya cepat akrab dengan Natsu karena sudah belajar bahasa isyarat untuk tunarungu. Ia bertingkah seperti menantu idaman dengan sempurna. Selepas itu Hinata dan Atsumu kembali berkendara pulang ke rumah. Mereka mengambil rute terjauh, hanya untuk merasakan nikmatnya memacu motor besar di jalanan Yokohama yang penuh hiruk-pikuk. Malam harinya, mereka berdua sama-sama turun ke arena balap dan lagi-lagi Atsumu ditundukkan paksa melalui balapan dengan trek jarak jauh memutari distrik Seya. Selebrasi dengan bergelas-gelas kuro bogyu berakhir dengan keduanya tertidur di sofa rumah, Hinata memeluk dan menindih Atsumu karena mabuk berat.

Hinata baru saja selesai berpakaian ketika terdengar suara ketukan pintu. Osamu melangkah masuk dengan raut wajah canggung. Pelayan wanita yang memakaikan Hinata yukata tidur mengangguk segan, lalu berjalan keluar setelah mendapat tatapan sinis dari Miya bungsu. Osamu duduk jauh sekali dari Hinata. Wanita mungil itu mengusap perutnya yang terasa sesak. Pergerakan bayinya akhir-akhir ini lumayan aktif.

"Hei.." gumamnya. "Aku mau minta maaf. Sikapku tadi sangat tidak senonoh."

"Daijobu. " Hinata tersenyum. "Saat makan malam, Rintaro menjelaskan padaku kenapa kau tidak disana. Kau menjenguk 'Tsumu-san. Setiap hari. Setiap saat."

"Aa." jawab Osamu singkat.

Manik karamel itu melirik jendela. Pemandangan malam musim panas dengan langit cerah dan bulan separuh. Bintang-bintang kecil terlihat menghiasi langit malam ini.

"'Tsumu itu brengsek." ungkap Osamu. "Selama aku hidup dengannya, nyaris tidak ada bagus-bagusnya dari 'Tsumu. Aku selalu bekerja keras untuk kami berdua, dan hanya dia yang selalu dapat pujian. Dia dibilang tampan dan kharismatik, padahal wajah kami sama. Shin-chan sangat memanjakannya, padahal dia tidak banyak kerja."

Hinata mengedip, tampak berusaha mencerna apa yang dikatakan Osamu.

"Tapi di kehidupan selanjutnya," Osamu kembali bergumam. "Aku tetap mau lahir sebagai kembarannya."

"Dia mentatto namamu di badannya." ucap Hinata. "Dan kurasa, kau satu-satunya laki-laki yang pernah berciuman bibir dengannya."

"Dia merogolku demi memuaskan fantasimu." balas Osamu getir. "Perbuatan terkutuk itu tidak perlu dibanggakan."

"Tapi kau tidak menolaknya sama sekali." Hinata membalas lagi. "Aku tahu, malam itu kau tidak mabuk. Aku banyak skip, dan mungkin 'Tsumu-san sama mabuknya dengan aku."

Osamu terdiam. Ia menangkupkan tangan di mulutnya dan memijat-mijat pipinya sendiri. Hinata menyuruh Osamu mendekat, dan pria kokoh itu duduk di sebrang Hinata.

"Bagaimana rasanya hidup tanpa 'Tsumu?" tanya Osamu.

"Sepi." Hinata menjawab pilu. "Tapi..."

"..menakutkan." imbuh Osamu. "Aku masih bisa melihatnya dimanapun. Aku masih mendengar suaranya di kepalaku. Aku masih bisa merasakan sensasi kasar rambut di belakang kepalanya di tanganku."

"Sama." jawab Hinata.

"Sejak dia menikah denganmu, dia menelponku setiap hari. Atau memberiku pesan suara." tutur Osamu. "Dia selalu berkewajiban berbicara denganku, seperti aku yang selalu mengusap kepalanya sejak kami berusia 5, 10, 15, 20, 26. Aku selalu tidur bersamanya meski kami selalu bertengkar setiap hari. Dia akan menceritakan banyak hal meski aku tidak tanya apa-apa."

"Dan dia tahu segalanya tentangmu." balas Hinata. "'Tsumu-san selalu mencari tahu karena dia paham, adiknya yang bongsor ini tidak suka ditanya-tanya."

Osamu tersenyum pahit. "Dia banyak membicarakan aku, ya?"

"'Tsumu-san selalu membicarakanmu. Tentang banyak hal."

Hinata ragu-ragu mendekat, mengulurkan tangannya membelai dagu Osamu. Parasnya yang serupa dengan mendiang sang suami membuat Hinata kangen. Meski tidak ada seringai menyebalkan dan liukan jahil dari alisnya, kemiripannya cukup membuat Hinata tertipu pertama kali, dan mungkin untuk kesekian kalinya. Osamu mungkin tipe pria yang lebih tenang, tetapi darah mereka tidak bisa berbohong. Jauh, jauh di dalam dirinya Osamu sama liarnya seperti Atsumu. Osamu menarik Hinata mendekat, lalu menggesekkan keningnya ke puncak kepala Hinata.

"...aku mencintaimu," bisik Hinata. "'Tsumu-san."

"Shoyo," Osamu menangkupkan kedua tangannya di pipi Hinata. "Kau merindukan 'Tsumu?"

Hinata memejamkan matanya, mengangguk dengan enggan. Ia tidak lagi berani melihat wajah Osamu. Terlalu mirip. Terlalu serupa. Hinata dibuai dengan kesenangan fana karena dipikirnya Atsumu bangkit dari kubur, kembali menjadi sosok utuh yang selalu dicintainya.

"Kau rindu 'Tsumu?" ulangnya. "Mau ketemu?"

Lagi-lagi, Hinata mengangguk. Osamu menuntun tangan mungil Hinata meraba wajahnya, dadanya, perutnya, selangkangannya, dan keduanya lalu bergenggaman tangan. Osamu melangkah lebih dekat, lalu bibirnya mencium daun telinga Hinata. Wanita mungil bersurai ginger itu terkesiap, nafasnya berubah menjadi desahan lirih ketika Osamu mengulum daun telinganya. Ia memberikan kecupan kecil di garis rahang Hinata, dan menatapnya dalam-dalam.

"Di Tblisi, ada yang disebut khlysty. Doa orang Siberia." Osamu memojokkan Hinata hingga wanita manis itu tersandung ranjang dan terduduk di kasur. Osamu menatap lekat-lekat wajah Hinata, mengangkat dagunya agar wajah mereka bertatapan. "Mereka melakukan banyak ritual ekstatik, guna mendapat rahmat Tuhan."

Bibir Hinata menganga ketika Osamu menarik lepas ikat pinggang hakama-nya, membiarkan helai pakaian merosot turun dari tubuh kokohnya. Ia mendorong Hinata dengan hati-hati hingga merebah, dan membelai lekukan payudaranya.

"Wanita yang kehilangan suami mereka pada masa perang, mereka berdoa..." Tangan Osamu menyingkap pelan lipatan yukata Hinata hingga kulit mulus kakak iparnya terpampang polos. "berbaring...dan bercinta dengan hantu."

Tangan mungil Hinata meremas seprai. Tubuhnya gemetar, menggigil, ketika Osamu mendaki ke atas ranjang dan mulai menjamahnya. Geletar kegirangan membuatnya menghangat, panas dibakar nafsu. Hinata menjambak rambut Osamu dan menyambut ciumannya dengan begitu rakus. Si Miya bungsu meremas payudara Hinata dan mencumbu lehernya.

"Ahhn...nhh..." Hinata melenguh tipis ketika Osamu membuka pahanya, mencium bibir bisunya di bawah sana dengan mesra. "'Tsumu-san..."

Hinata terlalu rindu. Dan Osamu terlalu serupa dengan mendiang suaminya. Meski ia tahu bahwa pria yang tengah digumulinya adalah si adik kembar, kehampaan yang dideranya tiga bulan belakangan membuat Hinata menutup mata. Setiap kali ia melihat wajah Osamu, penyangkalannya semakin tertampik. Bayang-bayang Atsumu kembali datang. Memenuhi benaknya. Hinata patuh ketika Osamu menuntunnya memanjat ke pangkuannya. Hinata memeluk leher Osamu erat-erat, menciumi wajahnya, menjambaki rambutnya dengan serakah seperti saat ia melakukan ritual cintanya dengan mendiang Atsumu. Hinata melirik perutnya dengan ragu, dan Osamu memberikan belaian penuh sayang.

"Bisa. Tidak masalah." lirihnya sambil memberikan ciuman di pundak Hinata. "Aku akan hati-hati."

Hinata begitu legit menjepit. Wanita mungil itu melolong sakit tanpa suara saat Osamu menerjang masuk, menyusup perlahan guna memberikannya perasaan nyaman. Jemari mungilnya menjelajahi pundak dan dada Osamu, menyusuri detail tatto di tubuhnya yang hampir identik dengan milik Atsumu. Mata indahnya meredup, keruh diliputi birahi tak terbendung. Hinata mencengkram bagian belakang kepala Osamu, dan membelainya dengan gerakan konstan. Osamu menggeram ketika Hinata mulai balas mengayuhnya.

"...-san..." Manik karamel itu terpejam, airmata basah menuruni pipinya. "...'Tsumu-san...nhhhmm...'Tsumu-san..."

Osamu menarik nafas panjang, berusaha meredam hasratnya yang menggebu-gebu sampai membuat sesak. Ia berbisik manis sambil menciumi telinga Hinata. "..Shoyo, cintaku...mmh...Sho-chan, kau mau aku lebih cepat...hnnhh...atau lebih dalam?"

Oh, tidak!

Panggilan itu...

Kelakar nakal itu...

Ketika Hinata kembali berkedip, kali ini yang ada di hadapannya adalah 'Atsumu' yang sesungguhnya. Hinata tersenyum bahagia, memulas wajah Osamu dan menciuminya, menubuh dan melumatnya. Batas itu hilang. Badannya merespon dengan sukarela. Hinata melayang hingga nirwana. Nadinya melintir. Darahnya mendidih. Nafasnya berhamburan menjadi rintihan dan desahan nikmat. Osamu menanggalkan akal sehatnya dan memilih meliar selepas-lepasnya. Kegirangan dan nafsu berbaur hingga membuat Hinata merasa pening. Kebuasan yang selalu ia dambakan dari Atsumu akhirnya terkecap. Sensasinya nyaris sesuai...

"..nhahh...'Tsumu-san..." Hinata menggigit bibirnya, tidak kuasa menahan letupan-letupan birahi. "...'Tsumu-san...'Tsumu-san..nhhann...aahh..aaanghhh..."

Ini dia.

John Wayne-nya. Belahan jiwanya. Cinta sejatinya.'Tsumu-san-nya

Miya Atsumu kembali dari alam baka untuk bersua, bercengkrama, dan bersanggama dengan istrinya. Tidak ada yang begitu memuaskan selain melepas rindu yang terasa bagai jerat bagi Hinata. Kenangan-kenangan mereka berkelebat seperti kilas balik film setiap ia membuka mata, menutup mata, mengedip, mengerjap, menarik nafas, menghembuskan nafas, tercekat menahan nafas.

Atsumu selalu ada untuknya. Mau dari balik dunia, dari dasar neraka, dia akan datang kepada Hinata. Seperti kata-katanya dulu.

Selalu ada Atsumu dalam hati Shoyo. Cintanya masih ada. Masih terasa meski raga Atsumu telah jadi debu di kuburannya. Jiwanya ada bersama Hinata, seperti kenangan yang selalu muncul saat Hinata teringat dengan Atsumu. Ia hanya perlu mengenang, mengenang dan mengenang sampai ia kembali merasa betapa bahagia dirinya dan Atsumu bisa saling mencintai dengan segalanya, dan seluruhnya, dengan segenap hal yang mereka miliki.

Relakah kau untuk terus hidup untukku, meski aku tidak bisa lagi hidup bersamamu?

Jadi itu maksudnya.

"..Ohh...Sho-chan..." Osamu menaikkan tungkai Hinata ke pundaknya, menciumi paha mulus sang Johnny Blaze Kobe. "...enak..hmm? Enak, ya? Enak, kan?"

Hinata melipat kedua tangannya, menyembunyikan wajahnya yang memerah dan berbasuh peluh. Miya Shoyo yang dibakar syahwat terlihat basah merona seperti kepiting rebus.

"Kochi, aku mau lihat wajahmu..mmmh..." Osamu menyingkirkan tangan Hinata dan mengusap wajahnya. "...mmmh...sughe...tetap cantik seperti bidadari..."

"..'Tsumu-san..." Hinata melenguh, terengah-engah tetapi begitu gegap gempita. "...'Tsumu-san...nhhnn...'Tsumu-san...aku cinta padamu...'Tsumu-san..."

"...aku tahu." Osamu mengulum senyumannya. Ia bahkan enggan menyeka tangis yang tidak kuasa tumpah dari netranya yang berwarna kelabu baja. Hatinya merasa seperti tercabik-cabik saat mendengar malah nama kakak kembarnya yang sudah mati dari bibir Hinata dalam racauan nikmat percintaan mereka. Hinata hanya mencintai Atsumu saja. Osamu cuma sekedar pelampiasan. "..aku selalu tahu kau begitu mencintai 'Tsumu."

Osamu mendesah panjang, menuntaskannya dengan gelora di celah paha Hinata sambil perlahan-lahan mengendurkan temponya. Luapan lahar hangat itu membuat pandangan Hinata memutih sesaat, lalu ia terperanjat kaget dengan kesadaran penuh. Seperti habis sadar dari pingsan setelah tenggelam.

Di dalam perzinaan rendah yang dilakukan Hinata dengan saudara kembar mendiang suaminya, ia menemukan penyembuh duka.

"...Osamu..." Hinata merintih. "Pinggangku kesemutan..."

Sang Miya bungsu dengan panik merebahkan Hinata ke samping. Wanita mungil itu mengaduh-aduh linu saat Osamu memijat lekukan pinggangnya perlahan hingga terasa lebih leluasa. Ia menyeka Hinata hingga bersih dan kembali memakaikannya yukata sebelum membereskan dirinya sendiri. Hinata mengulurkan tangannya, mengelap jejak airmata di pipi Osamu.

"Mendingan?" tanya Osamu dengan senyum kaku.

"...maafkan aku..." Hinata memandang Osamu dengan tatapan pedih. "...aku—"

"Sudahlah." Osamu menepis tangan Hinata. "Aku ini bajingan hina. Padahal 'Tsumu belum lama meninggal. Kau kakak iparku. Tapi aku malah mengajakmu seks demi melampiaskan emosiku. Kau tahu aku senafsu itu padamu. Dan aku tahu, kau secinta itu pada 'Tsumu. Aku cuma memanfaatkan keadaan."

Hinata terdiam. Ia cuma berbaring miring, menatap Osamu yang kesulitan membetulkan ikat pinggang hakama-nya.

"Sebulan lalu aku ke Hokkaido." gumam Hinata. "Ke kantornya Kamomedai Northwatch."

Osamu menoleh. "Buat apa?"

"Aku mencari Hoshiumi Korai." Hinata melambai, meminta Osamu mendekat. Pria kekar bersurai abu-abu itu duduk di lantai agar ia bisa berpadangan setara dengan Hinata yang berbaring. "Dia punya beberapa informasi soal bekas ungu di pundakku."

"Terus?"

Hinata mengerjap. Ia melipat satu lengannya dan menelusupkan wajahnya ke lipatan lengan. "Aku berniat membunuhnya. Aku sudah merancang skenarionya. Aku akan menggodanya, lalu saat kami bercinta aku akan menebas lehernya."

"Itu pasti ajaran 'Tsumu." Osamu mendengus malas. "Dia mengajarkanmu menggunakan pesona dan selangkanganmu untuk membunuh?"

"Tidak. Itu ideku sendiri." Hinata menggeleng. "'Tsumu-san mana sudi aku disentuh laki-laki lain."

"Terus?"

"Gagal." ujar Hinata. "Padahal dia sudah menciumku, merabaku, sudah naik kasur. Tapi..."

"Kau tidak kerasan disentuh dia." tebak Osamu. "Karena kau tahu dia bukan 'Tsumu."

"Dia mundur ketika aku menolaknya." Hinata melanjutkan. "Dia itu professional hitman. Dia sudah tahu kalau aku punya niat membunuhnya saat aku memintanya menemaniku di hotel. Tapi dia tetap melakukannya. Dia masuk tanpa senjata. Dia menolak godaanku karena aku sedang hamil besar, meskipun aku bersumpah ada gundukan keras di balik resleting celananya. Hoshiumi menahan dirinya habis-habisan."

Osamu melirik Hinata. Ia bersandar di tembok. "Dia suka padamu. Kentara sekali."

"Dia bilang, seandainya aku bertemu dia dulu sebelum 'Tsumu, apakah aku mau jadi istrinya?"

"Agresif sekali si cebol itu." gerutu Osamu. "Apa jawabanmu?"

"Antara ia dan tidak." Hinata menggerling. "Dia tulus sekali. Tipe yang imut, lembut dan mesra. Kalau usiaku 13 aku pasti kepincut sama yang begitu. Tapi aku ini joki balap. Tentu saja yang buas, menggairahkan dan penuh semangat lebih menarik buatku."

Osamu tersenyum tipis.

"Pada akhirnya, dia jadi pendengar curhatan bodohku soal balas dendam dan betapa aku sedih atas kematian 'Tsumu-san." Hinata mencucu malu. "Dia semalaman menemaniku sampai tertidur. Lalu paginya mengantarku sampai ke bandara. Menungguiku sampai masuk pesawat."

"Jadi kau tidur dengannya?" Osamu memberengut. Nada bicaranya menyiratkan kecemburuan.

"Tidak." Hinata membalas. "Setelah aku capek menangis di pelukannya, aku ketiduran. Yang aku ingat adalah saat aku bangun, Hoshiumi terlelap berbaring di sofa. Setelah itu, dia tidak macam-macam. Hoshiumi bahkan minta izin cuma untuk mencium tanganku sebelum pisah."

"Dia laki-laki baik, ternyata." Osamu membalas.

"Aku bahkan heran, kenapa laki-laki sebaik dia bisa bekerja jadi hitman mercenary."

Hening. Osamu melirik Hinata yang balas tersenyum kepadanya. Ia pikir Hinata sudah tidur.

"Shoyo," ucap Osamu. "Aku mau jadi bapak untuk anak-anakmu."

"Memang harus namamu yang kucantumkan dalam daftar wali." Hinata menimpali. "Osamu, kau berhubungan darah langsung dengan anak-anakku nanti."

"Aku akan beli kamera yang bagus." Osamu menerawang. "Aku akan membuat foto yang banyak, agar setiap kenangan keponakan-keponakanku tumbuh besar bisa terabadikan. Aku akan membuat mereka kuat dan pintar, juga memiliki hati. Jadi, Shoyo tidak perlu malu atau takut mengakui pada anak-anakmu bahwa kita ini gokudo."

"Kau ingin anak-anakku jadi penerusmu dan Shinsuke-san?" Hinata menyahut skeptis.

"Kalau mereka mau." Osamu menukas. "Mereka bisa jadi apapun yang mereka mau. Sebagai orang dewasa, kita hanya perlu melindungi, merawat dan mendidik mereka dengan segala yang kita bisa."

Osamu mengusap perut Hinata, lalu memberikan ciuman lembut di perutnya.

"Hei, kalian yang di dalam sana..." katanya dengan nada hangat seorang kakak kepada adik-adik kecil. "Aku sudah mencintai kalian bahkan sebelum kalian lahir. Berbahagialah."


A/n:

Khlysty: sekte aliran sesat yang lumayan populer di daerah-daerah bekas Uni Soviet. Ritualnya berfokus pada mencari kegiatan ekstatik guna mencapai kegembiraan dan berkah Tuhan. Author dapet inspirasi nama dan adegannya dari Peaky Blinders season 3.

[*] Authornya gagu bahasa Jepang, nama-nama yang dicantumkan diambil dari situs kanshudo. Jadi di aplikasi itu, author cuma ngetik nama apa yang author pikirin, terus situs itu nampilin kanji nama yang author cari. Ada cara baca umum dan cara baca alternatifnya. Setelah browsing berhari-hari, dapatlah ide-ide nama itu. Begituuuuuuu.


B.A.N.G.S.A.T:

Akhirnyaaaaaaa aku bisa update kembali! Dan daaan chapter ini kembali terlalu panjang, dan diputuskan untuk dipotong jadi dua bagian lagi. Kesel sih, pas lagi bagian editing, author berpikir ih Hinata nya kenapa murah banget sih sama siapa aja mau. Dan udah berkali-kali ngedit, dan inilah hasilnya. Tadinya author mau bikin adegan lemon-lemonan dua chibi badass itu tapi kokoro menjerit, TIDAAAK! Pokoknya harus ada angsty baper-baper antara Hoshiumi sama Hinata, jadi deh author kasih plot twist. Kesel juga, pas baca lah kok semua cowok napsu ama Hinata sih. Tapi yaudahlah ya. EMANG SIAPA YANG GA NAPSU AMA HINATA COBA?! AUTHORNYA AJA NAPSU AMA HINATA APAPUN GENDERNYA! /ehkeceplosan. Anggap aja chapter ini adalah salah satu fanservice buat para readers pengabdi Hinata Harem Supremacy seperti author diluar sana ya!

Yosh, sekian bacotan kali ini. Author mau ngedit part kedua dari chapter ini dulu ya!