Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+
Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.
Chapter 18: ○年○月○日(part 1)
Ia hanya seorang pandai besi biasa.
...Sebenarnya, tidak terlalu biasa juga. Ia sudah ada di tempat ini saat pertama kali membuka mata, tak ada ingatan apa pun sebelum itu. Meski ukuran tubuhnya seperti Issun-boushi, ia dapat melakukan pekerjaan pandai biasa secara normal, ditemani bara api dan uap air.
Dan seperti pandai besi mana pun, selama mereka memiliki alat dan bahan yang diperlukan, segala hal akan lancar.
...Setelah dipikir lagi, ia bukan pandai besi normal.
Pat pat pat.
Ia melambaikan kain putih kotak pada wajah manusia di depannya. Hal ini biasa terjadi jika inventaris ofuda yang ada menyentuh angka 0. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan dari benturan ujung tajam kayu ema, benda itu diganti dengan bahan kertas jimat.
Tangan manusia itu mengambil kain yang dikibaskan di wajah, mengeluarkan suara seperti terompet sebelum berkata, "...makasih."
Uguisumaru di ujung ruangan, duduk dan membuat satu garis melintang dengan kuas, satu tangan lagi menggeser gelas teh.
"Percobaan kelima puluh satu." Suaranya sekadar memberi informasi, tak kurang tak lebih. "Bagaimana?"
Mungkin karena rebahan, suara sang saniwa terdengar sengau.
"Lanjut. Sampai enam puluh."
Uguisumaru tersenyum sambil mengangkat bahu, lalu memberi gestur agar sang pandai besi kecil melanjutkan pekerjaannya.
Sang saniwa akhirnya bangkit ke posisi duduk lagi. Bibir masih mengkerucut dan alis mengernyit. Mata yang ujungnya sedikit merah, mengawasi tamahagane yang dilempar sang pandai besi. Lalu setelah beberapa kali memukul, besi tipis ia celupkan ke air. Di tengah kepulan uap, pandai besi kecil meletakkan bilah pedang di depan sang saniwa.
Tak ada rapalan untuk mengeluarkan energi spiritual, bahkan sampai ke hitungan bilah enam puluh.
Sang pandai besi sudah siap dengan sapu tangan baru.
"Heeei, sudah selesai belum?"
Uguisumaru baru membuka mulut ketika datang suara baru. Kepala Kashuu Kiyomitsu menyembul dari balik pintu yang digeser.
"Seperti yang kau lihat….Aruji kita tampaknya sudah menyerah." Uguisumaru memberikan senyum pasrah, telapak tangan mengarah pada sang saniwa.
Yang ditunjuk sedang bergumam 'rate up is a lie…' dengan nada sendu.
Kashuu mengangguk, "bagus! Aku bisa bawa dia sekarang."
Sang saniwa mengernyit dari balik sapu tangan, memberi pandangan kesal pada uchigatana itu. Sudah tahu usahanya mencari pedang baru gagal, malah dibilang bagus? Belum selesai sang saniwa menggerutu dalam hati, kedua tangannya sudah ditarik sampai ia bangun.
"Hoi!"
"Aruji lupa ya, sudah janji mau temani aku ke kota?"
"...Oh."
Kashuu berdecak, untung saja dia yang datang mampir ke ruang penempaan.
Bisa-bisa rencana mereka semua hari itu kacau kalau orang ini tidak ke kota.
Sesudah sang saniwa diseret pergi, hanya ada Uguisumaru dan sang pandai besi kecil di dalam ruangan itu.
Uguisumaru juga hendak pergi setelah membereskan gelas dan teko teh yang ia bawa, ketika bayangan seseorang menutupi sumber pencahayaan ruangan.
"...Hm?"
.
.
Terkadang ada suatu hal yang tak akan pernah terpikirkan hingga seseorang mengungkitnya.
Bagi Honebami Toushirou, kata-kata yang baru saja diucapkan Monoyoshi adalah salah satunya.
Ia sempat merasa salah dengar, "...Apa?"
Monoyoshi Sadamune mengerjapkan mata. Kedua tangannya setengah berhenti dari kain dalam ember kayu. Mereka berdua dan Imanotsurugi sedang membersihkan area aula makan.
"Ya? Aku penasaran dengan nama Aruji-sama."
Oh, dia tidak salah dengar.
Honebami sedikit menengadah, "...pertanyaan bagus."
Monoyoshi mengeluarkan suara 'eh' kecil.
"Lho, Honebami juga tidak tahu?"
Honebami menggeleng.
Imanotsurugi yang tak jauh dari mereka juga mendengar hal itu. Larinya lebih cepat dari mereka, sehingga bagian yang dibersihkan tantou itu sudah selesai.
"Aruji-sama itu ya Aruji-sama!"
"Bukan, maksudku, nama aslinya. Seperti nama kita!"
Monoyoshi dan Imanotsurugi saling memiringkan kepala, bingung dengan hal yang mereka bicarakan.
"...Apakah sepenting itu?" Tanya Honebami. "Mengenai nama asli Aruji?"
"Ah, aku hanya penasaran saja…" Monoyoshi tampak merasa bersalah. "Aruji-sama kan tahu nama kita semua, tapi kita tidak tahu namanya selain 'saniwa'..."
Monoyoshi hanya murni penasaran, tidak ada maksud apa pun dalam pertanyaannya tadi. Jika pikiran Honebami saja sudah bergerak ke sana, ia tak tahu apa yang ada di kepala Imanotsurugi yang tampak mengernyit.
….Namazuo lebih tanggap soal suasana yang seperti ini.
"Aruji memang orang yang seperti itu. Entah apa yang ada di kepalanya. Tapi," Honebami lebih mengarahkan perkataannya pada Imanotsurugi, "alasannya pasti sesuatu yang diluar dugaan."
"Umm…? Contohnya?" Imanotsurugi kembali memiringkan kepala.
Honebami memutar otak dengan keras, tadi ia hanya berusaha merubah suasana dan berkata seperti itu.
"...Malu karena namanya aneh?"
Hening.
"...hfft!" Imanotsurugi mulai tertawa. "Bisa jadi!"
Monoyoshi melemparkan pandangan lega, Honebami hanya mengibaskan tangan tanda 'tak masalah' pada tatapan penuh terima kasih itu.
"Seingatku, kita semua langsung memanggilnya seperti itu." Honebami merasa itulah kesamaan mereka semua, selain fakta bahwa mereka toudanshi….Tidak, ada satu yang memiliki awal yang berbeda.
"Tapi kalau masih penasaran," kata Honebami, "mungkin kamu bisa tanya Yamanbagiri Kunihiro."
"Oh?"
"Benar juga!" Imanotsurugi mengeluarkan suara eksklamasi, memukul kepalan tangan pada telapak tangan satu lagi. "Kunihiro-san kan toudanshi pertama honmaru kita!"
.
.
Ia seorang toudanshi, dan ia tidak takut pada bilah besi lain… Kecuali pisau dapur yang nyaris diacungkan Shokudaikiri Mitsutada padanya.
"Oh, Mutsunokami!" Mitsutada segera menarik tangannya, tertawa gugup. "Maaf, maaf, kupikir siapa."
"Ahahaha…!" Sang uchigatana balas tertawa gugup. Saking jarangnya, ia lupa bagaimana aura serius dari tachi itu kalau sudah menyangkut persiapan makanan. Yah…. Salahnya dia sendiri sih, tangan otomatis bergerak melihat makanan bertebaran di atas meja dapur.
Ishikirimaru yang masuk dari ruangan sebelah, datang membawa satu bakul kayu raksasa.
"Ah, kalau kau cari makan siang, bukan yang di situ."
"Ooh, ini buat nanti malam?" Kalau ia berpikir seperti itu lebih masuk akal, pesta nanti malam butuh banyak makanan untuk seluruh penghuni honmaru. Tak menungggu dijawab, Mutsunokami sudah berkomentar lagi dengan antusias setelah melihat yang dibawa oleh Ishikirimaru. "Untuk sushi? Wah, pesta besar! Ada sake juga dong?"
"Tentu saja." Mitsutada sudah kembali bekerja, tapi kepalanya menggangguk penuh semangat.
"Mutsunokami-dono, boleh tolong geser semua nampan itu ke sini?" Ishikirimaru mulai mengamankan masakan yang selesai dibuat agar tak ada toudanshi lain yang bertingkah seperti tangan Mutsunokami.
"Baiklah~"
"Pekerjaanmu bagaimana? Sudah selesai?" Tanya Mitsutada.
"Aman terkendali! Setelah Aruji dan Kashuu pergi, halaman ruang makan sudah dihias sesuai instruksi Kasen!" Mutsunokami menjawab dengan bangga, lalu teringat sesuatu. "Ah, masih ada rencana cadangan itu sih. Mau dilakukan juga?"
"Yang mana? Rencana cadangan kita ada banyak."
"Ituu… bawa Monoyoshi keliling honmaru agar cuaca bagus sampai nanti malam?"
"Siapa yang mengusulkan?! Kayaknya cara kerja 'keberuntungan' bukan seperti itu…"
.
.
Kedua tangan mereka penuh membawa barang. Sang saniwa tak menyangka akan membeli sebanyak ini. Ia mengira jalan-jalan di kota hari ini akan seperti biasa, cuci mata saja dan membeli beberapa saja.
Ternyata Kashuu Kiyomitsu menyeretnya keluar masuk berbagai toko hingga langit mulai berwarna jingga. Yang lebih aneh lagi, semua barang yang mereka beli hari itu ternyata untuk digunakan sang saniwa sendiri. Kashuu tetap bersikeras menyuruhnya memilih sesuatu dan tidak akan bergerak keluar toko sampai ia membeli satu.
"...Udahan yuk?"
"Hmmmm." Entah kata-katanya didengar atau tidak, Kashuu hanya menjawab seperti itu.
Sang saniwa menghela napas, "kayaknya udah semua, masih ada lagi?"
"Aruji lagi bawa apa saja?"
Sang saniwa mengangkat dua buntalan kain di tangan kirinya dikelilingi tali yang mengikat guci sebesar lingkar pinggang.
"Satu set yukata ini, buku, arak."
"Rasanya ada kelupaan sesuatu…"
Tak hanya uchigatana itu, sang saniwa juga merasa melupakan sesuatu. Deadline laporan? Rapat? Hologramnya hari ini tidak muncul, seharusnya tidak ada janji atau acara apa pun hari ini...
Ia ingin memukulkan kepalanya ke guci ini, tapi dana untuk membeli arak khusus ini keluar dari kantongnya sendiri. Sangg saniwa hanya bisa memijit kening.
Kashuu juga mulai memeriksa barang bawaannya sendiri. Tak sengaja matanya melihat ke arah penjual keliling yang sedang duduk-duduk di pinggir jembatan.
"Aah, Itu dia!"
"Kanzashi? Aku tidak pernah pakai—"
Untuk kesekian kalinya hari itu, Kashuu Kiyomitsu menjawab;
"Sudahlah, pilih saja."
"..."
.
.
Langit jingga hampir menjadi biru gelap ketika sang saniwa dan Kashuu kembali ke honmaru.
Kashuu dapat melihat bagaimana sang saniwa mengernyit, sebelum menetralkan kembali ekspresinya.
"Sepi sekali?" Komentar sang saniwa pada halaman depannya yang hanya terisis suara derak kerikil.
"Santai sedikit, aruji. Tidak ada masalah apa-apa kok."
"Oho? Kashuu Kiyomitsu-san tampak yakin sekali?"
Kashuu tak menjawab, hanya memberi seringaian lebar sebelum mendorong sang saniwa untuk bergerak.
"Ayo, ayo, cepat bersih-bersih."
"Hei, kita harus taruh ini ke dapur dulu—"
"Tidak perlu, taruh di kamarmu saja."
"Eish, nanti Manba mengira ini arak simpananku— heeeiii, berhenti mendorongku!"
.
.
.
