Warning !
Memuat konten untuk umur 18 ke atas,
oOo
Disclaimer
Naruto © Masashi Kishimoto
.
tomorrow, at sunrise...
oleh oreoivory
oOo
Sasuke mendesah malas melihat kegaduhan yang dibuat teman-temannya. Dia sudah melihat ke dalam tong bir dan langsung tahu kalau makhluk-makhluk yang mengambang bukanlah hewan sungguhan. "Ini palsu." Katanya, berusaha tidak memutar mata, tapi dia tidak tahan untuk tidak memukul. Naruto yang paling dekat dengannya menjadi sasaran. Sasuke memukul belakang kepalanya dengan keras. "Dasar tolol!"
"Palsu? Berarti ada yang mengerjai kita! Siapa yang berani—" Suigetsu tidak menyelesaikan kalimatnya begitu kesadaran menghantamnya. Bukan hanya dia, tampaknya yang lain juga sudah menyadarinya.
Sasuke langsung mencari keberadaan Sakura, yang tidak ada di tempat dia meninggalkannya. Dia hilang, sudah pergi. Sasuke beralih mencari Ino, yang juga tidak diketahui keberadaan sosoknya. Nah, seratus persen semua yang terjadi adalah ulah mereka.
Sasuke mendengar Karin dalam keadaan sadar tidak sadar, mengeluarkan berbagai macam makian dan umpatan. "Diam Karin!" Seseorang berusaha meredam gadis itu. Sasuke tidak peduli sekarang, meskipun dia tidak suka ada yang mengumpati pacarnya. Musik sendiri sudah berhenti, tidak tahu siapa yang melakukannya.
"Astaga, temen-teman! Lihat itu!" Juugo mengintip dari jendela, arah pandangannya meraih atensi mereka semua. Juugo kemudian menggeret tirai-tirai ke tepian, agar yang lain bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di luar sana.
Mobil-mobil mereka dilapisi, dibebat plastik, melingkari seluruh badan mobil, seolah mobilnya baru keluar dari toko dan dibungkus rapi untuk menghindari debu yang bisa menempel. Motor-motor diikat satu sama lain, melilit dari roda ke stang menyambung ke motor yang lain dengan pola yang sama. Akan butuh waktu yang lama untuk menyingkirkan plastik dan tali agar mereka bisa menggunakannya. Shimamaru jadi mengerti kenapa Ino dan Sakura butuh waktu lama untung hadir di pesta.
Ada papan hitam sebesar tiga meter dipalang di halaman parkir. Papannya hampir tidak terlihat karena menyaru dengan gelapnya malam, tapi, 'mené, mené, tekél ufarsin' ditulis dengan cat semprot berwarna putih tentu adalah pemandangan yang mencolok. Ingatkan Sasuke untuk mencari artinya nanti.
Tepat saat mereka masih mengaggumi maha karya Sakura, terdengar bunyi dentaman mengirimkan getaran melalui kaca-kaca dan dinding serta lantai bangunan. Suaranya merobek keheningan malam. Sebagian dari mereka juga melihat bumi menyemburkan tanah. Jaraknya jauh dari rumah naruto, ada di bukit tempat naruto biasanya berjemur.
"Fuck!" Naruto spontan menyumpah ketika halaman rumahnya baru saja meledak seperti baru saja dilempari granat. Sasuke pikir mungkin itu memang granat. Sasuke pernah dibawa kakeknya jalan-jalan melihat camp militer tentara angkatan darat dan melihat sejumlah latihan mereka. Karenanya Sasuke yakin yang barusan itu ledakan granat. Hanya Tuhan yang tahu darimana Sakura mendapatkan granat.
"Aku tahu Sakura menakutkan! Tapi ini sangat parah," gumam seseorang, entah siapa.
Semua orang jadi menatap Sasuke. Sasuke sudah tidak bisa lagi bersembunyi memang. Dia akan meminta maaf sekarang. Dia meraih ponselnya, dan melihat ada pesan dari Sakura.
Sedang dalam perjalan, aku tunggu di kamarmu.
Pesan yang singkat, tapi mengirim getaran dingin ke tubuh Sasuke. Dia mengenyahkan ketakutannya, berjalan pergi meninggalkan rumah. Mobilnya adalah satu-satunya yang selamat dari musibah itu. Mungkin Sakura sengaja, supaya Sasuke bisa pergi menemuinya. Sasuke adalah siksaan terakhir dan merupakan makanan penutup.
Perjalanannya dipenuhi teror yang amat nyata. Bukan seperti jenis ketakutan yang sebelumnya. Jelas mereka akan segera berakhir malam ini. Kenyataan itu mengirimkan sengatan rasa sakit ke hatinya.
Rumah Sasuke sepi, bukan hanya karena ibu dan ayahnya sedang dinas ke luar kota, kakaknya juga bilang kalau ada urusan. Kamarnya terang dihamburi cahaya lampu. Sasuke tidak melihat mobilnya Sakura maupun milik Ino, tapi dia tahu Sakura ada di atas sana, menunggunya.
Sasuke masuk melalui pintu depan yang terkunci. Dia meraih kunci rumah di saku jeansnya. Bagaimana Sakura bisa masuk? Tentu saja gadis itu bisa melakukan apa saja. Sasuke tidak mau memikirkan cara yang dia pakai. Sasuke melesat melintasi kegelapan, berderap menaiki tangga. Sasuke bisa mendengar bunyi jantungnya yang menggedor hingga membuat telinganya sakit.
Tangannya berkeringat ketika membuka pintu. Sakura menyambutnya dalam keremangan cahaya. Dia tertidur di ranjangnya, memiringkan badan menghadap pintu dengan bersanggah tangan pada bantal. Gaunnya menyingkap ke atas memperlihatkan lebih banyak kulit.
Sasuke membeku di ambang pintu, tidak melangkah masuk. Sakura tersenyum melihatnya. "Tutup pintunya," katanya. Sasuke menuruti.
"Sakura, aku—" Sasuke membuka suara tapi tidak ada yang bisa keluar. Pikirannya kacau, semuanya berhamburan keluar mengosongkan otak.
Sasuke mengutuk. Ada berhari-hari, beberapa minggu, dan dia dengan bodohnya tidak menyiapkan penjelasan. Bagaimana memulai, bagaimana membentuk pembelaan, dan bagaimana meminta maaf. Dia tidak tahu.
Sakura bangkit dari ranjang, melangkah menyongsongnya. Sakura meraih Sasuke, mengalungkan lengannya ke leher, membelai rambut ikal Sasuke dengan gerakan seduktif. "Aku pergi soalnya terlalu kacau. Menarik sih, tapi aku gampang bosan. Jadi kuputuskan ke sini dan berharap kau bisa membuat segalanya jadi lebih asyik." Keriangannya entah kenapa terasa kelam.
"Sakura aku—" Sasuke coba mengatakan lagi tapi mulut Sakura membungkamnya, mengecupnya, mengecapkan, mencari-cari Sasuke. Sasuke tidak bisa jika tidak membalas. Lalu mulut mereka beradu, saling menyibak bibir satu sama lain, merasakan rasa masing-masing. Sakura meremas rambut Sasuke, merontokkan beberapa helai. Dia bersandar kepadanya, mencari pijakan. Sasuke merengkuh Sakura, menyelipkan tangannya ke punggung, menariknya dan menahan berat tubuh keduanya. Saat itu dia teralihkan, sesaat lupa pada apa yang dan akan dia utarakan.
Sakura melepaskan ciumannya saat kebutuhannya akan udara mengambil alih, tapi dia tidak menarik diri. Sesaat mereka berbagi detak jantung dan napas yang bersahutan. Sakura mengecupi leher Sasuke dan tulang selangka yang menonjol sebagai gantinya. Sakura menjalarkan jari-jarinya menelusuri bahu sasuke, kemudian tubuhnya, merasakan kulitnya yang panas dan otot-otot yang tidak rata di perutnya.
Sasuke memejamkan matanya, menjernihkan pikiran, mencoba keluar dari serangan manis ini. Sakura tidak memberi kesempatan. Jari-jarinya menemukan ujung celana jeans Sasuke. Dia melepaskan kancing, menarik resleting ke bawah. Tangannya menyelinap ke dalam dan menemukan milik Sasuke.
Sasuke tersentak, sebuah erangan lolos dari bibirnya. Akal sehatnya yang sedikit dia kumpulkan meronta membebaskan diri. Dia mencengkeram pergelangan tangan Sakura. "Jangan, Sakura." Napasnya tersengal. Ini salah, pikirnya. Bagian rasionalnya menggapai-gapai kesadarannya, tapi ini Sakura. Sakuranya. Dia menginginkan ini sejak lama. Mimpinya setiap malam. Surga yang selalu dia harapkan.
Cengkeraman tangan Sasuke tidak bisa menghentikannya. Terlalu lembut, Sasuke menginginkannya sebanyak itu. Sakura meneruskan, telapak tangannya menggenggam, menyelubungi, jari-jarinya menggelitik. Sasuke merasakan sakit, kebutuhan dan siksaan. Kemudian hasratnya menenggelamkan logikanya. Sasuke menyerah membiarkan Sakura melakukannya.
Sasuke mencengkeram keliman gaun Sakura karena tidak ingin menyakitinya. Dia meneguhkan diri ketika tangan Sakura terus bergerak. Dia memanggil Sakura dengan putus asa saat merasakan puncaknya datang dengan indah.
"Aku juga mau." Sakura merajuk. "Sasuke, jangan membuatku memohon."
Kesadaran Sasuke sudah menguap sepenuhnya sejak pelepasan. Yang tersisa kini adalah hasrat yang membumbung tinggi. Sakura yang memohon sama sekali tidak membantu. Sakura melihat mata Sasuke berkabut oleh nafsu.
"Sasuke."
Sasuke kemudian menyerangnya, menciumnya dengan membabi buta. Kali ini ada belitan lidah dan tuntutan. Ada kekasaran dalam gerakannya, tapi Sakura juga merasakan kelembutan dan kehati-hatian dalam waktu yang sama. Sasuke memberi jejak pada lehernya, menghisap tempat-tempat terbuka. Sakura menekan kepala Sasuke, mengarahkannya ke titik yang dia inginkan.
Sasuke terus mencengkeram bahan gaun Sakura hingga kusut. Dia ingin membebaskannya kemudian gaun itu pun robek. Sakura merasakan hawa dingin di tempat yang tidak dijamah Sasuke.
Sasuke membeku begitu matanya memerangkap apa yang dipakai Sakura di balik gaunnya. Payudara Sakura tersembunyi dengan lucu di balik bikini merah yang kelihatan tidak pas secara ukuran. Meskipun begitu dia masih memikat dan indah. Sayangnya situasi ini tidak membiarkan Sasuke untuk menikmati. Kengerian berkilat melalui mukanya.
Sakura menjatuhkan gaun yang telah tercabik. Dia tidak pernah merasa setelanjang ini di hadapan seorang laki-laki. "Kok berhenti?" Matanya berseri geli dengan mengejek.
Sasuke kehilangan kata-kata. Pikirannya sudah lama pergi. Hanya tinggal tindakan yang tersisa. Dia menjatuhkan diri menghantam lantai, Sasuke berlutut dengan tidak berdaya.
oOo
~Bersambung
oOo
Catatan Cerita :
Mené, mene, tekel urfasin : Tulisan di dinding istana Raja Belsyazar yang makna harafiahnya dihitung, dihitung, ditimbang dan dipecah. Juga merupakan sebuah frasa idiomatik yang melambangkan nasib buruk yang pasti akan segera datang. Bersumber dari (Alkitab, Daniel 5: 1-31) tentang keruntuhan Kerajaan Babilonia. 'MEʹNE berarti bahwa Allah telah menghitung hari-hari kerajaan tuanku dan telah mengakhirinya. TEʹKEL berarti bahwa tuanku telah ditimbang di atas neraca dan ternyata terlalu ringan. PARʹSIN berarti bahwa kerajaan tuanku telah diberikan kepada orang Media dan Persia.'
Catatan Author : Akhirnya ada yg sadar kalau nama Kabuto disebut dua kali sebagai teman Sakura dan sebagai anak yang pernah diculik di flashback Sasuke. Emang namanya sama. Aku mau pake nama yang sama karena stigma fanfiction dari dulu satu nama merujuk pada satu karakter. Padahal realitanya banyak org punya nama yang sama. anyway masih membutuhkan kritik dan saran :)
