Denting musik box menggema dalam keheningan. Suara syahdu yang terdengar bisa menentramkan hati. Melodinya sedikit terusik oleh sebuah isak tangis. Suaranya terdengar lemah, namun statis, seolah tidak ada luapan emosi yang timbul di balik isak tangis itu. Dua suara itu pun membaur di tengah sebuah ruangan remang-remang yang dipenuhi oleh serakkan mainan.
Pemilik isak tangis itu adalah seorang anak laki-laki. Ia berada di sudut ruangan, menelungkup, menyembunyikan dirinya dalam bayangan. Menit demi menit berlalu, namun isak tangisnya tetap terdengar.
Bangkai anjing teronggok di dekatnya. Darah segar masih menggenangi sekitarnya. Beberapa butir peluru bersarang dalam tubuh tanpa nyawa itu. Di dekat bangkai itu ada sebuah pistol yang kemungkinan besar adalah benda yang mengeksekusi sang anjing hingga tewas.
Seseorang membuka pintu ruangan. Siluet cahaya mengusir kegelapan ruangan, menyoroti sudut di mana sang anak tengah menelungkup. Seorang pria memasuki ruangan, mendekati anak itu. Detak sepatunya menggema. Pria berjas lab putih itu berhenti tepat di depan anak itu. Ia hanya menatapnya lekat-lekat, tak sedikitpun berniat menegur anak laki-laki di hadapannya ataupun menenangkannya. Sorot matanya nampak tenang, seolah menemukan anak itu menangis adalah hal yang biasa baginya.
Pria itu akhirnya membetulkan letak kacamatanya lalu berjongkok. Ia tetap memilih untuk menunggu sampai anak itu menyadari kehadirannya. Menit demi menit berlalu sampai akhirnya anak itu menunjukkan wajah kusut dan sedihnya pada pria itu.
"Jangan menangis," Pria itu menenangkannya. Ia mengusap kepala anak itu.
"Dokter…"
"Kau terluka?" Ia melihat sekujur tubuh anak itu. Pakaian anak itu kotor berlumur darah. Sisi tangannya ada luka lecet, namun tidak parah.
"Luka ini akan kuobati,"
"Dokter…" Anak itu kembali terisak. Ia memeluk pinggang sang dokter lalu menangis. Dokter berkumis tipi situ mengusap kepalanya sambil tersenyum simpul.
"Tak ada yang bisa kau percayai di dunia ini. Bahkan sosok yang dianggap paling setia pun bisa menyakitimu," Dokter itu bicara sambil memperhatikan bangkai anjing di ruangan itu.
"Kau harus kuat," Ia mengelus pipi anak berambut pirang itu. Sosok dengan luka bakar di sekitar matanya menatap mata sang pengasuh. Riak manik birunya merefleksikan wajah pria yang sudah bersamanya selama enam bulan itu.
"Ingatlah bagaimana kau dibuang oleh keluargamu. Mereka tak menginginkanmu. Dan bagaimana perlakuan orang-orang yang menjualmu," Seluruh doktrin itu mengalun di pikirannya. Sampai saat ini ia selalu ingat oleh ucapan ayah angkatnya.
Mobil sedan hitam memasuki halaman luas sebuah rumah bergaya Jepang kuno. Dua orang berpakaian jas hitam mengerubungi pintu mobil. Dengan sigap mereka membukakan pintu mobil tersebut. Dua orang laki-laki turun dari mobil. Pria berjas itu membungkuk hormat untuk menyambut sosok tersebut.
"Ukoku-san, Nyoya besar sudah menunggu anda," Salah seorang yang membukakan pintu mobil bagian kemudi mempersilakan sosok berkemeja maroon itu untuk mengikutinya. Ukoku mengangguk mengerti lalu beralih melihat sosok yang bersamanya, seorang pemuda berkaos putih lengan panjang yang masih tercenung melihat sekitarnya. Ia baru membawa pemuda itu ke sini sehingga wajar saja kalau sosok itu terlihat terkesan dengan tempat yang mereka kunjungi.
Keduanya mengikuti langkah pemandu berjas hitam itu. Mereka memasuki rumah bak istana itu. Ukoku berjalan santai menelusuri koridor ruangan. Pemuda di sampingnya tak berhenti mengedari pandangan.
Mereka tiba di salah satu ruang dengan pintu yang tertutup rapat. Sosok berjas hitam itu membukakan pintu lalu mempersilakan dua orang itu untuk masuk. Isi ruagan itu ternyata adalah sebuah kamar yang luas dan mewah. Berbagai perabot mahal mengisi ruangan itu. Ukoku melangkah santai memasuki kamar yang didominasi oleh barang-barang kayu. Ia berhenti di depan sebuah cermin. Di depan cermin itu, ada seorang wanita cantik berusia sepantarannya yang tengah bersolek. Seorang pelayan wanita tua tampak menyisiri rambut hitam panjangnya.
Wanita berkimono itu menyadari sosok yang sudah ia nantikan kedatangannya. Ia berpaling lalu mendekati pria itu.
"Baik Gyokumen-sama," Pelayan renta itu membungkuk patuh saat sang wanita menyuruhnya berhenti. Ia beralih mendekati Ukoku. Pria itu masih terlihat santai menghadapi sosok yang kini mulai mengusap-usap kedua pipinya.
"Aku sudah menunggumu," Bibir berpoles lipstik merah itu berbisik sensual.
"Boleh aku meminta sesuatu padamu?" Ukoku berujar tenang menghadapi gestur rayuannya.
"Katakanlah,"
"Mengenai dokter Sanzo itu. Ijinkan ia berada dalam pengawasanku?"
"Kenapa? Ia mulai bandel-kah?" Gyokumen memilin-milin rambut pria yang jarang menyisir rambut itu. Ukoku hanya menaikkan sepasang alisnya.
"Apapun itu, lakukan saja," Wanita itu setuju tanpa banyak berpikir. Sebagai pimpinan organisasi, ia memang sudah sepenuhnya menyerahkan seluruh tanggung jawab pada Ukoku. Meski terlihat serampangan, Ukoku adalah sosok yang bisa diandalkan. Wanita itu amat mempercayainya.
Gyokumen agak berjinjit saat hendak memagut bibir kehitaman Ukoku. Yang bersangkutan langsung mundur selangkah. Wanita itu terlihat kaget dan kecewa. Walau bersikap pasif dan acuh, Ukoku tak pernah sekalipun menolak rayuannya.
"Ada anakku, di belakang," Ukoku berpaling pada sosok pemuda yang masih terpaku di ambang pintu. Wanita itu memicingkan matanya. Seorang pemuda terlihat berdiri canggung sambil menunduk. Gyokumen pun mengguretkan senyum untuk menyambutnya.
"Masuklah," Suara keibuannya mencairkan kecanggungan pemuda itu. Ia melangkah pelan mendekati dua sosok yang menantinya di dalam ruangan. Gyokumen merentangkan tangannya lebar-lebar masih dengan senyum di wajahnya.
"Dia ibumu," Ukoku memperkenalkan Gyokumen pada anaknya. Wanita itu sedikit kaget karena Ukoku tak pernah sekalipun mengatakan sesuatu mengenai pemuda berambut pirang itu. Namun, rasa cinta dan percaya melebihi segalanya, membuat Gyokumen menepis semua pertanyaan yang seketika muncul dalam benaknya.
"Ibu," Pemuda dengan luka bakar di sekitar mata kanannya itu mulai memanggilnya manja.
"Okaeri,"
Sorotan cahaya menerangi jalanan sekitarnya. Dengan itu, sebuah mobil sedan hitam akan lebih mudah lewat. Kabut sangat tebal sehingga mobil itu tak bisa melaju terlalu kencang. Jalanan yang dilewati memang mulus dan beraspal, namun banyak kelokan dan tikungan.
Mata sang sopir tetap awas melihat ke depan. Hari masih pagi dan ia juga sebenarnya masih mengantuk. Suasana di sekitarnya nampak sepi. Namun, Ia harus tetap berkonsentrasi melajukan kendaraannya.
"Senpai, biar aku yang menggantikan," Sebuah suara mengalihkan pikirannya. Seorang pemuda berambut merah itu berbicara padanya. Ia jadi nampak gugup.
"Tidak. Tidak perlu. Istirahatlah Kou," Ia menjawab cepat sambil memutar setirnya saat sang mobil berada di belokan tajam.
"Tapi, kau sudah menyetir sejak kita berangkat,"
"Tak apa. Aku suka menyetir," Ia menyeringai untuk mencairkan suasana. Pasti pemuda itu jadi tak enak hati saat melihat wajah seriusnya. Padahal, ia hanya berkonsentrasi saja.
"Senpai. Tepikan mobilnya. Biar aku saja," Seperti biasa, pemuda itu tetap bersikeras. Pria itu pun menghela nafas lalu tersenyum. Ia menoleh pada sosok itu.
"Tak usah," Jawabnya singkat dan mantap. Pemuda itu pun tak memaksa lagi.
"Sebentar lagi kita akan tiba, senpai," Pemuda itu mengecek smart phone-nya untuk melihat peta. "Sekitar empat puluh lima menit lagi,"
"Ya. Kau arahkan saja, Kou," Ujarnya.
Ada jeda sejenak. Sang supir langsung membuka percakapan.
"Ada kemungkinan kita sampai pukul tujuh. Masih cukup pagi. Apa kau yakin ingin melakukan penyelidikan sepagi ini?"
Kougaiji terdiam sebentar. Ia langsung mengambil file-nya lalu membacanya sejenak. "Ada banyak yang ingin kuselidiki di sana," Ucapnya. "Ada kemungkinan kelompok teroris itu berada di lokasi pegunungan. Dan, pemuda sanderanya juga ada di sana,"
Sudah sebulan ini ia dan Kougaiji melakukan penyelidikan terkait kasus seorang pemuda yang menghilang dalam pembunuhan satu keluarga. Kougaiji mulai menarik sebuah benang merah antara hilangnya pemuda itu dengan organisasi teroris yang saat ini tengah mereka buru. Ada kemungkinan pemuda itu tengah diculik oleh mereka dan menjadi sandera untuk menjadi tumbal berikutnya. Teroris tersebut memang kerap menggunakan wabah virus yang ditularkan dari tumbal tersebut. Kougaiji terus melakukan penyelidikan untuk memperkuat dugaannya itu, hingga akhirnya ia pun semakin yakin karena bukti-bukti yang ada.
Tiga hari lalu, tim kepolisian melakukan pertemuan yang membahas kasus hilangnya pemuda itu. Kougaiji membeberkan semua hasil analisa disertai oleh bukti-bukti yang telah ia dapat. Seluruh anggota polisi mulai mendapat titik terang dari hasil pencarian itu, sehingga mereka bisa melanjutkan misi pencarian sang pemuda. Ia pun diminta mendampingi Kougaiji untuk pergi ke sebuah tempat di daerah pegunungan. Karena dari hasil pencarian tim lain, ada kemungkinan kelompok teroris itu bersembunyi di sana.
Berbekal petunjuk dari seluruh tim kepolisian, Kougaiji dan Jien menguak misteri yang ada di dalam kasus tersebut. Cukup berat memang, karena antara satu kasus dan kasus lainnya sendiri saling berkaitan. Belum lagi kejadian penembakan di taman sekitar dua minggu lalu yang diduga juga ada hubungannya dengan teroris tersebut. Namun, mereka harus berhasil mengatasinya. Karena, sudah menjadi tanggung jawabnya serta seluruh kepolisian untuk melindungi masyarakat dari ancaman yang ada.
"Katanya ada salah satu toko yang diduga menjual bahan-bahan kimia kepada salah seorang anggota teroris," Ujar Kougaiji. Jien hanya diam mendengarkan sambil menyetir mobil. "Dan berada di daerah ini,"
"Jadi kita ke sana?" Jien merespon.
"Akan sulit menemukannya, senpai. Letaknya tersembunyi,"
Jien berpikir sambil melihat ke jalanan yang membentang di depan mereka. Tentu saja misi mereka kali ini tak akan mudah untuk diselesaikan. Mereka tengah berhadapan dengan kelompok teroris besar. Perlu kesabaran dan kecermatan untuk meringkus mereka.
Keduanya pun akhirnya saling membisu. Jien masih terjaga sementara Kougaiji tanpa sadar terlelap di kursi. Juniornya memang selalu memaksakan diri jika berhadapan dengan suatu kasus. Sampai-sampai pemuda itu tak memikirkan fisiknya. Sudah sebulan lebih mereka berusaha memecahkan kasus yang sama, sehingga Kougaiji tanpa sadar merasakan kelelahan luar biasa pada fisik dan mentalnya.
Jien membiarkan juniornya terlelap. Ia memacu mobilnya lebih santai agar rekan kerjanya itu tak terusk dari tidurnya. Cahaya mentari mulai merembes ke dalam mobil. Sebentar lagi mereka juga akan tiba di tujuan. Ia berharap menemukan petunjuk yang berharga. Misi ini harus selesai. Seberat apapun pengorbanan mereka.
