Title : Truth or Dare

Author : 8ternity

Rate : M

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Main Cast : - Vernon

- Seungkwan

Support Cast : find in story~

Summary : Truth or Dare? Seungkwan pilih truth? Seungkwan pilih dare? Pada dasarnya semua untuk Vernon. Karena Seungkwan cinta Vernon.

- VerKwan / HanKwan / BooNon couple –

Semua yang 8ter tulis murni fiktif kecuali beberapa hal yang akan diberi tahu di note. Dan mohon maaf kalau ada kesamaan dengan ff lain atau bagaimana, karena ini memang murni hasil imajinasi pasaran 8ter. Juga bagi pembaca yang merupakan homophobic, atau anak di bawah umur boleh undur diri/eh. Karena 8ter gak mau menerima review yang gak membangun seperti menyatakan rasa jijik atau bagaimana dan ini merupakan ff rate m yang mungkin berefek buat readers yang di bawah umur (tapi gak ngelarang keras ya, kalau mau baca silakan ).

Happy reading

Previous Chapter :

"Tidak… aku hanya memikirkan sesuatu…" Lalu suara lembut itu mengalun yang bergantian membuat Vernon tertegun dan secara tidak sengaja memunculkan Seungkwan yang begitu manis di ingatannya. Kenapa makhluk seksi itu muncul di saat yang tidak Vernon inginkan? Dia menepis pikiran itu, karena sekarang dia di sini untuk Chan.

Chan memegang lembut tangan Vernon dan Vernon terpaku untuk tingkah hangat itu. Benar-benar tidak bisa diduga. Perasaan Vernon terbolak-balik takjub dengan afeksi yang berbeda diberikan Chan dan Seungkwan padanya saat kedua makhluk itu menyentuh tangannya. Pada Chan, sebuah perasaan bahagia dan ingin melindungi terpatri di hatinya. Juga pada Seungkan tentu saja juga perasaan bahagia namun dengan perasaan ingin menggigitnya, merusaknya dalam malam panjang dan tentu ingin memuaskan nafsunya.

Persaaan yang sialan berbeda dengan kedua orang yang sama-sama istimewa.

Kemudian Chan memeluk tangannya dan bersender pada dadanya bersama kalimat pendek juga suara kecil…

"Perasaan ini… aku rasanya mulai suka denganmu, Ver…"

Kalimat ini… terlalu telak dan berhasil merusak tatanan hati yang sudah Vernon buat sedemikian rupa.

Vernon x Seungkwan

Truth or Dare

Chapter 16 :

Semuanya berlalu begitu saja, sudah 7 hari sejak Vernon mengunjungi aparetment-nya dan sudah berlalu 3 hari sejak selesainya proyek mereka. Seungkwan berkeliaran di kantor dengan pekerjaan-pekerjaan kecil dan Jihoon mengaduh-aduh di samping tempat duduknya. Seungkwan mencoba duduk dengan tentram dan berharap Jihoon tidak melihatinya karena serius hatinya sedang galau berat.

Pesan terakhir yang dikirim Vernon padanya adalah permintaan pada Seungkwan untuk mengirim foto 'sesuatu' dan dengan sialan tepatnya saat itu Ten yang seperti ibunya sedang berada di sisinya. Seungkwan serius sedang risau waktu itu, lalu Ten dengan cerdasnya sadar dan melarangnya karena katanya itu jelas-jelas tidak aman dan foto itu mungkin bisa tersebar kemanapun. Lalu Seungkwan memang tidak bisa mengirimkan apapun sampai-sampai pada detik ini Vernon tidak lagi menghubunginya bahkan hanya membaca pesan terakhirnya.

Sudah sejauh ini Vernon selalu menghindarinya, tidak ada percakapan akhir yang bagus dan tidak ada alasan pasti kenapa Vernon menghilang. Jihoon mendusel di sampingnya, menggeser kursinya mendekati Seungkwan dan membuat Seungkwan sangat menahan perasaan kesal di hatinya.

"Mau bantu aku mengurusi design ini? Aku belum terbiasa dengan yang satu ini…" Jihoon menunjuk-nunjuk komputernya dan menarik lengan Seungkwan membuat mau tidak mau Seungkwan menolongnya. Jihoon berbicara banyak padanya, dia bilang akan pulang cepat karena divisi mereka akan punya pesta setelah ini dan Jihoon tidak pernah meyukai pesta.

"Kamu akan datang?" Jihoon manyun-manyun dan dengan cepat mematikan komputer setalah dibantu.

"Soalnya aku mau pulang sekarang…" Katanya melanjutkan sambil memukul-mukul ringan pahanya seolah-olah ada debu di sana.

"Makasih ya, aku pulang duluan…" Ujarnya lagi karena Seungkwan tidak meresponnya dan satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah menepuk ringan bahu Seungkwan.

Lalu Seungkwan pikir mungkin pilihan bagus baginya untuk mencoba datang ke pesta itu. Toh akan jadi kebetulan yang sangat memungkinkan kalau dia bisa bertemu Vernon di sana. Karena rasa rindunya mendesak, sakit sekali rasanya karena bahkan Seungkwan memimpikannya dalam tidur, mengecek smartphone-nya hampir setiap waktu, lalu berdandan dengan baik setiap ke kantor. Tapi saat tahu Vernon bahkan tidak pernah menghubungi, yang bisa Seungkwan pikirkan adalah apakah tidak pernah Vernon sekalipun merindukannya? Tidak pernahkah pula Vernon berkeinginan untuk menguhubunginya? Atau apakah Vernon menghabiskan waktu bersama Chan akhir-akhir ini? Apakah Chan sudah mengalihkan semua perasaannya? Apakah Vernon tidak pernah lagi memikirkannya?

Pertanyaan-pertanyaan ini jelas tidak akan menjawab dirinya sendiri. Jadi Seungkwan akan menjadi tidak penurut hanya untuk kali ini karena dia tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang berpikir kalau hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.

.

Pestanya bagus atau bisa dibilang lumayan karena mereka semua bisa berbincang dan suasananya baik karena tidak terlalu berisik dan tidak ada minuman dengan kadar alkohol tinggi di sini. Seungkwan celingukan dengan gelas tinggi berisi wine berwarna merah keunguan di tangan kirinya. Gayanya mirip seseorang yang sedang mencari tumpangan dipinggir jalan. Lalu alisnya mengkerut dan matanya agak sendu saat jelas-jelas tujuan utamanya ke pesta ini adalah untuk melihat Vernon. Kemudian Vernon tidak pernah muncul lagi setelah kehadirannya di awal pesta bersama pidato pendek ucapan selamat dan ungkapan kebahagiaannya karena proyek mereka berjalan lancar.

Seungkwan memutuskan untuk pulang dan menghabiskan waktu galaunya dengan baik di kamar apartement-nya sehingga dia pergi begitu saja dan hanya bergumam mengatakan terima kasih dan senyuman kecil membalas sapaan rekan-rekan kerjanya yang sebenarnya kebanyakan merupakan ucapan selamat untuk kesuksesannya pada proyek dimana dia berkontribusi di dalamnya. Lalu dengan luar biasa anehnya Seungkwan melewati mereka dengan sangat cepat dengan langkah yang terantuk menuruni tangga tapi kepalanya menunduk dan bibirnya tetap tersenyum kecil.

Dia menuju mobilnya dan mendengus di dalam sana bersama dengan bibirnya yang dikulum dan terlihat seperti senyuman malu-malu. Laki-laki cantik itu memakai sealtbelt-nya masih dengan dengusan kecil dan matanya jauh lebih sendu dari sebelumnya.

.

Seungkwan melepas dasinya dan berjalan gontai ke keranjang baju kotor lalu dengan nyamannya. Setelah melepas satu-persatu bajunya dia berkeliling kamar, kesana-kemari, mangambil barang-barangnnya dengan tubuh yang hampir bertelanjang sepenuhnya.

BAAM!! BAAM!!

Seungkwan hampir terduduk saking kagetnya pada suara gedoran sekeras itu dan sudah ingin melempari pintu apartement-nya karena kebisingan ini.

"KWAN!! SEUNGKWAN BUKA!!" Itu Vernon, Seungkwan jelas-jelas bisa menebaknya dari suara teriakan itu.

Seungkwan bergerak cepat mengambil serta memakai jubah mandinya dan melesat cepat keluar kamar menuju pintu karena itu seseorang yang dia tunggu sejak beberapa waktu terakhir. Tangannya membuka pintu namun langsung menahan nafas, menahan rasa khawatir dan menahan rasa rindu.

Vernon berdiri di depannya dengan gontai, pandangannya pias dan tubuhnya bau alkohol. Hidung Seungkwan mengkerut karena baunya yang luar biasa menyengat padahal Seungkwan ingat betul kalau Vernon tidak benar-benar mampu minum alkohol dan sekarang Vernon sebau ini? Sebanyak apa dia minum?

"Ver... Ver…" Seungkwan menarik wajah Vernon untuk melihat bahwa Vernon terengah, matanya setengah terpejam dengan wajah yang memerah.

"Kau minum berapa banyak, hah? Lalu siapa yang mengantarmu kesini?" Seungkwan mempertegas suaranya dan mengguncang bahu laki-laki lemas di depannya meminta jawaban yang sama tegasnya. Tapi yang dia dapatkan hanya gumaman kecil dengan gestur jari yang bilang dia minum sedikit juga gerakan terantuk-antuk menunjuk dadanya yang bilang dia bawa mobil sendiri.

Seungkwan ternganga pada perasaan tidak percaya tapi dia tidak punya celah apapun untuk menampik itu dan dengan gerakan cepat menarik Vernon untuk masuk. Kemudian mendudukkan si bos pada kursi ruang tamu dan mengambilkannya minum. Vernon sudah lemas dan bersandar dengan kesadaran yang sangat diragukan.

Seungkwan memberikan gelas pada kedua tangan Vernon dan menggenggamnya erat sebelum menyuruhnya untuk minum. Vernon mengangguk-angguk dan minum sedikit demi sedikit tapi menghabiskan hampir setengah dari gelasnya yang langsung Seungkwan ambil karena Vernon nampak sekali tidak akan bisa menghabiskan minumannya tapi tetap ingin minum karena disuruh.

Kemudian Vernon memeluknya dari belakang dan itu serius membuat Seungkwan terkejut tapi merasakan rasa hangat yang rasanya sudah lama tidak dia rasakan. Vernon mendusel padanya hingga Seungkwan pening dengan bau alkohol tapi tidak berniat melepasnya sedikitpun lalu Vernon menggingit lehernya dan dengan lancang berbisik.

"Aku sedang butuh sex…" Dan Seungkwan terpaku dalam keinginan yang sama saat Vernon menjejakkan kakinya di dalam apartement-nya tadi, jelas saja Seungkwan ingin langsung menarik Vernon menuju kamarnya. Tapi tentu itu beresiko mengingat hubungan mereka kurang baik-baik saja dan Vernon mengatakan itu dengan lugas padanya sehingga Seungkwan tidak akan menolaknya.

"Maunya kita lakukan dimana?" Seungkwan menundukkan wajah, menyembunyikan dirinnya yang bergetar dalam rasa ingin hingga Vernon menarik-narik jubah mandinya dan membuatnya setengah telanjang di tempat, di sini, lagi-lagi di karpet lembutnya.

Vernon menggeliat dan menegang melihat tubuh Seungkwan menyerah pasrah padanya, Vernon tahu bahwa Seungkwan benar-benar seleranya.

"Ssshhh.. Mmmhhh…" Seungkwan memanas pada posisinya, bergerak gusar saat jemari dingin Vernon memilin dan menyentuh putingnya.

"Ahhh Vernon… Uugghh…" Dia menghentak saat Vernon menjilatinya, aroma Vernon bersama alkohol benar-benar membuatnya lemah. Gairahnya tertarik dan itu terasa hampir membuatnya gila, dia ingin menarik Vernon dan menelanjanginya tepat pada detik itu juga. Tapi dia begitu pening menghadapi semua gairahnya.

Vernon menjilatinya dan menyedot tulang selangkanya sampai warnanya keunguan, Seungkwan suka itu. Rasa sakitnya membuat dia mendesah dan dia menekan Vernon menuju lehernya, meminta Vernon lebih banyak menghabisinya.

"Uuughh… kau harus menyodomiku ahhh... penismu harus sshhh… memasukiku… Verhhh…" Seungkwan menggeleng-geleng saat paha Vernon di bawah sana menggesek celana dalamnya, lidahnya terus menjilat dan nafasnya yang menggelitik syaraf gairahnya.

Ahhhh… Seungkwan berada pada penantian panjang pada hari-hari sebelumnya dan pada detik ini dihadirkan Vernon dengan segala hal yang memancing gairahnya. Dia meletakkan diri di antara kaki Vernon, terasa seperti dia meletakkan diri di sisi jurang. Sangat terasa ekstrim meski ini bukan yang pertama, namun terasa menggairahkan.

Seungkwan jadi ingin menyerahkan dirinya sekarang, menurunkan celana dan menungging untuk Vernon sehingga dia dengan cepat menghempas Vernon di sisinya dan menelanjangi diri dengan tergesa. Vernon mendesah di sampingnya dengan suara berat yang menggelitik titik terdalamnya dan penisnya mengeluarkan precum pekat karena dia memang tidak sekalipun menyentuh dirinya tanpa Vernon.

"Ugghhh… Verhh... Aku mau kamu menusukku... Tusuk aku hhh…" Seungkwan menungging dengan lemas, kewalahan dengan nafsunya. Vernon bangun dengan susah payah saat kepalanya terlihat sangat berat untuk diangkat.

SLAP! SLAP!!

"ANGHHH!! AAHH!!" Vernon menepuk keras dua kali pantat Seungkwan yang menonjol di depan wajahnya. Matanya pias menatapi lubang rektum Seungkwan yang terlihat terbuka beberapa kali, menyedot-nyedot dan berwarna merah muda.

Vernon menjilat bibirnya beberapa kali, menangani rasa gerah yang mulai menguasainya. Lalu telunjuknya bergerak begitu saja, mengusap perlahan pipi pantat Seungkwan dan membuat Seungkwan melenguh dengan nada tinggi dan dalam. Semakin dekat jarinya pada lubang pantat itu, makin tinggi pula suara Seungkwan dan itu membuatnya terkekeh dalam rasa senang.

"Ooohh… shit, aku mau ini…" Kata Vernon dengan suara beratnya dan melesakkan jarinya dengan begitu tiba-tiba tanpa peduli Seungkwan berteriak di depannya.

"AAHHH!! FASTERHH!! NGHHH!! NIKMAT SEKALIHH!! VERNON PLEASE FUCK MEEHHH!!" Dia mengocok lubang anus Seungkwan dengan kuat hingga teriakan laki-laki cantik itu berubah menjadi terdengar sangat nikmat.

Vernon menggeram untuk kesekian kalinya. Lalu dengan satu tangan melepas celananya asal, hanya sebatas pahanya lalu mengocok penisnya dengan satu tangan. Dia mendengus beberapa kali sebelum mencabut paksa jarinya dan bersiap memasukkan penisnya tanpa mau tahu Seungkwan yang terkejut dengan semua yang terjadi.

"Ver... Ahh... Berhenti… Kita perlu kondom dan tentu saja pelumas, okay?" Seungkwan berusaha berada dalam kesadarannya dan mengendalikan kondisi karena dia sungguh tidak siap untuk menanggung resikonya.

Hal berikutnya benar-benar membuat Seungkwan terkejut, saat tepat beberapa detik dari perkataannya Vernon menarik rambut belakangnya dan dengan gerakan acak mendekatkan diri mencoba berbisik pada telinganya.

"Apa yang kau khawatirkan Seungkwan? Kita akan sakit? Apa kali ini kau menyerahkan dirimu lagi pada bitch? Apa kau jadi lacurnya pelacur? HAH? Jawab aku…" Vernon menghentaknya dan Seungkwan tidak pernah menyangkal bahwa kata-kata itu melukai hatinya. Sangat-sangat sakit dan karena sakit di belakang kepalanya sungguh menyiksa, dia tidak punya pilihan lain selain menggeleng dengan kesadaran yang dia punya.

"Lalu kenapa? Ada apa? Tidak mau menerima spermaku? Tidak enak hah? Mana mulutmu? Kau ingin mencicipinya?" Vernon bergerak cepat, membalik tubuh lemas itu dan mengangkangi wajahnya.

Wajah Seungkwan banjir air mata, mulutnya meracau dan mengatakan dia tidak mau. Tapi hal itu jelas tidak akan didengarkam oleh seseorang yang mabuk berat. Vernon menekan pipinya, memaksa mulutnya menganga dan melakukan handjob di depan mulut Seungkwan. Seungkwan mendengung karena takut dan penasaran sedangkan Vernon menggeram sendiri dan memujinya dengan kata-kata tak pantas.

"Kulum ini pelacurku… hmmm.. kau selalu suka saat penis ini menggempurmu, kan? Kau akan suka juga kalau mulutmu terisi spermaku hmmm? Jadi sedotlah yang kuat, lakukan tugasmu." Vernon mengap-mengap saat Seungkwan setengah menangis memompa penis Vernon di mulutnya.

"OOHHH… Nikmat sekali.. Yahhh…" geraman itu kembali terdengar dan yang terlintas pada pikiran Seungkwan adalah memuaskan Vernon dan keinginannya untuk mendapatkan kembali Vernon miliknya yang dia kenal. Karena manusia kasar ini bukanlah Vernon.

Seungkwan mengulum, memompa dan menghisap penis Vernon selama hampir lima menit sebelum akhirnya Vernon bergumam bahwa ia akan datang dan menyembur dengan deras di kerongkongan Seungkwan. Seungkwan hampir menangis karena kesulitan bernapas tapi dia meneguknya dengan cepat, khawatir Vernon akan memarahinya jika dia muntah.

"Sekarang aku ingin mengisi yang di bawah… UUHH…" Vernon mundur dengan gerak lambat, membalik tubuh Seungkwan dengan sangat mudah dan menekan punggungnya.

"Ver, tu-tunggu... kita perlu kondom. Itu saja kumohon..." Seungkwan berbicara begitu halus dan terdengar serak. Tapi Vernon tertawa kecil dan memukul pantatnya sekali.

"Tapi aku tidak mau, aku mau sex tanpa kondom karena rasanya benar-benar berbeda. Ingat Kwan, kau miliku dan tubuhmu jelas milikku. Lalu aku ingin menghabisi lubang ini langsung dengan penisku dan membasahinya dengan spermaku." Vernon terdengar melenguh mengocoki penisnya dan Seungkwan hanya bisa bergerak-gerak gusar.

Vernon lelah dengan Seungkwan yang menurutnya sok jual mahal dan menolak penisnya, jadi dia memegangi pantat Seungkwan agar berhenti bergerak-gerak dan melebarkan pipi pantatnya.

"Ayolah sayang… Aku mau masuk… NGGHH!!" Kemudian itu terjadi begitu saja, Vernon memasukinya dan Seungkwan menangis dalam keterkejutan. Malam itu Vernon menghabisinya dengan semburan sperma tiada ampun yang meski terasa sialan nikmat tapi terasa seperti mimpi buruk.

Seungkwan menangis meminta berhenti hingga mereka menyelesaikan sex mereka menjelang jam dua dini hari. Sampai tubuh Seungkwan terasa pias karena kelelahan dan dia tertidur dalam tidur yang gusar.

.

Pagi ini Seungkwan terbangun dengan selimut menutupi tubuh, masih jam enam pagi yang berarti Seungkwan baru mendapatkan tidurnya selama empat jam. Tapi pada detik ini dia tidak menemukan tanda-tanda bahwa Vernon tidur bersamanya. Karpet tempat mereka melakukan sex-ini jelas bukan bercinta, karena Vernon memaksakan kehendaknya- terasa dingin dimana itu berarti bahwa Vernon sudah pergi sejak lama.

"Ver… VER!! VERNON??" Seungkwan memegangi kepalanya yang pening saat dia mencoba memanggil Vernon dan berharap mendapat sahutan. Sampai lima menit lalu berlanjut sampai limabelas menit kemudian tidak ada tanda-tanda dari kehadiran manusia lain selain Seungkwan di apartemen itu.

Seungkwan sadar, kalau Vernon meninggalkannya bahkan tanpa pesan sekalipun. Setelah dengan mudahnya menyembur banyak sperma, melecehkannya dan menghancurkan hatinya. Orang itu pergi, mungkin kembali pada pacar sungguhannya dan datang padanya hanya untuk sex. Apa Seungkwan setidak berharga itu?

Lalu dia menangis, dalam diam yang menghanyutkannya. Dengan lubang anus yang lembab, dengan perut kelaparan yang hanya terisi sperma Vernon, tubuh yang sakit, beberapa bekas ciuman dan sedikit bekas pukulan serta tentu luka pada hatinya karena kalimat yang Vernon lontarkan padanya. Semurah itukah dia? Sehancur inikah rasanya dimanfaatkan oleh orang yang dicintai? Sebelum benar-benar memahami kondisinya, wajah Seungkwan sudah benar-benar basah oleh air mata.

Kemudian dia teringat, beberapa hari yang lalu tentang pertengkarannya bersama Ten. Tentang betapa keras hatinya Seungkwan mempertahankan hubungan ini. Tentang seberapa percayanya dia pada Vernon. Hingga hari ini datang dan dia merasa bahwa dia mungkin telah membela orang yang salah.

Seungkwan terdiam di kursinya dengan pandangan nyalang pada smartphone-nya. Lalu seorang manusia di sisinya dengan gelas air di tangan kiri bergerak cepat menghimpitnya dan tersenyum kecil.

"Kenapa? Kenapa? Cerita, aku mendengarkan…" Katanya dengan suara bahagia. Senyuman orang itu-Ten- juga sama cerahnya dengan hari pertama mereka bertemu.

"Aku okay. Hanya sedikit merasa sedih, biarkan aku bicara sendiri kalau kau lelah dengan pembicaraan jenis ini… aku bingung…" Seungkwan berbicara dengan sudut mulut yang tersenyum kecil tapi Ten tetap melihatinya bersama wajah ceria, terlihat sangat ingin mendengar ceritanya.

"Ini soal Vernon…" Kata Seungkwan dengan suara kecil dan Ten mendengus disisinya tapi hanya meletakkan gelas di meja di depan mereka dan mulai merangkulnya.

"Kau tahu persis masalahku, dia jelas orang yang terakhir nge-sex denganku dan dia sudah berpacaran meski katanya mereka belum pernah melakukan sex."

"Lalu akhir-akhir ini kami kehilangan kontak, aku membiarkan ini. Membiarkan dia menghabiskan waktu bersama seseorang yang dia cintai. Tapi saat dibiarkan ada rasa rindu yang muncul. Aku sangat berusaha menahannya…" Seungkwan menatapi wajah Ten yang anehnya tetap senantiasa menatapnya meski dengan cara pandang yang mulai berbeda.

"Lanjutkan…" Pria mungil itu hanya mengatakan satu kata itu dan Seungkwan sudah buru-buru menyusun kalimat.

"Aku tidak tahu harus apa. Aku kasihan pada pacarnya. Pada satu sisi aku ingin keluar dari situasi ini, sangat menyiksa. Aku takut untuk jatuh cinta pada orang yang tidak tepat. Vernon mengikatku pada hubungan ini." Seungkwan mendusel di kursinya dan dia menunduk sangat rendah.

"Aku ingin sekali roasting, tapi aku kasihan padamu. Ijinkan aku memikirkan kata-kata baik." Ten menepuk bahu Seungkwan dan mendengus dengan pandangan mata yang tajam.

"Bagini, aku tidak begitu tahu kebiasaanmu selama ini, tapi menurut sudut pandangku hal ini termasuk selingkuh. Menurutku, apa yang kau harapkan dari seorang yang selingkuh dari pasangannya? Tidak menutup kemungkinan dia juga melakukan hal yang sama padamu." Ten berbicara dengan suara hati-hati dan meremas bahu Seungkwan dengan lembut, mencoba mencairkan suasana.

"Bahkan jika kau bertanya, adakah yang bisa kau lakukan agar tidak terlalu menyakiti dirimu sendiri? Hhmmm…" Ten melanjutkan dan meninggalkan Seungkwan pada perasaan takjub karena dia serius akan menanyakan hal itu tadi tapi Ten dengan jelas mendahuluinya.

"Jujur aku kurang tahu, karena aku tidak begitu mengenal Vernon. Kaupun juga."

Setelah pembicaraan itu berakhir, dalam hati kecilnya Seungkwaan dengan luar biasa bodohnya tetap memilih untuk mencintai dan mempertahankan hubungan ini.

.

.

.

TBC/END

Wkwk ragu nih bakalan masih ada yang ingatkah dengan cerita ini?? Udah kambek nih.. kangen gk?

Mau ngabarin author bakalan ganti nama pena guys TT, gk tau, baru nemu aja gitu nama yang pas.

Selamat hari raya Idul Adha ya para readersku~~ Kemarin update terakhir pas Idul Fitri, Sekarang Pas Idul Adha... maafin author yang selalu telat kambek TT

Sayang kalian dan pliss selalu jaga kesehatan kalian yaa~~ sampai ketemu lagi…

Makasih buat semuanya yang udah review, follow dan favorite…

Special Thanks To

BOOtyismine (guest) (I think, now the one and olny reader of Truth or Dare VerKwan Version that shows me the apriciate. Thank you sooo much)

Loveeee~~