VENGEANCE

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Park Hana, Kim Suho, Kim Minseok, Others.

Rated M

Mohon maaf untuk typo dan pemilihan bahasa yang berantakan, Padahal udah aku coba perbaiki.

Selamat membaca!

.

.

.

Bibirnya yang bengkak terkatup rapat. Matanya yang sembab memandang datar. Atasan piyama yang hanya di kancing asal, sisa-sisa sperma yang mengalir di sepanjang kaki telanjangnya, sama sekali tidak ia pedulikan meskipun dinginnya AC membuat tubuhnya sedikit menggigil.

Baekhyun berdiri sejak lima belas menit yang lalu. Menatap tanpa ekspresi wajah damai Chanyeol yang terlelap. Sebelah tangannya lalu merambat ke perut ratanya. Merasakan kerasnya bagian tersebut, dengan berbagai macam kalimat yang terbesit di kepalanya.

Sedetik kemudian bibirnya menyeringai tipis. Menyadari bahwa lelaki jangkung itu benar menginginkan bayi yang tengah di kandungnya. Terbukti dari perlakuan yang lelaki itu berikan terhadap semua keinginannya. Lelaki itu bahkan menyentuhnya dengan menggunakan perasaan. Baekhyun tidak bodoh untuk menyadari semua itu.

"Ternyata aku tidak perlu bersusah payah untuk membuatmu menginginkan bayi ini, Chanyeol." Bisiknya dalam hati.

Kemudian Baekhyun melangkah menuju pintu keluar dengan sebuah tekad untuk membalaskan semua dendamnya meskipun ia harus bersabar untuk beberapa bulan kedepan.

"Baekhyun,"

Baekhyun melirik sekilas Jongin yang memanggilnya, tanpa menghentikan langkahnya menuju kamar. Baekhyun tidak peduli dengan Jongin yang melihat keadaan tubuhnya yang kacau. Toh lelaki itu pun sudah pernah melihat langsung ketika Chanyeol memperkosanya saat itu.

Sesampainya di dalam kamar, Baekhyun segera memasuki kamar mandi dan mengisi bathub menggunakan air hangat. Sembari menunggu terisi penuh, ia mengambil sikat gigi dan menuangkan pasta gigi dalam jumlah banyak, bahkan sampai berceceran di lantai kamar mandi. Baekhyun menggosok giginya dengan kasar, bahkan beberapa gusinya terluka dan mengeluarkan darah. Setelah beberapa menit, ia lalu berkumur dan menggosok bibirnya kasar berkali kali sampai terasa perih.

Baekhyun seperti hilang akal. Segala sesuatu yang ada di tubuhnya terasa menjijikan. Itu lah mengapa ia menggosok tubuhnya dengan brutal setelah menempatkan dirinya di dalam bathub yang masih mengalirkan air dari keran. Kulit putihnya bahkan sekarang telah meruam merah. beberapa helai rambut terlihat mengambang di atas air, karena kuatnya ia menjambaki rambutnya.

Baekhyun kembali menangis, namun tanpa suara. Wajahnya ia tenggelamkan pada lipatan lututnya yang ia peluk. Bahkan suara Kyungsoo yang tidak berhenti memanggilnya karena sudah terlalu lama di kamar mandi, tidak ia hiraukan.

Lalu ketika suara langkah kaki Kyungsoo yang terdengar menjauh, Baekhyun pun memutuskan untuk keluar dari bathub dan memakai jubah handuknya, bersamaan dengan tumbangnya pintu kamar mandi karena dobrakan Jongin.

Baekhyun hanya menatap datar dua lelaki yang memasang wajah lega, sebelum melangkah menginjak pintu kayu di lantai begitu saja.

"Tidak perlu memasangnya kembali, biarkan saja kamar mandinya terbuka seperti itu." Ujar Baekhyun.

Jongin yang mendengarnya, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian membawa pintu kayu tersebut keluar dari kamar Baekhyun. Sementara Kyungsoo, lelaki itu segera menghampiri Baekhyun dan membantunya untuk mengenakan pakaiannya.

...

Ini adalah pertama kalinya Baekhyun dan Chanyeol memakan sarapannya bersama. Tidak ada suara lain selain denting sendok yang bergesekan dengan piring. Keduanya duduk berhadapan dengan Chanyeol yang sesekali memperhatikan Baekhyun yang fokus dengan sarapannya.

"Aku butuh beberapa pakaian baru. Aku jengah melihat lemari yang dipenuhi tiga pasang pakaianku dengan kemeja dan sweater milikmu selebihnya."

Baekhyun adalah yang pertama kali membuka suaranya. Dingin suara tersebut ia ucapkan tanpa sama sekali melirik lelaki di depannya.

"Aku akan menyuruh Jongin membelikannya untukmu." Balas Chanyeol.

"Aku ingin ikut."

Chanyeol menatap Baekhyun yang kini juga tengah menatapnya. Sebelah alisnya terangkat melihat raut dingin di wajah manis Baekhyun yang tidak ada keraguan ketika menatapnya. Chanyeol lalu meletakan sendok dan garpunya di atas piring sebelum kemudian menjawab permintaan lelaki mungil itu.

"Jangan melangkah terlalu cepat. Hati-hati dengan lantai yang kau pijak. Dan biarkan Jongin yang membawa semua barang belanjaanmu." Ujar Chanyeol sembari beranjak dari meja makan.

Baekhyun terdiam dengan kedutan di ujung bibir menahan senyum. Semudah ini kah lelaki itu menuruti kemauannya selama ia menjaga baik kandungannya. Well, Baekhyun merasa menang mengetahuinya.

...

Lalu di sinilah Baekhyun berada. Pusat perbelanjaan terbesar di Gyeryong. Baekhyun melangkah dengan wajah berbinar di ikuti Jongin dan dua pengawal lainnya di belakang.

Dengan mengenakan masker dan topi, Baekhyun memasuki satu persatu toko yang menjual berbagai macam brand pakaian dengan harga fantastik. Beberapa tas belanjaan bahkan sudah tertengteng di kedua tangan pengawal Jongin. Namun sepertinya Baekhyun belum mau berhenti.

Lelaki itu masih melangkah kesana kemari, sesekali berhenti untuk mencicipi beberapa tester sajian yang di jajakan penjual. Nyatanya berbulan-bulan terkurung di dalam Mansion Chanyeol membuat benak Baekhyun meluap begitu saja ketika berhasil menghirup udara segar.

Saat ini Baekhyun tengah menjajal kursi refleksi dengan nyaman. Kedua irisnya terpejam, menikmati pijitan-pijitan ringan dari kursi tersebut. Dan tidak ada yang mampu Jongin lakukan ketika Baekhyun berucap; "Aku mau ini." Selain menggesekan Black Card yang di berikan Chanyeol pada mesin pembayaran.

Setelah berhasil membeli kursi refleksi yang di inginkannya, kini Jongin tengah duduk di samping Baekhyun di dalam bioskop. Menonton film disney yang tengah di tayangkan dengan tatapan bosan. Sedangkan lelaki hamil di sampingnya terlihat begitu menikmati film tersebut dengan sekantong popcorn dan segelas es coklat di pangkuannya.

Siapapun yang melihatnya tidak akan menyangka jika Baekhyun dan Jongin adalah majikan dan pengawal. Menilik dari Baekhyun yang cantik, dan Jongin yang tampan. Keduanya lebih terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah melakukan kencan.

Setelah hampir tiga jam menghabiskan waktunya di dalam bioskop, Baekhyun memutuskan untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan.

Keduanya memasuki sebuah restauran itali dan duduk di meja paling pojok dekat jendela. Ketika tengah asik menyantap makanannya tersebut, tiba-tiba Baekhyun berhenti dengan pandangan berpendar ke luar jendela. Jongin yang melihatnya sontak mengikuti arah pandang Baekhyun.

"Ada apa, Baekhyun? Ada yang mengganggumu?"

Baekhyun tersentak dan segera menatap Jongin. Ia menggeleng lalu kembali melanjutkan acara makannya. Mengabaikan Jongin yang diam-diam mengirimkan sinyal kepada dua pengawalnya.

Setelah selesai mengisi perutnya dan membayar beberapa pesanan take away yang Baekhyun pesan, mereka lalu memutuskan untuk kembali ke Mansion Chanyeol. Baekhyun berdiri di depan lobby di temani dua pengawal Jongin, sementara lelaki itu mengambil mobilnya yang terparkir di basement.

Setelah mobil Jongin berhenti di depan Baekhyun, Baekhyun lalu memasuki kursi depan setelah salah satu pengawal membukakan pintu mobil tersebut. Setelahnya, mobil tersebut melaju meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut.

Tanpa menyadari seseorang yang tengah memakai kembali kacamata hitamnya; "Ternyata benar kau, Baekhyun.".

...

Chanyeol menatap datar beberapa pengawal yang meletakan beberapa tas belanjaan Baekhyun, juga satu buah kursi refleksi yang di letakan di dekat jendela kamar Baekhyun.

Sedangkan lelaki mungil itu tengah mengeluarkan seluruh isi lemari pakaiannya dan melemparkan begitu saja ke atas lantai.

"Aku tidak ingin pakaian-pakaian ini ada lagi di lemariku."

Setelah mendapat kode dari Chanyeol, beberapa pengawal tersebut pun segera memungut pakaian yang berserakan di atas lantai dan membawanya pergi dari kamar Baekhyun. Meninggalkan Chanyeol sendiri yang kini melangkah menghampiri lelaki mungil itu.

Di cekalnya pergelangan tangan Baekhyun yang tengah sibuk dengan tas belanjaannya. Membuat lelaki mungil itu menoleh untuk menatapnya. Belum sempat Baekhyun menyadari keadaan yang tengah terjadi, Chanyeol sudah lebih dulu merengkuh pinggang Baekhyun dan melumat intens bibir plum lelaki itu.

"Aku tidak tahu apa yang tengah kau rencanakan, Baekhyun. Tapi selama kau menjaga dengan baik kandunganmu, mudah bagiku untuk menuruti semua ke inginanmu. Namun sekali lagi, ada harga yang harus kau bayar untuk semua keinginanmu yang terpenuhi itu. Dalam hal ini, satu-satunya cara kau membayarnya hanyalah dengan menyerahkan tubuhmu, Baekhyun."

Dan selanjutnya, Baekhyun tidak bisa menolak ketika Chanyeol mendorongnya ke atas ranjang dan mengukungnya di bawah tubuh kokoh tersebut. Mengesampingkan perasaan menjijikan di benaknya, yang Baekhyun pikirkan adalah klimaks dari pembalasan dendamnya terhadap lelaki jangkung itu. Meskipun ia harus menjadi jalang untuk Chanyeol sekalipun, toh Baekhyun tidak lagi memiliki harga diri sedikitpun untuk berdiri di atas muka bumi ini.

...

Waktu berjalan dengan cepat. Kini usia kandungan Baekhyun mencapai usia empat bulan. Perutnya yang mulai membuncit terlihat ketika lelaki itu hanya memakai kaos ataupun piyama. Terkadang, Baekhyun pun mulai merasakan pergerakan di dalam perutnya meskipun masih samar.

Tubuhnya mulai berisi di beberapa bagian seperti dada dan bokongnya. Berat badannya perlahan naik, seiring nafsu makannya yang melonjak. Tiga bulan terakhir ini juga, Baekhyun tidak lagi mengalami morning sickness yang sangat mengganggunya. Meskipun hormon kehamilannya terkadang mendorongnya untuk menginginkan sentuhan Chanyeol.

Selama itu pula Chanyeol selalu menuruti permintaan Baekhyun setidak masuk akal apapun keinginan lelaki itu. Dan selama itu pula, Baekhyun membuka kedua pahanya untuk lelaki itu nikmati.

"Bayinya tumbuh sangat sehat. Di usianya yang memasuki 16 minggu ini, janinnya sudah sebesar buah pisang. Beratnya mencapai 290 gram, dan panjangnya mencapai 16,5 cm. Pada usia ini, janin sudah tumbuh semakin besar sehingga tekanan pada perut, paru, dan kandung kemih akan Tuan Baekhyun rasakan."

Penjelasan dokter di dengar baik oleh Chanyeol. Kedua mata gelapnya menatap monitor kecil yang menampilkan pertumbuhan janin di dalam perut Baekhyun. Sementara Baekhyun hanya terbaring pasrah dengan perut buncitnya yang terekspos begitu saja.

Sedikit banyak, Baekhyun membenarkan perkataan dokter tersebut. Akhir-akhir ini Baekhyun merasakan nafasnya mulai terasa berat. Dalam sehari bahkan bisa tujuh sampai delapan kali Baekhyun bolak balik ke kamar mandi sekedar buang air kecil.

"Perutku selalu terasa keram ketika selesai bersetubuh."

Perkataan tiba-tiba Baekhyun membuat Chanyeol dan Dokter tersebut menatap ke arahnya. Chanyeol berdehem, sedangkan sang Dokter tersenyum mengerti.

"Hal tersebut wajar terjadi. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang di rasakan oleh sang ibu, sebaiknya berhubungan badan sedikit di kurangi. Meskipun sebenarnya tidak berbahaya untuk janin selama masih dalam batas aman."

Setelah pemeriksaan kandungan Baekhyun selesai. Keduanya kini keluar dari rumah sakit di ikuti Jongin dan dua pengawal lainnya.

Tiga bulan terakhir, Chanyeol memang rutin membawa Baekhyun untuk memeriksakan kandungannya. Meskipun hubungan keduanya masih sama seperti sebelum-sebelumnya, namun Chanyeol sangat menginginkan bayi yang tengah tumbuh di perut Baekhyun.

Lebih tepatnya, Chanyeol menyayangi bayi tersebut. Chanyeol kembali merasakan jatuh cinta ketika mengingat bayi yang tumbuh di rahim Baekhyun.

"Aku ingin ke toilet sebentar."

Chanyeol lalu menyuruh kedua pengawalnya untuk mengikuti Baekhyun, karena Jongin tengah pergi menebus vitamin di apoteker.

Chanyeol masih mengawasi Baekhyun yang mulai menjauh. Ia tidak lagi mengharapkan apapun lagi pada lelaki itu selain bayi di perutnya. Ia pun tidak lagi pernah mengungkit dendam yang kerap di rasakannya ketika mengingat pesakitan yang di berikan lelaki itu.

Terlepas dari ia yang menggilai tubuh Baekhyun, Chanyeol kerap merasakan dadanya menghangat ketika memandang wajah terlelap Baekhyun. Jantungnya kembali berdetak menyenangkan ketika Baekhyun memangil namanya di tengah desahan nikmat yang lelaki itu rasakan. Bahkan tidak jarang tingkah Baekhyun yang terkadang menggemaskan, tanpa sadar membuatnya ingin tersenyum.

Namun, berkali-kali Chanyeol menyangkal perasaannya. Ia meyakini bahwa perasaan tersebut adalah perasaan yang di timbulkan oleh bayi di kandungan Baekhyun. Tidak lebih. Lebih tepatnya, Chanyeol tidak ingin kembali jatuh cinta pada lelaki itu.

Sementara itu, dua pengawal yang mengikuti Baekhyun berdiri di depan pintu masuk toilet. Membiarkan Baekhyun menyelesaikan urusannya di dalam sana.

Namun beberapa detik kemudian, dua lelaki berpakaian serba hitam menyuntikan sesuatu kepada leher kedua pengawal tersebut, hingga jatuh tidak sadarkan diri sebelum sempat melawan.

Kemudian seseorang dengan kacamata hitam di wajahnya datang dan memasuki toilet dimana Baekhyun berada. Lelaki itu berdiri di depan bilik tempat Baekhyun berada. Suasana toilet yang sepi membuat ia menyeringai puas karena rencananya berjalan dengan sempurna.

Dan tepat ketika suara pintu di depannya terbuka, Lelaki itu membekap mulut Baekhyun menggunakan sapu tangan yang sudah di bubuhi obat bius.

Baekhyun sempat memberontak, namun tenaganya tidak seberapa di banding tenaga lelaki yang kini merengkuhnya dari belakang.

"Lama tidak berjumpa, Baekhyun." Bisiknya tepat di telinga Baekhyun.

Sedetik kemudian Baekhyun memejamkan matanya. Terkulai begitu saja di dekapan lelaki itu. Lelaki itu lalu membopong tubuh Baekhyun dan membawanya keluar melalui pintu lain, di ikuti oleh dua Bodyguardnya.

...

"Saya akan menyusul Tuan Baekhyun ke toilet, Tuan."

Jongin lantas bergegas ke toilet di mana Baekhyun pergi bersama dua pengawalnya. Ini sudah 15 menit, namun mereka belum juga kembali. Chanyeol yang tidak bisa menunggu lagi lantas mengikuti Jongin untuk menyusul Baekhyun.

"Brengsek," Umpat Chanyeol ketika mendapati dua pengawal di sana tergeletak tidak sadarkan diri di atas lantai.

Jongin lalu memasuki toilet tersebut dan mengecek satu persatu bilik yang ada di dalam toilet tersebut.

Nihil. Mereka tidak menemukan Baekhyun atau jejak apapun disana.

"Saya akan mengerahkan seluruh pengawal untuk mencari keberadaan Tuan Baekhyun, Tuan. Sekarang sebaiknya kita periksa CCTV untuk menemukan kemana Tuan Baekhyun pergi."

Setelahnya, mereka lalu mencari informasi untuk memeriksa rekaman CCTV di rumah sakit tersebut. Sesampainya di dalam ruangan pengawas, mereka pun memeriksa satu persatu kamera yang memperlihatkan kejadian lima belas menit sebelum Baekhyun menghilang.

"Itu Tuan Baekhyun!"

Chanyeol segera menatap tajam ke arah salah satu monitor yang menampilkan Baekhyun yang memasuki toilet. Dua pengawalnya terlihat berjaga di depan pintu masuk toilet tersebut. Namun sedetik kemudian dua lelaki berpakaian serba hitam terlihat menyuntikan sesuatu ke leher dua pengawal tersebut. Setelahnya seorang pria berkacamata hitam terlihat memasuki toilet, dan beberapa menit kemudian pria tersebut keluar dengan Baekhyun yang tidak sadarkan diri di gendongannya.

"Brengsek! Bagaimana bisa aku lupa bahwa lelaki itu masih berkeliaran di luar sana. Periksa kemana lelaki itu membawa Baekhyun!" Seru Chanyeol.

Mereka pun terus memantau melalui setiap kamera CCTV, hingga lelaki itu memasukan Baekhyun ke dalam mobil dan membawanya pergi entah kemana.

"Perjelas nomor plat mobil itu, dan segera lacak keberadaannya." Suruh Chanyeol.

Setelah menemukan data mobil tersebut, Jongin lalu bergegas untuk mencari keberadaan Baekhyun bersama beberapa pengawal yang ikut bersamanya.

"Oh Sehun," Geram Chanyeol.

...

Di sebuah ruangan serba putih itu, Sehun membaringkan Baekhyun di atas sebuah brankar rumah sakit. Kemudian mengikat kedua tangan dan kaki Baekhyun pada besi disisi brankar tersebut. Tidak cukup, Sehun lalu menyumpal mulut Baekhyun menggunakan sebuah kain yang di ikatkan ke belakang kepalanya.

Sejenak, ia pandangi lamat-lamat tubuh Baekhyun dari atas kepala hingga ujung kaki. Lalu pandangannya berhenti pada perut Baekhyun yang membuncit. Di singkapnya sweater milik Baekhyun ke atas, guna memperlihatkan perut buncit tersebut sepenuhnya.

Sehun mengarahkan tangannya pada perut tersebut. Merasakan pergerakan samar dari dalam perut Baekhyun.

"Jadi kau benar-benar tengah mengandung benih lelaki iblis itu, Baekhyun?" Ujarnya sembari mengelus pelan permukaan perut buncit tersebut.

"Kau terlihat baik-baik saja dengan keadaanmu saat ini, Baek. Apa kau memang menikmati hidupmu seperti ini? Aku bahkan kehilangan kekasihku karena lelaki itu." Lirih Sehun. Sebelah tangannya terangkat untuk mengusap kasar air mata yang keluar dari matanya.

Baekhyun terlihat mengernyitkan keningnya menahan pening. Sepertinya lelaki mungil itu telah sadarkan diri. Sehun yang melihatnya sentak tersenyum lembut, menunggu Baekhyun untuk benar-benar membuka matanya.

"Kau sudah sadar?"

Baekhyun mengerang tertahan. Irisnya sontak terbelalak lebar menyadari tangan dan kakinya tidak bisa di gerakan karena terikat. Dan yang lebih membuat Baekhyun terkejut adalah sosok Sehun yang tengah tersenyum di samping brankar tempatnya terbaring.

"Kau tidak mungkin melupakanku kan, Baek? Aku Oh Sehun, kakak iparmu. Ah, kurasa belum. Karena ayah dari bayi di perutmu itu sudah lebih dulu membunuh kakakmu sebelum aku menikahinya." Ucap Sehun penuh penekanan.

Baekhyun bergetar ketakutan. Jantungnya berdegup hebat. Lelaki di depannya ini bukanlah Sehun yang di kenalnya. Baekhyun tidak pernah berpikir akan bertemu kembali dengan lelaki itu, terlebih dalam kondisi seperti ini.

"Aku sudah mengawasimu beberapa bulan terakhir, Baek. Ah, mungkin kau tidak sadar jika aku melihatmu di pusat perbelanjaan beberapa bulan yang lalu."

Baekhyun mulai mengeluarkan keringat dingin. Tangan dan kakinya ia gerakan mencoba untuk melepaskan diri. Namun percuma, karena tali tersebut telah mengikat kuat kedua kaki dan tangannya.

"Kau takut padaku? Bukankah dulu kita sangat dekat? Kau bahkan percaya sepenuhnya padaku, Baek. Tapi, oh lihatlah adik kecilku yang manis ini. Kenapa wajahmu pucat seperti ini, hmm?"

Baekhyun memalingkan wajahnya ketika Sehun menyentuh pipinya. Nafasnya mulai memburu karena takut yang di rasakannya. Meskipun Baekhyun tidak tahu apa yang akan di lakukan lelaki itu padanya, namun Baekhyun tahu pasti bahwa Sehun akan membalaskan dendamnya kepada Chanyeol melalui dirinya.

"Emmptt..!!"

Baekhyun memekik tertahan ketika Sehun mencengkram kuat kedua rahangnya menggunakan satu tangan. Sedang sebelahnya lagi membelai wajah Baekhyun, menyingkirkan poni rambut yang menutupi kening lelaki mungil itu.

"Kau memang sangat cantik, Baek. Jika bukan Luhan, mungkin aku sudah jatuh cinta padamu. Itu kenapa si keparat Chanyeol begitu tergila-gila padamu. Dan, see.. Kau berhasil mengandung benih lelaki itu."

Baekhyun mencoba menggelengkan kepalanya. Demi Tuhan cengkraman tangan Sehun pada rahangnya sangat menyakitkan. Terlebih sebelah tangan Sehun kini bergerak mengelus perut buncitnya yang tidak tertutupi apapun.

"Emmppttt!!"

"Ada apa dengan tatapanmu itu, huh? Kau tidak mengijinkanku untuk menyapa keponakanku, hmm?" Sehun semakin mengintenskan usapannya pada perut Baekhyun. Bahkan kini tangan besar tersebut menekan cukup kuat perut Baekhyun.

"Hmmptt.. Hmmppttt!!"

Baekhyun semakin kuat menggelengkan kepalanya, hingga tangan Sehun terlepas dari rahangnya. Baekhyun mengerang sakit ketika tangan Sehun menekan-nekan perut buncitnya.

Baekhyun memang tidak menginginkan janin di perutnya. Namun ia juga tidak bisa membiarkan janin itu kenapa-napa. Ada perasaan yang begitu menyesakan ketika menyadari bahwa Sehun mungkin akan melenyapkan janin tersebut. Bahkan tangisan Baekhyun kini pecah menyadari hal tersebut.

Bukankah benar jika Baekhyun tidak menginginkan janin itu, lalu kenapa Baekhyun tidak ingin kehilangan janin tersebut?

"Kenapa menangis, Baekhyun? Kau takut aku akan membunuh bayi ini? Ah, tentu saja. Kau ibunya, kau tentu menyayangi janin ini. Tapi sayang sekali Baekhyun, aku tidak bisa membiarkannya hidup karena lelaki brengsek itu juga menginginkan bayi ini."

Setelahnya Sehun memundurkan tubuhnya satu langkah. Memberikan kode kepada wanita paruh baya yang sedari tadi berdiri di belakang sana untuk melakukan tugasnya.

"Aku tidak bisa berlama-lama karena lelaki keparat itu mungkin sebentar lagi akan menemukan kita."

Baekhyun menggeleng kasar. Tangan dan kakinya semakin ia gerakan dengan kuat, tidak peduli jika tali yang mengikatnya mulai melukai tangan dan kakinya.

"Emmmptt!! Hiks hiks.."

Baekhyun menatap Sehun yang menyeringai ke arahnya, dengan pandangan memohon. Berharap lelaki itu mau berhenti dan melepaskannya. Baekhyun pun membenci Chanyeol, ia juga ingin menggunakan janin di perutnya untuk membalaskan dendamnya pada lelaki itu. Namun tidak dengan membunuhnya.

Namun sekali lagi, semuanya percuma. Baekhyun tersentak ketika tangan kasar wanita itu menekan dan meremas kuat bagian perutnya.

"EEMPPPTTT.. HIKS EMMPPPTTTT!!!!"

Baekhyun menegang sedemikian rupa. Tubuhnya bergetar hebat dengan detak jantung yang nyaris berhenti berdetak. Kepalanya menengadah ke atas dengan kedua mata terbelalak sempurna. Jari-jari kaki dan tangannya terkepal kuat. Otot-otot di tubuhnya bahkan mencetak keluar dari balik kulitnya yang memerah.

Sakitnya luar biasa. Pesakitan yang di berikan Chanyeol tidak seberapa dengan rasa sakit yang kini ia rasakan. Sakit yang benar-benar tidak bisa di gambarkan.

"EMMPPTTT!!!"

Baekhyun menyentak kuat kepalanya ke samping. Dadanya membusung tinggi seiring semakin kuatnya wanita itu mengoyak permukaan perutnya. Baekhyun bahkan bisa merasakan celananya basah saat ini. Tangisannya semakin kencang menyadari bahwa ia tidak memiliki kesempatan untuk mempertahankan janin di kandungannya.

Baekhyun menyesal, kini Baekhyun sepenuhnya menyadari bahwa ia menginginkan bayinya. Baekhyun mencintainya. Selama ini Baekhyun telah di butakan oleh dendam dalam hatinya tanpa memikirkan perasaannya terhadap bayi di kandungannya tersebut.

"maaf,"

Bersambung..


Huweeee.. apa ini??????