Sugawara Koushi sudah sekitar 10 hari keluar dari rumah sakit. Melewati fase antara hidup dan mati, lalu sadar dan menjalani banyak pengobatan guna utuh kembali merupakan empat bulan terpanjang dalam hidupnya. Kini Sugawara menikmati makan siang di cafe bersama seorang sahabat, rekan seperjuangan dan cinta matinya. Sawamura Daichi mengaku pada negosiatornya bahwa mengurus Raven seorang diri membuatnya tersiksa. Tsukishima dengan kukuh memutuskan untuk kuliah di deus ex tenebris. Asahi dilantik menjadi direktur Karasuno Brewery, dan Ennoshita membantu sebagai sekretaris. Nishinoya dan Kinoshita melayani Daichi sebagai prajurit terdepan yang tersisa. Yamaguchi masih menjalankan tugasnya sebagai dokter seperti biasa. Yachi mulai kerepotan mengurusi arena balap seorang diri karena semenjak pasangan Johnny Blaze dari Raven lenyap, minatnya jadi semakin menjadi-jadi. Tidak ada kekuatan yang betul-betul menekan. Ditambah, semenjak perang itu Aoba Johsai kembali bertakhta di Shinjuku. Phantom Hawks tidak banyak memberikan perlawanan, malah terkesan tidak mau peduli lagi.

"Ada dimana Tsukishima sekarang?" tanya Sugawara.

"Tblisi." Daichi menjawab santai. "Dia ngotot mau masuk Ulster, tapi hasil tesnya menempatkannya disana. Dia bahkan memaksa panitianya mengulang tes. Setelah 22 kali mendapat hasil yang sama, Tsukishima pasrah. Dia akhirnya pergi ke Tblisi."

"Ah..." Sugawara menyesap kopinya. "Shoyo?"

"Dia dirumahnya. Selama Tsukishima kuliah, Kuroo mengirimkan Kozume Kenma untuk membantu kita sebagai negosiator. Dia tinggal dengan Shoyo. Sama seperti almarhum Miya, Kozume paham bagaimana cara mengatur dinamika arena balap liar. Sudah sedikit lebih baik sekarang. Sisanya, Izumi dan Koji yang menjalankan kulakan judinya saja."

"Ada kabar apa lagi?"

"Banyak." Daichi melirik jendela kaca.

Seorang anak laki-laki berjalan memasuki cafe bersama laki-laki dewasa tinggi yang wajahnya familiar bagi Sugawara. Bocah laki-laki itu menggeleng-geleng, berusaha menyingkirkan tumpukan salju yang tersangkut di kepalanya.

"Selamat siang, Sugawara-san." Ushijima Wakatoshi membungkuk singkat. "Selamat siang, Sawamura-san."

Keduanya mengangguk sopan.

"Kau belum mati hah, Kousshin?" Semi mempersilahkan bossnya duduk di sebelah Sugawara, dan ia sendiri memilih duduk di sebelah Daichi.

"Kudengar kau sempat koma juga, Eita-kun." balas Sugawara. "Kau mencurangi kematianmu lagi dengan loom of faith?"

"Memangnya kau tidak?"

"Semi." Ushijima membuka buku menu dan menunjuk sebuah nama. "Aku mau makan hayashi rice. Sama jus apel."

"Harus makan sayur. Pesan salad juga, tuan muda." omel Semi.

Ushijima mengangguk setuju. Setelah memesan, Daichi memandangi Ushijima dengan beragam pertanyaan di kepalanya. Bocah ini menelponnya dua hari lalu, bilang bahwa mereka ingin mengadakan negosiasi bisnis. Selepas perang di Tokyo empat bulan lalu, ketiga klan menghadapi kerugian besar. Phantom Hawks kehilangan daerah Shinjuku dan Chidoya yang sebelumnya mereka kuasai saat memenangkan Perang Kapak Baja. Kkangpae kembali ke kerajaan lamanya. Itachiyama kini bersahabat dengan kkangpae. Polisi dibuat buta oleh keonaran yang dibuat para kkangpae di rumah lama mereka. Raven sibuk memulihkan dirinya sendiri. Phantom Hawks bolak-balik kerampokan di beberapa gudang narkoba mereka. Ushijima memutuskan menurunkan produksi narkotika klannya dan beralih bermain saham sambil kembali pulih dari kekalahan. Selain kerugian materi, kehilangan beberapa petinggi membuat sang elang putih Yokohama kesusahan juga.

"Ushiwaka-san, diluar sana mereka menamai perang yang kita jalani sebagai Konflik 3 Langit." ucap Daichi.

"Aku dengar itu. Berlebihan sekali." balas Ushijima. "Sawamura-san, Semi memberitahuku kalau kau mau melepas blokade mengenai narkotika di wilayahmu. Boleh aku tahu apa alasanmu?"

"Tidak ada alasan khusus." Daichi menopang dagu. "Aku butuh uang. Kalau kau mau jualan di wilayah balapku, silahkan. Bayar saja upetinya."

"Kau yakin?" tanya Ushijima. "Bagaimana janjimu dengan Ikejiri-san?"

Mendengar nama itu, Daichi terbelalak.

"Ikejiri Hayato adalah sahabatmu. Salah satu pendiri Raven pada masa lalu." ucap Ushijima. "Dia berkhianat padamu. Dia membocorkan rahasia sabotase notaris kalian ke polisi atas perintah Phantom Hawks dengan iming-iming Falconibs, saat kita berebut chinatown Yokohama. Ikejiri-san menderita gangguan mental karena siksaan orangtuanya semasa kecil. Falconibs membantunya menghilangkan mimpi buruk berseri yang dialaminya sejak lama. Dulunya merupakan pembalap motor liar paling sukses di Yokohama, sampai akhirnya ia dipenjara. Perlakuan buruk teman-teman di sel membuatnya bunuh diri."

Sugawara menoleh mendengar penuturan Ushijima. Sugawara kenal dengan Ikejiri. Laki-laki yang mudah panik, tetapi baik dan sangat teguh. Saat itu, Raven masih merupakan gokudo yang menjalankan bisnis perputaran uang dan notari 'abu-abu' atas background pengalaman Sugawara dan Tsukishima. Saat itu, Daichi selalu pergi ke arena balap motor liar untuk menonton Ikejiri beraksi.

"Ah..." Daichi tersenyum sendu. "Dia yang menciptakan istilah Johnny Blaze. Kebanyakan baca komik Amerika. Ikejiri selalu bilang, kekalahan saat balapan itu menyakitkan. Dan satu-satunya cara menyingkirkan rasa sakit itu adalah dengan menuntut balas dan memenangkan balapan sebanyak mungkin. Spirit of vengeance yang menjadi karakter di dalam serial Ghost Rider keluaran Marvel, salah satunya adalah Johnny Blaze. Dibandingkan nama ghost rider, Johnny Blaze lebih terdengar keren."

Ushijima dan Semi saling berpandangan.

"Selama mereka masih saling menuntut balas, sakit yang dirasakan dari dendam tidak akan membunuhmu." Daichi mengutip kata-kata terakhir Ikejiri dalam surat perpisahannya. "Tetapi, menuntut balas itu adalah jalan tidak berujung. Seperti terus balapan tanpa tahu dimana garis finish-nya, tapi kalau kau berhenti, kau akan kalah."

"Dendam itu perbuatan yang kekanak-kanakan. Aku sendiri tidak percaya dengan dendam, sampai akhirnya aku melihat Shirabu dan Tendou dibunuh." ungkap Ushijima. "Lalu, aku berpikir. Membalas dendam cuma akan melahirkan dendam baru. Kalau kubunuh orang yang membunuh mereka, orang yang menyayangi orang itu akan datang padaku dan melakukan hal yang sama. Seperti lingkaran setan. Aku tidak mau menghabiskan waktuku berkutat dengan masa lalu yang tidak bisa diubah, sementara di masa sekarang dan masa depan, banyak hal yang masih bisa kulakukan."

Sugawara meilirik Semi. Mendengar kata perbuatan yang kekanak-kanakkan dari Ushijima yang baru berusia 10 tahun itu sangat menggelikan. Cara bicara Ushijima terdengar jauh lebih dewasa dari boss mafia manapun yang pernah ditemui Sugawara di Jepang.

"Ikejiri-san benar." katanya. "Mendendam itu seperti balapan di jalanan tiada ujung."

Daichi tidak membalas. Keempatnya dijeda hening karena si tuan muda boss Phantom Hawks tidak diperkenankan makan sambil bicara oleh negosiatornya. Ia menyantap makan siangnya dengan santai dan penuh tata krama sebelum melanjutkan pembicaraan mereka.

"Alasan kenapa kau melarang narkoba bukan karena Raven tidak punya backing dari kepolisian seperti Phantom Hawks, meski itu salah satunya." Ushijima kembali bertutur seusai makan. "Karena kau mendendam pada kami, Sawamura-san. Kau mendendam pada Phantom Hawks karena kau sedih, tidak punya seseorang yang bisa disalahkan atas kematian Ikejiri-san. Kecanduannya pada Falconibs membuatnya berkhianat. Lalu kau membuat teori konspirasimu sendiri."

Daichi cuma memandangi Ushijima tanpa berkedip.

"Sawamura-san." katanya lagi. "Kau mau membuat garis finish-mu sendiri setelah balapan diatas jalur tidak berujung. Buaya tambang sudah musnah. Oikawa sudah mati. Raja Neraka serta Kuroo Tetsurou si Harimau Hitam Kobe dan Crimson Tigress menjadi sekutumu. Phantom Hawks saat ini pincang karena Aoba Johsai kembali berjaya meski perang besar menghantam debut comeback mereka. Kau sudah menuntut balas. Semua dendammu sudah lunas. Tetapi tidak ada apapun yang kau dapatkan. Benar begitu?"

"Kau ini menakutkan sekali, Ushiwaka-san." Daichi terkekeh getir. "Almarhum Miya bilang, katanya kita para gokudo Kanto adalah orang-orang yang gemar memelihara dendam. Sementara para gokudo Kansai seringnya bertikai dulu sampai akhirnya berteman. Kurasa dia ada benarnya juga. Kita, para yakuza seharusnya tidak memelihara dendam. Dendam mengeruhkan hati, membuntukan pikiran. Memotong kesempatan."

"Sama seperti hubungan saudara atau persahabatan." balas Ushijima. "Kadang, pertikaian membuat kita lebih terbuka. Beberapa masalah hanya bisa diselesaikan dengan kepala panas dan adu tinju, meski hal itu bukan perbuatan yang baik."

Daichi tertawa keras mendengar perkataan Ushijima yang sangat dewasa untuk bocah kelas 4 SD. "Kau tahu salah satu anak buahku, si Johnny Blaze Yokohama?"

"Miya Shoyo." Ushijima mengangguk. "Dulunya bernama gadis Hinata Shoyo. Anak sulungnya almarhum Hinata Chiaki, pemilik toko kelontong yang menjadi distributor kami menjual Silvermoon di daerah Shinjuku."

"Dia mengingatkan aku pada Ikejiri." Daichi merenung. "Bagaimana dia bercerita pada kami seberapa sukanya dia dengan atmosfir balap liar. Ia bergabung dengan kami karena ingin balas dendam dengan Kageyama Tobio, bocah kkangpae murid suksesnya Oikawa, karena membunuh ayahnya."

Ushijima masih diam mendengarkan.

"Lucunya, bocah kkangpae itu tampak paham bahwa balas dendam tidak akan memberikan mereka berdua apa-apa. Maka, ia memaksakan dirinya mencintai Shoyo. Perasaan itu menjadi obsesi dan tujuan hidupnya, sampai rela menjadi agen ganda asal Shoyo tetap baik-baik saja." Daichi menggedikkan bahunya. "Shoyo ingin merelakan kematian ayahnya, tetapi setiap melihat wajah Kageyama, dendam itu muncul lagi."

"Apa itu alasannya menikahi Miya Atsumu?" tanya Ushijima.

"Tidak, itu beda kasus." Daichi tertawa. "Miya Atsumu adalah pria idaman Shoyo."

"Seperti seorang fans yang kepalang bahagia diajak menikah sama idolanya." Semi menyimpulkan.

"Ngomong-ngomong soal Miya Atsumu, aku mau melepas chinatown Yokohama padamu." ucap Ushijima. "Daerah itu adalah tempat dimana Miya rutin membeli Thundermoon. Namanya jadi makin melejit disana saat ia menikahi Hinata Shoyo, dan mereka menjadi pasangan Johnny Blaze dari Raven. Distrik itu sudah seperti kepunyaannya saja. Hayato bilang, orang-orang disana banyak memasang taruhan kalau Miya turun balapan."

"Kau yakin?" tanya Daichi dengan raut wajah terkejut.

"Chinatown Yokohama sekarang dipenuhi kkangpae. Aoba Johsai berusaha merebutnya dari kami. Tapi, buat apa kami memperjuangkan area yang bahkan tidak lagi mengakui kekuatan Phantom Hawks setelah kedatangan Miya Atsumu yang pamornya dahsyat itu?" Semi membalas.

"Dan juga, aku tidak mau repot mengurusi para kkangpae." Ushijima mengeluh. "Biar para gagak yang memangsa mereka kalau macam-macam. Mereka lebih takut pada kalian dibanding kami. Raven membunuh hwangje mereka yang dulu."

"Chinatown Yokohama, dan upeti 30% untuk distribusi narkoba di arena balap." Daichi menyimpulkan negosiasi panjang mereka yang bertele-tele. "Hiraukan para kkangpae. Oikawa sudah mati. Hwangje mereka yang sekarang lebih beriorientasi bisnis. Bagaimana dengan backup dari kepolisian?"

"Chinatown Yokohama, dan upeti 30% untuk distribusi narkoba di arena balap. Bantai habis Aoba Johsai, dan Semi akan mengurus backup dari pemerintahan untuk klan kalian." Ushijima menawarkan. "Bagaimana?"

"Tidak mau." Daichi menolak. "Aku juga sudah malas berurusan dengan para kkangpae."

"Kau mau membiarkan mereka berkuasa di Shinjuku dan Chidoya?" tanya Ushijima.

"Tokyo adalah wilayahmu, Ushiwaka-san." Daichi menunjuk, lalu menyeringai lebar. "Masa bodoh. Bukan urusanku."

"Upeti 10 % untuk distribusi narkoba di arena balap." Ushijima memberi penawaran terakhir. Meski tidak kentara, ia terlihat kesal dengan jawaban Daichi tadi.

"Kau menarik penawaranmu atas chinatown Yokohama." Sugawara menyahut sengit. "Bayi elang culas. Phantom Hawks bahkan sanggup membayar Kamomedai Northwatch dan Nocturnal. Kenapa kalian tidak berperang saja sendiri?"

"Repot. Boros." ujar Ushijima. "Padahal kalau kalian bersedia, aku akan memberikan Chidoya dan Shinjuku untuk kalian. Win-win solution."

"Tidak ada pengaruhnya. Area itu penuh komunitas Korea. Tidak akan ada efeknya siapapun yang berkuasa disana kalau bukan geondal." Daichi menggeleng. "Arena balap motor liar Tokyo berpusat di Chuo, di Nihonbashi. Di Teluk Tokyo adalah pusat balap motor liar paling besar se-Jepang. Juaranya akan digelari Leigong—dewa petirnya orang Cina. Pasutri Miya belum pernah sekalipun menang disana. Di Ginza dan Roppongi, ada balap mobil liar dan drifting championship illegal setiap musim semi. Chuo, Ginza dan Roppongi, semua adalah wilayah Phantom Hawks. Dan tampaknya, elang putih Yokohama tidak berperan sama sekali disana selain jualan permen yang membuat giting."

Ushijima menaikkan kedua alisnya.

"Berikan aku chinatown Yokohama. Upeti 10% tidak masalah." Daichi menganyam jemarinya. "Sebagai gantinya, kuajari kau mengulak kekayaan di dunia balap, Ushiwaka-san. Bisnis di dunia balap liar adalah masa depan yang cerah, lho."

"Kau menjadikan Raven sebagai yakuza spesialis balap liar sekarang, Sawamura-san?" Ushijima menatap penasaran.

"Oh, jelas. Aku sudah punya 3 Johnny Blaze yang mempersembahkanku kesuksesan." ucap Daichi bangga. "Johnny Blaze Yokohama, Johnny Blaze Kobe, dan Johnny Blaze Nihonbashi."


Di awal bulan November, Miya Shoyo melahirkan.

Sepasang anak kembar laki-laki sampai ke dunia melalui operasi caesar. Proses persalinan yang rumit dan panjang bisa dilalui Hinata dengan lancar. Kedua bayinya sehat dan selamat. Hinata terbangun setelah 19 jam tidak sadarkan diri. Wajah pertama yang dilihatnya adalah Kita Shinsuke dan Sawamura Daichi.

"...Shin..suke-san..." Hinata melenguh, berusaha mengumpulkan kesadarannya. "...Daichi-san..."

"Selamat pagi." sapa keduanya lembut.

"Shoyo, kau sudah bangun?" Yamaguchi yang ada di pojok ruangan mendekat. "Ada keluhan?"

"Badanku sakit semua." Hinata tersenyum tipis. "Mana anak-anakku?"

Kita membantu Yamaguchi mengeluarkan anak kembar Hinata dari dalam ranjang bayi. Mereka berdua mungil menggemaskan. Salah satunya menggeliut penuh semangat, dan yang satu tertidur tenang dengan nafas halus. Hinata tidak bisa membendung kebahagiaannya. Ia menggendong si bayi yang tertidur dan memulas lembut paras anaknya.

"Dia benar-benar manis dan tenang. Tidak seperti kami berdua." Hinata mencium anaknya dengan penuh kasih. "Shinsuke-san sudah memberikan mereka nama?"

Kita menggeleng. "Tentu saja harus okaa-san yang melakukannya, kan?"

"Kalau begitu, dia kunamani Atsushi." ucap Hinata. "Miya Atsushi."

"Nama yang bagus." sahut Daichi.

"Atsushi ini adik, ya?" tanya Hinata pada Yamaguchi. "Biasanya adik lebih tenang dari kakak kembarnya."

"Atsushi itu justru kakaknya." balas Yamaguchi. "Menurut dokter yang tadi, ia lahir sepuluh menit lebih cepat dari adiknya."

"Begitu..." Hinata menimang Atsushi, dan memberikannya pada Kita. "Aku mau gendong yang satu lagi."

Anak bungsunya tidak bisa diam ketika digendong Hinata. Ia menggeliut-geliut pelan, dengan rintihan tipis khas bayi. Alisnya menukik dengan hidung mungil mencuat. Rambutnya hitam gelap seperti warna asli surai si Miya kembar, tidak ginger seperti ibunya. Garis-garis wajah bayinya membuat Hinata tersenyum, kembali teringat bahwa Atsumu ingin tinggal di Kobe setelah mereka lahir agar bisa belajar menjadi orangtua yang baik.

"Matanya seperti matamu. Lihat." Kita berbisik lembut. "Dia juga bersemangat seperti okaa-san, kan?"

"Dia benar-benar serupa dengan 'Tsumu-san..." Hinata mencium kening bayinya. "Alisnya, hidungnya, bibirnya, rambutnya, garis wajahnya. Gennya kuat sekali. Dia pasti sangat tampan kalau sudah besar."

"Atau sangat manis." Kita membalas. "Senyum manis Miya bersaudara selalu membuatku geregetan, berapapun umur mereka."

Hinata mengangguk pelan.

"Kau sudah punya nama untuk si adik, Shoyo?" tanya Daichi.

Hinata berpikir sejenak. Ia mencium kepalan tangan si bayi yang mengenai bibirnya. Oyakata-sama memberikan banyak sekali ide nama yang keren-keren sampai membuat Hinata kebingungan memilih. Hinata melamun cukup lama, menjelajah dalam memori dan alam bawah sadarnya. Nama bagus apa yang bisa mengingatkan Hinata akan Atsumu dan cintanya yang tak pernah lekang tersebut?

Atsumu adalah laki-laki yang sangat kuat. Terlepas dari kemampuan fisiknya, hati dan mentalnya juga kuat. Kekuatannya yang dulu membuat Hinata terus memacu dirinya di arena balap agar bisa menjambak kemenangan. Kekuatan Atsumu sebagai Johnny Blaze Kobe membuat Hinata melampaui dirinya berkali-kali hingga akhirnya ia bisa jadi juara. Kekuatan Atsumu yang terus merayu dan bertahan ditolak berkali-kali yang membuat Hinata mulai tertarik. Kekuatan Atsumu membuat Raven dan Inarizaki bersaudara sedarah. Kekuatan Atsumu menyelamatkannya belasan kali saat Konflik 3 Langit. Kekuatan Atsumu membuat Hinata yang lemah dan hanya bisa balap motor menjadi perempuan tangguh.

Karena cinta, mereka berdua saling menguatkan.

"...Souma." kata Hinata. "Miya Souma."

"Heeeh?!" Semua orang di ruangan itu terperanjat.

"Shoyo, namanya tidak serima, lho." Kita menggumam khawatir. "Tidak apa-apa?"

"Memangnya anak kembar namanya harus serima?" balas Hinata polos. "Maksudnya harus terdengar mirip juga? Seperti 'Tsumu-san dan Osamu, gitu?"

"Tidak juga." balas Yamaguchi. "Tapi mereka jadi tidak terdengar seperti anak kembar."

"Biar saja." ucap Hinata. "Memiliki nama yang tidak serima tidak merubah fakta kalau mereka lahir bersama. Aku akan mendidik Atsushi dan Souma, agar mereka berdua saling menyayangi dengan tulus, dan saling menguatkan satu sama lain. Selalu ada untuk satu sama lain. Jadi apapun mereka nanti, aku ingin mereka menjadi anak-anak yang selalu tegar dan bahagia."

Kita Shinsuke menyeka setitik tangis di sudut matanya. "Indah sekali, Shoyo."

"Para gagak dari Yokohama pasti gempar kalau mereka punya keponakan kembar." ucap Daichi. Ia membantu Hinata mengembalikan kedua bayinya kembali ke ranjang. "Kami semua bergantian menjengukmu. Inarizaki dan Raven. Bahkan Kenma juga sempat datang. Pasutri Bokuto-Akaashi dan anak-anak mereka juga. Orang-orang dari arena balap yang mengenalmu mengirimi banyak paket dan ucapan selamat. Sugawara sampai kewalahan mengurusinya."

"Aku akan membantumu mengurus mereka." ucap Kita lembut. "Aku ini berpengalaman mengurus anak kembar, lho."

"Terima kasih, Shinsuke-san." Hinata tersenyum.


Di bulan April tahun berikutnya, Hinata mulai kembali ke dunia balap liar. Yachi dan Kenma adalah dua orang yang mengajukan diri merawat Atsushi dan Souma selama ibu mereka kembali memulai sepak terjangnya sebagai pembalap motor liar. Begitu datang ke distrik Nakahara, semua orang menyambut Hinata seperti seorang artis. Banyak dari mereka yang memberikan selamat atas kelahiran putra kembarnya. Izumi dan Koji menghambur memeluk Hinata, begitu rindu dengan sahabat mungil mereka yang sudah lebih dari setengah tahun menghilang dari arena balap sejak perang dengan Phantom Hawks dan Aoba Johsai. Perang itu dinamai Konflik 3 Langit oleh para kkangpae dan gokudo Tokyo.

"Mohon maaf, meski kau tetap menjadi dewi di arena ini, Johnny Blaze Yokohama bukan gelarmu lagi." ucap Izumi.

"Sudah ada orang lain yang mendapatkannya, ya?" tanya Hinata getir.

Koji mengangguk. "Laki-laki aneh berambut putih."

"Dia mahir sekali, lho! Dan juga sangat kuat. Dia balas menghajar segerombol yakuza tengik yang menjegatnya selepas balapan tempo hari!" timpal Izumi.

Laki-laki berambut putih?

Hinata melangkah lebih jauh, menyisir setiap montir dan sudut arena balap. Ada satu nama yang tercantum di benaknya ketika mendengar ciri-ciri tersebut. Seorang laki-laki kemayu yang menjadi gundiknya seorang pembalap amatiran menunjuk ke sebuah kios tutup di ujung jalanan, tempat si Johnny Blaze Yokohama yang baru biasa mengatur ulang motornya. Laki-laki itu tidak pernah menggunakan jasa montir, katanya. Hinata dengan berani menemuinya, dan menjerit kaget ketika bertemu kembali dengan sosok itu.

"...sonna..." lirihnya dengan rahang gemeletuk. "Aone-san?!"

Menyadari ada seseorang di dekatnya, Aone Takanobu menaruh perkakas yang digunakannya untuk membongkar motor dan mendekat. Aone jelas mengingat wajah wanita mungil bersurai ginger tersebut. Ia membungkuk hormat pada Hinata dan mengelap tangannya yang penuh oli sebelum menjulurkan sebuah salam.

"[Hisashiburi]." ucap Hinata dalam bahasa isyarat. "[Selamat, kau menjadi Johnny Blaze menggantikan aku]."

Aone mengangguk. Ia mengambil sebuah kursi plastik dan mempersilahkan Hinata duduk. Raksasa berambut putih itu mengeluarkan sebatang rokok dan memantikkannya untuk Hinata. Setelah berbulan-bulan tidak merokok, kabut nikotin terasa begitu berbeda di tenggorokannya. Kenma, Yachi dan Yamaguchi sudah bawel memperingatkan Hinata bahwa ia tidak lagi boleh merokok dan minum alkohol karena sedang menyusui. Tapi kalau cuma sebatang setelah sekian lama tidak apa-apa, kan?

"[Aku dengan banyak kabar darimu]."Aone kembali merangkai isyarat. "[Kau menikah. Kau meninggal. Kau menjanda. Kau punya anak. Mana yang benar?]."

"[Semuanya]." Hinata menghela rokoknya lagi. "[Terjadi sekaligus.]"

Aone kembali mengangguk. Ia mengambil sebotol bir dari krak terdekat dan menyodorkannya pada Hinata, tetapi wanita manis itu menolak. Aone membuka bir tersebut untuk dirinya sendiri menggunakan gigi dan meneguknya dengan nikmat.

"[Aku tidak tahu apa-apa lagi soalmu setelah insiden buaya tambang]." tutur Hinata.

"[Aku tersesat. Sepi sekali hidup tanpa Futakuchi. Cuma dia yang bisa mengajakku bicara]." balas Aone. "[Aku mencari kehidupan baru]."

"[Padahal semua orang di Raven menjulukinya siluman buaya bermulut dua karena dia orang jahat. Tetapi dia orang baik untukmu, ya?]"

"[Semua orang juga menjuluki Miya Atsumu sebagai setan gila, atau rubah pirang sinting. Tapi dia pangeranmu]." Balas Aone. "[Semua manusia selalu punya sisi yang berbeda]."

"[Dia bukan pangeranku. Dia itu John Wayne-ku]." Hinata menaik-naikkan alisnya dengan jahil.

Aone menyeringai sambil memberi tamparan iseng pada pundak Hinata. Tentu saja sebagai sesama pembalap motor liar, istilah John Wayne pasti akrab bagi mereka.

"[Apa yang memutuskanmu membalap, Aone-san?]" tanya Hinata lagi.

"[Aku suka racing]." balas Aone. "[Aku bekerja sebagai pegawai konstruksi. Terus, setelah punya uang aku baru ikut racing]."

Hinata melirik motor Aone. SV650. Motor sport dengan mesin V-twin engine dengan body ramping dan RPM rendah. Kecepatan maksimalnya cuma sekitar 200 km/jam, bukan motor balap yang kecepatannya bisa diakselerasi tetapi memiliki sistem hemat bahan bakar, pengendali emisi dan efisiensi pembakaran. Didesain untuk pengendara bertubuh tinggi. Bukan motor tercepat, tetapi motor kuat dengan kekuatan stabil dan mudah dirawat.

"[Jagoanmu tampan sekali]." Hinata mengusap body motor Aone. "[Kau mendapatkan ini sebagai hadiah jadi Johnny Blaze?]"

"[Dia yang membawaku menjadi Johnny Blaze]." Aone tertawa dengan suara sumbang yang tersengal-sengal. "[Di musim panas nanti, aku berencana menantang Leigong di teluk Tokyo]."

"[Berjuanglah. Aku dan suamiku saja belum pernah bisa mengalahkannya. Dia pembalap yang sungguh hebat]." keluh Hinata.

"[Johnny Blaze Nihonbashi menjadi juara tiga pada open challenge di teluk Tokyo bulan lalu]."

Sedikit hal yang diketahui Hinata mengenai balap motor liar di teluk Tokyo. Semua orang berkata, cuma pembalap terbaik yang bisa berlaga disana. Leigong cuma mau menerima satu tantangan setiap bulan, dan cuma 10 orang terbaik yang sudah 10 kali memenangkan balapan di daerah teluk Tokyo yang boleh menantangnya. Sebuah klan mafia bernama Black Jackals merajai daerah itu. Mereka juga adalah pengulak judi balap paling kaya di Jepang, karena kekuasaan mereka juga merambah ke dunia balap mobil modifikasi liar dan drift championship ilegal. Bukan cuma sekedar jago balap dan juragan judi, mereka juga terbilang tangguh soal berkelahi. Leigong, adalah gelar dari juara balap motor di daerah teluk Tokyo. Leigong adalah yang terkuat—rajanya para Johnny Blaze, begitu ia diagungkan.

"[Siapa Johnny Blaze Nihonbashi itu?]" tanya Hinata.

"[Aku tidak tahu namanya. Dia kkangpae]." Aone menghabiskan birnya dan beranjak. "[Orang itu menantangku open challenge hari ini. Sebaiknya kau sembunyi. Gagak dan kkangpae itu tidak akur, kan?]."

Hinata tidak mengindahkan ucapan Aone. Ia membaur dengan kerumunan, menonton pertandingan balap dua Johnny Blaze beda wilayah tersebut. Euforia dan hiruk-pikuknya malah membuatnya nyaman. Suara bising motor dan teriakan riuh orang-orang memberinya perasaan pulang. Arena balap motor liar adalah taman bermainnya, rumahnya. Tempat dimana Hinata dan Atsumu bertemu, saling jatuh cinta dan saling menguatkan. Jumlah taruhan yang dipasang bagi kedua pihak besar sekali. Hinata terkesima melihat performa Aone sebagai Johnny Blaze Yokohama. Ia memacu dengan stabil, pergerakannya tidak sia-sia. Sebaliknya, Johnny Blaze Nihonbashi yang namanya tidak ia ketahui itu serampangan dan brutal. Tetapi, caranya mengakselerasi motornya sangat pas. Tidak jarang pula ia melompat dan bersalto saat menghindari gojlakan polisi tidur atau menghindari pembatas jalan. Sudut yang diambilnya saat berbelok tajam sekali, namun gaya itulah yang membuatnya tidak harus menuruni kecepatan.

Hinata merasa tidak asing dengan teknik balapan itu.

Itu...

"JOHNNY BLAZE NIHONBASHI MENCAPAI GARIS FINISH LEBIH DULU! SULIT DIPERCAYA! SESEORANG MENJAMBAK DUA GELAR JOHNNY BLAZE DI DUA KOTA YANG BERBEDA!"

Orang-orang berhamburan memberikan selebrasi pada si Johnny Blaze Nihonbashi. Aone yang melepas helmnya tampak kesal, matanya berkilat senang dan tidak ada raut kekecewaan di wajahnya. Ia melakukan balapan dengan sekuat tenaganya. Tekadnya membakar. Pada balapan selanjutnya, ia pasti menuntut balas agar bisa kembali mendapatkan gelar Johnny Blaze Yokohama yang sempat disandingnya. Izumi dan Koji menghitung uang hadiah, dan Hinata turun tangan membantu kedua anak buahnya. Meski cuma 30%, upeti yang akan diberikan kepada si Johnny Blaze Nihonbashi dari Raven sebagai bookmaker judi balap sangat besar—250 juta yen. Hinata berjengit. Keuntungan total malam ini mencapai angka 800 juta yen. Kapan ia pernah memegang uang sebanyak ini selama hidupnya sebagai pembalap?

Pikirkan bahwa akan ada 200 orang yang bertaruh 10.000 yen. Bukan 20 orang yang bertaruh 100.000 yen.

Dan hari ini, ribuan orang berkumpul di arena balap liar. Ratusan diantaranya memasang taruhan pada Raven. Kembali, kata-kata Atsumu terngiang di kepalanya.

"Gongju..."

Hinata tertegun mendengar suara itu. Panggilan itu.

Cuma satu orang yang memanggilnya begitu.

"Astaga, itu sungguh kau." Sesosok laki-laki muda tinggi dengan rambut hitam berlari menghampiri Hinata dan memeluknya. "Sin-eun seonhasibnida!"

Kageyama Tobio tidak tahu lagi seberapa bahagia ia kembali bisa bertemu dengan Hinata. Mataharinya, tuan putrinya, obsesi hidupnya. Sudah nyaris satu tahun, sejak kejadian Konflik 3 Langit, dan ini adalah kali pertama Kageyama melihat paras manis gongju-nya setelah sekian lama terpisah. Iwaizumi menahannya di Aoba Johsai selama ini, semua kkangpae mendesaknya menjadi hwangje karena itu wasiatnya Oikawa tetapi Kageyama menolaknya mentah-mentah. Hanamaki merutukinya, mengatainya bocah bodoh. Persetan, Kageyama tidak butuh jadi hwangje. Ia akan jadi gagak, jadi kkangpae, jadi agen ganda, jadi apapun agar bisa kembali bersua dengan Hinata. Kageyama lari dari Aoba Johsai dan bersembunyi di chinatown Yokohama sampai akhirnya Daichi membawanya pulang, menyambutnya dengan kata okaeri nasai dan memberinya tatto gagak di lengannya. Karirnya sebagai agen ganda berakhir. Kageyama kini saudara para gagak Yokohama. Meski logat Koreanya susah sekali dihilangkan, Raven menjadi identitas barunya.

"...Kageyama..." Hinata balas memeluk. "Aku kangen..."

"Aku juga." Kageyama melepas pelukannya. "...aku dengar kabar soal Miya-seonbae. Aku turut berduka, gongju. Miya-seonbae padahal sayang sekali aku..."

"Daijobu." kata Hinata sambil mengusap pipi Kageyama. "Kemana saja kau selama ini?"

"Kau yang kemana saja." Kageyama menggenggam tangan Hinata. "Aku disini. Aku selalu menunggumu kembali. Aku hengkang dari para kkangpae untukmu. Aku terjun ke dunia balap motor liar untukmu. Aku jadi Johnny Blaze untukmu. Daichi-sshi melarangku bertemu kau dulu, karena kau sedang hamil besar. Tsukishima pergi kuliah lagi. Yachi-noona bilang kau sangat sedih karena Miya-seonbae meninggal. Aku mau bertemu denganmu, mau menghibur. Tapi aku takut mengganggumu. Aku mendengar kabar kau malah pergi kemana-mana sendirian. Ke Hokkaido. Ke Kobe. Bagaimana kabarmu? Anak-anakmu..."

"Sudah lahir. Laki-laki, kembar." Hinata mengulum senyum. "Tenanglah, Kageyama. Kau bahkan tidak bernafas saat bicara."

Kageyama menghela nafas panjang. Ia duduk di sebelah Hinata, dan merebahkan kepalanya di pundak Hinata. Sudah berapa lama ia tidak melakukan hal ini. Kageyama akan selalu bersandar pada Hinata kalau dia lelah, dan perempuan mungil itu akan banyak berceloteh sampai Kageyama pusing mendengarnya. Mereka dulu selalu berpasangan, seperti jari manis dan kelingking. Kageyama bahkan masih tidur di sofa, seperti kebiasaan lamanya saat menginap di rumah kecil Hinata. Ia masih suka makan nasi pakai telur goreng, masakan yang dulu cuma bisa dibuat Hinata. Semenjak Kageyama pergi ke Hakata dan Hinata ada di Kobe, ia merasa hilang dan tersasar. Tahu-tahu, begitu pujaan hatinya kembali dia malah bersanding dengan orang lain. Entah berapa kali Kageyama dibuat patah hati, dibakar cemburu dan kembali dibuat jatuh cinta oleh betapa indahnya hubungan rumah tangga mendiang Atsumu dan Hinata. Kageyama sangat senang Hinata terlihat begitu bahagia, sekaligus merana karena ia bukanlah penyebab kebahagiaan itu.

Seperti perjalanan jauh yang berat dan menyusahkan akhirnya selesai. Kageyama menggenggam tangan Hinata dan bersandar nyaman, menikmati hawa keberadaan gongju-nya dalam-dalam.

"Ternyata kau Johnny Blaze Nihonbashi itu. Pantas saja aku merasa tidak asing." kata Hinata sambil menerawang. "Kau mencontek teknik balapku."

"Kau yang membawaku kesini, gongju." katanya. "Kau yang mengajariku naik motor. Kau yang mengajariku balapan. Kau yang mengajari aku merawat motor. Segala hal mengenai balap motor liar bagiku, adalah segalanya tentangmu."

"Kageyama, kau masih saja suka padaku." Hinata membalas. "Tidak capek?"

"Capek." Kageyama melirik Hinata, menatap mata karamelnya. "Tapi aku suka, perasaan cintaku padamu membuatku nyaman."

"Kenapa kau malah jadi Johnny Blaze Nihonbashi?" tanya Hinata.

"Karena saat itu, Aoba Johsai dan semua kkangpae akan menggiringku pulang kalau aku menjejakkan kaki ke Yokohama. Mereka memanggilku jeonsa—ksatria yang membawa kembali kejayaan Aoba Johsai di Shinjuku. Aku berkali-kali mau keluar, tapi tidak bisa. Jadi, aku memutuskan memenangkan balapan di daerah Nihonbashi. Mereka tidak memburuku kalau aku kesana. Aku harus jadi Johnny Blaze."

"Kenapa?"

"Karena gongju suka laki-laki liar, kan?" ucap Kageyama tulus. "Aku mungkin tidak ada apa-apanya dibanding Miya-seonbae. Aku tidak sekuat dia, tidak kaya dan tidak tampan juga. Aku masih bocah ingusan. Satu-satunya hal yang bisa membuatku setara dengannya adalah jadi Johnny Blaze. Dengan begitu, kurasa gongju pasti mau melirikku..."

"Kageyama." Hinata melepaskan genggamannya. "Berhentilah mengejarku. Kau memang tidak akan pernah sebanding dengan 'Tsumu-san. Kau bisa dapat wanita yang lebih baik dari aku. Kau tahu kalau Yachi diam-diam suka padamu, tapi dia memendam perasaannya karena kau terlalu muda. Yachi mau menunggumu merekah sedikit lagi jadi laki-laki dewasa, baru dia akan mengungkapkan perasaannya."

Kageyama cuma balas menatapnya lurus tanpa emosi.

"Lihat, kau sudah punya orang yang mencintaimu." ucap Hinata. "Lupakan perempuan berandalan seperti aku, ya."

"Wonchi anh-ayo."

Kageyama menjawab mantap, tetapi dalam bahasa Korea. Hinata mengerenyit bingung. Pemuda itu menggeleng, lalu memperbaiki kalimatnya.

"Iiya da." tegasnya. "Aku suka gongju saat pertama kali bertemu. Aku suka gongju sejak dulu. Aku tetap suka gongju meski namamu bukan lagi Hinata, tapi Miya. Aku tetap suka gongju meskipun sekarang kau janda 2 anak. Aku tetap suka gongju meski kau ini perempuan berandalan. Aku tetap suka gongju meski kau berubah menjadi nenek-nenek keriput. Aku tetap suka gongju, dari dulu, sekarang, sampai nanti aku jadi laki-laki dewasa, jadi bapak-bapak atau kakek-kakek. Pokoknya aku suka gongju. Harus gongju, tidak bisa orang lain. Karena gongju yang aku tahu cuma Hinata Shoyo. Buatku, memanggil nama kecilmu itu membuatmu terkesan tidak berharga bagiku. Aku akan tetap memanggilmu gongju, karena kau adalah tuan putri di hidupku."

Hinata terdiam mendengar penuturan Kageyama. Pundaknya mengendur saat ia menarik nafas. "Cuma sekedar 'suka', kan? Aku dan 'Tsumu-san saling mencintai. Jangan biarkan perasaan dangkal itu membuatmu jadi hidup sengsara, Kageyama."

"Aku tidak boleh bilang 'cinta', karena kita belum menikah." ujar Kageyama polos.

Hinata tertegun mendengar kalimat itu. "Siapa yang bilang begitu padamu?"

Kageyama menunduk malu. "Miwa-nee, mendiang kakak perempuan kandungku. Dia dulu sangat sayang pada pacarnya. Tetapi tidak mau bilang cinta karena mereka belum menikah. Ucapan cinta itu diungkapkan untuk orang yang seluruh hidupmu akan dihabiskan dengannya dan untuknya. Aku tidak tahu lagi apa yang kakakku atau pacarnya rasakan. Miwa-nee keburu mati sebelum dia mengucapkan cinta ke pacarnya."

"Kau tidak pernah membicarakan tentang dirimu sendiri padaku, Kageyama." Hinata menatap sedih. "Padahal aku memberitahumu segalanya. Aku hampir tidak tahu apa-apa soalmu."

"Aku..." Kageyama tercekat. "Aku belum sanggup. Aku cuma mau memberikan hal-hal bagus di hidupmu. Masa laluku, dan segala tentangku saat ini tidak terlalu bagus. Aku takut kau tidak suka. Jadi..jadi aku tidak membicarakannya dengan gongju."

"Kageyama..." Hinata menghela nafas. Ia tidak tahu haruskah ia tersentuh atau jengkel dengan sikap pemuda tanggung ini. Bodoh dan kekanakan sekali, tetapi manis dan sangat tulus.

"Akhir tahun ini, usiaku akan mencapai 18 tahun. Usia minimum yang legal untuk menikah." Kageyama membungkuk dalam-dalam. "Saat aku berusia 18 tahun nanti, kumohon nikahi aku, gongju."

Setelah menyatakan lamaran yang begitu gamblang dan formal, Kageyama berbalik dan melangkah pergi. Ia tidak peduli dengan upeti uangnya setelah menjadi Johnny Blaze Nihonbashi dan memenangkan adu balap mengalahkan Aone Takanobu si Johnny Blaze Yokohama saat ini. Hatinya lega karena sudah melepaskan beban yang bertahun-tahun dipikulnya. Hinata mungkin tidak akan memberikan jawaban dalam waktu dekat.

Kageyama hanya perlu berusaha lebih keras.


A/n:

[*] Jadiii author baru tahu katanya kalo orang Jepang itu jatuh cinta ada tingkatannya. Kata 'suka' (daisuki) ditunjukkan untuk pacar atau gebetan. Sementara kata 'cinta' (aishiteru) ditunjukkan untuk tingkatan yang lebih serius, seperti pasangan hidup (suami atau istri) orangtua ke anak atau sesama saudara juga bisa. Nah, perkataannya Kageyama itu konteksnya disini.


B.A.N.G.S.A.T:

Udah cukup author dibikin jumpalitan bikin chapter ini. Udah mewek-mewek gaje gara-gara plot twist yang dibikin sendiri /antara bego ama maso beda tipis

Yes, anaknya Hinata kembar cowok! Doa para readers semua dikabulkan! Author kepikiran buat kembali munculin Aone karena kepengen aja. Raksasa baik hati gituloh diaaaaa ulala gemesss. Mau ngomong apa lagi ya disini? Author bingung, kebawa baper sama 3 pair sekaligus soalnya dalam proses membuat ending, setiap karakter cowoknya membawa development ke fem!Hinata sebagai karakter utamanya. Enak ya jadi Hinata, semenya banyak hahahahaha. Author mau nabok siapapun yang bilang Hinata mending sama Sakusa aja. Please jangan suruh Sakusa poligami di fanfic ini, walaupun authornya juga suka sih SakuHina. Nanti dah, di penpik lain kayaknya enak bikin SakuHina.

Chapter berikutnya bakalan jadi last chapter. Persiapkan kokoro anda semua pemirsaaaah!

Yosh! Waktunya sayembara! Tebak siapa yang bakal jadi suaminya Hinata di chapter terakhir! Yang merasa benar, silahkan DM author! Kubuatkan satu oneshot dengan Hinata berpasangan dengan seme manapun kesukaan kalian. All Hail Hinata Harem Supremacy! Syarat dan ketentuannya berlaku, ya!

Sekian bacotan kali ini! Jangan lupa reviewnya oke? oke? Sampai ketemu di chapter selanjutnyaaaa!