Naruto miliki Masashi khisimoto

Goblin Slayer milik Kumo Kagyu

Highschool DxD milik Ichei Ishibumi

Crossover dengan beberapa anime atau mungkin game, yang kalian ketahui nantinya seiring cerita berjalan.

All Character OOC

Spesial Thanks to Arifu sebagai Beta Reader

Chapter 19

Kisah Ras Night Elf dan kekecewaan yang konyol

Opening: Inferno by 9mm Parabellum Bullet

"Penglihatan Ruhani?"

Kini giliran Girl Herbalis yang membeo, dengan apa yang disampaikan Nigh Elf King. Berasal dari desa membuatnya asing dengan istilah tersebut.

"Itu bisa disebut Vision, semacam penglihatan akan sesuatu yang hendak terjadi atau kau bisa menyebutnya kemampuan melihat masa depan. Hal seperti itu biasanya terjadi pada mereka yang dikasihi oleh para dewa. Bagi kami sendiri itu adalah sebuah wahyu."

Suara merdu yang menjawab adalah Lenneth, dia yang tampak tidak asing dengan istilah tersebut. Mencoba membantu Sai Stromrage untuk menjelaskannya.

"Tepat sekali, apa yang disampaikan olehmu. Nona Priestess! Kakekku Illidan mendapat penglihatan bahwa The Great Lich King telah mengirim sepasukan Undead, dengan mengendarai Black Dragon menuju Hutan para Elf tepatnya di Averian Forest yang berada di wilayah kerajaan Elf yaitu Kerajaan Harpen. Saat Itu, dia sudah memperingatkan High Elf King agar mengirim pasukan kembali ke Hutan, karena mendapat Vision tapi High Elf King membantah apa yang disampaikan oleh kakekku dan mengatakan jika seandainya benar. Hqarusnya Vision itu, lebih dulu diketahui olehnya."

Naruto, Lenneth, serta Girl Herbalis hanyut dalam cerita yang disampaikan Night Elf King yang bernama Sai Stromrage.

"Lalu, apa yang terjadi?"

Kali ini telinga miliknya mengendur dan wajahnya sendu serta matanya menutup setengah, saat menerima pertanyaan dari Girl Herbalis.

"Kakekku memutuskan untuk membawa pasukan yang setia dengannya lalu segera bertolak menuju Averian Forest, mengabaikan Perintah serta Ancaman dari High Elf King. Saat dia melakukan perjalanan kembali pertempuran hebat itu dimulai. Karena jarak yang jauh perlu sebulan untuk sampai ke sana, diperjalanan dia bertemu seorang Girl Elf Wanderer yang kelak akan menjadi nenekku."

Ketika mengatakan itu pipi miliknya bersemu, mengundang senyum dua gadis yang mendengarkan. Sedangkan Rat Slayer masih tetap mendengarkan, meski dia tidak peduli dengan itu. Lalu Sai stromrage melanjutkan.

"Mereka berdua menjalin kasih dan Girl Elf Wanderer mengikuti kakekku untuk menghentikan Pasukan Undead yang dilihatnya dalam Vision. Ketika mereka sampai pasukan Undead sudah menyerang benteng luar dari kerajaan Harpen dan terjadi pertempuran sengit. Selama 3 hari dan 3 malam Kakekku dan pasukannya berhasil mengalahkan mereka, namun konsekuensi yang didapat sungguh mengerikan."

Kali ini mata miliknya tertutupi poni dan mengundang keterkejutan para pendengar. Tangan miliknya juga mengepal kuat seakan menahan sesuatu yang hendak meledak.

" Tubuh mereka sepenuhnya menghitam karena darah para Undead. Saat itu para Elf menjadi panik sebab mereka tidak bisa kembali seperti semula, lalu para tentara Elf yang berada di jantung kota datang dan segera menyerang tanpa menghiraukan penjelasan kakekku yang mengatakan mereka dari clan stromrage. Dia memutuskan untuk membawa pasukannya mundur, didorong rasa frustasi karena secara tidak langsung dia telah dikhianati."

Dia menjeda ceritanya, tidak ada protes dari Girl Herbalis, Lenneth apalagi Rat Slayer. Setelah dirasa cukup dia melanjutkan kembali.

"Akhirnya dia memilih [satu opsi] yang akan membuat Rasku dikutuk, namun dia sudah berdiskusi dengan semua pasukan dan mereka siap menanggung resiko cemohan dan hinaan dari seluruh Ras. Karena rencana tersebut pada akhirnya, akan menyelesaikan serta menghancurkan ambisi dari The Great Lich King."

Sai Stromrage menghela napas setelah dengan panjang, menjelaskan secuil dari sejarah perang besar.

" Jadi begitu ... Aku paham sekarang."

Suara lembut Warrior Priestess membuat Sai Stromrage mengangguk pelan. Sedangkan Girl Herbalis melihat ke arah mereka secara bergantian karena tidak paham dengan apa yang dipahami Lenneth.

"Ano Nona Pendeta, memangnya apa yang terjadi selanjutnya? Lalu satu Opsi apa yang dipilih oleh Yang Mulia Illidan sehingga bisa mengalahkan ambisi The Great Lich King?"

"Aku tidak punya hak menjelaskannya, tapi mungkin cucunya berkenan menjelaskan."

Mata Girl Herbalis mengarah pada Night Elf King dengan pandangan harap agar pertanyaannya dijawab. Namun, sebuah gelengan kecil didapatinya serta disusul.

"Maaf, aku tidak ingin terlalu lebar membuka sejarah kakekku dan juga Rasku. sebenarnya aku sudah terlalu lancang mengutarakan semuanya, padahal aku sudah janji pada nenek dan ibuku untuk tidak menceritakannya pada siapapun."

Bahu Girl Herbalis mengendur mendengar jawaban yang diberikan Night Elf King. Sedangkan Rat Slayer tetap mengamati dalam diam, dia sama sekali kurang tertarik dengan topik ini. Tapi dia tetap mendengarkan untuk menghargai kebaikan dari Night Elf King tersebut.

"Baiklah, kalau begitu."

Hening

Suasana berubah tanpa suara sejenak setelah Girl Herbalis mengucapkan ketidak relaan dirinya yang tidak mengetahui Opsi yang dipilih Illidan Stromrage. Yang mana dengan Opsi itu dia bisa menghancurkan Ambisi The Great Lich King namun berakhir dengan mendapat sebutan The Betrayer.

"Ahem karena kau sudah menjawab pertanyaan pertamaku, bisa kau jelaskan Bagaimana caranya kau bisa berjalan dibawah terik matahari serta darimana asal keajaiban milikmu itu. Padahal kutukan High Elf King membuat para Night Elf tidak bisa terkena cahaya matahari serta akar keajaiban dicabut dari tubuh mereka?"

Night Elf King tersenyum pada pertanyaan Warrior Priestess dan segera memegang sedikit bajunya serta menjelaskan.

"Jubah ini diberikan oleh utusan High Elf King untuk diberikan pada Pimpinan sebelumnya yaitu Alfonso Stromrage yang tidak lain adalah Ayahku dan karena kepimpinan digantikan olehku, maka jubah ini diwariskan padaku lalu dari mana kami bisa mendapat keajaiban. Itu karena kami menemukan Norgdrassil yang ternyata diciptakan oleh kakekku di sebuah tempat terpencil bernama Amelas Archipelago ."

"Bagaimana dengan anggota rasmu yang lain?"

Pertanyaan itu keluar dari mulut Rat Slayer. Dengan senyum ramah Night Elf King kembali menjawab.

"Seluruh Anggota Rasku tadinya di kirim ke Deep Forest bertempat di Uncharted Land, namun sesuatu terjadi disana."

Sai menghentijan ucapannya dan itu mengundang tanya di kepala mereka yang mendengar. Seperti biasa Girl Herbalis adalah orang yang sangat penasaran akan sesuatu dan dialah yang mengambil inisiatif.

"Apa yang terjadi?"

"Kami diserang oleh Omni-Rat yang datang tiba-tiba."

Tangan itu meremas kuat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, topik pembicaraan yang mengarah pada buruannya membuat dia begitu bersemangat.

"Jadi karena itu kau sangat tahu tentang Omni-Rat?"

"Bisa dibilang begitu, tapi sejujurnya ada orang yang lebih paham tentang mereka."

Mata Rat Slayer memicing saat mendengar hal itu dari Sai. Lantas tanpa ragu sebuah pertanyaan keluar dari mulutnya.

"Siapa dia?"

"Aku sudah lama tidak bertemu dengannya sekitar 1 tahun yang lalu. Saat kita bertemu di desa Baran, aku kaget mengetahui kalau ras itu sudah ada disini. Padahal menurut orang itu mereka muncul pertama kali di Uncharted Land tempat Ras kami dibuang sekitar 200 tahun yang lalu sebelum kami ada di sana."

Kali ini kening Rat Slayer berkedut, pikiran Rat Slayer saat ini adalah pertanyaan apakah orang yang mengetahui secara penuh Omni-Rat itu masih hidup?

"Kuso!"

"Aku tahu kau sangat ingin bertemu dengannya. Tapi selama 1 tahun terakhir, aku tidak pernah melihatnya dimanapun. Kurasa dia masih berkelana, tapi beruntungnya dia meninggalkan sesuatu."

Sai mengangkat tangannya dan menggosok cincin parsial yang ada di jari manisnya, kemudian muncul sebuah buku kuno. Semua mata menatap dalam bisu, dengan apa yang ada dihadapan mereka.

Buku itu terbuat dari kulit domba yang dibersihkan dan disamak dengan baik, lalu sampulnya sendiri terbuat dari kulit lembu dengan warna hitam dan disampul buku terdapat lambang yang tidak asing bagi Naruto.

Yaitu segitiga berwarna merah serta tulisan 'Manual kecil pengetahuan Ras Omni-Rat.'

"Dia meninggalkan ini padaku sambil berkata 'aku tinggalkan itu untukmu jika kau berniat memburu mereka, tapi jika kau tidak berniat melakukannya. Pastikan kau berikan pada orang yang membutuhkan.' Itulah pesannya dan karena kau sangat ingin memburu mereka kurasa buku ini cocok untukmu."

Night Elf King menyerahkan dengan sopan buku itu kepada Rat Slayer. Dengan kedua tangan dia menerima buku itu dan hatinya begitu bersemangat, sebab buku yang berisi tentang buruannya ada dihadapannya. Lalu dia teringat sesuatu.

"Apa bedanya buku ini dengan yang kau berikan padaku sebelumnya?"

Sai mengangguk tanda mengerti, atas apa yang ditanyakan Naruto. Karena dia memang pernah memberikan salinan kecil dari buku tersebut.

"Buku ini memiliki sejarah serta lebih banyak simbol-simbol yang biasa mereka gunakan. Intinya buku ini bisa jadi panduan yang lebih baik dari sesuatu yang kuberikan waktu itu."

Rat Slayer mengangguk paham, dengan apa yang disampaikan Night Elf King. Kemudian, dia berkata.

"Terima kasih atas bukunya!"

"Sama-sama!"

Setelah itu Sai memutar tubuhnya, membuat jubah miliknya berkibar walau tidak terlalu mencolok.

"Kalau begitu aku pamit!"

"Eh, kau tidak ikut kami memburu mereka?"

Adalah Warrior Priestess yang menanyakan hal itu pada Night Elf King. Berpikir mungkin saja dia tertarik, untuk berpetualang dengan Rat Slayer dan dirinya.

"Terima kasih atas tawarannya, tapi saat ini aku sedang ada hal penting jadi aku permisi. Nona Herbalis! Terima kasih bantuannya, suatu hari akan kubalas dan untuk kalian berdua semoga para dewa dan dewi melindungi kalian sampai misi selesai. Dan khusus untukmu Nona Priestess, semoga mendapatkan berkah yang bisa membantumu dalam mengemban sebuah takdir."

"Eh!"

Suara itu dan kedipan mata heran, merupakan apa yang dilakukan Warrior Priestess atas apa yang diucapkan Night Elf King.

Tanpa memberikan waktu baginya untuk menanyakan maksud ucapannya itu, Night Elf King atau Sai Stromrage melenggang dari tempatnya.

"Apa maksud ucapannya?"

"Aku juga tidak tahu yang lebih penting, Rat Slayer-san! Apa kau sungguh sudah baikan?"

Rat Slayer mendengarkan pertanyaan Warrior Priestess tanpa menoleh, sebab dia sedang fokus membaca halaman pembuka dari buku manual tentang Omni-Rat yang diberikan Sai.

'Dia ini jika sudah berurusan dengan Rat jadi lupa segalanya.'

Sebuah keringat jatuh di samping pipinya dan sudut matanya berkedut, mengiringi suara yang ada dalam hatinya. Dia juga menambahkan.

'Tapi itulah yang menjadi ciri khasnya.'

"Ha~ padahal aku ingin tahu apa [opsi] yang dipilih oleh kakek dari Sai Stromrage itu. Menurutmu apa yang dilakukan olehnya, nona Priestess? Kau kan tahu tentang ras itu, jadi kau pasti mengerti apa yang dilakukan Illidan Stromrage untuk menghancurkan ambisi The Great Lich King."

Suara lembut berisi kekecewaan itu, membuat Warrior Priestess atau Lenneth sadar dari khayalannya yang sedang memikirkan pria itu. Dengan sebuah deheman kecil dia menjawab.

"Aku tidak bisa bilang jika asumsiku benar, tapi kurasa [Opsi] yang dipilih oleh Illidan Stromrage untuk menghancurkan The Great Lich King adalah menjadi [Parasit]."

"Parasit?"

Bahkan setelah Warrior Priestess menjelaskan dengan begitu mudah untuk dimengerti, Girl Herbalis tetap tidak memahaminya.

"Aku rasa pendekatanku salah, aku ulangi jika begini saja. Anggap saja tubuh yang sehat adalah keinginan The Great Lich King. Maka yang dilakukan Illidan Stromrage adalah memberi racun pada tubuh ini agar mati."

Setelah mendengar penjelasan yang menggunakan apa yang dia pahami, akhirnya Girl Herbalis mengerti. Lalu dia menggumam dengan wajah muram.

"Aku sekarang mengerti, tapi bukankah cara yang digunakan terlalu menyakitkan baginya. Itu sama saja dia memberi masalah, pada keturunannya di masa depan."

Lenneth yang mendengar gumaman serta melihat wajah Girl Herbalis sendu segera menimpali.

"Itu adalah pilihannya dan setiap orang bertanggung jawab atas apa yang dipilihnya."

Hening

Yeah suasana canggung kembali di ruangan itu. Rat Slayer yang hanya sibuk dengan buku manual Omni-Rat, secara pelan namun pasti dia membalik halaman buku itu. Girl Herbalis yang masih memikirkan apa yang telah dipilih Illidan Stromrage dan Lenneth yang tidak tahu harus melakukan apa.

Setelah beberapa detik Lenneth akhirnya menyadari satu hal penting yang terlewat, satu hal yang sangat ingin dia ketahui. Namun, mencari Night Elf itu sekarang adalah kebodohan. Dia pasti sudah tidak ada di desa ini. Karena itu, dia hanya bisa mendesah sambil bergumam.

"Aku lupa menanyakan tanda apa yang ada di dadamu itu, Rat Slayer?"

Entah kebetulan atau memang niat pria itu untuk memberitahukan pada Lenneth. Naruto membuka suara setelah dari tadi hanya sibuk dengan buku tersebut.

"[Sacrifice Seal] itulah yang dikatakan buku ini dan bentuknya sama dengan yang ada di dadaku. Lihat!"

Seraya mengatakan itu, Naruto memperlihatkan halaman dimana pembahasan tentang tanda itu dan tujuan dibuatnya tanda tersebut pada korban.

Seketika mata Lenneth menegang dan ekspresi wajahnya mengeras, mengundang Girl Herbalis untuk membaca apa yang dijelaskan buku tersebut.

[Sacrifice Seal] adalah sebuah tanda yang diberikan Omni-Rat, pada korban yang hendak dipersembahkan untuk Dark God yang mereka puja dan sembah yaitu The Horned Rat. Dalam melakukan proses ini mereka memerlukan salah satu dari empat item yaitu [The Rat Theet] [The Rat Claw] [The Rat Bone] The Rat Staff] [The Rat Tail] dan [The Rat Robe] yang dipercaya mendapat berkah dan terhubung dengan The Horned Rat. Dengan membunuh sang Korban, maka sang pemuja akan mendapat anugerah lebih tinggi dan kemungkinan mendapat evolusi lanjut serta nama dari proses ini adalah ****** ********.

"Ba-bagaimana mungkin hal seperti ini, tidak ada dalam perpustakaan kerajaan dan Gereja suci?"

Lenneth menelan liurnya sendiri, setelah mengetahui fakta itu. Sedangkan Girl Herbalis secara tidak terduga, langsung memegang tangan Rat Slayer.

"Naruto, kumohon jangan memburu mereka lagi!"

Pada perkataan itu Rat Slayer menatap Girl Hebalis yang baru mengatakan namanya. Namun, di sebelah mereka berdiri seorang wanita dengan hatinya yang terasa ngilu melihat kejadian didepannya.

'Dia sudah mengenalnya? Gadis itu sudah tahu nama asli Rat Slayer?'

Dia berusaha menahan dirinya agar tidak gemetar saat mengetahui fakta itu. Namun sia-sia bulir air mata lolos dari celah matanya, itu diketahui Rat Slayer dan Girl Herbalis.

"Ada apa?"

Rat Slayer bertanya dengan tenang, namun ada jejak khawatir dan bingung. Sedangkan Girl herbalis, langsung keintinya

"Kenapa kau menangis?"

Lenneth menatap keduanya dengan segenap kekuatan yang ada, lalu matanya beradu pandang dengan Girl Herbalis. Kini dia tahu kenapa gadis tersebut tampak hendak marah dan membencinya, saat malam itu ia menceritakan kalau dialah penyebab Rat Slayer terluka. Tak kuasa menahan emosi, dia segera berbalik dan pergi dari situ. Meninggalkan dua orang berbeda gender yang tidak mengerti, apa yang terjadi pada dirinya.

Jubah pendetanya bergerak tidak karuan, napasnya berantakan sebelum akhirnya jatuh di atas dua lutut dengan napas tersengal-sengal. Posisi saatnya ini, apa bila dilihat oleh para pria mengundang sebuah pemikiran negatif. Namun, tidak ada siapapun di sini.

Di sini di pinggir sebuah danau di dalam Hutan, Lenneth mengatur napasnya agar normal. Dia tidak mengerti kenapa melakukan ini yang dia tahu, saat melihat Girl Herbalis memanggil nama asli Rat Slayer hatinya terasa ditusuk jarum. Begitu menyakitkan.

"Apa semua perjalanan ini, tidak meninggalkan jejak apapun padanya?"

Dia sudah percaya diri, saat Rat Slayer mempercayainya dengan rencana itu. Tapi sekarang, kepercayaan dirinya jatuh sebab mengetahui kalau ada orang lain yang lebih dulu mengetahui nama pria itu.

"Padahal aku ingin menanyai nama sesungguhnya, tapi aku terlambat mengambil langkah."

Itulah pikiran yang lewat dikepalanya. Sekarang dia tidak tahu, bagaimana menghadapi Rat Slayer selanjutnya. Dia memeluk lutut dan membenamkan wajahnya diantara dua lutut itu.

Pikirannya jauh menerawang tentang bagaimana petualangan yang telah dia lalui dengan pria itu. Wajah tanpa emosi, pola pikir yang pendek namun entah bagaimana selalu membawa keberhasilan. Serta cara bicara yang dingin seperti es.

Pertemuan pertamanya adalah saat dia hampir diperkosa Goblin. Saat itu dia pikir, mungkin inilah penyelamat yang dikirim dewi Freya untuknya. Itulah yang membuatnya berani mengambil langkah, menawarkan diri agar menyertai petualangannya.

Dia begitu senang saat pria itu menerima tawarannya. Bahkan perlahan namun pasti menurut pikiran dia, hubungan antara dirinya dan Rat Slayer semakin dekat. Sebab secara tidak langsung, Rat Slayer menerima ajakannya untuk sekedar minum teh.

Itu terlihat biasa bagi orang lain, hanya sekedar mengajak minum teh dan bercerita walau tidak tahu apa yang hendak diceritakan. Tapi hal tersebut memberikan bukti, bahwa Rat Slayer mulai melihatnya. Lalu tiba-tiba itu terjadi.

Hal yang dicari oleh pria itu datang, informasi tentang memburu Rat. Untuk pertama kali, dia akhirnya senang sebab bisa mengetahui apa yang sebenarnya diburu pria itu. Walau bercampur takut, namun dia berusaha agar bisa membantunya. Dan disaat rencana penyerangan itu diselesaikan walau hampir merenggut nyawa andai tidak ditolong Night Elf King. Lalu mendengarkan cerita tentang Ras Night Elf, serta beberapa perbincangan Omni-Rat disinggung juga. Akhirnya, adegan itu terjadi

Girl herbalis dengan mudahnya menyentuh Rat Slayer dan menyebutkan nama Pria itu.

Adegan itu pun tampaknya biasa, dimata siapapun itu hanya adegan menyebutkan nama lalu menasehati agar tidak menjerumuskan Rat Slayer dalam bahaya. Harusnya dia tidak perlu panik dan lari seperti itu, lantas membuat dua orang berbeda gender itu kebingungan. Namun, sesuatu dihatinyalah yang menuntunnya melakukan hal tersebut dan akhirnya dia di sini.

Di tepi sebuah danau dengan rumput sebagai alas duduknya. Kicauan burung samar terdengar, angin sepoi bertiup seakan menenangkan hati pilihan dewi Freya itu.

Dia tetap disana dari saat tengah hari hingga matahari hampir kembali ke peraduannya. Rat Slayer dan gadis itu tidak muncul untuk mencarinya, membuatnya yakin jika dirinya bukanlah sosok yang diperlukan lagi.

"Apa sebaiknya aku membubarkan Party saja dengannya. Lalu aku melanjutkan perjalanan sendiri sampai batas waktu [Pilgrimage Questku] berakhir dan kembali ke kota air untuk Promosi."

Gumaman itu meluncur dari mulutnya tanpa dia sadari. Untuk apa bersama dengan orang yang tidak mempedulikan sekitarnya dan hanya mementingkan buruannya. Pemikiran itu logis untuk direalisasikan.

"Aku hanya perlu bilang kalau pihak Kuil, sudah mengirim bala bantuan dan sedang menungguku di suatu tempat. Kurasa itu alasan yang tepat, tapi bagaimana menjelaskan pada mereka tentang kepergian diriku ini."

Ketika dia hanyut dengan pikirannya, sebuah langkah yang bergesekan dengan rumput terdengar.

Lenneth mengira itu adalah Rat Slayer yang menjemputnya, karena itu dia langsung menoleh. Namun, Iris biru itu menegang dan mulutnya terkatup-katup, sebab yang dilihatnya adalah monster yang begitu dia takuti yaitu Goblin.

Lima Goblin dengan liur yang menetes di mulut mereka, memperlihatkan tawa dan senyum menjijikan. Semua menatap pada Lenneth.

"Menjauhlah! Menjauhlah!"

Saat lari dia tidak membawa pedangnya, jadi dia berusaha mengusir mereka dengan mengucapkan itu berharap para Goblin pergi.

Tapi Goblin adalah monster yang suka memainkan korbannya terlebih wanita, mereka sangat suka melihat bagaimana wanita merengek dan memohon belas kasih dari mereka.

Balasan atas itu semua adalah mereka akan lebih menakut-nakuti, kemudian bermain dengannya secara bergiliran untuk selanjutnya dibunuh.

"Ghaghaghagha!"

Satu Goblin mulai menunjuk-nunjuk pada Warrior Priestess, seolah dia mengatakam 'aku yang akan menikmati tubuh wanita ini' mengundang perdebatan di antara mereka.

Keserakahan adalah sifat utama para goblin, mereka mulai berkelahi satu sama lain demi menjadi yang pertama menikmati tubuh Lenneth.

'Aku harus pergi dari sini.'

Dia mengatakan itu pada dirinya yang sedang terguncang, karena berhadapan dengan monster yang paling ditakutinya.

Apa ini juga menyedihkan atau konyol, Lenneth tidak tahu tapi satu hal yang dia ketahui adalah monster hijau cebol ini adalah penyebab dari Party lamanya hancur.

"Ghaghagha!"

Salah satu Goblin menyadari bahwa buruan mereka berusaha melarikan diri, para Goblin bergerak untuk menangkapnya.

Sadar rencana melarikan diri sudah diketahui, Lenneth berlari semampu yang dia bisa untuk lepas dari cengkeraman makhluk itu.

"Ghaghagha!"

Para Goblin kian bersemangat mengejar Warrior Priestess, bagi mereka ini adalah sebuah keseruan. saat mengejar mangsa yang tidak berdaya, namun berusaha melarikan diri.

Dan kemudian itu terjadi, sebuah akar pohon membuat kakinya tersantuk dan tubuhnya terjatuh diantara rerumputan.

"Padahal sedikit lagi."

Iya sedikit lagi dirinya akan sampai di desa itu, sedikit lagi dia akan lepas dari monster yang membuatnya trauma dan sedikit lagi dia akan mencoba meminta maaf namun.

"Ghaghagha!"

Para Goblin tertawa kegirangan dengan liur yang menetes di sela-sela mulut mereka. Mata para monster hijau itu memunculkan sinar jahat dan otak kerdil mereka, sudah memikirkan skenario apa untuk mempermainkan korbannya.

Wajah Warrior Priestess memucat, sebab dia tahu arti dari tawa dan sinar yang dimunculkan monster itu.

"Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Tolong aku!

Suaranya bergetar bahkan seakan bergumam, tentu tidak ada yang bisa mendengarnya. Itu adalah hal terakhir yang terlintas dikepalanya.

Lima monster itu akhirnya menangkapnya dan setiap Goblin memegang kaki kanan, kaki kiri, tangan kanan, dan tangan kiri agar Lenneth tidak berontak.

Satu Goblin dengan semangat mulai menarik-narik pakaian yang menempel di tubuhnya. Satu per satu sobekan itu membuat tubuh indahnya terekspos.

Mata birunya sudah tidak bersinar dan hanya menatap kosong. Dia sudah pasrah jika ini akhirnya, menuruti hatinya ternyata membawa dia pada keadaan seperti ini.

Ingin sekali dia meneriakan nama itu, untuk menolongnya dari situasinya saat ini. Tapi apa dia masih punya hak untuk itu.

Dia telah membuat pria itu hampir mati dan secara sengaja pergi begitu saja dari hadapannya, hanya karena Girl Herbalis memanggilnya dengan nama asli.

'Tindakanku memang bodoh tapi ….'

Keluhan dihatinya berhenti, namun mulutnya hendak berteriak.

Ketika itu sang Goblin menarik kuat kain yang sudah tercabik-cabik akibat ulahnya, kini tubuh bagian depan Warrior Priestess terekspos.

Buah dadanya yang ranum dengan sebuah pink di ujungnya, pinggang yang begitu sempurna serta pinggul yang molek.

Membuat Goblin itu mengeluarkan liur lebih banyak dan saat itulah dia berteriak.

"Tolong aku, Rat Slayer-san!"

And cut

Hai jumpa lagi dengan saya Jinchuriki Shukaku! Chapter kali ini membahas tentang ras Night Elf. Raja Sai Stromrage telah menjelaskan secara rinci kronologi terkutuknya bangsa Night Elf semoga kalian bisa paham ya. Dan sebetulnya ini adalah penjelasan dari secuil narasi awal tentang ras Night Elf di chapter 6. Lalu kalian bisa mengira bukan opsi apa itu. Simpan itu ya, buat kalian.

Well chapter ini seperti judulnya kekecewaan yang konyol, Lenneth merasa terpukul karena dirinya sudah diserobot oleh Girl Herbalis tentang nama asli Rat slayer. Apakah ini lebay, perlu dijelaskan ya. Memanggil nama seseorang menggunakan nama asli itu tabu di dunia fic ini dan mereka yang bisa memanggil nama asli biasanya memiliki hubungan dekat. Jadi semoga kalian memaklumi tertusuknya hati Lenneth karena itu walau pada akhirnya dia dalam bahaya sekarang :'v.

Oh kalau kalian jeli ya, penunggang kuda misterius yang muncul di akhir chapter kemarin. Udah disinggung lo sama Sai Stromrage dan kapan dia muncul. Nantilah aku akan siapkan panggung untuknya.

Ah sepertinya udah itu aja kebanyakan ngoceh takut membuat kalian bete. Oh untuk balas review sekaramg aku pilih ya :v. Maaf jika seandainya tidak terjawab kalian bisa pm atau hub author di no WA 089523076375

Oke time to balas Review :

genesis0417 : tebak aja sendiri :'v

Rida-kun : yah apa boleh buat Author sanggupnya segitu, btw makasih semangatnya :v

Sevirel Reshi Dashi : Reviewmu selalu membuatku semangat, Thank semoga cerita kali ini memuaskan.

Guest : Oh anda secara tidak langsung membongkar kedok sebagai pemain dota :v. Tapi tak apa jujur aku jawab iyes. I am inspirated from Dota and maybe other game. Semoga ceritanya memuaskan.

Aditya-Namikaze : Maaf kalau tidak bagus, dan kali ini sepertinya chapter terburuk untukmu :'v

siapa ayoo : pertama gua gak nyambung, kedua gua kagak paham dan ketiga Lo ngomong apaan sih:'v. Semoga aja gak kepanjangan karen menurutku itu udah pendek:'v

Fiuh akhirnya kelar juga. Bales reviewnya nanti dibatesin 5 mulai minggu deoan dan siapa yang punya pertanyaan tinggal PM.

Makasih atas perhatiannya dan semoga sehat selalu dan karena saya gak bakal up di hari idul fitri sekarang aja saya ucapkan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H mohon maaf lahir dan batin:v

Stay at home and keep Health serta maaf kalau lambat up

Jinchuriki Shukaku Out!