Just Info!

(Fanfiction) = Igneel yang bicara

{Fanfiction} = Ethrious/END yang bicara

.

.

Chapter Sebelumnya :

"Apa kubilang, kau sudah bertambah kuat. Hanya saja kau kurang percaya diri, Lucy. Sa sekarang naikkan level kami ke level dua." Lucy pun berkonsentrasi, ia memegangi ketiga kuncinya dan memusatkan sihirnya di kunci tersebut.

Spirit Enhancement: Level 2

Whuushhh

Sihir Lucy dan ketiga makhluk panggilannya mengalami peningkatan drastis, tak hanya sihirnya tapi outfit Lucy juga berubah. Sekarang ia memakai dress berwarna hitam(Note: Dress yang Lucy pakai saat ia men-summon Loki dan mengubah dressnya).

"Sekarang kami sudah siap!" ucap seluruh member Fairy Tail. Monster itu pun mulai menunjukkan jati dirinya, kepala yang sejak awal ia sembunyikan. Sekarang mulai terangkat menjulang tinggi.

Mata semua orang terbelalak dengan sempurna, mereka kaget dengan makhluk yang satu ini. Ukuran dan auranya sangatlah berbeda dari kedua monster tadi. "Hoi Hoi yang benar saja?" Laxus menatap makhluk itu, tatapannya menunjukkan ketidakpercayaan dengan apa yang ia lihat.

"Kenapa hewan yang dievolusikan ini bisa menjadi makhluk mitologi Yunani!?" ujar Gray yang masih begitu kaget.

"Tidak mungkin kita bisa mengalahkan monster ini," kata yang lain. Makhluk itu begitu besar daripada kedua monster tadi, mahkluk itu memiliki kepala yang sangat banyak.

"Satu.., d-dua.., ti-tiga….., se-sem-sembilan kepala. Makhluk itu memiliki Sembilan kepala!?"

"Jangan bilang kalau makhluk itu bernama…"

"Hydra…"

.

.

Chapter 17 : Fairy Tail vs Makhluk Mitologi

.

Siapa orang yang tidak tau tentang makhluk berkepala sembilan yang berasal dari mitologi Yunani itu. Hydra merupakan monster berbentuk ular ataupun naga dan ia memiliki sembilan buah kepala, yang apabila salah satu dari kesembilan kepala itu dipotong akan tumbuh dua kepala baru. Kemampuan makhluk mitologi Yunani itu adalah racun, bahkan napasnya juga beracun. Pada masa lalu Hydra dibunuh oleh Herakles atau yang kita kenal dengan Hercules.

"Mira-san, bisa-bisanya kau menjelaskan itu dengan tenang disaat genting seperti ini!?" Bantah Gray yang masih berusaha memperkuat Ice Wall-nya.

"Jadi, bagaimana kita menghabisi makhluk itu Mira?" tanya gadis berambut Scarlet.

"Dijelaskan di dalam buku kita harus memotong satu kepala yang benar-benar induk dari semua kepala itu, tapi di buku tidak dijelaskan bagaimana cara menemukan kepala induk itu." Mira kembali mengingat buku tentang monster mitologi yang ia baca di perpustakaan.

"Kalau begitu mudah saja, kita tebas saja semua kepala monster itu," usul Gray tanpa memikirkan apa yang terjadi setelahnya.

"Oh, itu ide yang ba-" Perkataan Erza langsung dipotong sebelum ia berhasil menyelesaikannya.

"Tunggu dulu, itu memang ide yang bagus tapi apabila kepala induk itu menghindari serangan kita. Maka kepala yang kita potong ada delapan dan yang akan tumbuh lagi ada enam belas kepala," jelas Lucy yang memikirkan ini dengan serius. Semua orang di kapal ikut membantu berpikir untuk mengalahkan monster ini.

"Tapi Lucy jika kita memotong satu-satu, maka akan lebih beresiko," ujar Gray.

"Semua keputusan kita beresiko Gray, kita ambil kemungkinan yang paling tinggi dengan resiko yang paling rendah. Yaitu kita tebas sembilan kepala itu dengan tebasan kilat Erza." Sahut Laxus. Pria bersurai pirang itu berhasil meyakinkan semua orang.

"Baiklah kita akan menebas monster itu dengan sekali tebasan!" kata Erza yakin.

"Kalau begitu… Second Origin : Stage 1.. Activate!" keempat orang itu serempak menggunakan Second Origin mereka. Lantas kekuatan mereka bertambah berkali-kali lipat. Sedangkan Hydra saat ini sedang mengelilingi kapal Fairy Tail dengan kepalanya dan masing-masing kepala sedang mengumpulkan sihir. Sihir itu dipusatkan membentuk seboah bola yang besar. (Note: Seperti Bijuu yang sedang menyiapkan Bijuu Dama di anime Naruto).

"Keadaan kita mulai gawat teman-teman," ujar seseorang. Sembilan serangan dahsyat akan ditembakkan ke arah mereka.

"Erza! Apa kau bisa membuat satu perisai seperti itu lagi? Mengingat kita baru saja membuka Second Origin, pasti bisa 'kan?" Lirik Laxus ke perisai besar yang mengambang di atas kapal.

"Ya aku bisa membuatnya lagi."

"Tolong buatkan satu lagi." Laxus mengomando seluruh temannya. Erza bergerak cepat setelah dimintai tolong oleh Laxus.

"Gray, tingkatkan ketebalan dinding esmu dan setelah Hydra menyerang, bekukan seluruh pergerakan Hydra!" Gray mengangguk pertanda ia paham tugasnya.

"Untuk kalian semua, kita akan menahan sisa serangan yang tidak ditahan oleh Erza dan Gray!" Laxus membakar semangat seluruh orang.

"Ooooo!"

'Apa belum datang anak itu?' Batin Laxus sembari menatap langit biru yang menampakkan senyum cerahnya, tapi senyum cerah itu berkebalikan dengan kondisi mereka saat ini.


"Sepertinya cucumu mulai bisa diandalkan, Master," ujar Gildarts di samping Makarov, sedangkan kakek tua itu hanya diam dan masih berpura-pura tidur.

"Sepertinya aku akan ikut andil dalam masalah ini." Gildarts berjalan menuju tengah kapal tempat seluruh orang berkumpul untuk menahan serangan Hydra.

Makhluk itu-Hydra siap menembakkan bola sihir yang sejak tadi sudah ia kumpulkan. Tiap kepala memakan bola sihir yang sudah diciptakan, hal tersebut mengundang kebingungan bagi yang melihatnya. Tapi kebingungan mereka perlahan menghilang setelah Hydra membuka mulutnya dan terdapat cahaya di dalam mulut tersebut. Laxus yang paham akan hal itu langsung menyuruh semua temannya bersiap.

"Semua bersiap! Serangannya datang!" Benar kata Laxus. Monster berkepala sembilan itu menembakkan bola tadi dari mulut, bukannya berbentuk bola. Melainkan berbentuk seperti laser besar yang siap membumi hanguskan apa yang dilewatinya.

Doooommmm

Kedua serangan Hydra ditahan oleh perisai Erza, sedangkan tiga serangan lainnya ditahan oleh dinding es milik Gray. Laxus dan Mirajane masing-masing mengambil satu serangan Hydra. Sedangkan sisanya menahan serangan dashyat dari Hydra. Sedangkan yang satunya…

"Gawat, satu serangan lolos. Tolong siapa saja hentikan serangan itu!" Laxus mulai panik.

Mode Eclipse: Eclipse Leo

Kurai Hono: Shikoku Bakuenjin

Enhance Archer: Arrow From Star

Blarrr Blarr Blarr

"Kami yang akan mengatasi serangan ini, kalian tetap fokus ke tugas kalian masing-masing saja," ujar Lucy. Semua teman-temannya terkejut, sejak kapan Lucy menjadi sekuat ini? Itu bukan serangan sembarangan loh, itu serangan dari monster rank S. Tapi mereka tidak punya waktu untuk menanyakan hal itu sekarang, masih banyak waktu untuk menanyakan hal itu setelah mereka menghabisi makhluk mitologi ini.

"Yosh, kita lanjutkan seperti ini!" Mereka semua terus menahan sembilan serangan itu. Setelah beradu kekuatan selama hampir tiga menit, akhirnya serangan Hydra dapat dipatahkan, kecuali satu serangan lolos dari dinding Gray. "Sial! Minna awas!"

Serangan itu mengarah ke tengah kapal, tempat seluruh penyihir berkumpul. "Sial, tidak akan sampai." Laxus mencoba mengeluarkan sihirnya lagi, tapi jeda waktu untuk menyiapkan sihirnya terlalu lama.

Crush!

Serangan itu ditahan satu tangan oleh seseorang, kemudian serangan itu menjadi kepingan-kepingan kecil. Semua orang tau siapa penyihir yang memiliki serangan seperti itu, ia adalah..

"Gildarts!" kali ini semua serangan benar-benar sudah dipatahkan semua. Semua bersorak senang.

"Kita lanjutkan ke rencana kita!"

"Yaa!" sahut semuanya ramai-ramai. Seketika itu Gray membekukan keseluruhan tubuh Hdyra. Jika kalian bertanya-tanya kenapa ia bisa melakukan itu, itu karena Gray membuka Second Origin. Mirajane, Laxus, dan Lucy membantu menyatukan kesembilan kepala Hydra agar Erza bisa memotongnya dengan sekali tebas.

"Minna, berikan sihir peningkatan kalian ke Erza!"

Reinforcement Magic: Power Speed

Kali ini Erza menjadi pemeran utama dalam penebasan kepala Hydra, ia turun ke laut yang sudah dibekukan. Erza berlari sambil merapal sesuatu. "Sembilan pegunungan dan tujuh samudra, berada dalam satu dunia!"

Tap Tap

Erza terus berlari mendekati makhluk itu, "Dan semuanya terkumpul dalam satu dunia! Saat semuanya berkumpul menjadi satu!"

Tap Tap

Gray menciptakan batuan es yang tinggi untuk membantu Erza mendekati kesembilan kepala itu, Erza menarik katana dari sarungnya. "Takkan ada yang tak bisa kutebas!"

Katana Style: One Extremly Slash!

Sllliiiiinggg

Erza mendarat dengan sempurna, bersamaan dengan jatuhnya kepala Hydra. "Dengan ini kita bisa melanjutkan perjalanan," ujarnya santai berjalan meninggalkan kepala-kepala itu. Semua orang bersuka cita, suasana kembali santai. Tetapi kemudian…

"Hoi hoi! Yang benar saja!?"

"Ada apa?"

"Coba kau hitung berapa kepala yang jatuh itu?" mereka berdua menghitung kepala yang sudah tertebas tadi.

"Satu, dua, tiga,… Delapan!?" mereka berdua berteriak saat mengucapkan kata 'delapan', teriakan mereka menarik perhatian seluruh orang yang berada di atas kapal. Mereka semua kaget, pupil mereka membulat sempurna. Ini gawat, rencana mereka gagal. Enam belas kepala akan tumbuh.

"Erzaaa! Segera naik ke kapal!" Peringatan Gray terlambat. Terjadi guncangan hebat dari bawah. Lautan yang dibekukan Gray hancur, Erza tercebur ke laut. Erza masih mengolah apa yang terjadi. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

Brrruuushhhh

Muncul sesuatu yang sangat besar dari bawah laut melewati kapal mereka dan terbang ke langit. Makhluk itu memiliki dua sayap yang lebar dan satu ekor, tubuh makhluk itu sangat besar tapi kepalanya cuma satu dan kecil. Namun apabila diperhatikan dengan lebih detail, ada bekas sayatan pedang di samping kanan kiri kepala itu.

"Jangan-jangan! Makhluk itu adalah Hydra!?" tak lama setelah orang itu berteriak. Tumbuh kepala dari makhluk itu dengan jumlah enam belas kepala. Erza berenang secepat mungkin ke arah kapal. Akan tetapi Hydra terbang dengan cepat menuju Erza, makhluk itu menyambar Erza dan membawanya dengan melilit Erza di ekornya.

Semua teman-temannya panik, "Kita harus menyelamatkan Erza!" kata Gray. Ya semua orang tau itu tapi bagaimana caranya? Sahut salah satu di antara mereka.

"Kita akan menyerang makhluk dengan ekor sebagai pusat serangan kita." Setelah Mira berkata seperti itu. Hydra menyembunyikan Erza dibalik kepalanya, seakan ia mengerti percakapan manusia dibawahnya. Mereka semua kaget, bagaimana binatang di atas mereka itu bisa mengerti ucapan kita?

"Dia tidak mengerti, tapi ia tau melalui instingnya!" ujar Laxus. giginya gemeretak, tangannya mengepal. Jujur saja tubuhnya sudah lelah, begitu juga dengan pikirannya. Sudah tidak ada strategi yang ia bisa ciptakan. Begitu juga dengan semua orang, mereka lelah.

"Jangan menyerah Minna!" suara seorang wanita menggema di seluruh sudut kapal. "Kita bisa menyelamatkan Erza!" mereka semua menoleh ke sumber suara itu. Gadis berambut pirang yang masih setia bersama arwah bintang panggilannya berteriak lantang. Dia tidak akan menyerah hanya karena hal ini, pasti ada jalan. Begitulah pikirnya.

'Apa yang dilakukan Natsu selanjutnya setelah memberi semangat teman-temannya? Apa yang akan kau lakukan Natsu!?' Lucy terus memaksa pikirannya yang sudah lelah itu.

"Kita lancarkan serangan terbaik kita ke arah Hydra dengan target ekor yang ada di belakang kepala Hydra." Lucy memberi solusi yang masuk akal, tapi solusi itu sangatlah sulit dilakukan mengingat kerasnya tubuh Hydra dan jangkuan serangan sihir mereka. Jika ada pasti hanya sedikit yang bisa mengenai ekor Hydra, tapi ia akan ambil resiko itu. Daripada berputus asa tanpa melakukan apa-apa, lebih baik berusaha sebisanya dengan segenap kemampuan yang ada.

Semua orang tidak yakin dengan ide gadis tersebut, mereka semua terdiam-putus asa melanda jiwa mereka, letih menyerang fisik mereka. Sebenarnya mereka ingin Si Titania lepas dari cengkraman Hydra, tapi mereka semua sudah mencapai batasnya. Air mulai menganak di pelupuk mata Lucy karena melihat hal itu, asal mereka tau Lucy juga lelah. Tapi jiwanya masih siap bertarung kapanpun itu.

"Ne Minna…" panggilnya lirih. Ketiga arwah bintang itu menatap Lucy dengan rasa iba, Loki menoleh ke Aquarius dan Sagitarius. Seakan tau rencana Loki, mereka berdua mengangguk setuju.

"Tenang saja Lucy, kami akan melakukan sesuatu," kata Loki menyentuh pundak pemiliknya. "Yosh kita akan melakukan Unison Raid!" teriak Loki. Sebenarnya tidak perlu berteriak karena jarak mereka sudah dekat, tapi Loki berteriak agar semua teman Lucy sadar bahwa dirinya masih berjuang.

Loki dan Aquarius memusatkan sihirnya pada anak panah Sagitarius. Anak panah itu bercahaya, tak lama api hitam dan aliran air menyelimuti anak panah itu. Serangan mereka sudah siap, Sagitarius membidik tepat di ekor. Jangan remehkan penglihatan pemanah dari dunia arwah ini.

Gray yang melihat hal itu kembali bersemangat-tidak hanya Gray melainkan semua orang juga kembali bersemangat. Tatapan putus yang tadi Lucy lihat sudah menghilang digantikan tatapan penuh tekad.

Unison Raid: Elemental Arrow

Whhuuusshhh

Anak panah itu melesat menuju ekor Hydra dengan melewati ruang kosong yang tercipta, namun Hydra mencoba menghalangi anak panah itu dengan kepalanya. "Tch, Sial!" gumam Loki.

"Semuanya tembakkan sihir terbaik kalian, hancurkan kepala makhluk itu! Jangan pikirkan tumbuh lagi atau tidak. Kita harus menyelamatkan Erza terlebih dahulu." Ucapan Gray diresponn teman-temannya dengan melancarkan semua serangan terbaik mereka.

Ice Make: Gungnir!

Rairyuu Houtengeki!

Yami Maho: Extinction Ray Extra!

Dooom Dooom Dooomm!

Tercipta ledakan besar di atas langit, kepala yang menghalangi itu pun hancur dan akan tumbuh lagi dalam beberapa saat. Tapi waktu beberapa saat itu cukup untuk anak panah melesat menghancurkan ekor dan menyelamatkan Erza.

Darrrrr

Anak panah itu menembus ekor Hydra dengan sempurna, ekornya pun terputus dan terjatuh. Erza melepaskan diri dari potongan ekor itu, tapi kedelepan belas kepala itu tidak ikhlas melihat teman berambut scarlet mereka selamat tanpa luka apapun. Makhluk itu pun langsung menembakkan sebuah bola yang sangat besar ke arah Erza, tidak ada persiapan seperti tadi. Entah bagaimana caranya Hydra bisa mengumpulkan sihir sebesar itu dalam waktu singkat.

Erza mencoba menghindarinya dengan terbang menggunakan armor yang memiliki sayap, sayangnya diameter bola sihir itu terlalu besar. Erza tidak akan sempat menghindarinya, "Sial! Tidak akan sempat," umpatnya.

Dooom Blarrr

"Erzaaaa!" teriak semua orang dari kapal. Kepulan asam membumbung tinggi di atas langit. Dengan tatapan tajam, Laxus melangkah menuju Gildarts. "Kauu!" geramnya sembari mencekram kerah Gildarts.

"Kenapa kau diam saja melihat hal ini!? Bukankah kau bisa menghancurkan serangan itu?" Laxus meneriaki Gildarts tepat di depan wajahnya. Gildarts tetap tenang, ia pun membuka mulutnya.

"Ya aku bisa saja, tapi jika aku melakukan itu ketiga orang di atas sana akan kena juga," jawabnya santai. Emosi Laxus makin memuncak, tapi ia mencoba mengolah kembali kalimat Gildarts. 'Tunggu tiga orang? Bukankah tadi cuma Erza sendiri, kenapa jadi tiga orang?'

"Err..Mungkin cuma dua orang dan satu kucing," ujar Gildarts meralat ucapannya tadi. Laxus refleks menoleh ke atas. Kepulan asap itu pun menghilang di terpa angin, menampakkan seorang pria memakai syal dengan rambut pink spike dan seekor hewan berwarna biru yang membantu pria itu agar tetap melayang di udara. Tangan kanan pria itu memegang pedang berwarna merah menyala, sedangkan tangan kirinya sibuk memegangi gadis bersurai scarlet agar tidak terjatuh.

"Kauu!?" pekik Erza ketika lensanya menangkap siapa yang menyelamatkan hidupnya. "Yo," sapanya dengan grins yang tak pernah luput dari wajahnya. Ia mengamati pemuda itu lekat-lekat, gadis itu baru menyadari kalau bola sihir tadi dihilangkan oleh pria yang saat ini-emm menggendongnya mungkin.

Merah merona menghiasi wajahnya saat ini setelah memikirkan hal itu, 'Tidak tidak, apa yang kau pikirkan Erza Scarlet.' Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak kusangka kau mampu menghilangkan serangan sebesar itu," pujinya disela-sela turun dari ketinggian. Sedangkan Natsu hanya menjawabnya dengan, "Bukan masalah besar." Jawabannya tidak menyambung dengan perkataan Erza, atau hanya Erza saja yang kurang memperhatikan.

"Natsu memang seperti itu.. etoo.." suara khas dari kucing itu menyapa pendengaran Erza.

"Erza.. Erza Scarlet,"

"Aku Happy. Jangan kau hiraukan Natsu, dia memang selalu berlebihan."

"Apa maksudmu Happy berkata seperti itu?" sahut Natsu dan mereka berakhir dengan perdebatan panjang. Untung saja Erza menengahi hal itu, jika tidak mereka pasti berdebat sampai kaki mereka menyentuh kapal.

"Yo Minna," sapanya dengan grins yang tertempel kembali di wajahnya. Kedatangannya disambut meriah oleh teman-temannya. Kepalanya celingak-celinguk mencari seseorang, baru saja ia menoleh, orang yang dicarinya sudah berjalan ke arahnya dengan wajah menyen-emm menyeramkan sepertinya.

Natsu bergidik ngeri, "Maafkan aku terlambat, ini semua gara-gara Happy," kata Natsu mencari alasan dengan mengkambing hitamkan Happy. Si Kucing Biru itu hanya menyaut dengan, "Hei! Kenapa aku yang disalahkan?"

Padahal Lucy belum bertanya apa-apa dan belum berucap apa-apa, tapi Natsu sudah ketakutan dan sibuk mencari seribu satu alasan agar tidak terkena amuk dari kakak kelas di depannya itu. Saat jarak mereka semakin menipis, semakin terlihat marah wajah Lucy. Natsu semakin ketakutan, entah apa yang membuatnya takut.

"Sumisendesta," ujarnya membungkuk. Saat ini Lucy sudah berada di hadapannya. "Angkat kepalamu," ujarnya dingin. Natsu pun mengangkat kepalanya, dirinya sudah bersiap apabila akan dimarahi Lucy. Tapi..

"Arigatou.." Lucy menerjang pemuda itu dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Natsu. Tangannya ia sandarkan pada dada kouhai-nya itu. Natsu merasa basah pada dadanya dan baru menyadari kalau Lucy gemetaran sekarang ini. 'Kau sudah berjuang dengan keras ya.' Natsu menatap lembut gadis itu, salah satu tangannya ia gunakan membelai lembut juntaian keemasan itu dan satunya lagi ia lingkarkan ke pinggang ramping Lucy membuat sang punya pinggang sedikit tersentak dengan balasan pria berambut pink spike itu.

Bukannya melepaskan, tapi malah membuat Lucy semakin membenamkan wajahnya pada dada sang pemuda, demi menuntut kenyamanan dan kehangatan yang lebih. Nyaman serta hangat adalah rasa yang menyelimutinya saat ini. Begitu juga dengan Natsu, mereka ingin seperti ini selama mungkin. Tapi sebuah deheman yang sangat sengaja membuyarkan momen romantis mereka.

Lucy cepat-cepat melepas pelukannya, ia berbenah diri-tentu saja tak lupa dengan warna kemerahaan yang memenuhi wajah cantik nan manis itu. Sedangkan yang ia peluk tadi mengalihkan pandangannya menatap yang lain, demi menutupi rona merah yang menghiasi wajah tampan pemuda itu.

"Ehem hem… Y-yosh bagaimana caranya kita mengalahkan monster itu?" tanya Natsu ke semua orang yang menatapnya dengan tatapan yang apabila diartikan 'cepatlah berpacaran kalian berdua itu'.

Plak plak

Suara tepukan tangan interupsi yang berasal dari arah belakang, "Semuanya kembali fokus, masalah kita masih belum selesai," ujar Laxus. Natsu sangat tertolong dengan sifat Laxus, jujur dia sangat berterima kasih kepada Laxus dari hati yang paling dalam. Setelah Laxus mengucapakan itu, semua kembali serius.

"Kalian semua istirahat saja, biar aku yang menghadapi makhluk itu," kata Natsu menatap makhluk yang mulai turun perlahan mendekati kapal mereka. Ucapan Natsu membuat semua orang terkejut, bagaimana bisa anak kelas 10 ini menangani makhluk mitologi Yunani yang memiliki rank S bahkan lebih, bila ada rank yang lebih tinggi.

"Ha!? Apa yang barusan kau katakan!? Menyuruh kami beristirahat dan menontonmu berdansa dengan makhluk itu? Jangan bercanda!?" kata Gray emosi, ia terprovokasi. Bukan niat Natsu untuk memprovokasi tapi Gray sudah lelah, lalu tiba-tiba ada orang yang menyuruhnya beristirahat dan mengatakan akan menangani makhluk gila ini. Tentu saja Gray akan emosi.

"Aku tidak bercanda sama sekali, lihatlah keadaan kalian semua. Kalian sudah lelah setelah melawan makhluk tingkat S dan itu tidak hanya satu, melainkan tiga dalam satu waktu." Natsu menekan nadanya saat mengatakan hal itu, tapi sepertinya ia masih ingin mengatakan beberapa hal lagi.

"Lihatlah kawan-kawanmu yang sudah memburu napasnya, yang sudah lemas badannya, yang sudah hampir habis sihirnya. Lebih baik kau memperhatikan sekitarmu dan dirimu sendiri, senpai. Aku tau beberapa diantara kalian masih ada tekad untuk bertarung, tapi apakah fisik dan mental kalian mendukung?"pertanyaan Natsu membuat semua orang yang berada di kapal tertunduk.

"Mungkin mental kalian mendukung tapi bagaimana dengan fisik kalian? Jika kalian tetap memaksa untuk tetap bertarung aku tidak akan menghentikan kalian, tapi jangan halangi langkahku!" Semua ucapan pemuda berambut pink spike di depan mereka ini benar semua. Ucapan Natsu pada kata 'jangan halangi langkahku' benar-benar membuat mereka emosi, tapi ucapannya memang benar adanya.

"Kau!?" geram Gray mencengkram syal Natsu.

"Gray, tolonglah…" ujar Natsu lirih. Gray mematung mendengarnya, cengkramannya melemah, dan matanya membulat sempurna.

"Natsu!"

"Oh, Loki kah? Kau berhasil mengendalikan mode eclipse-mu sekarang."

"Hem ya, sejak aku mendapatkannya kembali. Aku berlatih terus agar dapat mengendalikannya, tapi aku masih memiliki batas dalam menggunakan mode ini. Sebenarnya aku ingin mem-,"

"Kau istirahat saja, akan kasihan Lucy kalau kau masih menggunakan mode itu dan masih disini. Hal itu meyebabkan sihirnya akan cepat habis." Natsu benar-benar mengerti kondisinya, berbeda dengan beberapa saat yang tadi.

"Yosh Happy, ayo kita mulai," ajaknya ke partner birunya. Ajakan Natsu ditanggapi 'Aye!' oleh Happy. Sedangkan Gray masih mematung di tempat. Bahkan tidak hanya Gray, tapi Erza dan Lucy juga mematung setelah mereka mendengar perkataan Natsu tadi.

"Lucy.. Erza.. apa kalian merasakannya tadi?"

"Yah, kami merasakannya. Kalimatnya, nadanya, suaranya, dan raut wajahnya.." jawab Erza.

"Bahkan aku juga merasa ucapan itu dari dirinya langsung.." sahut Lucy.

"Yah, dia mengatakannya seperti 'Natsu Dragneel kita' mengatakannya…" mereka bertiga merasa bahwa kalimat yang diucapkan Natsu tadi benar-benar mirip dengan ucapan Natsu Dragneel teman mereka saat masih SMP. Dari nada sampai rasa yang disampaikan pun sangat mirip dengannya.


"Arrrrggghhhhh!" Raung sang Hydra. Natsu menatapnya santai, dia mengeluarkan sihir api yang melapisi tinjunya.

"sate.. Bagaimana cara kita mengalahkan makhluk ini?" Natsu harus menemukan cara yang tepat agar dapat menghabisi Hydra secepat mungkin agar kepalanya tidak mengalami regenerasi lagi.

(Bagaimana kalau kau bakar seluruh tubuh makhluk itu?)

Igneel menyuarakan pendapatnya. "Sepertinya itu agak mustahil, mengingat tubuhnya yang sangat besar."

{Kau bakar kepalanya saja Natsu.}

"Akan kucoba terlebih dahulu." Kemudian Natsu mengaktifkan beberapa jurusnya.

Ryu no Ikari!

Meteor!

Etherious Mode : END Power 15%

"Yosh sepertinya cukup untuk menghajarnya, tidak perlu membuka Second Origin karena sudah terbuka sejak waktu itu," gumamnya. Makhluk yang sedang terbang itu mendelik ke arahnya, seakan keberadaan Natsu adalah sebuah ancaman baginya. Dengan instingnya, Hydra mengeluarkan raungannya yang berupa racun berbahaya.

Natsu mengambil kuda-kuda, berencana menahan serangan itu. Akan berbahaya kalau serangan itu mencapai laut, hewan dan tumbuhan laut otomatis akan mati semua.

Karyu no Koen!

Bllaaarrrr Dooommm

Semua orang dibawah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, serangan yang sangat besar dapat ditahan dengan mudah oleh bocah pink yang sedang terbang itu. Bahkan ia sama sekali tidak terlihat kesusahan saat menahan serangan dari monster itu.

"Baiklah, sekarang giliranku!" Natsu mengeluarkan sihirnya, ia menyatukan kedua telapak tangannya. Lalu munculah beberapa api berkobar yang mengelilingi kepala Hydra.

END Flame : Six Hell Pillar

Satu persatu dari api itu mulai berbentuk pillar besar yang seukuran dengan kepala Hydra. Keenam pillar itu bergerak berputar searah jarum jam, putarannya semakin cepat. Natsu bersiap mengeluarkan sihirnya lagi, tapi ia melihat kondisi Hydra semakin lemah. Hal itu terlihat dari kepakan sayapnya yang mulai melamban.

Ia bertanya-tanya kenapa Hydra melemah padahal ia belum melakukan apa-apa, tiba-tiba ia teringat bahwa bahan bakar api adalah oksigen, api membutuhkan oksigen agar membesar dan berkobar. Hal itulah yang saat ini Natsu saksikan. Api yang sedang memutari Hydra makin besar itu pertanda kalau api milik Natsu mengonsumsi oksigen yang berada di sekitarnya, sehingga menyebabkan oksigen di tempat Hydra habis dan membuatnya susah bernapas.

"Sepertinya aku tidak perlu menggunakan banyak tenaga kali ini."

(Jangan bodoh Natsu! Dia itu makhluk mitologi yang memiliki insting luar biasa. Cepat persiapkan sihirmu.)

"Iya-iya aku tahu, tidak perlu menyebutku bodoh. Kadal merah," ejek Natsu. Bocah itu kembali mempersiapkan sihir besarnya, entah sihir apa yang akan ia gunakan. Kondisi Hydra semakin memprihatinkan dan benar kata Igneel, monster itu berusaha mencari cara untuk keluar dari pusaran pillar api milik Natsu.

Hydra langsung terbang ke langit demi keluar dari zona api itu, tapi Natsu sudah memiliki rencana untuk mengantisipasi hal itu. Api yang tadinya mengelilingi Hydra dibuat berhenti oleh Natsu, lalu api itu dibentuk menyerupai tombak. Hanya 6 tombak yang tercipta, tapi tombak itu cukup besar untuk melubangi sayap Hydra agar tidak bisa terbang.

"Yosh.. END Flame : Six Hell Halberd.." Natsu melesatkan keenam tombak itu. Tapi dapat dihindari dengan mudah oleh Hydra karena ukuran tombaknya yang cukup besar sehingga menyebabkan kecepatan tombak itu menurun. Seakan tahu kalau bocah itu cuma melempar tombak ke langit dan akan hilang setelah ia menghindarinya. Hydra mengepakkan sayapnya menuju Natsu.

Bocah itu tetap tenang meskipun dia sudah masuk ke jangkauan serangan Hydra. Hydra langsung menembakkan serangan beracunnya. Sekali lagi, bocah itu masih tenang dan hanya mengangkat dua jarinya lalu menukikkannya kebawah.

Zrraasssstttt!

"Raaaarrrggghhhh!"

Dua tombak melubangi sayap kiri Hydra membuatnya meraung kesakitan, namun ia masih bisa terbang walaupun cuma dengan satu sayap. Serangan racunnya masih tetap mengarah ke Natsu dan sekali lagi bocah itu mengangkat kedua jarinya, lalu menukikkannya kebawah. Dengan cepat dua tombak api milik Natsu sudah berada di depannya.

Kedua tombak itu berputar cepat, serangan racun Hydra di-blok dengan tombak itu. Hydra meraung kesal seakan mempunyai pikiran dan perasaan. Monster terbang itu melesat ke Natsu bersiap menembakkan laser lagi seperti sebelumnya, namun kali ini lebih besar.

Lagi-lagi Natsu menukikkan jarinya, lalu dua bilah tombak tiba-tiba melesat menuju Natsu dan melubangi sayap kanan Hydra. Monster itu kesakitan tapi ia tetap melaju ke arah bocah itu, ia meningkatkan konsentrasi serangannya dengan semua sihirnya yang tersisa.

"Kau ingin mengakhiri ini ya... akan kuselesaikan ini dengan cepat." Keenam tombak milik Natsu menghilang. Mode Etherious-nya pun ia hilangkan juga.

Second Origin : Stage II

Natsu menghela napasnya lalu menarik udara sebanyak-banyaknya melalui mulutnya. Hydra sudah selesai men-charge sihirnya, monster itu menembakkan laser yang sangat besar dari mulutnya. Mungkin kekuatan laser itu 3 kali bahkan bisa 4 kali lipat dari serangan laser biasanya.

"Natsu apa kau yakin bisa menahannya?" Tanya kucing biru yang masih setia menggendong Natsu.

"Aku tidak yakin, tapi aku harus melakukannya," jawabnya penuh keyakinan. "Happy.. jika aku tidak sanggup menahan serangan itu, segera tinggalkan aku."

"Tidak seperti dirimu biasanya Natsu, tapi aku tidak akan meninggalkanmu."

"Yahh.. arigatou.."

"Serangan laser itu sangat besar, bahkan serangan laser yang tadi kita tahan terlihat kecil dibanding laser itu."

"Hei bocah itu diam saja kau tau, apa dia berniat menahan serangan gila itu!?"

"Bocah bodoh!... Erza terbangkan aku, aku akan membantunya."

"Maaf Gray, aku tidak bisa melakukannya."

"Kenapa? Bukankah kau masih memiliki sihir yang tersisa?"

"Iya memang ada, tapi aku tidak yakin bisa menerbangkanmu sampai disana."

"Tch.."

"Natsu hindari serangan itu!" Teriak Lisanna. Ia menatap kawan-kawannya yang khawatir, tapi ia tidak melihat raut itu di wajah gadis berambut blonde.

"Ne.. Lucy-senpai. Tolong teriakan untuk menghindari serangan itu, aku tidak yakin si pinkie itu bisa menahan serangan itu."

"Ya, aku juga ingin meneriakan hal itu. Tapi aku yakin dia bisa menahan serangan itu meskipun keliatannya dia gemetaran di atas sana.. hora lihatlah dengan sihir vision-mu." Benar yang dikatakan Lucy-senpai, meskipun keliatannya dia yakin sekali bisa menghentikan serangan itu. Tapi masih ada rasa takut, ragu, dan gelisah untuk menahan serangan itu.

'Dasar kouhai nekat..' Lucy tersenyum tipis menatap punggung yang sedang bertahan melawan kencangnya angin di atas sana.


Karyu no Houkou!

Doommm!

Adu kekuatan terjadi di atas sana, dampak dari adu kekuatan itu sampai ke kapal Fairy Tail. Kapal mereka berguncang hebat, bahkan lautan juga terdampak. Kedua kekuatan itu terlihat imbang tertahan di tengah tanpa ada yang mau mengalah. Tubuh Hydra yang tadinya jatuh bebas gara-gara sayapnya berlubang, sekarang tertahan di atas langit karena dua kekuatan yang saling mendorong.

Namun apabila diliat dengan seksama, bocah pinkie itu perlahan maju meskipun gerakannya cuma sedikit. Natsu semakin dekat dengan makhluk itu, ia ingin segera mengakhiri ini.

Etherious Mode : END Power 10%!

Kekuatan Natsu melonjak cepat, daya hancur serangannya juga meningkat. Laser Hydra seketika terdorong cepat tapi masih sanggup bertahan. Laser Hydra terlihat semakin mengecil, sepertinya sihirnya mulai kosong. Tak lama itu serangan Hydra benar-benar menghilang dan api Natsu menghanguskan monster itu sampai menjadi abu.

To Be Continued..

Yo yo minna-san, gimana kabar kalian? semoga baik-baik saja ya. btw, author kalian yang php ini masih sehat kok. sebenarnya chapter ini mau aku rilis pas waktu kuliah tapi ngga tau kenapa jadi malas dan yah kalian tau sendiri jadi molor. oh iya btw lagi, author lagi asik baca sejarah ttg salahudin al ayyubi. ceritanya epic bgt tu, ya walaupun author belum selesai baca sih shishishi.

ya itu aja sih, semoga kalian baik-baik aja+stay at home ya, chapter 18 udah dapet word 2k kok. tapi gak tau kapan bakal nulis, so jangan berharap banyak. bye-bye, sampai jumpa di Next Chapter.

[19 April 2020]