Cerita ini original milik penulis a.k.a Chanie (chaniethor)
Cerita ini merupakan fanfiksi, tidak bermaksud menjelekkan pihak manapun (I Love BTS :*)
BTS Fanfiction
Polar opposite
Hukum kutub yang berlawanan adalah tarik-menarik, bukan tolak menolak.
[19]
-Polar Opposite-
19
.
.
.
Taehyung bukan kali pertama pergi ke villa pribadi sahabatnya, Sungjae. Ia sudah beberapa kali menginap karena Sungjae dan dirinya sama-sama suka pemandangan alam yang disediakan villa ini. Makanya, bahkan hanya karena bosan dengan suasana kota, mereka selalu menyempatkan untuk menginap barang semalam di villa ini. Akan tetapi, entah mengapa Taehyung kali ini merasa berbeda.
Apakah villa ini selalu sehening ini? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memenuhi kepala Taehyung sejak pertama menginjakkan kaki di depan villa. Ia tak pernah memikirkan hal tersebut sebelumnya. Apakah karena biasanya mereka selalu bertiga? Moonbok juga sering bergabung ketika mereka mau menginap di villa.
"Nak Taehyung!"
Panggilan itu mengalihkan atensinya. Panggilan dari seorang pria paruh baya yang masih tampak bugar dengan setelan khasnya. Taehyung tersenyum menyambut senyum ramah itu, lalu membungkuk singkat.
"Halo, Pak Han," sapa Taehyung dengan hangat.
Pak Han adalah butler Sungjae yang ditugaskan khusus untuk merawat villa pribadinya. Seingat Taehyung, Sungjae pernah bercerita kalau sebenarnya Pak Han sudah bekerja sangat lama di keluarga Sungjae. Malah, ia adalah butler pertama Sungjae. Oh, butler pertama adalah sebutan untuk butler yang pertama kali dimiliki tuannya sejak lahir. Secara singkat, Pak Han sudah menjadi butler Sungjae sejak ia masih bayi. Beliau bersama wet-nanny (babysitter) mengurusi Sungjae dari bayi sampai akhirnya dipindahtugaskan ke tempat ini. Maka dari itu, Taehyung, mungkin sahabat Sungjae yang lain, melihat Pak Han sedikit special daripada yang lain. Taehyung juga menganggap Pak Han seperti ayah kedua Sungjae. Untuk itu, ia begitu menghormati butler tua ini.
"Saya sudah mendengar dari Tuan Muda kalau Nak Taehyung mau menginap di sini," ucap Pak Han.
"Ah, iya. Saya butuh menginap untuk beberapa hari," ucap Taehyung. Pak Han yang tersenyum ramah ia balas dengan senyum juga. Beberapa maid di belakang Pak Han juga tampak menyambut dengan hangat. Taehyung sejenak terhenyak ketika mendapati beberapa maid melirik ke arah sebelahnya.
"Oh, Pak Han, perkenalkan. Ini Yoongi," ujar Taehyung, agaknya bingung meneruskan. Biasanya Taehyung akan mengenalkan orang yang dibawanya dengan sebutan 'teman', 'sahabat', atau 'keluarga'. Lidahnya terasa kelu, dan membuatnya harus menghela diam-diam. "Dia akan menginap dengan saya di sini."
Pak Han tersenyum ramah pada Yoongi. Taehyung pun lanjut mengenalkan Pak Han pada Yoongi. "Beliau yang bertanggungjawab mengurusi villa ini."
"Salam kenal, Pak Han," ucap Yoongi sopan. Pak Han membalasnya dengan ramah.
"Baiklah, mari saya tunjukkan kamar kalian." Pak Han berbalik, bersiap melaksanakan tugasnya. Taehyung dan Yoongi bersiap mengikuti. Akan tetapi, Pak Han tiba-tiba berhenti.
"Ah, maaf sebelumnya, karena kalian datang sedikit mendadak, kami tidak bisa melakukan banyak persiapan. Kamar yang lain sedang dilakukan perbaikan jadi kami khawatir kalian harus berbagi kamar yang sama. Akan tetapi, tidak perlu khawatir. Kamar yang kami siapkan adalah kamar tamu terbaik yang ada di villa ini," tukas Pak Han, tampak begitu tidak enak hati.
Taehyung sudah menduga hal ini mungkin terjadi, jadi ia tidak begitu terkejut. Akan tetapi, bagaimana dengan Yoongi? Jujur, Taehyung lebih tidak enak hati kepada Yoongi saat ini. Kalau Yoongi tidak bersedia berbagi, Ia sepertinya harus bersiap untuk tidur di sofa beberapa hari. Tentu saja, Taehyung tidak akan keberatan, ia bisa mengerti. Bagaimanapun mereka adalah alpha-omega, wajar kalau Yoongi nanti akan keberatan tidur sekamar dengannya.
"Tidak apa-apa, Pak Han."
Di luar dugaan, Yoongi menyahuti ucapan Pak Han, membuat Taehyung terkesima. Yoongi ternyata sudah menduga kalau Taehyung dan Pak Han sama-sama mempertimbangkan kalau dirinya adalah omega. Mau tidak mau, Yoongi harus berbicara untuk menyelesaikan urusannya. "Kami sudah sangat berterima kasih karena dibolehkan tinggal beberapa hari di sini."
Di sisi lain, Pak Han tampaknya cukup terkejut. Beliau menduga kalau Taehyung yang akan menyahutinya. Beliau juga seorang alpha seperti Taehyung, dan beliau sudah memiliki mate-omeganya. Maka dari itu, beliau cukup mengenal bagaimana karakter omega seharusnya. Yoongi sepertinya cukup mandiri untuk berani menyelesaikan masalahnya sendiri. Omega yang seperti Yoongi cukup jarang ditemui. Pak Han secara tidak sadar pun tersenyum menanggapi.
"Terima kasih untuk bisa memaklumi. Kami akan memastikan penjagaan villa ini cukup ketat sehingga kalian aman dan dapat tinggal tanpa ada gangguan. Kalau begitu, mari saya tunjukkan ruangannya."
Pak Han mengerti kalau sahabat Tuannya ini cukup menarik. Semenjak ia bertemu Taehyung pertama kali, ia tahu kalau alpha muda ini sangat unik. Ditambah lagi cerita-cerita dari Tuannya, Pak Han yakin kesannya terhadap Taehyung tidak akan meleset jauh dari sifat aslinya. Untuk datang bersama omega seperti Yoongi, Pak Han benar-benar dibuat tak menyangka.
Apakah mereka pasangan yang ditakdirkan?
Hati Pak Han penuh tanya. Pasangan yang ditakdirkan (fated pair) itu langka. Kalau benar, Pak Han begitu beruntung untuk bisa bertemu mereka.
.
-Polar Opposite-
.
Taehyung dan Yoongi sampai di ruangan yang ditunjukkan Pak Han. Sebuah kamar dengan satu tempat tidur ukuran king size dan kamar mandi dalam. Seingat Taehyung, kamar ini biasa digunakan sepupu-sepupu Sungjae untuk liburan atau quality time berdua. Yap, sepupu-sepupu Sungjae kebanyakan sudah menikah. Menyadari kalau Pak Han menyiapkan kamar ini untuk digunakan ia dan Yoongi, Taehyung tidak perlu berpikir lama untuk mengetahui siapa yang mengusulkannya. Yook Sungjae benar-benar sahabat yang luar biasa.
Haishh… Sialan!
Bukannya Taehyung tidak menyukai kenyataan ini, tapi kondisi mereka sekarang sepertinya tidak tepat untuk bertindak terlalu jauh. Taehyung membawa (atau mungkin pergi bersama?) Yoongi kemari bukan untuk bersetubuh. Ada hal lebih penting daripada menuruti nafsu alpha-nya.
"Taehyung, apa pakaian ini—"
Taehyung terhenyak untuk mendapati Yoongi yang tengah menatapnya sembari berdiri di depan almari pakaian dalam kamar. Taehyung seperti bisa membaca pikiran sang omega, lekas menjawab sebelum Yoongi selesai bertanya. "Iya, itu pakaian yang disiapkan Sungjae untuk kita."
"Hmm begitu," ucap Yoongi. Ia tampak memindai pakaian-pakaian yang digantung dengan ekspresi datar saja. Taehyung yang melihatnya serius perlahan mendekat dan ikut melihat isi almari.
"Sahabatmu baik sekali ya," gumam Yoongi, tapi nadanya membuat Taehyung tercekat.
Taehyung sepertinya tidak perlu bertanya mengapa. Melihat dari isi almarinya, jelas bisa jadi jawaban utama nada sebal yang tertahan dari sang omega. Taehyung hanya bisa tertawa hambar saja.
Baju yang seukuran Yoongi semuanya berwarna PINK!
Taehyung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "K-kau bisa memakai pakaian yang lebih besar kalau kau mau, eheh."
Yoongi langsung berdecak. Dalam benaknya, Ia dengan lantang mengumpat. Dan membuatmu panas semalaman? Tidak, terima kasih.
"Ukuranmu terlalu besar, tidak nyaman," sahut Yoongi singkat. Ia lekas memilih setelan paling sederhana. Masih pink, tapi lebih pastel. Tidak terlalu norak.
"Kau butuh ke kamar mandi tidak? Mau kupakai soalnya," ujar Yoongi. Taehyung menggeleng lalu tersenyum lugu.
"Aku mau ke dapur dulu," jawab Taehyung.
"Kau sudah lapar?" tanya Yoongi. Taehyung ingin menjawab 'iya', tapi sayup-sayup ia seperti mendengar lenguhan dari ruh omega yang ada di hadapannya.
"A-agak, eh, tapi aku belum ingin makan. Jadi, yah—"
"Ok," sahut Yoongi. Ia diam-diam menghela napas, sayangnya Taehyung bisa melihatnya. "Apa kita harus masak sendiri?"
Taehyung menggeleng. Ada maid yang selalu bersiap di dekat dapur, jadi mereka yang akan memasak. Taehyung kini yang diam-diam menghela napas. Dia senang karena tidak perlu memasak. Sejujurnya, Taehyung tidak bisa memasak.
"Ah, begitu. Kalau begitu lebih baik kita makan bersama," ujar Yoongi, dengan ekspresi yang sama. Taehyung hanya mengerjap.
"Eh, kalau kau mau makan dulu juga tidak apa-apa loh. Aku mau mandi setelahmu soalnya, sebelum makan," Ujar Taehyung, langsung disambut decakan.
"Kutunggu! Tidak enak tahu kalau mereka harus melayani berkali-kali. Biar sekalian, paham?" tukas Yoongi dengan kening berkerut. Taehyung terhenyak, spontan mengangguk.
Yoongi pun lekas berbalik dan berjalan menuju ke kamar mandi, meninggalkan Taehyung yang sejenak terpaku. Taehyung terdiam bukan karena sedih dimarahi Yoongi, tapi sebaliknya, ia terkesima.
Apa tadi Yoongi baru saja merona? Kenapa bisa?
Sejenak, Taehyung tidak bisa mendengar lolongan ruh alphanya yang mengumpat tak percaya. Woof! Dasar Kim Bodoh Taehyung tapi Tampan!
.
-Polar Opposite-
.
Sahabatnya Taehyung itu benar-benar luar biasa…mesumnya. Yoongi sungguh bersusah payah untuk tidak terkejut setiap kali menemukan hal-hal berbau R18 di dalam kamar ini. Yoongi sepertinya tidak perlu menduga lagi apa yang ada di balik laci kecil di dekat tempat tidur. Kamar ini sungguh sempurna, untuk pasangan yang penuh gelora.
Akan tetapi, Yoongi masih tidak bisa menahan untuk tidak mengumpat. Yoongi dan Taehyung tidak seperti yang mereka bayangkan! Baiklah, mungkin mereka sudah begitu dekat. Tapi, mereka saling menghormati satu sama lain. Yoongi juga bersikap senormal mungkin, dan bersikeras menyembunyikan aromanya untuk tidak menggoda sang alpha. Mereka belum resmi, belum ditandai, dan yang paling penting BELUM MENIKAH!
Yoongi sejenak menghela napas. Meskipun kedengarannya sia-sia untuk beralasan semua itu setelah semua hal yang terjadi, setidaknya mereka berdua sama-sama punya kesadaran untuk menahan diri. Ada hal yang lebih penting yang seharusnya mereka capai di acara kabur kali ini.
Apa yang akan mereka lakukan setelah ini?
Mereka sudah melakukan keputusan besar untuk lari berdua, sepasang alpha-omega yang ditakdirkan. Apakah mereka akan saling marking setelah ini? Atau mereka akan kawin lari? Atau merencanakan misi membujuk mama-nya untuk membatalkan pernikahan?
Acara pertunangan sudah batal, tapi perjodohan tidak semudah itu dibatalkan.
Yoongi bisa ditunangkan lagi setelah tertangkap. Untuk itu, Yoongi juga harus memikirkan tujuan yang lebih jelas daripada tidak ingin ditunangkan dengan alpha lain seenak hati mamanya. Yoongi menyalakan hairdryer dan membiarkan tangannya bekerja, meskipun pikirannya masih berkutat untuk mencari tujuan kaburnya.
Kalau pernikahannya sudah dibatalkan, setelah itu apa? Apa yang akan Yoongi lakukan dengan Taehyung? Hubungan mereka mau bagaimana?
Yoongi sepertinya harus benar-benar mendiskusikan ini dengan Taehyung. Mereka harus mencapai kata mufakat. Mereka berdua sama-sama sudah dewasa, lebih dari itu, mereka harus bergegas karena nafsu alpha-omega mereka bisa menguasai kapan saja.
Akan tetapi, sebelum semua itu, bukankah ada hal yang lebih penting yang harus dibahas? Yoongi mungkin sedikit banyak mengenal Taehyung, tapi apa Taehyung sudah benar-benar mengenalnya. Taehyung, dia juga ada di sana saat Yoongi berbicara soal masa lalunya bukan?
"Kau sudah selesai, Yoongi?"
Yoongi terkesiap, mendapati Taehyung membuka pintu kamar sebelum mengetuknya. Untung saja dia sudah berpakaian rapi, dan selesai dengan rambutnya yang baru saja dikeringkan.
"Tidak bisakah—"
"Aku sudah mengetuk pintu, sungguh!" Sahut Taehyung, seperti anak kecil yang tidak terima disalahkan. Yoongi lantas menghela napas.
"Aku sudah mulai lapar, tapi aku ingin mandi dulu. Kau tidak cepat-cepat membuka pintu, jadi aku—"
"Ya, sudah. Cepat mandi. Aku juga sudah lapar," sahut Yoongi, tidak membiarkan sang alpha beralasan. Kalau orang lain melihat interaksi mereka, pasti tidak akan ada yang mengira kalau Yoongi adalah omega dan Taehyung adalah alpha. Mereka seperti dua beta, atau lebih parah, status alpha-omega mereka terbalik.
"Kutunggu di ruang makan," ujar Yoongi, lantas pergi meninggalkan ruangan.
Sebelum Yoongi benar-benar meninggalkan ruangan itu, ekspresi Taehyung berangsur-angsur berubah. Senyum lugunya berubah jadi lebih lembut, dan menguarkan aura hangat. Senyum penuh perhatian, dan kasih sayang.
Akan tetapi, senyum itu kemudian beralih menjadi senyum yang pahit. Pikiran Taehyung tiba-tiba menjadi rumit. Alphanya melenguh lirih.
Apakah boleh dia seperti ini?
Ingatan Taehyung kembali berputar saat Yoongi masih bersama Jungkook dan membahas soal Jimin. Taehyung tidak bisa melupakan percakapan mereka, dan sungguh penasaran dengan cerita yang sesungguhnya. Apakah Jimin yang dimaksud adalah Jimin yang ia kenal juga? Taehyung tidak sempat melirik Hoseok untuk memastikan kebenarannya. Kalau benar, ekspresi Hoseok pasti akan berbeda. Karena Hoseok tidak bisa berbohong, ekspresinya mudah dibaca.
Kalaupun bukan Jimin yang sama, apakah Yoongi masih mungkin untuk menyukainya juga? Taehyung tidak bisa bertaruh dari semua kedekatan yang telah mereka lakukan. Apakah Yoongi masih menyukai Jimin? Kalau itu benar Jimin yang sama, apa yang akan Taehyung lakukan? Mencari tahu di mana Jimin sekarang? Apa hubungan Jimin dengan Yoongi—maupun si alpha Jungkook? Taehyung ingat betul aroma yang ia ikuti sampai akhirnya bertemu dengan Yoongi dan Jungkook tempo hari.
Yang lebih penting, apa yang akan Yoongi lakukan setelah ini? Apakah Yoongi juga memikirkan hal yang sama? Taehyung pun tertawa pelan untuk menyadari sesuatu. Untuk pertanyaan kedua terakhir, mungkin Yoongi juga sedang memikirkannya.
Ah, Taehyung harus bergegas sepertinya. Ia harus bersiap dengan sesi diskusi penting mereka. Lambat laun, Taehyung kembali pada senyumnya yang biasa. Seperti keluarga saja…
Sebelum pintu kamar itu ditutup rapat oleh Yoongi, Taehyung lekas menyahuti ucapan Yoongi yang terakhir dengan pelan, dan hanya dia sendiri yang bisa mendengarnya. Pelan, dan penuh harapan.
"Ok, hehe," gumamnya, lantas bergegas ke kamar mandi.
.
-Polar Opposite-
.
Yoongi ikut membantu para maid menghidangkan makanan di meja makan. Ia tidak memiliki hal untuk dilakukan. Ia tidak membawa ponsel, tidak ada alat yang biasa dia mainkan. Yoongi pun berakhir ikut menyiapkan segala hal yang dihidangkan untuk makan malam.
Yoongi tidak tahu apakah ini ide Taehyung, tapi sepertinya alpha itu mengundang para maid dan butler yang bertugas malam ini untuk ikut makan malam bersama mereka. Yoongi tidak keberatan, hanya saja ia sedikit terkesan. Ia tidak pernah melakukan hal yang sama kepada para butler dan maidnya di rumah. Bahkan kepada Hoseok, butler paling ia percaya sekalipun Yoongi belum pernah mengundangnya makan malam satu meja seperti yang akan ia lakukan sekarang.
"Nona Shin, tolong rapikan lagi meja Nak Taehyung, sepertinya ada yang kurang rapi," tutur Pak Han. Maid yang dimaksud lekas melaksanakan tugasnya.
Yoongi memperhatikannya. Pak Han mungkin seperti Hoseok di rumah keluarga Min. Beliau begitu teliti dan sensitif soal detail. Yoongi diam-diam terkesan, sekaligus teringat pada Hoseok. Ah, apa kabar ya butler terbaiknya itu? Yoongi sejujurnya percaya, Hoseok tidak akan terlalu berpihak pada mamanya. Minimal, ia akan netral. Yoongi harap, Hoseok baik-baik saja meskipun Yoongi sedang mengacaukan segala pekerjaannya—karena kabur tentu saja.
Yoongi baru saja ingin lanjut membantu ketika menyadari kursi yang dirapikan oleh maid yang tadi dipanggil Nona Shin adalah kursi utama—simbol pemimpin keluarga. Mungkin karena Tuan asli mereka—Sungjae—meminjamkan villa ini pada Taehyung, makanya posisi kursi utama itu juga dipinjamkan padanya. Yoongi terhenyak sejenak. Jantungnya bergejolak.
Sejujurnya, ia tidak pernah membayangkan. Ia sebelumnya tidak pernah membayangkan bagaimana jadinya jika Taehyung menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang duduk di kursi utama, menjadi kepala sebuah keluarga. Sejatinya, seorang alpha memang terlahir untuk memimpin. Semua watak, bakat, karisma, dan perilaku seorang alpha begitu sempurna untuk mendukung jiwa leadership mereka. Akan tetapi, meskipun seorang alpha, Taehyung begitu tidak biasa. Wajar saja kalau Yoongi tidak pernah membayangkannya. Apalagi, membayangkan kalau ia jadi bagian dari keluarga yang Taehyung pimpin.
Serangan hangat seketika merayap dari leher ke seluruh wajahnya. Yoongi dibuatnya terkesiap. Apa yang baru saja ia bayangkan?!
Akan tetapi, ruh omega Yoongi seperti baru saja berdecak dan mengejeknya. Apa anehnya dengan bayangan itu? Bukankah Taehyung memang seorang alpha? Bukti kalau ia bisa membuat Yoongi melemah di bawahnya seharusnya tidak perlu membuat Yoongi merasa asing dengan perlakuan Pak Han dan para maid yang mempersilahkan Taehyung untuk duduk di kursi utama. Apa anehnya dengan itu?
Yoongi menggigit bibir bawahnya. Ah, mungkin memang tidak aneh.
Tidak aneh, hanya saja, tidak biasa. Yoongi tidak biasa. Ia sudah punya stereotype soal Taehyung. Ia belum paham Taehyung sepenuhnya. Tidak aneh, hanya saja tidak biasa.
Hati Yoongi juga tidak terbiasa…
.
.
.
-tbc-
Mind to Review?
Cek WP dan twitter chanie di scramblegg_ dan scrambleggA
thanks
Salam!
