Disclaimer: Semua tokoh dalam "Naruto" adalah milik Masashi Kishimoto dan cerita ini dibuat hanya demi hiburan. Adapun peminjaman nama perusahaan, tidak saya lakukan dengan maksud menyinggung.

MADDENING RIDDLES

o

o

o

o

o

Riddle #19

"Sebentar, Naruto-san! Aku ingin ke toilet," ujar Sakura.

"Baiklah, kutunggu di luar."

Wanita itu segera melesat ke kamar kecil restoran saat hendak ke rumah Inojin dan Noriko, sementara Naruto berjalan ke area parkir. Di dalam mobil, ia menunggu rekan misinya sambil mengetuk-ngetuk kemudi. Ia tampak terkejut ketika Sakura kembali dengan telapak tangan berdarah.

"Apa yang terjadi?" tanyanya.

"Aku tak sengaja menabrak pelayan yang sedang membawa piring kotor dan semua piring pecah. Aku membantu memunguti pecahan, tapi tanganku tergores," balas Sakura.

Dengan sigap, Naruto membuka laci dashboard. Di sanalah ia menyimpan kotak P3K. Diambilnya beberapa lembar kapas; lembar pertama ia tuangi alkohol untuk membersihkan tangan Sakura dari darah, lalu yang lain ia tuangi obat merah. Setelah bersih, ia balut tangan wanita itu dengan perban, sementara Sakura sibuk memperhatikannya sampai selesai.

Pekerjaan tangan Naruto sangat rapi, pikir Sakura, meski balutannya agak tebal. Lalu, mereka pun melanjutkan perjalanan yang tak biasa sebab inspektur NPA itu terdiam sambil mengusap-usap dagu. Mungkin, ia tengah menggelisahkan sesuatu.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sakura.

"Sebenarnya, tidak. Ibuku sedang sakit," jawab Naruto.

"Maaf, ya, kau jadi harus menemaniku. Apa kaubutuh istirahat sebentar untuk menelepon ibumu?"

"Tak apa-apa?"

Sakura menangguk. Tak lama kemudian, Naruto membelokkan mobil ke arah yang sebenarnya berjauhan dengan rumah Ino. Ia tak tahu hendak di bawa ke mana, tapi pria itu tiba-tiba berhenti di depan gedung kosong. Naruto keluar sambil membawa ponsel, sementara ia memperhatikannya. Ekspresi wajah pria itu memang tampak sedang khawatir saat menelepon. Cukup lama ia menunggu. Mungkin hampir dua belas menit dan ia biarkan saja.

Sesekali, satu-dua kendaraan lewat; mobil dan sepeda motor. Di sana memang sepi dan orang-orang melewatinya jika hendak memotong jalur ke luar kota. Di sisi kanan dan kiri hanya ada beberapa gedung yang sama-sama kosongnya sejak pemerintah kota berencana merestorasi lahan hijau seperti sepuluh tahun silam.

Di menit berikutnya, Naruto belum selesai menelepon. Ia membunuh waktu dengan memandangi perban di tangannya sambil memikirkan banyak hal. Akhirnya, Sakura mengambil ponsel dan ia buka pesannya. Seperti baru saja memutuskan sesuatu, ia pun keluar untuk menghampiri Naruto. Di halaman gedung yang tertutup pagar dari seng, ia menjumpai pria itu sedang sibuk mondar-mandir dengan telepon genggam yang masih menempel di telinga.

"Masih menelepon ibumu?" tanyanya.

Tanpa menoleh, pria itu mengangguk dan mendesah. "Sakitnya lumayan parah ... ah, Sakura-san, sepertinya aku harus pulang. Kaubawa saja mobilnya!"

"Lalu, kau? Bagaimana kalau kuantar kau ke stasiun?" tawar Sakura.

Akhirnya, Naruto berbalik. Dengan wajah sedih, ia tersenyum dan mengangguk. Si polisi MPD pun membalasnya, kemudian ia masukkan kedua tangan di saku jaket.

"Kudengar, orang tuamu meninggalkanmu saat kau masih kecil," katanya.

"Yang sakit ibu angkatku."

Sakura menggeleng-geleng. Entah harus bagimana ia berekspresi saat itu. Hanya raut prihatin yang dapat ia tunjukkan.

"Sasuke selalu menceritakan tentangmu, termasuk ibu angkatmu yang sudah tiada tiga tahun lalu," ujar wanita itu.

Akhirnya, Naruto mengakuinya melalui anggukan. Setelah itu, Sakura mengambil ponsel dari saku dan menunjukkannya pada si inspektur NPA. Tak ayal, Naruto terperangah sebab yang ia lihat kini ialah hasil retasan Sakura. Retasan tersebut baru dilakukan beberapa menit yang lalu, sebelum ia menyusul.

Keterkejutan Naruto tak sampai di situ saja. Tiba-tiba, Sakura mengambil, lalu menunjukkan kantong plastik bening kecil berisi dua botol cairan.

"Kau mencari ini, makanya kautelepon si penjual botol merah muda," ujar Sakura.

Sungguh, yang ia lihat dengan selanjutnya benar-benar membuatnya merinding. Tak ada lagi senyum ramah, melainkan wajah yang dipenuhi kekelaman. Namun, wanita itu tak gentar, bahkan nekat menunjukkan pesan dari Sai. Sai yang malam itu datang ke apartemen Matsuri tak sekadar untuk berkeliaran. Ia sedang meminta petugas keamanan untuk menunjukkan rekaman CCTV dan pria yang dekat dengan dokter itu adalah pelaku yang dengan cerdiknya mengubah warna rambut sementara. Hal yang membuatnya yakin adalah bekas luka di dagu, luka yang sama.

Dengan senyuman angkuh, Sakura menunjuk dagu Naruto. "Sepertinya, kau sedang butuh perekat," katanya.

Dan cairan yang sedang ditemukan sang inspektur MPD di bawah meja saat gelas pecah tadi adalah perekat wax dan cairan penghilang aroma manusia. Cairan kedua tak mungkin dijual bebas. Pemilik pastilah mendapatkannya dari orang-orang yang bekerja di laboratorium kimia dan dokter sekelas Matsuri bisa memberikannya.

"Mengenakan sarung tangan karet dan membaluri tubuhnya degan cairan ini ... sarung tangan berkualitas bagus dengan warna kulit ... dijual bebas untuk wanita. Rencana yang cukup pintar," lanjut Sakura.

Naruto terkekeh, membuat wanita itu kian merinding. Karena telah merasa terpojok, ia pun mengupas sesuatu dari dagunya dan tampaklah luka jahitan seperti yang para polisi cari-cari. Dengan kejadian ini, Sakura akhirnya mengerti mengapa polisi pirang itu lebih sering menyusul ataupun mendahului. Perekat wax tak terlalu tahan lama. Paling hanya tiga jam dan setelah itu harus diperbaiki dan itu yang membuat Naruto gelisah sepanjang makam siang.

"Hibur aku, Sakura-san! Kalau kau tidak menemukan cairan itu, apakah kau akan tetap mencurigaiku?" tanya Naruto.

Sakura mendengus sinis. "Well, anggaplah itu bonus, tapi menurutmu ... kenapa aku dan Gaara memintamu bertugas bersama kami?"


Malam di rumah Sasuke, para penyelidik berkumpul. Setelah Gaara menyampaikan permintaannya untuk ditugaskan dengan Sakura, Sasuke terlihat marah dan masuk ke rumah. Tinggallah ia dan Sakura yang membicarakan Shikamaru.

"Dia meminta kami untuk lebih peka, tapi ...," ujar Sakura, lalu ia tak melanjutkan karena memang tak mengerti.

"Pikirkan!" pinta Gaara. "Mulai dari arah tatapan saksi kunci di pengadilan!"

Sakura berpikir keras. Ia memang sempat mengikutinya, hanya saat pandangannya berhenti pada seseorang, ia mati-matian menyangkal.

"Naruto-san," bisiknya. "Dia satu-satunya orang yang selalu beralasan saat diajak menemui Tsunade. Padahal, saksi kunci tidak keberatan menemuiku dan Sasuke, juga polisi-polisi jaga ... bahkan senang."

"Aku pernah tak sengaja mendengar percakapan teman-teman Tenten di asrama saat aku sedang menjemputnya. Naruto adalah atlit parkour yang katanya diminta untuk mengikuti turnamen," balas Gaara.

Jantung Sakura berpacu seketika. Kalau begitu, bagaimana dengan Matsuri? Dia juga mencurigakan. Namun, kejutan dari Gaara masih berlanjut. Diam-diam, ia meminta bantuan Temari untuk mencari data para polisi yang ia sebutkan. Hal itu dilakukan sebelum ia datang ke sini dan ia sendiri tercengang melihat hasilnya. Ia menemukan hasil CT-scan Naruto yang mirip dengan Hagoromo.

"Aku memanfaatkan ketidakpercayaan Bibi terhadap NPA, jadi itu mudah saja," ujar Gaara.

Sakura mengangguk-angguk. "Baiklah, jadi sekarang ... rencana 43 dan 44 ... sial, aku benar-benar berharap bukan dia pelakunya."

"Itu kenapa, kita harus membuktikannya. Naruto atau Matsuri."

Keduanya diterapkan jika salah satu target adalah orang dalam. Yang pertama, pisahkan siapa pun yang dekat dengan target, lalu kunci pergerakannya. Artinya, Sasuke tak boleh berkoordinasi dengan Naruto. Kedua, biarkan Sasuke mendekati orang netral yang sebenarnya berpotensi membantu. Di sini, adalah Shikamaru. Mereka akan memanfaatkan kemarahan Sasuke pada Sakura, sementara Sakura akan bertindak seolah-olah selalu di sisi Naruto. Gaara akan beroposisi, tetapi ia akan membangun kepercayaan Sasuke terhadapnya.

Jika langkah awal berjalan sesuai rencana ini, mereka akan meminta Sai memancing pelaku. Andai pelaku berkaitan dengan si dokter sebagai target kedua, maka Sakura akan semakin gencar mendekati Naruto dan menemukan buktinya. Gaara percaya bahwa seniornya punya sejuta akal untuk itu. Alasan mereka menjauhkan Sasuke dari Naruto adalah karena kalau mereka mengatakan kecurigaan tadi, pria itulah yang justru akan menjauh. Ketegangan hubungan NPA dan MPD akan menjadi.

"Seperti biasa, kita gunakan kode ... ah, ukuran sepatu. Itu paling mudah," gagas Sakura.

Gaara mengangguk. "Sekarang, kirim pesan pada Sasuke!"


Sakura hanya tersenyum saat mengingat percakapannya dengan Gaara. Tentu saja ia tak mengatakannya pada Naruto untuk berjaga-jaga andai misi dadakannya saat ini gagal dan ia mati. Siap tak siap, ia akan menghadapinya. Jika ia mati dan Naruto bebas, pria itu tak akan pernah tahu cara kerjanya bersama Gaara.

Ia menunjukkan telapak tangganya yang terbalut perban. Dengan senyuman puas, ia menatap Naruto.

"Kau ... membalutnya sebanyak sembilan kali. Kau mengaduk minumanmu dengan jumlah yang sama. Sama pula jumlah kau melukai Dan. Aku baru tahu kau terobsesi angka sembilan, Naruto-san. Bahkan, kau memilih jam dan apa pun yang berkaitan dengan pembunuhan itu ... yang hasilnya sama jika dihitung," katanya. "Ngomong-ngomong, terima kasih karena kau telah menjatuhkan kedua cairan ini."

Masih dengan raut tenang, pria itu meraih sesuatu dalam saku jaket. Ia mengambil sepasang sarung tangan seperti yang tadi Sakura maksud. Tanpa diduga pula, masih ada sebotol kecil cairan penghilang aroma manusia yang ia balurkan ke tangan. Lalu, ia tunjukkan pada Sakura.

Tangan Sakura refleks bergerak ke arah pistolnya. Ia pegang gagangnya sebelum menarik pelatuk. Ia mulai memahami isi pikiran pria itu. Untuk apa lagi si inspektur NPA melakukannya jika bukan memegang pistol tanpa bisa dilacak? Namun, sampai detik-detik berlalu, Naruto tak melakukan apa-apa.

"Kenapa, Naruto-san?" tanya Sakura dengan ekspresi sedih yang gagal ia sembunyikan.

"Sebenarnya ... aku sudah curiga kau dan Gaara mulai merasakan ketidakberesan. Kutebak ... kalian juga mengira, aku yang menyerang Sai, tapi maaf, kalian salah kali ini," balas pria itu.

Sakura tercengang. Jadi, artinya dugaan tersebut meleset. Rupanya, Naruto hanya sebatas mengikutinya sampai ke depan apartemen. Ia tak akan berbuat segegabah itu dengan menyerang Sai. Ia menanggap bahwa penyerang justru telah membantunya untuk membingungkan polisi. Sempurna!

Dan akhirnya, Naruto menarik pistol yang kemudian ia isi dengan peluru yang bukan biasa digunakan oleh polisi. Peluru ilegal. Ia sendiri yang menerangkannya. Waktu-waktu pun terasa menegangkan ketika mereka saling menodongkan senjata api masing-masing.

"Aku akan menjelaskan alasan dan juga bagaimana caraku melakukan semuanya. Hanya jika kaubisa mengangkapku," ujar Naruto.

XxX

Di dalam mobil, Sasuke memikirkan apa maksud pembicaraan Sakura dan Gaara. Tampaknya, sang kekasih tidak sengaja menekan tombol pemanggil. Yang kedua polisi MPD itu bicarakan adalah tentang angka. Rupanya, mereka sudah terlebih dulu melakukannya, padahal malamnya ia berencana mengamati pola itu.

Nama Sai juga disebut. Dari situ, akhirnya ia menyadari bahwa si sersan juga sudah membohonginya, entah karena alasan apa. Ia pun kembali menemui Sai yang kini sedang menatap langit-langit kamar.

"Sai," ujarnya, "apa yang kaulakukan di apartemen Matsuri? Katakan sejujurnya!"

Pria pucat itu tersenyum masam, merasa bersalah. Sambil menahan kesakitannya, ia menceritakan yang sebenarnya terjadi. Malam itu, Sakura dan Gaara memintanya untuk mencari tahu siapa Aoi, kekasih si dokter forensik. Pria itu adalah pelaku dan terbukti dari luka jahitan di dagunya yang berhasil tertangkap kamera CCTV. Di sana pula, ia yakin tindakannya pasti akan bisa memancing pelaku yang ia baru curigai adalah salah satu polisi penyelidik kasus Dan. Hanya, ia tak sempat bertanya lebih jauh sebab mereka sudah melesat ke area mall.

Intinya, ia bersedia menjadi umpan dan sepertinya berhasil. Nyatanya, seseorang entah siapa mengintainya. Sejujurnya, ia pun merasa takut kalau dugaan mereka benar. Ia tidak bisa membayangkan jika si pelaku adalah salah satu rekannya sendiri.

"Maaf, Taichou ... aku sempat berpikiran buruk tentang mereka. Kurasa ... mereka jadi begini sejak Inspektur Sakura dan Anda bicara dengan Shikamaru," ujar Sai.

Sasuke memijat-mijat keningnya. Tiba-tiba ia dilanda perasaan-perasaan yang tak terjelaskan.

"Tapi, kecurigaan mereka benar, bukan?" tanyanya

Sang sersan mengangguk. Kemudian, ia mencoba duduk, tetapi ditahan Sasuke.

"Aku ... ke Kai untuk menemui Shikamaru, tapi saat aku mengambil ATM, seseorang menyerangku. Cuma, aku tak tahu apakah dia pelaku atau bukan."

"Kau sudah bertemu dengannya?"

Sai menggeleng. "Kantornya sudah tutup."

Sebenarnya, Sasuke tak ingin membuat Sai berpikir kerasa dalam keadaan seperti ini, tapi orang yang ia anggap paling kerap kurang kerjaan dengan mengamati orang lain adalah si sersan. Ia merasa tak punya pilihan lain, apalagi tiba-tiba ia terguncang setelah merelasikan angka dan jumlah luka pada tubuh Dan dengan kebiasaan seseorang. Bahkan, yang orang itu sukai.

Dalam ketakutannya, Sasuke masih ingin menafikan hal itu. Sungguh, ia tidak mau percaya. Kode-kode Shikamaru pun sudah jelas, tapi ia belum terpikitkan sampai ke sana. Si detektif swasta bahkan sering mengulangi dan menekankan bahwa ia harus merahasiakan rencana dadakannya, bukan rencana mereka. Dan jika diingat, Shikamaru meminta hal ini padanya dan Sakura.

"Sai ... apa kauingat apa saja kebiasaan kami?" tanyanya.

"Tentu. Aku bahkan tahu apa kebiasaan Inspektur Gaara." jawab Sai.

Sasuke mendesah lega. Artinya, pertanyaan tadi tak sia-sia. Sejak lama, Sai sudah menghafal kebiasaan tiap rekan dalam timnya. Sasuke selalu berwajah datar saat berpikir atau marah, kecuali sejak mengenal Sakura. Tenten butuh makan dango tiap sedang berpikir keras. Kiba mengajak Akamamaru mengobrol setiap saar. Kankurou mengotak-atik mainan karakternya jika ada waktu luang. Naruto ... selalu mengaduk makanan atau minumannya sebanyak sembilan kali. Sai tak mengerti kenapa.

Dan Sasuke berpikir sama tentang rekan kepercayaannya, Naruto. Apalagi, setelah itu Sai mengatakan bahwa pada malam kejadian pembunuhan, si inspektur pirang datang terlambat dan ia sempat melihat sesuatu yang mengganjal di rambutnya. Di dekat telinganya, beberapa helai seperti terkena noda hitam. Hanya, Sai tak punya waktu untuk menanyainya sebab Kakashi ingin mereka segera berangkat. Sampai di TKP pun mereka disibukkan dengan banyaknya tugas.

"Taichou, di mana Sakura-san sekarang?" tanya Sai.

Sontak, Sasuke terbelalak. Tanpa pamit, ia langsung melesat entah ke mana. Saat ia hendak menghubungi Sakura, satu pesan ia terima. Sakura mengatakan, ia sedang bersama Naruto di lokasi yang ia bagikan melalui peta ponsel. Sambil berlari cepat ke mobil, ia menelepon kekasihnya.

"Kau masih di sana?" tanyanya begitu panggilannya dijawab.

"Ah ...," jawab Sakura, "begitulah. Berminat membantu?"

"Sialan, kau!" balas Sasuke saat terdengar suara sesuatu seperti tendangan ataupun pukulan. "Sakura ... ."

DOR!

"Brengsek! Sakura, kau ... ."

DOR! DOR!

Telinga Sasuke pengang dan suara-suara di sekitarnya mendadak menghilang. Dan tangannya kaku, terhenti ketika ia hendak membuka pintu mobil. Telepon terputus. Entah berapa banyak bayangan-bayangan mengerikan yang menghantuinya. Yang ia tahu, keadaannya tak baik dan ia segera menghubungi Kankurou, juga Gaara, lalu meminta mereka langsung ke TKP.

XxX

Dengan cepat, Naruto menyerang Sakura tepat di perut. Wanita itu terenyak hingga mundur, tapi tak mau menyerah. Ia balik mendendang lawannya, berniat menyasar pistol. Sayangnya, ia gagal. Saat itulah, ia merasakan ponselnya bergetar. Ia sangat bersyukur sebab Sasuke menanggapinya, lalu ia pun mengangkat telepon.

"Kau masih di sana?" tanya Sasuke.

"Ah ...," jawab Sakura, "begitulah. Berminat membantu?"

Satu tendangan mengenai dadanya dan ia terjengkang. Sekuat tenaga ia bangkit, lalu menjegal kaki Naruto hingga pria itu jatuh. Keduanya kini sama-sama berdiri, tetapi ia kalah cepat. Naruto keburu menembak betisnya. Sakitnya membuatnya sampai tak bisa mengerang, bahkan ponselnya terlempar. Darah pun mengalir, tetapi ia tahu tembakan tadi tak akan menciderai kakinya secara fatal.

Ia harus bisa membuat pistol Naruto terlepas, maka ia tembak pistol itu hingga terpental. Saat si inspektur NPA mencoba menyerang Sakura, wanita itu menembak, tepat di lutut target. Ia tahu, titik yang ia kenai barusan akan menyebabkan cidera fatal, tetapi ia tak peduli. Dalam posisi ini, tindakannya akan dibenarkan sebab ia membela diri sekaligus melumpuhkan penjahat yang melakukan perlawanan.

Naruto mengerang. Makian-makian lepas bebas dari mulut. Tak lama, ia terbahak, membuat Sakura merasa ngeri. Ternyata, ini lebih mengerikan ketimbang saat dulu ia menembaki teroris. Masalahnya, ia tak mengenal teroris-teroris itu, sedangkan ia bahkan sudah memercayai Naruto. Lalu, ia juga sendirian, tanpa bala bantuan.

Secara mengejutkan, pria itu bisa berdiri. Kekuatannya memang tak main-main. Itu mengapa ia masih dapat berlari kencang dalam keadaan kaki yang pernah ditebas. Tidak, kali ini ia tak akan membuat Naruto cacat sepenuhnya. Masih dalam keadaan jatuh, ia berniat menembak pria itu lagi. Sayang, betis yang terkena tembakan tadi kini diinjak dengan kaki Naruto yang tidak terluka. Tak ayal, ia meraung kesakitan sebelum rambutnya dijambak.

Sebilah pisau dikeluarkan oleh Naruto dari saku. Ia berniat menghujamkannya pada mata Sakura. Wanita itu terbelalak ngeri sambil menahan dengan tangan kosong. Namun, pria itu lihai. Ia memutar pisaunya ke tangan Sakura dan berhasil menggores nyaris di bagian pergelangan.

"Matamu indah sekali, Tuan Putri. Pantas sahabatku jatuh cinta padamu akhirnya. Boleh ... kusimpan, 'kan?" bisik Naruto.

Pisau itu semakin mendekat. Rupanya, Naruto memang ingin mencungkilnya. Ini sungguh mengerikan! Merasa tak punya pilihan lain, Sakura pun mengorbankan tangannya agar pisau tadi menjauh. Kuat-kuat ia melakukannya dan saat matanya dirasa aman, ia segera membenturkan kepalanya keras-keras pada hidung lawan sampai mengerang.

"Ah, kau memang selalu penuh semangat," katanya sambil tersungkur-sungkur.

Tak lama, Sakura menendang pinggang Naruto dengan kaki yang tidak terluka. Lalu, ia tembak pria itu sekali lagi di lutut. Biarlah ia cidera total. Namun, ia masih berusaha meraih pistolnya sendiri. Sakura harus menjauhkannya dengan menembak pistol tadi. Saat sadar pelurunya habis, ia merogoh kantong, tempat ia menyimpan amunisi. Ia cuma butuh dua peluru untuk bisa melakukannya, juga berjaga-jaga jika ia harus melukai Naruto lagi.

Setelah terisi, ia mengarahkan pistolnya ke milik Naruto. Tangannya gemetaran hebat karena tegang sekaligus menahan kesakitan. Sekali saja ia harus fokus pada sasarannya dan ia bidik. Pistol Naruto pun terpental lebih jauh. Dan melihat keadaan pria itu, ia tahu ia harus menyasar tangan lawan. Meski sedikit meleset, setidaknya lengan Naruto kena.

Kini, dua-duanya terkapar, menyerah pada takdir. Atau mungkin hanya Sakura yang menyerah. Nyatanya, Naruto bergerak lagi ke arah senjatanya. Beruntunglah, sebuah mobil polisi distrik setempat tiba. Suara sirinenya seperti nyanyian penyelamatan.

"Inspektur Haruno?" tanya salah satu dari dua polisi pria itu. "Kami dihubungi oleh NPA. Mereka akan tiba sebentar lagi. Apa Anda bisa bertahan?"

Sasuke.

Pandangan Sakura mengabur. Peluru sembilan milimeter yang bersarang di berisnya kini mulai menghabisi darahnya. Lubangnya kecil, tetapi di dalam, benda itu sudah merusak jaringan organnya. Ia pun terengah-engah.

Mungkin, Naruto terlahir dengan energi besar. Dalam keadaan darah mengalir, ia masih bisa berteriak dan meronta. Tetapi, polisi yang satunya menindih punggung Naruto dengan dengkul sebelum kedua tangannya ditarik ke belakang. Ia berhasil diborgol.

Ambulans pun datang bersamaan dengan Sasuke, Kankurou, dan Gaara. Ketiganya berlarian menghampiri Sakura yang sudah duduk bersandar pada dada polisi distrik itu. Sasuke yang tak sanggup berhadapan dengan Naruto langsung menghambur pada kekasihnya.

Petugas medis segera memanggil satu unit ambulans lain untuk memboyong tahanan. Karena kondisi Sakura yang jauh lebih lemah, mereka memprioritaskan dan membawanya terlebih dahulu. Gaara pun mengambil alih kepemimpinan sementara Sasuke mendampinginya di ambulans.

XxX

Ketujuh polisi menunggu di depan kamar operasi. Naruto dan Sakura berada di sana agar peluru-peluru diambil. Tak ada yang percaya bahwa pelakunya adalah Naruto, kecuali Gaara. Mereka tak habis pikir apa alasan inspektur itu melakukannya sebab mau dipikirkan dari segi mana pun terasa tak masuk akal. Namun, ada beberapa hal yang akhirnya mendobrak kesadaran soal mengapa ia sering terlambat atau melipir ke tempat lain. Dan menempatkannya di sisi Matsuri jelas kesalahan terbesar.

Saat ini, Matsuri telah ditahan dan tengah menunggu vonis. Wanita itu yang sudah menukar darah Naruto dengan darah si anjing malang. Ia tak tahu dari mana pria itu mendapatkannya, makanya mereka harus menunggu sampai Naruto siuman. Yang hanya mereka tahu adalah bahwa si pelaku mendekati Matsuri dengan alasan agar aksinya lancar.

Kakashi menepuk-nepuk pundak Sasuke, Sasuke yang termenung, seolah jiwanya mengembara entah ke mana. Mengetahui kawan yang paling ia percayai melakukan kejahatan sambil berpura-pura sepanjang waktu tentu tak mengenakkan. Apalagi, hingga membuat kekasihnya cidera. Sang letnan akhirnya mengisyaratkan Gaara agar mengajak Sasuke keluar.

"Kita bicara," kata Gaara.

Tanpa membalas, Sasuke mengikutinya keluar. Di sana, Gaara menepuk pundak si inpektur NPA.

"Mereka akan baik-baik saja. Senpai ... dia akan kembali seperti semula," hiburnya.

Sasuke memejamkan mata.

"Kenapa kalian merahasiakannya?" tanya pria itu.

"Kami salah ... maaf," balas Gaara. "Tapi, ini yang terbaik."

"Sakura terluka ... itu yang terbaik?"

"Uchiha, perdebatan yang mungkin akan terjadi pasti lebih banyak dan kita sudah tak punya waktu untuk meladeni semua permainan Namikaze! Kami memikirkan perasaanmu sebagai sahabatnya. Jika itu adalah Sakura, aku pasti akan mati-matian melawan kalian. Apa aku benar?"

Benar. Sangat benar, Sasuke akui. Konflik tak jelas antara NPA dan MPD pasti lebih meruncing. Lagi pula, keadaan ini berbeda dengan Sakura dan Matsuri. Mereka tidak intens berkomunikasi. Kepercayaan yang ada jelas tak sebanding dengan Sasuke dan Naruto. Itu mengapa, rasanya lebih mudah bagi Sakura untuk menetapkan batasan, sedangkan pria itu tidak. Bahkan, perkataan Shikamaru pun tak ditanggapi dengan cepat seperti biasanya, ketika ia sedang menangani kasus lain.

"Kalau kau mau jujur, kau masih tidak percaya bahwa Namikaze pelakunya," lanjut Gaara.

Sama sekali tak salah. Di sinilah ia merasa gagal sebagai polisi, tapi Gaara tak sedikit pun menyalahkannya. Ia justru bersedia menceritakan awal kecurigan mereka. Ia sudah merasa bahwa Naruto selalu saja membuat mereka bersemangat dalam mengungkap kasus Jiraiya. Memang pria tua itu targetnya. Setelah ditahan, Naruto tak bersikap seperti biasanya, bahkan ia tak menunjukkan simpati atas anfalnya Tsunade. Ia malah sibuk membicarakan kisah masa lalu Shikamaru dan panyelidik kasus Mifune, semata agar Sasuke tidak memercayai detektif itu.

Sasuke jadi teringat hari ketika Naruto mati-matian melarangnya untuk bertemu dengan Shikamaru. Surat untuk Matsuri juga terasa aneh. Meskipun Sakura yang memintanya, tetapi setelah itu si dokter lebih terbuka padanya. Keterbukaan itu nyatanya kepalsuan belaka. Matsuri tetap menyembunyikan kebenaran.

"Kautahu ... saat kami ke rumah sakit di hari Sai diserang, Namikaze membuat penjelasan yang bagi kami hanya alibi agar kami tahu dia tak berhubungan," ujar Gaara.

"Tapi, memang bukan dia pelakunya," bela Sasuke.

"Memang, tapi untuk apa dia menjelaskan posisinya dan apa yang akan dia lakukan saat itu? Seolah, dia orang yang berbeda dengan pelaku pembunuhan Dan, sedang Kankurou menjawab seperlunya. Andai kami belum mencurigainya, kami pasti tetap merasa aneh dengan jawabannya," balas Gaara.

Ia mengerti sekarang. Meski ada sesuatu yang ia sesalkan dari keputusan Sakura, ia akan berjanji mendengar alasannya saat kekasihnya sadar.

XxX

Akhirnya, Temari kembali ke singgasana empuknya di MPD. Ia masih memikirkan tentang alasan Naruto. Inspektur NPA itu benar-benar sanggup menyeret semua polisi ke dalam pusarannya. Dipermainkan begini membuatnya tertawa miris. Lucu, takdir terkadang lucu. Entah mengapa, ia malah berada di tim untuk mengungkap kasus yang ia ciptakan. Di sisi lain, karena dialah pula kebusukan Biro Intelijen MPD berhasil dibongkar. Tak hanya itu, bahkan kecurangan Jiraiya juga.

Saat Temari merenung, Kakashi datang. Pria itu meletakkan sebuah vas bunga di atas meja. Ia yakin, senyum itu senyum masam meski tertutupi masker.

"Sepertinya, NPA punya banyak kejutan," ujar Kakashi.

Temari mendengus. "Harusnya, aku yang bilang begitu," balasnya.

Sang kepala inspektur NPA pun duduk di seberang mantan istrinya. Tujuannya ke sini, salah satunya untuk menepati janji sebulan lebih yang lalu, yaitu memberikan vas bunga yang Temari pecahkan gara-gara kasus Dan. Vas itu memang seperti yang dikatakan: berbentuk payudara.

"Astaga ...," ujar Temari. "Otakmu belum berubah juga."

"Apa salahnya kuberikan itu pada calon istriku?"

Wanita itu langsung menaikkan alis tinggi-tinggi. Sedikit mendebarkan, tetapi juga menggelikan.

"Kau percaya diri sekali kalau aku mau kembali padamu," katanya.

"Nao sering sakit dan baru sembuh kalau aku datang."

Baiklah, itu benar. Nyatanya, anak bungsu mereka sangat bergantung pada Kakashi, justru di saat mereka sudah berpisah, tapi menggunakan alasan itu sungguh licik.

"Aku masih mencintaimu ... selalu begitu meski kita sering bertengkar. Aku belum pernah berpikir untuk mengganti istri," lanjut Kakashi. "Dan dengan cara apa pun, aku akan mendapatkanmu. Ini cuma soal waktu."

Temari terperangah. Melupakan interaksi antara Kakashi dengan Mei Terumi tentu tak muda. Ia belum amnesia. Namun, ia pun sudah tahu kebenarannya, bahwa ia memang salah paham meski Kakashi tak pernah berusaha keras meyakinkanya. Ia merasa sakit karena itu.

"Kembalilah, Temari! Kupastikan aku akan lebih terbuka padamu dan meluangkan waktu untuk kalian. Aku bosan dengan tawaran ... ya, kautahu, gadis-gadis belia," ujar Kakashi.

Wanita itu tertawa. "Mereka lebih menarik, Kakashi."

"Mereka berpotensi membuatku bangkrut dan aku pelit."

"Cari saja yang mau serius."

"Kau."

"Tidak ... ."

"Tak masalah, asal kaumau kembali."

"Taruhan kita ... ingat itu!"

"Sasuke mengalah dan Sakura baru saja mengorbankan dirinya. Mereka bertindak atas keinginan mereka sendiri sebagai kekasih. Yang kulakukan saat ini sama. Kau bahkan mau menerima cium ... ."

"Baiklah!" potong Temari. "Kita kembali."

"Boleh aku menciummu?" tanya Kakashi.

"Kaupikir, kita sedang di mana?"

XxX

Dua hari berselang setelah peluru diambil dari betis Sakura, akhirnya Sasuke boleh menjenguknya. Ia tercabik rasa bersalah saat melihat kekasihnya duduk bersandar dengan kaki menggantung sambil makan jeruk. Ia masih berpikir, apa yang wanita itu alami sebagian ialah karena kesalahan dan kelemahannya. Tetapi, Sakura masih mau menyambutnya dengan semyuman tulus, bahkan di mata hijaunya tersirat kerinduan. Jika dipikir-pikir, mereka belum berbaikan.

Sasuke bukan tipe pria super romantis yang akan memberikan bunga, bahkan saat kekasihnya sakit. Ia datang dengan tangan kosong, tapi hatinya penuh. Penuh perasaan sayang meluap-luap hingga tak tertahankan. Sakura yang mengerti, kini merentangkan kedua tangan. Mereka pun berpelukan.

"Mission completed, Captain!" bisik wanita itu.

Sasuke mengeratkan pelukannya.

"Aku gagal sebagai pemimpin," katanya, "jadi kau tak perlu memanggilku begitu."

"Kau pemimpin, bukan juru selamat dunia, Sasuke," balas Sakura. "Aku seorang polisi. Hal semacam ini bisa kapan pun terjadi, bahkan andai bukan kau ketua timnya."

"Itu kenapa ... kau wanita," balas Sasuke terbata.

Sontak, Sakura melepaskan dekapannya. Ia pandangi sang kekasih dengan tatapan kecewa. Bahkan di saat seperti ini, Sasuke masih saja menyinggung isu itu.

"Wanita yang kucintai," lanjut Sasuke. "Ini yang selalu kutakutkan. Tak peduli sehebat apa pun dirimu, aku pasti akan mengkhawatirkanmu ... andai saja kau mengatakannya sejak awal ... karena aku lebih memilih bertengkar daripada harus melihatmu begini."

Tak pelak, Sakura merona hebat karena mendapatkan pengakuan pertamanya. Pengakuan cinta. Segala kebimbangan dan keraguannya lenyap sudah. Dengan hati yang lega, ia pun mencium bibir pria itu dan dibalas.

Namun, setelah ciuman berakhir, Sasuke kembali menampakkan raut murung. Ia memandangi Sakura, seakan ada sesuatu yang masih mengganjal.

"Ada apa?"

"Sakura ... saat kau menerimaku, apa itu karena kausuka padaku?"

Wanita itu tahu, mengakui motifnya saat ia mau berpacaran tidak perlu dikatakan. Biarlah menjadi rahasia. Toh, sekarang ia mencintai Sasuke. Untuk mencairkan suasana, ia pun bergumam panjang, ingin melihat ekspresi kesal kekasihnya dan terkabul. Pria itu berdecak dan berpaling.

"Saat kau mengajakku berpacaran, apa itu karena kausuka padaku?" tanyanya.

"Su ... sedikit ... suka ... aku ... ."

Melihat Sasuke merona sampai ke telinga, Sakura merasa gemas. Diraihnya pipi pria itu, lalu ia arahkan ke wajahnya.

"Pertanyaanmu salah," katanya.

"Apa?" Sasuke bingung.

"Harusnya, kau bertanya, apa aku juga mencintaimu! Tapi, jangan menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah jelas!"

Seketika, Sasuke meraih tubuh wanita itu dan ia dekap erat. Sakura pun melakukan hal yang sama. Hari ini, tuntas sudah rasa rindunya.

"Aku akan menemanimu ... sampai pagi ... boleh?" tanya Sasuke.

Sakura mengangguk sambil mengeratkan pelukannya.

"Hei ... kau tak ingin menemui Naruto-san?" tanyanya.

"Mungkin ... kau mau ikut?" balas pria itu.

"Tentu. Aku ingin tahu alasannya ... dan kupikir, kau akan tenang kalau sudah mendengarnya."

Jujur, Sasuke merasa tak sanggup kalau harus bertemu dengan Naruto. Ia seakan kehilangan kata-kata, takut andai harus melihat sosok yang sudah tidak ia kenali. Namun, demi menebus rasa berdosanya pada Sakura dan karena seterusnya ia harus melindunginya, ia akan menghadapi segala sesuatunya. Harus ... .

o

o

o

o

o

Bersambung ... .


Catatan Penulis

Halo! Akhirnya, sudah terungkap siapa pelakunya. Tinggal nunggu chapter yang menceritakan alasan Naruto. Semoga masih pada betah, ya! Hehehe.

Btw, maafkan kali ini tidak membalas review satu persatu. Saya lagi kurang enak badan, tapi ini nggak mengurangi rasa terima kasih saya pada kalian. Salam sayang!