Bertahun-tahun aku menyembunyikan identitasku. Latihan rutin yang kulakukan tak terendus. Bahkan aku yakin Teratai Merah tak tahu aku masih hidup sebelum portal Kutub Selatan kubukakan. Identitasku terancam hanya karena sepatu sekolah?
Yang benar saja! Aku tidak terima!
"This is why the fic is parody, duh!"
I hate you.
"Love you too!"
-o-o-o-
Avataramen is Now Online
Chapter 17
-o-o-o-
Serangan terakhir Jiraiya membuatku jatuh terlentang di atas tanah. Aku memejamkan mata sejenak sambil mengatur napasku yang memburu.
Jiraiya duduk bersila memangku dagu di sebelahku. Matanya menatapku cukup lama, sebelum akhirnya ia menghela napas. "Latihannya kita sudahi saja."
Mendengar itu, aku langsung duduk. "Satu jam pun belum!" protesku.
Pipiku ditarik. Jiraiya mengomel, "Kau tidak bisa fokus begitu untuk apa latihan dilanjut? Kau hanya akan berakhir menyakiti dirimu sendiri!"
Aku geram. "Bagaimana caranya aku bisa fokus dengan keadaan begini?"
Seminggu sudah berlalu semenjak Teratai Merah mengirimkan e-mail ke akun OSIS sekolahku. Satu per satu aparat keamanan di seluruh belahan dunia—bahkan kabarnya termasuk di Kutub Utara—mulai berjatuhan karena racun.
Racun yang diberikan tidak mematikan, tapi cukup untuk membuat para prajurit tergeletak tak berdaya di kasur dan tak bisa bertugas setidaknya dalam kurun waktu tiga puluh hari. Tenaga medis kewalahan atas jumlah korban yang tak seimbang dengan fasilitas yang tersedia.
Warga mulai panik. Penjelasan yang diberikan petinggi negara bahwa mereka akan menyelidiki penyebab setengah lebih dari aparat yang ada berjatuhan sama sekali tak menggerus kepanikan seluruh lapisan masyarakat. Targetnya terlalu jelas, membobol pertahanan negara.
Jiraiya berharap aku bisa fokus dengan keadaan seperti ini? Di saat aku dihantui kekhawatiran akan apa yang direncanakan Teratai Merah?
Ngelawak, ya?
"Kau tidak bisa begini terus, Naruto. Dunia butuh avatar mereka dalam kondisi terbaiknya." Jiraiya menepuk pundakku. Langsung kutangkis tangannya.
"Yah, maaf saja kalau aku tak bisa jadi avatar yang sempurna untuk dunia ini!" Aku melawan gravitasi, menjauhi Jiraiya. Kunaiki Kurama, langsung menyuruhnya membawaku pergi dari sana.
"Kau tahu bukan itu maksud Jiraiya, kan?" Kurama menggeram.
Kuabaikan dia.
"Naruto."
Aku menghela napas. "Maaf," kataku.
Kurama mengeluarkan geraman tawa.
"Bukan aku yang butuh kata maaf darimu."
Aku memutar bola mata. "Ya, ya, ya. Nanti kalau perlu aku sujud di depannya deh."
Kurama mendengus.
Selama beberapa waktu, Kurama membiarkanku menenangkan diri dalam keheningan malam. Terbang dengan kecepatan sedang memintas langit kelam, membiarkan jajaran lampu memanjakan mata tanpa ada tujuan absolut.
"Trims, Kurama."
Kurama lagi-lagi mengeluarkan geraman tawa. "Sudah siap merengek minta permen pada Jiraiya?"
"Aku tak pernah merengek minta permen pada dia!"
"Oh iya. Merengek minta ramen, ya?"
Aku menggeplak punggung Kurama dan tertawa lepas.
Tak sekali aku berpikir bagaimana damainya hidupku jika saja aku tak terlahir sebagai avatar. Tetapi, di waktu-waktu aku mempertanyakan betapa asinnya hidupku seperti itu, tak sekali pun aku menyesal diselamatkan oleh Kurama.
Berjuta kata terima kasih tak cukup untuk menggambarkan rasa syukurku pada Cacing Kepanasan KW Super yang satu ini.
.
Aku terbangun dalam keadaan segar. Kekhawatiran masih ada, tak mungkin menghilang selama Teratai Merah masih berpeluang menjadi malapetaka dunia. Tetapi, setidaknya aku yakin aku bisa menghadapi Jiraiya dengan kepala dingin.
Aku bertemu Jiraiya di ruang TV. Dia langsung melipat koran pagi begitu ia sadar keberadaanku. Wajahnya terlihat serius.
"Ganti baju seragammu dan berkemas. Kau bolos hari ini," ujarnya.
Hah?
.
Singkat cerita, Jiraiya membawaku ke bagian selatan Kerajaan Bumi, tepatnya Kampung Koloni. Tempat ini adalah tempat tinggalku sebelum pindah ke Konoha untuk mendapat pendidikan formal terbaik.
Jiraiya meninggalkanku tanpa penjelasan. Dia hanya bilang padaku untuk pergi ke tempat latihan kami di sini dalam dua jam dan menghilang entah ke mana. Aku berani bertaruh seluruh isi dompet Sasuke, Pak Tua itu sedang mencari referensi untuk buku laknat buatannya. Tipikal.
Aku menghela napas. Seiring langkah yang kulakukan, aku ditarik mengenang ingatan beberapa bulan aku tinggal di sini. Apalagi tak hanya satu orang yang menghampiriku hanya untuk sekadar mengonfirmasi kalau aku memang aku. Mereka juga menanyakan perkembangan studi dan pertanyaan basa-basi lainnya. Bahkan beberapa dengan kurang ajarnya mencubiti pipiku.
Satu yang membuatku tak bisa menahan haru adalah bagaimana orang tua—yang kebanyakan berspesies ibu-ibu itu—terlihat begitu senang mendengar kabarku. Mengingat terakhir kali mereka melihatku aku masihlah bocah terjebak trauma yang seolah takut bahkan oleh bayangannya sendiri, kurasa aku bisa memakluminya. Dari sudut pandang orang luar, melihat bocah itu tumbuh menjadi aku yang sekarang pastilah melegakan.
Karena bosan dan tak tahu mau melakukan apa, kuputuskan untuk pergi ke tempat janjian dengan Jiraiya.
Pantai Koloni, orang-orang memanggilnya. Pantai berpasir putih indah yang terlihat berkilauan bila diterpa cahaya matahari. Pantai ini biasa didatangi pengunjung hanya untuk dinikmati pemandangannya yang aduhai dikarenakan ombaknya terlalu besar untuk dijadikan tempat berenang atau sekadar bermain air. Belum lagi medan yang harus ditempuh agar bisa memanjakan kaki di atas butiran pantai tak terlalu mudah untuk dilalui, terutama untuk anak-anak. Penduduk setempat saja jarang menghabiskan waktu di sekitar pantai. Itulah alasan Jiraiya memilihnya sebagai tempat latihanku.
Aku terkikik, tiba-tiba teringat satu sesi latihan.
Saat itu Jiraiya berusaha memancing keluar pengendalian apiku, tapi tak berhasil juga. Dia menyuruhku menunggu dan jangan sedikit pun mendekati ombak yang menggulung besar. Kukira dia kecewa padaku dan butuh waktu untuk menenangkan diri.
Tak lama kemudian, dia kembali dengan dua ember kecil dan sebuah sekop plastik. Bukannya lanjut mengajariku teknik pengendalian api, dia malah mengajariku caranya membuat istana pasir. Aku yakin dia bahkan membuat istananya jelek agar aku mengomelinya dan mendeskripsikan istana yang benar itu seperti apa.
Aku merenung sambil memandangi langit yang mulai dihiasi semburat merah.
Jika kita singkirkan soal ancaman dari Teratai Merah, sebenarnya hidupku tak begitu buruk. Kalaupun memang Kutub Selatan masih mengalami nasib yang sama, Semesta mengizinkan Kurama menyelamatkanku dan membawaku ke tangan Jiraiya. Kalau hidupku memang tidak beruntung, aku bisa saja mati tenggelam di laut beku atau dibawa Kurama pada orang yang tak bertanggung jawab dan tak diberi kesempatan untuk mengalami semua yang kualami, sampai saat ini.
Jiraiya bukan hanya memenuhi tugasnya sebagai Teratai Putih, tapi juga mendidik dan melindungiku lebih dari yang seharusnya. Sekarang, jika kuingat-ingat lagi … Penolakannya saat aku ke Kutub Utara itu bukan semata karena dia takut aku belum siap mengemban tugasku sebagai avatar. Ada ketakutan yang lain, ya?
Bukan cuma aku yang memandangnya sebagai figur pengganti orangtua.
.
"Lah? Sudah di sini?"
Jiraiya datang ketika langit semakin meredup, hitungan detik menuju matahari terbenam. Dia langsung duduk di sebelahku dan memberikan kresek yang kuyakini berisi makanan.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" Jiraiya bertanya.
Aku beralih dari bungkus makanan yang masih terasa hangat, menatap Jiraiya bingung. "Memangnya kenapa?" tanyaku.
"Matamu merah. Habis nangis?"
"Nostalgia dikit." Aku menyeka mataku, tertawa kecil. "Apa kau akan menjelaskan alasanmu membawaku ke sini sekarang?"
Jiraiya membuka porsi makanannya, lalu mulai menerkam isinya. Kusimpulkan itu sebagai isyarat untuk makan dulu, bicara nanti saja.
Tak butuh waktu lama hingga makanan kami habis menyisakan bungkusnya saja.
"Kalau boleh jujur, tak ada alasan yang terpikir kenapa aku membawamu ke sini, Naruto." Jiraiya tertawa. Wajahnya terlihat tenang, meski disentuh pancaran sendu. "Aku hanya ingin."
Aku mengambil segenggam pasir yang agak basah, mengubah bentuknya secara acak menggunakan teknik pengendalian bumi sekaligus air. Kubiarkan mataku sesekali melirik Jiraiya, memberikan tanda bahwa aku menyimak perkataannya.
"Aku mengenalmu dengan baik, Naruto. Aku bukan cuma mentor yang memantaumu mengembangkan kemampuan pengendalian elemen. Selama beberapa tahun pertama, aku memantaumu 24 jam penuh." Jiraiya menatapku dalam. "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu."
Aku berjengit, ingin rasanya mengelak. Jiraiya mengangkat tangannya, memintaku untuk membiarkan dia melanjutkan.
"Aku tidak akan memaksamu untuk bicara. Jika dugaanku benar, apa pun yang kau sembunyikan ada hubungannya dengan avatar, dan dengan begitu aku tak ada hak untuk mengetahuinya. Teratai Putih pendahuluku pernah berkata, ada beberapa hal yang tak berhak kami campuri. Salah satunya adalah urusanmu dengan Semesta.
"Tapi … Hal yang kau sembunyikan, entah apa pun itu, menggerogotimu secara perlahan. Aku tak suka melihatnya Naruto. Aku perlu tawamu yang seperti biasanya. Aku perlu bukti bahwa kewajibanmu tidak merenggut senyummu."
Aku meninju ulu hati Jiraiya. Tertawa kecil saat dia protes dengan ulahku.
"Itu balasan karena sudah membuatku terharu sampai ingin nangis!"
Jiraiya memelototiku. "Mana ada terharu dibalas kekerasan!"
Ah. Déjà vu rasanya.
"Intinya," Jiraiya menekankan, "kalau ada yang bisa kulakukan untuk meringankan bebanmu, tolong katakan. Aku tak sanggup melihatmu tersiksa dalam kesunyian begitu."
Aku mendengus geli. Tersiksa dalam kesunyian, katanya.
Kenyataannya tak sesunyi itu, kan? Aku tak pernah benar-benar sendiri.
Aku punya Kurama, yang akan selalu bisa kuandalkan sebagai topangan jika tak ada lagi manusia yang mampu melakukannya. Tak lupa empat Naga Spiritual lain yang tak akan keberatan menggantikan peran itu, meski kedekatan kami tak seperti hubunganku dengan Kurama.
Aku punya Jiraiya, yang tak pernah lelah menuntunku di jalan takdir ini sampai aku bisa jalan sendiri. Dia juga tetap memantau dan tak segan memberi uluran tangan ketika aku tersandung kerikil sialan.
Aku punya Sasuke, yang selalu bisa membuatku lupa akan beratnya beban dunia yang kutanggung. Dia tak pernah membuatku kekurangan tawa. Statusku sebagai avatar tak merubah apa pun. Justru memperkuat keberadaan Sasuke di sampingku.
Aku juga punya kawan-kawan, guru, dan kenalan lain. Mereka ikut menghias hariku, memberi sentuhan unik di tiap waktu yang berbeda sehingga hariku tak pernah monoton.
Kenangan yang kupunya tentang hidupku di Kutub Selatan pun tidak melulu soal malam penyerangan.
Jika dibandingkan dengan anak lain yang hidupnya lebih mudah tanpa ancaman malaikat maut berbentuk manusia, memang hidupku itu tidak adil. Tetapi ketidakadilan ini tidak begitu buruk, kan?
Kurasa semua tawa yang kudapat kurang lebih satu dekade ini sudah cukup membayar apa yang kualami di Kutub Selatan. Hak-ku sudah terpenuhi, bukan? Aku bahkan diberi kesempatan untuk merasakan kebucinan seseorang, seperti remaja normal lainnya. Apa lagi yang harus kukhawatirkan?
'Kurama, kau boleh bertukar dengan Kokuo sekarang.'
'Kau yakin?'
'Ya! Kita tinggal menunggu Teratai Merah bergerak.'
'Kau tahu kau tak perlu melakukan ini.'
'Aku tahu.'
"Raut wajahmu berubah. Apa ini membantu?" Jiraiya menepuk pundakku, memutus obrolan telepatiku bersama Kurama.
Aku nyengir. Alih-alih menjawab, aku balik bertanya, "Mau sparring?"
Jiraiya mengacak rambutku sambil tertawa.
Entah mengapa, sparring malam itu terasa berbeda. Tiap langkah dan tiap gerakan yang kulakukan terasa begitu ringan.
Apa pun rencana Teratai Merah, aku siap menghadapinya.
.
.
.
… atau mungkin menghancurkannya.
Aku melihat Sasuke meringis menatap keluar jendela kelas, tepatnya pada lautan manusia yang ada di halaman sekolah. Teman-teman yang lain memiliki ekspresi berbeda-beda. Ada yang heran dengan kelakuan objek perhatian utama seisi kelas. Ada juga yang kesal atau malah senang karena sekarang kami terjebak di jam kosong sementara para guru sibuk menjadi barikade kerumunan pers yang sepertinya tak akan bubar meski bel pulang sekolah sudah berkumandang.
Seseorang bersiul. "Gila, rame bener!"
Bendahara kelas kami memutar bola matanya. "Ya bagaimana tidak ramai begitu? Mereka tahu avatar mereka ada di sekolah ini!"
Aku menghela napas saat kulihat Sasuke dan Neji melirik ke arahku. Kalau mereka khawatir kedokku akan terbongkar, respon mereka berefek sebaliknya!
Kalau boleh jujur, aku ingin tertawa. Pertama, mereka mengirim video yang membocorkan sedikit identitasku lewat e-mail OSIS sekolah. Mereka juga membuatku mengkhawatirkan apa yang akan terjadi dengan jatuhnya pertahanan negara. Kalau mereka ingin efek ancamannya bertahan, seharusnya mereka tak menyebarkan video itu ke internet hingga seluruh dunia mengetahuinya.
Ini masih spekulasiku, tapi aku merasa Teratai Merah sedang mencoba membuat namaku buruk di mata masyarakat. Jika aku masih bersembunyi, pasti akan ada pers 'nakal' yang mengungkit aku melalaikan tanggung jawabku dan blablabla. Dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain.
"Ingat filosofi air, Naru. Air memang berubah bentuk mengikuti wadahnya, tapi dia tetaplah air."
"Eh, kelas kita punya pengeras suara, kan?" tanyaku.
Neji mengernyit heran. Tapi dia tetap menjawab, "Ada tuh di lemari."
Tanpa banyak cing-cong, aku mengambil pengeras suara tersebut dari lemari perkakas yang terletak di belakang kelas, bersebelahan dengan loker siswa. Aku tersenyum puas saat kutes suaranya masih lantang.
"Ngapain Nar?"
Sekarang seisi kelas memerhatikanku. Cek sound-nya memang terlalu keras untuk bisa diabaikan sih.
Aku angkat bahu. "Apa kalian bisa menyingkir sebentar? Guru kita sudah kewalahan. Aku ingin memberi sedikit bantuan."
Aku merasa dikhianati ketika seisi kelas, bahkan Sasuke, menatapku dengan tatapan penuh selidik. Seolah aku sedang merencanakan rencana jahat untuk mengendalikan manusia-manusia di bawah sana dalam rangka mengambil alih dunia.
Well, technically ...
Tak ada yang mau menyingkir dari jendela. Aku memaksakan diri untuk nyelip di antara dua teman kelasku. Langsung kuatur napas, menyiapkan diri untuk berteriak di mesin pengeras suara.
"HEH, MANUSIA DUNGU!"
Hening sejenak. Seolah tombol pause ditekan oleh seseorang selama beberapa saat. Kerumunan pers diam, kompak mencari sumber suara seolah dalam slow motion, lalu keributan terjadi lagi setidaknya dua kali lipat dari sebelumnya.
"Nar! Kau memperparahnya!" protesan Sasuke kudengar di tengah erangan teman sekelas.
Karena aku teman yang mibaik, kuabaikan mereka semua.
"Apa? Kalian tersinggung dikatai dungu? Tidak punya kaca apa bagaimana?"
Aku mendengar auman gahar Bu Tsunade di tengah keributan. Tiba-tiba saja aku merinding.
Akan tetapi, meski kutahu nyawaku terancam di tangan guru You-Know-What setelah semua keributan ini selesai, aku tetap melanjutkan misiku.
"Ya, video itu menggemparkan dunia. Tapi memangnya kenapa kalau avatar bersekolah di sini? Bukankah ada cara yang lebih beradab dan sesuai aturan pers untuk mendapatkan informasi? Haruskah kalian mengganggu kami sekolah? Tak ada yang sadar kalau ini sudah lewat jam pulang kami?"
Aku tak bisa menahan decak takjub saat murid-murid bersorak. Terutama dari mereka yang kelasnya bertetangga denganku.
"Lagipula kalau memang kalian bisa memancing avatar untuk berbicara, apa yang mau kalian bicarakan? Apakah kalian akan protes karena avatar tak pernah menunjukkan diri pada publik? Memangnya kenapa? Kalian mau menuntutnya karena dia meninggalkan tanggung jawabnya selama menghilang dari radar? Atau ini soal ketidakjelasan musibah yang menjatuhi saudara kita di Kutub Selatan? Tak terpikir oleh kalian jika saat itu terjadi avatar masihlah balita?"
Hening lagi. Bahkan para murid juga ikut terbungkam. Aku menatap teman-teman sekelasku dengan ekspresi congkak. Beberapa tertawa lepas menanggapinya.
"Sekarang, mari bayangkan jika memang avatar maju ke depan kalian dan mengenalkan dirinya. Setelah itu apa? Dia hanya anak sekolah. Apa yang kalian harapkan darinya? Pepatah bijak? Demonstrasi empat elemen? Menuntutnya untuk memenuhi tanggung jawab terhadap dunia?" Aku mendecih. "Tanggung jawab apa? Kalau mengatasi manusia dungu yang tak bisa taat hukum seperti kalian, kita masih punya aparat hukum dan masyarakat lain yang lebih beradab, ya aku bicara soal kalian wahai bapak-ibu guru yang terhormat. Haruskah avatar mengatasi masalah sepele yang sebenarnya tak akan jadi masalah kalau kalian bisa sedikit lebih profesional dengan pekerjaan kalian? Tak malu? Saat ini di depan kalian ada ribuan calon pemimpin bangsa. Ini contoh yang kalian perlihatkan pada mereka? Pantas saja avatar tak mau diketahui keberadaannya jika sikap kalian begini."
"Hey!"
Aku berusaha menahan tawa. Ada beberapa orang yang tidak terima, tapi kalah jumlah oleh mereka yang terbungkam oleh rasa malu.
"Bicara lagi soal tanggung jawab avatar... Ada yang mau menyebutkan contohnya? Hm? Menjaga keseimbangan dunia? Keseimbangan yang macam apa? Kekacauan minor seperti tawuran akan tetap terjadi selama manusia tak mau mengalah dari ego mereka. Pun perselisihan tak dapat dihindari, karena setiap manusia memiliki pola pikir unik dan berbeda-beda. Itulah guna adanya toleransi dan musyawarah, kan?
"Kalau masa avatar sebelumnya, Avatar Hiruzen, aku mengerti jika kalian menuntut avatar unjuk diri. Saat itu kita berada di tengah kekacauan besar yang menimbulkan perang dan memang butuh agresi untuk mencapai kedamaian.
"Coba lihat ke sekeliling kalian. Sudah lebih banyak manusia yang mengerti pentingnya kedamaian dan jalan kolot haus kekuasaan dan takluk kekuatan sudah tak banyak dipraktekkan. Sekali lagi kutanya, memang kenapa kalau avatar sekolah di sini?"
Aku berjengit kaget saat seseorang melakukan headlock padaku. "Siapa kau dan apa yang kau lakukan pada Naruto yang asli?" katanya, memancing tawa satu kelas.
"Ini aku yang asli, Kampret!" Aku menggerutu. Kulepaskan kuncian yang diberikan, sebisa mungkin pura-pura tidak sadar akan tatapan tajam yang Sasuke kirim pada sang tersangka beserta siulan beberapa anak sebagai suara latarnya. "Sut. Aku belum selesai. Jangan dulu diganggu."
"Jadi, bagaimana?" tanyaku.
Bisa terdengar suara "Cek, cek" dari pengeras suara lain. Kulihat, salah satu dari manusia dungu yang kusebutkan menerima pengeras suara milik sekolah.
"Saya mewakili segenap keluarga pers yang ada di sini ingin memohon maaf atas sikap kami yang kurang profesional dalam menghadapi berita menggemparkan ini. Kami hanya terlalu bahagia mendengar informasi keberadaan avatar setelah bertahun-tahun lamanya."
Orang itu lanjut berkicau, bilang dia mengagumi keberanianku dan takjub atas pemikiranku. Memberi motivasi untuk semangat belajar, agar aku bisa menjadi salah satu pemimpin negeri yang patut dibanggakan, dan blablabla.
Halah. Mari kita lihat kalau memang perkataannya itu benar dan dia bisa berpikir lebih terbuka soal avatar.
Sasuke tiba-tiba mencengkram pundakku. "Naruto, apa pun yang mau kau lakukan, jangan lakukan!"
Aku sering lupa kalau di sini ada yang mengenalku sampai ke titik terkecil gelagat yang kulakukan.
"Tapi aku belum melakukan apa pun tuh?" Aku nyengir tanpa dosa.
"Mukamu terlihat jelek dan sangat mencurigakan!"
Eh, Kampru-
Aku berbalik menghadap lautan manusia lagi setelah mengedipkan sebelah mata pada Sasuke. Kuposisikan mulutku di depan input pengeras suara.
"Tapi kalau kalian memang butuh jawaban … Perkenalkan, aku Naruto, putri dari Kepala Suku Air Selatan. Dan ya, aku adalah avatar."
.
Hey! Jangan protes padaku! Aku sudah bilang aku tidak terima keberadaanku terendus Teratai Merah cuma gara-gara sepatu sekolah! Maksudku, ayolah! Tak ada penyebab lebih elit, apa?
Jika memang Teratai Merah dan penulis sinting ingin identitasku terbongkar, biarlah terbongkar olehku sendiri dengan caraku sendiri!
Aku sudah jengah dengan semua plot twist sialan ini!
To Be Continued
