disclaimer © Kanata Konami
warning Chi-centric, mungkin OOC, PWP (plot? what plot?), confused plot, typo(s), kebutaan EBI, ide klise, diksi ambyar, totally random.
Kedua kaki depan Chi menggaruk-garuk Kashi-Kashi kesayangannya. Sepasang matanya setengah membuka, antara sadar dan tidak. Dengan sangat malas, Chi menoleh ke arah dua mangkuk makanan kering dan susunya yang masih benar-benar penuh. Pada akhirnya, Chi membenamkan kepalanya di atas Kashi-Kashi, merasa sangat bosan.
Kalau biasanya pintu kaca senantiasa sedikit terbuka yang bisa Chi lalui, kali ini pintu tersebut tertutup rapat. Sebelumnya Chi sudah mencoba untuk mendorong pintu, namun usahanya gagal dan Chi kelelahan.
"Oh!" Kepalanya terangkat. Mulut Chi membulat. Binar hitam pada matanya mengecil hingga terlihat hanya setitik. "Otou-san! Otou-san!"
Chi melompati anak tangga demi anak tangga. Pintu biru dongker di atas sana tertutup sama rapatnya.
"T-Tutup …." Chi melongo beberapa saat sebelum mulai memukul dan mencakar pintu. "Bukakan pintunya, Otou-san! Chi mau masuk! Chi mau masuuuuuuuuk! Chi mau maaaaaiiiiiin!"
Kelaparan dan kehausan, Chi memutuskan untuk menuruni tangga dan menyantap makanannya hingga tersisa setengah.
"Kenyangnya!" Chi terlentang di atas lantai dekat mangkuk. Perutnya ditepuk pelan beberapa kali oleh telapak kakinya sendiri. "Okaa-san!"
Teringat bahwa ada orang lain yang bisa membuka pintu, Chi memulai pencariannya lagi. Pintu menuju kamar mandi dan toilet terbuka, tetapi tidak ada siapa pun di dalam sana. Chi kembali ke ruang tengah dan memilih memasuki dapur terbuka. Chi tidak menemukan apa pun selain sebuah benda yang berkilat-kilat cerah.
Chi mendekati benda tersebut, kemudian menyenggolnya dengan kakinya. Sebuah wajah buram yang mirip dengan Chi muncul di permukaan logam itu.
"Sendok punya Otou-san, apa kautahu di mana Okaa-san?" tanya Chi pada barang tak bernyawa temuannya. "Apa kau juga tidak tahu? Aeh?"
Chi berkedip. Bayangan di permukaan logam melakukan hal yang sama. Chi memiringkan kepalanya. Jiplakan wajahnya juga ikut-ikutan.
"Kau mengikuti apa yang Chi lakukan! Jangan meniru Chi!"
Chi menerjang sendok besi—yang sebenarnya sama sekali tak berdosa—dengan sangat geram. Keadaan mereka saat ini adalah keempat kaki Chi yang memeluk bagian tubuh rampingnya, sementara Chi sudah menampakkan deretan gigi taringnya, bersiap menggigit si peniru yang berani-beraninya menjiplak apa yang dia lakukan sekeras yang dia bisa.
"MYAAAAAAAAA!
Chi merasa seluruh giginya kaku dan mati rasa.
Chi memukulkan ekornya ke lantai, sembari melirik ke arah sendok besi yang tetap di tempat terakhir kali Chi membuangnya. Walau sudah menjauh beberapa saat, Chi masih penasaran dengan si benda menyebalkan. Berdasarkan pengalamannya bersama parkit hijau milik Nyonya Akashi, serta insiden bayangannya pada tirai kuning di saat mati listrik, Chi tak punya kenangan bagus dengan hal-hal yang bisa menyerupai tingkah lakunya. Chi berjalan kembali ke arah tempat sendok itu berdiam, bersiap melancarkan serangan balas dendam.
"Apa yang kaumau, haaaaa?!" hardik Chi tidak suka. Lagi-lagi wajahnya terlihat samar di muka sendok. "Jangan meniru Chi terus!"
Chi mengibas sendok hingga posisinya berbalik. Sekarang bagian belakang sendok yang menghadap langsung ke arah Chi. Bayangan wajah Chi di sendok kini berputar seratus delapan puluh derajat. Lebih parahnya, wajah Chi terlihat melebar konyol—bahkan sebenarnya lebih pantas disebut mengerikan—di punggung sendok, yang sukses membuat Chi melompat tinggi dengan ekspresi kaget.
"Otou-saaaaaaan, Okaa-saaaaaaaan, Youheeeeeeei …." Chi bersembunyi di sudut ruangan di sela-sela meja televisi. Lirihan takutnya benar-benar terdengar sedih. Dia meyakinkan diri sendiri untuk tidak keluar dari sana apa pun alasannya. "Kalian di manaaaaa ...? Chi takut ... Chi takuuuuuut ... uungg …."
"Chi ...?"
Chi membuka matanya. Ada Kento, Miwa, dan Youhei yang memasang ekspresi khawatir.
"Chi!" Kento buru-buru mengangkat tubuh kecil Chi hanya dengan satu raupan tangan. "Apa kau baik-baik saja?! Ya ampun, dia terlihat pucat!"
"Apa Chi salah makan seperti waktu lalu?" tanya Miwa. "Atau dia kebosanan karena aku menutup pintu kacanya?"
"Kita tidak punya pilihan lain. Pemilik apartemen yang meminta kita semua menutup pintu saat tidak ada di rumah. Ada kasus pencurian beberapa hari yang lalu, ingat?" Kento menggendong Chi yang tubuhnya gemetar. "Mungkin dia memang kebosanan."
"Chi, Otou-san dan Okaa-san membelikan kita berdua hadiah!" seru Youhei semangat. Ditunjukkannyalah dua buah sendok plastik dengan gagang berstiker pahlawan super. "Kita bisa bermain plastisin yang juga dibelikan Otou-san dan Okaa-san!"
Mendengar suara Youhei, Chi menengadah kebingungan. Chi mengingat jelas bentuk benda horornya hari ini, namun yang dipegang Youhei memiliki warna berbeda, dan yang terpenting—
"Nyaaaa!"
—Chi tidak melihat wajahnya ada di sana!
"Ayo kita bermain menjadi penjual es krim, Chi!"
"Mia mia mia miaaaaaww!" Chi mengeong sangat bahagia. Youhei mengusir peniru Chi! Youhei sudah menyelamatkan Chi! Chi sayang Youhei! Senangnya!
Sepertinya ... Chi tidak akan pernah punya pengalaman indah, bersama hal-hal yang berkaitan dengan cerminan dirinya.
tamat
~himmedelweiss 22/08/2020
