Dua orang itu mengakhiri santap pagi mereka di meja makan. Hakkai membantu Gojyo membawakan perabot kotor bekas makan ke bak cuci piring. Keduanya saling bekerja sama membersihkan peralatan makan kotor itu. Setelah selesai, Hakkai masih membantu Gojyo merapikan meja dan kursi di ruang makan.
Sudah dua hari berlalu sejak Hakkai menginap bersama mereka. Bisa dibilang, suasana di rumah jadi lebih teratur dengan kehadiran pemuda itu. Hakkai banyak melibatkan diri dalam urusan keseharian orang-orang yang diam di rumah tersebut. Ia membantu Gojyo merapikan rumah, mengawasi Sanzo dalam bekerja, bahkan menjaga pasien bernama Goku untuk tidak berkeliaran lagi.
Ada sisa kare di dalam kuali. Gojyo berniat memberikannya pada pasien itu. Ia menyiapkan nampan dan alat makan lain. Hakkai memperhatikan kesibukan rekannya dengan serius.
"Boleh aku yang membawakannya?"
Permintaan Hakkai membuat Gojyo berpaling heran karena baru pertama kali pemuda itu menawarkan dirinya. Gojyo menyanggpi tanpa berpikir lama, walau ia sendiri penasaran apa yang alasan yang membuat Hakkai mau membawakan makanan untuk pasien itu. Namun, bukankah hal yang biasa? Hakkai adalah tipe orang yang ringan tangan.
"Terima kasih," Wajah serius Hakkai berubah cerah. Ia mengambil nampan itu lalu melangkah ke kamar sang pasien. Gojyo memperhatikan punggung kawannya. Entah kenapa firasatnya buruk. Namun, Hakkai bukan tipe orang seperti Sanzo yang emosional dan suka bertindak semaunya. Sekali lagi, tak ada yang perlu Gojyo cemaskan darinya.
"Sebaiknya aku bersih-bersih rumah saja," Gojyo mengalihkan pikirannya. Ia pun beranjak ke ruang tamu.
Bentang halaman menjadi pemandangan yang selalu ia lihat dari balik jendela kamar. Goku menyentuh kaca. Sorot matanya sayu mengedari pekarangan sepi di depannya. Selama dua hari, sejak dokter berkacamata itu datang, tak ada aktivitas sang dokter di halaman ini. Sampah dedaunan mulai mengotori halaman. Rumput liar mulai tumbuh. Ke mana dokter yang selalu mengurusi tanaman-tanaman hiasnya?
Pintu kamarnya terbuka. Goku terkejut karena pria berkacamata itu-lah sosok yang mendatanginya ke ruangan. Guretan senyum ramah tak lepas terkulum di wajahnya. Ia memang terlihat sangat bersahabat. Namun, entah kenapa Goku lebih gugup berhadapan dengannya, dibandingkan dengan pria rambut merah itu.
"Gojyo tak pernah absen mengantarkan makanan untukmu, ya?" Hakkai meletakkan nampan di atas meja. Goku masih memperhatikannya, tanpa sedikitpun menjawab basa-basi Hakkai. Pria itu tak langsung pergi. Ia menduduki ranjang. Keduanya saling berhadapan. Goku menatap pria itu dingin, tak sedikitpun membalas senyumnya.
"Kemarilah. Aku ingin bicara denganmu," Ujar Hakkai. Goku sebenarnya agak takut dengan pria yang selalu terlihat ramah itu. Namun, ia menuruti perintahnya. Goku duduk di sudut ranjang, posisi yang sangat jauh dari pria berkacamata. Hakkai tertawa lepas melihat reaksi ketakutan pemuda itu.
"Tak mau mendekat?"
Goku hanya dia menunduk tanpa beranjak sedikitpun. Mungkin posisi itu sudah menjadi yang paling aman baginya. Padahal Hakkai tak berniat mencelakai pemuda itu.
"Sambil menghabiskan sarapanmu," Hakkai menunjuk nampan di depan pemuda itu. Cukup lama Hakkai menyediakan jeda, namun sepertinya Goku tak akan menjamah makan paginya.
"Baiklah," Ucapannya masih terdengar ramah. Suara helaan nafas terdengar sebagai pembuka percakapan. Hakkai mengarahkan pandangannya ke langit-langit kamar.
"Ingatanmu sudah kembali, bukan?" Ia bertanya, walau yakin kalau Goku tak akan menjawab. Hakkai melanjutkan pembicaraan.
"Pertama kalinya ada pasien yang bisa mengingat masa lalunya kembali," Dari sini wajah Hakkai berubah serius.
"Jujur saja itu sangat membuatku khawatir," Hakkai menatap mata emas Goku. "Kalau organisasi tahu, kami-lah yang harus bertanggung jawab,"
Jeda sejenak. Pemuda berkaos putih di sudut ranjang itu tetap bungkam. Hakkai seperti mengajak bicara sebuah boneka.
"Kehadiranmu di sini mulai berbahaya. Kau anggap kami yang membuatmu ketakutan. Sebenarnya kau-lah yang membuat kami cemas," Hakkai menatap kedua kaki telanjangnya yang tengah menapaki lantai semen.
"Aku sangat ingin menyingkirkanmu,"
Manik hijau Hakkai kembali bertemu pandang dengan sepasang mata emas yang perlahan membelakak lebar. Ucapan Hakkai bernada sangat tenang, namun terdengar mengerikan bagi Goku. Walau Goku sendiri sudah pasrah dengan nasibnya di tempat ini.
"Padahal dulu aku yang paling merasa iba padamu. Aneh ya," Hakkai tertawa singkat. "Tenang, itu hanya pemikiranku saja. Karena aku sebenarnya ingin melindungi dua temanku yang tinggal di tempat ini," Hakkai menunduk dalam. Wajahnya berubah muram "Sanzo tentu juga tak akan mengampuniku kalau kau sampai kuhabisi,"
Seluruh ucapannya berakhir dengan desahan nafas panjang. Hakkai beranjak dari ranjang. Ia menatap pemuda itu sejenak sambil menyunggingkan senyumnya.
"Kuharap Sanzo mau menuruti ucapanku," ujarnya "Maafkan kami karena sudah menggoreskan banyak luka padamu," Sorot mata Hakkai terlihat tanpa penyesalan. Goku tentu tidak meresponnya serius. Pemuda itu menatap tajam Hakkai yang kini sudah berlalu meninggalkannya.
Goku mendesah lega setelah mendengar bunyi klik pada gagang pintu kamar. Pria aneh itu sudah benar-benar meninggalkannya. Ia menjatuhkan badannya di atas tempat tidur. Pada sosok teroris ketiga itu, Goku merasakan ketakutan bahkan melebihi ketakutannya pada sang dokter. Tatapan mata, senyum, bahkan kata-kata manisnya seperti memberikan teror tersendiri.
Hakkai dan Gojyo melakukan bersih-bersih rumah sampai tengah hari. Terik surya menerangi aktivitas mereka. Hakkai bersenandung sambil merapikan rak yang tertumpuk oleh buku-buku tebal. Sementara Gojyo berkutat membuat makan siang di dapur.
Beberapa menit berlalu, pria kekar rambut merah itu memanggil si kacamata yang masih asyik dengan pekerjaan rumah tangga. Ia bahkan tak menyadari kehadiran Gojyo di dekatnya.
Hakkai memang tipikal yang jika serius pada satu pekerjaan, ia akan mengacuhkan sekitarnya. Tepukan dari Gojyo pun akhirnya menyadarkan pria itu. Hakkai kaget dan langsung beralih.
"Makan siang!" Gojyo memberi isyarat menunjuk ke dapur. Hakkai tak keburu menjawab karena Gojyo sudah berlalu meninggalkannya. Ia pun mengekori pria itu. Aroma masakan menggugah selera. Hakkai mendapati neja makan dipenuhi oleh menu makan siang.
"Mungkin kita panggil Sanzo," Usul Hakkai sambil duduk di kursi. Gojyo agak segan.
"Biarkan saja. Sejak kemarin ia tak mau bergabung di sini,"
"Mungkin ia masih marah," Sorot mata Hakkai berubah sayu. Ia menopang dagu.
"Tidak. Biarkan saja kalau ia masih marah, Hibur Gojyo. Ia tersenyum lebar saat Hakkai memperhatikannya serius. Senyum Gojyo menghilang saat melihat raut pria berkemeja putih itu masih terpaku serius. Hakkai tak sedang memperhatikannya, melainkan objek lain yang terlihat di jendela dapur, persis di belakang Gojyo. Gojyo pun ikut berpaling. Matanya langsung membelalak saat melihat satu sosok yang tersenyum ramah menyapa mereka di balik jendela.
"Ukoku?!"
Seekor gagak bertengger di salah satu atap rumah. Koaknya terdengar. Kedatangannya memiliki pertanda akan ada musibah di tempat itu.
"Yo!"
Seorang pria kacamata berkaos hitam mencoba menyapa ramah dua sosok yang menyambutnya di pintu masuk. Namun, mereka berdua justru merespon dingin. Sorot mata menatap intens sosok itu, memperlihatkan siluet kebencian.
Kedatangannya ke sini tentu tak akan mendapat sambutan hangat. Ukoku sudah bisa menebaknya. Tapi, justru kebencian itu-lah yang ia harapkan. Ukoku berniat mempermainkan emosi mereka, menarik keluar rasa takut dan cemas dalam diri para penghuni pondok kecil ini.
"Kau Gojyo?" Ukoku menunjuk pria yang berpostur lebih tinggi darinya. Sosok itu tak menjawab.
"Mana Sanzo?"
"Untuk apa datang ke sini, Ukoku-san?" Hakkai dan Gojyo kompak menahannya di pintu masuk. Ukoku hanya meringis.
"Bisa minggir? Aku ingin bertemu Sanzo,"
"Sanzo sedang sibuk membuat virus. Kuminta anda jangan mengganggunya," Ucap Hakkai tegas. Gojyo hanya diam. Ia mengandalkan rekannya untuk menjadi juru bicara. Hakkai berlidah tajam mungkin bisa mengusir pria menyebalkan itu.
"Oh," Ukoku manggut-manggut. "Kalau begitu, aku ingin bicara pada kalian. Bagaimana kalau sambil makan siang. Kalian sedang makan siang, bukan?"
"Di sini saja jika ingin bicara dengan kami," Hakkai bicara sementara lengan kekar Gojyo menghalangi Ukoku untuk masuk ruangan.
"Aku sedang lapar. Perjalanan ke sini jauh. Kenapa kalian sangat jahat pada senior baik sepertiku," Ukoku ber-akting memelas. Raut wajahnya malah terlihat menjijikan bagi Hakkai dan Gojyo.
"Sampai kapan mau menahanku, hah?" Ekspresi pria itu dalam sekejap berubah dingin. Ia menyunggingkan senyum sinis.
"Kalian berdua takut?" Ukoku tertawa lepas "Padahal aku tak memiliki maksud jahat. Hanya mewakili Gyokumen melakukan survey lapangan,"
"Aku yang akan mengawasi mereka," Sahut Hakkai. Wajahnya masih tegas. Ukoku tertawa pelan mendengarnya.
"Oh ya," Ia kini beralih menatap Gojyo. Senyum lebarnya terkembang.
"Kau percaya padanya?" Ukoku bertanya sambil menunjuk Hakkai. Pria itu hanya menatap sinis.
Gojyo tercekat menerima pertanyaan itu. Tentu ia percaya pada Hakkai. Namun, haruskah ia menjawab pertanyaan itu? Ukoku sangat licik. Jawaban Gojyo bisa menjadi bumerang baginya.
"Baru beberapa tahun kenal. Aku salut pada kedekatan kalian. Tapi, kau sendiri harus sadar kalau tak ada teman yang abadi dalam sebuah organisasi kriminal. Hakkai yang kau kenal akan berbeda dulu dan nanti,"
"Kau!" Gojyo ingin menghajar pria itu. Hakkai malah menahannya. Gojyo menyaksikan ekspresi Hakkai yang paling mengerikan. Sorot mata pria itu dipenuhi oleh amarah.
"Lihat! Dia sudah menunjukkannya!
Aku ingin melihat sisi lainmu, yang pernah kau tunjukkan pada kakakmu sendiri!"Ukoku tertawa gembira. Hakkai hanya bergeming dengan sorot mata yang sama. Gojyo tercekat dalam situasi ini. Hakkai sudah terlalu mengerikan untuk ia tenangkan.
Mengerikan?
"Untuk apa kau datang kemari?" sebuah suara mengusir ketegangan di antara tiga orang itu, terutama Hakkai yang emosi oleh hasutan Ukoku. Sosok Sanzo-lah yang muncul dan bergabung untuk mengusir Ukoku. Pria itu melenggang ke pintu masuk. Sorot matanya sinis menatap sang tamu.
"Aku tak pernah mau menerima tamu selain Hakkai," Ujarnya "Bahkan Gyokumen Koushu sekalipun. Pergi kau!" Sang tuan rumah mengusir Ukoku dengan angkuh. Pria itu langsung tertawa menanggapi sikapnya.
"Kau tidak bersembunyi ketakutan saat melihatku? Seperti dulu, Kouryu,"
"Kalau ingin membahas masa lalu, kau tak usah ke sini lagi!" Sanzo dengan berani mengancamnya. "Jangan pernah ikut campur urusanku dan pekerjaanku! Aku akan menyerahkan semua kabar perkembangan proyekku pada Hakkai,"
Ukoku mengacak-acak rambutnya. Kekehannya masih terdengar. Tiga orang di hadapannya sudah memberikan perlawanan sengit.
"Baiklah. Padahal aku ingin bicara akrab dengan kalian," nada bicaranya masih tenang. Sejak tadi, Ukoku adalah satu-satunya sosok yang tak tersulut emosi. Ia justru yang mempermainkan emosi mereka. Sungguh pria yang amat berbahaya.
"Aku pergi! Tapi, tentu perintah Gyokumen harus segera dilaksanakan!" Ukoku mengulur waktu dengan menyalakan sebatang rokok. Ia menikmati beberapa hisapan dengan santai.
"Tiga hari! Kalau dalam rentang itu kalian tidak menyelesaikan proyeknya, organisasi akan menganggap kalian penghianat. Dan kalian akan dieksekusi,"
Ketiganya hanya diam menerima perkataan Ukoku. Tapi dari raut wajah mereka, ada siluet kecemasan terlihat, terutama Hakkai. Pria itu akan menjadi orang paling bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada Sanzo dan Gojyo.
"Aku akan datang ke sini lagi," Ukoku menyenandungkan ucapannya. "...kalau dalam tiga hari tetap tak ada laporan," Ia pun berbalik memunggungi mereka. Ukoku melambaikan tangan sebelum melenggang meninggalkan mereka. Ia hendak memasuki mobil sedan hitam yang terparkir di halaman. Pria itu memberi salam terakhir bagi Sanzo.
"Koumyo sangat suka bunga. Kau pun juga sama, Kouryu. Tapi, kuharap nasibmu tak sama seperti panutanmu itu,"
Sanzo sekuat tenaga menahan diri untuk menghampiri Ukoku lalu menghajarnya. Ia hanya mengepal tinju, menatap pria itu penuh rasa benci, sementara Ukoku hanya terkekeh sambil memasuki kursi kemudi.
Ketiganya tetap mengawasi sampai mobil sedan Ukoku meluncur keluar halaman lalu menghilang di jalan raya. Hakkai dan Gojyo mendesah lega setelah ketegangan itu terlewati.
Sanzo meninggalkan mereka, kembali ke ruang kerjanya. Panggilan Hakkai seketika menahannya.
"Kita perlu bicara, Sanzo," Hakkai menegur lembut, namun tegas.
"Aku sedang membuatnya," Ujar Sanzo. Ia kembali mengambil satu langkah, namun respon Hakkai kembali menghentikannya.
"Kau benar-benar membuatnya? Atau hanya mengulur waktu saja?" Hakkai menatap punggung itu. Sanzo tak menjawab. Ia meneruskan langkahnya. Hakkai pun tak menahannya lagi.
Hakkai menunduk sejenak sambil tersenyum getir. Ia menghela nafas lalu beralih melihat Gojyo. Pria itu sangat khawatir dengan keadaan Hakkai.
"Hakkai,"
"Kita lanjut makan saja ya. Perutku lapar," Hakkai bergurau sambil tertawa. Tanpa menunggu reaksi rekannya, ia melangkah duluan ke dapur. Gojyo tidak segera mengikutinya. Ia hanya memandangi punggung berlapis kemeja putih. Pikirannya memutar kata-kata Ukoku sampai reaksi Hakkai.
Apa aku takut padanya? Temanku sendiri?
