Enjoy Reading~

.

.


Dunia shinobi memang tak pernah benar-benar damai, tapi setidaknya selalu berubah secara konstan. Tiap generasi membawa pembaharuan, dan kemodernan akan terus berjalan maju. Iruka sadar poros dunia tak berdiri padanya, sebagaimana ia tunjukkan pada Kakashi bahwa hidup tak hanya tentang dirinya. Kakashi lebih tua darinya, dan itu pulalah yang membuatnya selalu menahan diri tiap kali ingin mengutarakan segala hal dan berusaha menasihati.

Iruka merasa tak pantas dan mendahului. Selisih umur mereka tak banyak, tapi pengalaman mereka terlampau jauh. Seolah Kakashi telah berada pada puncak tertinggi sementara dirinya hanya bisa mendongak untuk menatapnya. Silau, Iruka mengakui itu.

Iruka tak menampik bahwa dirinya tertarik kepada Kakashi, entah ketertarikan seperti apa. Mungkinkah selama ini ketertarikannya adalah sebuah platonik? Tapi ia tak sesuci itu. Ia merasakan bagaimana jantungnya berdebar kencang ketika kulit mereka saling bersentuhan. Ia merasakan bagaimana rasanya lemas ketika Kakashi menunjukkan perhatiannya. Juga, ia tak menampik getaran aneh di dadanya ketika bibir Kakashi menyentuh bibirnya. Jelas ia terlalu sok suci jika menganggap ketertarikannya hanya sebuah ketertarikan platonik belaka. Ia tertarik secara romansa, ia mengandalkan nafsu dan hatinya. Ketertarikannya bukan spiritual.

Seolah kenyataan memang tak berpihak kepadanya, ia disadarkan dengan posisinya, dengan analogi sederhananya bahwa Kakashi berada jauh di atasnya, yang membuatnya harus mendongak hanya untuk menatapnya. Kejam, takdir seorang shinobi memang tak pernah jauh-jauh dari rasa sakit.

"Kau terlalu kaku, Iruka."

"Eh?"

Izumo mencebik. Sebobrok apapun dirinya, ia tahu untuk tidak bercanda di saat seperti ini. Anjuran untuk mengajak Kakashi kencan tempo hari bukan sekadar candaan untuk menggoda Iruka belaka, tapi Izumo dan Kotetsu sungguh-sungguh.

Dalam bayangan mereka, keduanya ada di luar dunia Kakashi dan Iruka, duduk sembari menikmati apa yang akan terjadi. Bak putaran roll film, ada saatnya Izumo dan Kotetsu kesal, gemas dengan apa yang dilakukan karakter dalam film itu. Ide untuk mengeroyok Kakashi jika ia menolak Iruka juga serius mereka pikirkan, padahal mereka juga tahu kalau kemampuan mereka bahkan tak ada seujung kuku dari Kakashi. Sekali serang saja, mereka yakin akan meninggalkan dunia saat itu juga. Tapi keyakinan itu semata-mata karena mereka mendukung Iruka, menempatkan Iruka sebagai heroine dalam sebuah film yang harus didukung dan dilindungi. Konyol, tapi menyenangkan.

"Mau sampai kapan denial dan bilang kalau kau hanya ingin membantu Kakashi-san?" Kotetsu menyahut jengkel. Lama-lama ia gemas juga melihat rekannya bersikap seperti ini. Pasif, dan terus-terusan menerima apa yang terjadi padahal dirinya sendiri terluka.

"Aku memang ingin membantunya."

Izumo mengangguk. "Kami tau, kami tau, kau tidak pernah berbohong soal membantu seseorang. Hanya saja, kau berbohong kalau kau tidak berharap lebih. Kau berbohong, dan lebih dari itu kau membohongi dirimu sendiri. Menyedihkan."

Iruka menggigit bibirnya. Bertanya-tanya dalam hati apa benar jika dirinya hanya berpura-pura menerima. Apa iya dirinya sebenarnya menginginkan balasan dari Kakashi, apa iya dirinya menyukai Kakashi sebagaimana seorang perempuan kepada lelaki?

Iruka menggeleng kencang. Bagaimana mungkin ia menyamakan dirinya dengan seorang wanita!

Izumo menepuk bahu Iruka. "Kami tau sebenarnya kami tidak pantas mengatakannya, lagipula kami juga tak berpengalaman soal ini. Tapi tenang saja, perjanjian kita tetap kok. Kami pasti akan mengeroyok Kakashi-san kalau dia menolakmu." sebuah seringai dan binar wajah super cerah. Iruka benar-benar tak menyangka dua temannya itu begitu mendukungnya. Iruka tak pernah cerita sama sekali mengenai perasaannya, dan keduanya tau begitu saja. Haruskah ia bersyukur mendapat dukungan seperti ini?


Kakashi menghela napas, menggaruk surai peraknya malas. Sejak tadi ia hanya menguap dari balik maskernya. Sorot matanya yang malas tampak semakin malas saja. Iruka berjalan di sampingnya, seperti hari-hari sebelumnya, mereka harus menemui Tsunade dan ikut dalam tes anehnya.

"Ano, Kakashi-san sudah makan?"

Kakashi menggeleng. "Aku malas masak, capek." keluhnya.

Iruka tertawa geli. Sayang sekali, padahal kemampuan memasak Kakashi benar-benar bagus. Ia mengulurkan bungkusan di hadapan Kakashi. "Kalau begitu makan ini, siapa tau nanti tes Tsunade-sama membutuhkan tenaga lebih. Beliau 'kan tidak tertebak."

Kakashi menerimanya dengan sukacita. Sejujurnya ia lapar, tapi rasa malasnya benar-benar menguasai, dan ia percaya tak akan mati hanya karena tak sarapan. Beruntung, Kami-sama berbaik hati padanya dan mengirimkan Iruka untuk memberinya makanan. Seperti yang dikatakan Iruka, Tsunade itu tak tertebak.

"Ja, kalau begitu temani aku makan dulu di sana. Lagipula ini masih terlalu pagi dari jadwal yang diberikan Shizune."

Iruka mengangguk. "Hai."

Kakashi dan Iruka berhenti di kursi beton ujung jalan tempat mereka awal bertemu. Jalur setapak kecil yang jarang dilewati karena memang hanya jalan setapak kecil yang cukup sepi. Kakashi membuka bungkusan kotak bekalnya dengan bahagia. Biasanya ia akan mengalihkan perhatian orang lain setiap kali harus makan, tapi karena yang sedang bersamanya adalah Iruka, dan lagipula dia juga sudah melihat wajah Kakashi, ia tak perlu khawatir. Kakashi bernapas lega, setidaknya ia bisa sarapan dengan tenang.

Kakashi mengakui kalau masakan Iruka selalu enak meski masakannya sendiri juga tak kalah enak. Tapi untuk manusia pemalasan sepertinya, daripada memakan masakannya sendiri, jelas ia lebih memilih untuk memakan masakan Iruka. Praktis, dan yang pasti ia tinggal makan saja.

Iruka tak banyak bicara, Kakashi pun sebenarnya tidak. Ia makan dengan damai meski pikirannya tak begitu damai. Pembicaraan mereka tempo hari cukup mengganggu, dan Kakashi berpikir mungkin ia sempat sekali lagi menggores hati Iruka dengan perkataannya. Kakashi tak punya pilihan lain. Ia sudah terbiasa bergantung dengan dirinya sendiri, menghadapi orang lain yang tiba-tiba datang dan menawarkan sandaran padanya membuatnya tak nyaman. Ia bukannya tak percaya kepada Iruka, ia sepenuhnya yakin dengan ketulusan chunin itu. Hanya saja...

"-Shi-san?"

"Kakashi-san?"

"Ah? Ya?"

"Kau baik-baik saja? Makanannya tidak enak?"

Kakashi menggeleng cepat. "Enak kok, enak!" memaksakan senyum canggung.

"Oh... Kau tampak um... Memikirkan sesuatu."

"Tenang saja, tenang saja! Hanya sedikit pikiran yang terlintas, bukan perkara besar."

Iruka mengangguk paham. Kakashi terkejut Iruka tak menanyakan tentang apa yang dipikirkan olehnya. Setidaknya, ini pertama kalinya Iruka hanya mengangguk mengerti tanpa menawarkan bantuan seperti sebelum-sebelumnya.

Sekelebat ingatan tentang pembicaraan kemarin melintas. Kakashi paham jika orang lain akan langsung melakukannya karena takut dan tersinggung. Tapi Iruka? Kakashi tak mengenalnya cukup lama, pertemuan mereka semuanya hanyalah kebetulan yang saling terangkai. Meski begitu, semua kebetulan itu cukup untuk membuatnya mengerti. Iruka berbeda. Meski dia tau batasan dirinya, tak pernah ada kata menyerah dalam hidupnya. Dia menerima segala hal, baik pun buruk. Ia percaya segalanya akan lebih baik. Musibah yang terjadi hari ini akan berganti dengan kebahagiaan esok hari. Cerah, seperti matahari.

Ketika Kakashi sadar bahwa Iruka secara kasat mata tetap sama meski perlahan ia menuruti kalimat Kakashi, ia masih merasa aneh. Janggal yang menyesakkan. Ironi, padahal dirinya sendiri yang melontarkan kalimat itu.

"Menurutmu, apa kita akan selamanya terikat seperti ini?" tanya Kakashi tiba-tiba.

Iruka mengangkat bahu. "Kalau jenius seperti Kakashi-san saja tidak mendapat gambaran apapun tentang masa depan kita, bagaimana aku tau?" lalu ia tertawa kecil.

"Jangan terlalu merendahkan diri di hadapanku. Aku..." Kakashi menghela napas. "...Pokoknya jangan menganggap dirimu buruk di hadapanku."

"Baik, aku mengerti. Soal masa depan, aku tidak tahu, tapi aku tidak masalah jika masih terus membantumu. Bahkan jika nanti kau menikah dan memiliki keluarga, aku tidak keberatan selalu membantumu."

Kakashi terkekeh. Menikah? Keluarga? Sebuah pemikiran yang tidak pernah terlintas di benaknya.

"Ku rasa tidak akan."

"Eh?"

"Aku sudah terlalu tua untuk bermimpi membuat keluargaku sendiri."

Iruka tertawa keras, ia belum pernah merasa sekonyol ini mendengar jawaban seseorang. Lebih parahnya ia menertawakan pendapat Kakashi. Pria itu selalu terlihat kuat dan bergantung pada dirinya sendiri, tapi Iruka tak pernah berpikir jika Kakashi tak mau menikah karena merasa sudah terlambat. Terlalu tua, katanya? Yang benar saja!

"Kakashi-san, apa alasanmu tak mau menikah benar-benar karena usia? Kau belum tua, astaga."

Kakashi menggaruk surai peraknya. "Aku akan semakin sulit bergerak jika harus melindungi wanita lemah, lagipula aku juga tidak mau membahayakan orang lain dengan masuk ke dunia ku. Keluarga bisa dibangun tanpa harus menikah. Naruto mengatakan padaku jika aku memiliki tempat untuk pulang, seseorang yang menerimaku datang, maka itu bisa disebut keluarga. Tak masalah apakah ada ikatan darah atau tidak."

Iruka tersenyum. "Benar, ah maaf jika kalimatku menyinggungmu."

"Tak masalah."

Kakashi berdiri dari kursi beton. "Kalau begitu ayo berangkat." Ia melangkah lebih dulu, dengan kedua telapak tangan tersimpan di dalam saku celana.

"A-Ano, Kakashi-san!"

"Hm?"

Iruka menggigit bibir bawahnya, jari-jarinya meremat ujung pakaian dan telapak tangannya berkeringat.

"Ji-Jika kau mau, aku akan selalu menerimamu untuk pulang."

Kakashi melebarkan matanya, seolah embusan angin tiba-tiba melewatinya begitu saja. Sebuah senyum tipis tercipta di balik masker. Kalimat yang tidak pernah ia impikan akan dikatakan seseorang kepadanya.

Kakashi berbalik dan menggenggam telapak tangan Iruka, menariknya untuk berjalan bersamanya. Tidak ada yang mengatakan apapun, hanya deru napas masing-masing yang terdengar. Iruka merasakan sesuatu yang menghimpit di dadanya tiba-tiba menghilang. Napasnya kembali, lebih nyaman, lebih menyenangkan. Ia memandang punggung Kakashi yang berjalan sedikit di depannya, juga tautan tangan mereka.

Benar, mereka bisa menciptakan keluarga tanpa harus terkait darah.

.

.

.

TO BE CONTINUE


A/N: Chapter Selanjutnya adalah chapter terakhir.