"Daylight"

Disclaimer : The story belongs to Summer Plum. Nama-nama yang tercantum dalam cerita sepenuhnya milik mereka.

Genre : Romance, Action

Main Casts : Kim Tae Hyung x Jeon Jung Kook

Other Casts : Kim Nam Joon | Kim Seok Jin | Min Yoon Gi | Jung Ho Seok | Park Ji Min

Rated : M

Warning : Top!Kim Taehyung x Bottom!Jeon Jungkook

YAOI, BoyxBoy, dan sejenisnya

M-Preg, y'all. You're gonna love it

Typo everywhere

Chapter 19

"Aku tahu ini gila. Tapi aku jatuh hati padamu."

Untaian kata itu bagaikan angin sejuk di tengah gersangnya padang pasir. Seharusnya angin sejuk adalah obat di tengah panasnya udara. Angin sejuk itu tentu bisa menenangkan siapa saja yang terkena panas dan lembabnya udara tapi tidak menghilangkan dahaga yang menggila.

Seperti inikah rasanya mencintai orang yang salah?

"Hyung—"

"Kau pasti berpikir jika aku hanya membual."

Taehyung melepaskan kedua jemari yang sedari tadi menutupi wajahnya. Telapak tangannya kini tak lagi menutupi wajah Jungkook yang netranya memerah karena menahan tangis. Ia bisa melihat dengan jelas jika pasangan Copulation-nya begitu terluka dengan keadaan mereka yang serba sulit.

"Aku tidak berpikir begitu, hyung. Aku hanya—"

"Kau benar mencintaiku atau tidak?"

Katakanlah Taehyung mulai hilang akal. Bagaimana bisa ia mengutarakan pertanyaan seperti itu pada sosok yang selama ini disakitinya dengan perlahan?

Tapi pikirannya benar-benar kalut. Jujur saja, selama beberapa bulan ini ia begitu tertekan dengan nasib yang menertawakannya. Taehyung begitu merasa bersalah dan terbebani dengan fakta jika ia kini benar-benar telah berat sebelah.

Jungkook telah mengambil alih perasaannya yang semula ia jaga untuk Joy.

Dan entah bagaimana, Taehyung seperti merasa jika ini adalah hal yang benar.

Katakanlah dengan keras dan lantang jika ia memang seorang brengsek. Begitu kentara jika ia adalah pria tidak bertanggungjawab yang dengan mudahnya berpindah hati. Umpatilah ia dengan ribuan kata kotor karena memang Taehyung merasa, ia benar-benar pantas mendapatkannya.

"Apa yang sebenarnya kau mau, Kook?"

Taehyung mengusap wajahnya dengan lumuran darah. Wajah itu kini dipenuhi dengan darah, keringat, dan air mata. Ia terlihat sangat kacau kala bergumul dengan perasaannya yang menggila. Lima bulan dalam diam, menutup mata dan telinga dari rasa sakit yang dirasa Jungkook adalah sebuah hal menyakitkan yang terpaksa harus ia lakukan.

"Aku sayang padamu, hyung," cicit Jungkook sambil terisak. "Tapi kita bertemu untuk berpisah. Aku tidak ingin menyakiti diri dengan harapan jika kita bisa tinggal bersama selamanya."

"Egoislah, Kook," pinta Taehyung. "Untuk kali ini ku mohon, bersikaplah semaumu," Taehyung menggenggam kedua jemari Jungkook yang terlihat agak membengkak. "Aku tak mengatakan ini karena kasihan padamu. Aku hanya tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku tidak ingin berpisah darimu. Aku tidak mau anak kita diambil di akhir acara ini. Kita harus tetap tinggal bersama, Kook."

Terisak dalam diam, Jungkook menggeleng perlahan akan ide gila Taehyung yang membuat kepalanya terasa sakit seketika. "Dengan status apa? Kau Kaum Primer, hyung. Aku hanya orang rendahan—"

"Kita harus menikah! Kau dan aku harus menikah dan tinggal bersama, Jungkook."

Jungkook menepis tangan pasangan yang justru menggenggamnya lebih erat.

"Jangan gila, hyung. Bagaimana dengan Joy?"

"Aku akan memutuskan hubunganku dengannya. Aku memilihmu, Kook."

.

.

.

"Kegagalan. Ini adalah kegagalan. Rencana konyolmu gagal, kau tahu itu, Joon?"

Seokjin berjalan di depan Namjoon sembari mengumpat pelan. Ia merutuki betapa bodohnya pemikiran sang kekasih. Ia menganggap jika pasangannya begitu ceroboh dan menyebalkan karena tak mau mendengarkan nasihatnya sama sekali.

Ia melemparkan gloves bekas ke dalam tong sampah. Panggilan dari kekasihnya yang berjalan mengekori di belakangnya tak dihiraukan sama sekali. Seokjin juga mengabaikan sapaan dari Somi yang melambai dari kejauhan.

"Seokjin sayang, kenapa kau selalu terburu-buru dalam mengharapkan hasil yang maksimal?"

Seokjin berhenti sejenak lalu membalikkan badan. "Aku? Terburu-buru? Lihat dengan jelas siapa yang tak sabaran! Kau tak mau mendengarkan saranku. Kau dengan lancangnya memilih seorang Komandan Guardian untuk diberikan kunci menuju ke tanah kita. Kau dengar itu, Joon? Komandan Guardian!"

Pria yang di tahun ini usianya menginjak dua puluh sembilan tahun tersebut berjalan menghentak. Sepatu boots yang dikenakan, menggema di lantai koridor ruangan serba putih yang dilewati mereka berdua.

"Kan sudah ku bilang, Komandan Guardian yang satu itu bisa dipercaya. Percaya saja pada instingku—"

"Insting? Kau mempercayakan benda seberharga itu dengan hanya mengandalkan insting? Kemana perginya otak jeniusmu!"

"Kapan kalian berhenti saling berteriak? Semua orang sudah berkumpul di Arteri."

Jika saja Paman Bang tidak menegur Seokjin dan Namjoon dengan ucapan lembut tersebut, mungkin sepasang kekasih itu masih akan saling bertengkar hingga sampai ke Arteri. Untungnya, ujaran itu membuat Seokjin sedikit malu dan akhirnya mereka berdua berjalan dengan tergesa menuju ke tempat dilaksanakannya rapat dadakan.

Setibanya di Arteri, Seokjin langsung menghempaskan tubuhnya di antara Wonwoo dan Minjae. Namjoon yang kehabisan tempat duduk di dekat kekasihnya itu hanya bisa menghela napas pasrah dan mencari kursi di sebelah Seulgi.

"Kalian bertengkar lagi?"

Anggukan tanpa tenaga yang menjadi jawabannya.

Hingga saat Somi membuka rapat dengan pengeras suara, Namjoon kemudian memfokuskan indera pendengarannya setajam mungkin.

Sekilas basa-basi singkat menjadi pembuka rapat mendadak yang diajukan Paman Bang. Pemimpin Meonji Seom tersebut kemudian mempersilakan beberapa orang untuk memberikan laporan terkait situasi terakhir di tempat tinggal mereka.

Mingyu, Soobin, Beomgyu, dan Ryujin, memberikan laporan mengenai pos penjagaan di garda pertama. Para prajurit muda tersebut melaporkan jika tidak ada ancaman apapun yang mendekati pintu gerbang Meonji Seom selama satu bulan belakangan ini. Mereka juga menambahkan jika tidak ada Guardian, Para Petinggi, ataupun warga sipil yang mendekati pintu gerbang dari radius sepuluh mil.

Laporan selanjutnya disampaikan oleh Lia, Taehyun, dan Yeonjun yang menjelaskan jika misi peretasan data-data warga utara berhasil mereka selesaikan. Mereka berhasil mengantongi beberapa data mengenai rencana Para Petinggi dan Guardian dalam proses blurring yang dilakukan kepada anak-anak hasil Copulation periode sebelumnya.

Selanjutnya Seojin, Huening Kai, dan Minjae memberikan laporan mengenai serum untuk mengembalikan ingatan yang hilang akibat proses blurring. Serum itu sengaja dibuat dan dikembangkan di lab untuk berjaga-jaga, siapa tahu akan ada warga utara yang datang dengan kondisi akal sehatnya sudah terganggu akibat proses cuci otak yang dilakukan Para Petinggi.

Dan tiba bagi Namjoon untuk memberikan laporannya.

Dengan mantap, pria dengan pakaian serba hitam tersebut maju ke podium untuk menyampaikan hasil kerjanya.

"Seperti yang sudah diketahui sebagian besar warga Meonji Seom, empat bulan yang lalu saya telah melakukan sebuah langkah besar yang cukup berbahaya," ujarnya membuka laporan. Ia bisa menangkap dengusan yang dilemparkan Seokijn kepadanya dari kejauhan. "Saya mengirimkan Xazina melalui salah satu anggota Meonji Seom yang masih berada di daerah utara. Melalui orang tersebut, saya memutuskan untuk memberikan kotak itu pada salah satu Komandan Guardian bernama Park Jimin."

Terdengar gumaman dari beberapa orang yang berkumpul di Arteri. Sebagian besar gumaman tersebut terdengar tidak setuju dengan rencana salah satu orang terpenting di daerah selatan itu. Hal tersebut tak menggentarkan semangat Namjoon untuk menyampaikan laporannya secara rinci.

"Alasan saya memilih Park Jimin adalah karena orang itu memiliki pola pikir yang berbeda dari orang utara pada umumnya. Park Jimin, entah bagaimana, masih memiliki nurani yang tidak dipunyai Guardian maupun Para Petinggi. Hal ini tentu saja menarik karena Park Jimin sendiri adalah putera dari Dewan Tertinggi."

Kali ini gumaman bernada protes terdengar lebih kencang dari sebelumnya. Dan sekali lagi, Namjoon tidak takut sama sekali.

"Berdasarkan pengamatan Seulgi selama beberapa tahun, saya mengambil kesimpulan jika Park Jimin bisa dipercaya untuk menjadi bagian dari kita. Bagian dari Meonji Seom. Saya yakin, entah bagaimana caranya, Park Jimin pasti bisa mengajak orang yang tepat untuk bergabung ke sini. Dengan pengalaman sebagai Komandan Guardian, orang itu bisa menjadi aset yang kuat bagi Meonji Seom. Pertahanan kita akan semakin terjaga dengan kuat. Dengan begitu, kita bisa mengambil alih keadaan dan mengembalikan perdamaian seperti yang menjadi target kita semua."

"Sudah empat bulan semenjak Xazina itu dikirimkan. Hingga kemarin memang belum ada tanda-tanda apapun mengenai kemungkinan Park Jimin untuk datang ke Meonji Seom," Kim Namjoon berujar dengan bahu yang terasa sedikit berat. Walau bagaimanapun, beban dan tanggungjawabnya begitu besar dalam menentukan keputusan sekrusial ini. "Akan tetapi pagi tadi, utusan kita yang memberikan Xazina kepada Park Jimin memberitahuku jika Komandan Guardian itu telah membujuk orang yang tepat untuk datang ke tempat ini. Orang yang diajak Park Jimin akan memberikan pengaruh besar pada kita semua."

"Dia adalah Jeon Jungkook dan pasangan Copulation-nya, Kim Taehyung."

.

.

.

"Sudah, kenapa kau malah jadi menangis terus?"

Jungkook yang sedari tadi tertangkap basah menangis dalam diam, menatap wajah Taehyung yang terlihat agak pucat. Walau bagaimanapun, luka yang didapat dari hasil pelampiasan emosinya terbilang cukup dalam. Taehyung bahkan harus mendapatkan dua belas jahitan oleh dokter yang baru saja membalutkan perban di tangan kiri itu.

"Darahnya banyak sekali," Jungkook menunjuk ke arah wadah kecil yang berisi air hangat berwarna merah. Air yang digunakan untuk membasuh luka itu tentu bercampur dengan darah Taehyung. "Wajahmu juga pucat pasi, hyung. Minum lagi tehnya, ya."

Taehyung tersenyum simpul. Sikap Jungkook yang perhatian padanya membuat sakit yang mendera sedikit demi sedikit mereda. "Akan ku habiskan," tangan kanannya yang tidak terluka sama sekali terulur untuk menyentuh surai Jungkook yang bergerak-gerak lucu karena si empunya tengah menuangkan minuman beraroma mint ke dalam cangkir Taehyung. "Terima kasih, Kookie."

Yang diberi ucapan terima kasih itu mengangguk pelan. Ia kemudian berterima kasih kepada dokter dan mengantarkan penyembuh itu hingga ke pintu depan. Taehyung mengekori Jungkook dan memeluk tubuh ramping itu yang tengah menutup pintu.

"Jangan menangis terus. Nanti bayi kita ikut sedih karena eomma kesayangannya tidak bahagia."

Jungkook tersenyum tanpa menoleh ke arah pemuda Kim. Pertengkaran mereka satu jam yang lalu terselesaikan dengan keputusan final Taehyung untuk memutuskan hubungan pertunangannya dengan Joy. Jungkook tidak bisa membujuk lagi keputusan itu karena Taehyung yang telah bersabda tak ubahnya seperti peperangan yang sulit ditaklukkan.

"Bagaimana eomma tidak menangis kalau appa-nya saja terus menerus menjungkirbalikkan perasaan eomma."

Pengakuan itu membuat Taehyung membalikkan tubuh Jungkook sehingga menghadap ke wajahnya. Ia mengecup lembut bibir pasangannya sembari memeluk tubuh itu dengan bagian perut yang mengganjal. Terkekeh pelan, Taehyung menghentikan kecupan itu sambal mengusap pelan perut Jungkook. "Kau sudah mulai mengganjal di bawah sana, hm. Appa jadi sulit mencium eomma-mu yang menggemaskan ini."

"Hyu…ung," pukul Jungkook main-main pada pundak orang yang tengah berbincang dengan perutnya. Ia tertawa karena kini Taehyung tengah mengusakkan wajahnya sambal berceloteh riang tentang anak lucu yang mulai mengganggu kebersamaan orang tuanya.

"Ralat, aegi ini tidak menyusahkan, kok," Taehyung menggendong tubuh Jungkook secara tiba-tiba. Pekikan menjadi pertanda bagi Jungkook untuk mengalungkan kedua tangannya ke leher pasangan Copulation-nya. "Buktinya appa masih bisa menggendong eomma dengan mudah," cengirnya.

.

.

.

"Kau ingat beberapa bulan yang lalu saat Jimin hyung mengajakku untuk datang ke acara ulang tahunnya?"

Jungkook meletakkan sepiring cookies beserta dua gelas susu coklat hangat yang mengepul. Pasangan Copulation pria Kim itu kemudian duduk di karpet kamarnya, bersama Taehyung yang sudah terlebih dahulu meluruskan kedua kakinya sambil rebahan. Jungkook menarik sebuah bantal dari sofa di belakangnya, lalu memberikannya kepada Taehyung sebagai pengganjal dada.

"Ingat. Kau bilang kau cuma diajak berkeliling di istana Dewan Tertinggi," sahut Taehyung. Ia menyamankan diri dengan telentang sembari menatap langit-langit kamar Jungkook yang dihiasi lampu tidur berbentuk bulan dan bintang.

"Sebenarnya tidak sepenuhnya berkeliling, sih. Aku tidak benar-benar jujur padamu, hyung. Maaf."

"Tidak usah minta maaf. Yang penting mulai sekarang kita harus jujur satu sama lain, oke?"

Jungkook mengangguk dengan semangat. Ia mengambil sekeping cookies dan mengunyahnya perlahan. "Jadi di hari itu Jimin hyung tiba-tiba saja mengajakku ke kamarnya—"

Tahu jika ucapannya bisa menyulut emosi pria yang berusia dua tahun lebih tua darinya, Jungkook buru-buru menghentikannya dengan telapak tangan yang membekap bibir Taehyungnya.

"Jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu, hyung. Kami tidak melakukan hal yang senonoh."

Setelah Taehyung mengangguk ragu-ragu, barulah Jungkook melepaskan bekapan tangan itu. Ia berdehem singkat dan memberikan penuturannya. "Istana itu berbeda dengan istana di mana pembukaan Copulation dilakukan. Kurasa masih satu kompleks, namun bangunannya jelas berbeda. Sebelum Jimin hyung mengajakku masuk ke istana itu, dia ternyata sudah menempelkan chipset yang membuat status Kaum Primer-ku tidak terdeteksi di pintu masuk," ujarnya. "Setelah berbincang dengan Dewan Tertinggi dan Para Petinggi di sana, Jimin hyung mengajakku masuk ke kamarnya. Jimin hyung lalu menunjukanku sebuah kotak kecil berwarna tosca. Kotak itu terbuat dari besi dan beratnya juga lumayan. Tadinya ku pikir isinya adalah hadiah ulang tahun Jimin hyung dan sejenisnya, tapi ternyata isinya adalah sebuah flashdisk, kunci, slayer tosca dengan motif aneh, dan sebuah kacamata."

Jungkook menyesap susu hangat yang baru saja dibuatnya. "Jimin hyung bilang, ada seseorang yang mengirimkan paket kotak asing itu ke Bowl-nya."

"Bowl?"

"Err—" Jungkook menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal. Ia lupa jika Taehyung tidak tahu menahu tentang Bowl, rumah singgah rahasia Jimin yang berada di tengah hutan. Seingatnya memang kata Jimin hyung tidak ada warga sipil satupun yang tahu tentang keberadaan Bowl tersebut selain dirinya. Maka dari itu, ucapan Jungkook barusan seperti mengkhianati kepercayaan yang Jimin berikan padanya. "Harusnya aku tidak memberitahumu…"

"Jungkook, kau menyimpan banyak rahasia dariku, hm?"

Taehyung kini telah bangun dari rebahannya. Ia duduk bersila sembari menatap Jungkook dengan pandangan menyelidik.

Orang yang ditatap itu kemudian menggeleng ringan. "Tidak maksudku begitu. Hanya saja Jimin hyung sebenarnya melarangku untuk memberitahumu tentang keberadaan Bowl."

"Jadi kau lebih memilih merahasiakannya dengan komandan sombong itu?"

"Bukan begitu!" Jungkook mendekati pasangannya dan menatapnya dengan pandangan mencebik. "Terkadang kau seperti anak kecil, hyung."

"Lihatlah siapa yang bicara. Kau yang saat ini terlihat seperti anak kecil yang akan menangis."

"Hyuuungg."

Melihat pasangan yang hampir menitikkan air mata, Taehyung buru-buru mengangkat tubuh sintal Jungkook ke atas pangkuannya. Ia meringis saat merasakan telapak tangan kirinya berdenyut hebat saat mengangkat bokong gendut Jungkook. Tindakan cerobohnya itu kemudian ter-notice Jungkook yang langsung menghadiahi Taehyung dengan geplakan di dada.

"Tanganmu masih sakit, kenapa gendong-gendong aku?"

Taehyung terkekeh pelan. "Habisnya kau mau menangis. Bagaimana aku tega membiarkannya?"

Jungkook menarik tangan yang dibalut perban itu. Tangan itu dibawanya ke dalam sebuah genggaman hangat di mana ia kini meniupi telapak itu. Tak hanya meniup, Jungkook bahkan mengecup telapak itu beberapa kali dengan kepala yang masih menunduk.

"Lihat, kau menangis lagi. Aku rupanya jago sekali membuatmu sedih, ya?"

Pertanyaan tersebut membuat Jungkook sukses mendongakkan kepalanya. Dengan suara lirih dan bergetar, ia bercicit sembari memandang Taehyung. "Jangan marah padaku."

Taehyung, pemuda berusia 22 tahun ini, terkadang tidak mengerti dengan jalan pikiran pasangannya. Memang jika dilihat-lihat, beberapa waktu belakangan ini susasana hati Jungkook banyak berubah-ubah. Ia terlihat lebih sensitif dan mudah sekali menangis. Berbeda dengan Jungkook yang dulu ia kenal pertama kali dengan image tangguh dan sedikit dingin.

Mungkin, aegi di dalam sana berpengaruh pada suasana hati eomma.

"Sayang, aku tidak marah padamu. Sama sekali," Taehyung berujar lembut. Ia menarik tangan berbalut perban yang semula dikecup Jungkook dan meletakannya pada surai hitam legam untuk kemudian diusap perlahan. "Aku hanya kesal pada Jimin karena dia sepertinya banyak berbagi cerita rahasia denganmu. Aku tidak marah dengan Jungkook. Jangan salah paham, hm?"

Frasa-frasa indah itu sukses membuat Jungkook tersenyum lagi. Diam-diam Taehyung mengembuskan napas pelan karena merasa lega.

"Karena aku sudah terlanjur mengucapkannya, jadi aku akan menjelaskan detailnya, hyung."

Dengan anggukan yang kelewat bersemangat, Taehyung membesarkan hati Jungkook dengan senyum kotak yang disukai pasangannya itu.

Dengan satu tarikan napas, Jungkook bertutur lagi. "Jadi, Bowl itu adalah rumah kedua bagi Jimin hyung. Letaknya ada di tengah hutan Gangnam, tidak jauh dari rumah pertamanya. Rumah itu tersembunyi di bawah tanah dengan pintu masuk khusus yang hanya diketahui Jimin hyung. Sewaktu aku hampir terkena sweeping, ia menyelamatkanku dengan membawaku ke Bowl. Kami bersembunyi di sana semalaman, hyung."

Mengabaikan denyut aneh yang terasa di dada, Taehyung memilih mengangguk pelan sembari menyelipkan beberapa helai rambut di belakag telinga Jungkook.

"Kotak tadi, katanya dikirimkan seseorang di depan pintu Bowl. Jimin hyung tidak tahu siapa yang meletakannya. Ia bahkan sangat khawatir karena pintu gerbang masuk ke dalam Bowl saja hanya dia yang tahu. Kenapa bisa seseorang masuk dan meletakkan kotak itu di depan pintu Bowl-nya?"

Lagi-lagi sebuah anggukan pelan menjadi jawabannya.

"Pokoknya, setelah ia menerima kotak itu, katanya ia membukanya. Isinya seperti yang tadi ku sebutkan sebelumnya. Jimin hyung lalu membuka flashdisk itu dan isinya ternyata tiga buah rekaman video yang menjelaskan tentang Meonji Seom."

Jungkook mengambil ponsel dari sakunya. Ia membuka video yang dimaksud melalui hologram yang berpendar terang di hadapan mereka berdua. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera memutar video tersebut.

Video pertama menunjukkan sebuah tanah lapang gersang tanpa pohon sama sekali. Latar suara burung gagak menjadi pembuka rekaman yang cukup membuat hati bergetar. Tempat itu terlihat begitu panas dan kosong. Tak ada hewan, apalagi manusia. Yang ada hanyalah bebatuan dan kerikil yang seolah menyapa dalam keheningan yang cukup mencekam.

Video tersebut kemudian beralih pada gambaran sebuah bangunan kecil yang menyerupai rumah. Rumah, katakanlah saja begitu, dengan atap genteng dan pintu kayu kumuh tersebut terlihat sangat tidak nyaman ditinggali. Dikatakan ditinggali karena tak lama setelahnya terdapat seorang pria paruh baya berbadan subur yang keluar dari pintu tersebut. Ia mengenakan kemeja compang-camping dengan penutup kepala berwarna hijau tosca dan sebuah cangkul di tangan kanan.

Sampai di sana, kemudian rekaman tersebut berhenti.

Jungkook kemudian memutar rekaman kedua yang menunjukkan beberapa bangunan yang terlihat seratus delapan puluh derajat berbeda dibanding rumah kumuh tadi. Bangunan itu, entah bagaimana, mengingatkan Jungkook akan suasana di kota. Serupa dengan kompleks perkantoran Kaum Primer. Modernisasi dan teknologi terlihat jelas bahkan dalam sekali lihat.

Dalam video tersebut terdapat beberapa orang yang mengenakan pakaian seragam berwarna hitam, putih, dan tosca. Beberapa dari mereka berjalan kesana kemari sembari membawa senjata, beberapa di antaranya membawa kotak-kotak besi dengan lambang plus berwarna merah.

Tak berapa lama, sebuah tulisan besar berwarna hitam terpampang di layar hologram.

Meonji seom.

Pulau berdebu, tanah suci dan tempat berlindung bagi mereka yang membutuhkannya.

Tiga detik setelahnya, tulisan tersebut menghilang dan berganti dengan orang-orang yang saling melambaikan tangan ke arahnya. Lalu, video tersebut berhenti.

Jungkook kemudian memutar video ketiga yang kali ini hanya berisi sebuah lambang yang asing baginya. Lambang itu adalah lambang yang sama dengan yang terukir di slayer tosca dalam kotak yang dimaksud Jungkook. Sempat hening selama semenit penuh sebelum suara seorang pria yang terdengar tegas dan berwibawa memenuhi ruang kamarnya.

"Selamat datang di Meonji Seom. Saya Kim Namjoon, yang akan menuntunmu untuk mengenal pulau ini lebih lanjut."

Taehyung memandang hologram itu dengan tatapan seribu tanya. Ia kemudian melirik Jungkook yang mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.

"Meonji Seom adalah sebuah pulau di selatan Korea. Pulau suci ini tidak akan bisa kalian temukan meski menggunakan alat pelacak tercanggih sekalipun. Pulau ini juga tidak bisa kalian datangi dengan sembarangan karena hanya melalui cara tertentulah yang dapat tiba sampai kemari."

Sosok yang disebutkan bernama Kim Namjoon itu tersenyum simpul. Pria itu menunjukkan dimple di kedua pipinya sebelum melanjutkan orasinya dengan suara tegas namun tetap tenang.

"Tidak. Meonji Seom bukanlah tempat yang diisi dengan orang-orang yang tak mau berbagi. Meonji Seom akan selalu menjadi tempat teraman bagi mereka yang membutuhkan pertolongan."

"Bagi kalian yang mendapatkan Xazina, maka saya mohon dengan sangat, gunakanlah sebaik mungkin. Ikuti jejaknya untuk bisa sampai ke Meonji Seom. Jika kau mengikuti petunjuknya dengan benar, maka kau bisa tiba di sini dengan aman. Kedatangan kalian akan kami sambut dengan hangat, tanpa adanya kekerasan. Tidak juga paksaan, bagi kalian yang lebih memilih untuk mengabaikan pesan ini dan hidup dalam bayang-bayang Dewan Tertinggi, Para Petinggi, dan segala macam omong kosongnya yang tidak berguna."

"Di Meonji Seom, semua akan sama rata. Kami menjanjikan kebebasan hidup, memelihara hak asasi setiap manusia, dan menjaga perdamaian dengan meminimalisir pengekangan. Kalian bisa hidup dengan bahagia, membangun keluarga, bekerja sesuai keinginan, dan tentunya, berperan penting dalam perdamaian kita semua. Bergabunglah, datanglah ke Meonji Seom dengan hati yang terbuka. Bersatulah bersama kami. Kami percaya, dengan ketulusan dan kekuatan yang dipupuk dari kebersamaan kekeluargaan, kita semua bisa memerdekakan diri dari rezim utara yang mematikan. Selatan akan merdeka, Meonji Seom adalah pelindungnya, dan kalian merupakan garda terdepannya."

Dan rekaman itu kemudian berhenti. Menyisakan Jungkook yang memandang hologram tanpa berkedip dan Taehyung yang melongo dengan pikiran kosong. Keduanya tercengang dengan video yang baru saja mengungkapkan suatu hal baru bagi mereka.

Sebuah tawaran menarik…

Yang membuat Kim Taehyung memeluk Jungkook dan menyembunyikan kepala di punggung pasangannya.

"Sial, aku sangat merinding!"

Jungkook yang tersadar dari lamunannya kemudian bangkit dari pangkuan Taehyung. Ia mematikan layar hologram dan meletakkan ponselnya di karpet bulu.

"Aku baru kali ini menontonnya sampai selesai. Biasanya aku hanya sampai di video pertama atau kedua saja."

Taehyung bangkit dari duduknya dan berjalan tergesa menuju ke luar kamar.

"Hyung, kau mau kemana?"

"Tunggu sebentar, Kook."

Duduk dengan menurut, Jungkook memijit pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut. Rekaman tersebut entah bagaimana membuat kepalanya terasa sakit. Pikirannya rungsang dengan berbagai kemungkinan dan scenario yang menari-nari di benaknya.

Tak berapa lama, Taehyung lalu kembali dengan membawa sebuah buku tulis dengan sampul berwarna cokelat muda. Dibukanya buku tersebut dan ia mencari-cari sesuatu di sana. Hingga kemudian tiba di halaman yang dimaksud, ia menunjukkannya pada sang pasangan dengan antusiasme yang berlebih.

"Lihat ini!"

Jungkook membaca halaman yang dimaksud Taehyung. Halaman itu berisi sebuah potongan kertas yang ditempel di bagian tengah kertas. Potongan kertas itu menunjukkan sebuah tanah gersang yang sangat mirip dengan yang ada dalam video tadi. Di bawah potongan kertas tersebut, diketik dengan tulisan super kecil, yang membuat jantung Jungkook berhenti sejenak.

Tanah berdebu buatan para pembelot utara; menjanjikan atau mematikan?

"Dari mana kau dapat potongan kertas itu?"

Taehyung mengumpat pelan sebelum memukul kepalanya dengan buku yang dipegangnya. "Ku kira tanah berdebu itu hanya omong kosong saja. Ternyata memang ada. Sial! Sial!"

"Hyung, apa maksudnya? Kau sudah tahu tentang Meonji Seom?"

Kim Taehyung menggeleng kuat-kuat. "Tidak, tidak. Aku hanya tahu jika katanya ada tanah berdebu yang terletak di daerah selatan. Tanah itu katanya ditinggali oleh para pembelot dari zaman perang saudara puluhan atau ratusan tahun yang lalu. Aku tidak tahu persisnya," Taehyung membolak-balik lagi halaman dari buku bersampul cokelat tersebut dengan gerakan cepat. "Wilayah selatan, setahuku, hanya bersisa Daegu, Jeonju, Jeolla, Gwangju, dan Busan. Kelima wilayah itu menjadi daerah konflik berkepanjangan. Orang-orang yang tinggal di sana masih tergolong sebagai kaum selatan, secara demografis, tapi secara hukum, mereka tergolong sebagai warga utara. Sama seperti kita."

Jungkook yang sama sekali tidak tahu mengenai peperangan di masa lalu mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Di benaknya muncul banyak sekali pertanyaan yang siap dimuntahkan kepada pasangannya. Namun sebelum sebuah kata saja terlepas dari bibirnya, Taehyung sudah terlebih dahulu menjelaskan lebih lanjut tentang kisah utara dan selatan.

"Lembaran itu ku dapatkan saat aku membacanya di perpustakaan sekolah. Koran tersebut hanya terbit selama beberapa jam sebelum akhirnya dihancurkan oleh Guardian yang menerjang semua sudut di kota dan daerah yang menyebarluaskan koran itu. Penulisnya adalah seorang reporter terkenal pada waktu itu. Sayangnya dari yang kubaca, reporter itu kemudian meninggal sehari setelah tulisannya dimuat. Perusahaan koran yang menerbitkan artikel itu bahkan dihancurkan oleh Guardian. Para pekerja koran itu dirumahkan secara sepihak. Itulah yang terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu."

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Taehyung menggigit bibirnya kuat-kuat. "Ibuku dulu bekerja di koran tersebut. Ia redaktur utama sebelum akhirnya ia bangkit dan mendirikan bisnis kosmetik."

Kepala Jungkook terasa sangat pening. Ia kesulitan mencerna banyaknya informasi yang memenuhi kepalanya.

"Jadi Meonji Seom itu benar-benar ada?"

"Aku tak tahu. Tapi rekaman ini membuatku sedikit percaya dengan tanah berdebu itu…"

Ucapan Taehyung yang menggantung itu membuat Jungkook langsung mengajukan pertanyaan lagi.

"Hyung apa menurutmu—"

"Kita harus menemui Jimin, Kook," Taehyung bangkit dari duduknya. Ia mengulurkan tangannya ke bawah supaya Jungkook bisa meraihnya. "Dia yang mendapatkan rekaman ini. Itu artinya ia berhubungan dengan orang-orang dari Meonji Seom."

"Tapi Jimin hyung bilang katanya ia tidak tahu apa-apa tentang kotak tersebut."

"Kalau begitu kita cari tahu bersama. Dengan begitu kita bisa tahu apakah Park Jimin berbohong atau tidak."

.

.

.

TBC

.

.

.

Note:

Zaxina adalah sebuah kotak yang diberikan Namjoon untuk Jimin. Zaxina berasal dari Bahasa Uzbekistan yang artinya adalah treasure atau harta karun.

.

.

.

Sebuah penjelasan yang mungkin membingungkan. Walau bagaimanapun…. review yang banyak yaaaa.

Jangan lupa follow IG: thisissummerplum